3 Apr 2013

Ternyata...

Aku masih berada di dunia yang akupun tidak tahu dimana, aku melihat ada pohon tinggi besar disekitarku, banyak sekali. Aku disini sendirian, padahal hari menjelang malam. Aku mencari orang-orang disekitarku tapi tak nampak. Padahal tadi aku merasa bersama adik perempuanku.

Aku tersesat disini, tapi kenapa aku bisa berada di tempat ini, sementara aku merasa perjalananku indah sesaat sebelum adikku hilang entah kemana.

Aku ingin berteriak, namun aku rasa percuma karena tak ada satu orangpun yang akan mendengarku. Aku mencoba terus berjalan, walau sesekali aku melihat ke langit. Aku takut sang malam segera menghancurkan sore itu dan akhirnya aku akan berada dalam kegelapan malam sementara tak ada satupun orang yang menemaniku ditempat ini. Langit itu kian menghitam dan akhirnya sang malam berhasil membuat hitam semuanya.

Aku ingin menangis, aku ingin pulang, namun aku bingung jalan mana yang harus aku tempuh. Aku melihat ada dua jalan didepan sana. Aku coba terdiam sebentar dan akhirnya aku pilih jalan ke sebelah kanan karena disana aku melihat jalan itu tidak terlalu sunyi. Aku terus melangkah, namun baru saja aku melangkah beberapa meter, aku merasa ada yang menarikku dari belakang, aku sempat kaget dan hampir tak percaya.


“Syukurlah kamu Dik...kemana saja?” tanyaku pada sesosok anak perempuan yang aku kenal. Dara adikku.

“Maaf Kak, tadi aku ada keperluan sebentar...” jawab Adikku.

“Keperluan kok ditempat seperti ini...” fikirku dalam hati. Tanpa membalas jawaban Adikku, aku langsung mengajak dia pergi dari tempat itu dan terus mencari arah jalan pulang.

“Jangan jalan kekanan Kak…” kata Adikku.

“Kenapa?” tanyaku heran.

“Jalan kesebelah kanan banyak orang jahat, kita kesebelah kiri saja ya...” jawabnya.

Tanpa banyak berfikir, akhirnya aku berjalan kearah jalan yang disebutkan Adikku. Disini memang gelap, namun tidak sesunyi tempat tadi.

“Jalan yang tadi itu memang tampak terang Kak, tapi tidak berarti didalamnya terang...” kata Adikku.

Memang seperti kehidupan, terkadang kita berfikir jalan yang kita pilih akan mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan, namun tidak selamanya itu benar. Mungkin disini perlunya kita mencari saran dan masukkan dari orang lain, fikirku dalam hati.

Kami terus berjalan, tanpa arah yang pasti. Tiba-tiba ditengah jalan, Kami bertemu orang-orang dengan perangai yang cukup menakutkan. Ada tiga orang laki-laki dengan perawakan tinggi besar sedang berjalan kearahku. Aku memang sangat takut, namun entah kenapa Adikku seolah merasa tenang-tenang saja.

“Dik…kata kamu jalan ke sini aman, lha itu...banyak orang-orang tinggi besar…?” tanyaku.

Adikku seolah tidak peduli dengan pertanyaanku, dia terus melanjutkan perjalanannya. Sementara orang-orang itu kian mendekat. Hanya berjarak beberapa meter saja dariku dan Adikku. Tiba-tiba salah seorang dari mereka menghampiriku dengan wajah yang sangat menyeramkan.

“Kamu dari mana? Kok ada disini...?” tanya orang yang berpakaian hitam itu.

“Aku mau pulang…” hanya itu jawabku.

Aku tak mengerti, tiba-tiba Adikku menarik laki-laki itu lebih menjauh dari aku dan mereka melakukan percakapan yang entah apa isinya.

Beberapa menit kemudian, tiga orang itu pergi dan Adikku menghampiriku.

“Jalan mengarah pulang akan segera ketemu Kak, orang itu yang ngasih tahu…” kata Adikku.

“Kok bisa? Mereka bukan orang jahat...?” tanyaku.

“Jangan selalu melihat keburukan orang, sementara orang itu menawarkan banyak kebaikan untuk kita...” jawab Adikku.

Kami terus berjalan menyusuri malam. Tiba-tiba aku rindu orangtuaku di rumah, mereka pasti mencemaskan aku dan Adikku karena sudah larut malam Kami belum pulang. Air mata mulai menetes. Kerinduan dan ketakutan kini campur menjadi satu.

Aku masih bingung, kenapa aku bisa berada ditempat sunyi seperti ini. Seakan-akan aku hanya hidup berdua dengan Adikku. Kami terus berjalan mengikuti petunjuk dari orang tadi.

Aku melihat didepan sana ada anak kecil yang sedang menangis, aku dan Adikku segera menghampiri anak itu. Dia minta diantarkan pulang ke rumahnya, karena dia takut gelap. Dia sebenarnya tahu rumahnya dimana, namun karena hari sudah malam, dia tak berani pulang sendiri.

Aku masih bingung dan sebenarnya aku enggan mengantar anak ini pulang, karena aku juga masih tak mengerti jalan pulang ke rumahku dimana. Namun lagi-lagi Adikku berkata, ”Sebaiknya kita antar dia pulang saja Kak...”. Terpaksa aku dan Adikku mengantar anak ini dulu.

Arah rumah anak ini memang mengarah kearah jalan besar. Aku melihat ditempat ini banyak lampu-lampu yang menghiasi jalanan, akupun tak terlalu takut. Setelah didepan rumahnya, anak itu langsung masuk dan mengucapkan terima kasih. Aku dan Adikkupun merasa lega karena kita sudah berada disatu jalanan dan terbebas dari kesunyian.

“Tuh kan Kak, coba tadi kita tidak mengantar anak itu, mungkin kita tak tahu arah jalanan ini…” kata Adikku.

Benar, kebaikan itu akan selalu menghasilkan kebaikan juga. Kami terus berjalan dan berjalan, hingga tanpa disadari ada satu pekarangan rumah yang Kami kenal. Ada bunga-bunga indah, rumput-rumput hijau dan pohon kecil yang rindang. Ya...itu rumah Kami. Aku ingin segera masuk dan memeluk Ibu di rumah. Terasa lama rasanya aku meninggalkan Ibu.

Belum juga aku ketuk pintu rumah tiba-tiba aku merasa kok ada percikan air ke arah muka ku. Aku lihat ke atas langit,  tidak ada hujan, malah bintang-bintang bersinar terang. Aku ingin mengetuk pintu sekali lagi tapi percikan air itu semakin banyak dan semakin banyak dan byuuuuurrrrrrrr…

Aku buka mataku…huuuhhh…aku melihat ada sosok cantik dengan kerudung putihnya tepat berada didepanku dengan gayung berisi air bekas menyiram mukaku.

“Kebiasaan...ngebangunin kamu tuh harus dengan segayung air...” kata Ibuku.


Oh Tuhan…jadi tempat itu…kesunyian itu….ternyata aku hanya bermimpi…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar