2 Jan 2012

Sepenggal Kisah Di Panti Jompo


Baru kurang lebih tujuh bulan aku bekerja disini, namun sudah begitu banyak pelajaran yang aku dapat. Tak mudah memang menjadi seorang petugas panti jompo. Namun aku cukup menikmatinya.

Berawal dari tawaran teman untuk menerima pekerjaan ini, dia bilang petugas lama mengundurkan diri karena sesuatu hal. Tadinya aku merasa tak yakin, apa aku sanggup. Namun ternyata aku mampu walaupun memang belum maksimal. Ini pekerjaan yang ku rasa sangat membutuhkan kesabaran.

Pak Ridwan, beliau berusia sekitar 65 tahunan. Menurut keterangannya, beliau ditempatkan paksa di panti jompo ini. Pak Ridwan mempunyai dua orang putra. Dua-duanya sangat sibuk dengan bisnisnya, begitupun dengan para menantunya. Mengurus anak-anak mereka menggunakan jasa baby sitter. Apalagi mengurus Pak Ridwan yang sudah tua. Panti jompolah solusinya. Aku sering melihat beliau menangis diwaktu malam. Entah apa yang berkecambuk di hatinya. Mungkinkah dia merasa rindu dengan keluarganya yang hanya sebulan sekali menjenguknya? Ataukah dia menangis karena marah dengan keputusan anak-anaknya yang menempatkanya ditempat seperti ini? Akupun tak tahu.

Masih dibalik jendela panti, aku melihat Bu Ratmi sedang duduk termenung diatas kursi rodanya. Usianya memang lebih muda dari Pak Ridwan, namun beliau sudah tak mampu berjalan. Beliau tak seperti Pak Ridwan yang selalu murung. Aku melihat Bu Ratmi sedikit lebih tegar dengan kehidupannya disini. Senyumnya selalu mengembang kepada siapa saja. Menurut keterangannya, anak-anak Bu Ratmi semua bekerja di luar negeri dan mereka sepakat menempatkan Bu Ratmi disini.

Aku berjalan menuju taman belakang panti. Terlihat ada dua orang yang sedang bercakap-cakap di taman. Pah Hendro dan Pak Wahyu. Sesekali terdengar gelak tawa mereka ditengah obrolannya. Seolah mereka tak pernah menyimpan rasa sedih. Namun siapa sangka, Pak Hendro adalah bekas direktur sebuah perusahaan dikota Bandung. Anak semata wayangnya kabur dengan membawa semua asset perusahaan hingga tak tersisa. Diusianya yang menginjak 70 tahun, harusnya beliau sedang menikmati hari-hari indah bersama anak dan cucunya. Namun beliau harus menghabiskan sisa usianya ditempat ini.

Kisah Pak Wahyu memang sedikit berbeda dengan kisah yang lainnya. Beliau sengaja ingin ditempatkan disini, karena beliau merasa tak ingin merepotkan anak-anaknya. Pernah suatu saat akupun melihat anak Pak Wahyu datang ke panti dengan sejuta harapan  Ayahnya bersedia ikut pulang. Namun entah kenapa Pak Wahyu menolaknya.

Panggilan Bu Tiwi kepadaku, sejenak membuyarkan lamunanku kala itu. Beliau memanggilku dan memintaku membawakan makanan siang itu. Akupun dengan senang hati melayaninya. Bu Tiwi seusia dengan Ibuku, sekitar 55 tahun. Kejadian tragis menimpa beliau sekitar lima tahun yang lalu. Suami dan dua putrinya meninggal pada kecelakaan lalu lintas. Waktu itu Bu Tiwi sekeluarga hendak berlibur ke Bali. Namun ketika perjalanan menuju bandara, mereka mengalami kecelakaan yang menewaskan semua keluarganya dan hanya beliau yang selamat. Beliau sudah tak punya siapa-siapa lagi dan akhirnya memutuskan untuk tinggal di panti.

Kisah mereka hanya sepenggal kisah di panti jompo tempat aku bekerja, masih banyak kisah disana yang terkadang membuat aku miris. Lamunanku melayang teringat Ibuku tersayang di rumah. Ibu yang selalu ada untukku. Selama nafasku masih berhembus, aku tak akan menyia-nyiakan Ibu. Apalagi sampai tega membiarkan Ibu tinggal di panti jompo seperti kisah Pak Ridwan, Pak Hendro, Bu ratmi dan yang lainnya.

Aku akan merawat Ibu semampuku. Aku akan memberikan yang terbaik untuk Ibu, seperti halnya Ibu yang selalu memberikan cinta tulusnya untukku.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Kini sudah saatnya aku harus pulang. Ibu pasti sudah menungguku di rumah. Aku tak sabar ingin segera memeluknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar