Namaku Tarisa
Rahma, orang biasa memanggilku dengan sebutan Rahma. Kesuksesan karierku tidak
secemerlang kehidupan pribadiku. Aku dikenal orang sebagai dosen di Universitas ternama di
kota ini. Orang sekitar segan dengan jabatan dan pendidikan yang aku raih saat
ini. Namun semua itu terkadang tak membuatku bangga.
Masih ku lihat
buah hatiku yang tertidur lelap disampingku saat ini. Sesekali dia tersenyum
dengan mimpinya. Sungguh cantik sekali. Harta terindah yang aku miliki saat ini
hanyalah dia.
Aku buka jendela
kamarku, aku melihat bintang-bintang masih bersinar terang di langit. Kepekatan
malam saat itu menjadi cerah dengan kehadirannya. Tak terasa air mata ini jatuh
lagi. Berkali-kali aku menghapusnya, namun air mata itu tetap saja mengalir
tanpa bisa aku tahan. Lamunanku melayang dengan kejadian yang sangat
menyakitkan.
Aku mengenal
laki-laki yang saat ini menjadi mantan suamiku ketika aku menempuh bangku kuliah
dulu. Dia satu angkatan denganku hanya berbeda jurusan. Karena faktor kecocokan hingga akhirnya membuat
kita dekat. Walaupun usia Kami saat itu masih sangat muda, namun Kami sudah
mempunyai pemikiran yang matang untuk berumah tangga.
Setelah Kami
lulus kuliah, aku berencana untuk segera bekerja karena aku adalah anak tertua
dan mempunyai tanggungjawab untuk membiayai sekolah adik-adikku walaupun tak
ada tuntutan sama sekali dari orangtua. Berbeda dengan dia, dia berniat untuk
meneruskan sekolah S2 nya.
Aku masih ingat,
sore itu, hari selasa tanggal 2 januari beberapa tahun yang lalu, dia tiba-tiba
datang ke rumahku. Berniat untuk menemui kedua orangtuaku. Terbersit berjuta tanya saat
itu, karena tak biasanya dia datang mendadak.
Isi pembicaraan
sore itu sungguh membuatku kaget sekaligus bahagia, karena dia memaparkan ingin
melamarku sebelum dia pergi keluar negeri untuk melanjutkan S2 nya. Tanpa aku
tahu, selama ini dia banyak mengajukan beasiswa ke luar negeri untuk melanjutkan
kuliahnya dan ternyata harapannya terkabul.
Dia akan pergi
sekitar empat bulan lagi. Sebelum pergi dia
bermaksud untuk meminangku. Ada rasa bahagia dalam hati akan maksud baiknya,
namun entah kenapa hatiku seolah tak bisa merelakan dia pergi.
Kitapun bertunangan dan dia
pergi dalam waktu yang cukup lama. Kurang lebih sekitar dua tahun. Ketika aku
antar dia ke bandara, perasaan itu masih bersarang di hatiku. Apa mungkin ini
pertemuan kita yang terakhir. Namun aku mencoba menghapus semua rasa itu agar tak menjadi beban untukku.
***
Bulan berganti
bulan, tak terasa sudah satu tahun dia pergi. Komunikasi masih lancar tanpa
hambatan. Seminggu sekali dia pasti memberikan kabar padaku. Perlahan rasa ragu
itu hilang dari hatiku. Aku mencoba mengabaikan segala rasa yang menghantuiku
dengan fokus
pada pekerjaanku. Sejak dia pergi, aku diterima bekerja di salah satu perusahaan swasta
yang tak jauh dari tempat tinggalku saat ini.
Aku selalu
menghitung, dari hari kehari, bulan kebulan, kapan dia akan kembali. Tak terasa dua bulan lagi
dia akan kembali.
Selama dua bulan
itu, aku kehilangan kontak dengannya, entah kenapa. Aku memang takut, aku sangat takut
kehilangan dia. Lalu kemana dia? Apa yang terjadi dengannya, kenapa hal ini
bisa terjadi padaku. Aku coba tanyakan pada keluarganya. Namun keluarga mereka
seolah menutupi semuanya.
***
Dua bulan berlalu,
seharusnya dia ada disini bersamaku. Seharusnya aku bisa melihat dia saat ini,
seharusnya dia menemuiku. Namun dia tak ada. Aku coba untuk datang ke
keluarganya namun mereka sudah pindah. Aku coba menghubungi mereka lewat
telepon atau sms, namun tak ada satupun yang bisa dihubungi. Kenapa???
Aku sempat sakit
karena menahan beban di dada. Orangtua pun menjadi khawatir dengan keadaanku.
Namun mereka juga tak bisa berbuat apa-apa.
Enam bulan
berlalu, aku masih belum bisa melupakannya, aku belum bisa memahami apa yang
terjadi, aku belum bisa mengerti apa maksud semua ini. Air mata ini masih
mengalir setiap aku ingat perlakuannya padaku hingga pada suatu siang tepat dua
minggu setelah aku ulang tahun ada kiriman bunga dan sepucuk surat tersimpan
rapi di atas meja kerjaku.
Bunga mawar
merah kesukaanku.
Aku buka amplop
yang berisi surat itu…
Dear Tarisa
Rahma,
Selamat ulang
tahun, semoga gadisku ini selalu diberikan kebahagiaan selamanya...Kamu mungkin
bertanya-tanya, siapa aku? Aku tak berani mengenalkan diriku sendiri, karena aku tahu terlalu
banyak kesalahan yang aku lakukan
padamu…
Aku telah
meninggalkanmu dengan sangat terpaksa. Mungkin kamu tak akan pernah memaafkan
aku, namun tolong maafkan aku, karena aku yakin suatu saat nanti kamu akan mengerti kenapa kita
harus berpisah…
***
Tak terasa air
mata ini jatuh, sesak dada ini. Jika dia sudah tak mencintaiku, kenapa dia meninggalkanku harus
dengan cara seperti ini. Kita sudah bertunangan, bukan hanya aku yang tersakiti
namun juga kedua orangtuaku.
Aku tutup amplop
itu, aku buang beserta bunga indahnya. Jika ada suatu kata melebih kata sakit, itulah yang aku rasakan
saat itu.
***
Tiga tahun
berlalu, beban ini perlahan hilang. Aku berniat untuk melanjutkan sekolah S2ku,
aku ingin menjadi dosen karena itulah
cita-citaku sejak dulu. Setelah aku bicarakan dengan orngtua, merekapun setuju
dengan maksudku. Akhirnya aku melanjutkan sekolahku di Yogyakarta, jarak yang cukup
jauh dengan tempat tinggalku saat ini.
Semua berjalan
sesuai keinginan dan harapanku. Singkat cerita aku sudah lulus dan mendapat
gelar magister. Akupun sudah menjadi
seorang dosen dengan perjuangan yang tidak terlalu berat. Yang Maha Kuasa memang sudah memudahkan langkahku. Alhamdulillah…
Aku sekarang
mengajar disalah satu Universitas negeri di kota ini. Aku bahagia, dengan apa yang aku
raih. Orangtuaku pasti bangga dengan prestasi ini. Namun kenapa ada rasa miris
di hati tentangku.
Dengan usiaku yang sudah cukup dewasa dan
sudah selayaknya berumah tangga, kenapa tak ada rasa yang bisa menggantikan
posisi dia di hatiku. Ada beberapa laki-laki yang datang untuk meminangku,
namun rasa yang dulu itu tak pernah ada. Aku belum bisa melupakannya walaupun
dia sudah menyakiti hatiku sangat dalam.
***
Siang itu,
selepas mengajar, aku berniat akan membeli buku kesebuah toko buku tak jauh
dari kampus tempat aku mengajar. Sedang asyik memilih buku yang akan aku beli.
Aku melihat tepat didepan mataku sosok yang aku sendiri hampir tak percaya.
Dia…dia hadir lagi didepan mataku. Apa ini kebetulan?
Mataku seolah
tak berkedip, nafasku seolah terhenti, aliran darahku seolah tersumbat ketika
aku melihat sosok yang telah melukai hatiku hadir didepan mataku lagi. Ingin aku
menjerit saat itu, ingin aku memaki dia, namun aku coba menahan semua rasa dan yang
ada hanya seulas senyum.
“ Halo, apa
kabar?” kalimat pertama yang muncul dari mulutnya. Mulut yang pernah
mengeluarkan kata-kata yang membuat hati ini menangis.
“Baik...” jawabku singkat.
***
Pertemuan itu
membuatku merasa menjadi orang yang
sangat bodoh, namun disisi lain, aku juga merasa
menjadi orang yang bijaksana yang masih mau mendengarkan dan berbicara dengan
orang seperti dia. Namun, aku ingin melatih diriku untuk selalu bersabar dan
ikhlas menerima setiap ketentuan-NYA.
Hari berganti
hari, jika aku harus berkata jujur, hatiku memang tak pernah berubah. Rasa bahagia yang ada
di hati masih seperti dulu ketika dia hadir. Entah bodoh atau apa, yang pasti aku masih
merindukannya.
***
Dia menceritakan
kalau rumah
tangga yang dia bangun dengan istrinya sudah kandas, diapun menjelaskan kenapa dia pergi
dari hidupku saat itu. Kepergian yang tidak wajar. Semula aku tak mengerti
dengan semua ini, namun lagi-lagi perasaan cintaku padanya mengalahkan logika
yang ada.
Semakin hari
Kami semakin dekat. Aku mulai mempercayainya lagi, aku mulai memberikan hatiku
lagi padanya. Hingga pada suatu hari, dia datang untuk melamarku lagi.
Sudah aku tebak,
orangtuaku pasti melarangku. Mereka marah dengan keinginanku. Keinginan untuk
menikah dengan dia. Berkali-kali orangtua menasehatiku untuk tidak pernah
berhubungan dengan dia lagi namun entah kenapa seolah aku tak peduli dengan omongan mereka.
Aku terus
memaksa orangtuaku untuk merestui, namun tetap mereka tak memberikan ijin.
Sampai akhirnya aku pergi dari rumah dan memutuskan untuk menikah dengan dia.
Aku memang anak
yang berdosa, aku memang anak yang tak tahu terimaksih, aku memang anak yang
tak pantas dikatakan anak oleh orangtuaku. Kekecewaan dan sakit hati, mungkin
tengah merasuki hati orangtuaku saat ini. Namun, aku mencintainya, sungguh mencintainya…
***
Satu tahun
berlalu, aku merindukan keluargaku, aku rindu Ibu dan Ayah. Aku juga merindukan adik-adikku walaupun sekarang sudah hadir bayi mungil yang menghiasi hari-hariku, namun itu tak
menjadi obat rasa rinduku pada mereka. Kata maafpun mungkin tak akan pernah
bisa mewakili rasa bersalahku.
Tiga tahun pernikahan
Kami, semua masih baik-baik saja. Hanya keganjilan demi keganjilan kian datang. Suamiku, selalu
datang larut malam. Kadang dia tak pernah pulang. Jika aku tanya, hanya kemarahan yang dia berikan. Kadang aku tak
kuat karena sifatnya yang semakin keras. Sedikit-sedikit marah, membentak, hanya karena hal sepele.
Hari itu, tak
seperti biasanya Kami bangun kesiangan. Dia marah-marah karena aku tak
membangunkannya. Dia pergi dengan buru-buru karena kebetulan hari itu ada rapat
pagi di kantornya. Namun aku sendiri tak ada jadwal mengajar hari itu.
Aku melihat handphonenya ketinggalan. Aku iseng
melihat isi pesannnya dan dengan sangat terkejut aku melihat ada beberapa sms mesra dengan wanita
lain. Siapa wanita itu?
Tanpa berfikir
panjang, aku telepon dia, dan memintanya untuk segera pulang. Aku tak peduli
ada rapat atau tidak. Dia marah akupun bisa balik marah. Hingga akhirnya dia pun
memutuskan untuk pulang.
Siang itu Kami
bertengkar hebat, tak ku sangka,dia masih berhubungan dengan mantan istrinya
dulu. Wanita ini yang hadir diantara kita dulu. Sekarang dia hadir lagi untuk menghancurkan
keutuhan rumah tangga.
Kejujurannya membuat aku sangat sakit hati, kejujurannya membuat aku pedih. Dia memutuskan ingin kembali menikahi mantan istrinya dulu. Entah apa
yang ada difikirannya saat itu. Hingga
akhirnya aku meminta cerai.
Terlintas sangat
jelas, nasihat-nasihat
orangtua padaku. Kini aku sadar dengan
semua ucapan mereka. Perceraian adalah sesuatu yang
sangat dibenci Tuhan. Aku sangat tak percaya kalau
saat ini aku mengalaminya. Predikat janda sungguh tak
mengenakkan, namun inilah hidupku…jalan hidupku.
***
Hari itu aku berniat
untuk menemui orangtuaku di kampung halaman, aku ingin meminta maaf, aku ingin bersujud didepan
mereka. Aku tak peduli kalau nantinya aku akan diusir, dicerca, dimaki, sungguh aku tak peduili, karena
yang aku inginkan hanya ampunan maaf.
Sesampai didepan
rumah, ku coba mengetuk pintu, dan keluarlah sesosok wanita yang masih cantik
walalupun sudah berumur. Dia hampir tak percaya dengan kehadiranku. Tanpa
sepatah kata,
yang ada hanya air mata yang mewakili perasaan Kami saat itu. Hari itu semua berbalut pelukan hangat.
Aku menceritakan
semua kisahku
dan benar saja, hanya keluarga yang mampu menerima seburuk apapun kita. Aku
memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan membesarkan sang buah hati
tanpa Ayahnya.
Kelak, aku
berharap buah hatiku akan bangga mempunyai Ibu sepertiku.
Untuk otangtuaku, kalian memang
berhati suci, tak cukup kata untuk menggambarkan betapa berartinya kalian dalam
hidupku. Aku
mungkin anak yang tak tahu diri, aku memang anak yang tak berperasaan, namun
dengan tangan terbuka, tanpa hardikan, tanpa caci maki, tanpa cercaan, kalian
dengan sangat mudah memaafkan segala kesalahanku.
Aku bermohon padamu Tuhan...jika ada rasa sakit
pada mereka biarlah aku yang menanggungnya...jika ada kesalahan pada mereka,
biar aku yang menebusnya...bahagiakanlah mereka…
Untuk anakku…Ibu berjanji akan menjadi
orangtua yang bisa kamu banggakan…kamu tak kan kehilangan sosok Ayah, karena Ibu berjanji akan memenuhi
segala kebutuhanmu…
Anakku…jadilah partner hidup ibu yang baik. Kita bangun hidup ini
dengan senyuman, tanpa air mata, tanpa rasa sakit. Kita mulai semuanya dengan kebahagiaan dan kita
akhiri pula dengan kebahagiaan yang abadi. Kelak Ibu akan menceritakan semuanya padamu dan Ibu berharap, bukan benci
dan dendam yang ada dihatimu namun perasaan ikhlas bahwa semua terjadi karena
kasih sayang Tuhan yang begitu besar pada kita. Tuhan Maha Tahu yang terbaik untuk kita. Yang pasti janganlah
kita jatuh pada lubang yang sama. Hidup adalah pilihan...
Semoga tetap sabar aja ya. Salam kenal.
BalasHapus