Sahabat…apa yang
terbersit dipikiran kita ketika mendengar kata ini??? Pasti mereka adalah sosok
yang sangat berharga dalam hidup kita. Mereka layaknya sebuah keluarga baru
dalam hidup kita. Terkadang kita harus melupakan sedikit ego kita untuk melihat
mereka tersenyum. Sahabat, tak akan lekang ditelan waktu. Meskipun terkadang kehadiran mereka
membuat kita marah, kesal ataupun merasa tak nyaman namun kebersamaan kita
terlalu berharga jika harus ditukar dengan semua itu. Terkadang juga kita mampu
merelakan apapun untuk kebahagiaan mereka termasuk mengorbankan sebuah
perasaan. Itulah sahabat bagiku.
***
Aku mempunyai dua orang sahabat yang sangat
berarti bagiku. Mereka selalu membuatku tersenyum disaat berjuta masalah
menghampiriku. Mereka selalu membuatku tertawa disaat aku sedang terpuruk
sekalipun. Sahabatku yang sangat aku cintai itu adalah Salwa dan Fajar. Kita bertiga sudah
bersahabat cukup lama.
Tak pernah ada
permasalahan serius diantara Kami. Sedikit perselisihan bagi Kami adalah suatu kewajaran. Orang bilang itu “bumbu” dalam hidup.
Rumah Kami
berdekatan, mungkin karena itu juga kita merasa dekat dari kecil sampai
beranjak dewasa.
Semua baik-baik saja, sampai
terjadinya permasalahan yang namanya “cinta” itu datang menghampiri aku. Entah perasaan
itu dari mana. Perasaan yang aku anggap tak wajar karena mengingat kita adalah
sahabat. Perasaan yang muncul begitu saja tanpa ada paksaan dari siapapun.
Cukup menyiksa untukku. Perasaan untuk Fajar, sahabatku.
Dalam diri
pernah aku berniat untuh membunuh semua itu, aku tak ingin perasaan yang aku
punya untuk Fajar malah akan merusak semuanya. Memendam dan melupakannya sudah aku coba. Tapi
hasilnya nol besar.
Ketika kita
bersama, aku melihat ada cahaya cinta di mata Salwa untuk Fajar. Cahaya yang sama dengan yang aku punya. Dari pembicaraannya, dari tatapannya, dari tingkah lakunya bahkan
dari cara Salwa memperhatikan Fajar. Aku yakin ada cinta disana.
Pernah, suatu
hari Salwa menceritakan tentang Fajar padaku. Sangat antusias. Aku mengenal
Salwa bukan sehari atau dua hari. Bertahun-tahun kami bersama, tak pernah dia seantusias ini.
Semakin aku yakini
ada rasa indah dihatinya untuk Fajar.
Harusnya aku
bahagia. Harusnya aku bisa tersenyum. Tapi kenapa ada rasa sakit di hatiku.
***
Aku pernah
bertanya pada Salwa, apa sebenarnya yang dia rasakan untuk Fajar. Tapi Salwa
mencoba mengelak. Malah dia membuat argument kalau dia sedang dekat dengan
seorang laki-laki. Tapi aku yakin di hatinya bukan seperti itu.
Seperti apa yang
aku katakan. Terkadang kita harus bisa merelakan apa yang menjadi keinginan
kita untuk seorang sahabat, termasuk perasaan. Mungkin ini saatnya aku harus melakukan untuk itu.
Berkali-kali aku
berkata pada Salwa, untuk membina hubungan yang lebih dari sebuah persahabatan,
namun lagi-lagi dia selalu mengelak. Aku katakan pada Salwa, seandainya Fajar tak
memiliki perasaan yang sama, mungkin hanya masalah waktu saja. Salwa dan Fajar
sudah lama kenal, mereka pasti sudah tahu sifat masing-masing. Itu akan lebih
mudah jika dibandingkan dengan mengenal seseorang dari awal.
Cinta itu bisa
tumbuh karena pembinaan, karena kebiasaan, karena ada pemupukan yang akhirnya
akan tumbuh. Begitu pula dengan perasaan Fajar untuk Salwa.
***
Mereka adalah
sahabat terbaik aku. Aku ingin Salwa bahagia. Namun akupun tak ingin menyakiti
diriku sendiri dengan perasaan yang aku punya.
Semakin hari
semakin aku tersiksa dengan keadaan ini. Jujur, aku mencintai Fajar. Tapi aku
akan mencoba untuk melupakan perasaan ini.
Aku memutuskan
untuk pergi, aku akan mencari kerja di luar kota dan meninggalkan sejenak
mereka. Namun mereka akan tetap aku simpan disini. Di hatiku.
***
Sudah hampir
tiga tahun aku bekerja diluar kota, jauh dari mereka. Selama itu juga aku tak pernah mendengar kabar dari mereka, karena aku sengaja menutup akses komunikasi. Bukan untuk memutuskan
silaturahmi. Tapi untuk sekedar melupakan perasaan ini. Satu harapku, semoga meeka akhirnya mereka berjodoh.
Sambil kututup laptop kesayanganku. Terbersit
dalam benakku, apa kabar Salwa dan Fajar
sahabatku?...
***
Hari ini seperti biasa aku pergi bekerja, hari memang cukup cerah membuat
aku semakin semangat bekerja. Sesampainya di kantor, atasanku ternyata sudah
berada di ruangannya. Aku tengok jam tanganku. Ku lihat baru jam 7.30. Masih
pagi, fikirku. Kenapa atasanku datang sepagi ini. Mungkin ada pekerjaan yang
harus diselesaikan segera atau ada rapat pagi.
Beberapa menit setelah aku sampai, atasanku memanggilku untuk masuk ke
ruangannya. Akhirnya akupun menemui atasanku.
Aku mengetuk pintu ruangan atasan sambil tetap bertanya-tanya, ada apa
sebenarnya. Tidak seperti biasanya atasanku memanggilku ke ruangannya pagi-pagi
sekali, padahal masih belum masuk jam kerja.
“Bapak memanggil saya...?” tanyaku.
“Iya Dinda, ayo masuk, ada yang harus saya sampaikan...” jawabnya.
Akupun masuk dan duduk di kursi berhadapan dengan atasanku.
“Gini Din, kantor kita kan ada cabang di Bogor. Menurut keterangan Pak
Salim, manager disana, perusahaan kita kekurangan orang dibidang Marketing...”
kata atasanku.
Aku masih menunggu kelanjutan pembicaraan beliau.
“Saya berfikir, kamu yang cocok untuk menambah orang marketing disana, kamu
kan asli Bogor, jadi kamu bisa lebih senang bekerja disana karena bisa dekat
dengan keluarga...? kata atasanku.
Seandainya beliau tahu, aku jauh-jauh datang kesini karena menghindari
seseorang. Aku juga sangat ingin bekerja di tempat tinggalku sendiri, bisa
berkumpul dengan keluarga. Tapi kan keadaannya lain. Aku masih berfikir saat
itu, kalau aku menolak, tidak enak juga. Tapi kalau aku menerima, aku pasti
bertemu dua sahabatku lagi. Kalau mereka sudah menikah bagaimana? Apa aku bisa
menerima semua keadaan ini.
“Din...kok melamun? Kamu keberatan dengan permintaan saya?” tanya atasanku.
“Oh, tidak Pak, saya hanya sedang berfikir saja...” jawabku.
“Jadi bagaimana keputusannya? Kamu bisa jawab sekarang?” tanyanya kembali.
“Baik Pak, saya setuju dengan permintaan Bapak...” jawabku.
“Syukurlah kalau begitu, saya akan langsung menghubungi Pak Salim, Kamu
mungkin dua minggu lagi pindah kesana...” kata atasanku.
***
Tiga minggu kemudian, aku sudah kembali ke kotaku. Cukup kangen juga, sudah
lama aku tidak datang kesini. Orangtuaku sangat senang aku dipindahtugaskan
kesini. Mereka bersyukur bisa kembali berkumpul dengan anaknya.
Hari itu hari minggu, waktunya kita berkumpul di rumah. Pagi-pagi sekali
Ibuku sudah sibuk di dapur membuat makanan untuk Kami. Kami hanya menunggu
makanan yang Ibu buat di ruang keluarga.
“Din, Kamu belum menemui Salwa?” tanya Ayah.
“Belum Yah, nanti saja, aku masih cape...” jawabku.
“Temuilah, kemarin-kemarin Salwa sempat datang kesini nanyain Kamu...” kata
Ayah.
“Dia tahu kalau aku sudah pulang Yah...” tanyaku.
“Kayanya sih udah tahu, makanya dia datang kesini...” jawab Ayah.
Sedang asyik ngobrol sama Ayah, aku mencium wangi makanan Ibu semakin dekat.
Ternyata makanan itu sudah ada didepanku.
“Ayo dimakan gorengannya mumpung masih hangat...” kata Ibu. Kamipun
langsung menyerbu makanan itu. Enak rasanya tinggal dengan orangtua, setidaknya
gizi terpenuhi.
“Din...kamu sudah tahu, kalau Salwa mau menikah?” kata Ibu.
“Masa sih Bu? Sama siapa?” tanyaku.
“Ibu juga belum tahu...kamu coba datang ke rumahnya...” kata Ibu.
“Iya nanti siangan deh Bu...” kataku.
Hatiku sempat tersontak, jangan-jangan dia menikah dengan Fajar. Tapi kalau
dengannya, kenapa Ibu bilang tidak tahu. Tidak mungkin Ibu bilang seperti itu
kalau memang Salwa menikahnya dengan Fajar. Dia kan tetangga kita juga.
Akhirnya siang itu aku bermaksud untuk menemui Salwa di rumahnya.
***
Siang itu, aku berpamitan untuk pergi ke rumah Salwa. Letak rumah Salwa
hanya beda blok dengan aku, jadi aku putuskan untuk jalan kaki saja.
Sesampainya di rumah Salwa, aku ketuk pintu rumahnya. Ibunya yang membuka
pintu.
“Nak Dinda...?” kata Ibunya Salwa.
“Iya Tante, Salwanya ada...?” tanyaku.
“Ada nak, ayo masuk, sudah lama ya kita tak bertemu...apa kabar kamu Nak?”
tanyanya kembali.
“Baik Tante, aku baru seminggu disini, jadi maaf...saya belum sempat
kemana-mana...” jawabku.
“Iya tidak apa-apa...Tante panggil Salwa dulu ya...” kata Ibunya Salwa.
Tante Nurulpun memanggil Salwa. Aku tetap bertanya-tanya, dengan siapa
Salwa akan menikah. Apa dengan Fajar ataukah dengan orang lain.
“Haiii Dinda...” sapaan itu membuyarkan lamunanku.
Aku dan Salwa berpelukan, kangen rasanya sama anak ini. Sudah hampir tiga
tahun lebih kita tidak bersama. Akhinya aku dan Salwa mengobrol di kamarnya.
Tak sabar rasanya ingin segera aku tanyakan dia akan menikah dengan siapa.
“Sal...sebenarnya kamu mau menikah sama siapa...?” tanyaku.
“Sama laki-laki donk, masa sama kamu...” jawab Salwa.
“Ih...aku serius nih...” kataku.
“Kamu sih, aku hubungi susah banget, aku kan pengen curhat Din, kamu main
hilang aja gak tau kemana, kenapa sih...?” tanyanya.
“Udah deh, jangan nanya-nanya gitu lagi, aku kan udah disini lagi, ayo
jawab donk...kamu mau nikah sama siapa...” tanyaku.
“Jadi gini Din, aku itu kan kerja di perusahaan property yang dideket mall
itu...kamu pasti tahu kan...?” tanyanya.
“Oiya, itu kan deket kantor aku Sal...” jawabku.
“Nah...aku udah sekitar dua tahunan disana, ternyata atasanku itu suka sama
aku...namanya Pak Robi, dia itu duda anak satu, istrinya meninggal. Awalnya aku
menolak, tapi Pak Robi orangnya sangat baik, jadi aku putuskan untuk mau
menerimanya dan satu bulan lagi kita akan menikah...” jawabnya.
Ada kebahagiaan di hatiku, ternyata salwa tidak menikah dengan Fajar.
Tapi...mungkin saja Fajar malah sudah menikah duluan.
“Syukurlah Sal, kamu sudah menemukan jodoh kamu, lalu Fajar bagaimana...”
tanyaku.
“Fajar...? Emang kenapa dengan Fajar...” tanyanya.
“Bukannya kamu suka sama Fajar...?” tanyaku.
“Ha...ha...ha...kamu tuh ya ada-ada aja, sejak kapan aku suka sama
Fajar...?” tanya Salwa.
“Dulu aku lihat sikap kamu itu beda sama Fajar...kamu keliatannya sayang
sama dia...” kataku.
“Kamu cemburu ya???” tanya salwa.
Wajahku sempat memerah, salwa malah tertawa terbahak-bahak melihat sikapku
saat itu.
“Tahu gak Din, setelah kamu pergi, Fajar itu kelabakan nyariin kamu...”
kata Salwa.
“Kenapa...?” tanyaku.
“Dia pernah bilang, kalau dia itu suka sama kamu, tapi kamunya malah seperti
menjauhi dia. Eh, kamu malah benar-benar menjauh dari kita...” kata Salwa.
“Kamu gak bohong kan...?” tanyaku.
“Buat apa aku bohong...sampai sekarang Fajar masih mencari keberadaan kamu
Din, coba kamu hubungi dia...” kata Salwa.
***
Hidup memang misteri. Aku menanggap asumsiku adalah kenyataan yang terjadi.
Padahal apa yang aku kira tidak seperti yang terjadi.
Salwa memberikan aku nomor handphone
Fajar. Malam itu juga aku mencoba menghubungi dia. Dia sempat kikuk mendengar
suaraku lagi. Aku katakan padanya aku ingin bertemu dia.
Keesokan harinya aku janjian dengan Fajar untuk bertemu disalah satu
restoran dekat kantorku. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Aku harus
buru-buru pulang takut Fajar sudah menungguku disana.
Akupun datang lebih awal. Sekitar 10 menitan kemudian Fajar datang. Aku
melihat memang secara fisik Fajar berubah, dia keliatan lebih gemuk sekarang.
“Hai Din...” kata fajar.
Aku sempat tak bisa berkata-kata. Orang yang ada didepanku adalah Fajar.
Laki-laki yang aku sayangi dari dulu sampai sekarang. Hatiku tak pernah
berubah, masih sama seperti dulu.
“Hai...” jawabku singkat.
Kamipun ngobrol-ngobrol kesana kemari. Hingga pada akhirnya obrolan Kami
berunjung pada masalah pribadi.
“Kamu sudah punya calon suami...?” tanya Fajar.
“Belum Jar...belum ada yang cocok...kamu sendiri?” tanyaku.
“Hmmm...aku akan segera menikah Din...” jawabnya.
Hatiku langsung geram mendengar ucapannya. Kenapa berbeda dengan apa yang
dikatakan Salwa. Tapi mungkin Salwa juga tidak tahu keadaan Fajar sekarang seperti
apa.
“Aku cari kamu Din kemana-mana. Aku sudah coba menghubungi tapi sulit
sekali. Aku tanya pada orangtuamu tapi mereka seolah menyembunyikan sesuatu...jujur,
aku sangat lelah mencari kamu, hingga akhirnya aku bertemu dengan calon istriku
ini...” kata Fajar.
Aku hanya bisa mendengarkan ceritanya dengan sejuta penyesalan di dada.
Seandainya aku bisa lebih memahami keadaan saat itu, mungkin ini tidak akan
terjadi. Seandainya aku tidak terlalu egois, mungkin aku akan bersama Fajar
saat ini. Tapi...
Setelah kita banyak bercerita, akhirnya Kamipun pulang. Fajar mengantarkan
aku sampai depan rumah. Aku menawarkannya untuk mampir tapi dia menolak.
***
Aku masuk kedalam kamar. Penyesalan itu tidak hilang juga. Aku mencoba
memejamkan mataku dan berfikir logis. Tapi tetap tak bisa. Hatiku dipenuhi
perasaan yang tak karuan. Aku ingin mengikhlaskan semuanya, tapi sangat sulit.
Semua memang sudah terjadi, semoga aku bisa menerima semua keadaan ini. Aku
berharap suatu saat nanti Tuhan mengirimkan jodoh terbaik untukku dan
penyesalan ini bisa hilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar