14 Jan 2012

Tak Termiliki


Cintaku tak akan pernah pergi, mungkin itu janji di hatiku untuknya...untuk anakku...yang akan terus menjadi anakku sampai kapanpun...

***

Sembilan belas tahun yang lalu, putri kecilku hadir dalam kehidupanku dan suamiku. Dia memang bukan lahir dari rahimku, namun sungguh aku memberikan sepenuh hatiku untuknya.

Bayi mungil itu masih merah ketika sang Ibu yang tak lain adalah sahabatku sendiri menyerahkan bayi itu padaku. Bayi yang dia anggap pembawa bencana karena tak diharapkan kehadirannya. Dengan senang hati aku dan suamiku menerima kehadiran bayi itu karena dua tahun lalu, aku divonis tak akan bisa mempunyai seorang anak.

Hari-hari yang sepi kini berubah ceria dengan hadirnya dia. Dia anakku, karena aku lebih senang menyebutnya seperti itu. Aku beri nama...PUTRI...Aku harap dia menjadi seorang putri cantik, cantik jiwa dan raganya.


Putri tumbuh seperti anak-anak yang lainnya. Bermain, sekolah dan bergaul. Tak pernah ada yang tahu kalau dia bukan darah dagingku, karena semenjak Putri hadir, Kami langsung pindah tempat tinggal. Akhirnya di lingkungan barulah Kami memulai hidup.

***

Aku memang hanya seorang ibu rumah tangga biasa dan suamiku hanyalah seorang sopir angkot. Tapi Kami punya keinginan untuk membahagiakan Putri, mewujudkan keinginan dia, memberikan yang terbaik untuknya. Dan Kami bersyukur, Putri tumbuh menjadi gadis yang sangat baik. Dengan kondisi perekonomian yang sangat terbatas, Putri sesekali membantu keuangan Kami, dengan menjadi seorang penjaga toko buku disaat jam pulang sekolah.

Itulah Putri...bidadari kecilku...

Berkali-kali Kami selalu melarangnya. Biarlah dia fokus dengan sekolahnya yang sebentar lagi akan lulus. Namun, dengan wajah lugunya dia selalu berkata kalau dia ingin menjadi anak kebanggaan Kami, tak ingin menyusahkan Kami, dan ingin selalu menjadi anak terbaik untuk Kami.

Sejenak aku merenung dan mengingat kejadian dulu ketika sahabatku memberikan Putri pada Kami. Mungkin, jika saat ini sahabatku itu melihat Putri, dia akan menyesal sudah memberikan Putri pada Kami. Gadis kecil yang tumbuh menjadi gadis cantik. Bagiku dia segalanya.

***

Hari ini adalah hari kelulusan Putri, perasaan Kami campur aduk, senang karena bidadari kecilnya sudah lulus sekolah dengan nilai yang memuaskan. Namun, akupun merasakan perasaan sedih, ketika aku melihat anak-anak sebayanya bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Sedangkan Putri tidak bisa karena keterbatasan perekonomian Kami.

Seolah tahu dengan apa yang kurasakan, Putri hanya berkata pada Kami kalau dia tak akan memaksakan keinginannya untuk meneruskan kuliahnya. Dia memutuskan akan bekerja dan jika ada rejeki suatu hari nanti, dia berharap bisa meneruskan kuliahnya.

Bukan kelegaan di hati yang kurasakan dengan ucapannya, namun aku merasa aku bukan orangtua yang baik, aku  tak bisa mewujudkan harapan anakku karena faktor ekonomi.

***

Satu tahun, Putri bekerja di toko buku itu dengan gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dia, sesekali dia juga suka memberi Kami uang dari hasil bekerjanya. Walaupun aku tak pernah mengharapkan sedikitpun. Namun, dia selalu mencoba untuk membahagiakan Kami.

Putri...anakku...walaupun dia sudah beranjak dewasa, namun sifat manjanya masih saja ada. Ketika malam datang, dia dengan wajah manjanya selalu membujuk suamiku untuk tidur diluar sehingga dia bisa tidur bersamaku. Kami bisa mengobrol, berbagi cerita dan bercanda. Kubelai rambutnya sampai dia tertidur...Itulah Putri anakku.

***

Sudah hampir beberapa belas tahun Kami tinggal di kota kecil ini. Kota yang sepi jauh dari hiruk pikuk keramaian. Tapi Kami bahagia. Sungguh bahagia. Sampai pada suatu saat beliau hadir lagi dalam kehidupan Kami. Sahabatku...sahabatku sekaligus Ibu kandung Putri.

Aku tak pernah menyangka, dari mana beliau tahu alamat tempat tinggal Kami. Banyak perubahan yang aku lihat. Dia sekarang tampak mewah dan sangat mencolok. Namun keramahan masih terpancar dari wajahnya. Kami memang bersahabat dekat dari dulu. Sejak dia menyerahkan Putri beberapa belas tahun yang lalu, Kamipun jadi kehilangan komunikasi. Dan baru saat itu kita bertemu lagi.

Ada perasaan yang sangat tidak nyaman dalam diriku. Aku takut,  dia akan membawa pergi Putri anakku. Maaf, kalau aku lancang menyebut Putri dengan sebutan anakku, karena aku merasa dia memang anakku. Dan ternyata ketakutanku itu menjadi kenyataan.

Menurut ceritanya, setelah menyerahkan Putri pada Kami, dia bekerja di luar negeri dan menikah dengan orang kaya asal Australia. Beliau menetap disana dan tujuan dia kesini ingin bertemu anaknya yang tak lain adalah Putri. Aku bertambah kaget lagi ketika dia berkata, ingin membawa Putri ke sana, tinggal bersamanya, menyekolahkan dia dengan fasilitas yang baik.

Sebagai manusia biasa, sungguh aku marah. Sungguh ingin aku usir dia dari hadapanku. Namun suamiku selalu menenangkan aku supaya aku berfikir jernih. Namun, orangtua mana yang bisa berfikir jernih jika berada dalam keadaanku saat itu.

Aku belum berbicara pada Putri tentang hal ini. Aku belum siap kehilangan Putri jika suatu saat nanti Putri memilih tinggal bersama Ibu kandungnya yang lebih kaya, yang lebih bisa memenuhi semua kebutuhannya. Membayangkanpun aku tak sanggup.

Butuh waktu beberapa bulan untukku berfikir. Disisi lain aku tak ingin kehilangan anakku, tapi jika aku berfikir bijaksana, Putri tak bisa terus-terus an hidup susah bersamaku. Dia punya cita-cita, dia punya harapan, dia punya masa depan yang jauh lebih baik daripada hanya sebagai penjaga toko buku.

Akhirnya, aku putuskan hari itu untuk bilang pada Putri tentang rencana Ibu kandungnya. Membawa dia keluar negeri untuk melanjutkan sekolahnya. Awalnya putri menolak, dia tak pernah kenal orangtua selain aku. Dia tak mau meninggalkan aku. Dia bisa hidup tanpa kemewahan. Dia bahagia disini. Namun aku mencoba menjelaskan, bahwa hidup dia akan lebih baik dengan Ibu kandungnya. Ibu kandungnya akan memberikan kasih sayang yang sama denganku.

Putri menangis dan tentu akupun juga. Sakit rasanya. Sulit dijelaskan dengan kata-kata. Aku juga tak tahu apa aku kuat hidup tanpanya. Apa ini yang terbaik untuk putri...bidadari kecilku?

Tapi keputusan sudah diambil, Putri anakku harus ikut dengan Ibu kandungnya, pergi meninggalkan Kami, meninggalkan hari-hari yang pernah Kami lalui tapi dia berjanji akan kembali setelah kuliahnya lulus...entah kapankah itu...

Sekarang tak ada lagi hari-hari indah bersamanya, tak ada canda tawa, tak ada rambut indah yang selalu minta aku belai ketika malam tiba, tak ada senyuman hangat di pagi hari ketika akan memulai aktifitas, tak ada gurauan hangat saat dia pulang. Tak ada...karena Putri tak ada disini...

Secarik kertas berisi tulisan untuk Putri aku tulis...

Putri Anakku...Ibu tahu, ini bukan keinginan kita. Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu, untuk masa depanmu. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan Ibu juga. Walaupun perasaan Ibu hancur dengan berpisah denganmu, namun Ibu tahu suatu saat nanti kita akan bersama lagi.

Putri Anakku...kamarmu masih terlihat rapi, seolah kamar itu juga merasakan kehilangan pemiliknya, cepat pulang nak...

Putri Anakku...Ibu dan Bapak selalu berharap, kamu selalu berada dalam lindungan-NYA, karena hanya DIA yang bisa melindungimu ketika kamu jauh dari Ibu.

***


Sampai saat ini...aku masih menunggu putriku pulang, walaupun aku tak tahu sampai kapan aku harus menunggu. Putri anakku seolah tak termiliki lagi. Apa aku harus mengikhlaskannya begitu saja??? Entahlah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar