17 Jan 2013

Aku Mencintaimu, Mas Fahri...

Ini sungguh mimpi buruk!!! Itu yang selalu aku rasakan ketika menjalani pernikahan bersamanya. Pernikahan yang sudah aku bangun sekitar dua tahun lamanya. Tak pernah ada cinta, tak pernah ada sayang, yang ada hanyalah penuh sesak dalam dada.

Dua tahun aku merasa tersiksa dengan semua ini. Menikah dengan pilihan orangtua yang tak pernah aku mengenalnya sebelumnya. Semua terjadi karena orang yang aku cinta harus menikah dengan orang lain.

Selama berbulan-bulan aku hidup dalam kesedihan setelah dia memutuskan pergi dari hidupku dan memilih merangkai cerita baru dengan orang lain. Hidupku hampa tanpa cinta sampai akhirnya orangtuaku memutuskan untuk menjodohkan aku dengan suamiku sekarang.

Aku berfikir saat itu aku bisa bahagia dengannya dan melupakan semua masa laluku. Namun semua tak seindah bayanganku. Sampai aku diberi karunia terindahpun, seorang bidadari kecil, aku tetap tidak pernah merasakan keindahan dan kebahagiaan itu. Pikiran dan anganku terus melayang pada dia yang sudah mencampakkan aku.



Muhammad Fahri…itulah suamiku, aku biasa memanggilnya dengan sebutan Mas Fahri. Entah kenapa beribu-ribu kali dia protes padaku untuk tidak memanggilnya dengan sebutan “Mas…”, namun aku tak pernah menggubrisnya.

“Bu…panggil aku dengan sebutan Ayah saja”, kalimat itu yang sering menggangguku. Permintaan yang aku anggap seperti anak kecil yang sedang minta jajan pada Ibunya. Aku hanya bisa tersenyum, walau di hatiku terasa sangat menyakitkan.

Mas Fahri adalah seorang Ayah dan suami yang luar biasa. Aku yakin, setiap wanita pasti mendambakan sosok suami sepertinya. Dia suami yang bertanggungjawab, lembut dan sabar. Dia seorang suami yang sangat baik. Seandainya hatiku sama seperti pikiranku, mungkin aku adalah wanita yang paling bahagia.

 Aku sadar, suamiku mengetahui kalau aku tak pernah mencintainya. Sifat dan kelakuanku yang sangat tidak baik, dihadapi dengan kesabaran.

“Aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar mencintaiku” ucapnya pada suatu malam. Ada rasa terharu dalam hatiku, ada juga rasa kasihan, namun semua sirna ketika aku sadar kalau aku benar-benar tidak pernah menginginkan dia menjadi suamiku.

***

Pagi itu, udara sangat dingin, rintik-rintik hujan terdengar samar-samar dari balik kamar. Aku singkapkan tirai dibalik jendela, memang benar hujan semakin deras. Aku coba terbangun dari tempat tidur, namun kepalaku masih sakit, mungkin pengaruh begadang semalam akibat kerjaan yang tak kunjung selesai. Andai saja aku mau menuruti saran suamiku untuk menjadi Ibu Rumah Tangga saja, mungkin aku tak akan sakit seperti ini.

“Bu…sudah bangun?” suara Mas Fahri membuyarkan  lamunanku.

“Ibu gak usah pergi kerja hari ini ya, Ibu kan lagi sakit, apalagi diluar cuaca sangat dingin, biar Ayah yang minta ijin ke kantor  kalau hari ini Ibu tidak bisa masuk.” kata Mas Fahri.

Udara pagi itu memang sangat luar biasa dinginnya. Angin yang berhembus seolah menari-nari menelusup kebalik kulitku dan memeluk seluruh tulang-tulangku. Tak biasanya memang sedingin ini, atau mungkin karena aku sedang tak enak badan. Entahlah…

“Aku gak bisa Mas, aku harus masuk...” jawabku singkat. Seperti biasa Mas Fahri hanya mengelus-ngelus kepalaku ketika egoku muncul. Ingin aku merasakan kebahagiaan, namun kenapa belum bisa.

“Ya sudah kalau begitu, Ayah sudah menyiapkan sarapan buat Ibu di meja makan, Ibu mandi, lalu Ayah tunggu dimeja makan yah….” Kata Mas Fahri.

Mas Fahri melangkah pergi dari kamar, aku masih terdiam dengan selimut yang masih aku genggam. Kok ada laki-laki yang tahan hidup bersamaku. Padahal dia tahu, aku tak pernah mencintainya.

***

Hari itu, aktifitas berjalan seperti biasanya. Aku berangkat kerja begitupun dengan suamiku. Kita baru bisa bertemu dimalam hari. Hampir setiap hari kita melewati hari dengan rutinitas yang sama. Terkadang setelah aku pulang kerja, aku kumpul dengan teman-temanku dulu dan menghabiskan waktu hanya sekedar ngobrol atau melepas jenuh. Jika aku telat pulang ke rumah, Mas Fahri yang bertugas untuk menjaga Keysha, anak Kami.

Keysa adalah bidadari cantik yang masih berusia 1 tahun. Aku memang merasa bersalah, dalam usia yang masih kecil, aku harus memutuskan mengasuhnya dengan seorang pengasuh anak. Suamiku memang tidak pernah mempersoalkan itu. Namun untuk berhenti bekerja sepertinya belum bisa aku lakukan saat ini.

***

Malam itu, aku melihat Mas fahri sedang mencoba menidurkan Keysha. Tugas seorang Ibu seharusnya, namun Mas Fahri selalu mengerjakannya dengan penuh kasih. Sampai aku lihat Keysha tertidur nyaman dipelukan Ayahnya.

Aku duduk di sofa dan Mas Fahri menatapku sambil tersenyum, “Aku jago menidurkan Keysha kan...?” kata Mas Fahri sambil melangkah pergi untuk menidurkan anak Kami di kamar. Kemudian Mas Fahri kembali bicara, ”Ibu tunggu Ayah disini yah…”

Aneh memang, kenapa dia bisa sesabar ini. Aku sadar, aku bukan istri dan bukan Ibu yang baik. Aku habiskan waktuku diluar dengan kerja. Semua yang aku lakukan untuk membunuh waktu hidup bersamamu Mas...kenapa kamu tak pernah sadar, kenapa kamu tak mengambil jalan perceraian saja. Aku rela kamu tinggalkan. Hanya dalam hati aku bisa melontarkan semua itu.

Mas Fahri menghampiriku, lalu duduk disebelahku. Dia menatapku dan berkata, “Ibu belum bisa mencintai Ayah yah?” tanya Mas Fahri.

“Kenapa Ayah bicara seperti itu?” tanyaku.

“Ayah merasakan itu Bu, sakit...sangat sakit…” jawabnya. Aku tak bisa menjawab apapun, aku memilih untuk pergi meninggalkan Mas Fahri dan memilih tidur.  Jauh didalam lubuk hatiku, akupun merasakan kekecewaan yang teramat dalam pada hatiku. Kenapa aku tak bisa mencintaimu Mas…

***

Pagi itu, aku bangun pagi-pagi sekali karena ada meeting pagi dengan atasanku. Aku tak boleh terlambat, karena jika aku terlambat aku akan dinilai tidak disiplin yang akhirnya akan merugikan aku. Apalagi aku sedang dipromosikan naik jabatan menjadi manager keuangan. Bisa kacau kalau aku mengecewakan atasanku. Aku sempat berfikir, kenapa aku begitu takut mengecewakan orang lain, padahal setiap hari aku selalu mengecewakan suamiku. Tapi sudahlah…

Aku siapkan roti dengan selai untuk sarapan Mas Fahri, aku juga sudah siapkan susu untuk Keysha.  Aku tak sempat pamitan dengan suamiku karena dia masih di kamar mandi, aku tinggalkan pesan lewat sms dan langsung melangkah pergi.

Sekitar pukul 7.00, aku lihat hpku, ada balasan sms dari mas Fahri, “Hati-hati di jalan sayang….”. Tak kubalas lagi, aku langsung tutup hpku dan kusimpan kembali dalam tas.

Waktu berjalan, acara meetingpun lancar.  Puas rasanya, tak sia-sia aku berangkat pagi-pagi meninggalkan rumah hanya pamit lewat sms. Aku cek kembali handphoneku, ada 5 kali panggilan tak terjawab, aku lihat ternyata panggilan dari Mas Fahri. Aku tak mencoba telepon balik. Tak lama, ada sms masuk...

“Sayang…gimana meetingnya, lancar?” isi sms Mas Fahri.

“Lancar Mas...” jawabku singkat.

Selalu begitu, jawabku seperlunya, tak pernah ada balik tanya atau apapun, tak pernah ada hangat sapaku untuk Mas Fahri karena kufikir itu tak perlu.

***

Malam itu Mas fahri sakit, mungkin karena kecapean. Melihat kondisinya yang sangat mengkhawatirkan timbul rasa iba di hatiku. Apa ini perasaan sayang? Aku tak tahu, yang pasti aku merasa sebagian hatiku juga merasakan sakit.

“Bu…bisa tolong Ayah ambilkan obat sakit kepala?” kata Mas Fahri.

Aku ambilkan obat sakit kepala dan membantunya untuk minum obat. Aku ambilkan sweater tebal, aku bantu pakaikan ke tubuhnya. Tubuhnya sangat panas. Aku pakaikan dia kaos kaki, biar kakinya merasakan hangat. Terasa ada yang indah dalam hatiku. Entah perasaan apa itu. Sampai akhirnya aku menemaninya sampai dia terlelap.

***

Keesokan paginya, aku melihat kondisinya sudah cukup baik. Aku lihat dia sedang asyik membuat kopi di dapur. Selama Kami menikah, Mas Fahri tak pernah meminta tolong membuatkan apapun, apalagi merepotkan aku. Dia selalu mengerjakannya sendiri.

“Bu…terimakasih ya semalam sudah merawat Ayah, sekarang Ayah sudah sehat…” kata Mas Fahri. 

Aku hanya tersenyum. Bukankah itu kewajiban seorang istri untuk melayani suaminya apalagi disaat dia sedang sakit. Kenapa dia bisa sampai mengucapkan kata terimakasih. Mungkin karena tak biasanya aku seperti itu.

“Oya Bu, uang bulanan untuk keperluan Ibu dan Keysha sudah Ayah transfer, Ibu bisa cek nanti ya...” katanya.

“Oke Mas...” jawabku singkat.

Awal bulan inilah yang selalu aku tunggu-tunggu. Rekening penuh dan bisa belanja.  Mas Fahri tidak pernah menanyakan kenapa uang habis, digunakan untuk apa, apalagi menanyakan kenapa aku begitu boros…tidak pernah. Beliau sangat percaya dan selalu berusaha memanjakanku.

Seperti siang itu, kebetulan hari libur, aku menyempatkan diri untuk membeli keperluan Keysha dan Mas Fahri. Ditengah-tengah kesibukan berbelanja, aku melihat ada tas kerja yang bagus dan harganyapun cukup mahal. Aku lihat uangku, cukup sih…tapi kalau aku beli tas itu, keuanganku pasti menipis. Kalau aku minta suamiku rasanya tak mungkin. Tabungannya kemarin sudah dipakai untuk biaya kuliah adiknya. Tapi tas itu terus membayangi pikiranku. Akhirnya, aku coba telepon Mas Fahri.

“Halo Mas…”sapaku.

“Ya sayang…kenapa? Tumben telpon…” jawabnya.

“Aku lihat tas tapi harganya mahal...” kataku.

“Berapa? Ya sudah nanti kekurangannya Ayah transfer yah…” jawab suamiku.

Mas Fahri selalu memanjakanku, padahal aku tahu, tabungan dia semakin berkurang. Tapi dia selalu berusaha menyenangkan hatiku.

***

Sore itu sepulang dari belanja, Mas fahri sudah menungguku di ruang tengah. Sambil tersenyum dia bilang, “Mana tasnya Bu…Ayah pengen liat...?”. Dengan bangganya aku perlihatkan tas mahal itu.

“Bagus gak Mas??” tanyaku.

“Bagus Bu, hanya Ayah ingin mengingatkan…Ibu tak perlu beli barang-barang yang mahal-mahal tapi fungsinya sama dengan yang sudah ada, tas Ibu kan sudah banyak...” kata Mas Fahri.

“Kalau Mas gak suka, lalu kenapa Mas kasih aku ijin untuk beli tas itu...?” jawabku marah.

“Bukan gitu Bu maksud Ayah….” tak sempat meneruskan kata-katanya, aku langsung pergi meninggalkan Mas Fahri yang masih terlihat ingin menjelaskan sesuatu.

Aku marah…aku kesal…padahal kalau difikir-fikir sih, omongan Mas Fahri ada benarnya. Aku terlalu boros dengan kehidupanku.

Dua hari aku mendiamkan suamiku. Hingga dihari ketiga, Mas Fahri meminta ijin keluar kota karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan disana. Aku hanya bilang, ”Hati2 dijalan Mas…”. Nampaknya dia sudah siap dengan perlengkapan yang harus dia bawa. Rencanya sekitar tiga hari dia diluar kota.

***

Sudah dua hari Mas Fahri diluar kota, aku tak pernah merasa kehilangan, tak pernah merasa merindukannya, sampai pada suatu hari, tanpa sengaja aku menemukan buku harian Mas Fahri didalam lemari ketika aku sedang membereskan baju-bajunya yang sudah disetrika rapi oleh pembantuku.

Buku berwarna coklat tua itu, aku lihat lembar perlembar. Bukunya seperti buku harian. Sejak kapan Mas Fahri suka menulis. Aku sudah terlalu lama menerlantarkan dia, sampai aku tak tahu kalau suamiku suka menulis.

Aku buka lembar pertama, kedua, dan seterusnya. Sampai pada lembaran berikutnya aku menemukan curahan hati Mas Fahri…

Nadia Ayu Lestari…istriku, istri yang sangat aku sayangi walaupun aku tahu kau tidak pernah menyayangiku…

Kubuka lembar berikutnya…

Istriku sayang…apa  yang harus aku lakukan supaya kamu bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu…Aku tak peduli jika kamu mau menghabiskan waktumu diluar dengan segudang pekerjaanmu dan membiarkan aku terlunta…aku rela…hanya berilah sedikit cintamu untukku agar aku bisa merasakan kebahagiaan itu…kebahagiaan yang aku tunggu selama ini...wujudkanlah  harapanku,istriku…

Ku buka lagi lembar berikutnya…

Sejujurnya aku ingin marah, sejujurnya aku kecewa dengan sikapmu…namun aku tak ingin menunjukkan kekecewaanku, karena aku tahu kamu sudah rela menghabiskan sisa hidupmu bersamaku, padahal kamu tak pernah mencintaiku…Kamu boleh bilang aku suami tidak tegas, kamu boleh bilang aku suami yang bodoh…Tapi aku akan selalu berusaha untuk menjadi suami yang baik untukmu…

Aku hampir tak kuasa menahan tangis, sebegitu tersiksanya suamiku hidup denganku...Lalu aku buka lagi lembaran lainnya...

Istriku…Kenapa kau tak pernah memanggilku dengan sebutan Ayah…? Sebegitu beratkah lidahmu mengucapkan kata itu untukku? Aku suamimu, aku Ayah dari anak kita…kenapa nadia…kenapa???

Rasanya aku tak sanggup untuk meneruskan kembali curahan hati suamiku itu. Rasa sakit dan kecewa terus menjalar di hatiku saat itu.

***

Hatiku tersentak, tiba-tiba terasa ada kerinduan yang teramat dalam di hatiku. Satu hari lagi Ayah pulang. Satu kata pertama yang aku ucapkan untuknya…panggilan, “Ayah”. Kenapa terasa lama sekali menunggu hari esok. Aku tak pernah menyadari, begitu besar karunia Tuhan padaku. Aku mendapatkan suami yang sangat baik. Sudah terlalu lama aku hidup dengan keegoisan, aku tidak pernah melihat disekelilingku ada orang yang begitu mencintaiku melebihi dirinya sendiri.

Kerinduan ini tak pernah aku rasakan sebelumnya, kerinduan pada suamiku…suami yang sudah aku sia-siakan. Ku amnil handphoneku, aku ingin menelepon suamiku.

“Halo Ayah…”sapaku.

“Halo…halo…ya Bu...” jawab Mas Fahri terbata-bata, sepertinya dia tak percaya dengan apa yang dia dengar.

“ Aku mencintaimu Yah, cepat pulang...” tak kuasa aku meneruskan obrolan Kami.

***

Setelah aku berfikir panjang, setelah aku berdiskusi dengan hatiku sendiri, akhirnya keputusan inipun aku ambil. Cukup berat tapi aku harus bisa.

Ku ambil secarik kertas….aku tulis pada baris pertama…”Surat Pengunduran Diri”.

Aku akan menjadi istri yang baik untukmu Yah…aku akan menjadi ibu rumah tangga yang baik, demi kamu dan anak kita, aku akan melupakan promosi jabatan sebagai manager. Semua aku lakukan demi kamu kita.


Besok, suamiku pulang, tak sabar rasanya ingin aku bisikkan, “Aku mencintaimu, Mas Fahri...” sekarang dan selamanya.

3 komentar:

  1. Nice story hehe, tapi kasihan juga ke Fahri nya. Untung istrinya akhirnya sadar juga.

    BalasHapus
  2. Mba,apa yang menimpa mba terjadi jg kpad saya,saya tidak mencintai istri saya..padahl sya baru menikah...saya merasa istri saya sudah bisa mncintai saya,kami jodohan(taaruf)..masya allah saya sangat tersiksa batin..hidup bersama orang yang tidak saya cintai

    BalasHapus