Kerja praktek salah satu mata kuliah ini membuatku
merasa tak nyaman. Kami diharuskan melaksanakan kerja praktek ini disalah satu desa, walaupun
memang bukan desa terpencil. Kurang lebih satu bulan penuh Kami disana. Aku tak suka
sawah, aku juga tak suka lumpur, tapi demi sebuah nilai, akupun harus memaksakan diri melewati itu semua.
Perbekalan
selama satu bulan sudah aku persiapkan. Pakaian, makanan dan keperluan lainnya, aku tinggal berangkat. Timku ada lima
orang, dua perempuan dan tiga orang laki-laki. Semua sahabatku, jadi tidak
terlalu sulit untuk kita beradaptasi
satu sama lainnya.
Perjalanan Kami cukup panjang dan
melelahkan. Tak terasa pedesaan yang akan Kami tinggali selama satu bulan sudah didepan mata.
Aku melihat pemandangan yang sungguh indah yang belum pernah aku lihat
sebelumnya.
Kami mengunjungi kantor kepala
desa terlebih dahulu untuk melapor dan meminta izin tinggal didaerah ini. Ketika Kami menginjakan kaki di tanah, Kami disuguhi pemandangan
sawah yang terhampar luas bak permadani hijau. Sungguh indah…Namun tetap saja
aku tak suka suasana seperti ini.
Permintaan izin Kamipun disetujui. Kami
diberi petunjuk dan diantar oleh salah satu petugas desa untuk melihat tempat Kami tinggal. Rumah yang
cukup sederhana. Dindingnya memang terbuat dari tembok, namun sudah terlihat
kusam. Kamar tidur hanya ada dua, kamar mandi satu, ruang tamu, ruang keluarga
dan dapur. Kurang lebih seperti itulah suasana tempat tinggal Kami.
Satu minggu
sudah Kami disana, semua berjalan
dengan lancar. Petani yang Kami wawancarai untuk
keperluan tugas mata kuliahpun bisa bekerja sama dengan baik. Namun, tetap saja
aku tidak merasa betah tinggal disini.
***
Siang itu, aku
diberi tugas oleh Fahri untuk melanjutkan wawancara kesalah satu petani yang
berada diujung jalan. Biasanya aku pergi bersama Sinta, namun kebetulan Sinta
siang itu sedang tidak enak badan. Akhirnya aku pergi sendiri dengan
mengendarai motor yang dipinjamkan kepala desa pada Kami.
Entah kenapa,
ditengah jalan, motor itu mogok, aku melihat memang bensinnya sudah habis.
Kenapa aku begitu teledor, pikirku dalam hati. Aku diam cukup lama ditempat
itu. Bingung mencari pom bensin dimana. Aku putuskan mendorong
motor sampai diujung jalan. Cukup jauh juga, keringatku mulai menetes satu demi satu,
namun tak ku hiraukan. Aku terus berjalan mendorong motor.
Ditengah jalan,
aku dikejutkan dengan dengan bunyi klakson motor dari arah berlawanan. Seorang
laki-laki yang usianya mungkin saja sama denganku. Memakai kaos warna hitam, celana
jeans biru, pakai helm merah. Dia membuka helmnya didepanku dan berkata ramah.
“Motornya kenapa
teh...?” sapa
laki-laki itu. Aku sempat tertegun dengan laki-laki itu. Ada juga ternyata
laki-laki ganteng di desa ini. Kok aku baru ketemu ya.
“Mogok kang...” jawabku singkat.
“Kehabisan
bensin atau ada masalah...?” tanya dia lagi.
“Kehabisan
bensin deh kayanya...” jawabku.
“Tunggu sebentar
ya...” kata
dia sambil pergi.
Sekitar 15 menit
aku menunggunya disana dan tak lama, dia muncul dengan membawa satu jerigen
kecil bensin.
“Coba teh, saya
masukkan dulu bensinnya...” kata dia.
Dia memasukkan
bensin itu kedalam motorku dan seketika motor itupun bisa jalan lagi. Aku sangat berterima
kasih pada Lukman. Laki-laki itu bernama Lukman.
***
Pertemuan Kami memang singkat, namun
entah kenapa sejak saat itu aku selalu memikirkan Lukman, aku berharap suatu
saat nanti kita bisa bertemu lagi.
Ternyata Tuhan
mendengar doaku. Pada salah satu acara perkumpulan di desa, aku dan Lukman
bertemu lagi. Setelah ngobrol untuk yang kedua kalinya ternyata Lukman baru
lulus kuliah dan sekarang sedang mencari pekerjaan. Lukman juga salahsatu
pengurus Masjid di desa itu.
Benar-benar laki-laki yang nyaris sempurna pikirku.
Aku ditawari
Lukman untuk mengikuti acara pengajian yang dilaksakanakan setiap seminggu dua
kali. Tentu saja aku mau. Pembicaranya seganteng Lukman.
***
Hari itu, hari
pertama aku mengikuti acara pengajian dengan pengisi tausiyahnya tentu saja
laki-laki itu. Disana aku dikenalkan pada sosok wanita berjilbab bernama Rani.
Wanita cantik yang sangat lembut. Aku memanggilnya Teh Rani.
Hari berganti
hari, akupun dekat dengan Teh Rani. Kita selalu bertukar pikiran. Teh Rani
orangnya sangat cerdas. Ternyata
anggapanku selama ini salah, aku berfikir kalau
orang-orang desa tidak bisa berfikiran maju. Ternyata
orang-orang seperti Teh Rani dan Kang Lukman adalah orang-orang cerdas yang
mempunyai wawasan cukup luas. Banyak hal yang sering Kami bicarakan dari mulai
kegiatan kampus, keluarga sampai masalah pribadi.
***
Suatu hari aku
sangat ingin menceritakan rasa cintaku pada Lukman, aku berniat meminta bantuan
Teh Rani untuk menyampaikan perasaan ini. Semakin hari bayangan wajah Lukman
selalu saja menghiasi hari-hariku. Hatiku bergetar ketika Lukman ada didekatku.
Mungkin ini memang cinta.
Aku heran,
kenapa Teh Rani merasa kaget mendengar aku mengatakan bahwa aku menyukai
Lukman, padahal kan itu perasaan wajar yang mungkin siapa saja bisa
merasakannya. Teh Rani sempat diam dan akhirnya berkata, “Saya akan coba...”.
Tinggal seminggu
lagi aku disana, aku ingin kepastian tentang perasaanku. Kalau memang Lukman
tidak menyukaiku, akupun akan mundur, namun jika kenyataan bicara sebaliknya,
aku mungkin akan menjadi wanita paling beruntung mendapatkan laki-laki seperti
Lukman.
***
Sore itu aku
menghubungi Teh Rani, aku menanyakan apakah sudah ada jawaban dari Lukman atau belum. Teh Rani
bilang mereka berdua akan datang ke tempat tinggalku malam nanti.
Perasaanku tak
karuan, resah, bingung, takut, bercampur jadi satu malam itu. Waktu berjalan
sangat lama sekali menunggu mereka berdua datang.
Waktu yang
ditunggupun datang. Aku melihat sosok Teh Rani yang begitu anggun datang dengan
Lukman yang sangat ganteng. Sekilas ada yang berbisik dalam hati kalau mereka
sangatlah cocok.
Aku persilakan mereka masuk dan duduk.
Mereka berdua tampak kaku. Akupun sama. Perasaan tak karuan menyeruak
disisi-sisi dinding hati. Di kampus aku termasuk wanita yang banyak disukai
laki-laki. Aku tak pernah merasakan gugup atau kaku seperti ini. Kenapa
dihadapan Lukman aku merasakan ini...?
Lukman memulai
pembicaraan itu. Dengan nada yang masih kaku, dia mencoba mengutarakan maksud yang
aku tahu sudah terencana dan terancang dengan sangat baik dalam hatinya.
“Teh Nisa, saya
tidak bisa berbasa basi, saya ingin menyampaikan langsung maksud saya dan Teh
Rani kesini...” kata Lukman.
Aku mulai
merasakan kegelisahan yang tiada tara, baru kali ini aku merasakan ini. Aku
hanya tersenyum dan tak dapat berkata-kata.
“Saya sangat
faham dengan maksud Teh Nisa pada saya, saya sangat berterimakasih karena Teh
Nisa sudah mempercayakan pada saya mengenai pilihan hati Teh Nisa... Sayapun berat berkata
ini, tapi saya harus mengatakannya kalau saya sudah punya calon istri dan Kami akan segera menikah sekitar
satu bulan lagi kedepan...” begitu penjelasan
Lukman.
Deg…aku merasa
diriku berada didepan jurang yang siapa saja bisa menjatuhkanku kesana. Aku
merasa ada dibawah pohon yang pohon itu siap tumbang ke tubuhku. Kecewa, sedih,
marah semua jadi satu saat itu. Namun aku tak bisa marah, ini bukan suatu
kesalahan.
“Oh...” jawabku
singkat, aku hampir tak bisa berkata-kata lagi.
“Maafkan saya
Teh…” kata Lukman.
“Kalau boleh
saya tahu dengan siapa Kang Lukman akan menikah...?” tanyaku.
Lukman tak
bicara panjang lebar lagi, dia memberiku satu undangan pernikahan. Aku buka
dengan sangat gemetar. Aku baca satu persatu undangan itu. Tertera dua nama
yang aku kenal. Muhammad Lukman menikah dengan Rani Oktaviani.
Teh Rani???
“Iya, saya Nis,
saya calon istrinya Lukman, maaf saya tidak berkata jujur dari awal, karena
saya tidak mau menyakiti Nisa, walaupun akhirnya aku sadar Nisa akan merasa kecewa
juga...” kata
Teh Rani.
“Perasaan Teh
Nisa pada saya mungkin hanya sebatas perasaan kagum saja, bukan cinta. Karena
kalau cinta tidak mungkin timbul sebegitu singkatnya. Kami berdua doakan supaya
Teh Nisa mendapatkan laki-laki yang terbaik...” kata Lukman.
Mereka berduapun
pamit. Aku
masih tak percaya dengan isi surat undangan yang masih aku genggam erat.
Aku coba
mencerna omongan Lukman, mungkin benar, aku hanya merasa kagum dengan dia dan
bukan cinta. Aku kagum dengan ketampanannya, aku kagum dengan pribadinya. Aku berharap aku bisa mendapatkan
laki-laki seperti dia atau bahkan lebih baik dari dia.
***
Waktu Kamipun
sudah habis dan sudah saatnya kami pulang ke rumah. Aku sudah rindu
dengan suasana rumah, kampus dan tempat-tempat yang Kami tinggalkan selama Kami disini.
Banyak hal yang Kami pelajari disana. Banyak hikmah
yang tersimpan. Satu hal yang ingin aku sampaikan. Aku sekarang suka dengan
keindahan sawah dan aku suka dengan lumpur.
Aku akan
usahakan datang dipesta pernikahan Kang Lukman dan Teh Rani. Aku doakan mereka
selalu bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar