6 Des 2013

Dan Ternyata Cinta

Setahun sudah aku divonis menderita gagal ginjal. Setiap dua minggu sekali aku harus cuci darah. Bukan hanya biaya yang harus keluar banyak, tetapi juga tenaga yang mulai terkuras habis. Aku akan segera meninggal. Hanya itu yang bisa aku rasakan saat itu.

Sejujurnya, aku sudah tidak punya harapan untuk hidup dan sepertinya kedua orangtuaku pun sudah pasrah. Memang, masih ada sebersit harapan, aku ingin hidup lebih lama lagi. Mengingat usiaku yang masih muda. Usiaku baru menginjak 21 tahun.

Aku masih menjalankan kuliahku, aku berpura-pura sehat seperti orang-orang sekitarku. Aku tak ingin dikasihani. Aku ingin mandiri walaupun keadaanku memang sangat menyedihkan.

***

Siang itu, aku sedang jalan-jalan disebuah pusat perbelanjaan di Jakarta, tak jauh dari tempat tinggalku. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa tubuhku tak bisa bergerak. Terasa kaku, bahkan aku sulit untuk bernafas.

Aku tak tahu apa yang terjadi. Ketika kubuka mata, aku sudah berada ditempat yang sama sekali tidak aku inginkan. Rumah Sakit.


Aku pingsan lagi dan lagi-lagi aku lemah. Tapi aku tak ingin menangis dengan kondisiku. Semua yang terjadi atas kehendakNYA dan aku harus bersabar.

Satu hal yang membuatku heran, siapa yang membawaku kesini. Karena aku masih ingat betul kalau aku jalan-jalan ke mall itu sendiri. Atau mungkin ada orang yang berbaik hati yang mengantarkan aku kesini.

Aku lihat disekeliling dan aku terpana pada seseorang yang berada dipojok kamar. Seorang laki-laki yang mungkin usianya jauh lebih dewasa dari aku. Pelan-pelan dia menghampiriku dan menanyakan keadaanku.

Aku memang tidak mengenalnya, namun aku merasa aku pernah melihat dia. Benar, dia pemilik toko busana yang aku kunjungi tadi siang. Ternyata aku pingsan ketika sedang memilih baju yang akan aku pakai dipesta ulang tahun perkawinan orangtuaku bulan depan.

Laki-laki itu bernama Ilham.

Badanku sudah terasa ringan ketika dokter memeriksaku. Aku sudah diperbolehkan pulang saat itu juga, karena menurut dokter aku hanya kelelahan saja. Memang beberapa hari ini, aku sibuk dengan kuliahku. Walaupun orangtuaku selalu menasehati, namun seperti yang aku bilang, aku tak ingin disebut penyakitan.

Aku pulang ke rumah diantar dia. Aku memanggilnya Mas Ilham. Pemilik toko itu. Dia sangat baik sekali. Selama perjalanan ke rumah aku tak merasa bosan karena dia seorang yang humoris.

***

Mas Ilham usianya lima tahun diatas aku. Dia sudah menekuni dunia bisnis sejak dia duduk di bangku SMU. Orangtua dia yang mengajarkannya karena semua sanak keluarganya bergelut dibidang bisnis. Dan memang dunia inilah yang dia sukai.

Aku melihat bisnis dia cukup sukses, walaupun dia selalu merendah kalau bisnis yang dia jalani hanya bisnis kecil-kecilan. Dia tulang punggung keluarga dan harus menghidupi dua orang Adiknya. Sementara orangtua Mas Ilham sudah meninggal dunia karena sakit.

Aku juga menceritakan kehidupanku, kehidupan yang mungkin tidak akan lama lagi akan berakhir. Dia memberiku semangat, hingga tak terasa, akupun sudah berada didepan rumah. Aku tawarkan dia masuk dan dia tidak menolaknya.

Aku perkenalkan Mas Ilham pada Ibu dan Bapakku dan menceritakan kejadian yang terjadi padaku tadi siang. Mas Ilham sepertinya sangat pandai mengambil perhatian orangtuaku. Terbukti ketika Mas Ilham pulang, orangtuaku bicara padaku kalau dia sangat senang pada Mas Ilham. Mungkin karena dia orang marketing, pintar mengambil hati orang.

Aku langsung masuk kamar untuk beristirahat karena besok aku harus ke kampus menyerahkan tugas kuliahku.

***

Keesokan harinya, ketika aku membuka mata ini, entah kenapa badanku semakin ringan. Padahal aku belum minum obat yang dokter kasih kemarin. Aku mandi, sarapan dan lagi-lagi harus minum obat. Belum aku pamitan pada Ibu, aku mendengar bel diluar rumah berbunyi. Aku lihat...ternyata Mas Ilham. Dia menawarkan diri untuk mengantarku ke kampus. Aku tak mengerti kenapa aku begitu senang mendengar ajakan dia.

Sejak saat itu, hidupku semakin berwarna karena kehadiran Mas Ilham. Komunikasi demi komunikasi kita rangkai hingga pada suatu saat Mas Ilham bermaksud untuk meminangku menjadi istrinya.

Aku sempat ragu, apa aku bisa menjalani pernikahan dengannya sementara usiaku mungkin tidak akan lama lagi. Tapi Mas Ilham selalu memberiku keyakinan kalau aku akan sembuh dan bisa menjadi istri yang baik.

Akhirnya akupun menikah dengannya. Aku sangat bahagia. Perlahan kesehatanku membaik. Mungkin karena setiap hari aku dihujani kebahagiaan. Aku sangat bersyukur mempunyai suami sepertinya.

Suatu kebahagiaan lagi untukku ketika aku diberitahu dokter bisa menjalani cuci darah hanya setiap dua bulan sekali. Dokterpun sangat heran dengan perkembangan kesehatanku. Tapi jika Tuhan sudah berkehendak siapapun tidak bisa mencegahnya. Aku bisa bersyukur dengan keadaanku saat ini.

***

Tiga tahun sudah aku menjalani pernikahan ini. Walaupun dokter menyarankan aku untuk tidak dulu mempunyai momongan karena faktor kesehatan, tapi suamiku tidak mempermasalahkan hal itu, suamiku sangat memaklumi kondisiku.

Menginjak tahun keempat, dokter sudah membolehkan aku untuk program hamil. Lagi-lagi aku harus bersyukur karena aku bisa mengandung dan melahirkan.

Tidak lama dari itupun, aku mengandung dan sekarang anakku sudah menginjak usia tiga tahun. Kondisi kesehatan akupun semakin membaik setelah aku menjadi seorang Ibu. Bahkan dokter menyatakan aku sudah sembuh total. Tapi dokter menyarankan agar aku tetap menjaga kondisiku dengan baik.

***

Aku tahu, ini semua kuasaNya. Tuhan telah mengirimkan Mas Ilham dalam hidupku untuk memberiku semangat hidup yang luar biasa. Mas Ilham memberiku cinta dan kasih sayang yang sangat banyak. Mungkin bukan obat-obatan yang selama ini aku konsumsi yang menyembuhkanku. Dan ternyata cinta itu yang membuatku tetap berdiri, tetap tersenyum dan tetap hidup bersama orang-orang yang aku sayangi.


Terima Kasih cinta...

2 komentar: