Hari kemarin aku
masih bisa melihatnya, penjual nasi kuning yang selalu mangkal didepan rumahku.
Seorang Ibu
dengan usia sekitar lima puluhan, perawakan tinggi dengan kulit sawo matang.
Ramah, baik dan murah senyum. Masih terlihat cantik walau sudah banyak
garis-garis di wajahnya. Jika bosan sarapan di rumah, aku selalu membeli nasi kuning si Ibu. Rasanya yang enak dan harganya juga lebih
murah dibanding harga nasi kuning yang lain.
Kini, sudah satu
minggu lebih aku tidak melihatnya setelah kejadian itu. Kejadian yang akupun
tidak pernah tahu apa yang ada dipikirannya.
***
Siang menjelang
sore, seperti biasa aku pulang sekolah dengan dijemput sopir. Aku sudah melihat
dari jauh Ibu
itu sudah berada
didepan gerbang rumahku. Rumah yang kata orang rumah orang kaya. Aku memang cukup beruntung
bisa dilahirkan dikeluarga berada. Ibu dan Ayahku adalah seorang pengusaha sukses. Aku adalah
anak tunggal, sehingga masalah materi tidak perlu dikhawatirkan.
Aku masih merasa
heran dengan tatapan mata si Ibu yang tertuju kearahku. Sangat tajam dan ku lihat ada genangan air mata yang siap
turun dari wajahnya.
“Kenapa Bu...?” tanyaku. Tanpa sepatah katapun si
Ibu menjawab pertanyaaanku. Malah air mata itu satu persatu turun dan tak bisa
terbendung lagi lalu si Ibu pergi.
Masih dalam
keadaan heran, aku langsung masuk kedalam rumah dan segera beristirahat di
kamar. Masih dengan pakaian seragam lengkap, aku rebahkan tubuhku yang sudah
tak tahan menahan lelah di kasur empuk kesayanganku. Mataku masih melihat ke
langit-langit kamar membayangkan apa yang terjadi beberapa menit yang lalu.
Aneh dan memang sungguh aneh.
Ingin aku
melupakan kejadian tadi, namun entah kenapa aku tak bisa. Tangisan itu seolah
membuatku sakit. Kenapa dia menangis? Apa aku pernah menyakitinya? Aku rasa tidak.
Keperluanku pada si Ibu itu kan hanya sebatas pelanggan dan pedagang, tidak lebih dari itu.
Aku bisa
memejamkan mataku beberapa menit, tapi
akhirnya aku terbangun lagi. Tubuhku bisa merasakan
nikmatnya istirahat, namun pikiranku masih melayang-layang entah dimana.
“Sebaiknya memang
aku tanyakan hal ini pada Ibuku...” fikirku.
***
Malam itu, kita
seperti biasa berkumpul di meja makan, sambil ngobrol, aku tanyakan kejadian
tadi pada Ibuku.
“Bu…Ibu tahu penjual nasi
kuning yang ada di depan kan...?” tanyaku.
“Memangnya kenapa San…?” jawab Ibu.
Tanpa basa basi,
aku ceritakan semua yang aku alami tadi siang. Ibu sempat terlihat kaget, tanpa
menjawab Ibu
langsung pergi ke kamar. Aku kejar Ibu, namun pintu kamar segera dikunci. Aku tanya Ayah, tapi Ayah malah sama seperti Ibu, diam seribu bahasa.
Malam itu,
sungguh menjadi malam yang sangat luar biasa. Begitu banyak pertanyaan yang tak
aku dapat jawabannya. Angka demi angka sudah terlewati jarum jam, namun aku
belum bisa memejamkan mataku. Pikiranku buntu, hatiku tak karuan.
***
Pagi itu, aku
melihat meja makan kosong, hanya ada setumpuk roti lengkap dengan selainya dan
gelas-gelas berisi susu. Tak ada Ayah dan Ibu. Aku ketuk pintu kamar, ternyata mereka sudah berangkat. Tak biasanya mereka seperti
ini, mungkin ada imbas dari kejadian kemarin.
Akhirnya aku
menuju meja makan dan sarapan sendiri. Aku panggil mbak yang membantu pekerjaan
di rumah, maksudku supaya menemaniku sarapan.
“Mbak…kerja
disini sudah lama kan...?” tanyaku.
“Sudahlah non,
sejak non bayi, mbak sudah disini...?” jawabnya.
Aku ceritakan
semua yang aku alami kemarin lalu aku tanya, “kira-kira kenapa ya mbak...?”. Bukan jawaban yang aku dapat, malah si mbak buru-buru pergi ke
dapur.
Cukup lelah
dengan keadaan ini, akhirnya aku memutuskan untuk berangkat sekolah saja.
Selama perjalanan pikiranku semakin tak karuan. Jika ada masalah, kenapa
orangtuaku tak pernah membicarakan ini. Tak terasa gerbang sekolah sudah
didepan mata. Aku langkahkan kaki menuju kelas, aku tetap mencoba untuk konsentrasi sampai waktu
pulang tiba.
***
Pulang sekolah,
aku disambut Ibu dan Ayah. Tumben mereka ada di rumah jam segini, biasanya mereka di rumah
selepas magrib. Ibu mengajakku makan dan menyuruhku beristirahat, Aku melihat
wajah Ibu
pucat. Matanya sembab seperti habis menangis. Aku tak berani bertanya, takut kejadian
kemarin terulang lagi.
Seminggu
berlalu, Ibuku sakit, setelah dicek
dokter ternyata Ibu menderita gejala tifus dan harus dirawat di rumah sakit.
Pikiranku masih melayang, apa Ibu sakit gara-gara peristiwa waktu itu. Sempat aku marah pada si Ibu penjual nasi kuning, kenapa dia berbuat seperti itu. Kalau saja
dia tidak menangis di depan pagar rumah, akupun tak akan menceritakan hal ini
pada Ibu dan Ibu mungkin saat ini masih
sehat.
Sekitar lima
hari Ibu
dirawat di rumah sakit. Hari keenam, Ibuku boleh pulang. Aku jemput Ibu dan sepanjang jalan Kami bercerita. Aku sangat
rindu…ditengah-tengah
percakapan Kami,
ada satu pertanyaan Ibu yang aku rasa sangat aneh.
“San, apapun
yang terjadi, Santi tak akan meninggalkan Ibu kan...?” tanya Ibu.
“Ibu kok
ngomongnya aneh, ya enggalah Bu, emang ada apa...?” tanyaku.
“Nanti Ibu bicarakan di rumah yah...” jawab Ibu.
Perjalanan satu
jam serasa perjalanan beberapa jam, terasa
sangat lama sekali. Ada ketakutan dalam diri, apa yang akan
terjadi nanti. Sepertinya Ibu akan menceritaka sesuatu yang selama ini dia sembunyikan.
Sesampai di
rumah, Ibu
langsung mengajak aku ke kamar. Aku melihat badan Ibu masih lemah. Namun aku
melihat ada sesuatu yang memang benar-benar ingin dia bicarakan.
“San…” Ibu memanggilku dengan
nada terbata-bata.
“Bu, kalau Ibu tak ingin cerita, ya
gak usah
diceritakan...” jawabku.
“Ibu, harus
cerita...sekitar
20 tahun yang lalu Ibu menikah dengan Ayah, pernikahan Ibu sudah sekitar tiga tahun, namun Kami belum juga dikaruniai anak, padahal Ibu dan Ayah sangat mendambakan
kehadiran bayi mungil di rumah ini. Perekonomian yang sudah cukup mapan, membuat Ibu semakin ingin mempunyai keturunan. Namun, sayang
Ibu
dinyatakan mandul dan tak bisa punya anak...” cerita Ibu.
Deg...perasaanku langsung tak
menentu, lalu aku anak siapa??? Selama ini aku tinggal dengan kedua orangtua yang memang bukan
orangtua kandungku. Ibupun meneruskan
ceritanya...
“Ibu lupa hari
itu, yang pasti ada seorang wanita muda datang ke rumah Ibu dan menawarkan Ibu untuk mengurus anaknya
dengan alasan faktor ekonomi. Suaminya meninggal dan dia belum punya pekerjaan, sementara anak bayinya
perlu diberi kehidupan yang layak. Begitu Ibu melihat bayi itu, Ibu langsung jatuh hati
dan tanpa ada ragu, Ibu ambil bayi itu. Bayi itu kini tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan baik. Gadis
itu ada di depan Ibu sekarang…maafkan Ibu nak…”
“Lalu, siapa
orangtua kandungku Bu…?” tanyaku.
“Seorang Ibu yang memberikan kamu
ke pelukan Ibu
bukan berarti dia tidak sayang padamu nak...dia hanya tak ingin melihatmu hidup susah,
dia ingin kamu hidup sangat layak dan Ibu sangat tahu…pasti berat dan sangat berat
melepas anak sendiri untuk orang lain…” kata Ibu.
“Iya…siapa Bu, siapa orangtuaku...?” tanyaku lagi.
“Ibu memberikan
modal yang cukup buat dia, bukan berniat membeli kamu, kamu tidak bisa
dihargakan oleh sejumlah uang atau apapun. Dunia jika ditukar dengan kamu juga
tidak akan Ibu
berikan. Ibu hanya ingin orangtua dari anak yang Ibu sayang mendapatkan penghidupan yang lebih baik
dari sebelumnya. Hanya itu yang ada difikiran Ibu. Ibu berikan sejumlah uang untuk dia berjualan
nasi kuning...” jelas Ibu.
“Jadi Ibu itu…” tanpa ku
teruskan pertanyaanku, tangisanku sudah meledak. Sekarang dia dimana Bu, kenapa aku tidak
pernah melihatnya lagi.
“Ibu yang salah
San, setelah dia datang menemuimu siang itu, walau tanpa bicara sepatah
katapun, Ibu
takut, Ibu
takut kehilanganmu. Ibu memang tidak mengandungmu, namun bagi Ibu, kamu adalah anak Ibu yang Tuhan titipkan
untuk Ibu dan
Ayah. Tanpa
sepengetahuanmu, Ibu mendatangi Ibu kandungmu dan meminta dia untuk tidak berjualan lagi didepan
rumah, tidak pernah melihatmu lagi dan tidak pernah mendatangimu lagi. Beliau
menangis, namun akhirnya setuju...” kata Ibuku.
“Bu…aku tidak
akan meninggalkan Ibu dan Ayah, bukan karena Ibu dan Ayah orang berada dan beliau seorang penjual nasi kuning. Seandainya
keadaannya dibalikpun saat ini, aku pasti akan memilih hidup bersama Ibu. Aku tidak benci
orangtua kandungku karean mungkin saat itu, itulah jalan yang terbaik untukku. Tapi apa Ibu bersedia mengantarkan
aku menemui orangtua kandungku, aku hanya ingin mencium tangan beliau Bu...dan setelah itu jika Ibu tidak ingin aku
menemuinya, aku tidak akan menemuinya lagi...” pintaku.
Ibu sempat
berfikir beberapa menit, lalu akhirnya menyetujui permintaanku.
***
Hari itu hari
minggu, Kami
sekeluarga berniat untuk mendatangi rumah Ibu kandungku. Selama perjananan, perasaanku
semakin tidak karuan. Bertahun-tahun aku melihat wajah beliau ketika berjualan,
sekarang kok rasanya beda sekali.
Sesampainya
didepan rumah Ibu kandungku, Ibu ketuk pintu rumah dan tidak menunggu lama keluarlah Ibu itu. Ibu penjual nasi
kuning yang memang sudah lama tidak aku lihat. Entah kenapa, ada rasa rindu
yang teramat dalam, ingin aku peluk beliau, ingin aku sentuh wajahnya. Namun kenapa seolah hatiku meronta
ketika aku melihat sosok Ibu yang sedang menatapku.
“Ibu…” hanya itu
yang keluar dari mulutku. Aku cium tangannya dengan tetesan air mata yang tak henti-hentinya mengalir.
Aku berbisik
pada Ibu…Ibu yang mengurusku sejak aku bayi, “Aku janji, aku
tidak akan meninggalkan Ibu, namun ijinkan aku punya satu permintaan, biarkan aku tetap bisa
melihat Ibu kandungku, Ibu penjual nasi kuning,
ibu yang telah melahirkanku, yang telah membawaku dalam perutnya selama sembilan bulan untuk tetap
bisa aku lihat. Jangan biarkan dia pergi dari penglihatanku…” kataku.
Ibu dan Ayah setuju dengan
keinginanku, Ibu penjual nasi kuning itu, Ibu kandungku kembali berjualan didepan rumahku. Setiap hari aku bisa
melihatnya dengan perasaan yang berbeda tentunya dengan sebelumnya.
Aku bangga
mempunyai orangtua-orangtua seperti mereka. Selalu Ikhlas…ikhlas dalam menerima
dan memberi sesuatu. Aku bahagia, mereka adalah harta paling berharga dalam
hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar