Untuk yang kedua kalinya aku
harus memperjuangkan cintaku untuk dia. Dia istriku. Seharusnya Kami bahagia
dengan usia pernikahan Kami yang masih seumur jagung. Tapi semua hilang ketika
peristiwa itu datang. Aku anggap ini musibah, aku anggap ini cobaan dalam
hidupku.
***
Aku mengenal istriku dari Ayah
dan Ibuku. Bisa dibilang kalau Kami menikah karena perjodohan. Aku jatuh cinta
padanya ketika pertama kali aku melihatnya. Dia wanita yang sangat cantik dan cerdas.
Namun berbeda dengan apa yang dia rasakan padaku, dia sempat menolak perjodohan
Kami.
Perjuanganku untuk mendapatkan
cintanya tidak berhenti sampai disana. Memang Kami dijodohkan, tapi aku tidak
pernah memaksakan kehendakku untuk memperistri dia walaupun jika aku mau, aku
mampu melakukannya. Tapi aku tak seperti itu, aku ingin menikah dengan rasa
cinta.
Sekitar satu tahun, aku
mengejarnya. Berkali-kali mertuaku memberikan saran padaku untuk menikah
secepatnya walaupun istriku belum mencintaiku. Namun aku menolak. Aku akan
berusaha supaya Tya mencintaiku.
Berbagai cara sudah aku lakukan,
bukan karena aku kuat, bukan karena aku tangguh. Karena aku juga hanya manusia
biasa yang terkadang ingin menyerah. Namun, semua aku tepis karena aku sangat
mencintainya.
***
Menginjak tahun kedua, sikapnya
mulai melumer, tidak seketus sebelumnya. Aku bisa melihat senyum terindah yang
belum pernah dia berikan untukku. Hingga akhirnya dia mengatakan kalau dia
bersedia menjadi pendamping hidupku selamanya.
Mungkin aku adalah orang yang paling
bahagia saat itu. Tidak ada satu orangpun yang bisa menandingi kebahagiaanku
saat itu. Kami akan segera menikah atas dasar cinta.
***
Menginjak enam bulan usia
pernikahan Kami, istriku positif hamil. Aku bersyukur, sangat bersyukur sekali.
Kedua orangtua Kamipun sangat bahagia. Ini adalah cucu pertama mereka. Aku anak
pertama dari tiga bersaudara. Sementara istriku adalah anak tunggal.
Kebahagiaanku bertambah ketika
aku naik jabatan di kantor. Gajiku juga cukup besar, mungkin inilah rejeki
sijabang bayi. Kebahagiaanku semakin sempurna ketika Salwa hadir dalam hidupku.
Sembilan bulan dalam kandungan istriku akhirnya sekarang aku bisa memeluknya. Bayi
kecilku itu mirip sekali dengan Ibunya. Sangat cantik sekali.
Hidupku sangat bahagia. Sebelum
peristiwa itu datang...
Siang itu, istriku meneleponku.
Waktu itu aku sedang di kantor. Dia meminta izin untuk pergi keluar kota karena
ada kerabatnya yang sedang sakit. Aku sudah bilang, biar nanti aku saja yang
mengantar dia, tapi dia menolak dengan alasan takut mengganggu pekerjaanku.
Aku sebenarnya sangat tidak
mengizinkan dia pergi apalagi keluar kota, tapi karena dia memaksa akhirnya
akupun mengizinkannya.
***
Malam itu aku pulang ke rumah.
Anakku, dititipkan pada mertuaku. Jadi aku sendiri di rumah. Sepi sekali
rasanya di rumah tanpa dia. Terbersit dalam hatiku, bagaimana kalau aku hidup
sendiri. Mungkin aku akan seperti ini setiap hari. Tapi aku cepat-cepat
singkirkan perasaan itu. Jangan, jangan sampai itu terjadi.
Sekitar jam 11 malam, aku tak
mengerti kenapa perasaanku sangat tidak enak. Aku ingin tidur tapi aku tak bisa
tidur. Akhirnya aku ke ruang keluarga untuk maen game. Itulah rutinitasku
ketika aku sedang suntuk. Terkadang istriku suka kesal karena aku tak tahu
waktu kalau sudah maen game.
Pikiranku masih tak karuan, lalu aku
masuk kekamar lagi, sebenarnya aku sangat ingin menelpon mertuaku tapi malam
sudah larut. Akhirnya aku mencoba untuk memaksa rasa kantuk itu datang. Baru
sekitar 15 menit aku tertidur, tiba-tiba hpku berbunyi. Masih dengan rasa
kantuk yang tadi aku undang, sekarang kantuk itu malah tak mau pergi.
Aku angkat telepon, ternyata dari
Ibu mertuaku. Dia menangis dan aku bingung. Aku lihat waktu masih menunjukkan
pukul 2 pagi. Berkali-kali aku tanya, tapi mertuaku hanya menangis.
Akhirnya aku putuskan untuk pergi
ke rumah mertuaku walaupun masih pagi buta. Rumah Kami berjarak kurang lebih 10
km. Ku lajukan mobilku dengan kencang. Aku berfikir mungkin saja ada hal buruk yang
terjadi pada anakku. Tapi mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa.
***
Sesampainya di rumah mertuaku,
aku langsung masuk. Dan benar saja Ibu mertuaku sedang menangis sambil
menggendong anakku. Tapi anakku tidak apa-apa, fikirku dalam hati. Lalu aku bertanya
apa yang sedang terjadi dan beliau menjelaskan kalau istriku mengalami
kecelakaan ketika menuju tempat kerabatnya. Sontak saja aku merasa dunia ini
berhenti berputar, aku berkeringat dingin dan aku ingin menangis
sejadi-jadinya. Aku langsung pergi ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, aku
langsung masuk ke ruang rawat seperti yang ditunjukkan perawat disana. Aku
melihat istriku sedang terbaring. Secara kasat mata tidak terlihat ada yang
sakit. Badannya masih kelihatan sehat. Dia juga tidak terbaring lemah.
Syukurlah, Tya istriku baik-baik saja.
Aku dekati istriku, aku sentuh
dia. Dia tidak merespon sama sekali. Dia hanya diam, tak bicara. Aku
berkali-kali tanya mana yang sakit, tapi dia malah seperti kebingungan.
Ada apa dengannya? Kenapa dia
seperti itu?
Dokter datang ke ruang rawat
istriku dan memintaku untuk berbicara empat mata. Akupun masuk ke ruang dokter.
Dokter menjelaskan kalau istriku mengalami amnesia akut. Dia tidak ingat
siapapun, termasuk aku dan anak kita. Sungguh musibah itu sangat menyiksaku.
***
Sudah sekitar empat bulan, Kami
memang tinggal satu rumah, tidak ada yang berubah dengan status Kami. Tapi
perlakukan dia padaku seperti pada orang lain. Sangat kaku. Begitupun perlakuan
dia pada orangtua Kami. Dia tidak mau tidur di kamar kita, dia memilih tidur di
kamar tamu dengan Salwa, anak semata wayang Kami.
Aku tahu, istriku tidak nyaman
dengan aku. Hingga pada suatu hari dia memutuskan untuk pulang ke rumah
orangtuanya. Sejujurnya aku sangat keberatan dengan keputusannya. Namun setelah
orangtua dan mertuaku memberi saran, akhirnya aku menyetujuinya.
Aku seperti hidup dimasa lalu,
ketika dengan susah payah aku berusaha mengejar cintaku. Mengejar dia untuk
jadi istriku. Saat itu, aku tidak peduli dengan rintangan sesulit apapun,
karena aku sangat mencintainya.
Mungkin, tak cukup satu kali aku
mengejar dia. Mungkin aku harus mengejar cintanya untuk yang kedua kalinya. Aku
harus mengejar cinta istriku sendiri. Istri yang sudah memberiku satu orang
bidadari cantik. Dulu aku bisa...dan sekarang aku juga pasti bisa. Apalagi
selalu ada doa yang mengalir untukku dari kedua orangtua Kami.
***
Tiga tahun, tiga tahun aku
mengejar Tya. Aku berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan cintanya. Aku tidak
ingin menyerah, apalagi menceraikannya, terbersit dalam ingatan pun tidak
pernah ada. Setiap hari aku berharap ingatan dia kembali. Namun dokter
mengatakan kalau itu sudah tidak mungkin.
Menginjak tahun keempat, memang
aku melihat banyak sekali perubahan positif dari diri istriku. Mungkin karena
usahaku yang tidak pernah menyerah hingga akhirnya istri dan anakku kembali ke rumah.
Ingatan istriku memang belum
kembali dan mungkin tidak akan pernah kembali, namun cintanya sudah aku
dapatkan kembali. Dan itu yang terpenting untukku.
Kami bahagia saat ini. Walaupun
kejadian itu belum bisa aku lupakan, namun aku akan tetap melihat kalau semua yang
terjadi pada Kami adalah sebuah cobaan. Semua adalah kasih sayangNYA. Walau
mengejar cintanya tak cukup satu kali namun aku sangat bahagia. Semoga
kebahagiaan ini selalu Tuhan limpahkan pada Kami.
Aamiin Ya Robb...
Menarik sekali cerpennya. Saya merasa kagum kepada tokoh utama dalam cerpen ini yang sabar.
BalasHapusiya pak mamandar...sering2 mampir ke blog saya ya,hehehhe...
BalasHapus