Aku masih berada
di dunia yang akupun tidak tahu dimana, aku melihat ada pohon tinggi besar
disekitarku, banyak sekali. Aku disini sendirian, padahal hari menjelang malam.
Aku mencari orang-orang disekitarku tapi tak nampak. Padahal tadi aku merasa
bersama adik perempuanku.
Aku tersesat
disini, tapi kenapa aku bisa berada di tempat ini, sementara aku merasa perjalananku indah
sesaat sebelum adikku hilang entah kemana.
Aku ingin
berteriak, namun aku rasa percuma karena tak ada satu orangpun yang akan mendengarku. Aku mencoba terus berjalan,
walau sesekali aku melihat ke langit.
Aku takut sang malam
segera menghancurkan sore itu dan akhirnya aku akan berada dalam kegelapan malam sementara tak ada satupun orang yang
menemaniku ditempat ini. Langit itu kian menghitam dan akhirnya sang malam
berhasil membuat hitam semuanya.
Aku ingin
menangis, aku ingin pulang, namun aku bingung jalan mana yang harus aku tempuh.
Aku melihat ada dua jalan didepan sana. Aku coba terdiam sebentar dan akhirnya aku pilih jalan
ke sebelah kanan karena disana aku melihat jalan itu tidak terlalu sunyi. Aku
terus melangkah, namun baru saja aku melangkah beberapa meter, aku merasa ada yang
menarikku dari belakang, aku sempat kaget dan hampir tak percaya.
“Syukurlah kamu Dik...kemana saja?” tanyaku pada sesosok anak perempuan yang aku
kenal. Dara adikku.
“Maaf Kak, tadi aku ada keperluan
sebentar...”
jawab Adikku.
“Keperluan kok ditempat seperti ini...” fikirku
dalam hati. Tanpa membalas jawaban Adikku, aku langsung
mengajak dia pergi dari tempat itu dan terus mencari arah jalan pulang.
“Jangan jalan kekanan Kak…” kata Adikku.
“Kenapa?”
tanyaku heran.
“Jalan kesebelah
kanan banyak orang jahat, kita kesebelah kiri saja ya...”
jawabnya.
Tanpa banyak
berfikir, akhirnya aku berjalan kearah jalan yang disebutkan Adikku. Disini memang gelap, namun tidak sesunyi tempat tadi.
“Jalan yang tadi itu memang
tampak terang Kak, tapi tidak berarti didalamnya terang...” kata Adikku.
Memang seperti kehidupan, terkadang kita berfikir jalan
yang kita pilih akan mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan, namun tidak
selamanya itu benar. Mungkin disini perlunya kita mencari saran dan masukkan
dari orang lain, fikirku dalam hati.
Kami terus
berjalan, tanpa arah yang pasti. Tiba-tiba ditengah jalan, Kami bertemu orang-orang dengan perangai yang cukup menakutkan. Ada
tiga orang laki-laki dengan perawakan tinggi besar sedang berjalan kearahku. Aku
memang sangat takut, namun entah
kenapa Adikku seolah merasa tenang-tenang saja.
“Dik…kata kamu jalan ke sini
aman, lha itu...banyak orang-orang tinggi besar…?” tanyaku.
Adikku seolah
tidak peduli dengan pertanyaanku, dia terus melanjutkan perjalanannya.
Sementara orang-orang itu kian mendekat. Hanya berjarak beberapa meter saja
dariku dan Adikku. Tiba-tiba
salah seorang dari mereka menghampiriku dengan wajah yang sangat menyeramkan.
“Kamu dari mana?
Kok ada
disini...?” tanya orang yang
berpakaian hitam itu.
“Aku mau
pulang…” hanya itu jawabku.
Aku tak
mengerti, tiba-tiba Adikku menarik laki-laki itu lebih menjauh dari aku dan mereka
melakukan percakapan yang entah apa isinya.
Beberapa menit
kemudian, tiga orang itu pergi dan Adikku menghampiriku.
“Jalan mengarah
pulang akan segera ketemu Kak, orang itu yang ngasih tahu…” kata Adikku.
“Kok bisa? Mereka bukan orang jahat...?” tanyaku.
“Jangan selalu
melihat keburukan orang, sementara orang itu menawarkan banyak kebaikan untuk
kita...”
jawab Adikku.
Kami terus
berjalan menyusuri malam. Tiba-tiba aku rindu orangtuaku di rumah, mereka pasti
mencemaskan aku dan Adikku karena sudah larut malam Kami belum pulang. Air mata mulai menetes.
Kerinduan dan ketakutan kini campur menjadi satu.
Aku masih
bingung, kenapa aku bisa berada ditempat sunyi seperti ini. Seakan-akan aku hanya hidup
berdua dengan Adikku. Kami terus berjalan mengikuti petunjuk dari orang tadi.
Aku melihat
didepan sana ada anak kecil yang sedang menangis, aku dan Adikku segera menghampiri
anak itu. Dia minta diantarkan pulang ke rumahnya, karena dia takut gelap.
Dia sebenarnya tahu rumahnya dimana, namun karena hari sudah malam, dia tak berani pulang sendiri.
Aku masih
bingung dan sebenarnya aku enggan mengantar anak ini pulang, karena aku juga
masih tak mengerti jalan pulang ke
rumahku dimana. Namun lagi-lagi Adikku berkata, ”Sebaiknya kita antar dia
pulang saja Kak...”. Terpaksa aku dan Adikku mengantar anak ini
dulu.
Arah rumah anak
ini memang mengarah kearah jalan besar. Aku melihat ditempat ini banyak lampu-lampu
yang menghiasi jalanan, akupun tak terlalu takut. Setelah didepan rumahnya,
anak itu langsung masuk dan mengucapkan terima kasih. Aku dan Adikkupun merasa lega
karena kita sudah berada disatu jalanan dan terbebas dari kesunyian.
“Tuh kan Kak,
coba tadi kita tidak mengantar anak itu, mungkin kita tak tahu arah jalanan
ini…” kata Adikku.
Benar, kebaikan
itu akan selalu menghasilkan kebaikan juga. Kami terus berjalan dan berjalan, hingga tanpa disadari ada
satu pekarangan rumah yang Kami kenal. Ada bunga-bunga indah, rumput-rumput hijau dan pohon
kecil yang rindang. Ya...itu rumah Kami. Aku ingin segera masuk dan memeluk Ibu di rumah. Terasa lama rasanya
aku meninggalkan Ibu.
Belum juga aku
ketuk pintu rumah tiba-tiba aku merasa kok ada percikan air ke arah muka ku.
Aku lihat ke atas langit, tidak ada hujan, malah bintang-bintang bersinar terang. Aku ingin
mengetuk pintu sekali lagi tapi percikan air itu semakin banyak dan semakin
banyak dan byuuuuurrrrrrrr…
Aku buka
mataku…huuuhhh…aku melihat ada sosok cantik dengan kerudung putihnya tepat
berada didepanku dengan gayung berisi air bekas menyiram mukaku.
“Kebiasaan...ngebangunin kamu tuh harus dengan segayung
air...” kata Ibuku.
Oh Tuhan…jadi
tempat itu…kesunyian itu….ternyata aku hanya bermimpi…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar