3 Apr 2013

Cinta yang Lain

“ …Lupakan aku…jangan pernah kau harapkan cinta yang indah dariku…lupakan aku…kupunya cinta lain yang tak bisa untuk ku tinggalkan….”...sepenggal lirik lagu salah satu band terkenal di negeri ini dinyanyikan para pengamen cilik itu. Lamunanku membuyar ketika salah satu anak meminta uang atas hasil jerih payahnya menyanyi. Aku keluarkan uang seribu rupiah dan mereka pergi.

Kepergian anak-anak itu tidak membuat lamunanku juga pergi. Ingatanku malah melayang ke suatu kejadian dimasa lalu ketika aku masih bersamanya.

***

Memang tak enak rasanya hidup dalam kesendirian, namun aku belum bisa melupakan mendiang suamiku yang meninggal karena sakit. Tiga tahun yang lalu aku merasakan sedihnya ditinggal suami yang aku rasa suami terbaik. Hingga aku harus menghidupi anak semata wayangku. Ingin aku hapus memori itu, namun semua sudah melekat kuat bersama cinta di hati, tak bisa dilupakan begitu saja.


Pak Robi adalah teman baik suamiku. Beliau memang selalu berbaik hati menghiburku sampai saat ini. Akupun tidak menampik kalau ada perasaan bahagia ketika dia ada disini. Setiap weekend, beliau selalu menyempatkan waktu menengokku dan anakku. Memang kebaikan beliau ada maksud lain, namun aku selalu mencoba mengalihkan pembicaraan kita ketika dia bermaksud untuk melamarku. Sungguh, aku tak bisa melupakan suamiku.

Aku rebahkan tubuhku di kasur kamarku. Aku melihat anakku yang masih berusia dua tahun sedang tertidur nyenyak. Sesekali aku melihat dia tersenyum, mungkin sedang bermimpi indah. Andai setiap hari aku bisa bermimpi bertemu suamiku.

Susah sekali memejam mata walau badanku terasa lelah. Kenapa perasaanku tak menentu saat ini, sesekali bayangan suamiku menghiasi kegelisahanku, sesekali bayangan Pak Robi juga melintas diantara Kami. Ku tepis semua dan ku lanjutkan beristirahat.

Malam itu, perasaan tak menentu masih saja ku rasakan. Bunyi handphonepun tak aku hiraukan. Tatapan mataku tetap menembus langit-langit kamar. Karena terus berbunyi, akhirnya aku lihat dan benar saja Pak Robi yang menelponku. Dia mengabarkan kalau malam ini dia akan datang kesini.

Kedatangan Pak Robi malam ini membuatku tambah gelisah. Dia bermaksud untuk melamarku untuk kesekian kalinya. Namun berbeda dengan saat ini. Aku memikirkan tawarannya menjadikan aku sebagai istrinya. Aku tak ingin terus menerus memikirkan masa lalu, aku juga harus memikirkan nasib anakku yang masih membutuhkan sosok seorang Ayah. Akhirnya aku memutuskan untuk menerimanya.

Aku melihat Pak Robi adalah sosok laki-laki yang bertanggung jawab. Aku tak meragukan kebaikannya selama ini. Jadi tak ada salahnya aku mencoba membangun kembali cinta yang mungkin tak seutuh dulu.

***

Minggu ini aku berencana akan mengunjungi keluarganya Pak Robi di Surabaya. Agak sedikit resah juga mengingat statusku adalah seorang janda dengan satu anak, sedangkan Pak Robi adalah perjaka yang belum menikah. Kekhawatiran mulai muncul di hatiku saat ini, namun aku masih berfikir kalau aku ditakdirkan hidup dengan dia, semua akan berjalan baik.

Kekhawatiranku selama ini akhirnya jadi kenyataan, setelah pertemuan pertama itu, aku mendapat kabar yang kurang enak. Keluarga Pak Robi tidak setuju dengan hubungan Kami. Sangat aku maklumi alasan mereka.

Pak Robi masih ingin memperjuangkan semua, namun aku memilih mundur. Aku melihat ada gurat kekecewaan di wajah Pak Robi, namun ini sudah menjadi keputusanku dan tak akan pernah aku rubah.

***

Setahun berlalu, aku bertemu kembali dengan teman lamaku, Andi namanya. Teman sewaktu SMP dulu. Andi baru pindah dari Pekan Baru. Memang belum terlalu lama, mungkin baru satu atau dua bulan. Kita kebetulan bertemu disalah satu pusat perbelanjaan. Disana Kami banyak ngobrol dan tukar pikiran. Percakapan tidak hanya berhenti sampai disana. Kami saling tukar nomor telepon hingga akhirnya percakapanpun berlanjut dihari-hari sebelumnya.

Andi adalah sosok yang baik, namun sedikit keras. Pernah dia bercerita tentang perceraian dengan istrinya dikarenakan perbedaan prinsip hidup. Entah apa prinsip yang dia maksud, aku juga tidak begitu ingin tahu tentang itu.

Semakin hari, hubungan Kami semakin dekat, sampai pada suatu hari Andi memintaku menjadi istrinya. Tidak seperti ketika aku diajak menikah oleh Pak Robi, aku harus berfikir berhari-hari. Kali ini aku langsung meng-iya-kan ajakan Andi. Sifat keras Andi, aku fikir bisa dilunakkan oleh kesabaran. Mudah-mudahan aku bisa sabar menghadapi dia.

Aku dikenalkan ke keluarga Andi, aku sangat bahagia karena keluarga Andi menyambut baik hubungan Kami. Begitupun sebaliknya, ketika Andi aku kenalkan dengan kedua orangtuaku, mereka sangat menyambut baik kedatangan Andi. Pada umumnya pihak keluarga tidak ada masalah dengan hubungan Kami.

***

Sejak itu, Kami selalu membicarakan tentang pernikahan termasuk tentang kehidupan setelah menikah. Sejujurnya, aku memang suka sama Andi dari dulu. Kita ingin pernikahan itu segera dilaksanakan.

Namun, ternyata menyatukan dua pikiran itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku bisa memaklumi sifat keras Andi, aku juga masih bisa memaklumi sifat tempramen Andi walaupun hanya sedikit. Namun aku sangat tidak memaklumi ketika Andi mengatakan bahwa dia tidak ingin anak semata wayangku ikut bersama Kami. Andi memang tidak mempunyai anak dari penikahannya terdahulu. Andi memintaku untuk menitipkan anakku ke neneknya di kampung. Sungguh aku tak bisa terima itu.

Mungkin, lagi-lagi ini bukan orang yang Tuhan kirimkan untukku. Bukan yang terbaik yang harus mendampingi aku. Pikiranku melayang jauh, membayangkan…apakah masih mendiang suamiku yang terbaik untukku. Tapi kenapa dia harus pergi secepat itu.

Aku tidak pernah menyalahkan takdir. Akupun tidak ingin menangisi kepergian suamiku. Akupun tidak merasakan kekecewaan kenapa aku tidak berjodoh dengan orang-orang yang sempat masuk dalam kehidupanku. Aku hanya ingin menjalani hidup dengan baik dan berusaha membesarkan anak semata wayangku.


Masih dengan tatapan kosong, hatiku berbisik, “Semoga suatu hari nanti Tuhan memberikan aku Cinta yang Lain sebagai cinta yang utuh dalam hidupku...”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar