Baru kurang lebih tujuh bulan aku bekerja
disini, namun sudah begitu banyak pelajaran yang aku dapat. Tak mudah memang
menjadi seorang petugas panti jompo. Namun aku cukup menikmatinya.
Berawal dari tawaran teman untuk menerima
pekerjaan ini, dia bilang
petugas lama mengundurkan diri karena sesuatu hal. Tadinya aku merasa tak
yakin, apa aku sanggup. Namun ternyata aku mampu walaupun memang belum
maksimal. Ini pekerjaan yang ku rasa sangat membutuhkan kesabaran.
Pak Ridwan, beliau berusia sekitar 65 tahunan.
Menurut keterangannya, beliau ditempatkan paksa di panti jompo ini. Pak Ridwan
mempunyai dua orang putra. Dua-duanya sangat sibuk dengan bisnisnya, begitupun dengan
para menantunya.
Mengurus anak-anak mereka
menggunakan jasa baby sitter. Apalagi mengurus Pak Ridwan
yang sudah tua. Panti jompolah solusinya.
Aku sering melihat beliau menangis diwaktu malam. Entah apa
yang berkecambuk di hatinya. Mungkinkah dia merasa rindu dengan
keluarganya yang hanya sebulan sekali menjenguknya? Ataukah dia menangis karena
marah dengan keputusan anak-anaknya yang menempatkanya ditempat seperti ini? Akupun tak tahu.
Masih dibalik jendela panti, aku melihat Bu
Ratmi sedang duduk termenung diatas kursi rodanya. Usianya memang lebih muda
dari Pak Ridwan, namun beliau sudah tak mampu berjalan. Beliau tak seperti Pak
Ridwan yang selalu murung. Aku melihat Bu Ratmi sedikit lebih tegar dengan
kehidupannya disini. Senyumnya selalu mengembang kepada siapa saja. Menurut
keterangannya, anak-anak Bu Ratmi semua bekerja di luar negeri dan mereka
sepakat menempatkan Bu Ratmi disini.
Aku berjalan menuju taman belakang panti.
Terlihat ada dua orang yang sedang bercakap-cakap di taman. Pah Hendro dan Pak Wahyu.
Sesekali terdengar gelak tawa mereka ditengah obrolannya. Seolah mereka tak
pernah menyimpan rasa sedih. Namun siapa sangka, Pak Hendro adalah bekas
direktur sebuah perusahaan dikota Bandung. Anak semata wayangnya kabur dengan
membawa semua asset perusahaan hingga tak tersisa. Diusianya yang menginjak 70 tahun, harusnya beliau sedang
menikmati hari-hari
indah bersama anak dan cucunya. Namun beliau harus menghabiskan sisa usianya
ditempat ini.
Kisah Pak Wahyu memang sedikit berbeda dengan
kisah yang lainnya. Beliau sengaja ingin ditempatkan disini, karena beliau
merasa tak ingin merepotkan anak-anaknya. Pernah suatu saat akupun melihat anak
Pak Wahyu datang ke panti dengan sejuta harapan Ayahnya bersedia ikut pulang. Namun entah kenapa Pak Wahyu menolaknya.
Panggilan Bu Tiwi kepadaku, sejenak membuyarkan
lamunanku kala itu. Beliau memanggilku dan memintaku membawakan makanan siang
itu. Akupun dengan senang hati melayaninya. Bu Tiwi seusia dengan Ibuku, sekitar 55 tahun. Kejadian
tragis menimpa beliau sekitar lima tahun yang lalu. Suami dan dua putrinya meninggal
pada kecelakaan lalu lintas. Waktu itu Bu Tiwi sekeluarga hendak berlibur ke
Bali. Namun ketika perjalanan
menuju bandara, mereka mengalami
kecelakaan yang menewaskan semua keluarganya dan hanya beliau yang selamat.
Beliau sudah tak punya siapa-siapa lagi dan akhirnya memutuskan untuk tinggal di panti.
Kisah mereka hanya sepenggal kisah di panti jompo
tempat aku bekerja, masih banyak kisah disana yang terkadang membuat aku miris.
Lamunanku melayang teringat Ibuku tersayang di rumah. Ibu yang selalu ada untukku. Selama
nafasku masih berhembus, aku tak akan menyia-nyiakan Ibu. Apalagi sampai tega membiarkan Ibu tinggal di panti jompo
seperti kisah Pak Ridwan, Pak Hendro, Bu ratmi dan yang lainnya.
Aku akan merawat Ibu semampuku. Aku akan
memberikan yang terbaik untuk Ibu, seperti halnya Ibu yang selalu memberikan
cinta tulusnya untukku.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh
malam. Kini sudah saatnya aku harus pulang. Ibu
pasti sudah menungguku di rumah. Aku tak sabar ingin segera memeluknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar