10 Mei 2017

Cinta untuk Suamiku

Aku sudah bertahun-tahun menjalin hubungan dengan Mas Teguh. Aku memang tak menyalahkan siapapun dalam masalahku. Semua terjadi karena memang sudah jalan Tuhan. Aku harus melepaskan cintaku demi sebuah cinta yang lain.

Mas Teguh adalah temanku sejak kita duduk di bangku kuliah. Dia adalah orang yang selalu ada disaat aku membutuhkan pertolongan. Mas Teguh memang satu angkatan denganku, tapi usia dia tiga tahun diatas aku. Setelah lulus SMA, dia memilih bekerja dulu selama dua tahun, katanya untuk membiayai kuliahnya.

Aku tahu hidup Mas Teguh seperti apa. Tingkat perekonomian keluarganya bisa dibilang sangat minim. Saat itu pun dia kuliah sambil bekerja disebuah bengkel milik teman Ayahnya. Tapi melihat perjuangan hidupnya yang keras, aku merasa Mas Teguh ini adalah orang yang kuat. Mungkin itu yang membuat aku jatuh cinta padanya.

***

Aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Kakakku perempuan. Dia sudah menikah dan mempunyai anak. Kakakku menikah dengan Mas Angga, seorang pengusaha muda yang sukses. Jadi, bisa dibilang hidup Kakakku sudah sejahtera. Tapi itu beberapa tahun yang lalu sebelum perusahaan Mas Angga mengalami kebangkrutan.

Orangtuaku sudah lama meninggal. Sejak Ayah dan Ibuku pergi, aku tinggal bersama Kakakku. Mas Anggalah yang membiayai semua keperluan hidupku termasuk biaya kuliahku. Aku memang sangat berhutang budi padanya. Mas Angga benar-benar seperti pengganti orangtua bagiku.

Setelah Mas Angga mengalami kebangkrutan, akupun memilih untuk berhenti kuliah. Aku memilih untuk bekerja saja disebuah laundry tak jauh dari tempat tinggalku. Aku terpaksa melakukan ini semua karena memang keadaan yang memaksaku seperti itu.

***

Suatu hari Mas Angga dan Kakakku mengajakku berbicara hal yang sangat penting. Inti dari pembicaraan kita adalah masalah perjodohan. Mas Angga berniat menjodohkan aku dengan temannya yang berprofesi seperti dia dulu, pengusaha yang terbilang sukses.

Teman Mas Angga ini adalah seorang duda dengan satu orang anak. Anaknya sudah duduk di bangku SMP, jadi dipastikan teman Mas Angga ini usianya terpaut jauh sekali dengan usiaku.

Kata orang wajahku cantik, tubuhku langsing, kulitku putih. Banyak yang menyarankan aku untuk jadi seorang model saja daripada hidup susah, tapi aku tak mau. Dengan kecantikanku itu, Mas Angga yakin, teman dia pasti menyukaiku.

Aku sempat menolak, karena aku sudah mempunyai Mas Teguh yang begitu menyayangiku. Mana mungkin aku menerima laki-laki lain sementara aku mencintai Mas Teguh dari dulu. Walaupun memang Mas Teguh orang yang sangat sederhana.

Mas Angga dan Kakakku terus memaksaku. Paksaan itu muncul karena Mas Angga membutuhkan suntikan dana dari temannya itu. Mungkin jika aku menikah dengannya, Mas Angga bisa lebih mudah meminta dana untuk perusahaannya. Aku merasa seperti dijual oleh Kakakku sendiri.

***

Waktupun berlalu, hari ini Mas Angga bermaksud untuk mengenalkan aku dengan temannya. Aku harus dandan cantik katanya. Kalau aku tidak mengingat kebaikan Mas Angga selama ini, aku pasti tidak akan mau melakukan ini semua. Tapi Kakakku selalu memperjelas kebaikan Mas Angga selama ini. Aku jadi merasa tidak enak hati.

Akhirnya akupun berkenalan dengan temannya Mas Angga disebuah restoran. Yusuf nama laki-laki itu. Perawakannya memang tidak seperti bapak-bapak walaupun usianya terpaut jauh denganku. Mas Yusuf terlihat lebih muda dari usianya.

Setelah berkenalan, aku cukup terkesan dengan kebaikannya. Mas Yusuf menceritakan tentang anak dan almarhumah istrinya. Dia juga menanyakan kenapa aku berhenti kuliah dan sekarang memilih bekerja. Akupun menceritakan kehidupanku pada dia. Mas Yusuf menginginkan aku untuk berkenalan dengan Shifa anaknya. Akupun berjanji suatu saat nanti akan bertemu dengan anaknya.

Sejak pertemuan itu, Mas Angga semakin mendesakku untuk terus dekat dengan Mas Yusuf. Aku sebenarnya sangat keberatan mengingat aku sudah punya pacar, Mas Teguh. Tapi Kakakku selalu bilang hidupku akan sengsara kalau aku menikah dengan Mas Teguh.

***

Suatu hari, aku ditelepon Mas Yusuf. Dia mengabarkan kalau anaknya ingin sekali bertemu dengan aku. Lagi-lagi desakan Mas Angga yang membuat aku harus menerima ajakan Mas Yusuf.

Hari itu, Mas Yusuf akan menjemputku untuk berkunjung ke rumahnya. Dia akan mengenalkan Shifa padaku. Sesungguhnya aku ragu dengan semua ini. Jangan-jangan Shifa akan mengusirku atau memarahiku karena aku dekat dengan Ayahnya.

Ternyata anggapanku salah, Shifa adalah anak yang manis. Dia sangat baik sekali. Dia sepertinya sangat menyukaiku dan aku pun sangat menyukai Shifa. Seharian aku dan Shifa menghabiskan waktu bersama. Akupun merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

Semakin hari aku malah semakin dekat dengan Shifa. Dia selalu mengunjungiku di rumah kalau lagi libur. Mas Angga dan Kakakku semakin senang dengan keadaan ini. Mereka terus menerus mendesakku supaya aku lebih dekat lagi dengan keluarga Mas Yusuf.

***

Suatu hari, aku berniat akan menceritakan ini semua pada Mas Teguh. Aku takut Mas Teguh salah faham denganku. Aku yakin Mas Teguh akan mengerti dengan psosisiku.

Setelah aku ceritakan pada dia, aku kira Mas Teguh akan mengerti dengan situasi ini, tapi ternyata aku salah. Mas Teguh malah marah besar padaku. Dia menganggap aku setuju dengan perjodohan ini.
Dari hari ke hari sikap Mas Teguh padaku semakin kasar. Dia bahkan pernah mengajakku kawin lari. Kalau aku menolak, dia mengancamku kalau dia akan melakukan hal-hal bodoh yang aku sendiri tak mengerti apa maksudnya. Aku semakin takut dengan Mas Teguh. Hampir setiap hari dia meneleponku hanya untuk mengancam dan memarahiku, sementara aku juga terus menerus didesak Kakakku untuk terus mendekati Mas Yusuf.

***

Sudah sekitar empat bulan aku mengenal Mas Yusuf. Waktu empat bulan buatku belum cukup rasanya untuk mengenal lebih dalam pribadi Mas Yusuf. Tapi buat dia, waktu empat bulan sudah cukup untuk mengenalku dan mengetahui sifatku. Hingga suatu hari Mas Yusuf datang bersama Shifa dengan maksud untuk melamarku.

Mas Angga dan Kakakku sangat senang sekali, memang itu yang diharapkan mereka. Sementara aku, aku tak tahu apa yang kurasakan. Mengingat aku masih bersama Mas Teguh yang memang sekarang sudah membuatku sedikit ilfil karena kekasarannya.

Kedatangan Mas Yusuf diterima baik oleh Kakakku dan Mas Angga. Tanpa harus mendengar persetujuanku, mereka menerima pinangan dari Mas Yusuf. Aku seperti boneka yang tak bisa berbuat apa-apa. Aku seperti dijual dan setiap orang yang sanggup membeli akan bisa memilikiku.

***

Siang itu, aku berniat menemui Mas Teguh di kampusnya. Aku akan membicarakan masalah ini. Aku sudah pasrah jika pada akhirnya Mas Teguh akan marah atau bahkan akan membunuhku sekalipun.

Aku sudah meneleponnya dan janjian di kantin kampus. Mas Teguh sudah ada didepanku dengan raut muka yang menakutkan. Aku tidak mau panjang lebar, aku ceritakan semuanya kalau aku sudah dipinang oleh Mas Yusuf dan satu bulan kedepan akan menikah.

Mas Teguh seperti orang kesetanan, dia teriak-teriak mengancamku. Sampai-sampai Kami jadi tontonan banyak orang, aku sangat malu sekali. Aku heran dengan sikap Mas Teguh sekarang, berbeda sekali dengan yang dulu. Mas Teguh dulu sangat lembut, ramah, sopan dan baik. Tapi sekarang dia berubah menjadi sosok yang menakutkan.

Akupun langsung pergi dari tempat itu. Aku sempat melihat Mas Teguh sedang ditenangkan oleh orang-orang disana. Aku takut kalau masalah ini malah jadi panjang.

***

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh Mas Angga dan Kakakkupun terjadi. Hari ini aku akan menikah dengan Mas Yusuf. Pernikahan yang aku sendiri tak yakin akan berjalan lama, mengingat perasaanku masih dalam dengan laki-laki lain.

Sekarang aku sudah resmi menjadi Ibu Yusuf. Aku tinggal di rumah yang besar. Setiap hari aku selalu dimanjakan dengan fasilitas mewah. Mas Yusuf tidak mengekangku dalam hal apapun. Malah dia menawariku untuk melanjutkan kuliahku yang sempat terputus.

Suatu hari, aku diajak ngobrol oleh Mas Yusuf. Isi pembicaraannya mengenai suntikan dana untuk Mas Angga.

“Nita...tadi Angga menelepon Mas...” kata dia. Aku sudah menebak apa isi pembicaraan mereka sebenarnya. Tapi aku membiarkan Mas Yusuf meneruskan obrolannya.

“Angga minta tolong supaya Mas memberikan pinjaman dana untuk perusahaannya...menurut kamu gimana...?” kata Mas Yusuf.

“Sejujurnya aku malu Mas dengan ini semua, aku seperti dijual sama Mas...” kataku.

“Kenapa kamu bicara seperti itu...?” tanyanya.

“Mas Angga minta suntikan dana karena aku sudah jadi istrinya Mas Yusuf...” kataku.

Mas Yusuf malah tertawa mendengar ucapanku. Aku sempat bingung kenapa Mas Yusuf malah tertawa.

“Nit...kalaupun kamu tidak menjadi istrikupun, aku akan bantu Angga sebisaku...dia adalah sahabatku sejak dulu...mana mungkin aku tega melihat sahabatku susah...” katanya.

Aku seperti mendapatkan sinar terang ditengah kegelapan. Kata-kata suamiku sungguh membuatku tenang.

***

Mas Yusuf pun memberikan dana kepada Mas Angga hingga perusahaan Mas Angga lambat laun kembali pulih walaupun belum seperti dulu. Semua butuh proses. Mas Yusuf seperti dewa penolong buat Mas Angga.

Dari hari ke hari aku semakin mengagumi sosok suamiku, begitupun dengan Shifa. Mereka dikirim Tuhan untuk menemani hari-hariku. Aku sangat bahagia.

Ditengah-tengah kebahagiaan Kami, memang selalu hadir cobaan yang harus aku jalani. Setelah aku menikah, aku memang tak tahu kabar Mas Teguh sejak dia mengamuk di kampus tempo hari. Akupun sudah mulai menghilangkan rasa itu walaupun aku yakin tak akan semudah itu.

***

Suatu hari, aku mendapatkan telepon dari seseorang. Akupun tak tahu itu siapa karena nomornya tidak aku kenal. Aku sebenarnya malas mengangkat telepon dari orang asing, tapi kalau tidak diangkat takutnya malah telepon penting.

Akhirnya aku angkat, ternyata Mas Teguh yang meneleponku. Aku sempat kaget, karena sekarang aku sudah menikah, aku tak mungkin menerima telepon dari laki-laki lain apalagi dia mantan pacarku sendiri.

Mas Teguh lagi-lagi mengancamku. Dia bilang akan mencelakakkan Shifa anakku. Mendengar hal itu, aku langsung kaget dan balik memarahi dia. Dia tidak terima dengan kemarahanku yang dianggap sekarang aku lebih sayang keluargaku daripada dia. Aku tak peduli dengan anggapan apapun, aku hanya tidak ingin Shifa celaka.

Hampir setiap hari dia meneleponku. Aku sempat ganti nomor, tapi dia malah meneleponku ke nomor rumah dan itu akan lebih menbahayakanku.

Aku sudah tidak tahan dengan kelakuan Mas Teguh. Akhirnya aku berniat ingin menceritakan ini semua pada suamiku.

***

Malam itu akupun menceritakan semua yang kualami pada Mas Yusuf. Mas Yusuf menanggapinya dengan santai sekali. Dia memang seorang yang bijaksana. Aku sungguh beruntung mendapatkan suami seperti dia. Mas Yusuf bilang, kalau ada telepon lagi biar dia yang bicara pada Mas Teguh.

Hari itu memang hari yang penuh ketakutan buatku. Mas Yusuf sengaja tidak pergi ke kantor karena ingin menunggu telepon dari Mas Teguh. Aku tunggu sampai sore tapi Mas Teguh tak meneleponku, hingga waktu menunjukkan pukul 19.00 handphoneku berbunyi, Mas Teguh meneleponku...

Awalnya aku yang jawab, dia seperti biasa marah-marah. Setelah itu aku berikan handphoneku pada suamiku. Aku melihat suamiku menanggapi kelakuan Mas Teguh dengan santai tanpa ada kekerasan. Padahal kalau aku jadi dia, aku pasti akan balik mengancam. Suamiku hanya bilang, kalau Mas Teguh terus-terusan menganggu aku, bahkan mengancam akan mencelakakan anaknya, dia tidak segan-segan akan membawa ini semua ke jalur hukum.

Sejak itu, hidupku tenang, aku tidak pernah diganggu lagi oleh mantan pacarku. Mungkin dia juga takut kalau sudah berurusan dengan hukum.

***

Semakin hari, aku semakin mencintai suamiku. Bukan karena kekayaannya, tapi karena kebaikannya yang luar biasa. Aku memang harus berterimakasih pada Mas Angga yang sudah mengenalkan aku dengannya.

Kebahagiaanku bertambah ketika dokter menyatakan Shifa akan punya adik. Aku semakin diperlakukan seperti ratu di rumah itu. Suamiku dan Shifa sangat senang mendengar kehamilanku.
Jalan hidup seseorang memang tidak pernah ada yang tahu. Apa yang aku anggap buruk, tidak selamanya hasilnya buruk, begitupun sebaliknya. Sekarang aku merasa hidupku sempurna, karena aku mempunyai keluarga yang sangat menyayangiku dan mencintaiku. Akupun sangat mencintai mereka...


Untuk Mas Teguh...doakupun tak pernah terputus untuknya, aku berharap dia juga mendapatkan kebahagiaan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar