Sebuah Rasa…sebuah
perasaan...siapa
yang bisa menebak kapan dia datang dan kapan dia pergi. Perasaan datang tanpa
terencana dan terkadang perginya pun tanpa kita sadari. Setiap orang pasti
pernah merasakan perasaan suka, kagum, bahkan sampai ke taraf mencintai.
Begitupun yang
dirasakan seorang gadis ini. Sebut saja Melati. Gadis yang berharap ada seorang
pangeran datang mengisi kekosongan hatinya. Seorang laki-laki yang sholeh, yang
mempunyai tujuan hidup yang sama dengannya. Menyempurnakan setengah diennya.
Langkah hidup
untuk mencari laki-laki yang dia harapkan sudah dia tempuh. Begitupun doa
kepada Sang Maha Kuasa untuk mewujudkan harapannya. Mungkin tinggal sabar dan
tawakal untuk menunggu kapan waktu indah itu tiba.
***
Sekitar ba’da
isya, terdengar suara hp Melati berbunyi. Sepertinya suara sms, dilihat…benar sms dari seorang teman
karibnya. Teman semasa sekolahnya yang bertemu kembali lewat dunia maya. Dunia
yang tak diketahui keberadaanya. Dunia yang bisa disebut dunia angan-angan.
Bahkan mungkin dunia yang penuh dengan ketidakpastian. Dunia tempat
berimajinasi.
Akhirnya merekapun mengobrol. Obrolan pun semakin
melebar. Dari mulai urusan kerjaan, kegiatan sehari-hari hingga berujung pada
masalah cinta. Lima huruf yang tak pernah ada habisnya untuk dibicarakan.
Temannya berniat
untuk mengenalkan Melati pada seorang laki-laki. Pada awalnya gadis itu menolak
karena dirasa mengenal laki-laki yang belum pasti keberadaanya adalah suatu hal
yang tidak wajar. Namun setelah difikir-fikir dan sedikit ada rekomendasi
tentang laki-laki itu akhirnya Melati bersedia untuk berkenalan dengan
laki-laki itu.
***
Sore itu tampak
mendung, padahal gadis itu berniat untuk pergi ke toko buku, namun melihat
cuaca tidak mendukung akhirnya dia urungkan niatnya. Akhirnya dia hanya bisa
membuka laptop dan menjelajah ke dunia maya.
Termenung sesaat
didepan layar dan tiba-tiba teringat rekomendasi temannya tentang laki-laki itu. Kenapa tiba-tiba
terfikir, seperti apakah dia, apakah dia juga mempunyai rencana hidup yang sama
dengan gadis itu. Aaahh…terlalu dini jika harus memikirkan itu. Bertemu saja
belum kok sudah mikir macam-macam, begitu gerutunya dalam hati. Namun semakin difikir semakin hatinya
ingin mengenalnya.
Masih didepan laptop
kesayangannya, tak biasa hatinya gundah, tak tahu harus melakukan apa. Tiba-tiba
sapaan dari temannya muncul di layar
monitor. Mungkin
waktu yang tepat untuk menanyakan laki-laki itu, siapa
sebenarnya dia.
***
Malam telah
menghancurkan senja. Lembayung telah berganti dengan pekatnya malam. Masih kepikiran
tentang keberadaan laki-laki itu. Apalagi setelah Melati mengetahui alamat email dan no handphone orang yang direkomendasikan teman karibnya itu. Apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Otaknya
tiba-tiba buntu kalau sudah dihadapkan pada urusan yang namanya laki-laki.
Jam dindingpun
berdetak cepat sekali, detik demi detik, menitpun berlalu, namun tak ada yang
dilakukannya sama sekali. Rasa penasaran di hati masih tersimpan dan mungkin
terbawa dalam rangkaian mimpi-mimpinya malam itu.
***
Siang itu udara panas
sekali. Segelas orange jus dingin
menjadi pelengkap untuk kembali menjelajah ke dunia maya kembali. Melati seperti biasa membuka laptopnya, dan hei…laki-laki
itu, “Sapa enggak yah…?” guman Melati dalam hati. Akhirnya Melati memberanikan diri untuk
memulai semuanya.
Obrolan lewat
udara itu bukan hanya dilakukan saat itu. Perkenalan pun berlanjut pada
hari-hari berikutnya. Saling cerita, canda tawa hingga saling berbagi. Setiap gadis itu
menjelajah dunia maya, gadis itu selalu melihat aktivitas laki-laki itu.
Waktupun
berlalu, kekaguman muncul di hati Melati, kekaguman akan sosok itu, sosok yang dia kenal lewat dunia
yang abstrak keberadaannya. Aneh memang, tapi begitulah yang dia rasakan.
***
Semakin
mengenalnya, semakin dia merasakan kenyamanan, pertama dalam hidupnya mengenal
sosok yang tak pernah dia duga sebelumnya, sosok yang tak pernah terlihat oleh
mata, namun kenapa keyakinan di hatinya begitu kuat. “Semoga Allah SWT selalu
menjaga perasaan ini agar tidak melampaui batas dari rambu-rambu-NYA”, begitu
bisiknya dalam hati.
Suatu hari,
Melati berniat untuk mengungkapkan niat baiknya kepada laki-laki itu, niat yang
selama ini dipendam, perasaan yang selama ini dia rasakan, walaupun dia tahu
dia hanyalah seorang wanita, yang terkadang bila wanita mengungkapkan isi hati
terhadap lawan jenis dianggap orang sangatlah ganjil. Namun biarlah…
Akhirnya dengan
keberaniannya,
dengan kesiapan konsekuensi yang bakal ditanggung nanti, diapun menyatakan
perasaannya dan keinginannya kepada laki-laki itu. Tentunya lewat dunia maya, media satu-satunya yang menjadi
fasilitator mereka.
Namun, keinginan
hanya sebatas keinginan. Harapan hanya sebatas harapan. Mungkin saat ini
keinginan dan harapan itu hanya bisa menjadi mimpi belaka. Mimpi yang entah akan menjadi
nyata atau tidak. Ternyata yang dirasakan laki-laki itu malah sebaliknya, laki-laki
itu tak pernah merasakan apa yang dirasakan Melati selama ini. Entah alasannya apa, namun
gadis itu sadar itu berarti sebuah penolakan buat dia.
Kecewa??? Mungkin hanya perasaan
itu yang dia rasakan saat itu, namun dia yakin Allah SWT menciptakan manusia beserta pasangannya.
Kalau memang bukan laki-laki itu pasangan jiwanya, mungkin ada laki-laki lain
yang akan mendampinginya nanti.
***
Sebuah rasa untuk
laki-laki itu sampai sekarang masih ada…entah sampai kapan akan menghilang. Perasaan terhadap sosok
yang belum pernah dia lihat, perasaan terhadap sosok yang hanya ada dalam
khayalan, perasaan terhadap sosok yang berada di dunia angan-angan. Perasaan
terhadap sosok yang berada di dunia imajinasi. Perasaan indah yang harus dipendam dan
dilupakan.
Namun, secercah
harapan selalu ada, berharap laki-laki itu berubah pikiran, karena tak ada yang
mustahil, tak ada yang tidak mungkin jika Allah SWT sudah berkehendak.
Dalam setiap doa
dia memohon…”Robb, jika laki-laki itu pilihan-MU untukku, ringankanlah langkahnya
untuk menemuiku disini…namun jika memang bukan dia orangnya, hilangkanlah semua
kekagumanku untuknya...”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar