25 Apr 2017

Pendam dan Lupakan

Sebuah Rasa…sebuah perasaan...siapa yang bisa menebak kapan dia datang dan kapan dia pergi. Perasaan datang tanpa terencana dan terkadang perginya pun tanpa kita sadari. Setiap orang pasti pernah merasakan perasaan suka, kagum, bahkan sampai ke taraf mencintai.

Begitupun yang dirasakan seorang gadis ini. Sebut saja Melati. Gadis yang berharap ada seorang pangeran datang mengisi kekosongan hatinya. Seorang laki-laki yang sholeh, yang mempunyai tujuan hidup yang sama dengannya. Menyempurnakan setengah diennya.

Langkah hidup untuk mencari laki-laki yang dia harapkan sudah dia tempuh. Begitupun doa kepada Sang Maha Kuasa untuk mewujudkan harapannya. Mungkin tinggal sabar dan tawakal untuk menunggu kapan waktu indah itu tiba.


***

Sekitar ba’da isya, terdengar suara hp Melati berbunyi. Sepertinya suara sms, dilihat…benar sms dari seorang teman karibnya. Teman semasa sekolahnya yang bertemu kembali lewat dunia maya. Dunia yang tak diketahui keberadaanya. Dunia yang bisa disebut dunia angan-angan. Bahkan mungkin dunia yang penuh dengan ketidakpastian. Dunia tempat berimajinasi.

Akhirnya merekapun mengobrol. Obrolan pun semakin melebar. Dari mulai urusan kerjaan, kegiatan sehari-hari hingga berujung pada masalah cinta. Lima huruf yang tak pernah ada habisnya untuk dibicarakan.

Temannya berniat untuk mengenalkan Melati pada seorang laki-laki. Pada awalnya gadis itu menolak karena dirasa mengenal laki-laki yang belum pasti keberadaanya adalah suatu hal yang tidak wajar. Namun setelah difikir-fikir dan sedikit ada rekomendasi tentang laki-laki itu akhirnya Melati bersedia untuk berkenalan dengan laki-laki itu.

***

Sore itu tampak mendung, padahal gadis itu berniat untuk pergi ke toko buku, namun melihat cuaca tidak mendukung akhirnya dia urungkan niatnya. Akhirnya dia hanya bisa membuka laptop dan menjelajah ke dunia maya.

Termenung sesaat didepan layar dan tiba-tiba teringat rekomendasi temannya tentang laki-laki itu. Kenapa tiba-tiba terfikir, seperti apakah dia, apakah dia juga mempunyai rencana hidup yang sama dengan gadis itu. Aaahh…terlalu dini jika harus memikirkan itu. Bertemu saja belum kok sudah mikir macam-macam, begitu gerutunya dalam hati. Namun semakin difikir semakin hatinya ingin mengenalnya.

Masih didepan laptop kesayangannya, tak biasa hatinya gundah, tak tahu harus melakukan apa. Tiba-tiba sapaan dari temannya muncul di layar monitor. Mungkin waktu yang tepat untuk menanyakan laki-laki itu, siapa sebenarnya dia.

***

Malam telah menghancurkan senja. Lembayung telah berganti dengan pekatnya malam. Masih kepikiran tentang keberadaan laki-laki itu. Apalagi setelah Melati mengetahui alamat email dan no handphone orang yang direkomendasikan teman karibnya itu. Apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Otaknya tiba-tiba buntu kalau sudah dihadapkan pada urusan yang namanya laki-laki.

Jam dindingpun berdetak cepat sekali, detik demi detik, menitpun berlalu, namun tak ada yang dilakukannya sama sekali. Rasa penasaran di hati masih tersimpan dan mungkin terbawa dalam rangkaian mimpi-mimpinya malam itu.

***

Siang itu udara panas sekali. Segelas orange jus dingin menjadi pelengkap untuk kembali menjelajah ke dunia maya kembali. Melati seperti biasa membuka laptopnya, dan hei…laki-laki itu, “Sapa enggak yah…?” guman Melati dalam hati. Akhirnya Melati memberanikan diri untuk memulai semuanya.

Obrolan lewat udara itu bukan hanya dilakukan saat itu. Perkenalan pun berlanjut pada hari-hari berikutnya. Saling cerita, canda tawa hingga saling berbagi. Setiap gadis itu menjelajah dunia maya, gadis itu selalu melihat aktivitas laki-laki itu.

Waktupun berlalu, kekaguman muncul di hati Melati, kekaguman akan sosok itu, sosok yang dia kenal lewat dunia yang abstrak keberadaannya. Aneh memang, tapi begitulah yang dia rasakan.

***

Semakin mengenalnya, semakin dia merasakan kenyamanan, pertama dalam hidupnya mengenal sosok yang tak pernah dia duga sebelumnya, sosok yang tak pernah terlihat oleh mata, namun kenapa keyakinan di hatinya begitu kuat. “Semoga Allah SWT selalu menjaga perasaan ini agar tidak melampaui batas dari rambu-rambu-NYA”, begitu bisiknya dalam hati.

Suatu hari, Melati berniat untuk mengungkapkan niat baiknya kepada laki-laki itu, niat yang selama ini dipendam, perasaan yang selama ini dia rasakan, walaupun dia tahu dia hanyalah seorang wanita, yang terkadang bila wanita mengungkapkan isi hati terhadap lawan jenis dianggap orang sangatlah ganjil. Namun biarlah…

Akhirnya dengan keberaniannya, dengan kesiapan konsekuensi yang bakal ditanggung nanti, diapun menyatakan perasaannya dan keinginannya kepada laki-laki itu. Tentunya lewat dunia maya, media satu-satunya yang menjadi fasilitator mereka.

Namun, keinginan hanya sebatas keinginan. Harapan hanya sebatas harapan. Mungkin saat ini keinginan dan harapan itu hanya bisa menjadi mimpi belaka. Mimpi yang entah akan menjadi nyata atau tidak. Ternyata yang dirasakan laki-laki itu malah sebaliknya, laki-laki itu tak pernah merasakan apa yang dirasakan Melati selama ini. Entah alasannya apa, namun gadis itu sadar itu berarti sebuah penolakan buat dia.

Kecewa??? Mungkin hanya perasaan itu yang dia rasakan saat itu, namun dia yakin Allah SWT menciptakan manusia beserta pasangannya. Kalau memang bukan laki-laki itu pasangan jiwanya, mungkin ada laki-laki lain yang akan mendampinginya nanti.

***

Sebuah rasa untuk laki-laki itu sampai sekarang masih ada…entah sampai kapan akan menghilang. Perasaan terhadap sosok yang belum pernah dia lihat, perasaan terhadap sosok yang hanya ada dalam khayalan, perasaan terhadap sosok yang berada di dunia angan-angan. Perasaan terhadap sosok yang berada di dunia imajinasi.  Perasaan indah yang harus dipendam dan dilupakan.

Namun, secercah harapan selalu ada, berharap laki-laki itu berubah pikiran, karena tak ada yang mustahil, tak ada yang tidak mungkin jika Allah SWT sudah berkehendak.


Dalam setiap doa dia memohon…”Robb, jika laki-laki itu pilihan-MU untukku, ringankanlah langkahnya untuk menemuiku disini…namun jika memang bukan dia orangnya, hilangkanlah semua kekagumanku untuknya...”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar