7 Nov 2013

Tak Cukup Satu Kali

Untuk yang kedua kalinya aku harus memperjuangkan cintaku untuk dia. Dia istriku. Seharusnya Kami bahagia dengan usia pernikahan Kami yang masih seumur jagung. Tapi semua hilang ketika peristiwa itu datang. Aku anggap ini musibah, aku anggap ini cobaan dalam hidupku.

***

Aku mengenal istriku dari Ayah dan Ibuku. Bisa dibilang kalau Kami menikah karena perjodohan. Aku jatuh cinta padanya ketika pertama kali aku melihatnya. Dia wanita yang sangat cantik dan cerdas. Namun berbeda dengan apa yang dia rasakan padaku, dia sempat menolak perjodohan Kami.

Perjuanganku untuk mendapatkan cintanya tidak berhenti sampai disana. Memang Kami dijodohkan, tapi aku tidak pernah memaksakan kehendakku untuk memperistri dia walaupun jika aku mau, aku mampu melakukannya. Tapi aku tak seperti itu, aku ingin menikah dengan rasa cinta.

Sekitar satu tahun, aku mengejarnya. Berkali-kali mertuaku memberikan saran padaku untuk menikah secepatnya walaupun istriku belum mencintaiku. Namun aku menolak. Aku akan berusaha supaya Tya mencintaiku.

Berbagai cara sudah aku lakukan, bukan karena aku kuat, bukan karena aku tangguh. Karena aku juga hanya manusia biasa yang terkadang ingin menyerah. Namun, semua aku tepis karena aku sangat mencintainya.

***

Menginjak tahun kedua, sikapnya mulai melumer, tidak seketus sebelumnya. Aku bisa melihat senyum terindah yang belum pernah dia berikan untukku. Hingga akhirnya dia mengatakan kalau dia bersedia menjadi pendamping hidupku selamanya.

Mungkin aku adalah orang yang paling bahagia saat itu. Tidak ada satu orangpun yang bisa menandingi kebahagiaanku saat itu. Kami akan segera menikah atas dasar cinta.

***

Menginjak enam bulan usia pernikahan Kami, istriku positif hamil. Aku bersyukur, sangat bersyukur sekali. Kedua orangtua Kamipun sangat bahagia. Ini adalah cucu pertama mereka. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Sementara istriku adalah anak tunggal.

Kebahagiaanku bertambah ketika aku naik jabatan di kantor. Gajiku juga cukup besar, mungkin inilah rejeki sijabang bayi. Kebahagiaanku semakin sempurna ketika Salwa hadir dalam hidupku. Sembilan bulan dalam kandungan istriku akhirnya sekarang aku bisa memeluknya. Bayi kecilku itu mirip sekali dengan Ibunya. Sangat cantik sekali.

Hidupku sangat bahagia. Sebelum peristiwa itu datang...


Siang itu, istriku meneleponku. Waktu itu aku sedang di kantor. Dia meminta izin untuk pergi keluar kota karena ada kerabatnya yang sedang sakit. Aku sudah bilang, biar nanti aku saja yang mengantar dia, tapi dia menolak dengan alasan takut mengganggu pekerjaanku.

Aku sebenarnya sangat tidak mengizinkan dia pergi apalagi keluar kota, tapi karena dia memaksa akhirnya akupun mengizinkannya.

***

Malam itu aku pulang ke rumah. Anakku, dititipkan pada mertuaku. Jadi aku sendiri di rumah. Sepi sekali rasanya di rumah tanpa dia. Terbersit dalam hatiku, bagaimana kalau aku hidup sendiri. Mungkin aku akan seperti ini setiap hari. Tapi aku cepat-cepat singkirkan perasaan itu. Jangan, jangan sampai itu terjadi.

Sekitar jam 11 malam, aku tak mengerti kenapa perasaanku sangat tidak enak. Aku ingin tidur tapi aku tak bisa tidur. Akhirnya aku ke ruang keluarga untuk maen game. Itulah rutinitasku ketika aku sedang suntuk. Terkadang istriku suka kesal karena aku tak tahu waktu kalau sudah maen game.

Pikiranku masih tak karuan, lalu aku masuk kekamar lagi, sebenarnya aku sangat ingin menelpon mertuaku tapi malam sudah larut. Akhirnya aku mencoba untuk memaksa rasa kantuk itu datang. Baru sekitar 15 menit aku tertidur, tiba-tiba hpku berbunyi. Masih dengan rasa kantuk yang tadi aku undang, sekarang kantuk itu malah tak mau pergi.

Aku angkat telepon, ternyata dari Ibu mertuaku. Dia menangis dan aku bingung. Aku lihat waktu masih menunjukkan pukul 2 pagi. Berkali-kali aku tanya, tapi mertuaku hanya menangis.

Akhirnya aku putuskan untuk pergi ke rumah mertuaku walaupun masih pagi buta. Rumah Kami berjarak kurang lebih 10 km. Ku lajukan mobilku dengan kencang. Aku berfikir mungkin saja ada hal buruk yang terjadi pada anakku. Tapi mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa.

***

Sesampainya di rumah mertuaku, aku langsung masuk. Dan benar saja Ibu mertuaku sedang menangis sambil menggendong anakku. Tapi anakku tidak apa-apa, fikirku dalam hati. Lalu aku bertanya apa yang sedang terjadi dan beliau menjelaskan kalau istriku mengalami kecelakaan ketika menuju tempat kerabatnya. Sontak saja aku merasa dunia ini berhenti berputar, aku berkeringat dingin dan aku ingin menangis sejadi-jadinya. Aku langsung pergi ke rumah sakit.

Setibanya di rumah sakit, aku langsung masuk ke ruang rawat seperti yang ditunjukkan perawat disana. Aku melihat istriku sedang terbaring. Secara kasat mata tidak terlihat ada yang sakit. Badannya masih kelihatan sehat. Dia juga tidak terbaring lemah. Syukurlah, Tya istriku baik-baik saja.

Aku dekati istriku, aku sentuh dia. Dia tidak merespon sama sekali. Dia hanya diam, tak bicara. Aku berkali-kali tanya mana yang sakit, tapi dia malah seperti kebingungan.
Ada apa dengannya? Kenapa dia seperti itu?

Dokter datang ke ruang rawat istriku dan memintaku untuk berbicara empat mata. Akupun masuk ke ruang dokter. Dokter menjelaskan kalau istriku mengalami amnesia akut. Dia tidak ingat siapapun, termasuk aku dan anak kita. Sungguh musibah itu sangat menyiksaku.

***

Sudah sekitar empat bulan, Kami memang tinggal satu rumah, tidak ada yang berubah dengan status Kami. Tapi perlakukan dia padaku seperti pada orang lain. Sangat kaku. Begitupun perlakuan dia pada orangtua Kami. Dia tidak mau tidur di kamar kita, dia memilih tidur di kamar tamu dengan Salwa, anak semata wayang Kami.

Aku tahu, istriku tidak nyaman dengan aku. Hingga pada suatu hari dia memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya. Sejujurnya aku sangat keberatan dengan keputusannya. Namun setelah orangtua dan mertuaku memberi saran, akhirnya aku menyetujuinya.

Aku seperti hidup dimasa lalu, ketika dengan susah payah aku berusaha mengejar cintaku. Mengejar dia untuk jadi istriku. Saat itu, aku tidak peduli dengan rintangan sesulit apapun, karena aku sangat mencintainya.

Mungkin, tak cukup satu kali aku mengejar dia. Mungkin aku harus mengejar cintanya untuk yang kedua kalinya. Aku harus mengejar cinta istriku sendiri. Istri yang sudah memberiku satu orang bidadari cantik. Dulu aku bisa...dan sekarang aku juga pasti bisa. Apalagi selalu ada doa yang mengalir untukku dari kedua orangtua Kami.

***

Tiga tahun, tiga tahun aku mengejar Tya. Aku berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan cintanya. Aku tidak ingin menyerah, apalagi menceraikannya, terbersit dalam ingatan pun tidak pernah ada. Setiap hari aku berharap ingatan dia kembali. Namun dokter mengatakan kalau itu sudah tidak mungkin.

Menginjak tahun keempat, memang aku melihat banyak sekali perubahan positif dari diri istriku. Mungkin karena usahaku yang tidak pernah menyerah hingga akhirnya istri dan anakku kembali ke rumah.

Ingatan istriku memang belum kembali dan mungkin tidak akan pernah kembali, namun cintanya sudah aku dapatkan kembali. Dan itu yang terpenting untukku.

Kami bahagia saat ini. Walaupun kejadian itu belum bisa aku lupakan, namun aku akan tetap melihat kalau semua yang terjadi pada Kami adalah sebuah cobaan. Semua adalah kasih sayangNYA. Walau mengejar cintanya tak cukup satu kali namun aku sangat bahagia. Semoga kebahagiaan ini selalu Tuhan limpahkan pada Kami.


Aamiin Ya Robb...

2 komentar:

  1. Menarik sekali cerpennya. Saya merasa kagum kepada tokoh utama dalam cerpen ini yang sabar.

    BalasHapus
  2. iya pak mamandar...sering2 mampir ke blog saya ya,hehehhe...

    BalasHapus