10 Des 2013

Pelajaran di Masa Lalu

Aku hanya ingin melindungi Sandra, satu-satunya keponakanku dari almarhumah Kakakku yang meninggal ketika melahirkan dia. Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Orangtuaku meninggal dan meninggalkan banyak warisan. Perusahaan dan sejumlah asset lainnya seperti rumah, mobil dan lainnya. Semua harta warisan itu, Kakakku dan aku yang mengurus. Sekarang, mungkin hanya aku yang menanggung beban semuanya.

Jika aku bisa memilih, aku ingin memilih menjadi orang yang biasa saja. Tanpa kekayaan yang melimpah seperti ini. Semua terasa menjadi beban bagiku.

***

Mas Andi adalah suami almarhumah Kakakku, orangnya sangat baik. Begitupun dengan Ibunya. Sejak Kakakku meninggal, otomatis aku menjadi dekat dengannya. Dekat sebagai Aakak dan adik saja tak lebih dari itu. Namun entah kenapa, beberapa hari kebelakang Mas Andi selalu memintaku untuk menjadi istrinya.

Jelas aku menolak, aku tak mungkin menikah dengan suami Kakakku sendiri, walaupun pada kenyataannya Kakakku saat ini sudah meninggal. Tapi aku tak mungkin mengkhianati Kakakku. Terlebih lagi tak ada sedikitpun rasa cintaku pada dia.

Selalu dan selalu dia membujukku dengan alasan Sandra. Begitupun dengan Ibunya, beliau selalu merayuku untuk mau menikah dengan Mas Andi. Akhirnya akupun menyerah dan akupun menikah dengannya.

***

Sudah sekitar dua bulan aku menikah dengan Mas Andi. Semua berubah. Sifatnya yang penyayang kini berubah 180 derajat.

Tertipukah aku?


Sekarang aku tahu, Mas Andi hanya menginginkan harta orangtuaku. Terbukti hampir setiap hari kerjanya hanya berhura-hura. Sama persis dengan mertuaku. Setiap hari kerjanya hanya belanja dan terkadang mabuk-mabukan. Aku banting tulang mengurus Sandra dan bekerja, sementara dia dan Ibunya hanya bersenang-senang.

Aku sampai kaget ketika suatu hari dia datang bersama seorang perempuan yang dia akui sebagai kekasihnya yang akan segera dia nikahi. Seperti tersambar petir disiang hari aku mendengar pernyataannya. Perempuan itu kini tinggal satu atap di rumahku. Di rumah peninggalan orangtuaku. Aku memang salah, semua ini terjadi karena kebodohanku.

***

Sudah satu tahun aku berumah tangga dengan Mas Andi dan sudah berkali-kali aku mengajukan perceraian, namun dia selalu mengancamku dengan akan membawa Sandra kalau aku menggugat cerai. Akhirnya aku mengalah.

Semua harta peninggalan orangtuaku sudah habis, yang tersisa hanya rumah yang sedang Kami tempati. Dan rumah itupun selalu Mas Andi paksa untuk segera aku jual dan hasilnya pasti ingin dia nikmati sendiri. Aku tak ingin menjadi orang yang bodoh dan tertipu untuk yang kesekian kalinya.

***

Suatu hari, ketika mereka sedang bersenang-senang, aku melakukan transaksi jual beli rumah. Aku nekad akan menjual rumah ini dan pergi sejauh mungkin meninggalkan mereka bersama Sandra. Syukurlah, semua berjalan seperti yang aku harapkan. Rumahpun terjual dengan harga yang lumayan besar karena rumah Kami cukup mewah. Akupun pergi jauh kesebuah kota kecil yang aku rasa mereka pasti sulit untuk menemukan Kami.

Hidupku terasa tentram disini bersama Sandra, buah hatiku. Uang dari hasil penjualan rumah, aku gunakan untuk membuka bisnis kecil-kecilan. Aku buka toko baju, aku beli barang-barang dari grosir dan aku jual kembali di tokoku.

Tuhan memang menyayangiku. Tokoku banyak diminati orang. Keuntungan demi keuntungan aku peroleh. Bahkan sekarang aku sudah tidak membeli barang dari orang lain, tapi aku mendesain dan memproduksi sendiri. Perlahan perekonomian Kami semakin membaik.

Sandra kini sudah masuk sekolah menengah. Berkali-kali dia menanyakan keberadaan Ayahnya dan sampai saat ini aku belum menceritakan apa yang sudah terjadi pada Kami dulu. Terlalu pahit untukku menerima kenyataan itu.


Aku tak tahu bagaimana keadaan Mas Andi dan mertuaku saat ini. Mungkin kalau mereka menemukan aku disini, entah apa yang akan mereka lakukan padaku. Mungkin mereka akan membunuhku. Entahlah…yang pasti aku selalu berdoa semoga aku tidak pernah dipertemukan dengan mereka lagi…selamanya.

2 komentar:

  1. Ikut sedih membaca ceritanya. Tapi beruntung juga masih bisa kabur, kalau nggak kabur bisa sengsara seumur hidup tuh.

    BalasHapus
  2. betul betul kang mamandar...dan akhirnya bisa sukses....

    BalasHapus