25 Apr 2017

Dua Sahabatku

Sahabat…apa yang terbersit dipikiran kita ketika mendengar kata ini??? Pasti mereka adalah sosok yang sangat berharga dalam hidup kita. Mereka layaknya sebuah keluarga baru dalam hidup kita. Terkadang kita harus melupakan sedikit ego kita untuk melihat mereka tersenyum. Sahabat, tak akan lekang ditelan waktu. Meskipun terkadang kehadiran mereka membuat kita marah, kesal ataupun merasa tak nyaman namun kebersamaan kita terlalu berharga jika harus ditukar dengan semua itu. Terkadang juga kita mampu merelakan apapun untuk kebahagiaan mereka termasuk mengorbankan sebuah perasaan. Itulah sahabat bagiku.

***

Aku mempunyai dua orang sahabat yang sangat berarti bagiku. Mereka selalu membuatku tersenyum disaat berjuta masalah menghampiriku. Mereka selalu membuatku tertawa disaat aku sedang terpuruk sekalipun. Sahabatku yang sangat aku cintai itu adalah Salwa dan Fajar. Kita bertiga sudah bersahabat cukup lama.

Tak pernah ada permasalahan serius diantara Kami. Sedikit perselisihan bagi Kami adalah suatu kewajaran. Orang bilang itu “bumbu” dalam hidup. Rumah Kami berdekatan, mungkin karena itu juga kita merasa dekat dari kecil sampai beranjak dewasa.

Semua baik-baik saja, sampai terjadinya permasalahan yang namanya “cinta” itu datang menghampiri aku. Entah perasaan itu dari mana. Perasaan yang aku anggap tak wajar karena mengingat kita adalah sahabat. Perasaan yang muncul begitu saja tanpa ada paksaan dari siapapun. Cukup menyiksa untukku. Perasaan untuk Fajar, sahabatku.

Dalam diri pernah aku berniat untuh membunuh semua itu, aku tak ingin perasaan yang aku punya untuk Fajar malah akan merusak semuanya. Memendam dan melupakannya sudah aku coba. Tapi hasilnya nol besar.

Ketika kita bersama, aku melihat ada cahaya cinta di mata Salwa untuk Fajar. Cahaya yang sama dengan yang aku punya. Dari pembicaraannya, dari tatapannya, dari tingkah lakunya bahkan dari cara Salwa memperhatikan Fajar. Aku yakin ada cinta disana.

Pernah, suatu hari Salwa menceritakan tentang Fajar padaku. Sangat antusias. Aku mengenal Salwa bukan sehari atau dua hari. Bertahun-tahun kami bersama, tak pernah dia seantusias ini. Semakin aku yakini ada rasa indah dihatinya untuk Fajar.

Harusnya aku bahagia. Harusnya aku bisa tersenyum. Tapi kenapa ada rasa sakit di hatiku.

***

Aku pernah bertanya pada Salwa, apa sebenarnya yang dia rasakan untuk Fajar. Tapi Salwa mencoba mengelak. Malah dia membuat argument kalau dia sedang dekat dengan seorang laki-laki. Tapi aku yakin di hatinya bukan seperti itu.

Seperti apa yang aku katakan. Terkadang kita harus bisa merelakan apa yang menjadi keinginan kita untuk seorang sahabat, termasuk perasaan. Mungkin ini saatnya aku harus melakukan untuk itu.

Berkali-kali aku berkata pada Salwa, untuk membina hubungan yang lebih dari sebuah persahabatan, namun lagi-lagi dia selalu mengelak. Aku katakan pada Salwa, seandainya Fajar tak memiliki perasaan yang sama, mungkin hanya masalah waktu saja. Salwa dan Fajar sudah lama kenal, mereka pasti sudah tahu sifat masing-masing. Itu akan lebih mudah jika dibandingkan dengan mengenal seseorang dari awal.

Cinta itu bisa tumbuh karena pembinaan, karena kebiasaan, karena ada pemupukan yang akhirnya akan tumbuh. Begitu pula dengan perasaan Fajar untuk Salwa.

***

Mereka adalah sahabat terbaik aku. Aku ingin Salwa bahagia. Namun akupun tak ingin menyakiti diriku sendiri dengan perasaan yang aku punya.

Semakin hari semakin aku tersiksa dengan keadaan ini. Jujur, aku mencintai Fajar. Tapi aku akan mencoba untuk melupakan perasaan ini.

Aku memutuskan untuk pergi, aku akan mencari kerja di luar kota dan meninggalkan sejenak mereka. Namun mereka akan tetap aku simpan disini. Di hatiku.

***

Sudah hampir tiga tahun aku bekerja diluar kota, jauh dari mereka. Selama itu juga aku tak pernah mendengar kabar dari mereka, karena aku sengaja menutup akses komunikasi. Bukan untuk memutuskan silaturahmi. Tapi untuk sekedar melupakan perasaan ini. Satu harapku, semoga meeka akhirnya mereka berjodoh.

Sambil kututup laptop kesayanganku. Terbersit dalam benakku, apa kabar Salwa dan Fajar sahabatku?...

***

Hari ini seperti biasa aku pergi bekerja, hari memang cukup cerah membuat aku semakin semangat bekerja. Sesampainya di kantor, atasanku ternyata sudah berada di ruangannya. Aku tengok jam tanganku. Ku lihat baru jam 7.30. Masih pagi, fikirku. Kenapa atasanku datang sepagi ini. Mungkin ada pekerjaan yang harus diselesaikan segera atau ada rapat pagi.

Beberapa menit setelah aku sampai, atasanku memanggilku untuk masuk ke ruangannya. Akhirnya akupun menemui atasanku.

Aku mengetuk pintu ruangan atasan sambil tetap bertanya-tanya, ada apa sebenarnya. Tidak seperti biasanya atasanku memanggilku ke ruangannya pagi-pagi sekali, padahal masih belum masuk jam kerja.

“Bapak memanggil saya...?” tanyaku.

“Iya Dinda, ayo masuk, ada yang harus saya sampaikan...” jawabnya.

Akupun masuk dan duduk di kursi berhadapan dengan atasanku.

“Gini Din, kantor kita kan ada cabang di Bogor. Menurut keterangan Pak Salim, manager disana, perusahaan kita kekurangan orang dibidang Marketing...” kata atasanku.

Aku masih menunggu kelanjutan pembicaraan beliau.

“Saya berfikir, kamu yang cocok untuk menambah orang marketing disana, kamu kan asli Bogor, jadi kamu bisa lebih senang bekerja disana karena bisa dekat dengan keluarga...? kata atasanku.

Seandainya beliau tahu, aku jauh-jauh datang kesini karena menghindari seseorang. Aku juga sangat ingin bekerja di tempat tinggalku sendiri, bisa berkumpul dengan keluarga. Tapi kan keadaannya lain. Aku masih berfikir saat itu, kalau aku menolak, tidak enak juga. Tapi kalau aku menerima, aku pasti bertemu dua sahabatku lagi. Kalau mereka sudah menikah bagaimana? Apa aku bisa menerima semua keadaan ini.

“Din...kok melamun? Kamu keberatan dengan permintaan saya?” tanya atasanku.

“Oh, tidak Pak, saya hanya sedang berfikir saja...” jawabku.

“Jadi bagaimana keputusannya? Kamu bisa jawab sekarang?” tanyanya kembali.

“Baik Pak, saya setuju dengan permintaan Bapak...” jawabku.

“Syukurlah kalau begitu, saya akan langsung menghubungi Pak Salim, Kamu mungkin dua minggu lagi pindah kesana...” kata atasanku.

***

Tiga minggu kemudian, aku sudah kembali ke kotaku. Cukup kangen juga, sudah lama aku tidak datang kesini. Orangtuaku sangat senang aku dipindahtugaskan kesini. Mereka bersyukur bisa kembali berkumpul dengan anaknya.

Hari itu hari minggu, waktunya kita berkumpul di rumah. Pagi-pagi sekali Ibuku sudah sibuk di dapur membuat makanan untuk Kami. Kami hanya menunggu makanan yang Ibu buat di ruang keluarga.

“Din, Kamu belum menemui Salwa?” tanya Ayah.

“Belum Yah, nanti saja, aku masih cape...” jawabku.

“Temuilah, kemarin-kemarin Salwa sempat datang kesini nanyain Kamu...” kata Ayah.

“Dia tahu kalau aku sudah pulang Yah...” tanyaku.

“Kayanya sih udah tahu, makanya dia datang kesini...” jawab Ayah.

Sedang asyik ngobrol sama Ayah, aku mencium wangi makanan Ibu semakin dekat. Ternyata makanan itu sudah ada didepanku.

“Ayo dimakan gorengannya mumpung masih hangat...” kata Ibu. Kamipun langsung menyerbu makanan itu. Enak rasanya tinggal dengan orangtua, setidaknya gizi terpenuhi.

“Din...kamu sudah tahu, kalau Salwa mau menikah?” kata Ibu.

“Masa sih Bu? Sama siapa?” tanyaku.

“Ibu juga belum tahu...kamu coba datang ke rumahnya...” kata Ibu.

“Iya nanti siangan deh Bu...” kataku.

Hatiku sempat tersontak, jangan-jangan dia menikah dengan Fajar. Tapi kalau dengannya, kenapa Ibu bilang tidak tahu. Tidak mungkin Ibu bilang seperti itu kalau memang Salwa menikahnya dengan Fajar. Dia kan tetangga kita juga. Akhirnya siang itu aku bermaksud untuk menemui Salwa di rumahnya.

***

Siang itu, aku berpamitan untuk pergi ke rumah Salwa. Letak rumah Salwa hanya beda blok dengan aku, jadi aku putuskan untuk jalan kaki saja.

Sesampainya di rumah Salwa, aku ketuk pintu rumahnya. Ibunya yang membuka pintu.

“Nak Dinda...?” kata Ibunya Salwa.

“Iya Tante, Salwanya ada...?” tanyaku.

“Ada nak, ayo masuk, sudah lama ya kita tak bertemu...apa kabar kamu Nak?” tanyanya kembali.

“Baik Tante, aku baru seminggu disini, jadi maaf...saya belum sempat kemana-mana...” jawabku.

“Iya tidak apa-apa...Tante panggil Salwa dulu ya...” kata Ibunya Salwa.

Tante Nurulpun memanggil Salwa. Aku tetap bertanya-tanya, dengan siapa Salwa akan menikah. Apa dengan Fajar ataukah dengan orang lain.

“Haiii Dinda...” sapaan itu membuyarkan lamunanku.

Aku dan Salwa berpelukan, kangen rasanya sama anak ini. Sudah hampir tiga tahun lebih kita tidak bersama. Akhinya aku dan Salwa mengobrol di kamarnya. Tak sabar rasanya ingin segera aku tanyakan dia akan menikah dengan siapa.

“Sal...sebenarnya kamu mau menikah sama siapa...?” tanyaku.

“Sama laki-laki donk, masa sama kamu...” jawab Salwa.

“Ih...aku serius nih...” kataku.

“Kamu sih, aku hubungi susah banget, aku kan pengen curhat Din, kamu main hilang aja gak tau kemana, kenapa sih...?” tanyanya.

“Udah deh, jangan nanya-nanya gitu lagi, aku kan udah disini lagi, ayo jawab donk...kamu mau nikah sama siapa...” tanyaku.

“Jadi gini Din, aku itu kan kerja di perusahaan property yang dideket mall itu...kamu pasti tahu kan...?” tanyanya.

“Oiya, itu kan deket kantor aku Sal...” jawabku.

“Nah...aku udah sekitar dua tahunan disana, ternyata atasanku itu suka sama aku...namanya Pak Robi, dia itu duda anak satu, istrinya meninggal. Awalnya aku menolak, tapi Pak Robi orangnya sangat baik, jadi aku putuskan untuk mau menerimanya dan satu bulan lagi kita akan menikah...” jawabnya.

Ada kebahagiaan di hatiku, ternyata salwa tidak menikah dengan Fajar. Tapi...mungkin saja Fajar malah sudah menikah duluan.

“Syukurlah Sal, kamu sudah menemukan jodoh kamu, lalu Fajar bagaimana...” tanyaku.

“Fajar...? Emang kenapa dengan Fajar...” tanyanya.

“Bukannya kamu suka sama Fajar...?” tanyaku.

“Ha...ha...ha...kamu tuh ya ada-ada aja, sejak kapan aku suka sama Fajar...?” tanya Salwa.

“Dulu aku lihat sikap kamu itu beda sama Fajar...kamu keliatannya sayang sama dia...” kataku.

“Kamu cemburu ya???” tanya salwa.

Wajahku sempat memerah, salwa malah tertawa terbahak-bahak melihat sikapku saat itu.

“Tahu gak Din, setelah kamu pergi, Fajar itu kelabakan nyariin kamu...” kata Salwa.

“Kenapa...?” tanyaku.

“Dia pernah bilang, kalau dia itu suka sama kamu, tapi kamunya malah seperti menjauhi dia. Eh, kamu malah benar-benar menjauh dari kita...” kata Salwa.

“Kamu gak bohong kan...?” tanyaku.

“Buat apa aku bohong...sampai sekarang Fajar masih mencari keberadaan kamu Din, coba kamu hubungi dia...” kata Salwa.

***

Hidup memang misteri. Aku menanggap asumsiku adalah kenyataan yang terjadi. Padahal apa yang aku kira tidak seperti yang terjadi.

Salwa memberikan aku nomor handphone Fajar. Malam itu juga aku mencoba menghubungi dia. Dia sempat kikuk mendengar suaraku lagi. Aku katakan padanya aku ingin bertemu dia.

Keesokan harinya aku janjian dengan Fajar untuk bertemu disalah satu restoran dekat kantorku. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Aku harus buru-buru pulang takut Fajar sudah menungguku disana.

Akupun datang lebih awal. Sekitar 10 menitan kemudian Fajar datang. Aku melihat memang secara fisik Fajar berubah, dia keliatan lebih gemuk sekarang.

“Hai Din...” kata fajar.

Aku sempat tak bisa berkata-kata. Orang yang ada didepanku adalah Fajar. Laki-laki yang aku sayangi dari dulu sampai sekarang. Hatiku tak pernah berubah, masih sama seperti dulu.

“Hai...” jawabku singkat.

Kamipun ngobrol-ngobrol kesana kemari. Hingga pada akhirnya obrolan Kami berunjung pada masalah pribadi.

“Kamu sudah punya calon suami...?” tanya Fajar.

“Belum Jar...belum ada yang cocok...kamu sendiri?” tanyaku.

“Hmmm...aku akan segera menikah Din...” jawabnya.

Hatiku langsung geram mendengar ucapannya. Kenapa berbeda dengan apa yang dikatakan Salwa. Tapi mungkin Salwa juga tidak tahu keadaan Fajar sekarang seperti apa.

“Aku cari kamu Din kemana-mana. Aku sudah coba menghubungi tapi sulit sekali. Aku tanya pada orangtuamu tapi mereka seolah menyembunyikan sesuatu...jujur, aku sangat lelah mencari kamu, hingga akhirnya aku bertemu dengan calon istriku ini...” kata Fajar.

Aku hanya bisa mendengarkan ceritanya dengan sejuta penyesalan di dada. Seandainya aku bisa lebih memahami keadaan saat itu, mungkin ini tidak akan terjadi. Seandainya aku tidak terlalu egois, mungkin aku akan bersama Fajar saat ini. Tapi...

Setelah kita banyak bercerita, akhirnya Kamipun pulang. Fajar mengantarkan aku sampai depan rumah. Aku menawarkannya untuk mampir tapi dia menolak.

***

Aku masuk kedalam kamar. Penyesalan itu tidak hilang juga. Aku mencoba memejamkan mataku dan berfikir logis. Tapi tetap tak bisa. Hatiku dipenuhi perasaan yang tak karuan. Aku ingin mengikhlaskan semuanya, tapi sangat sulit.


Semua memang sudah terjadi, semoga aku bisa menerima semua keadaan ini. Aku berharap suatu saat nanti Tuhan mengirimkan jodoh terbaik untukku dan penyesalan ini bisa hilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar