11 Apr 2013

Ibu Penjual Nasi Kuning

Hari kemarin aku masih bisa melihatnya, penjual nasi kuning yang selalu mangkal didepan rumahku. Seorang Ibu dengan usia sekitar lima puluhan, perawakan tinggi dengan kulit sawo matang. Ramah, baik dan murah senyum. Masih terlihat cantik walau sudah banyak garis-garis di wajahnya. Jika bosan sarapan di rumah, aku selalu membeli nasi kuning si Ibu. Rasanya yang enak dan harganya juga lebih murah dibanding harga nasi kuning yang lain.

Kini, sudah satu minggu lebih aku tidak melihatnya setelah kejadian itu. Kejadian yang akupun tidak pernah tahu apa yang ada dipikirannya.

***

Siang menjelang sore, seperti biasa aku pulang sekolah dengan dijemput sopir. Aku sudah melihat dari jauh Ibu itu sudah berada didepan gerbang rumahku. Rumah yang kata orang rumah orang kaya. Aku memang cukup beruntung bisa dilahirkan dikeluarga berada. Ibu dan Ayahku adalah seorang pengusaha sukses. Aku adalah anak tunggal, sehingga masalah materi tidak perlu dikhawatirkan.

Aku masih merasa heran dengan tatapan mata si Ibu yang tertuju kearahku. Sangat tajam dan ku lihat ada genangan air mata yang siap turun dari wajahnya.

“Kenapa Bu...?” tanyaku. Tanpa sepatah katapun si Ibu menjawab pertanyaaanku. Malah air mata itu satu persatu turun dan tak bisa terbendung lagi lalu si Ibu pergi.


Masih dalam keadaan heran, aku langsung masuk kedalam rumah dan segera beristirahat di kamar. Masih dengan pakaian seragam lengkap, aku rebahkan tubuhku yang sudah tak tahan menahan lelah di kasur empuk kesayanganku. Mataku masih melihat ke langit-langit kamar membayangkan apa yang terjadi beberapa menit yang lalu. Aneh dan memang sungguh aneh.

Ingin aku melupakan kejadian tadi, namun entah kenapa aku tak bisa. Tangisan itu seolah membuatku sakit. Kenapa dia menangis? Apa aku pernah menyakitinya? Aku rasa tidak. Keperluanku pada si Ibu itu kan hanya sebatas pelanggan dan pedagang, tidak lebih dari itu.

Aku bisa memejamkan mataku beberapa menit, tapi akhirnya aku terbangun lagi. Tubuhku bisa merasakan nikmatnya istirahat, namun pikiranku masih melayang-layang entah dimana.

“Sebaiknya memang aku tanyakan hal ini pada Ibuku...” fikirku.

***

Malam itu, kita seperti biasa berkumpul di meja makan, sambil ngobrol, aku tanyakan kejadian tadi pada Ibuku.

“Bu…Ibu tahu penjual nasi kuning yang ada di depan kan...?” tanyaku.

“Memangnya kenapa San…?” jawab Ibu.

Tanpa basa basi, aku ceritakan semua yang aku alami tadi siang. Ibu sempat terlihat kaget, tanpa menjawab Ibu langsung pergi ke kamar. Aku kejar Ibu, namun pintu kamar segera dikunci. Aku tanya Ayah, tapi Ayah malah sama seperti Ibu, diam seribu bahasa.

Malam itu, sungguh menjadi malam yang sangat luar biasa. Begitu banyak pertanyaan yang tak aku dapat jawabannya. Angka demi angka sudah terlewati jarum jam, namun aku belum bisa memejamkan mataku. Pikiranku buntu, hatiku tak karuan.

***

Pagi itu, aku melihat meja makan kosong, hanya ada setumpuk roti lengkap dengan selainya dan gelas-gelas berisi susu. Tak ada Ayah dan Ibu. Aku ketuk pintu kamar, ternyata mereka sudah berangkat. Tak biasanya mereka seperti ini, mungkin ada imbas dari kejadian kemarin.

Akhirnya aku menuju meja makan dan sarapan sendiri. Aku panggil mbak yang membantu pekerjaan di rumah, maksudku supaya menemaniku sarapan.

“Mbak…kerja disini sudah lama kan...?” tanyaku.

“Sudahlah non, sejak non bayi, mbak sudah disini...?” jawabnya.

Aku ceritakan semua yang aku alami kemarin lalu aku tanya, “kira-kira kenapa ya mbak...?”. Bukan jawaban yang aku dapat, malah si mbak buru-buru pergi ke dapur.

Cukup lelah dengan keadaan ini, akhirnya aku memutuskan untuk berangkat sekolah saja. Selama perjalanan pikiranku semakin tak karuan. Jika ada masalah, kenapa orangtuaku tak pernah membicarakan ini. Tak terasa gerbang sekolah sudah didepan mata. Aku langkahkan kaki menuju kelas, aku tetap mencoba untuk konsentrasi sampai waktu pulang tiba.

***

Pulang sekolah, aku disambut Ibu dan Ayah. Tumben mereka ada di rumah jam segini, biasanya mereka di rumah selepas magrib. Ibu mengajakku makan dan menyuruhku beristirahat, Aku melihat wajah Ibu pucat. Matanya sembab seperti habis menangis. Aku tak berani bertanya, takut kejadian kemarin terulang lagi.

Seminggu berlalu, Ibuku sakit, setelah dicek dokter ternyata Ibu menderita gejala tifus dan harus dirawat di rumah sakit. Pikiranku masih melayang, apa Ibu sakit gara-gara peristiwa waktu itu. Sempat aku marah pada  si Ibu penjual nasi kuning, kenapa dia berbuat seperti itu. Kalau saja dia tidak menangis di depan pagar rumah, akupun tak akan menceritakan hal ini pada Ibu dan Ibu mungkin saat ini masih sehat.

Sekitar lima hari Ibu dirawat di rumah sakit. Hari keenam, Ibuku boleh pulang. Aku jemput Ibu dan sepanjang jalan Kami bercerita. Aku sangat rindu…ditengah-tengah percakapan Kami, ada satu pertanyaan Ibu yang aku rasa sangat aneh.

“San, apapun yang terjadi, Santi tak akan meninggalkan Ibu kan...?” tanya Ibu.

“Ibu kok ngomongnya aneh, ya enggalah Bu, emang ada apa...?” tanyaku.

“Nanti Ibu bicarakan di rumah yah...” jawab Ibu.

Perjalanan satu jam serasa perjalanan beberapa jam, terasa sangat lama sekali. Ada ketakutan dalam diri, apa yang akan terjadi nanti. Sepertinya Ibu akan menceritaka sesuatu yang selama ini dia sembunyikan.

Sesampai di rumah, Ibu langsung mengajak aku ke kamar. Aku melihat badan Ibu masih lemah. Namun aku melihat ada sesuatu yang memang benar-benar ingin dia bicarakan.

“San…” Ibu memanggilku dengan nada terbata-bata.

“Bu, kalau Ibu tak ingin cerita, ya gak usah diceritakan...” jawabku.

“Ibu, harus cerita...sekitar 20 tahun yang lalu Ibu menikah dengan Ayah, pernikahan Ibu sudah sekitar tiga tahun, namun Kami belum juga dikaruniai anak, padahal Ibu dan Ayah sangat mendambakan kehadiran bayi mungil di rumah ini. Perekonomian yang sudah cukup mapan, membuat Ibu semakin ingin mempunyai keturunan. Namun, sayang Ibu dinyatakan mandul dan tak bisa punya anak...” cerita Ibu.

Deg...perasaanku langsung tak menentu, lalu aku anak siapa??? Selama ini aku tinggal dengan kedua orangtua yang memang bukan orangtua kandungku. Ibupun meneruskan ceritanya...

“Ibu lupa hari itu, yang pasti ada seorang wanita muda datang ke rumah Ibu dan menawarkan Ibu untuk mengurus anaknya dengan alasan faktor ekonomi. Suaminya meninggal dan dia belum punya pekerjaan, sementara anak bayinya perlu diberi kehidupan yang layak. Begitu Ibu melihat bayi itu, Ibu langsung jatuh hati dan tanpa ada ragu, Ibu ambil bayi itu. Bayi itu kini tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan baik. Gadis itu ada di depan Ibu sekarang…maafkan Ibu nak…”

“Lalu, siapa orangtua kandungku Bu…?” tanyaku.

“Seorang Ibu yang memberikan kamu ke pelukan Ibu bukan berarti dia tidak sayang padamu nak...dia hanya tak ingin melihatmu hidup susah, dia ingin kamu hidup sangat layak dan Ibu sangat tahu…pasti berat dan sangat berat melepas anak sendiri untuk orang lain…” kata Ibu.

“Iya…siapa Bu, siapa orangtuaku...?” tanyaku lagi.

“Ibu memberikan modal yang cukup buat dia, bukan berniat membeli kamu, kamu tidak bisa dihargakan oleh sejumlah uang atau apapun. Dunia jika ditukar dengan kamu juga tidak akan Ibu berikan. Ibu hanya ingin orangtua dari anak yang Ibu sayang mendapatkan penghidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Hanya itu yang ada difikiran Ibu. Ibu berikan sejumlah uang untuk dia berjualan nasi kuning...” jelas Ibu.

“Jadi Ibu itu…” tanpa ku teruskan pertanyaanku, tangisanku sudah meledak. Sekarang dia dimana Bu, kenapa aku tidak pernah melihatnya lagi.

“Ibu yang salah San, setelah dia datang menemuimu siang itu, walau tanpa bicara sepatah katapun, Ibu takut, Ibu takut kehilanganmu. Ibu memang tidak mengandungmu, namun bagi Ibu, kamu adalah anak Ibu yang Tuhan titipkan untuk Ibu dan Ayah. Tanpa sepengetahuanmu, Ibu mendatangi Ibu kandungmu dan meminta dia untuk tidak berjualan lagi didepan rumah, tidak pernah melihatmu lagi dan tidak pernah mendatangimu lagi. Beliau menangis, namun akhirnya setuju...” kata Ibuku.

“Bu…aku tidak akan meninggalkan Ibu dan Ayah, bukan karena Ibu dan Ayah orang berada dan beliau seorang penjual nasi kuning. Seandainya keadaannya dibalikpun saat ini, aku pasti akan memilih hidup bersama Ibu. Aku tidak benci orangtua kandungku karean mungkin saat itu, itulah jalan yang terbaik untukku. Tapi apa Ibu bersedia mengantarkan aku menemui orangtua kandungku, aku hanya ingin mencium tangan beliau Bu...dan setelah itu jika Ibu tidak ingin aku menemuinya, aku tidak akan menemuinya lagi...” pintaku.

Ibu sempat berfikir beberapa menit, lalu akhirnya menyetujui permintaanku.

***

Hari itu hari minggu, Kami sekeluarga berniat untuk mendatangi rumah Ibu kandungku. Selama perjananan, perasaanku semakin tidak karuan. Bertahun-tahun aku melihat wajah beliau ketika berjualan, sekarang kok rasanya beda sekali.

Sesampainya didepan rumah Ibu kandungku, Ibu ketuk pintu rumah dan tidak menunggu lama keluarlah Ibu itu. Ibu penjual nasi kuning yang memang sudah lama tidak aku lihat. Entah kenapa, ada rasa rindu yang teramat dalam, ingin aku peluk beliau, ingin aku sentuh wajahnya. Namun kenapa seolah hatiku meronta ketika aku melihat sosok Ibu yang sedang menatapku.

“Ibu…” hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku cium tangannya dengan tetesan air mata yang tak henti-hentinya mengalir.

Aku berbisik pada Ibu…Ibu yang mengurusku sejak aku bayi, “Aku janji, aku tidak akan meninggalkan Ibu, namun ijinkan aku punya satu permintaan, biarkan aku tetap bisa melihat Ibu kandungku, Ibu penjual nasi kuning, ibu yang telah melahirkanku, yang telah membawaku dalam perutnya selama sembilan bulan untuk tetap bisa aku lihat. Jangan biarkan dia pergi dari penglihatanku…” kataku.

Ibu dan Ayah setuju dengan keinginanku, Ibu penjual nasi kuning itu, Ibu kandungku kembali berjualan didepan rumahku. Setiap hari aku bisa melihatnya dengan perasaan yang berbeda tentunya dengan sebelumnya.


Aku bangga mempunyai orangtua-orangtua seperti mereka. Selalu Ikhlas…ikhlas dalam menerima dan memberi sesuatu. Aku bahagia, mereka adalah harta paling berharga dalam hidupku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar