Ini sungguh
mimpi buruk!!! Itu yang selalu aku rasakan ketika menjalani pernikahan bersamanya.
Pernikahan yang sudah aku bangun sekitar dua tahun lamanya. Tak pernah ada
cinta, tak
pernah ada sayang, yang ada hanyalah penuh sesak dalam dada.
Dua tahun aku
merasa tersiksa dengan semua ini. Menikah dengan pilihan orangtua yang tak
pernah aku mengenalnya sebelumnya. Semua terjadi karena orang yang aku cinta harus menikah
dengan orang lain.
Selama berbulan-bulan aku hidup dalam kesedihan
setelah dia memutuskan pergi dari hidupku dan memilih merangkai cerita baru
dengan orang lain. Hidupku hampa tanpa cinta sampai akhirnya orangtuaku
memutuskan untuk menjodohkan aku dengan suamiku sekarang.
Aku berfikir
saat itu aku bisa bahagia dengannya dan melupakan semua masa laluku. Namun
semua tak seindah bayanganku. Sampai aku diberi karunia terindahpun, seorang
bidadari kecil, aku tetap tidak pernah merasakan keindahan dan kebahagiaan itu.
Pikiran dan anganku terus melayang pada dia yang sudah mencampakkan aku.
Muhammad Fahri…itulah
suamiku, aku biasa memanggilnya dengan sebutan Mas Fahri. Entah kenapa beribu-ribu kali dia protes padaku untuk tidak
memanggilnya dengan sebutan “Mas…”, namun aku tak pernah menggubrisnya.
“Bu…panggil aku
dengan sebutan Ayah saja”, kalimat itu yang sering menggangguku. Permintaan
yang aku anggap seperti anak kecil yang
sedang minta jajan pada Ibunya. Aku hanya bisa tersenyum, walau di hatiku terasa
sangat menyakitkan.
Mas Fahri adalah
seorang Ayah dan suami yang luar biasa. Aku yakin, setiap wanita pasti
mendambakan sosok suami sepertinya. Dia
suami yang bertanggungjawab, lembut dan sabar. Dia seorang
suami yang sangat baik. Seandainya hatiku sama seperti pikiranku, mungkin aku adalah wanita yang paling bahagia.
Aku sadar, suamiku mengetahui kalau aku tak
pernah mencintainya. Sifat dan kelakuanku yang sangat tidak baik, dihadapi
dengan kesabaran.
“Aku akan
menunggumu sampai kamu benar-benar mencintaiku” ucapnya pada suatu malam. Ada rasa terharu dalam hatiku, ada juga rasa kasihan, namun
semua sirna ketika aku sadar kalau aku benar-benar tidak pernah menginginkan dia menjadi
suamiku.
***
Pagi itu, udara
sangat dingin, rintik-rintik hujan terdengar samar-samar dari balik kamar. Aku singkapkan
tirai dibalik jendela, memang benar hujan semakin
deras. Aku coba terbangun dari tempat tidur, namun kepalaku masih sakit,
mungkin pengaruh begadang semalam akibat kerjaan yang tak kunjung selesai.
Andai saja aku mau menuruti saran suamiku untuk menjadi Ibu Rumah Tangga saja,
mungkin aku tak akan sakit seperti ini.
“Bu…sudah
bangun?” suara Mas Fahri membuyarkan lamunanku.
“Ibu gak usah pergi kerja hari
ini ya, Ibu kan lagi sakit,
apalagi diluar cuaca sangat dingin, biar Ayah yang minta ijin ke kantor kalau hari ini Ibu tidak bisa masuk.” kata
Mas Fahri.
Udara pagi itu
memang sangat luar biasa dinginnya. Angin yang berhembus seolah menari-nari menelusup kebalik
kulitku dan memeluk seluruh tulang-tulangku. Tak biasanya memang sedingin ini, atau mungkin karena aku sedang
tak enak badan. Entahlah…
“Aku gak bisa Mas, aku harus
masuk...” jawabku
singkat. Seperti biasa Mas Fahri hanya mengelus-ngelus kepalaku ketika egoku
muncul. Ingin aku merasakan kebahagiaan, namun kenapa belum bisa.
“Ya sudah kalau begitu, Ayah sudah menyiapkan
sarapan buat Ibu di meja makan, Ibu mandi, lalu Ayah tunggu dimeja makan yah….” Kata Mas Fahri.
Mas Fahri
melangkah pergi dari kamar, aku masih terdiam dengan selimut yang masih aku
genggam. Kok
ada laki-laki
yang tahan hidup bersamaku. Padahal dia tahu, aku tak pernah mencintainya.
***
Hari itu,
aktifitas berjalan seperti biasanya. Aku berangkat kerja begitupun dengan
suamiku. Kita
baru bisa bertemu
dimalam hari. Hampir setiap hari
kita melewati hari dengan rutinitas yang sama. Terkadang setelah aku pulang
kerja, aku kumpul dengan teman-temanku dulu dan menghabiskan waktu hanya
sekedar ngobrol atau melepas jenuh. Jika aku telat pulang ke rumah,
Mas Fahri yang bertugas untuk menjaga Keysha, anak Kami.
Keysa adalah
bidadari cantik yang masih berusia 1 tahun. Aku memang merasa bersalah, dalam
usia yang masih kecil, aku harus memutuskan mengasuhnya dengan seorang pengasuh
anak. Suamiku memang tidak pernah mempersoalkan itu. Namun untuk berhenti
bekerja sepertinya belum bisa aku lakukan saat ini.
***
Malam itu, aku
melihat Mas fahri sedang mencoba menidurkan Keysha. Tugas seorang Ibu
seharusnya, namun Mas Fahri selalu mengerjakannya dengan penuh kasih. Sampai
aku lihat Keysha tertidur nyaman dipelukan Ayahnya.
Aku duduk di sofa dan Mas
Fahri menatapku sambil tersenyum, “Aku jago menidurkan Keysha kan...?”
kata Mas Fahri sambil melangkah pergi untuk menidurkan
anak Kami di kamar. Kemudian Mas Fahri kembali bicara,
”Ibu tunggu Ayah disini yah…”
Aneh memang,
kenapa dia bisa sesabar ini. Aku sadar, aku bukan istri dan bukan Ibu yang baik. Aku
habiskan waktuku diluar dengan kerja.
Semua yang aku lakukan untuk membunuh waktu hidup bersamamu Mas...kenapa kamu tak pernah
sadar, kenapa
kamu tak mengambil jalan perceraian saja. Aku rela kamu tinggalkan. Hanya dalam hati aku bisa melontarkan semua itu.
Mas Fahri
menghampiriku, lalu duduk disebelahku. Dia menatapku dan berkata, “Ibu belum bisa
mencintai Ayah yah?” tanya Mas Fahri.
“Kenapa Ayah
bicara seperti itu?” tanyaku.
“Ayah merasakan
itu Bu, sakit...sangat sakit…” jawabnya. Aku tak bisa menjawab apapun, aku memilih untuk pergi meninggalkan
Mas Fahri dan memilih tidur. Jauh didalam
lubuk hatiku, akupun merasakan kekecewaan yang teramat dalam pada hatiku.
Kenapa aku tak bisa mencintaimu Mas…
***
Pagi itu, aku
bangun pagi-pagi sekali karena ada meeting pagi
dengan atasanku. Aku tak boleh terlambat, karena jika aku terlambat aku akan dinilai tidak
disiplin yang akhirnya akan merugikan aku. Apalagi aku sedang dipromosikan naik jabatan
menjadi manager keuangan. Bisa kacau
kalau aku mengecewakan atasanku. Aku
sempat berfikir, kenapa aku begitu takut mengecewakan
orang lain, padahal setiap hari aku selalu mengecewakan suamiku. Tapi
sudahlah…
Aku siapkan roti
dengan selai
untuk sarapan Mas Fahri, aku juga sudah siapkan susu untuk Keysha. Aku
tak sempat pamitan dengan suamiku karena dia masih di kamar mandi,
aku tinggalkan pesan lewat sms dan langsung melangkah pergi.
Sekitar pukul
7.00, aku lihat hpku, ada balasan sms dari mas Fahri, “Hati-hati di jalan sayang….”. Tak kubalas lagi, aku langsung tutup hpku
dan kusimpan kembali dalam tas.
Waktu berjalan,
acara meetingpun lancar. Puas rasanya, tak sia-sia aku berangkat pagi-pagi meninggalkan rumah
hanya pamit lewat sms. Aku cek kembali handphoneku, ada 5 kali panggilan tak
terjawab, aku lihat ternyata panggilan dari Mas
Fahri. Aku
tak mencoba telepon balik. Tak lama, ada sms masuk...
“Sayang…gimana meetingnya, lancar?” isi sms Mas Fahri.
“Lancar Mas...” jawabku
singkat.
Selalu begitu,
jawabku seperlunya, tak pernah ada balik tanya atau apapun, tak pernah ada hangat sapaku untuk Mas Fahri karena
kufikir itu tak perlu.
***
Malam itu Mas
fahri sakit, mungkin karena kecapean. Melihat kondisinya yang sangat
mengkhawatirkan timbul rasa iba di hatiku. Apa ini perasaan sayang? Aku tak tahu, yang pasti
aku merasa sebagian hatiku juga merasakan sakit.
“Bu…bisa tolong
Ayah ambilkan obat sakit kepala?” kata Mas Fahri.
Aku ambilkan
obat sakit kepala dan membantunya untuk minum obat. Aku ambilkan sweater tebal, aku bantu pakaikan ke tubuhnya.
Tubuhnya sangat panas. Aku pakaikan dia kaos kaki, biar kakinya merasakan
hangat. Terasa ada yang indah dalam hatiku. Entah perasaan apa itu. Sampai
akhirnya aku menemaninya sampai dia terlelap.
***
Keesokan
paginya, aku melihat kondisinya sudah cukup baik. Aku lihat dia sedang asyik
membuat kopi di dapur. Selama Kami menikah, Mas Fahri tak pernah meminta tolong
membuatkan apapun, apalagi merepotkan aku. Dia selalu mengerjakannya sendiri.
“Bu…terimakasih ya semalam sudah merawat
Ayah, sekarang Ayah sudah sehat…”
kata Mas Fahri.
Aku hanya tersenyum. Bukankah itu kewajiban
seorang istri untuk melayani suaminya apalagi disaat dia sedang sakit. Kenapa
dia bisa sampai mengucapkan kata terimakasih. Mungkin karena tak biasanya aku
seperti itu.
“Oya Bu, uang bulanan untuk
keperluan Ibu dan Keysha sudah Ayah transfer, Ibu bisa cek nanti ya...” katanya.
“Oke Mas...” jawabku
singkat.
Awal bulan inilah yang selalu aku tunggu-tunggu. Rekening penuh
dan bisa belanja. Mas Fahri tidak pernah
menanyakan kenapa uang habis, digunakan untuk apa, apalagi menanyakan kenapa aku begitu
boros…tidak pernah. Beliau sangat percaya dan selalu berusaha memanjakanku.
Seperti siang
itu, kebetulan hari libur, aku menyempatkan diri untuk membeli keperluan Keysha
dan Mas Fahri. Ditengah-tengah kesibukan berbelanja, aku melihat ada tas kerja yang bagus dan harganyapun cukup mahal. Aku
lihat uangku, cukup sih…tapi kalau aku beli tas itu, keuanganku pasti menipis.
Kalau aku minta suamiku rasanya tak mungkin. Tabungannya kemarin sudah dipakai untuk biaya
kuliah adiknya. Tapi tas itu terus membayangi pikiranku. Akhirnya, aku coba telepon
Mas Fahri.
“Halo Mas…”sapaku.
“Ya
sayang…kenapa? Tumben telpon…” jawabnya.
“Aku lihat tas tapi harganya
mahal...” kataku.
“Berapa? Ya sudah nanti kekurangannya
Ayah transfer yah…” jawab suamiku.
Mas Fahri selalu
memanjakanku, padahal aku tahu, tabungan dia semakin berkurang. Tapi dia selalu berusaha menyenangkan hatiku.
***
Sore itu
sepulang dari belanja, Mas fahri sudah menungguku di ruang tengah. Sambil
tersenyum dia bilang, “Mana tasnya Bu…Ayah pengen liat...?”. Dengan bangganya aku perlihatkan tas mahal itu.
“Bagus gak Mas??” tanyaku.
“Bagus Bu, hanya Ayah ingin mengingatkan…Ibu
tak perlu beli barang-barang yang mahal-mahal tapi fungsinya sama dengan yang sudah ada, tas Ibu kan sudah banyak...” kata Mas Fahri.
“Kalau Mas gak suka, lalu
kenapa Mas kasih aku ijin untuk beli tas itu...?” jawabku marah.
“Bukan gitu Bu maksud Ayah….” tak sempat
meneruskan kata-katanya, aku langsung pergi meninggalkan Mas Fahri yang masih terlihat
ingin menjelaskan sesuatu.
Aku marah…aku
kesal…padahal kalau difikir-fikir sih, omongan Mas Fahri ada benarnya. Aku terlalu boros dengan
kehidupanku.
Dua hari aku
mendiamkan suamiku. Hingga dihari ketiga, Mas Fahri meminta ijin keluar kota karena ada
pekerjaan yang harus dia selesaikan disana. Aku hanya bilang, ”Hati2 dijalan Mas…”. Nampaknya dia sudah siap dengan perlengkapan yang harus dia bawa. Rencanya sekitar tiga hari
dia diluar kota.
***
Sudah dua hari
Mas Fahri diluar kota, aku tak pernah merasa kehilangan, tak pernah merasa
merindukannya,
sampai pada suatu hari, tanpa sengaja aku menemukan buku harian Mas Fahri
didalam lemari ketika aku sedang membereskan baju-bajunya yang sudah disetrika rapi oleh pembantuku.
Buku berwarna
coklat tua itu, aku lihat lembar perlembar. Bukunya seperti buku harian. Sejak kapan Mas
Fahri suka menulis. Aku sudah terlalu lama menerlantarkan dia, sampai aku tak tahu kalau suamiku
suka menulis.
Aku buka lembar
pertama, kedua, dan seterusnya. Sampai pada lembaran berikutnya aku menemukan
curahan hati Mas Fahri…
Nadia Ayu Lestari…istriku, istri yang sangat aku sayangi walaupun aku tahu kau tidak pernah menyayangiku…
Kubuka lembar
berikutnya…
Istriku sayang…apa
yang harus aku lakukan supaya kamu bisa
mencintaiku seperti aku mencintaimu…Aku tak peduli jika kamu mau menghabiskan waktumu diluar dengan segudang pekerjaanmu dan
membiarkan aku terlunta…aku rela…hanya berilah sedikit cintamu untukku agar aku
bisa merasakan kebahagiaan itu…kebahagiaan yang aku tunggu selama ini...wujudkanlah harapanku,istriku…
Ku buka lagi
lembar berikutnya…
Sejujurnya aku ingin marah, sejujurnya aku kecewa
dengan sikapmu…namun aku tak ingin menunjukkan kekecewaanku, karena aku tahu kamu sudah rela menghabiskan sisa hidupmu bersamaku, padahal kamu tak
pernah mencintaiku…Kamu boleh bilang aku suami
tidak tegas, kamu boleh bilang aku suami
yang bodoh…Tapi aku akan selalu berusaha untuk menjadi suami yang baik untukmu…
Aku hampir tak
kuasa menahan tangis, sebegitu tersiksanya suamiku hidup denganku...Lalu aku buka lagi lembaran lainnya...
Istriku…Kenapa kau tak pernah memanggilku dengan
sebutan Ayah…? Sebegitu beratkah lidahmu mengucapkan kata itu untukku? Aku suamimu, aku Ayah dari
anak kita…kenapa nadia…kenapa???
Rasanya aku tak
sanggup untuk meneruskan kembali
curahan hati suamiku itu. Rasa sakit dan kecewa terus menjalar di hatiku saat
itu.
***
Hatiku tersentak, tiba-tiba terasa ada kerinduan
yang teramat dalam di hatiku. Satu hari lagi Ayah pulang. Satu kata pertama yang aku ucapkan
untuknya…panggilan, “Ayah”. Kenapa terasa lama sekali menunggu hari esok. Aku tak pernah
menyadari, begitu besar karunia Tuhan padaku. Aku mendapatkan suami yang sangat baik. Sudah
terlalu lama aku hidup dengan keegoisan, aku tidak pernah melihat
disekelilingku ada orang yang begitu mencintaiku melebihi dirinya sendiri.
Kerinduan ini
tak pernah aku rasakan sebelumnya, kerinduan pada suamiku…suami yang sudah aku
sia-siakan. Ku amnil handphoneku, aku ingin menelepon suamiku.
“Halo Ayah…”sapaku.
“Halo…halo…ya Bu...” jawab Mas Fahri terbata-bata, sepertinya dia tak percaya dengan apa
yang dia dengar.
“ Aku
mencintaimu Yah, cepat pulang...” tak kuasa aku meneruskan obrolan Kami.
***
Setelah aku
berfikir panjang, setelah aku berdiskusi dengan hatiku sendiri, akhirnya
keputusan inipun aku ambil. Cukup berat tapi aku harus bisa.
Ku ambil secarik
kertas….aku tulis pada baris pertama…”Surat
Pengunduran Diri”.
Aku akan menjadi
istri yang baik untukmu Yah…aku akan menjadi ibu rumah tangga yang baik, demi kamu dan anak kita, aku
akan melupakan promosi jabatan sebagai manager. Semua aku lakukan demi
kamu kita.
Besok, suamiku pulang, tak sabar rasanya ingin
aku bisikkan, “Aku mencintaimu, Mas Fahri...” sekarang dan selamanya.
Nice story hehe, tapi kasihan juga ke Fahri nya. Untung istrinya akhirnya sadar juga.
BalasHapusMba,apa yang menimpa mba terjadi jg kpad saya,saya tidak mencintai istri saya..padahl sya baru menikah...saya merasa istri saya sudah bisa mncintai saya,kami jodohan(taaruf)..masya allah saya sangat tersiksa batin..hidup bersama orang yang tidak saya cintai
BalasHapusnext...
BalasHapus