Sudah lima tahun
aku bekerja di kota besar ini, Jakarta. Setiap hari aku melihat gedung yang tinggi,
jalanan besar yang setiap hari dipenuhi ribuan kendaraan. Permasalahan macet
yang sampai sekarang masih menjadi permasalahan utama di kota ini.
Aku, bukan orang
yang bekerja didalam gedung tinggi itu, aku juga bukan orang yang berada
didalam kendaraan yang selalu terjebak dalam kemacetan itu. Aku hanya seorang
manusia yang bekerja sebagai tukang koran yang menjajakan daganganku dari sau kendaraan ke kendaraan yang lain. Itulah aku…
Penghasilanku
setiap hari tidaklah banyak, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Terkadang
untuk makanpun sulit. Keinginan untuk mudik lebaranpun selalu pupus, karena
keadaan ekonomiku yang masih semerawut, padahal aku sangat rindu Ibu dan Adikku di kampung. Ayahku sudah
meninggal sejak aku masih duduk di bangku SD. Ibu menjadi tulang punggung saat itu. Sekarang, dengan penghasilanku
seperti ini, aku belum bisa membahagiakan Ibu dan Adikku.
Sudah lima
tahun, aku tidak berjumpa dengan beliau. Aku tahu, berapa besar rasa rindu
beliau untukku, dan begitupun aku. Aku selalu berharap, setiap hari raya tiba,
aku bisa pulang. Begitupun hari raya tahun ini.
Aku sangat
berterimakasih sekali pada Pak RT yang memberiku pekerjaan tambahan sekaligus
bonus hari raya yang mungkin kata orang ini yang disebut THR. Aku bekerja
sebagai tukang Koran dipagi hari, dan siang menjelang sore aku bekerja di rumah
Pak RT, merenovasi rumahnya, karena sesudah hari raya, Pak RT akan menikahkan
anak sulungnya, jadi mau tidak mau, rumah itu harus beres setelah lebaran.
Pekerjaan yang
memang sangat melelahkan, namun demi Ibu, demi Adikku aku rela melakukan semuanya. Aku sudah
berjanji pada Ibu, lebaran tahun ini aku akan pulang.
Masih teringat
keinginan Ibu, beliau ingin memakai mukena baru ketika sholat Idul Fitri nanti, namun sampai
detik inipun aku belum mampu membelikannya. Namun aku yakin suatu hari nanti
aku pasti bisa membelikannya untuk Ibu.
Setiap hari aku
banting tulang dan beruntung aku mempunyai majikan seperti Pak RT yang sangat
baik. Selain perhatian pada pekerjanya, Pak RT pun tidak hitung-hitungan waktu.
Karena aku bekerja dulu sebagai tukang Koran, jadinya aku sering datang
terlambat, tapi Pak RT tidak pernah memotong upahku.
***
Ini hari ke-25
puasa. Alhamdulillah uangku sudah terkumpul lumayan. Bisa membeli mukena untuk Ibuku dan bisa membeli
pakaian baru untuk adikku. Senang sekali hati ini, walaupun untukku sendiri, aku tidak
punya apa-apa. Tapi aku ikhlas, aku bahagia.
Aku memutuskan
untuk mudik lebaran ke kampungku hari ini. Tepat di H-3 lebaran. Dari semalam
aku sudah tak bisa tidur membayangkan indahnya pertemuan dengan ibu dan adikku nanti. Mukena untuk
ibu sudah aku
kemas, begitupun pakaian untuk Adikku. Baju sudah rapi,
sepatu sudah ku pakai. Aku siap berangkat.
Aku buka pintu
rumah, aku tak percaya dengan apa yang aku liat. Masih dengan wajah kaget aku melihat Bu Rahma pemilik kontrakan sudah berada didepanku.
Sudah hampir tiga bulan aku menunggak. Aku tahu, kedatangan Bu Rahma pasti
ingin menagih tunggakan kontrakanku.
Uangku? Uangku memang cukup untuk
bayar tunggakan itu, namun uang itu untuk ongkos mudik aku ke desa.
“Ibu, sudah beri
kamu waktu yang cukup lama, tapi kamu malah diam saja, tidak ada usaha untuk
membayar kontrakanmu yang sudah 3 bulan nunggak, sekarang Ibu mau minta kamu bayar
hari ini juga...” kata Bu Rahmi dengan nada marah.
“Maaf Bu, bukannya aku tidak usaha,
namun aku minta kebijakan Ibu, sesudah hari raya pasti aku lunasi Bu, sekarang aku harus
ketemu Ibuku di desa, sudah lima
tahun aku tidak bertemu Ibu dan Adikku....” jawabku memelas berharap hati Bu Rahma bisa luluh. Tapi ternyata semua
nihil, Bu Rahma malah terus merampas uang yang ada dalam saku kemejaku. Uang
yang akan aku gunakan untuk ongkos bertemu Ibu.
Hatiku hancur
ketika aku tahu Bu Rahma pergi dengan membawa uang itu, ingin aku menangis, ingin aku
berteriak. Uang yang mungkin sebagian orang hanya cukup untuk membeli pulsa atau cukup untuk makan
di mall tapi buatku uang itu sangat berharga.
Sekitar setengah
jam aku hanya bisa terdiam. Air mata tak bisa aku bendung lagi. Yang terbayang
wajah Ibuku dan air matanya kalau
aku tak jadi pulang.
Akupun berniat
untuk meminjam uang pada Pak RT, aku yakin beliau pasti memberiku pinjaman.
Akupun pergi ke rumahnya yang tak jauh dari kontrakanku. Sesampai
didepan rumahnya aku melihat rumahnya sepi. Apa mungkin Pak RT juga sudah pergi
mudik.
“Assalamualaikum
Pak RT...”
aku setengah berteriak memanggil Pak RT. Satu, dua, sampai tiga kali aku memanggil, tak
ada yang keluar. Hanya ada tetangga Pak RT yang keluar.
“Pak RT sudah
mudik kemarin Nak, memangnya kamu ada perlu sama Pak RT yah, bukannya kamu mau
mudik hari ini...?” tanya tetangga Pak RT.
Semakin sakit
hati ini, sampai aku tak bisa menjawab pertanyaan Ibu itu. Aku langsung pergi
dengan hati yang sangat miris.
Robb, aku tahu,
tidak setiap keinginan itu akan menjadi kenyataan, tidak setiap usaha ini akan
menghasilkan sesuatu yang diharapkan, namun Robb, aku percaya dan aku yakin, Engkau
mengetahui keinginan hatiku saat ini. Tolong Robb, aku ingin mudik lebaran
tahun ini. Tidak ada yang tidak mungkin jika Engkau sudah berkehendak dan aku
sangat yakini itu. Tolong aku…Kata-kata itu yang berdesir di hati saat aku
sudah merasa tak bisa melakukan apa-apa.
Akhirnya aku
putuskan untuk kembali ke kontrakanku. Aku lihat waktu sudah menunjukkan pukul
11 siang. Ibu pasti menungguku, masih menungguku. Tapi sudahlah, aku coba untuk
ikhlas.
Diperjalanan
pulang ke kontrakan, aku dikejutkan oleh bunyi klakson mobil. Aku terdiam. Mata
masih sembab karena air mata yang terus mengalir, aku melihat sosok orang yang
aku kenal keluar dari mobil. Ratna…itukah Ratna???
“Hai…Ahmad, kamu
Ahmad kan...?”
tanya dia.
“Iya…kamu Ratna?
Ratna teman kecilku...???” tanyaku.
“Iya, kamu apa
kabar? Lama
tidak jumpa yah, kamu disini sekarang? Sejak kapan?” pertanyaan Ratna langsung
memborbardir kesunyian hatiku saat itu.
“Iya na, aku
udah lima tahun disini.”jawabku
“Kerja? lha,
sekarang mau kemana” tanyanya lagi
Aku ceritakan
semuanya pada Ratna. Sekarang Ratna sudah sukses di Jakarta. Dia bekerja disebuah
perusahaan dengan gaji yang besar. Ratna terlihat sangat sedih dengan kondisiku
saat ini.
“Sudah Mad,
sekarang aku antar kamu ke kontrakan untuk mengambil barang-barang untuk Ibumu
dan Adikmu,
lalu kita mudik bareng, aku juga sekalian mau mudik, nanti aku antar kamu
langsung ke rumahmu...” kata Ratna.
Aku tak bisa
berkata-kata lagi. Doaku terkabul. Siapa sangka, tadinya aku akan naik bis
ekonomi tanpa AC pulang ke desa, kini aku akan naik mobil mewah dengan AC yang
dingin. Bukan itu saja, Ratna menawarkan aku untuk be kerja diperusahaan
tempat dia bekerja dengan gaji yang jauh lebih besar dari pekerjaanku sekarang, walaupun hanya sebagai OB. Tapi tidak apa...itu
sudah rejeki yang tiada tara buatku.
Akupun jadi
mudik lebaran tahun ini…
Terima kasih
Robb, Engkau memberikan rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Andaikan waktu itu tidak datang Bu Rahma
menangih uang kontrakan, mungkin aku tidak akan bertemu Ratna. Andaikan waktu
itu Pak RT ada di rumah, mungkin akupun tidak akan mudik dengan mobil mewah
ini.
Itu hanya
perandaian, yang pasti semua sudah diatur oleh-NYA. Semua sudah menjadi
ketetapan-NYA. Terima kasih Robb, aku bahagia…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar