30 Jan 2014

Bukan Pelabuhan Terakhir

Aku coba untuk selalu berdiri ketika aku terjatuh. Entah berapa kali aku terjatuh yang pasti kelelahan sedang menderaku saat ini. Aku mencoba untuk tidak mengeluh, namun entah kenapa hatiku seolah ingin selalu mengeluh ketika rasa sakit ini datang lagi.

Berkali-kali dia hadir, mengisi kehidupanku walaupun berkali-kali juga aku merasakan sakit dan kehilangan. Namun semakin dia hadir semakin dalam perasaan yang aku rasakan. Entah…entah kenapa.

Mungkin ini yang dinamakan cinta...??? Bukan…aku rasa ini bukan cinta.

***

Sandra, dia wanita yang mampu membuatku tersenyum dan menangis. Pesonanya mampu membuatku terdiam tak berkutik sedikitpun. Aku mengenalnya sudah hampir 10 tahun. Dia sosok yang sangat menarik di mataku. Awal berkenalan dengannya aku merasa lupa segalanya. Yang ada hanya dia.

Sejak itu Kami berteman sekitar dua tahun lamanya. Berkali-kali aku menyatakan perasaanku, berkali-kali juga dia menolakku. Walaupun dari sikap dia aku merasakan kalau dia mempunyai perasaan yang sama denganku. Akhirnya ditahun ketiga aku mencoba untuk menyatakan perasaanku kembali. Saat itu dia meminta waktu satu minggu untuk berfikir. Akupun memberi waktu untuknya.


Sudah hampir dua minggu dia menghilang. Padahal dia hanya meminta waktu satu minggu untuk berfikir. Tapi lagi-lagi aku menunggunya. Kini sudah satu bulan dia pergi, aku masih tetap disini menunggunya. Entah ada magnet apa yang membuatku seperti ini.

Akhirnya setelah satu bulan berlalu, aku bisa melihat dia lagi. Rasa kesal memang tengah aku rasakan, tapi melihat senyum yang aku rindukan selama ini, seketika itu juga hatiku menjadi luluh lantak. Dia mengungkapkan satu alasan kenapa dia menghilang. Dia bilang padaku ingin fokus kuliah dulu. Dan aku percaya, selalu percaya.

Hari itu mungkin menjadi hari yang paling membahagiakan untukku. Dia menerima pernyataan cintaku yang selama ini aku rasakan. Sejak hari itu resmi sudah aku dan Sandra menjadi sepasang kekasih.

Aku memang bahagia, sangat bahagia. Tapi hanya diawal saja. Kesananya hanya kekecewaan yang aku rasakan. Tak ubahnya aku hanya menjadi seorang supir pribadi yang harus nurut apa kata atasan. Aku tak bisa protes, aku hanya bisa diam. Semua aku lakukan karena aku sangat mencintainya.

***

Tahun pertama Kami menjalin kedekatan, aku bermaksud untuk melamar dia menjadi istriku. Aku yakin, dia pasti berubah. Sempat aku mendengar kabar dari sahabatku kalau diluar sana Sandra berselingkuh. Entah kenapa, aku selalu menutup mata dan hati dari hal-hal negatif tentang Sandra. Aku tak menggubris omonan sahabatku walaupun hati kecilku mempercayai itu semua.

Aku tetap pada niat awalku untuk menjadikan Sandra sebagai istriku. Aku ingin menyatakan niat baikku itu ketika Sandra berulang tahun.

Tepat dihari ulang tahun Sandra, aku sudah mempersiapkan segalanya. Kejutan-kejutan untuknya sudah aku rancang, aku berharap semuanya akan membuat dia bahagia. Tapi semua sia-sia. Sandra pergi tanpa ada kabar. Aku tunggu satu hari, dua hari bahkan sudah satu minggu. Aku tanya orang-orang terdekat dia, semua tidak tahu. Aku coba hubungi keluarganya, semua seolah menyembunyikan. Dan akhirnya aku pasrah.

Sudah genap satu tahun Sandra menghilang, tapi tidak dengan perasaanku. Aku masih menunggunya. Walaupun banyak yang bilang kalau Sandra sekarang sudah menikah dan punya anak. Tapi aku tak percaya sebelum aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.

***

Hari itu, aku ditugaskan ke luar kota oleh atasanku selama tiga hari karena ada proyek yang harus aku kerjakan di kota itu. Aku berangkat pagi-pagi dengan mobilku karena aku sengaja tidak menggunakan travel ataupun rental. Aku lebih senang mengendarai mobil sendiri walau perjalanan ini cukup jauh.

Hari pertama, pekerjaanku berjalan lancar. Begitupun dengan hari kedua dan ketiga, semua berjalan sesuai dengan harapan. Sampai akhirnya aku harus pulang. Entah kenapa aku merasa aku ingin sekali tinggal barang sehari lagi di kota itu. Aku bermaksud untuk jalan-jalan mumpung kerjaanku sudah kelar. Akhirnya aku meminta ijin ke kantor dan atasanku menyetujuinya. Aku putuskan untuk tinggal sehari lagi disini.

Aku akan habiskan hari itu untuk jalan-jalan seharian, sengaja aku menyewa jasa tour guide untuk mengantarku ketempat-tempat objek wisata disana.

Hari itu aku puas menikmati keindahan alam disana, aku sangat bersyukur bisa menikmati ini semua. Setidaknya aku bisa merefresh otak yang setiap hari dijejali oleh pekerjaan-pekerjaan yang sepertinya tiada akhir.

Setelah puas berkeliling dan lelahpun datang aku akan kembali ke hotel. Diperjalanan menuju hotel aku melihat ada motor dari arah berlawanan dinaiki seorang wanita. Tiba-tiba jantungku berdetak sangat keras ketika melihat sosok itu. Sandra…ya itu Sandra.

Aku langsung memutar balik mobilku untuk mengejar motor itu. Beruntung lalu lintas saat itu sangat sepi. Aku perhatikan dan semakin memperhatikan motor dan pengendaranya. Benar itu Sandra. Hatiku semakin tak karuan ketika motor itu berenti. Seketika itu juga aku berhentikan mobilku.

Aku keluar dari mobil dan langsung menarik tangan Sandra. Wanita itu sangat kaget melihat aku didepannya dan bermaksud untuk melarikan diri, namun aku berhasil menggenggam tangannya. Aku lihat matanya dan dia terlihat masih shock.

Sekitar 5 menit Kami saling bertatapan. Pelan-pelan aku melihat ada butiran-butiran Kristal akan jatuh dari sudut matanya. Sebenarnya aku tak ingin melihat Sandra menangis, tapi aku tak bisa mencegahnya. Butiran-butiran Kristal itu jatuh juga. Sandra menangis. Akhirnya aku mengajak Sandra bicara di café tak jauh dari tempat itu. Belum juga aku tanya kenapa Sandra tega meninggalkan aku saat itu. Sandra sudah bercerita panjang lebar tentang dirinya.

Dia terpaksa harus menikah karena perjodohan, orangtua Sandra memiliki hutang yang cukup banyak dan tak mampu membayarnya. Untuk menebus hutang-hutangnya, Sandra harus menikah dengan laki-laki yang usianya 20 tahun diatas dia. Aku tak tahu itu benar atau tidak yang pasti perasaanku tak pernah berubah padanya.

Sandra sekarang harus menjadi single parent, suaminya menceraikan dia gara-gara Sandra tidak mau dipoligami. Anak semata wayangnya kini tinggal bersamanya tanpa nafkah dari mantan suaminya. Sekarang Sandra bekerja sebagai pelayan toko kue.

Hari itu sebenarnya aku masih ingin tinggal disana. Bukan karena ingin menikmati kebebasanku dari pekerjaan, bukan juga karena ingin merefresh otakku. Tapi karena ada Sandra. Sandra yang membangkitkan semangatku untuk tetap disana, tapi sayang kantorku tidak memberikan ijin aku untuk tinggal lebih lama dan aku harus pulang.

Komunikasi kita tidak terputus sampai disitu. Setiap hari bahkan setiap saat kita selalu berkomunikasi lewat telepon. Aku merasakan perubahan yang luar biasa dari Sandra. Dia sekarang jadi wanita yang sangat perhatian. Rasa cintaku padanya semakin bertambah.

Sudah hampir satu bulan dari pertemuan itu, hubungan Kami semakin dekat. Semua kebutuhan Sandra sekarang aku yang mencukupi secara materi walaupun aku sadar aku bukan suaminya dan itu bukan kewajibanku. Namun aku ingin meringankan beban dia. Akupun sangat menyayangi anak semata wayangnya. Sampai pada akhirnya, aku bermaksud untuk melamar Sandra untuk yang kedua kalinya. Aku tidak ingin gagal lagi.

***

Sore itu setelah pulang kantor, aku langsung tancap gas menuju kota itu. Aku sudah janjian dengan Sandra sebelumnya dan dia sekarang sedang menungguku. Aku memang belum memberitahu dia kalau aku akan melamarnya, namun dengan kondisi perekonomianku yang sudah lumayan, aku yakin, Sandra tidak akan menolakku.

Sesampainya disana, aku bertemu Sandra. Tanpa basa basi, akupun menyatakan keinginan hatiku untuk melamarnya. Sandra terlihat kaget, namun aku melihat ada sinar harapan dan kebahagiaan di matanya. Tanpa aku harus menunggu lama, akhirnya dengan satu anggukan, aku tahu Sandra menerimaku.

Aku tidak ingin menunggu lama lagi. Aku takut kehilangan Sandra lagi. Aku berniat sepulang dari menemui Sandra aku akan menceritakan ini semua pada keluargaku terutama Ibuku.

Sudah dua hari aku bersama Sandra dan sekarang saatnya aku harus pulang. Tak sabar rasanya ingin cepat-cepat bertemu Ibu dan memberitahukan kabar gembira ini.

Kenyataan memang tak seindah mimpi. Ibuku menentang Kami. Bisa aku fahami maksud dan tujuan Ibuku mengingat Sandra pernah mengecewakanku dan sekarang dia seorang single parent. Sudah aku jelaskan baik buruknya namun Ibu tetap tak mau mendengar alasanku. Akhirnya aku menikah tanpa restu orangtua. Kebodohan ini aku lakukan demi perasaanku pada Sandra.

***

Sudah dua tahun Kami menikah dan aku bahagia walaupun aku belum dikaruniai anak, namun anak Sandra sudah aku anggap seperti anakku sendiri. Sandra menjadi ibu rumah tangga karena aku melarangnya untuk bekerja. Hubunganku dengan Ibuku juga perlahan-lahan sudah membaik walaupun tidak seperti dulu. Ibu belum menerima Sandra sebagai menantu sepenuhnya, tapi aku yakin Ibu pasti terbuka hatinya suatu hari nanti.

Semua berjalan baik, semua berjalan sesuai harapanku andai saja tidak ada dia dalam kehidupan Kami. Akupun tidak tahu bagaimana awalnya, kenapa Sandra bisa berselingkuh dengan rekan kerjaku sendiri. Alex.

Aku mengenalkan Alex hanya sekali ketika aku membawa Sandra ke rumahnya. Aku tak tahu kapan mereka berkomunikasi karena yang aku tahu Alex orangnya pendiam dan diapun sudah punya istri dan anak.

Aku tahu perselingkuhan mereka karena istri Alex mengabari kalau mereka akan berpisah karena perselingkuhan suaminya dengan Sandra. Sungguh, ini lebih menyakitkan dari kehilangan Sandra dimasa dulu. Sandra menangis ketika aku tanya perselingkuhan ini, berkali-kali Sandra meminta maaf. Aku memaafkan dia tapi tidak untuk bersamanya kembali. Aku memilih berpisah.

Mungkin benar Ridho orangtua adalah ridho Tuhan. Ibuku berkali-kali melarangku namun aku tetap mempertahankan Sandra yang jelas-jelas dari dulu selalu menyakitiku.


Kini, aku sendiri, tanpa Sandra. Namun aku tak akan terpuruk seperti dulu. Sandra memang bukan pelabuhan terakhirku namun aku percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik untukku dikemudian hari.

1 komentar: