Sore
itu...udara memang agak tidak bersahabat. Langit mendung, seperti mau turun
hujan. Akupun berjalan cepat karena takut
terjebak hujan di jalan
sebelum aku sampai rumah. Namun…langit seolah tak sabar menurunkun
butiran-butiran airnya untuk membasahi tanah. Akupun bergegas mencari tempat
berteduh dan akhirnya kutemukan sebuah gardu
kecil ditempat itu.
Masih
dalam keadaan basah kuyup dengan sedikit omelan dalam hati, kenapa hujan harus
turun sore-sore begini, kenapa gak
tadi siang aja ketika aku masih di tempat
kerja, kenapa harus sekarang. Kenapa??? Pertanyaan yang tak seharusnya aku tanyakan
karena sesungguhnya hujan itu berkah dari Sang Maha Kuasa. Bersyukurlah…
Tanpa aku sadari di gardu kecil itupun
terlihat seorang Ibu
sedang
menggendong anaknya dengan
membawa sebuah tas berukuran lumayan besar, mungkin berisi pakaian atau
apalah…Aku berkata dalam hati…apa
Ibu itu
kabur dari rumahnya,
atau dia sedang mencari alamat. Entahlah…
Aku
menoleh kearahnya, si Ibu memberi senyuman kecil, senyuman dengan sedikit
paksaan. Aku mencoba memberanikan diri menyapanya.
“Ibu
dari mana?” tanyaku.
Tanpa sepatah katapun Ibu itu menjawabnya.
Aku
berfikir, apa ada yang salah dengan
pertanyaanku? Tapi…itu
pertanyaan standar yang biasa orang tanyakan ketika pertama kali bertemu. Ya sudahlah…mungkin si Ibu lagi
malas menjawab.
Satu
jam berlalu, hujan tak juga berhenti, malah kulihat semakin deras. Tak ada
satupun obrolan antara aku dengan si Ibu. Hanya kudengar pertanyaan anaknya.
“Bu...kita mau kemana?” Si Ibu menjawab “entahlah nak…”. Miris aku
mendengarnya.
Semakin
aku yakini, si Ibu sedang mempunyai masalah. Kuberanikan
diri kembali bertanya, berharap kali ini pertanyaanku mendapat jawaban darinya.
“Apa
Ibu sedang mencari alamat rumah seseorang,? Apa
bisa saya bantu?”
tanyaku.
Lagi-lagi
si Ibu tak memberi jawaban, namun saat itu dia menatapku tajam, seolah ingin
mengutarakan sesuatu. Pelan-pelan ada butiran air mata jatuh di pipinya, semakin lama semakin
tak tertahan.
Ku
tanya lagi, ”Ibu kenapa?”
Akhirnya dengan nada terbata-bata si ibupun
bercerita. Ternyata
si Ibu diusir dari rumah oleh
suaminya. Sang suami tergoda perempuan
lain dan berniat untuk menceraikan si Ibu. Setelah pernikahannya begitu lama,
dengan rasa cinta, kasih sayang dan ketulusan si Ibu mendampingi suaminya,
menerima suaminya apa adanya, bahkan dalam keadaan terpuruk sekalipun si Ibu
masih memberikan kesetiaan. Tapi ketika Tuhan memberi cobaan berupa
kekayaan melimpah suaminya malah berpaling
ke lain hati dan si ibu hanya diberi luka di hati.
Si Ibu masih bersama dengan isak tangis yang begitu mendalam. Tapi jujur akupun tak bisa membantu banyak,
hanya dengan menjadi pendengar yang baik dan sedikit saran yang aku harap bisa
memberikan semangat hidup untuk si Ibu
saat itu.
Kita hanya bisa bersabar, ikhlas, dan berpasrah diri. Hanya itu yang bisa kita lakukan saat
ini. Aku tahu beban si Ibu sangatlah berat namun aku yakin setiap permasalahan
pasti ada jalan keluar. Memang terkadang kenyataan tak seindah mimpi, terkadang
kenyataan penuh keterkejutan. Terkadang kenyataan sangatlah pahit. Namun, yakinlah Tuhan senantiasa akan
selalu bersama orang-orang yang sabar.
Tanpa
aku sadari hujan disore hari itu pun sudah reda, saatnya aku harus pulang ke
rumah karena orang-orang tercinta pasti sudah menungguku disana. Tapi,
bagaimana dengan si Ibu???
Belum
aku bertanya, si Ibu seolah sudah mengerti dengan apa yang ku khawatirkan. Si
ibu bergegas pamit untuk pergi dari gardu kecil itu.
Aku
sempat bertanya, ”Ibu
mau kemana?”
Si
ibu menjawab, ”Tuhan pasti membimbing Ibu...” hanya itu jawabannya.
Akhirnya
si Ibu pun pergi. Namun aku masih terpaku di tempat itu dengan mata yang tak
bisa terlepas melihat sesosok tubuh yang sedang
berjalan lunglai dengan seorang anak kecil dalam gendongannya sampai sosok itu menghilang dari
pandangan mataku. Doa terlantun dalam kalbuku. Robb…Semoga Ibu yang luar biasa itu mendapatkan kebahagiaan didepan sana. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar