1 Okt 2013

Kekagumanku

Kerja praktek salah satu mata kuliah ini membuatku merasa tak nyaman. Kami diharuskan melaksanakan kerja praktek ini disalah satu desa, walaupun memang bukan desa terpencil. Kurang lebih satu bulan penuh Kami disana. Aku tak suka sawah, aku juga tak suka lumpur, tapi demi sebuah nilai, akupun harus memaksakan diri melewati itu semua.

Perbekalan selama satu bulan sudah aku persiapkan. Pakaian, makanan dan keperluan lainnya, aku  tinggal berangkat. Timku ada lima orang, dua perempuan dan tiga orang laki-laki. Semua sahabatku, jadi tidak terlalu sulit untuk kita beradaptasi satu sama lainnya.

Perjalanan Kami cukup panjang dan melelahkan. Tak terasa pedesaan yang akan Kami tinggali selama satu bulan sudah didepan mata. Aku melihat pemandangan yang sungguh indah yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Kami mengunjungi kantor kepala desa terlebih dahulu untuk melapor dan meminta izin tinggal didaerah ini. Ketika Kami menginjakan kaki di tanah, Kami disuguhi pemandangan sawah yang terhampar luas bak permadani hijau. Sungguh indah…Namun tetap saja aku tak suka suasana seperti ini.


Permintaan izin Kamipun disetujui. Kami diberi petunjuk dan diantar oleh salah satu petugas desa untuk melihat tempat Kami tinggal. Rumah yang cukup sederhana. Dindingnya memang terbuat dari tembok, namun sudah terlihat kusam. Kamar tidur hanya ada dua, kamar mandi satu, ruang tamu, ruang keluarga dan dapur. Kurang lebih seperti itulah suasana tempat tinggal Kami.

Satu minggu sudah Kami disana, semua berjalan dengan lancar. Petani yang Kami wawancarai untuk keperluan tugas mata kuliahpun bisa bekerja sama dengan baik. Namun, tetap saja aku tidak merasa betah tinggal disini.

***

Siang itu, aku diberi tugas oleh Fahri untuk melanjutkan wawancara kesalah satu petani yang berada diujung jalan. Biasanya aku pergi bersama Sinta, namun kebetulan Sinta siang itu sedang tidak enak badan. Akhirnya aku pergi sendiri dengan mengendarai motor yang dipinjamkan kepala desa pada Kami.

Entah kenapa, ditengah jalan, motor itu mogok, aku melihat memang bensinnya sudah habis. Kenapa aku begitu teledor, pikirku dalam hati. Aku diam cukup lama ditempat itu. Bingung mencari pom bensin dimana. Aku putuskan mendorong motor sampai diujung jalan. Cukup jauh juga, keringatku mulai menetes satu demi satu, namun tak ku hiraukan. Aku terus berjalan mendorong motor.

Ditengah jalan, aku dikejutkan dengan dengan bunyi klakson motor dari arah berlawanan. Seorang laki-laki yang usianya mungkin saja sama denganku. Memakai kaos warna hitam, celana jeans biru, pakai helm merah. Dia membuka helmnya didepanku dan berkata ramah.

“Motornya kenapa teh...?” sapa laki-laki itu. Aku sempat tertegun dengan laki-laki itu. Ada juga ternyata laki-laki ganteng di desa ini. Kok aku baru ketemu ya.

“Mogok kang...” jawabku singkat.

“Kehabisan bensin atau ada masalah...?” tanya dia lagi.

“Kehabisan bensin deh kayanya...” jawabku.

“Tunggu sebentar ya...” kata dia sambil pergi.

Sekitar 15 menit aku menunggunya disana dan tak lama, dia muncul dengan membawa satu jerigen kecil bensin.

“Coba teh, saya masukkan dulu bensinnya...” kata dia.

Dia memasukkan bensin itu kedalam motorku dan seketika motor itupun bisa jalan lagi. Aku sangat berterima kasih pada Lukman. Laki-laki itu bernama Lukman.

***

Pertemuan Kami memang singkat, namun entah kenapa sejak saat itu aku selalu memikirkan Lukman, aku berharap suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi.

Ternyata Tuhan mendengar doaku. Pada salah satu acara perkumpulan di desa, aku dan Lukman bertemu lagi. Setelah ngobrol untuk yang kedua kalinya ternyata Lukman baru lulus kuliah dan sekarang sedang mencari pekerjaan. Lukman juga salahsatu pengurus Masjid di desa itu. Benar-benar laki-laki yang nyaris sempurna pikirku.

Aku ditawari Lukman untuk mengikuti acara pengajian yang dilaksakanakan setiap seminggu dua kali. Tentu saja aku mau. Pembicaranya seganteng Lukman.

***

Hari itu, hari pertama aku mengikuti acara pengajian dengan pengisi tausiyahnya tentu saja laki-laki itu. Disana aku dikenalkan pada sosok wanita berjilbab bernama Rani. Wanita cantik yang sangat lembut. Aku memanggilnya Teh Rani.

Hari berganti hari, akupun dekat dengan Teh Rani. Kita selalu bertukar pikiran. Teh Rani orangnya sangat cerdas. Ternyata anggapanku selama ini salah, aku berfikir kalau orang-orang desa tidak bisa berfikiran maju. Ternyata orang-orang seperti Teh Rani dan Kang Lukman adalah orang-orang cerdas yang mempunyai wawasan cukup luas. Banyak hal yang sering Kami bicarakan dari mulai kegiatan kampus, keluarga sampai masalah pribadi.

***

Suatu hari aku sangat ingin menceritakan rasa cintaku pada Lukman, aku berniat meminta bantuan Teh Rani untuk menyampaikan perasaan ini. Semakin hari bayangan wajah Lukman selalu saja menghiasi hari-hariku. Hatiku bergetar ketika Lukman ada didekatku. Mungkin ini memang cinta.

Aku heran, kenapa Teh Rani merasa kaget mendengar aku mengatakan bahwa aku menyukai Lukman, padahal kan itu perasaan wajar yang mungkin siapa saja bisa merasakannya. Teh Rani sempat diam dan akhirnya berkata, “Saya akan coba...”.

Tinggal seminggu lagi aku disana, aku ingin kepastian tentang perasaanku. Kalau memang Lukman tidak menyukaiku, akupun akan mundur, namun jika kenyataan bicara sebaliknya, aku mungkin akan menjadi wanita paling beruntung mendapatkan laki-laki seperti Lukman.

***

Sore itu aku menghubungi Teh Rani, aku menanyakan apakah sudah ada jawaban dari Lukman atau belum. Teh Rani bilang mereka berdua akan datang ke tempat tinggalku malam nanti.
Perasaanku tak karuan, resah, bingung, takut, bercampur jadi satu malam itu. Waktu berjalan sangat lama sekali menunggu mereka berdua datang.

Waktu yang ditunggupun datang. Aku melihat sosok Teh Rani yang begitu anggun datang dengan Lukman yang sangat ganteng. Sekilas ada yang berbisik dalam hati kalau mereka sangatlah cocok.
Aku persilakan mereka masuk dan duduk. Mereka berdua tampak kaku. Akupun sama. Perasaan tak karuan menyeruak disisi-sisi dinding hati. Di kampus aku termasuk wanita yang banyak disukai laki-laki. Aku tak pernah merasakan gugup atau kaku seperti ini. Kenapa dihadapan Lukman aku merasakan ini...?

Lukman memulai pembicaraan itu. Dengan nada yang masih kaku, dia mencoba mengutarakan maksud yang aku tahu sudah terencana dan terancang dengan sangat baik dalam hatinya.

“Teh Nisa, saya tidak bisa berbasa basi, saya ingin menyampaikan langsung maksud saya dan Teh Rani kesini...” kata Lukman.

Aku mulai merasakan kegelisahan yang tiada tara, baru kali ini aku merasakan ini. Aku hanya tersenyum dan tak dapat berkata-kata.

“Saya sangat faham dengan maksud Teh Nisa pada saya, saya sangat berterimakasih karena Teh Nisa sudah mempercayakan pada saya mengenai pilihan hati Teh Nisa... Sayapun berat berkata ini, tapi saya harus mengatakannya kalau saya sudah punya calon istri dan Kami akan segera menikah sekitar satu bulan lagi kedepan...” begitu penjelasan Lukman.

Deg…aku merasa diriku berada didepan jurang yang siapa saja bisa menjatuhkanku kesana. Aku merasa ada dibawah pohon yang pohon itu siap tumbang ke tubuhku. Kecewa, sedih, marah semua jadi satu saat itu. Namun aku tak bisa marah, ini bukan suatu kesalahan.

“Oh...” jawabku singkat, aku hampir tak bisa berkata-kata lagi.

“Maafkan saya Teh…” kata Lukman.

“Kalau boleh saya tahu dengan siapa Kang Lukman akan menikah...?” tanyaku.

Lukman tak bicara panjang lebar lagi, dia memberiku satu undangan pernikahan. Aku buka dengan sangat gemetar. Aku baca satu persatu undangan itu. Tertera dua nama yang aku kenal. Muhammad Lukman menikah dengan Rani Oktaviani.

Teh Rani???

“Iya, saya Nis, saya calon istrinya Lukman, maaf saya tidak berkata jujur dari awal, karena saya tidak mau menyakiti Nisa, walaupun akhirnya aku sadar Nisa akan merasa kecewa juga...” kata Teh Rani.

“Perasaan Teh Nisa pada saya mungkin hanya sebatas perasaan kagum saja, bukan cinta. Karena kalau cinta tidak mungkin timbul sebegitu singkatnya. Kami berdua doakan supaya Teh Nisa mendapatkan laki-laki yang terbaik...” kata Lukman.

Mereka berduapun pamit. Aku masih tak percaya dengan isi surat undangan yang masih aku genggam erat.

Aku coba mencerna omongan Lukman, mungkin benar, aku hanya merasa kagum dengan dia dan bukan cinta. Aku kagum dengan ketampanannya, aku kagum dengan pribadinya. Aku berharap aku bisa mendapatkan laki-laki seperti dia atau bahkan lebih baik dari dia.

***

Waktu Kamipun sudah habis dan sudah saatnya kami pulang ke rumah. Aku sudah rindu dengan suasana rumah, kampus dan tempat-tempat yang Kami tinggalkan selama Kami disini.

Banyak hal yang Kami pelajari disana. Banyak hikmah yang tersimpan. Satu hal yang ingin aku sampaikan. Aku sekarang suka dengan keindahan sawah dan aku suka dengan lumpur.


Aku akan usahakan datang dipesta pernikahan Kang Lukman dan Teh Rani. Aku doakan mereka selalu bahagia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar