16 Des 2013

Wanita-Wanita Suamiku

Entah apa yang harus aku rasakan, apa aku harus berbahagia atau bersedih.  Apa aku harus merasa beruntung ataukah sebaliknya. Aku sudah menikah sekitar lima tahun dan sudah mempunyai satu orang putri. Kata orang suamiku berwajah ganteng. Akupun tak tahu kenapa dia mau menikah dengan wanita seperti aku yang biasa saja. Karena kalau aku lihat, dia bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih cantik dariku. Mungkin ini sudah jodoh, hanya itu yang ada difikiranku ketika hatiku berulang-ulang kali bertanya.

Sampai saat ini aku tidak tahu apa yang dikerjakan suamiku diluar, karena memang sejak dari Kami menikah, dia tidak bekerja. Aku banting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Sebagai istri, aku sangat kecewa dengan suamiku. Karena yang aku tahu dulu suamiku mengaku kalau dia bekerja disebuah perusahaan besar di kota ini. Tapi ya sudahlah, aku sudah terlanjur menikah dan tak perlu ada yang disesali...

Setiap pagi suamiku pergi dari rumah dan kembali lagi pada malam hari. Setiap aku tanya, dia selalu bilang kalau dia sedang berusaha mencari uang untuk menafkahi keluarga. Dan aku harus percaya pada dia walaupun hati kecilku sama sekali tak mempercayainya.

Suamiku mempunyai watak keras. Setiap aku menanyakan apa yang dia kerjakan, dia selalu menjawab dengan nada tinggi yang membuatku sangat takut.

***

Suatu hari, aku bermaksud untuk berbelanja di warung dekat rumah. Aku bertemu dengan tetanggaku dan Kamipun ngobrol. Aku sangat kaget ketika tetanggaku bilang kalau suamiku punya wanita lain. Ketika aku tanya apa dia lihat sendiri kelakuan suamiku, tetanggaku bilang kalau kekasih suamiku itu adalah majikannya sendiri. Namanya Ibu Rena.


Menurut keterangan tetanggaku yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Ibu Rena. Ibu Rena adalah seorang wanita yang kaya raya. Dia sangat cantik dan masih muda. Ibu Rena mempunyai sebuah butik tak jauh dari tempat tinggalku. Aku rasa, aku tahu butik milik Ibu Rena. Hanya karena aku tak pernah membeli pakaian ditempat yang mahal, makanya aku tak kenal siapa Ibu Rena.

Hari itu juga, aku menuju butik Ibu Rena, aku hanya ingin tahu apa betul suamiku ada disana. Karena aku tak yakin Ibu Rena mau sama laki-laki yang tak mempunyai uang seperti suamiku. Ataukah dia hanya butuh fisik yang bagus.

Sesampai di butik Ibu Rena, aku melihat dari jauh ada mobil terparkir didepan butik. Beberapa menit kemudian, aku melihat ada sosok cantik dan seorang laki-laki yang sangat aku kenal. Aku melihat suamiku berjalan mesra dengan wanita cantik masuk kedalam mobil itu.

Benar saja, suamiku sudah berselingkuh dengan wanita itu. Sakit sekali hatiku. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Kalau aku tanyakan hal ini, pasti dia marah dan akhirnya pasti tangan yang melayang ke wajahku. Akhirnya, aku biarkan saja dia seperti itu.

Tidak berhenti sampai disitu, akupun tahu suamiku bermain hati dengan Bu Sany. Bu Sany adalah seorang pemilik catering terkenal di kampung sebelah. Beliau memang tidak semuda Ibu Rena, tapi dari segi fisik dia memang cantik.

Aku sudah pasrah dengan keadaan ini. Aku ingin minta cerai dari suamiku karena menikah dengan dia, aku tidak mendapatkan apapun, aku hanya mendapatkan rasa sakit. Lalu aku bicarakan keinginanku ini. Aku katakan pada suamiku tentang perceraian Kami dan seperti dugaanku, dia marah besar.

***

Pagi itu, aku bangun agak kesiangan. Aku yang hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga memang tak boleh kesiangan seperti ini. Untung saja, aku punya majikan yang sangat baik dan selalu memaklumiku.

Aku melihat, suamiku sudah tidak ada. Aku fikir mungkin dia pergi seperti biasanya. Biarlah dia lakukan hidup dia sesukanya dan akupun pergi bekerja seperti biasa. Sebelum pergi, aku titipkan anakku di rumah Ibuku. Aku memang tidak pernah menunggu suamiku pulang atau pergi, bagiku semua sama saja. Tapi aku heran kenapa malam itu aku begitu gelisah. Aku berkali-kali melihat jarum jam, sudah larut malam dan suamiku belum pulang.

Sudah hampir satu minggu suamiku tanpa kabar, aku tak tahu dia dimana. Mungkin dia marah dengan keinginanku untuk minta cerai. Tapi kenapa harus dengan pergi dari rumah.

***

Hari itu hari minggu. Aku memang diberikan satu hari libur dalam satu minggu oleh majikanku. Aku pilih hari minggu. Hari ini biasanya aku habiskan waktu dengan anakku untuk menghirup udara segar. Kami hanya berjalan-jalan disekitar atau kalau aku ada rejeki, aku biasanya ajak anakku ke pasar untuk membeli jajanan yang dia suka.

Tapi hari itu, aku ingin menghabiskan waktu di rumah saja dengan anakku. Walapun rumah kontrakan, tapi aku bahagia dengan anakku berdua. Aku mendengar pintu rumah diketuk. Aku coba lihat keluar. Aku sangat terkejut ketika aku melihat ada dua sosok wanita yang sebenarnya tidak ingin aku ingat. Bu Rena dan Bu Sany.  Aku heran kenapa dia bisa datang kesini dalam waktu yang bersamaan.

Aku buka pintu dan aku tak bisa berkata apa-apa. Bu Sany sangat ramah. Dia menyapaku dan menanyakan suamiku. Sedangkan Bu rena, aku melihat ada kegelisahan di wajahnya. Entah ada apa.
Kamipun berbicara cukup lama. Ternyata Bu Sany adalah saudara Bu Rena, dia merasa tertipu dengan suamiku yang mengaku belum menikah. Aku memang tidak mengenal kedua wanita ini jadi wajar kalau mereka percaya suamiku belum menikah.

Bu Rena hamil, dia bingung mencari suamiku yang tiba-tiba menghilang ketika tahu Bu Rena hamil. Namun ketika aku bilang akupun tak tahu keberadaan suamiku, mereka mengerti.

Akupun menceritakan pengalaman hidupku bersama suamiku pada mereka. Bagaimana aku bekerja keras menghidupi anakku sendiri. Bagaimana aku harus menanggung malu ketika mendengar suamiku main perempuan. Bagaimana aku harus menghadapi kerasnya perlakuan dia. Bagaimana aku harus menghadapi kebutuhan hidup yang semakin hari semakin besar, apalagi dengan kondisi anakku yang sebentar lagi harus masuk sekolah. Aku hanya seorang pembantu rumah tangga biasa dengan penghasilan yang hanya cukup untuk makan.

Mungkin mereka merasakan apa yang aku rasakan. Aku tak tahu harus berkata apa ketika Bu Sany menawarkan salah satu rumahnya untuk aku tinggali. Dia bilang, daripada aku ngontrak rumah harus keluar uang, mendingan aku tinggal disalah satu rumahnya, karena rumah itu jarang dirawat.

Tak sebatas itu, Bu Renapun menawarkan aku untuk menjadi karyawan di Butiknya karena ada satu karyawan dia yang mengundurkan diri. Dia akan menggajiku jauh lebih besar dari seorang pembantu rumah tangga.

***

Aku sangat bersyukur, aku sangat-sangat berterima kasih pada Tuhan. Karena Dia telah memberiku nikmat yang tiada tara. Mungkin memang inilah hikmah dari setiap kejadian. Wanita-wanita suamiku itu sungguh begitu berhati mulia.

Mungkin Tuhan menurunkan mereka untukku, untuk membahagiakan dan memperbaiki kehidupanku. Aku harap, kebahagiaan ini akan selamanya aku rasakan. Dan untuk suamiku...aku masih berharap dia akan menyadari kesalahannya selama ini dan memperbaiki semuanya walaupun aku sama sekali tak berharap dia kembali.


Aku hanya berharap kehidupanku dan anakku kedepannya akan lebih baik, walaupun aku harus hidup tanpa suami...

2 komentar:

  1. Rena dan sany, klo di nikahin dua dua nya..., sekali panggil "reny..!" Kedua istri solehah itu datang dengan penuh senyum hangat dan cinta kasih, hadeuhh bahagianya menjadi suami.

    BalasHapus
  2. Kasihan 3 wanita itu ya, tapi ada kemungkinan si suaminya menjadi sadar dan kembali. Kemudian ia menikahi Rena dan Sany karena ia ingin bertanggung jawab dan melihat hubungan 3 wanita itu sangat baik. Akhirnya si suami itu dan 3 istrinya hidup bahagia. Kisah happy ending ini bisa terjadi hanya jika suami yang ganteng tersebut bertaubat dan 3 wanita itu tetap sabar belum berubah sifatnya.

    BalasHapus