Setahun sudah aku divonis
menderita gagal ginjal. Setiap dua minggu sekali aku harus cuci darah. Bukan
hanya biaya yang harus keluar banyak, tetapi juga tenaga yang mulai terkuras
habis. Aku akan segera meninggal. Hanya itu yang bisa aku rasakan saat itu.
Sejujurnya, aku sudah tidak punya
harapan untuk hidup dan sepertinya kedua orangtuaku pun sudah pasrah. Memang,
masih ada sebersit harapan, aku ingin hidup lebih lama lagi. Mengingat usiaku
yang masih muda. Usiaku baru menginjak 21 tahun.
Aku masih menjalankan kuliahku,
aku berpura-pura sehat seperti orang-orang sekitarku. Aku tak ingin dikasihani.
Aku ingin mandiri walaupun keadaanku memang sangat menyedihkan.
***
Siang itu, aku sedang jalan-jalan
disebuah pusat perbelanjaan di Jakarta, tak jauh dari tempat tinggalku. Entah
kenapa, tiba-tiba aku merasa tubuhku tak bisa bergerak. Terasa kaku, bahkan aku
sulit untuk bernafas.
Aku tak tahu apa yang terjadi.
Ketika kubuka mata, aku sudah berada ditempat yang sama sekali tidak aku
inginkan. Rumah Sakit.
Aku pingsan lagi dan lagi-lagi
aku lemah. Tapi aku tak ingin menangis dengan kondisiku. Semua yang terjadi
atas kehendakNYA dan aku harus bersabar.
Satu hal yang membuatku heran,
siapa yang membawaku kesini. Karena aku masih ingat betul kalau aku jalan-jalan
ke mall itu sendiri. Atau mungkin ada orang yang berbaik hati yang mengantarkan
aku kesini.
Aku lihat disekeliling dan aku
terpana pada seseorang yang berada dipojok kamar. Seorang laki-laki yang
mungkin usianya jauh lebih dewasa dari aku. Pelan-pelan dia menghampiriku dan
menanyakan keadaanku.
Aku memang tidak mengenalnya,
namun aku merasa aku pernah melihat dia. Benar, dia pemilik toko busana yang
aku kunjungi tadi siang. Ternyata aku pingsan ketika sedang memilih baju yang
akan aku pakai dipesta ulang tahun perkawinan orangtuaku bulan depan.
Laki-laki itu bernama Ilham.
Badanku sudah terasa ringan
ketika dokter memeriksaku. Aku sudah diperbolehkan pulang saat itu juga, karena
menurut dokter aku hanya kelelahan saja. Memang beberapa hari ini, aku sibuk
dengan kuliahku. Walaupun orangtuaku selalu menasehati, namun seperti yang aku
bilang, aku tak ingin disebut penyakitan.
Aku pulang ke rumah diantar dia.
Aku memanggilnya Mas Ilham. Pemilik toko itu. Dia sangat baik sekali. Selama
perjalanan ke rumah aku tak merasa bosan karena dia seorang yang humoris.
***
Mas Ilham usianya lima tahun
diatas aku. Dia sudah menekuni dunia bisnis sejak dia duduk di bangku SMU.
Orangtua dia yang mengajarkannya karena semua sanak keluarganya bergelut dibidang
bisnis. Dan memang dunia inilah yang dia sukai.
Aku melihat bisnis dia cukup
sukses, walaupun dia selalu merendah kalau bisnis yang dia jalani hanya bisnis
kecil-kecilan. Dia tulang punggung keluarga dan harus menghidupi dua orang Adiknya.
Sementara orangtua Mas Ilham sudah meninggal dunia karena sakit.
Aku juga menceritakan
kehidupanku, kehidupan yang mungkin tidak akan lama lagi akan berakhir. Dia
memberiku semangat, hingga tak terasa, akupun sudah berada didepan rumah. Aku
tawarkan dia masuk dan dia tidak menolaknya.
Aku perkenalkan Mas Ilham pada
Ibu dan Bapakku dan menceritakan kejadian yang terjadi padaku tadi siang. Mas
Ilham sepertinya sangat pandai mengambil perhatian orangtuaku. Terbukti ketika
Mas Ilham pulang, orangtuaku bicara padaku kalau dia sangat senang pada Mas
Ilham. Mungkin karena dia orang marketing, pintar mengambil hati orang.
Aku langsung masuk kamar untuk
beristirahat karena besok aku harus ke kampus menyerahkan tugas kuliahku.
***
Keesokan harinya, ketika aku membuka
mata ini, entah kenapa badanku semakin ringan. Padahal aku belum minum obat
yang dokter kasih kemarin. Aku mandi, sarapan dan lagi-lagi harus minum obat.
Belum aku pamitan pada Ibu, aku mendengar bel diluar rumah berbunyi. Aku
lihat...ternyata Mas Ilham. Dia menawarkan diri untuk mengantarku ke kampus.
Aku tak mengerti kenapa aku begitu senang mendengar ajakan dia.
Sejak saat itu, hidupku semakin
berwarna karena kehadiran Mas Ilham. Komunikasi demi komunikasi kita rangkai
hingga pada suatu saat Mas Ilham bermaksud untuk meminangku menjadi istrinya.
Aku sempat ragu, apa aku bisa
menjalani pernikahan dengannya sementara usiaku mungkin tidak akan lama lagi.
Tapi Mas Ilham selalu memberiku keyakinan kalau aku akan sembuh dan bisa
menjadi istri yang baik.
Akhirnya akupun menikah
dengannya. Aku sangat bahagia. Perlahan kesehatanku membaik. Mungkin karena
setiap hari aku dihujani kebahagiaan. Aku sangat bersyukur mempunyai suami
sepertinya.
Suatu kebahagiaan lagi untukku
ketika aku diberitahu dokter bisa menjalani cuci darah hanya setiap dua bulan
sekali. Dokterpun sangat heran dengan perkembangan kesehatanku. Tapi jika Tuhan
sudah berkehendak siapapun tidak bisa mencegahnya. Aku bisa bersyukur dengan
keadaanku saat ini.
***
Tiga tahun sudah aku menjalani
pernikahan ini. Walaupun dokter menyarankan aku untuk tidak dulu mempunyai momongan
karena faktor kesehatan, tapi suamiku tidak mempermasalahkan hal itu, suamiku
sangat memaklumi kondisiku.
Menginjak tahun keempat, dokter
sudah membolehkan aku untuk program hamil. Lagi-lagi aku harus bersyukur karena
aku bisa mengandung dan melahirkan.
Tidak lama dari itupun, aku
mengandung dan sekarang anakku sudah menginjak usia tiga tahun. Kondisi
kesehatan akupun semakin membaik setelah aku menjadi seorang Ibu. Bahkan dokter
menyatakan aku sudah sembuh total. Tapi dokter menyarankan agar aku tetap menjaga
kondisiku dengan baik.
***
Aku tahu, ini semua kuasaNya.
Tuhan telah mengirimkan Mas Ilham dalam hidupku untuk memberiku semangat hidup
yang luar biasa. Mas Ilham memberiku cinta dan kasih sayang yang sangat banyak.
Mungkin bukan obat-obatan yang selama ini aku konsumsi yang menyembuhkanku. Dan
ternyata cinta itu yang membuatku tetap berdiri, tetap tersenyum dan tetap
hidup bersama orang-orang yang aku sayangi.
Terima Kasih cinta...
Happy ending ceritanya :D
BalasHapusiya kang mamandar....:)
BalasHapus