Cintaku tak akan pernah pergi, mungkin itu janji di hatiku
untuknya...untuk anakku...yang akan terus menjadi anakku sampai kapanpun...
***
Sembilan belas tahun yang lalu, putri kecilku
hadir dalam kehidupanku dan suamiku. Dia memang bukan lahir dari rahimku, namun
sungguh aku memberikan sepenuh hatiku untuknya.
Bayi mungil itu masih merah ketika sang Ibu yang tak lain adalah sahabatku
sendiri menyerahkan bayi itu padaku. Bayi yang dia anggap pembawa bencana
karena tak diharapkan kehadirannya. Dengan senang hati aku dan suamiku menerima
kehadiran bayi itu karena dua tahun lalu, aku divonis tak akan bisa mempunyai seorang anak.
Hari-hari yang sepi kini berubah ceria dengan
hadirnya dia. Dia anakku, karena aku lebih senang menyebutnya seperti itu. Aku beri
nama...PUTRI...Aku
harap dia menjadi seorang putri cantik, cantik jiwa dan raganya.
Putri tumbuh seperti anak-anak yang lainnya.
Bermain, sekolah
dan bergaul. Tak pernah ada yang tahu kalau dia
bukan darah dagingku, karena semenjak Putri hadir, Kami langsung pindah tempat
tinggal. Akhirnya di lingkungan
barulah Kami memulai hidup.
***
Itulah Putri...bidadari kecilku...
Berkali-kali Kami selalu melarangnya. Biarlah
dia fokus dengan sekolahnya yang sebentar lagi akan lulus. Namun, dengan wajah
lugunya dia selalu berkata kalau dia ingin menjadi anak kebanggaan Kami, tak
ingin menyusahkan Kami, dan ingin selalu menjadi anak terbaik untuk Kami.
Sejenak aku merenung dan mengingat kejadian dulu ketika
sahabatku memberikan Putri
pada Kami. Mungkin, jika
saat ini sahabatku itu melihat Putri, dia akan menyesal sudah memberikan Putri pada Kami. Gadis kecil yang tumbuh menjadi
gadis cantik. Bagiku
dia segalanya.
***
Hari ini adalah hari kelulusan Putri, perasaan Kami campur aduk, senang karena bidadari
kecilnya sudah lulus sekolah dengan nilai yang memuaskan. Namun, akupun
merasakan perasaan sedih, ketika aku melihat anak-anak sebayanya bisa
melanjutkan ke perguruan tinggi. Sedangkan Putri tidak bisa karena
keterbatasan perekonomian Kami.
Seolah tahu dengan apa yang kurasakan, Putri hanya berkata pada Kami
kalau dia tak akan memaksakan
keinginannya untuk meneruskan kuliahnya. Dia memutuskan akan bekerja dan jika ada rejeki suatu hari
nanti, dia berharap bisa meneruskan kuliahnya.
Bukan kelegaan di hati yang kurasakan dengan
ucapannya, namun aku merasa aku bukan orangtua yang baik, aku tak bisa mewujudkan harapan anakku karena
faktor ekonomi.
***
Satu tahun, Putri bekerja di toko buku itu dengan gaji yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan dia, sesekali dia juga suka memberi Kami uang dari hasil bekerjanya. Walaupun aku
tak pernah mengharapkan sedikitpun. Namun, dia selalu mencoba untuk
membahagiakan Kami.
Putri...anakku...walaupun dia sudah beranjak
dewasa, namun sifat manjanya masih saja ada. Ketika malam datang, dia dengan
wajah manjanya selalu membujuk suamiku untuk tidur diluar sehingga dia bisa
tidur bersamaku. Kami bisa mengobrol, berbagi cerita dan bercanda. Kubelai rambutnya sampai dia tertidur...Itulah Putri anakku.
***
Sudah hampir beberapa belas tahun Kami tinggal
di kota kecil ini. Kota yang sepi jauh dari hiruk pikuk keramaian. Tapi Kami
bahagia. Sungguh bahagia. Sampai pada suatu saat beliau hadir lagi dalam
kehidupan Kami. Sahabatku...sahabatku
sekaligus Ibu kandung Putri.
Aku tak pernah menyangka, dari mana beliau tahu alamat
tempat tinggal Kami. Banyak perubahan yang aku lihat. Dia sekarang tampak mewah dan sangat mencolok.
Namun keramahan masih terpancar dari wajahnya. Kami memang bersahabat dekat dari
dulu. Sejak dia menyerahkan Putri beberapa belas tahun yang lalu, Kamipun jadi kehilangan komunikasi.
Dan baru saat itu kita bertemu lagi.
Ada perasaan yang sangat tidak nyaman dalam
diriku. Aku takut, dia akan membawa pergi Putri anakku. Maaf, kalau aku lancang menyebut Putri dengan sebutan anakku, karena aku merasa dia memang anakku.
Dan ternyata ketakutanku itu menjadi kenyataan.
Menurut ceritanya, setelah menyerahkan Putri pada Kami, dia bekerja di luar negeri dan menikah dengan
orang kaya asal Australia. Beliau menetap disana dan tujuan dia kesini ingin
bertemu anaknya yang tak lain adalah Putri. Aku bertambah
kaget lagi ketika dia berkata, ingin membawa Putri ke sana, tinggal bersamanya, menyekolahkan
dia dengan fasilitas yang baik.
Sebagai manusia biasa, sungguh aku marah.
Sungguh ingin aku usir dia dari hadapanku. Namun suamiku selalu menenangkan aku
supaya aku berfikir jernih. Namun, orangtua mana yang bisa berfikir jernih jika
berada dalam keadaanku saat itu.
Aku belum berbicara pada Putri tentang hal ini. Aku belum siap
kehilangan Putri jika
suatu saat nanti Putri memilih tinggal bersama Ibu kandungnya yang lebih kaya, yang
lebih bisa memenuhi semua kebutuhannya. Membayangkanpun aku tak sanggup.
Butuh waktu beberapa bulan untukku berfikir.
Disisi lain aku tak ingin kehilangan anakku, tapi jika aku berfikir bijaksana, Putri tak bisa terus-terus an hidup susah bersamaku. Dia punya
cita-cita, dia punya
harapan, dia punya masa
depan yang jauh lebih baik daripada hanya sebagai penjaga toko buku.
Akhirnya, aku putuskan hari itu untuk bilang
pada Putri tentang
rencana Ibu kandungnya.
Membawa dia keluar negeri untuk melanjutkan sekolahnya.
Awalnya putri menolak,
dia tak pernah kenal orangtua selain aku. Dia tak mau meninggalkan aku. Dia
bisa hidup tanpa kemewahan. Dia bahagia disini. Namun aku mencoba menjelaskan, bahwa hidup dia
akan lebih baik dengan Ibu
kandungnya. Ibu kandungnya akan memberikan kasih sayang yang sama denganku.
Putri menangis dan tentu akupun juga. Sakit
rasanya. Sulit dijelaskan dengan kata-kata. Aku juga
tak tahu apa aku kuat hidup tanpanya. Apa ini yang terbaik untuk putri...bidadari
kecilku?
Tapi keputusan sudah diambil, Putri anakku harus ikut dengan Ibu kandungnya, pergi meninggalkan Kami, meninggalkan hari-hari yang pernah Kami lalui tapi dia berjanji akan kembali setelah kuliahnya
lulus...entah kapankah
itu...
Sekarang tak ada lagi hari-hari indah bersamanya, tak ada canda
tawa, tak ada rambut indah yang selalu minta aku belai ketika malam tiba, tak
ada senyuman hangat di pagi hari ketika akan memulai aktifitas, tak
ada gurauan hangat saat dia pulang. Tak ada...karena Putri tak ada disini...
Secarik kertas berisi tulisan untuk Putri aku tulis...
Putri Anakku...Ibu tahu, ini bukan keinginan kita. Ibu hanya
ingin yang terbaik untukmu, untuk masa depanmu. Kebahagiaanmu adalah
kebahagiaan Ibu juga. Walaupun perasaan Ibu hancur dengan berpisah denganmu,
namun Ibu tahu suatu saat nanti kita akan bersama lagi.
Putri Anakku...kamarmu masih terlihat rapi,
seolah kamar itu juga merasakan kehilangan pemiliknya, cepat pulang nak...
Putri Anakku...Ibu dan Bapak selalu berharap,
kamu selalu berada dalam lindungan-NYA, karena hanya DIA yang bisa melindungimu
ketika kamu jauh dari Ibu.
***
Sampai saat ini...aku masih menunggu putriku
pulang, walaupun aku tak tahu sampai kapan aku harus menunggu. Putri anakku
seolah tak termiliki lagi. Apa aku harus mengikhlaskannya begitu saja???
Entahlah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar