Aku coba untuk
selalu berdiri ketika aku terjatuh. Entah berapa kali aku terjatuh yang pasti
kelelahan sedang menderaku saat ini. Aku mencoba untuk tidak mengeluh, namun entah kenapa
hatiku seolah ingin selalu mengeluh ketika rasa sakit ini datang lagi.
Berkali-kali dia
hadir, mengisi kehidupanku walaupun berkali-kali juga aku merasakan sakit dan
kehilangan. Namun semakin dia hadir semakin dalam perasaan yang aku rasakan.
Entah…entah kenapa.
Mungkin ini yang
dinamakan cinta...??? Bukan…aku rasa ini bukan cinta.
***
Sandra, dia
wanita yang mampu membuatku tersenyum dan menangis. Pesonanya mampu membuatku
terdiam tak berkutik sedikitpun. Aku mengenalnya sudah hampir 10 tahun. Dia
sosok yang sangat menarik di mataku. Awal berkenalan dengannya aku merasa lupa
segalanya. Yang ada hanya dia.
Sejak itu Kami berteman sekitar dua
tahun lamanya. Berkali-kali aku menyatakan perasaanku, berkali-kali juga dia
menolakku. Walaupun dari sikap dia aku merasakan kalau dia mempunyai perasaan
yang sama denganku. Akhirnya ditahun ketiga aku mencoba untuk menyatakan
perasaanku kembali. Saat itu dia meminta waktu satu minggu untuk berfikir.
Akupun memberi waktu untuknya.
Sudah hampir dua
minggu dia menghilang. Padahal dia hanya meminta waktu satu minggu untuk
berfikir. Tapi lagi-lagi aku menunggunya. Kini sudah satu bulan dia pergi, aku masih tetap
disini menunggunya. Entah ada magnet apa yang membuatku seperti ini.
Akhirnya setelah
satu bulan berlalu, aku bisa melihat dia lagi. Rasa kesal memang tengah aku
rasakan, tapi melihat senyum yang aku rindukan selama ini, seketika itu juga hatiku menjadi luluh
lantak. Dia mengungkapkan satu alasan kenapa dia menghilang. Dia bilang padaku
ingin fokus kuliah dulu. Dan aku percaya, selalu percaya.
Hari itu mungkin
menjadi hari yang paling membahagiakan untukku. Dia menerima pernyataan cintaku
yang selama ini aku rasakan. Sejak hari itu resmi sudah aku dan Sandra menjadi
sepasang kekasih.
Aku memang
bahagia, sangat bahagia. Tapi hanya diawal saja. Kesananya hanya kekecewaan
yang aku rasakan. Tak ubahnya aku hanya menjadi seorang supir pribadi yang
harus nurut apa kata atasan. Aku tak bisa protes, aku hanya bisa diam. Semua
aku lakukan karena aku sangat mencintainya.
***
Tahun pertama Kami menjalin kedekatan,
aku bermaksud untuk melamar dia menjadi istriku. Aku yakin, dia pasti berubah.
Sempat aku mendengar kabar dari sahabatku kalau diluar sana Sandra
berselingkuh. Entah kenapa, aku selalu menutup mata dan hati dari hal-hal
negatif
tentang Sandra. Aku tak menggubris omonan sahabatku walaupun hati kecilku
mempercayai itu semua.
Aku tetap pada
niat awalku untuk menjadikan Sandra sebagai istriku. Aku ingin menyatakan niat
baikku itu ketika Sandra berulang tahun.
Tepat dihari
ulang tahun Sandra, aku sudah mempersiapkan segalanya. Kejutan-kejutan untuknya
sudah aku rancang, aku berharap semuanya
akan membuat dia bahagia. Tapi semua sia-sia. Sandra
pergi tanpa ada kabar. Aku tunggu satu hari, dua hari bahkan sudah satu minggu.
Aku tanya orang-orang terdekat dia, semua tidak tahu. Aku coba hubungi
keluarganya, semua seolah menyembunyikan. Dan akhirnya aku pasrah.
Sudah genap satu
tahun Sandra menghilang, tapi tidak dengan perasaanku. Aku masih menunggunya.
Walaupun banyak yang bilang kalau Sandra sekarang sudah menikah dan punya anak.
Tapi aku tak percaya sebelum aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.
***
Hari itu, aku
ditugaskan ke luar kota oleh atasanku selama tiga hari karena ada proyek yang
harus aku kerjakan di kota itu. Aku berangkat pagi-pagi dengan mobilku karena
aku sengaja tidak menggunakan travel ataupun rental. Aku lebih senang
mengendarai mobil sendiri walau
perjalanan ini cukup jauh.
Hari pertama, pekerjaanku berjalan
lancar. Begitupun dengan hari kedua dan ketiga, semua berjalan sesuai dengan
harapan. Sampai akhirnya aku harus pulang. Entah kenapa aku merasa aku ingin
sekali tinggal barang sehari lagi di
kota itu. Aku bermaksud untuk jalan-jalan mumpung
kerjaanku sudah kelar. Akhirnya aku meminta ijin ke kantor dan atasanku
menyetujuinya. Aku putuskan untuk tinggal sehari lagi disini.
Aku akan
habiskan hari itu untuk jalan-jalan seharian, sengaja aku menyewa jasa tour guide untuk mengantarku
ketempat-tempat objek wisata disana.
Hari itu aku
puas menikmati keindahan alam disana, aku sangat bersyukur bisa menikmati ini
semua. Setidaknya aku bisa merefresh
otak yang setiap hari dijejali oleh pekerjaan-pekerjaan yang sepertinya tiada
akhir.
Setelah puas
berkeliling dan lelahpun datang aku akan kembali ke hotel. Diperjalanan menuju
hotel aku melihat ada motor dari arah berlawanan dinaiki seorang wanita.
Tiba-tiba jantungku berdetak sangat keras ketika melihat sosok itu. Sandra…ya itu Sandra.
Aku langsung
memutar balik mobilku untuk mengejar motor itu. Beruntung lalu lintas saat itu
sangat sepi. Aku perhatikan dan semakin memperhatikan motor dan pengendaranya. Benar itu
Sandra. Hatiku semakin tak karuan ketika motor itu berenti. Seketika itu juga
aku berhentikan mobilku.
Aku keluar dari
mobil dan langsung menarik tangan Sandra. Wanita itu sangat kaget melihat aku
didepannya dan bermaksud untuk melarikan diri, namun aku berhasil menggenggam tangannya.
Aku lihat matanya dan dia terlihat masih shock.
Sekitar 5 menit Kami saling bertatapan.
Pelan-pelan aku melihat ada butiran-butiran Kristal akan jatuh dari sudut
matanya. Sebenarnya aku tak ingin melihat Sandra menangis, tapi aku tak bisa
mencegahnya. Butiran-butiran Kristal itu jatuh juga. Sandra menangis. Akhirnya aku
mengajak Sandra bicara di café tak jauh dari tempat itu. Belum juga aku tanya
kenapa Sandra tega meninggalkan aku saat itu. Sandra sudah bercerita panjang
lebar tentang dirinya.
Dia terpaksa harus menikah
karena perjodohan, orangtua Sandra memiliki hutang yang cukup banyak dan tak
mampu membayarnya. Untuk menebus hutang-hutangnya, Sandra harus menikah dengan
laki-laki yang usianya 20 tahun diatas dia. Aku tak tahu itu benar atau tidak
yang pasti perasaanku tak pernah berubah padanya.
Sandra sekarang
harus menjadi single parent, suaminya
menceraikan dia gara-gara Sandra tidak mau dipoligami. Anak semata wayangnya
kini tinggal bersamanya tanpa nafkah dari mantan suaminya. Sekarang Sandra bekerja
sebagai pelayan toko kue.
Hari itu sebenarnya
aku masih ingin tinggal disana. Bukan karena ingin menikmati kebebasanku dari
pekerjaan, bukan juga karena ingin merefresh
otakku. Tapi karena ada Sandra. Sandra yang membangkitkan semangatku untuk
tetap disana, tapi sayang kantorku tidak memberikan ijin aku untuk tinggal
lebih lama dan aku harus pulang.
Komunikasi kita
tidak terputus sampai disitu. Setiap hari bahkan setiap saat kita selalu
berkomunikasi lewat telepon. Aku merasakan perubahan yang luar biasa dari
Sandra. Dia sekarang jadi wanita yang sangat perhatian. Rasa cintaku padanya
semakin bertambah.
Sudah hampir
satu bulan dari pertemuan itu, hubungan Kami semakin dekat. Semua kebutuhan Sandra sekarang aku yang mencukupi secara
materi walaupun aku sadar aku bukan suaminya dan itu bukan kewajibanku. Namun
aku ingin meringankan beban dia. Akupun sangat menyayangi anak semata
wayangnya. Sampai pada akhirnya, aku bermaksud untuk melamar Sandra untuk yang
kedua kalinya. Aku tidak ingin gagal lagi.
***
Sore itu setelah
pulang kantor, aku langsung tancap gas menuju kota itu. Aku sudah janjian dengan Sandra sebelumnya dan dia sekarang sedang menungguku. Aku
memang belum memberitahu dia kalau aku akan melamarnya, namun dengan kondisi perekonomianku yang sudah lumayan, aku yakin,
Sandra tidak akan menolakku.
Sesampainya
disana, aku bertemu Sandra. Tanpa basa basi, akupun menyatakan keinginan hatiku
untuk melamarnya. Sandra terlihat kaget, namun aku melihat ada sinar harapan dan kebahagiaan di matanya. Tanpa
aku harus menunggu lama, akhirnya dengan satu anggukan, aku tahu Sandra
menerimaku.
Aku tidak ingin
menunggu lama lagi. Aku takut kehilangan Sandra lagi. Aku berniat sepulang dari
menemui Sandra aku akan menceritakan ini semua pada keluargaku terutama Ibuku.
Sudah dua hari aku bersama Sandra dan sekarang
saatnya aku harus pulang. Tak sabar rasanya ingin cepat-cepat bertemu Ibu dan
memberitahukan kabar gembira ini.
Kenyataan memang
tak seindah mimpi. Ibuku menentang Kami. Bisa aku fahami maksud dan tujuan Ibuku mengingat Sandra
pernah mengecewakanku dan sekarang dia seorang single parent. Sudah aku jelaskan baik buruknya namun Ibu tetap tak mau
mendengar alasanku. Akhirnya aku menikah tanpa restu orangtua. Kebodohan ini
aku lakukan demi perasaanku pada Sandra.
***
Sudah dua tahun Kami menikah dan aku
bahagia walaupun aku belum dikaruniai anak, namun anak Sandra sudah aku anggap
seperti anakku sendiri. Sandra menjadi ibu rumah tangga karena aku melarangnya
untuk bekerja. Hubunganku dengan Ibuku juga perlahan-lahan sudah membaik walaupun tidak seperti dulu.
Ibu belum menerima Sandra sebagai menantu sepenuhnya, tapi aku yakin Ibu pasti
terbuka hatinya suatu hari nanti.
Semua berjalan
baik, semua berjalan sesuai harapanku andai saja tidak ada dia dalam kehidupan Kami. Akupun tidak tahu
bagaimana awalnya, kenapa Sandra bisa berselingkuh dengan rekan kerjaku sendiri. Alex.
Aku mengenalkan
Alex hanya sekali ketika aku membawa Sandra ke rumahnya. Aku tak tahu
kapan mereka berkomunikasi karena yang aku tahu Alex orangnya pendiam dan
diapun sudah punya istri dan anak.
Aku tahu
perselingkuhan mereka karena istri Alex mengabari kalau mereka akan berpisah
karena perselingkuhan suaminya dengan Sandra. Sungguh, ini lebih menyakitkan
dari kehilangan Sandra dimasa dulu. Sandra menangis ketika aku tanya perselingkuhan
ini, berkali-kali Sandra meminta maaf. Aku memaafkan dia tapi tidak untuk
bersamanya kembali. Aku memilih berpisah.
Mungkin benar
Ridho orangtua adalah ridho Tuhan. Ibuku berkali-kali melarangku namun aku
tetap mempertahankan Sandra yang jelas-jelas dari dulu selalu menyakitiku.
Kini, aku
sendiri, tanpa Sandra. Namun aku tak akan terpuruk seperti dulu. Sandra memang
bukan pelabuhan terakhirku namun aku percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik
untukku dikemudian hari.
Mothers are always right
BalasHapus