Saat ini ingin
aku tegaskan bagaimana perasaanku padanya. Sudah sekian lama aku bertanya pada
hatiku sendiri, apa sebenarnya yang sedang aku rasakan. Cinta atau
kepura-puraan?
Berawal dari
keinginan sahabatku yang tak lain anak majikan Ibuku. Aku memang hanya seorang anak pembantu,
namun aku bangga karena Ibuku bukan seorang pencuri, bukan seorang koruptor
yang bisanya hanya mengambil hak orang lain, memakan keringat orang. Mungkin
sebagian orang menganggap pekerjaan seorang pembantu rumah tangga adalah
pekerjaan yang hina, namun tidak buatku.
Majikan Ibuku punya anak gadis
seusiaku, Natasha namanya, Ibuku memanggilnya dengan nama Neng Nana. Aku bersahabat
dengannya sudah lama karena Nana adalah teman sekolahku sejak SD. Kalau dibandingkan aku, orang
bilang, aku seperti majikannya Nana. Entah kenapa, mungkin karena wajahku yang
cantik, badanku yang tinggi langsing dan kulitku yang kuning langsat. Akupun
tergolong wanita yang pintar. Mungkin, hanya faktor materi saja yang mengalahkan aku dari Nana.
Namaku Nita.
Setelah lulus SMA, aku bekerja disebuah swalayan, sebagai kasir. Aku bersyukur,
karena sejak aku bekerja, Ibuku sudah tidak bekerja lagi. Aku sengaja menyuruh Ibu untuk tinggal di rumah
menghabiskan masa tuanya denganku. Sedangkan Nana, dia melanjutkan kuliah di Universitas yang kata
orang paling mahal di kota ini. Namun, sampai saat ini, aku dan Nana masih bersahabat.
Nana masih suka main ke rumahku, begitupun dengan aku.
***
Suatu hari, Nana
menelponku. Dia mengabarkan ingin menginap di rumahku. Aku sempat kaget, kenapa
tiba-tiba Nana ingin menginap di rumah yang mungkin dengan dapurnyapun lebih
bagusan dapur Nana. Namun Nana tetap memaksa yang akhirnya akupun tak bisa
menolak.
Malam itu, Nana
menginap di rumah. Kebetulan besoknya aku off
dari kerjaanku, sementara Nana memutuskan untuk bolos kuliah. Jadi, malam itu kitapun begadang.
Aku tak tahu apa
yang ada difikiran dan hati Nana, tiba-tiba Nana menangis. Aku mencoba
meredakan tangisannya, namun semakin aku redakan, tangisan itu malah semakin
menjadi-jadi. Akhirnya aku biarkan Nana tenang dengan sendirinya. Setelah
tenang, barulah Nana menceritakan kenapa dia menangis. Ternyata laki-laki yang
dia cintai selama ini pergi meninggalkannya tanpa Nana tahu kenapa dia pergi.
Fikri, nama laki-laki
itu. Dia kuliah ditempat yang sama dengan Nana. Menurut Nana, dia laki-laki
yang diimpikan banyak wanita. Bisa dibayangkan, laki-laki seperti apa dia.
Sakit hati Nana
mungkin tidak tertahankan. Sampai-sampai terbersit dibenaknya untuk memberi
pelajaran pada laki-laki itu. Nana meminta aku untuk pura-pura mencintainya dan
mengambil hatinya, setelah itu Nana ingin aku meninggalkan dia dengan cara yang
sama seperti laki-laki itu meninggalkannya. Awalnya aku menolak, aku tak mau
menyakiti orang hanya untuk kepentingan orang lain. Namun akupun tak bisa
melihat rengekan Nana. Akhirnya aku minta waktu untuk berfikir.
Sudah satu
minggu, aku belum memberi kabar pada Nana, apa aku mau atau tidak. Sejujurnya,
aku sangat tidak mau dengan rencana gila Nana, namun setiap hari akupun tak
ingin mendengar rengekan Nana. Akhirnya aku menyetujui keinginan Nana.
***
Hari itu, aku
diajak kekampusnya Nana. Suatu tempat yang belum pernah aku datangi. Mungkin
kalau bukan
Nana yang mengajak. Tempat ini tidak akan pernah aku datangi sampai kapanpun.
Dari jauh Nana menunjukkan sosok Fikri. Memang benar, melihat dari fisik Fikri, mungkin Fikri adalah idaman setiap wanita. Wajahnya tampan,
badannya tegap, kulitnya sawo matang, namun terlihat sangat manis. Tapi maaf
dia bukan tipe laki-laki idamanku.
Sejak itu, aku memutar
otak untuk mencari akal bagaimana cara aku untuk mendekati laki-laki itu.
Walapun Nana sudah memberi nomor handphonenya,
tapi apa yang harus aku perbuat.
***
Suatu hari, aku mencoba untuk memberanikan
diri menelponnya. Aku bilang, aku hanya ingin berkenalan. Aku tahu nomor dia
dari temannya, walaupun aku tidak menyebutkan siapa. Awalnya Fikri terlihat
canggung, namun lama kelamaan suasana mencair. Mungkin karena aku tipe wanita yang supel jadi gampang
mencairkan suasana.
Hampir tiap hari
aku menghubungi Fikri. Aku fikir, ini semua bukan dari hatiku. Semua aku
lakukan demi Nana. Jadi, tak peduli aku dianggap wanita seperti apa. Dari hari ke hari obrolan Kami semakin komplit.
Mulai dari masalah keluarga, urusan pekerjaan, kampus, bahkan sekarang sudah
mengarah ke masalah pribadi. Aneh memang, padahal kita belum pernah bertemu.
Suatu hari,
Fikri memintaku untuk bertemu disuatu tempat. Aku setuju dengan ajakan Fikri. Akhirnya kita bertemu
disebuah tempat makan tak jauh dari swalayan tempatku bekerja.
Pertama bertemu
memang suasana sangat canggung, sama seperti ketika pertama kali kita ngobrol
ditelepon. Namun lama kelamaan suasana malah tambah asyik. Obrolanpun berlanjut
dan tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 7 malam. Akupun diantarnya pulang.
Sejak saat itu,
komunikasi kita tidak pernah terputus. Malah sekarang Fikri yang terlihat
agresif. Mungkin karena daya tarikku. Hampir setiap hari Fikri memintaku untuk
bertemu. Kadang kita jalan-jalan ke mall, kadang hanya ngobrol di rumah.
Mungkin, missiku sudah berhasil.
***
Hari berganti
hari, bulanpun berganti bulan. Aku semakin dekat dengan Fikri. Entah kenapa,
aku merasakan hal yang lain. Entah apa. Yang pasti aku merasa Fikri tidak
sejahat apa yang Nana bilang. Atau mungkin aku sedang terbuai oleh rayuannya.
Entahlah…
Aku melihat
Fikri orang yang tulus, terlihat dari kesopanan dia, kebaikan dia, tidak ada sesuatu
yang membuatku berfikir kalau Fikri orang yang suka menyia-nyiakan perempuan.
Tapi perasaan itu segera aku tepis, karena aku mendekati dia hanya karena Nana.
Waktu semakin
cepat berlalu, dan aku semakin tersiksa. Kenapa saat ini perasaanku semakin
tidak karuan, apalagi ketika Fikri memintaku untuk menjadi kekasihnya dan Fikri
berniat untuk melamarku setelah dia lulus.
Entah apa yang
aku rasakan saat itu, ada perasaan bersalah
dan ada perasaan takut. Namun akupun merasakan bahagia.
Tapi tidak…tidak mungkin aku menerima
Fikri, bagaimana dengan Nana. Aku berniat untuk
membantunya, malah aku menyakitinya.
***
Suatu hari, aku
bertemu dengan Nana dan Nana menanyakan perkembangan Fikri denganku. Akupun
mengatakan hal yang sebenarnya. Nana terlihat senang dan memintaku untuk
menerima cinta Fikri, setelah itu, aku harus meninggalkannya. Bagaimana aku
bisa melakukan itu semua, sementara hatiku tidak ingin melakukan itu.
Ingin aku lari
dari permasalah yang sebenarnya aku buat sendiri. Ingin aku padamkan api
kepura-puraan itu, namun aku tak bisa, api itu sudah terlanjur besar dan sulit
untuk dipadamkan. Aku tidak bisa membohongi perasaanku tapi aku juga tak bisa
mengkhianati sabahatku sendiri.
Mungkin berkata
jujur adalah hal yang tepat yang harus aku lakukan saat itu. Aku akan jujur
pada sahabatku dan Fikri, setidaknya aku sudah berani mengungkapkan apa yang
ada dalam hatiku.
***
Siang itu aku
bertemu dengan Nana. Aku jelaskan semua yang aku rasakan. Nana sempat terdiam,
selanjutnya Nana tersenyum. Akupun heran, jauh dari bayanganku Nana akan
melakukan hal itu. Padahal aku mengenal Nana adalah sosok yang emosian dan
gampang tersinggung, tapi kenapa setelah aku ceritakan semuanya, Nana malah
tersenyum padaku.
Nana bilang,
kalau apa yang aku rasakan hampir sama dengan apa yang dia rasakan dulu. Nana
juga bilang, aku hanya sedang terhanyut dalam suasana dan Nana minta aku untuk
tidak menuruti perasaanku sendiri. Tapi sungguh, ini bukan hanyutan rasa, aku tidak
sedang terbuai. Walaupun aku ragu apa sebenarnya yang sedang aku rasakan.
Hampir semalaman
aku berfikir, aku merenung dan aku meyakini perasaanku. Aku sadar, cinta yang
mengalir padaku bukan sandiwara, bukan kepura-puraan, ini cinta yang indah yang
aku rasakan untuk Fikri. Aku tak ingin kehilangan dia, walaupun aku sadar pasti
banyak hal yang akan menjadi penghalang kita didepan sana. Namun, aku siap
menghadapinya.
***
Hari ini, ingin
aku katakan pada Fikri, kalau akupun mempunyai perasaan yang sama dengannya.
Walaupun hubungan ini dimulai dengan kepura-puraan, tapi aku berharap hubungan
ini akan selalu dibangun dengan cinta.
Nana…maafkan
aku…karena rasa cintaku untuk Fikri mengalahkan segala rasa dendammu
padanya…aku berharap suatu saat nanti Nana bisa mengerti dengan apa yang aku alami
saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar