5 Mei 2017

Pengorbanan Kakak

Hari ini adalah hari pernikahanku. Seharusnya aku bahagia dengan semua ini. Namun yang aku rasakan adalah rasa bersalah yang teramat besar. Bagaimana aku tidak bersalah, aku menikah dengan calon Kakak iparku sendiri.

Kak Agil adalah laki-laki yang sangat aku kagumi. Aku tidak menyangka rasa kagumku ini malah membuatku jatuh cinta padanya. Aku sampai lupa diri, hilang rasa malu untuk memperjuangkan rasa cintaku hingga akhirnya ku rebut Kak Agil dari sisi kakakku sendiri, Kak Mia.

Usiaku dengan Kak Mia memang tidak terlalu jauh. Hanya terpaut dua tahun. Ibuku dulu memang menikah diusia sangat dewasa, jadi sengaja tidak melakukan program keluarga berencana. Kami makin kompak, apalagi ketika masuk kuliah, Kakakku yang mengganggur dulu selama dua tahun, akhirnya memutuskan untuk masuk kuliah bareng-bareng denganku.

Kami masuk di Universitas yang sama, walaupun berbeda jurusan. Aku mengambil jurusan arsitektur, sedangkan Kakakku lebih tertarik dibidang design grafis. Walaupun berbeda jurusan, Kami tetap selalu bersama. Aku mengenal kawan-kawan Kakakku, begitupun dengan Kakakku.

***
Suatu hari, selepas kuliah, aku diajak Kakakku makan di kantin kampus. Ternyata saat itu Kakakku ingin mengenalkan Kak Agil, seorang asisiten dosen di kampusku. Akhirnya aku berkenalan dengannya. Ternyata Kak Agil adalah pacar Kakakku. Baru seminggu ini mereka berpacaran. Rencananya Kakak ingin mengajak Kak Agil ke rumah dan akan dikenalkan pada orangtua Kami.

Akupun berkenalan dengannya. Kesan pertama aku sudah mengagumi Kak Agil. Selain ganteng, Kak Agil adalah sosok yang santun dan ramah. Belum lagi dari segi perekonomian, Kak Agil berasal dari keluarga berada dan anak semata wayang. Bukan itu saja, Kak Agil juga direkomendasikan oleh kampus untuk sekolah di luar negeri. Sungguh sangat beruntung sekali Kakakku.

Terbersit rasa iri di hatiku, kenapa Kakakku bisa seberuntung itu. Mendapatkan sosok laki-laki yang mungkin saja diperebutkan oleh semua wanita. Padahal dari segi fisik, aku jauh lebih cantik dari dia. Dari segi akademikpun, aku jauh lebih cerdas. Tapi kenapa Kakakku malah yang lebih beruntung.

Aku bertambah iri ketika orangtuapun mendukung 100% hubungan Kakakku dengan Kak Agil. Begitupun dengan keluarga Kak Agil yang sangat menyayangi Kakakku. Terbukti hampir setiap minggu Kakakku selalu diajak Ibu Kak Agil jalan-jalan.

Aku pernah ikut beberapa kali kalau Kakakku jalan dengan calon mertuanya. Aku melihat Ibu Kak Agil sangat setuju dengan hubungan mereka. Lagi-lagi sungguh Kakakku sangat beruntung.

Semakin hari rasa iriku semakin bertambah besar. Hubungan aku dengan Kakakku pun tidak sedekat dulu. Kakakku sering bertanya ada apa denganku. Tapi aku selalu menjawab kalau aku sedang sibuk dengan tugas kuliah.

Hampir setiap weekend Kak Agil selalu menemui Kakakku. Kadang mereka jalan-jalan keluar, kadang mereka juga hanya ngobrol-ngobrol di rumah. Setiap aku bertemu dengan Kak Agil, kadang aku lupa diri kalau dia adalah calon Kakak iparku.

Setiap aku ngobrol dengan kak Agil, yang terbersit dipikiranku adalah aku ingin sekali memilikinya. Memiliki laki-laki yang akan menjadi calon Kakak iparku karena aku merasa aku yang lebih pantas mendampingi laki-laki itu.

***

Suatu hari, aku mendapatkan kabar yang sangat buruk. Kak Agil bertemu dengan orangtuaku dengan maksud ingin melamar Kakakku. Kak Agil ingin bertunangan dengan Kakak yang kemudian akan menikahi Kakakku setelah lulus kuliah nanti. Sekitar satu tahunan lagi. Jelas saja keluarga Kami sangat setuju dengan keinginan Kak Agil.

Akhirnya hari yang tidak aku harapkan itupun terjadi. Kak Agil datang bersama keluarganya untuk melamar Kakakku. Sungguh ini tidak adil sekali untukku. Kenapa wajah secantik aku malah tidak dipilih oleh laki-laki seperti Kak Agil. Apa karena Kakakku lebih dewasa dariku sehingga Kak Agil lebih memilihnya...???

Entah apa yang ada dipikiranku. Setelah pertunangan itu, aku semakin ingin menghancurkan hubungan mereka. Aku semakin berani memperlihatkan ketidaksukaan aku dengan hubungan Kakakku dengan Kak Agil didepan mereka. Aku sering mengajak Kak Agil ngobrol berdua kalau dia sedang di rumah dan menyuruh Kakak untuk mengerjakan pekerjaan lain.

Aku pernah ditegur oleh orangtuaku beberapa kali dengan sikapku itu. Tapi aku tak peduli. Waktu setahun akan cukup membuat hubungan mereka hancur. Dan aku akan menggantikan posisi Kakakku untuk menikah dengan Kak Agil.

Semakin hari usaha untuk memisahkan Kakakku dengan Kak Agil semakin gencar aku lakukan. Secara tersembunyi ataupun terang-terangan. Hingga pada akhirnya aku katakan perasaanku pada orangtuaku. Sontak saja mereka sangat marah besar padaku hingga akhirnya aku memutuskan untuk ngekost dan pergi dari rumah.

Berkali-kali Kakakku dan Kak Agil menemuiku di kostanku tapi berkali-kali juga aku malas melihat wajah Kakakku. Aku juga melihat berkali-kali Kakakku menangis. Tapi aku tak peduli karena tetap saja sebanyak apapun air mata yang jatuh, dia tidak akan rela melepas Kak Agil untukku.

***

Suatu hari, disaat pikiranku sedang kalut, aku berniat ingin berjalan-jalan ke sebuah mall tak jauh dari tempat kostanku. Mungkin dengan cuci mata, aku bisa merefresh otakku yang sedang tak karuan. Sedang asyik-asyiknya aku berjalan-jalan sendiri, aku bertemu dengan Mas Candra. Aku lihat dia sendirian. Akhirnya aku sapa dia.

“Mas Candra...???” tanyaku. Diapun menoleh.

“Winda ya? Hey, apa kabar?” tanyanya.

“Baik Mas, Mas sendiri? Sendirian nih?” tanyaku.

“Iya nih, sama siapa lagi...?” jawabnya sambil tertawa lebar.

Dalam pikiranku terbersit, mungkin Mas Candra belum menikah. Kesempatan nih untuk menyatukan kembali hubungan asramanya dengan Kakakku.

Mas Candra adalah mantan pacar Kakakku sewaktu di SMA dulu. Mereka putus karena Mas Candra kuliah di luar kota dan Kakakku tak yakin hubungan mereka bisa bertahan karena jarak jauh. Akhirnya merekapun putus walaupun ku tahu Mas Candra masih sangat mencintai Kakakku.

Saat ini Mas Candra sudah bekerja dan kembali ke kota ini. Dan yang lebih menguntungkan lagi Mas Candra belum menikah dan belum juga mempunyai calon istri.

Kamipun ngobrol panjang lebar hingga akhirnya menyinggung hubungan Kakakku dengan Kak Agil dan kekecewaan aku pada hubungan mereka. Mas Candra awalnya tidak setuju dengan ideku untuk menyatukan kembali Mas Candra dengan Kakakku. Tapi setelah aku desak, akhirnya Mas Candra bersedia membantuku.

***

Pada malam itu, aku menyuruh Mas Candra untuk datang ke rumah disaat kak Agil sedang disana. Aku berniat untuk mempertemukan Kak Agil dengan Mas Candra dan akan ku kenalkan mereka. Aku akan bilang kalau Mas Candra ini mantan pacar Kakakku.

Mas Candrapun datang tepat waktu. Tepat disaat kakakku sedang mengobrol asyik dengan tunangannya.

Aku menyuruh Mas Candra masuk dan aku langsung mengenalkan dia pada Kak Agil. Kakakku sempat kaget kenapa tiba-tiba Mas Candra ada disini. Tapi aku langsung berkata kalau Mas Candra sengaja datang kesini karena merasa kangen dengan Kakakku. Seketika itu wajah Kak Agil berubah menjadi terlihat kecewa. Tapi aku melihat Kakakku menenangkannya. Hingga akhirnya Kak Agil memutuskan untuk pulang. Langkah awal yang cukup menyenangkan fikirku.

Aku selalu meminta Mas Candra untuk menjemput Kakakku di Kampus setiap hari. Awalnya Kakakku menolak, namun lama-lama tidak enak juga mungkin menolak terus ajakan Mas Candra, akhirnya Kakakku bersedia juga pulang bareng Mas Candra.

Beberapa kali aku melihat Kak Agil marah dengan sikap Kakakku, tapi Kakakku berusaha menjelaskan semuanya. Tapi buatku kehadiran Mas Candra adalah keberuntungan.

Aku berfikir, mungkin akan berjalan lama jika rencana ini aku lakukan. Belum tentu Kak Agil jadi iffil sama Kakakku. Mungkin saja Kak Agil malah mempercepat rencana pernikahannya. Mungkin aku harus menjalankan rencana paling ekstrim.

Aku harus melakukannya, aku harus bisa merebut Kak Agil dari tangan Kakakku. Harus!!!

***

Suatu hari aku berniat meminta tolong pada Mas Candra untuk menjalankan rencanaku. Aku meminta Mas Candra untuk membelikan obat tidur dengan dosis yang cukup tinggi. Aku akan pancing Kak Agil datang ke kostanku, aku akan buat dia tidur dan aku akan meminta Mas Candra datang membawa Kakakku kesana.

Sore itu aku berniat untuk menjalankan rencanaku. Langkah awal aku akan menelpon Kak Agil untuk datang ke kostan, aku akan berpura-pura sakit keras sementara di kostanku tidak ada yang menolongku karena tidak ada orang. Akhirnya aku telpon dia.

“Kak Agil, ini Winda...” kataku.

“Oya win, ada apa?” jawabnya.

Aku katakan bahwa aku sakit dan butuh pertolongan ke rumah sakit. Mungkin saat itu Kak Agil panik dan tidak kepikiran menghubungi Kakakku. Dia buru-buru datang ke kostanku hanya dalam waktu 10 menit. Melihat aku sedang terbaring, Kak Agil langsung mengajakku ke rumah sakit. Namun aku menolak karena aku hanya berpura-pura.

“Nanti saja Kak ke rumah sakitnya yah...aku masih lemas...” kataku.

“Kamu udah minum obat?” tanya Kak Agil.

“Belum Kak, saya minta tolong belikan aku obat demam ya Kak...”pintaku. Aku berencana ketika Kak Agil pergi, aku akan berikan obat tidur dan segera menghubungi Mas Candra.

Setelah Kak Agil pulang dari membeli obat, aku menyuruh dia untuk minum karena mungkin Kak Agil merasa haus mengingat udara diluar sangat panas. Akhirnya selangkah lagi rencanaku berhasil, Kak Agil meminum air yang aku berikan obat tidur itu sampai habis. Sebenarnya aku tidak tega melihat dia, tapi apa boleh buat. Keinginanku jauh lebih besar daripada rasa kasihanku.

Aku segera menjalankan rencanaku. Aku merekayasa seola-olahh aku sedang “tidur” dengan calon Kakak iparku sendiri. Tidak lebih dari 10 menit, Mas Candra datang dengan Kakakku. Melihat hal itu, Kakakku menjerit histeris, terlihat jelas dia sangat marah. Dia sempat menamparku, tapi aku tak peduli. Tamparan itu aku anggap sebagai hadiah terindah karena aku sebentar lagi akan menikah.
Kakakku langsung berlari, Mas Candra sempat mengejarnya tapi...

Mas Candra berteriak sangat keras dengan menyebut nama Kakakku. Aku penasaran, aku langsung mengenakan pakaianku dan pergi ke jalan. Sementara Kak Agil masih lelap, mungkin karena pengaruh obat tidur dengan dosis tinggi yang kemungkinan akan mulai hilang setelah beberapa jam lagi.

Badanku lemas, tubuhku lunglai...jantungku seolah terhenti ketika aku melihat Kakakku bersimbah darah karena tertabrak sebuah mobil dengan laju sangat cepat. Aku tak percaya ketika Kakakku dibawa beberapa warga menuju rumah sakit. Aku hanya bisa diam, kaku...

Aku melihat Mas Candra sibuk mengantarkan Kakak kesana. Dia berkali-kali teriak menyebut nama Kakakku. Akupun langsung berlari menuju rumah sakit yang tak jauh dari tempat kejadian.

Ya Tuhan...apa yang sudah aku perbuat, kenapa aku bisa setega ini. Kenapa aku bisa sejahat ini pada kakakku sendiri yang selama ini sangat menyayangiku. Ya Tuhan...apa yang sedang merasuk dalam diri ini...

Tangisanku tak ada artinya saat itu. Rasa bersalahku tak akan membangunkan Kakakku. Penyesalanku tak akan merubah penderitaan Kakakku. Hingga akhirnya, dokter menghampiriku dan berkata kalau Kakakku sedang kritis. Apa yang harus aku perbuat saat ini.

Mas Candra berusaha menghubungi orangtuaku. Setelah orangtuaku datang, aku menangis sejadi-jadinya. Aku menyesal, aku jahat...aku bukan seorang manusia. Ibuku sempat marah dan mengusirku dari rumah sakit tapi Ayahku menenangkan Ibuku dan berusaha mencegahku untuk pergi. Semua bisa dibicarakan baik-baik.

Beberapa jam kemudian, aku melihat ada sosok bertubuh sangat lemas datang kesana, Kak Agil. Ya Tuhan...Kak Agil sudah sadar, apa yang harus aku lakukan, aku sudah tidak punya muka lagi didepannya. Kak Agil menghampiriku, tidak banyak kata yang terucap, dia hanya bilang, “Kamu kok tega win...”.

Ucapannya membuat hatiku remuk, membuat tubuhku tak berdaya, membuat aku semakin merasa bersalah...

***

Keesokan harinya, Kami masih berkumpul di rumah sakit, Kakakku belum juga sadar, menurut dokter Kakakku banyak kehilangan darah. Hingga saat itu aku dipanggil dokter...

“Winda...ada yang bernama winda?” tanya dokter.

“Saya dok...” jawabku.

“Anda diminta masuk ruangan...” kata dokter.

Akupun masuk ke ruangan, aku melihat Kakakku masih terbaring lemas dengan banyak selang ditubuhnya...Aku menghampirinya...

“Win...” kata Kakakku.

“Kak...Kakak sudah sadar...? Alhamdulillah Kakak sudah sadar...” tanyaku.

“Kakak gak bisa ngomong banyak...menikahkah dengan Agil...” jawab Kakakku.

Beberapa detik setelah ucapan itu, Kakak kembali kritis, dokter terlihat sekuat tenaga memicu jantung Kakak tapi...Kakak tidak tertolong. Kakak meninggal.

Ya Tuhan...

Aku tidak bahagia dengan permintaan Kakak, aku tidak ingin memiliki siapapun selain Kakak, aku tidak ingin menyakiti Kakak...sungguh aku sangat menyesal...tapi nasi sudah menjadi bubur, apa yang harus aku lakukan.

***

Hari itu menjadi hari paling buruk dalam hidupku. Lebih buruk dari ketika aku mendengar kabar pertunangan Kakakku, lebih buruk dari rencana pernikahan Kakakku dengan Kak Agil, lebih buruk dari rasa cemburuku.

Kakakku terbujur kaku, itu karena aku. Mimpi-mimpinya hancur karena aku, rasa cintanya hancur karena aku. Segalanya hancur karena aku. Kini dia hanya bisa terbujur tak berdaya.

Aku sebenarnya tak ingin menceritakan ucapan Kakakku beberapa detik sebelum dia meninggal, tapi orangtuaku menanyakan apa yang Kakakku ucapkan saat memanggil aku kedalam ruangan. Akhirnya aku menceritakan semuanya walaupun aku sudah tak ingin menikah dengan Kak Agil.

Orangtuaku menceritakan semuanya pada Kak Agil. Kak Agil sempat diam. Hingga dia akhirnya membuat keputusan.

“Baiklah, saya akan menuruti keinginan calon istriku Pak, untuk menikahi Winda...” katanya.

Aku sempat kaget, aku sempat berfikir kenapa Kak Agil melakukan itu disaat Kak Agil sedang berduka. Tapi kemudian Kak Agil melanjutkan perkataannya...

“Weni meminta pada Winda agar saya menikahinya, tapi Weni tidak meminta saya untuk menceraikannya...saya akan menikahi Winda Pak, tapi saya akan segera menceraikannya kembali...” katanya.

Bapak sempat agak marah, tapi aku buru-buru menenangkan Bapak. Apapun yang dia lakukan padaku, asalkan bisa membalas perbuatanku saat itu, sesakit apapun, aku akan terima. Dengan sangat terpaksa orangtuaku pun menyetujuinya.

***


Hari ini aku menikah, tapi mungkin pernikahan itu akan segera berakhir. Entah...apakah ini hukuman ataukah takdir hidup yang harus aku jalani...? Entahlah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar