22 Des 2011

Indah Pada Saatnya


Seorang Kakak beradik yang tinggal di suatu desa terpencil sedang asyik ngobrol. Sang Kakak yang sangat menyayangi Adiknya selalu dengan sabar menanggapi dan menjawab semua pertanyaan Adiknya yang masih berusia sekitar enam tahun. Kepolosan masih tersirat diraut muka Adiknya. Sesekali Kakaknya tersenyum setiap Adiknya memberikan pertanyaan.

Ada satu pertanyaan Adiknya yang mengganjal di hati, ketika sang Adik bertanya kenapa mereka hidup susah. Makan seadanya, tidurpun harus berbagi tempat, sekolahpun mengandalkan uluran orang-orang dermawan. Tersentak sang Kakak mendengar pertanyaan itu, sangat mustahil sebenarnya pertanyaan itu keluar dari mulut anak yang masih berusia enam tahun.

Seketika  itu sang Kakak mengajak Adiknya pergi ke suatu tempat. Awalnya sang Adik merasa keheranan. Masa untuk menjawab pertanyaan begitu saja, sang Kakak tak bisa menjawab, malah mengajaknya pergi. Namun, akhirnya sang Adik menuruti Kakaknya untuk pergi ke suatu tempat.


***

Tempat pertama, mereka menyusuri daerah yang kumuh, becek dan berbau tidak sedap. Pasti tempat ini banyak sekali kuman penyakit. Untuk melangkahpun sangat sulit karena tanah disana penuh dengan lumpur.

Dengan wajah lugunya sang Adik bertanya, “Kak...memang gak ada jalan lain yah? Kenapa harus lewat ke tempat seperti ini?” tanya Adiknya.

“Ikutin saja, nanti juga kamu pasti tahu kenapa kita harus melewati tempat ini...” jawab sang Kakak.

***

Tempat kedua, mereka melewati terowongan yang gelap. Untuk melewati itu, sang Adik harus memegang tangan Kakaknya karena memang mereka tak bisa melihat apa-apa. Ketakutan terpancar di wajah Adiknya. Namun sang Kakak tetap menenangkannya.

“Sabar yah dik, nanti juga kita bisa melewati terowongan gelap ini...” jelas Kakaknya. Sang Adik hanya tersenyum dan tak menjawab.

***

Tempat ketiga, mereka harus berjalan menaiki bukit yang cukup curam. Karena sudah kelelahan, Adiknya sedikit merajuk minta minum. Namun mereka tak membawa perbekalan apapun. Sang Kakak hanya menenangkanAdiknya dengan sebuah perkataan, “Sabar ya Dik...”. Adiknya sempat bingung, tempat apa yang akan ditunjukan Kakaknya sampa dia harus melewati berbagai tempat yang sangat tidak dia sukai.

***

Tempat keempat, dia melewati sebuah hutan kecil, memang tak ada hewan buas disana, namun hutan itu cukup menakutkan untuk seorang anak kecil. Banyak hewan-hewan liar yang berkeliaran disana seperti anjing hutan.

Adiknya kembali bertanya, “Kak, kenapa harus melewati tempat seperti ini lagi? Tempat apa yang akan kakak tunjukkan padaku?”. Sang Kakak hanya tersenyum sambil mengelus kepala sang Adik.

***

Sang Adik hampir putus asa karena perjalanan yang cukup melelahkan. Dia sempat sedikit marah pada Kakaknya. Namun apa yang ada didepan matanya. Kakaknya mengajaknya kesebuah danau yang sangat indah. Airnya jernih. Disekitar danau terlihat bunga-bunga indah sedang mekar. Suara gemericik air sangat menyejukan hati. Kicauan burung menambah hangat suasana. Pohon-pohon rindang membuat teduh tempat itu. Danau yang benar-benar indah dan menakjubkan.

Sang kakak berkata, “Inilah dik, jawaban dari pertanyaanmu...” jelas Kakaknya. Sang adik sempat keheranan dengan apa yang dikatakan Kakaknya. Lalu Kakaknya menjelaskan, “Kenapa kita hidup susah, makan seadanya, tidurpun harus berbagi dan banyak kepedihan lainnya. Semua seperti perjalanan kita tadi. Melewati tempat yang kotor, terowongan yang gelap, bukit yang curam, bahkan hutan kecil yang membuatmu sesekali memegang erat tangan Kakak. Semua perjalanan yang tidak menyenangkan itu akan membawa kita ke danau yang indah ini. Begitupun hidup, kehidupan pahit yang kita alami adalah jalan Tuhan yang akan membawa kita pada sebuah kebahagiaan nantinya. Kita wajib pasrah, sabar dan berusaha atas semuanya dan kita harus yakin semua akan indah pada saatnya nanti”.


Sang adik tampak puas dengan jawaban Kakaknya. Sambil menatap Kakaknya, sang Adik berkata, “Terima kasih Kak...”.

3 komentar: