“ …Lupakan aku…jangan pernah kau harapkan cinta yang
indah dariku…lupakan aku…kupunya cinta lain yang tak bisa untuk ku
tinggalkan….”...sepenggal lirik lagu salah satu band terkenal di negeri ini
dinyanyikan para pengamen cilik itu. Lamunanku membuyar ketika salah satu anak
meminta uang atas hasil jerih
payahnya menyanyi. Aku keluarkan uang seribu rupiah dan
mereka pergi.
Kepergian
anak-anak itu tidak membuat lamunanku juga pergi. Ingatanku malah melayang ke
suatu kejadian dimasa lalu ketika aku masih bersamanya.
***
Memang tak enak
rasanya hidup dalam kesendirian, namun aku belum bisa melupakan mendiang
suamiku yang meninggal karena sakit. Tiga tahun yang lalu aku merasakan
sedihnya ditinggal suami yang aku rasa suami terbaik. Hingga aku harus
menghidupi anak semata wayangku. Ingin aku hapus memori itu, namun semua sudah melekat kuat
bersama cinta di hati, tak bisa dilupakan begitu saja.
Pak Robi adalah teman baik suamiku. Beliau memang selalu
berbaik hati menghiburku sampai saat ini. Akupun tidak menampik kalau ada
perasaan bahagia ketika dia ada disini. Setiap weekend, beliau selalu menyempatkan waktu menengokku dan anakku.
Memang kebaikan beliau ada maksud lain, namun aku selalu mencoba mengalihkan
pembicaraan kita ketika dia bermaksud untuk melamarku. Sungguh, aku tak bisa melupakan suamiku.
Aku rebahkan
tubuhku di kasur kamarku. Aku melihat anakku yang masih berusia dua tahun
sedang tertidur nyenyak. Sesekali aku melihat dia tersenyum, mungkin sedang
bermimpi indah. Andai setiap hari aku bisa bermimpi bertemu suamiku.
Susah sekali
memejam mata walau badanku terasa lelah. Kenapa perasaanku tak menentu saat
ini, sesekali bayangan suamiku menghiasi kegelisahanku, sesekali bayangan Pak
Robi juga melintas diantara Kami. Ku tepis semua dan ku lanjutkan beristirahat.
Malam itu, perasaan
tak menentu masih saja ku rasakan. Bunyi handphonepun tak aku hiraukan. Tatapan mataku tetap menembus langit-langit kamar. Karena terus
berbunyi, akhirnya aku lihat dan benar saja Pak Robi yang menelponku. Dia mengabarkan kalau
malam ini dia akan datang kesini.
Kedatangan Pak
Robi malam ini membuatku tambah gelisah. Dia bermaksud untuk melamarku untuk
kesekian kalinya. Namun berbeda dengan saat ini. Aku memikirkan tawarannya menjadikan
aku sebagai istrinya. Aku tak ingin terus menerus memikirkan masa lalu, aku
juga harus memikirkan nasib anakku yang masih membutuhkan sosok seorang Ayah. Akhirnya aku
memutuskan untuk menerimanya.
Aku melihat Pak
Robi adalah sosok laki-laki yang bertanggung jawab. Aku tak meragukan kebaikannya selama ini. Jadi tak ada salahnya aku mencoba
membangun kembali cinta yang mungkin tak seutuh dulu.
***
Minggu ini aku berencana
akan mengunjungi keluarganya Pak Robi di Surabaya. Agak sedikit resah juga
mengingat statusku adalah seorang janda dengan satu anak, sedangkan Pak Robi
adalah perjaka yang belum menikah. Kekhawatiran mulai muncul di hatiku saat
ini, namun aku masih berfikir kalau aku ditakdirkan hidup dengan dia, semua
akan berjalan baik.
Kekhawatiranku
selama ini akhirnya jadi kenyataan, setelah pertemuan pertama itu, aku mendapat
kabar yang kurang enak. Keluarga Pak Robi tidak setuju dengan hubungan Kami. Sangat aku maklumi
alasan mereka.
Pak Robi masih
ingin memperjuangkan semua, namun aku memilih mundur. Aku melihat ada gurat kekecewaan
di wajah Pak Robi, namun ini sudah menjadi keputusanku dan tak akan pernah aku rubah.
***
Setahun berlalu,
aku bertemu kembali dengan teman lamaku, Andi namanya. Teman sewaktu SMP dulu.
Andi baru pindah dari Pekan Baru.
Memang belum
terlalu lama,
mungkin baru satu atau dua bulan. Kita kebetulan
bertemu disalah satu pusat perbelanjaan. Disana Kami banyak ngobrol dan tukar pikiran. Percakapan tidak hanya berhenti sampai
disana. Kami saling tukar nomor telepon
hingga akhirnya percakapanpun berlanjut dihari-hari
sebelumnya.
Andi adalah
sosok yang baik, namun sedikit keras. Pernah dia bercerita tentang perceraian
dengan istrinya dikarenakan perbedaan
prinsip hidup. Entah apa prinsip yang dia maksud, aku
juga tidak begitu ingin tahu tentang itu.
Semakin hari, hubungan
Kami semakin
dekat, sampai pada suatu hari Andi memintaku menjadi istrinya. Tidak seperti
ketika aku diajak menikah oleh Pak Robi, aku harus berfikir berhari-hari. Kali
ini aku langsung meng-iya-kan ajakan Andi. Sifat keras Andi, aku fikir bisa
dilunakkan oleh kesabaran. Mudah-mudahan aku bisa sabar menghadapi dia.
Aku dikenalkan
ke keluarga Andi, aku sangat bahagia karena keluarga Andi menyambut baik
hubungan Kami. Begitupun sebaliknya, ketika Andi aku kenalkan dengan kedua orangtuaku, mereka sangat
menyambut baik kedatangan Andi. Pada
umumnya pihak keluarga tidak ada masalah dengan hubungan Kami.
***
Sejak itu, Kami selalu membicarakan
tentang pernikahan termasuk tentang kehidupan setelah menikah. Sejujurnya, aku
memang suka sama Andi dari dulu. Kita ingin pernikahan itu segera dilaksanakan.
Namun, ternyata
menyatukan dua pikiran itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku bisa
memaklumi sifat keras Andi, aku juga masih bisa memaklumi sifat tempramen Andi
walaupun hanya sedikit. Namun aku sangat tidak memaklumi ketika Andi mengatakan
bahwa dia tidak ingin anak semata wayangku ikut bersama Kami. Andi memang tidak mempunyai anak dari
penikahannya terdahulu. Andi memintaku untuk menitipkan anakku ke neneknya di
kampung. Sungguh aku tak bisa terima itu.
Mungkin,
lagi-lagi ini bukan orang yang Tuhan kirimkan untukku. Bukan yang terbaik yang
harus mendampingi aku. Pikiranku melayang jauh, membayangkan…apakah masih
mendiang suamiku yang terbaik untukku. Tapi kenapa dia harus pergi secepat itu.
Aku tidak pernah
menyalahkan takdir. Akupun tidak ingin menangisi kepergian suamiku. Akupun tidak merasakan
kekecewaan kenapa aku tidak berjodoh dengan orang-orang yang sempat masuk dalam
kehidupanku. Aku hanya ingin menjalani hidup dengan baik dan berusaha
membesarkan anak semata wayangku.
Masih dengan
tatapan kosong, hatiku berbisik, “Semoga suatu hari nanti Tuhan memberikan aku Cinta yang Lain sebagai
cinta yang utuh dalam hidupku...”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar