Hari ini adalah hari
pernikahanku. Seharusnya aku bahagia dengan semua ini. Namun yang aku rasakan
adalah rasa bersalah yang teramat besar. Bagaimana aku tidak bersalah, aku
menikah dengan calon Kakak iparku sendiri.
Kak Agil adalah laki-laki yang
sangat aku kagumi. Aku tidak menyangka rasa kagumku ini malah membuatku jatuh
cinta padanya. Aku sampai lupa diri, hilang rasa malu untuk memperjuangkan rasa
cintaku hingga akhirnya ku rebut Kak Agil dari sisi kakakku sendiri, Kak Mia.
Usiaku dengan Kak Mia memang
tidak terlalu jauh. Hanya terpaut dua tahun. Ibuku dulu memang menikah diusia
sangat dewasa, jadi sengaja tidak melakukan program keluarga berencana. Kami
makin kompak, apalagi ketika masuk kuliah, Kakakku yang mengganggur dulu selama
dua tahun, akhirnya memutuskan untuk masuk kuliah bareng-bareng denganku.
Kami masuk di Universitas yang
sama, walaupun berbeda jurusan. Aku mengambil jurusan arsitektur, sedangkan Kakakku
lebih tertarik dibidang design grafis. Walaupun berbeda jurusan, Kami tetap
selalu bersama. Aku mengenal kawan-kawan Kakakku, begitupun dengan Kakakku.
***
Suatu hari, selepas kuliah, aku
diajak Kakakku makan di kantin kampus. Ternyata saat itu Kakakku ingin
mengenalkan Kak Agil, seorang asisiten dosen di kampusku. Akhirnya aku
berkenalan dengannya. Ternyata Kak Agil adalah pacar Kakakku. Baru seminggu ini
mereka berpacaran. Rencananya Kakak ingin mengajak Kak Agil ke rumah dan akan
dikenalkan pada orangtua Kami.
Akupun berkenalan dengannya.
Kesan pertama aku sudah mengagumi Kak Agil. Selain ganteng, Kak Agil adalah
sosok yang santun dan ramah. Belum lagi dari segi perekonomian, Kak Agil
berasal dari keluarga berada dan anak semata wayang. Bukan itu saja, Kak Agil
juga direkomendasikan oleh kampus untuk sekolah di luar negeri. Sungguh sangat
beruntung sekali Kakakku.
Terbersit rasa iri di hatiku,
kenapa Kakakku bisa seberuntung itu. Mendapatkan sosok laki-laki yang mungkin
saja diperebutkan oleh semua wanita. Padahal dari segi fisik, aku jauh lebih
cantik dari dia. Dari segi akademikpun, aku jauh lebih cerdas. Tapi kenapa Kakakku
malah yang lebih beruntung.
Aku bertambah iri ketika orangtuapun
mendukung 100% hubungan Kakakku dengan Kak Agil. Begitupun dengan keluarga Kak
Agil yang sangat menyayangi Kakakku. Terbukti hampir setiap minggu Kakakku
selalu diajak Ibu Kak Agil jalan-jalan.
Aku pernah ikut beberapa kali
kalau Kakakku jalan dengan calon mertuanya. Aku melihat Ibu Kak Agil sangat
setuju dengan hubungan mereka. Lagi-lagi sungguh Kakakku sangat beruntung.
Semakin hari rasa iriku semakin
bertambah besar. Hubungan aku dengan Kakakku pun tidak sedekat dulu. Kakakku
sering bertanya ada apa denganku. Tapi aku selalu menjawab kalau aku sedang
sibuk dengan tugas kuliah.
Hampir setiap weekend Kak Agil selalu menemui Kakakku.
Kadang mereka jalan-jalan keluar, kadang mereka juga hanya ngobrol-ngobrol di
rumah. Setiap aku bertemu dengan Kak Agil, kadang aku lupa diri kalau dia
adalah calon Kakak iparku.
Setiap aku ngobrol dengan kak
Agil, yang terbersit dipikiranku adalah aku ingin sekali memilikinya. Memiliki
laki-laki yang akan menjadi calon Kakak iparku karena aku merasa aku yang lebih
pantas mendampingi laki-laki itu.
***
Suatu hari, aku mendapatkan kabar
yang sangat buruk. Kak Agil bertemu dengan orangtuaku dengan maksud ingin melamar
Kakakku. Kak Agil ingin bertunangan dengan Kakak yang kemudian akan menikahi Kakakku
setelah lulus kuliah nanti. Sekitar satu tahunan lagi. Jelas saja keluarga Kami
sangat setuju dengan keinginan Kak Agil.
Akhirnya hari yang tidak aku
harapkan itupun terjadi. Kak Agil datang bersama keluarganya untuk melamar
Kakakku. Sungguh ini tidak adil sekali untukku. Kenapa wajah secantik aku malah
tidak dipilih oleh laki-laki seperti Kak Agil. Apa karena Kakakku lebih dewasa
dariku sehingga Kak Agil lebih memilihnya...???
Entah apa yang ada dipikiranku.
Setelah pertunangan itu, aku semakin ingin menghancurkan hubungan mereka. Aku
semakin berani memperlihatkan ketidaksukaan aku dengan hubungan Kakakku dengan
Kak Agil didepan mereka. Aku sering mengajak Kak Agil ngobrol berdua kalau dia
sedang di rumah dan menyuruh Kakak untuk mengerjakan pekerjaan lain.
Aku pernah ditegur oleh
orangtuaku beberapa kali dengan sikapku itu. Tapi aku tak peduli. Waktu setahun
akan cukup membuat hubungan mereka hancur. Dan aku akan menggantikan posisi Kakakku
untuk menikah dengan Kak Agil.
Semakin hari usaha untuk
memisahkan Kakakku dengan Kak Agil semakin gencar aku lakukan. Secara
tersembunyi ataupun terang-terangan. Hingga pada akhirnya aku katakan
perasaanku pada orangtuaku. Sontak saja mereka sangat marah besar padaku hingga
akhirnya aku memutuskan untuk ngekost dan pergi dari rumah.
Berkali-kali Kakakku dan Kak Agil
menemuiku di kostanku tapi berkali-kali juga aku malas melihat wajah Kakakku.
Aku juga melihat berkali-kali Kakakku menangis. Tapi aku tak peduli karena
tetap saja sebanyak apapun air mata yang jatuh, dia tidak akan rela melepas Kak
Agil untukku.
***
Suatu hari, disaat pikiranku
sedang kalut, aku berniat ingin berjalan-jalan ke sebuah mall tak jauh dari
tempat kostanku. Mungkin dengan cuci mata, aku bisa merefresh otakku yang sedang tak karuan. Sedang asyik-asyiknya aku berjalan-jalan
sendiri, aku bertemu dengan Mas Candra. Aku lihat dia sendirian. Akhirnya aku
sapa dia.
“Mas Candra...???” tanyaku.
Diapun menoleh.
“Winda ya? Hey, apa kabar?”
tanyanya.
“Baik Mas, Mas sendiri? Sendirian
nih?” tanyaku.
“Iya nih, sama siapa lagi...?”
jawabnya sambil tertawa lebar.
Dalam pikiranku terbersit,
mungkin Mas Candra belum menikah. Kesempatan nih untuk menyatukan kembali
hubungan asramanya dengan Kakakku.
Mas Candra adalah mantan pacar
Kakakku sewaktu di SMA dulu. Mereka putus karena Mas Candra kuliah di luar kota
dan Kakakku tak yakin hubungan mereka bisa bertahan karena jarak jauh. Akhirnya
merekapun putus walaupun ku tahu Mas Candra masih sangat mencintai Kakakku.
Saat ini Mas Candra sudah bekerja
dan kembali ke kota ini. Dan yang lebih menguntungkan lagi Mas Candra belum
menikah dan belum juga mempunyai calon istri.
Kamipun ngobrol panjang lebar
hingga akhirnya menyinggung hubungan Kakakku dengan Kak Agil dan kekecewaan aku
pada hubungan mereka. Mas Candra awalnya tidak setuju dengan ideku untuk
menyatukan kembali Mas Candra dengan Kakakku. Tapi setelah aku desak, akhirnya
Mas Candra bersedia membantuku.
***
Pada malam itu, aku menyuruh Mas
Candra untuk datang ke rumah disaat kak Agil sedang disana. Aku berniat untuk
mempertemukan Kak Agil dengan Mas Candra dan akan ku kenalkan mereka. Aku akan
bilang kalau Mas Candra ini mantan pacar Kakakku.
Mas Candrapun datang tepat waktu.
Tepat disaat kakakku sedang mengobrol asyik dengan tunangannya.
Aku menyuruh Mas Candra masuk dan
aku langsung mengenalkan dia pada Kak Agil. Kakakku sempat kaget kenapa
tiba-tiba Mas Candra ada disini. Tapi aku langsung berkata kalau Mas Candra
sengaja datang kesini karena merasa kangen dengan Kakakku. Seketika itu wajah
Kak Agil berubah menjadi terlihat kecewa. Tapi aku melihat Kakakku
menenangkannya. Hingga akhirnya Kak Agil memutuskan untuk pulang. Langkah awal
yang cukup menyenangkan fikirku.
Aku selalu meminta Mas Candra
untuk menjemput Kakakku di Kampus setiap hari. Awalnya Kakakku menolak, namun
lama-lama tidak enak juga mungkin menolak terus ajakan Mas Candra, akhirnya
Kakakku bersedia juga pulang bareng Mas Candra.
Beberapa kali aku melihat Kak
Agil marah dengan sikap Kakakku, tapi Kakakku berusaha menjelaskan semuanya.
Tapi buatku kehadiran Mas Candra adalah keberuntungan.
Aku berfikir, mungkin akan
berjalan lama jika rencana ini aku lakukan. Belum tentu Kak Agil jadi iffil
sama Kakakku. Mungkin saja Kak Agil malah mempercepat rencana pernikahannya.
Mungkin aku harus menjalankan rencana paling ekstrim.
Aku harus melakukannya, aku harus
bisa merebut Kak Agil dari tangan Kakakku. Harus!!!
***
Suatu hari aku berniat meminta
tolong pada Mas Candra untuk menjalankan rencanaku. Aku meminta Mas Candra
untuk membelikan obat tidur dengan dosis yang cukup tinggi. Aku akan pancing
Kak Agil datang ke kostanku, aku akan buat dia tidur dan aku akan meminta Mas
Candra datang membawa Kakakku kesana.
Sore itu aku berniat untuk
menjalankan rencanaku. Langkah awal aku akan menelpon Kak Agil untuk datang ke
kostan, aku akan berpura-pura sakit keras sementara di kostanku tidak ada yang
menolongku karena tidak ada orang. Akhirnya aku telpon dia.
“Kak Agil, ini Winda...” kataku.
“Oya win, ada apa?” jawabnya.
Aku katakan bahwa aku sakit dan
butuh pertolongan ke rumah sakit. Mungkin saat itu Kak Agil panik dan tidak
kepikiran menghubungi Kakakku. Dia buru-buru datang ke kostanku hanya dalam
waktu 10 menit. Melihat aku sedang terbaring, Kak Agil langsung mengajakku ke
rumah sakit. Namun aku menolak karena aku hanya berpura-pura.
“Nanti saja Kak ke rumah sakitnya
yah...aku masih lemas...” kataku.
“Kamu udah minum obat?” tanya Kak
Agil.
“Belum Kak, saya minta tolong
belikan aku obat demam ya Kak...”pintaku. Aku berencana ketika Kak Agil pergi,
aku akan berikan obat tidur dan segera menghubungi Mas Candra.
Setelah Kak Agil pulang dari
membeli obat, aku menyuruh dia untuk minum karena mungkin Kak Agil merasa haus mengingat
udara diluar sangat panas. Akhirnya selangkah lagi rencanaku berhasil, Kak Agil
meminum air yang aku berikan obat tidur itu sampai habis. Sebenarnya aku tidak
tega melihat dia, tapi apa boleh buat. Keinginanku jauh lebih besar daripada
rasa kasihanku.
Aku segera menjalankan rencanaku.
Aku merekayasa seola-olahh aku sedang “tidur” dengan calon Kakak iparku
sendiri. Tidak lebih dari 10 menit, Mas Candra datang dengan Kakakku. Melihat
hal itu, Kakakku menjerit histeris, terlihat jelas dia sangat marah. Dia sempat
menamparku, tapi aku tak peduli. Tamparan itu aku anggap sebagai hadiah terindah
karena aku sebentar lagi akan menikah.
Kakakku langsung berlari, Mas Candra
sempat mengejarnya tapi...
Mas Candra berteriak sangat keras
dengan menyebut nama Kakakku. Aku penasaran, aku langsung mengenakan pakaianku
dan pergi ke jalan. Sementara Kak Agil masih lelap, mungkin karena pengaruh
obat tidur dengan dosis tinggi yang kemungkinan akan mulai hilang setelah
beberapa jam lagi.
Badanku lemas, tubuhku
lunglai...jantungku seolah terhenti ketika aku melihat Kakakku bersimbah darah
karena tertabrak sebuah mobil dengan laju sangat cepat. Aku tak percaya ketika
Kakakku dibawa beberapa warga menuju rumah sakit. Aku hanya bisa diam, kaku...
Aku melihat Mas Candra sibuk
mengantarkan Kakak kesana. Dia berkali-kali teriak menyebut nama Kakakku.
Akupun langsung berlari menuju rumah sakit yang tak jauh dari tempat kejadian.
Ya Tuhan...apa yang sudah aku
perbuat, kenapa aku bisa setega ini. Kenapa aku bisa sejahat ini pada kakakku
sendiri yang selama ini sangat menyayangiku. Ya Tuhan...apa yang sedang merasuk
dalam diri ini...
Tangisanku tak ada artinya saat
itu. Rasa bersalahku tak akan membangunkan Kakakku. Penyesalanku tak akan
merubah penderitaan Kakakku. Hingga akhirnya, dokter menghampiriku dan berkata
kalau Kakakku sedang kritis. Apa yang harus aku perbuat saat ini.
Mas Candra berusaha menghubungi
orangtuaku. Setelah orangtuaku datang, aku menangis sejadi-jadinya. Aku
menyesal, aku jahat...aku bukan seorang manusia. Ibuku sempat marah dan mengusirku
dari rumah sakit tapi Ayahku menenangkan Ibuku dan berusaha mencegahku untuk
pergi. Semua bisa dibicarakan baik-baik.
Beberapa jam kemudian, aku
melihat ada sosok bertubuh sangat lemas datang kesana, Kak Agil. Ya Tuhan...Kak
Agil sudah sadar, apa yang harus aku lakukan, aku sudah tidak punya muka lagi
didepannya. Kak Agil menghampiriku, tidak banyak kata yang terucap, dia hanya
bilang, “Kamu kok tega win...”.
Ucapannya membuat hatiku remuk,
membuat tubuhku tak berdaya, membuat aku semakin merasa bersalah...
***
Keesokan harinya, Kami masih
berkumpul di rumah sakit, Kakakku belum juga sadar, menurut dokter Kakakku
banyak kehilangan darah. Hingga saat itu aku dipanggil dokter...
“Winda...ada yang bernama winda?”
tanya dokter.
“Saya dok...” jawabku.
“Anda diminta masuk ruangan...”
kata dokter.
Akupun masuk ke ruangan, aku
melihat Kakakku masih terbaring lemas dengan banyak selang ditubuhnya...Aku
menghampirinya...
“Win...” kata Kakakku.
“Kak...Kakak sudah sadar...?
Alhamdulillah Kakak sudah sadar...” tanyaku.
“Kakak gak bisa ngomong
banyak...menikahkah dengan Agil...” jawab Kakakku.
Beberapa detik setelah ucapan
itu, Kakak kembali kritis, dokter terlihat sekuat tenaga memicu jantung Kakak
tapi...Kakak tidak tertolong. Kakak meninggal.
Ya Tuhan...
Aku tidak bahagia dengan
permintaan Kakak, aku tidak ingin memiliki siapapun selain Kakak, aku tidak
ingin menyakiti Kakak...sungguh aku sangat menyesal...tapi nasi sudah menjadi
bubur, apa yang harus aku lakukan.
***
Hari itu menjadi hari paling
buruk dalam hidupku. Lebih buruk dari ketika aku mendengar kabar pertunangan Kakakku,
lebih buruk dari rencana pernikahan Kakakku dengan Kak Agil, lebih buruk dari
rasa cemburuku.
Kakakku terbujur kaku, itu karena
aku. Mimpi-mimpinya hancur karena aku, rasa cintanya hancur karena aku.
Segalanya hancur karena aku. Kini dia hanya bisa terbujur tak berdaya.
Aku sebenarnya tak ingin
menceritakan ucapan Kakakku beberapa detik sebelum dia meninggal, tapi orangtuaku
menanyakan apa yang Kakakku ucapkan saat memanggil aku kedalam ruangan.
Akhirnya aku menceritakan semuanya walaupun aku sudah tak ingin menikah dengan
Kak Agil.
Orangtuaku menceritakan semuanya
pada Kak Agil. Kak Agil sempat diam. Hingga dia akhirnya membuat keputusan.
“Baiklah, saya akan menuruti
keinginan calon istriku Pak, untuk menikahi Winda...” katanya.
Aku sempat kaget, aku sempat
berfikir kenapa Kak Agil melakukan itu disaat Kak Agil sedang berduka. Tapi
kemudian Kak Agil melanjutkan perkataannya...
“Weni meminta pada Winda agar
saya menikahinya, tapi Weni tidak meminta saya untuk menceraikannya...saya akan
menikahi Winda Pak, tapi saya akan segera menceraikannya kembali...” katanya.
Bapak sempat agak marah, tapi aku
buru-buru menenangkan Bapak. Apapun yang dia lakukan padaku, asalkan bisa
membalas perbuatanku saat itu, sesakit apapun, aku akan terima. Dengan sangat
terpaksa orangtuaku pun menyetujuinya.
***
Hari ini aku menikah, tapi
mungkin pernikahan itu akan segera berakhir. Entah...apakah ini hukuman ataukah
takdir hidup yang harus aku jalani...? Entahlah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar