2 Mei 2017

Cinta yang Singgah

Dilahirkan sebagai orang yang serba kekurangan bukan keinginan setiap orang yang mengalaminya termasuk aku. Jika aku bisa memilih, akupun ingin terlahir dari keluarga yang kaya raya. Tapi aku tak bisa menolak takdir ini. Aku tak boleh menyesal dengan keadaan aku sekarang. Walaupun aku terlahir hanya menjadi anak seorang pembantu rumah tangga.

Ayahku meninggal ketika aku berumur tiga tahun. Ibuku terpaksa harus bekerja seorang diri. Menjadi pembantu rumah tangga memang bukan pilihan yang diinginkan Ibu. Namun apa boleh buat, hanya ini pilihan yang ada.

Beruntung majikan Ibu adalah orang yang sangat baik. Beliau mengizinkan aku dan Ibu tinggal disana. Kami sudah dianggap sebagai keluarga sendiri.

Pak Hasan adalah majikan yang sangat kaya tapi tidak sombong, begitupun dengan Bu hasan. Mereka menganggapku sebagai anaknya sendiri. Mungkin, karena mereka tidak punya anak perempuan. Mas Rangga adalah anak satu-satunya yang sekarang sedang kuliah di luar negeri. Terakhir aku bertemu dengan Mas Rangga sekitar empat tahun yang lalu.

Besok, Mas Rangga akan pulang dari luar negeri. Aku berfikir, seperti apa Mas Rangga sekarang ya...sosok yang dari dulu selalu aku kagumi. Selain ganteng, Mas Rangga juga sangat baik. Dia memperlakukan aku seperti Adiknya sendiri. Akupun tak sabar menunggu kepulangan Mas Rangga.

***

Hari itu pun datang, Mas Rangga pulang. Aku dan Ibu juga diminta Pak Hasan untuk ikut menjemput dia di Bandara. Detik-detik menunggu kepulangan Mas Rangga memang berasa lama sekali. Aku sudah tidak sabar ingin melihat kembali wajahnya.

Sekitar satu jam Kami menunggu, akhirnya Mas Rangga datang. Dia masih seperti empat tahun yang lalu, masih ganteng, masih baik dan masih ramah.

Hari-hariku sekarang sudah tidak sepi lagi karena ada Mas Rangga. Walaupun aku hanya sebagai anak seorang pembantu, tapi Mas Rangga sangat baik memperlakukan aku. Layaknya seorang Kakak terhadap adiknya.

Semakin jauh, semakin lama kita bersama, aku merasa ada yang lain di hatiku. Aku tak yakin ini cinta. Mungkin yang aku rasakan hanya perasaan kagum atas kebaikan Mas Rangga.

***

Suatu hari, aku dipanggil Pak Hasan dan Bu Hasan. Aku sempat kaget, apa mungkin karena kedekatan aku dengan Mas Rangga. Tapi mereka juga mengetahui kalau kita seperti Adik dan Kakak.
Aku hampiri mereka di ruang keluarga, disana juga ada Mas Rangga. Setelah aku dipersilakan duduk, Kamipun mengobrol.

“Aneu, ayo sini, jangan takut...” kata Bu Hasan. Akupun duduk didekat Bu Hasan.

“Kok, seperti takut aja Neu... “ kata Mas Rangga menggodaku. Aku hanya tersenyum.

“Kamu udah berapa lama tamat dari SMA Neu?” tanya Pak Hasan.

“Sekitar satu tahun Pak...” jawabku singkat.

‘’Sekarang rencanamu apa?” tanya Pak Hasan lagi.

“Untuk sementara saya mau bantu-bantu Ibu saja dulu sambil cari kerja...” jawabku.

“Mau kuliah gak?” tanya Bu Hasan.

Aku sempat kaget, ini hanya sebatas pertanyaan ataukah tawaran. Tapi aku tak mau geer dulu, mungkin ini hanya sebatas pertanyaan.

“Kalo ditanya mau, saya pasti mau Bu, tapi untuk sekarang kepikiran aja enggak...Saya belum ada biaya...” Jawabku.

“Kamu gak usah bingung, biar nanti Kami yang tanggung semua biayanya...” kata Bu Hasan.

Ini serasa mimpi bagiku, anak seorang pembantu bisa kuliah. Benar-benar rejeki tak terduga fikirku.

“Kok bengong?” kata Mas Rangga.

“Enggak Mas, saya Cuma kaget aja...berasa mimpi...” kataku.

“Ini gak mimpi Neu, Kamu sekarang konsultasi sama Rangga, Kamu mau masuk Universitas Mana dan jurusan apa, biar nanti Rangga yang arahkan...” kata Bu Hasan.

***

Sejak saat itu, aku dan Mas Rangga semakin dekat. Mas Rangga yang mengurus semua keperluan aku untuk masuk kuliah. Hingga aku bisa merasakan bagaimana rasanya duduk di bangku kuliah. Hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Setelah kuliah, aku banyak berubah kata Mas Rangga. Mungkin karena pergaulan dan pola pikir yang semakin terbuka. Aku tidak mau mengecewakan orang-orang yang menyayangi aku. Aku harus belajar dengan giat agar aku mendapatkan nilai yang baik setiap semesternya.

***

Waktu berlalu, kuliahku nyaris tak mendapat halangan apapun. Nilaiku pasti selalu baik disetiap semester. Pak Hasan, Bu Hasan, Ibuku dan Mas Rangga selalu bangga melihat nilai-nilaiku.

Aku sudah berniat untuk mengenyampingkan semua hal yang bisa merusak kuliahku. Termasuk urusan cinta. Tak bisa dipungkiri, ada beberapa laki-laki yang datang mendekatiku pada saat itu. Tapi setiap aku didekat mereka, tak pernah aku merasakan getaran seperti yang aku rasakan pada Mas Rangga.

***

Dani, dia salah satu laki-laki yang sedang mengejarku. Tapi aku sering tidak memperdulikannya. Mungkin karena aku terlalu fokus dengan kuliah. Ataukah ada seseorang yang aku harapkan, Mas Rangga.

Sering aku berfikir, aku memang tidak tahu diri. Menyayangi anak majikan yang tidak sekasta denganku. Sebaik-baiknya Mas Rangga, dia tetap tidak pantas untukku. Walaupun harga diriku sekarang sudah diangkat oleh keluarga besar Pak Hasan, tapi tetap saja untuk mencintai Mas Rangga rasanya aku tak pantas.

Singkat cerita, akupun lulus dari Universitas tempat aku kuliah. Dani juga sama. Dani adalah laki-laki yang sangat baik. Berkat bantuan diapun, kini aku sudah bekerja disalah satu perusahaan di Kota tempat tinggalku. Dani pun masuk di perusahaan itu.

Perhatian Dani tidak bisa dibantahkan lagi. Semakin hari semakin aku yakin kalau Dani memang menyimpan perasaan cinta padaku. Hingga suatu hari Dani menyatakan perasaannya padaku.  Entah apa yang aku rasakan saat itu, tak ada rasa bahagia sedikitpun, karena memang aku tak pernah mencintainya. Dani hanya aku anggap sebagai teman biasa, tidak lebih.

Sejak aku bekerja, aku putuskan untuk menjadi tulang punggung keluarga. Karena penghasilanku cukup lumayan, maka aku minta izin pada keluarga Pak Hasan agar Ibu berhenti bekerja mengingat usaianya yang sudah mulai tua. Tak ku sangka keluarga Pak Hasan sangat senang dengan keputusanku. Memang inilah tujuan keluarga Pak Hasan.

Setelah keluarga Pak Hasan mendapatkan seorang pembantu baru. Aku memutuskan untuk kembali ke rumahku dulu yang berjarak agak jauh dari kediaman Pak Hasan.

Ada rasa sedih di hatiku karena aku akan jarang bertemu dengan Mas Rangga. Tapi aku juga tak mungkin terus menerus tinggal disana. Sesekali akupun mengunjungi Bu Hasan dan disanalah aku bertemu dengan Mas Rangga.

***

Suatu hari aku berniat untuk mengunjungi Bu Hasan. Kebetulan beliau sedang tidak ada kegiatan. Ibuku juga aku ajak kesana.

Sesampai di rumah Bu Hasan, aku seperti biasa disambut dengan baik. Tapi sayang, aku tidak bertemu dengan Mas Rangga. Padahal hari itu hari Minggu, Mas Rangga tidak sedang bekerja. Maka aku beranikan diri bertanya tentang keberadaan Mas Rangga.

“Maaf Bu, Mas Rangga dimana ya?” tanyaku.

“Oh iya, Ibu baru ingat Neu, minggu depan Rangga akan menikah, jadi sekarang dia lagi sibuk-sibuknya ngurusin keperluan pernikanannya...” jawab Bu Hasan.

“Lho, kok saya gak dikasih kabar apa-apa ya Bu...?” tanyaku.

“Rangga memang gitu, gak mau ngerepotin Kamu...” jawab Bu Hasan.

Entah apa yang aku rasakan saat itu. Aku merasa dunia ini seperti mau runtuh. Aku memang sadar diri dengan keadaan aku. Tapi aku juga tak bisa menerima semua ini.

Sesampainya di rumah aku menangis sejadi-jadinya. Hatiku sakit sekali. Aku merasa Mas Rangga sudah mengkhianatiku, tapi apa pantas aku menyalahkannya. Padahal aku dan Mas Rangga tidak ada dan tidak pernah mempunyai hubungan apapun. Mas Rangga hanya menganggap aku seperti Adiknya sendiri.

Mas Rangga memang sangat tertutup dengan masalah pribadinya. Bahkan sedekat apapun aku dengan dia, aku tidak tahu kalau Mas Rangga mempunyai seorang kekasih dan akan segera menikah.

***

Hari yang aku takutkanpun terjadi. Akhirnya Mas Rangga menikah juga. Aku melihat Mas Rangga sangat bercahaya dengan baju pengantin berwarna putih. Masih saja aku berfikir, seandainya yang ada disebelah Mas Rangga itu adalah aku. Tapi...sudahlah...Akupun memberi selamat padanya. Semoga Mas Rangga bahagia, selalu bahagia...

Sejak menikah, aku dan Mas Rangga sudah jarang berkomunikasi. Mungkin karena kita sama-sama sibuk juga. Aku juga berniat untuk belajar melupakan Mas Rangga. Mungkin dengan mencoba menerima cinta Dani.

Waktu berjalan, aku mencoba untuk mengalihkan perasaanku pada Dani. Aku mencoba melakukan apa yang ku lakukan dulu pada Mas Rangga pada Dani. Tidak mudah memang, tapi aku akan berusaha semampuku.

Sudah menginjak waktu dua tahun, aku dan Dani dekat. Hingga Dani menyatakan ingin menikahiku. Setelah aku berbicara pada Ibu dan Ibu setuju, akhirnya aku memutuskan untuk menerima pinangan Dani.

***

Sekarang, sudah sekitar 10 tahun aku menikah dengan Dani. Aku sangat bersyukur mempunyai suami seperti Dani. Aku sangat bahagia dan aku sangat mencintainya. Kebahagiaan kita sangat lengkap setelah Kami dikaruniai sepasang anak kembar.


Mas Rangga, mungkin dia hanya cinta yang singgah di hatiku, bukan cinta sejatiku...karena cinta sejatiku adalah Dani, suamiku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar