25 Apr 2017

Sabar Kuncinya

Sore itu...udara memang agak tidak bersahabat. Langit mendung, seperti mau turun hujan. Akupun berjalan cepat karena takut terjebak hujan di jalan sebelum aku sampai rumah. Namun…langit seolah tak sabar menurunkun butiran-butiran airnya untuk membasahi tanah. Akupun bergegas mencari tempat berteduh dan akhirnya kutemukan sebuah gardu kecil ditempat itu.

Masih dalam keadaan basah kuyup dengan sedikit omelan dalam hati, kenapa hujan harus turun sore-sore begini, kenapa gak tadi siang aja ketika aku masih di tempat kerja, kenapa harus sekarang. Kenapa??? Pertanyaan yang tak seharusnya aku tanyakan karena sesungguhnya hujan itu berkah dari Sang Maha Kuasa. Bersyukurlah…

Tanpa aku sadari di gardu kecil itupun terlihat seorang Ibu sedang menggendong anaknya dengan membawa sebuah tas berukuran lumayan besar, mungkin berisi pakaian atau apalah…Aku berkata dalam hati…apa Ibu itu kabur dari rumahnya, atau dia sedang mencari alamat. Entahlah…


Aku menoleh kearahnya, si Ibu memberi senyuman kecil, senyuman dengan sedikit paksaan. Aku mencoba memberanikan diri menyapanya.

“Ibu dari mana?” tanyaku. Tanpa sepatah katapun Ibu itu menjawabnya.

Aku berfikir, apa ada yang salah dengan pertanyaanku? Tapi…itu pertanyaan standar yang biasa orang tanyakan ketika pertama kali bertemu. Ya sudahlah…mungkin si Ibu lagi malas menjawab.

Satu jam berlalu, hujan tak juga berhenti, malah kulihat semakin deras. Tak ada satupun obrolan antara aku dengan si Ibu. Hanya kudengar pertanyaan anaknya.

“Bu...kita mau kemana?” Si Ibu menjawab “entahlah nak…”. Miris aku mendengarnya.

Semakin aku yakini, si Ibu sedang mempunyai masalah. Kuberanikan diri kembali bertanya, berharap kali ini pertanyaanku mendapat jawaban darinya.

“Apa Ibu sedang mencari alamat rumah seseorang,? Apa bisa saya bantu?” tanyaku.

Lagi-lagi si Ibu tak memberi jawaban, namun saat itu dia menatapku tajam, seolah ingin mengutarakan sesuatu. Pelan-pelan ada butiran air mata jatuh di pipinya, semakin lama semakin tak tertahan.

Ku tanya lagi, ”Ibu kenapa?”

Akhirnya dengan nada terbata-bata si ibupun bercerita. Ternyata si Ibu diusir dari rumah oleh suaminya.  Sang suami tergoda perempuan lain dan berniat untuk menceraikan si Ibu. Setelah pernikahannya begitu lama, dengan rasa cinta, kasih sayang dan ketulusan si Ibu mendampingi suaminya, menerima suaminya apa adanya, bahkan dalam keadaan terpuruk sekalipun si Ibu masih memberikan kesetiaan. Tapi ketika Tuhan memberi cobaan berupa kekayaan melimpah  suaminya malah berpaling ke lain hati dan si ibu hanya diberi luka di hati.

Si Ibu masih bersama dengan isak tangis yang begitu mendalam. Tapi jujur akupun tak bisa membantu banyak, hanya dengan menjadi pendengar yang baik dan sedikit saran yang aku harap bisa memberikan semangat hidup untuk si Ibu saat itu.

Kita hanya bisa bersabar, ikhlas, dan berpasrah diri. Hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini. Aku tahu beban si Ibu sangatlah berat namun aku yakin setiap permasalahan pasti ada jalan keluar. Memang terkadang kenyataan tak seindah mimpi, terkadang kenyataan penuh keterkejutan. Terkadang kenyataan sangatlah pahit.  Namun, yakinlah Tuhan senantiasa akan selalu bersama orang-orang yang sabar.

Tanpa aku sadari hujan disore hari itu pun sudah reda, saatnya aku harus pulang ke rumah karena orang-orang tercinta pasti sudah menungguku disana. Tapi, bagaimana dengan si Ibu???

Belum aku bertanya, si Ibu seolah sudah mengerti dengan apa yang ku khawatirkan. Si ibu bergegas pamit untuk pergi dari gardu kecil itu.

Aku sempat bertanya, ”Ibu mau kemana?”

Si ibu menjawab, ”Tuhan pasti membimbing Ibu...” hanya itu jawabannya.

Akhirnya si Ibu pun pergi. Namun aku masih terpaku di tempat itu dengan mata yang tak bisa terlepas melihat sesosok tubuh yang sedang berjalan lunglai dengan seorang anak kecil dalam gendongannya sampai sosok itu menghilang dari pandangan mataku. Doa terlantun dalam kalbuku. Robb…Semoga Ibu yang luar biasa  itu mendapatkan kebahagiaan didepan sana. Aamiin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar