Aku sudah bertahun-tahun menjalin
hubungan dengan Mas Teguh. Aku memang tak menyalahkan siapapun dalam masalahku.
Semua terjadi karena memang sudah jalan Tuhan. Aku harus melepaskan cintaku
demi sebuah cinta yang lain.
Mas Teguh adalah temanku sejak
kita duduk di bangku kuliah. Dia adalah orang yang selalu ada disaat aku
membutuhkan pertolongan. Mas Teguh memang satu angkatan denganku, tapi usia dia
tiga tahun diatas aku. Setelah lulus SMA, dia memilih bekerja dulu selama dua
tahun, katanya untuk membiayai kuliahnya.
Aku tahu hidup Mas Teguh seperti
apa. Tingkat perekonomian keluarganya bisa dibilang sangat minim. Saat itu pun
dia kuliah sambil bekerja disebuah bengkel milik teman Ayahnya. Tapi melihat
perjuangan hidupnya yang keras, aku merasa Mas Teguh ini adalah orang yang
kuat. Mungkin itu yang membuat aku jatuh cinta padanya.
***
Aku adalah anak bungsu dari dua
bersaudara. Kakakku perempuan. Dia sudah menikah dan mempunyai anak. Kakakku
menikah dengan Mas Angga, seorang pengusaha muda yang sukses. Jadi, bisa
dibilang hidup Kakakku sudah sejahtera. Tapi itu beberapa tahun yang lalu
sebelum perusahaan Mas Angga mengalami kebangkrutan.
Orangtuaku sudah lama meninggal.
Sejak Ayah dan Ibuku pergi, aku tinggal bersama Kakakku. Mas Anggalah yang
membiayai semua keperluan hidupku termasuk biaya kuliahku. Aku memang sangat
berhutang budi padanya. Mas Angga benar-benar seperti pengganti orangtua bagiku.
Setelah Mas Angga mengalami
kebangkrutan, akupun memilih untuk berhenti kuliah. Aku memilih untuk bekerja
saja disebuah laundry tak jauh dari tempat tinggalku. Aku terpaksa melakukan
ini semua karena memang keadaan yang memaksaku seperti itu.
***
Suatu hari Mas Angga dan Kakakku
mengajakku berbicara hal yang sangat penting. Inti dari pembicaraan kita adalah
masalah perjodohan. Mas Angga berniat menjodohkan aku dengan temannya yang
berprofesi seperti dia dulu, pengusaha yang terbilang sukses.
Teman Mas Angga ini adalah
seorang duda dengan satu orang anak. Anaknya sudah duduk di bangku SMP, jadi
dipastikan teman Mas Angga ini usianya terpaut jauh sekali dengan usiaku.
Kata orang wajahku cantik,
tubuhku langsing, kulitku putih. Banyak yang menyarankan aku untuk jadi seorang
model saja daripada hidup susah, tapi aku tak mau. Dengan kecantikanku itu, Mas
Angga yakin, teman dia pasti menyukaiku.
Aku sempat menolak, karena aku
sudah mempunyai Mas Teguh yang begitu menyayangiku. Mana mungkin aku menerima
laki-laki lain sementara aku mencintai Mas Teguh dari dulu. Walaupun memang Mas
Teguh orang yang sangat sederhana.
Mas Angga dan Kakakku terus
memaksaku. Paksaan itu muncul karena Mas Angga membutuhkan suntikan dana dari
temannya itu. Mungkin jika aku menikah dengannya, Mas Angga bisa lebih mudah
meminta dana untuk perusahaannya. Aku merasa seperti dijual oleh Kakakku
sendiri.
***
Waktupun berlalu, hari ini Mas
Angga bermaksud untuk mengenalkan aku dengan temannya. Aku harus dandan cantik
katanya. Kalau aku tidak mengingat kebaikan Mas Angga selama ini, aku pasti
tidak akan mau melakukan ini semua. Tapi Kakakku selalu memperjelas kebaikan
Mas Angga selama ini. Aku jadi merasa tidak enak hati.
Akhirnya akupun berkenalan dengan
temannya Mas Angga disebuah restoran. Yusuf nama laki-laki itu. Perawakannya
memang tidak seperti bapak-bapak walaupun usianya terpaut jauh denganku. Mas
Yusuf terlihat lebih muda dari usianya.
Setelah berkenalan, aku cukup
terkesan dengan kebaikannya. Mas Yusuf menceritakan tentang anak dan almarhumah
istrinya. Dia juga menanyakan kenapa aku berhenti kuliah dan sekarang memilih
bekerja. Akupun menceritakan kehidupanku pada dia. Mas Yusuf menginginkan aku
untuk berkenalan dengan Shifa anaknya. Akupun berjanji suatu saat nanti akan
bertemu dengan anaknya.
Sejak pertemuan itu, Mas Angga
semakin mendesakku untuk terus dekat dengan Mas Yusuf. Aku sebenarnya sangat
keberatan mengingat aku sudah punya pacar, Mas Teguh. Tapi Kakakku selalu
bilang hidupku akan sengsara kalau aku menikah dengan Mas Teguh.
***
Suatu hari, aku ditelepon Mas
Yusuf. Dia mengabarkan kalau anaknya ingin sekali bertemu dengan aku. Lagi-lagi
desakan Mas Angga yang membuat aku harus menerima ajakan Mas Yusuf.
Hari itu, Mas Yusuf akan
menjemputku untuk berkunjung ke rumahnya. Dia akan mengenalkan Shifa padaku.
Sesungguhnya aku ragu dengan semua ini. Jangan-jangan Shifa akan mengusirku
atau memarahiku karena aku dekat dengan Ayahnya.
Ternyata anggapanku salah, Shifa
adalah anak yang manis. Dia sangat baik sekali. Dia sepertinya sangat
menyukaiku dan aku pun sangat menyukai Shifa. Seharian aku dan Shifa
menghabiskan waktu bersama. Akupun merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku
rasakan sebelumnya.
Semakin hari aku malah semakin
dekat dengan Shifa. Dia selalu mengunjungiku di rumah kalau lagi libur. Mas
Angga dan Kakakku semakin senang dengan keadaan ini. Mereka terus menerus mendesakku
supaya aku lebih dekat lagi dengan keluarga Mas Yusuf.
***
Suatu hari, aku berniat akan
menceritakan ini semua pada Mas Teguh. Aku takut Mas Teguh salah faham
denganku. Aku yakin Mas Teguh akan mengerti dengan psosisiku.
Setelah aku ceritakan pada dia,
aku kira Mas Teguh akan mengerti dengan situasi ini, tapi ternyata aku salah.
Mas Teguh malah marah besar padaku. Dia menganggap aku setuju dengan perjodohan
ini.
Dari hari ke hari sikap Mas Teguh
padaku semakin kasar. Dia bahkan pernah mengajakku kawin lari. Kalau aku
menolak, dia mengancamku kalau dia akan melakukan hal-hal bodoh yang aku
sendiri tak mengerti apa maksudnya. Aku semakin takut dengan Mas Teguh. Hampir setiap
hari dia meneleponku hanya untuk mengancam dan memarahiku, sementara aku juga
terus menerus didesak Kakakku untuk terus mendekati Mas Yusuf.
***
Sudah sekitar empat bulan aku mengenal
Mas Yusuf. Waktu empat bulan buatku belum cukup rasanya untuk mengenal lebih
dalam pribadi Mas Yusuf. Tapi buat dia, waktu empat bulan sudah cukup untuk
mengenalku dan mengetahui sifatku. Hingga suatu hari Mas Yusuf datang bersama
Shifa dengan maksud untuk melamarku.
Mas Angga dan Kakakku sangat
senang sekali, memang itu yang diharapkan mereka. Sementara aku, aku tak tahu
apa yang kurasakan. Mengingat aku masih bersama Mas Teguh yang memang sekarang
sudah membuatku sedikit ilfil karena kekasarannya.
Kedatangan Mas Yusuf diterima
baik oleh Kakakku dan Mas Angga. Tanpa harus mendengar persetujuanku, mereka
menerima pinangan dari Mas Yusuf. Aku seperti boneka yang tak bisa berbuat
apa-apa. Aku seperti dijual dan setiap orang yang sanggup membeli akan bisa
memilikiku.
***
Siang itu, aku berniat menemui
Mas Teguh di kampusnya. Aku akan membicarakan masalah ini. Aku sudah pasrah
jika pada akhirnya Mas Teguh akan marah atau bahkan akan membunuhku sekalipun.
Aku sudah meneleponnya dan
janjian di kantin kampus. Mas Teguh sudah ada didepanku dengan raut muka yang
menakutkan. Aku tidak mau panjang lebar, aku ceritakan semuanya kalau aku sudah
dipinang oleh Mas Yusuf dan satu bulan kedepan akan menikah.
Mas Teguh seperti orang
kesetanan, dia teriak-teriak mengancamku. Sampai-sampai Kami jadi tontonan banyak
orang, aku sangat malu sekali. Aku heran dengan sikap Mas Teguh sekarang,
berbeda sekali dengan yang dulu. Mas Teguh dulu sangat lembut, ramah, sopan dan
baik. Tapi sekarang dia berubah menjadi sosok yang menakutkan.
Akupun langsung pergi dari tempat
itu. Aku sempat melihat Mas Teguh sedang ditenangkan oleh orang-orang disana.
Aku takut kalau masalah ini malah jadi panjang.
***
Akhirnya hari yang
ditunggu-tunggu oleh Mas Angga dan Kakakkupun terjadi. Hari ini aku akan
menikah dengan Mas Yusuf. Pernikahan yang aku sendiri tak yakin akan berjalan
lama, mengingat perasaanku masih dalam dengan laki-laki lain.
Sekarang aku sudah resmi menjadi
Ibu Yusuf. Aku tinggal di rumah yang besar. Setiap hari aku selalu dimanjakan
dengan fasilitas mewah. Mas Yusuf tidak mengekangku dalam hal apapun. Malah dia
menawariku untuk melanjutkan kuliahku yang sempat terputus.
Suatu hari, aku diajak ngobrol
oleh Mas Yusuf. Isi pembicaraannya mengenai suntikan dana untuk Mas Angga.
“Nita...tadi Angga menelepon
Mas...” kata dia. Aku sudah menebak apa isi pembicaraan mereka sebenarnya. Tapi
aku membiarkan Mas Yusuf meneruskan obrolannya.
“Angga minta tolong supaya Mas
memberikan pinjaman dana untuk perusahaannya...menurut kamu gimana...?” kata
Mas Yusuf.
“Sejujurnya aku malu Mas dengan
ini semua, aku seperti dijual sama Mas...” kataku.
“Kenapa kamu bicara seperti
itu...?” tanyanya.
“Mas Angga minta suntikan dana
karena aku sudah jadi istrinya Mas Yusuf...” kataku.
Mas Yusuf malah tertawa mendengar
ucapanku. Aku sempat bingung kenapa Mas Yusuf malah tertawa.
“Nit...kalaupun kamu tidak
menjadi istrikupun, aku akan bantu Angga sebisaku...dia adalah sahabatku sejak
dulu...mana mungkin aku tega melihat sahabatku susah...” katanya.
Aku seperti mendapatkan sinar
terang ditengah kegelapan. Kata-kata suamiku sungguh membuatku tenang.
***
Mas Yusuf pun memberikan dana
kepada Mas Angga hingga perusahaan Mas Angga lambat laun kembali pulih walaupun
belum seperti dulu. Semua butuh proses. Mas Yusuf seperti dewa penolong buat
Mas Angga.
Dari hari ke hari aku semakin
mengagumi sosok suamiku, begitupun dengan Shifa. Mereka dikirim Tuhan untuk
menemani hari-hariku. Aku sangat bahagia.
Ditengah-tengah kebahagiaan Kami,
memang selalu hadir cobaan yang harus aku jalani. Setelah aku menikah, aku
memang tak tahu kabar Mas Teguh sejak dia mengamuk di kampus tempo hari. Akupun
sudah mulai menghilangkan rasa itu walaupun aku yakin tak akan semudah itu.
***
Suatu hari, aku mendapatkan
telepon dari seseorang. Akupun tak tahu itu siapa karena nomornya tidak aku
kenal. Aku sebenarnya malas mengangkat telepon dari orang asing, tapi kalau
tidak diangkat takutnya malah telepon penting.
Akhirnya aku angkat, ternyata Mas
Teguh yang meneleponku. Aku sempat kaget, karena sekarang aku sudah menikah,
aku tak mungkin menerima telepon dari laki-laki lain apalagi dia mantan pacarku
sendiri.
Mas Teguh lagi-lagi mengancamku.
Dia bilang akan mencelakakkan Shifa anakku. Mendengar hal itu, aku langsung
kaget dan balik memarahi dia. Dia tidak terima dengan kemarahanku yang dianggap
sekarang aku lebih sayang keluargaku daripada dia. Aku tak peduli dengan
anggapan apapun, aku hanya tidak ingin Shifa celaka.
Hampir setiap hari dia
meneleponku. Aku sempat ganti nomor, tapi dia malah meneleponku ke nomor rumah
dan itu akan lebih menbahayakanku.
Aku sudah tidak tahan dengan
kelakuan Mas Teguh. Akhirnya aku berniat ingin menceritakan ini semua pada
suamiku.
***
Malam itu akupun menceritakan
semua yang kualami pada Mas Yusuf. Mas Yusuf menanggapinya dengan santai
sekali. Dia memang seorang yang bijaksana. Aku sungguh beruntung mendapatkan
suami seperti dia. Mas Yusuf bilang, kalau ada telepon lagi biar dia yang
bicara pada Mas Teguh.
Hari itu memang hari yang penuh
ketakutan buatku. Mas Yusuf sengaja tidak pergi ke kantor karena ingin menunggu
telepon dari Mas Teguh. Aku tunggu sampai sore tapi Mas Teguh tak meneleponku,
hingga waktu menunjukkan pukul 19.00 handphoneku
berbunyi, Mas Teguh meneleponku...
Awalnya aku yang jawab, dia
seperti biasa marah-marah. Setelah itu aku berikan handphoneku pada suamiku. Aku melihat suamiku menanggapi kelakuan
Mas Teguh dengan santai tanpa ada kekerasan. Padahal kalau aku jadi dia, aku
pasti akan balik mengancam. Suamiku hanya bilang, kalau Mas Teguh terus-terusan
menganggu aku, bahkan mengancam akan mencelakakan anaknya, dia tidak
segan-segan akan membawa ini semua ke jalur hukum.
Sejak itu, hidupku tenang, aku
tidak pernah diganggu lagi oleh mantan pacarku. Mungkin dia juga takut kalau
sudah berurusan dengan hukum.
***
Semakin hari, aku semakin
mencintai suamiku. Bukan karena kekayaannya, tapi karena kebaikannya yang luar
biasa. Aku memang harus berterimakasih pada Mas Angga yang sudah mengenalkan
aku dengannya.
Kebahagiaanku bertambah ketika
dokter menyatakan Shifa akan punya adik. Aku semakin diperlakukan seperti ratu
di rumah itu. Suamiku dan Shifa sangat senang mendengar kehamilanku.
Jalan hidup seseorang memang
tidak pernah ada yang tahu. Apa yang aku anggap buruk, tidak selamanya hasilnya
buruk, begitupun sebaliknya. Sekarang aku merasa hidupku sempurna, karena aku
mempunyai keluarga yang sangat menyayangiku dan mencintaiku. Akupun sangat
mencintai mereka...
Untuk Mas Teguh...doakupun tak
pernah terputus untuknya, aku berharap dia juga mendapatkan kebahagiaan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar