Aku masih tak percaya dengan apa yang aku lihat
disebelahku. Senyum manis mengembang dari seorang wanita pujaan hati yang tak
lain adalah istriku sendiri. Kupandangi wajah indah yang sudah lama tak pernah
aku lihat.
“Ayah kenapa? Kok memandangiku seperti itu?” tanya istriku. Aku hanya terdiam
sambil tersenyum dan terus memandangi wajahnya. Sejujurnya, aku sangat takut
kehilangan dia lagi.
Amanda, istriku...aku mengenalnya sejak duduk di bangku SMU.
Aku jatuh cinta ketika pertama kali bertemu. Dia seorang gadis yang sangat
cantik. Tak sia-sia aku
mengejarnya karena ternyata hatiku tak bertepuk sebelah tangan ketika dia
menerima cintaku.
“Yakin kamu mau menerima aku?” tanyaku waktu
itu. Anggukan disertai senyuman membuatku melayang diatas awan.
Sekitar enam bulan Kami menjalani hubungan, tak ada permasalahan
yang berarti. Kelebihan dan kekurangan pasangan, aku anggap hal yang wajar dan
harus disikapi dengan bijaksana.
Aku memang orang yang sedikit keras dan aku
melihat diapun begitu. Tapi semua kujalani karena perasaanku hanya tertuju
padanya, tak ada yang lain. Sampai pada suatu hari dia meneleponku...
“Halo Arif...Aku ingin bertemu kamu ditempat biasa, bisa ya?” tanya dia.
“Ada apa Manda, sepertinya penting banget yah?” tanyaku.
“Ya...nanti saja kita bicaranya...” dia tutup teleponnya tanpa pamit
sedikitpun.
Akhirnya aku pergi ke tempat biasa kita
bertemu. Aku membayangkan ada kejadian indah disana. Namun ternyata sebaliknya,
dia memintaku untuk mengakhiri hubungan ini. Dia pergi dengan seseorang yang dia anggap jauh
lebih baik dariku.
Aku sempat terjatuh, aku sempat merasa tak
percaya dengan semua yang terjadi padaku. Namun memang inilah kenyataan yang
terjadi. Amanda pergi tanpa aku tahu apa yang salah dalam diriku.
***
Satu tahun berlalu, setelah Amanda pergi, aku
tak berani mencintai wanita lain dalam hidupku. Bayangan dia selalu
menggangguku setiap waktu. Namun pada suatu saat aku bertemu dengan Rosa, gadis
cantik yang bekerja disuatu toko kue.
Awalnya Kami hanya berkenalan biasa, ketika aku
bermaksud membeli kue ulang tahun untuk Ibuku di toko itu. Gadis itu dengan
sangat ramah menawariku satu persatu kue yang berjejer di tokonya.
Saat itu aku kebingungan karena begitu banyak kue yang terpajang disana dan dia
dengan sabar memberikan beberapa pilihan kepadaku.
Aku tertarik dengan keramahannya, aku memang
baru pertama bertemu dengan dia, tapi aku suka dengan pesona yang ada dalam
dirinya.
Sejak itu aku jadi sering berkunjung ke toko
kue itu, bukan hanya ingin membeli kue tapi juga ingin bertemu Rosa. Gadis
cantik itu semakin dekat denganku. Sampai suatu hari, aku bermaksud untuk
menyatakan perasaanku padanya.
Aku memang bukan orang yang romantis, tapi aku
ingin memberikan sesuatu yang bisa dia kenang sepanjang hidupnya. Sesuatu yang
berkesan tidak selalu harus mahal.
***
Malam itu, aku akan mengundang Rosa ke rumahku.
Aku tinggal di rumah bersama adikku, orangtuaku sedang berada di Balikpapan.
Aku sudah meminta adikku untuk membantuku menghias rumah sewajarnya dan
menciptakan suasana makan malam yang indah. Setelah semua beres, aku
menghubungi Rosa dan aku beruntung
dia mau datang ke rumahku.
Aku sangat yakin, Rosa pasti menerima cintaku
karena aku melihat diapun menyimpan perasaan suka padaku.
Malam itu, Rosa terlihat kaget dengan suasana
rumahku, suasana yang sangat romantis berkat sulapan adikku yang mau membantuku
mendekor ruangan itu. Tak menunggu lama, aku langsung menyatakan cinta padanya.
“Ros, aku tahu...kita belum lama berkenalan dan aku juga tak bisa berbasa
basi” perkataanku terpotong karena aku melihat Rosa begitu tertegun.
“Kenapa Ros...?”aku malah balik tanya.
“Enggak...lanjutkan aja...”kata Rosa.
Aku sempat bingung, namun aku berusaha tidak menunjukan
kebingunanku padanya.
“Ya...intinya aku suka sama kamu...aku berharap
kamupun punya rasa itu padaku, aku buat suasana ini hanya untuk kamu Ros...” kataku.
Kami sempet terdiam, Rosa tertunduk seperti
menyimpan perasaan ragu. Aku tunggu beberapa menit dan akhirnya Rosa berkata...
“Sejujurnya aku pernah merasakan jatuh cinta
pada seseorang, namun orang itu pergi dan menikah dengan wanita lain, sejak itu
aku takut untuk mencintai lagi namun ketika bersamamu, perasaan itu muncul
lagi...aku gak tahu perasaan apa ini? kata Rosa.
Aku langsung tersenyum, tak ku sangka aku bisa
merasakan kebahagiaan seperti ini lagi setelah aku ditinggal pergi Amanda,
wanita yang aku anggap terindah dalam hidupku.
***
Sekitar dua tahun aku menjalani hubungan dengan
Rosa. Gadis yang sangat lembut, baik hati dan sangat perhatian. Permasalahan
kecil memang sering terjadi tapi masih bisa Kami atasi. Bagiku dia wanita yang sempurna, dia
mampu menerima segala kekuranganku. Aku yakin kalau dia adalah gadis yang tepat
untukku.
Malam itu, suasana sangat dingin sekali. Hujan
yang datang dari tadi siang tak berhenti membasahi bumi hari itu. Akupun
berniat membuat minuman untuk sekedar menghangatkan tubuhku. Aku melangkahkan kaki ke dapur
untuk membuat secangkir kopi. Tapi, gulanya habis.
Aku mengambil payung untuk membeli gula di
warung depan dan segera
kembali ke rumah, karena tak tahan dengan dinginnya udara. Badanku semakin
menggigil dan ku ambil jaket tebal ku.
Aku cek handphoneku, ada 5 panggilan tak terjawab. Ku lihat...AMANDA...
Sempat aku terpana, salah lihatkah aku? Sudah tiga tahun dia pergi dari hidupku, tiba-tiba
dia datang.
“Aaah...mungkin iseng...” bisikku.
“Tapi kalau iseng kenapa dia meneleponku sampai sebanyak itu?” tanyaku dalam hati.
Aku tak mencoba menghubunginya lagi. Aku malah
mematikan hpku dan pergi tidur untuk menghilangkan semua perasaan kacau yang
terjadi pada hatiku.
***
Siang itu, aku menjemput Rosa dan
mengantarkannya pulang ke rumahnya. Perasaanku masih tak karuan dengan apa yang
terjadi semalam. Wanita terindah yang aku cintai kembali lagi. Tapi didepanku
ada seorang bidadari penyembuh luka hati yang selalu setia menemaniku. Siapa
yang harus aku pilih.
Tak lama aku di rumah Rosa, aku langsung
permisi untuk pulang. Ku kendarai sepeda motor kesayanganku. Aku ingin cepat
sampai rumah, ingin aku jatuhkan badanku secepatnya di kasur.
Tiba didepan rumah, aku melihat ada sosok yang
pernah aku kenal sedang ngobrol dengan adikku di teras depan. Aku tak melihat begitu
jelas, karena dia duduk dengan posisi membelakangiku. Namun aku hafal betul
sosok itu.
“Hai Arif, baru pulang?” tanya dia.
Aku hampir tak percaya dengan orang yang
menyapaku barusan. Senyuman yang khas, senyuman yang jujur sangat aku rindukan.
“Mas Arif, ini lho Mba Manda udah nunggu dari tadi, aku tinggal dulu yah...” kata Adikku.
“Maaf yah Rif, aku tak memberitahumu mau datang
kesini, aku telepon gak diangkat-diangkat semalam...” kata dia.
“Oh iya maaf aku ketiduran semalam...” aku coba berbohong dan menutupi rasa
bahagiaku saat itu.
Sekitar dua jam aku ngobrol dengan Amanda, aku
lupa kalau aku sudah punya Rosa, gadis cantik yang mencintaiku dan akupun
mencintainya. Namun gadis yang berada didepanku ini adalah gadis yang sangat aku rindukan.
Setelah mengobrol dan berbagi cerita, Amanda
pamit pulang. Aku menawarkan untuk mengantarkan dia, namun dia menolak.
Akhirnya dia pulang sendiri sore itu.
Hatiku tak karuan, hatiku tak bisa berkata
apa-apa lagi. Aku hanya menikmati keindahan hari itu, dengan Amanda bukan Rosa.
***
Waktu berjalan, aku semakin dekat lagi dengan Amanda,
aku memang orang yang jahat untuk Rosa. Namun, aku tak bisa menahan perasaanku.
Aku mencintai Amanda dari dulu, walaupun dia pernah menyakitiku dan pergi
meninggalkanku, namun aku masih berharap padanya. Dan sekarang dia kembali.
Aku sangat bahagia, ketika Amanda memintaku
untuk kembali padanya dan menjalin hubungan seperti dulu. Namun aku juga sedih
ketika aku harus melepas Rosa, orang yang sangat menyayangiku.
Rosa mungkin menganggapku jahat, setelah dia
tahu aku kembali pada mantan pacarku dulu. Dia sempat menangis dan aku tak bisa
menghapus air matanya. Aku yakin, Rosa akan mendapatkan cinta sejatinya yang akan menjadi suaminya kelak. Mungkin laki-laki itu bukan aku.
Kini, aku menjalani hubungan dengan Amanda,
gadis terindah itu. Aku memang sangat mencintainya dari dulu dan aku berharap
dia tak pernah meninggalkanku lagi.
***
Tak terasa, perkuliahanku masuk ke semester akhir. Aku harus
menjalani praktek lapangan sekitar dua bulan. Aku kebagian praktek didaerah
Garut. Aku harus meninggalkan Amanda, namun dua minggu sekali aku pasti pulang,
karena adikku juga pasti menungguku.
Hubungan Kami baik-baik saja, sejak Kami kembali menjalin hubungan, Amanda memang
banyak berubah, dia menjadi sosok yang sangat pengertian. Walaupun sekarang
Kami jauh, namun komunikasi selalu terjalin.
Dua minggu sudah aku menjalani praktek lapangan, aku tinggal di
rumah salah satu penduduk. Pak Maman namanya. Beliau mempunyai anak gadis bernama Desi. Dia berusia
hampir sama denganku. Namun dia sudah lulus kuliah tapi sekarang belum bekerja.
Kami sering ngobrol dan berbagi cerita. Dia gadis yang enak
diajak ngobrol. Hampir setiap
hari kita bersama. Terkadang kalau dia tak ada acara,
dia selalu membantuku menyelesaikan tugas-tugasku.
Waktu satu bulan disana cukup membuatku dekat
dengan Desi. Aku tertarik karena dia seorang gadis yang pintar, ramah dan
cantik. Pak Maman sepertinya sudah mengetahui kedekatan Kami. Namun beliau tidak pernah ikut campur dengan
masalah pribadi anaknya.
Aku hampir lupa, kalau aku sudah mempunyai Amanda,
gadis terindah yang setia menungguku disana. Namun aku juga tak bisa menolak
pesona Desi.
Sampai pada suatu malam, aku berniat untuk
menyatakan perasaanku pada Desi. Sama seperti halnya pada Rosa, aku ingin
membuat malam special untuk Desi.
“Rif, kok tiba-tiba mengajakku kesini?” tanya Desi.
“Aku ingin kamu tahu tentang perasaanku saat
ini...” jawabku.
“Perasaan? Perasaan apa?” tanya Desi terlihat bingung.
Di malam yang penuh bintang ini, aku
memang berniat menyatakan cinta pada Desi. Terbersit didalam dada, jika Amanda
tahu, pasti dia merasakan sakit. Namun, bisikan itu seolah lenyap ketika aku
melihat mata indah yang terpancar dari gadis itu.
“Kamu mau gak menerima aku lebih dari seorang teman...?” tanyaku.
Seperti halnya Amanda, jawaban Desi cukup dengan anggukan
dan itu sudah membuatku
senang. Lalu bagaimana dengan Amanda? Akupun tak tahu apa yang harus aku
lakukan.
Tak terasa waktu dua bulan sudah dijalani. Sekarang
waktunya aku harus pulang
dan menyelesaikan tugas akhir kuliahku. Aku harus pergi meninggalkan Desi dan kembali kekehidupanku
sebelumnya. Aku berpamitan dan berjanji akan kembali menemui Desi.
***
Sesampainya di Bandung, kota yang selama dua bulan aku
tinggalkan, kuhirup udara yang aku rindukan, walaupun dua minggu sekali aku
pulang kesini, tapi rasanya berbeda dengan hari ini.
Ku buka jendela kamarku, matahari terbit dengan sinarnya yang
memancar keseluruh permukaan bumi. Cerah sekali hari ini dan pasti secerah
hatiku karena hari ini
rencananya aku akan mengunjungi wanita terindahku Amanda.
Kukendarai sepeda motorku langsung menuju rumah Amanda.
Sampai didepan pintu gerbang, Amanda sudah menyambutku dengan senyumannya.
“Apa kabar?” sapanya.
“Baik...”jawabku.
“Masuk yuk...aku sudah menyiapkan makan siang untukmu,
makan bareng sama Ibu yah...”ajaknya.
Akupun masuk dan mengobrol dengan keluarganya.
Aku memang sudah dekat dengan keluarga Amanda, karena memang aku sudah
mengenalnya dari dulu.
***
Sepulang dari rumah Amanda, aku langsung pulang
ke rumah dan bermaksud istirahat di kamar. Baru saja ku pejamkan mataku,
hpku berbunyi dan kulihat Desi meneleponku.
Sejujurnya aku tak sanggup seperti ini, hatiku
hanya ada satu dan kemampuan ku sangat terbatas untuk membagi perhatian ini.
Aku tak bisa meninggalkan Amanda, namun aku juga tak bisa memutuskan Desi
seperti halnya aku putuskan Rosa. Aku tak ingin menyakiti wanita lagi untuk
yang kedua kalinya.
Namun, kenyataan itu memang harus aku lakukan,
ketika aku tersadar hatiku hanya milik Amanda. Aku memang salah, aku memang
bodoh tapi apa yang harus aku lakukan ketika persoalan ini seperti menghimpitku lagi.
***
Hari itu, aku bermaksud mendatangi Desi di
Garut. Aku akan membicarakan sesuatu hal yang aku anggap dia harus tahu.
Perjalanan Bandung-Garut memakan waktu sekitar
tiga jam. Siang itu aku sengaja tak memberitahukan Desi kalau aku akan datang
ke tempat dia.
Sesampainya di rumah Desi, Pak Maman menyambutku
dengan hangat. Namun tak seperti biasanya, beliau tampak gugup. Ternyata Desi sedang keluar
rumah. Aku tunggu dan akhirnya dia pulang setelah sekitar tiga
jam aku menunggu.
Tapi apa yang kulihat, Desi diantarkan seorang
laki-laki. Aku melihat laki-laki itu bukan sekedar teman biasa. Hatiku sempat
panas menahan emosi, namun aku coba meredamnya.
“Eh...ada Arif, sudah lama? Kenalkan ini Deni...” kata Desi.
Aku memperkenalkan diriku pada laki-laki itu. Desi
sempat bersikap gugup. Namun aku coba memancingnya untuk mengatakan siapa
laki-laki itu.
Ternyata laki-laki itu adalah teman dekatnya
sejak SMU, mereka dekat dan hampir bertunangan. Namun karena sesuatu hal
akhirnya hubungan mereka putus dan sekarang bermaksud untuk menjalin hubungan
kembali.
Niatku pergi menemui Desi memang untuk
mengakhiri hubungan dan menjelaskan sosok Amanda dalam hidupku. Namun belum aku
bicara, ternyata Desi jauh menyimpan sejuta cerita dengan laki-laki lain.
Hatiku remuk, hatiku sakit, namun sejujurnya aku tak pantas merasakan itu.
Orang yang tak mampu menjaga kesetiaan seperti aku memang tak pantas merasakan
perasaan kecewa.
***
Waktu berjalan, hari demi hari aku lalui,
akhirnya perjuangan mendapatkan gelar sarjana telah aku rampungkan. Kini aku sudah
bekerja disebuah perusahaan masih di Kota Bandung. Hidupku akan terasa lebih
sempurna jika aku mampunyai sebuah keluarga baru. Aku ingin menikah. Niatku sudah
bulat untuk melamar Amanda dan menjadikan dia istriku dan Ibu dari anak-anakku.
Hari itu aku membicarakan hal ini, dan dia
menyambut dengan bahagia. Kami pun mempersiapkan segalanya. Dua keluargapun sudah bertemu dan menyepakati
hari pernikahan Kami. Dua bulan dari proses lamaran, Kamipun akan menikah.
***
Aku bahagia...aku bisa menikah dengan wanita
yang sangat aku cintai. Aku berharap keluarga kecil ini akan menjadi keluarga
yang bahagia. Kebahagiaanku bertambah ketika jagoan kecil yang aku beri nama
Ryan mengisi hari-hari Kami.
Ryan adalah anugerah terindah dalam hidupku. Ryan adalah pelengkap kebahagiaan Kami dan Kami sangat menaruh harapan besar kelak Ryan
akan menjadi anak yang soleh, berbakti kepada orangtua dan menjadi anak yang
berguna untuk orang lain.
Benar kata orangtua, menjalani kehidupan rumah
tangga tak segampang membalikkan telapak tangan. Pertengkaran demi pertengkaran
kerap Kami lakukan.
Sikap dia yang keras muncul lagi. Terkadang sifatnya itu membuatku bingung, apa
sebenarnya yang merasuk dalam hati istriku.
Sampai suatu hari, pertengkaran itu membuatnya
pergi dari rumah. Dia pergi meninggalkan aku dan Ryan. Jika ada yang bertanya
apa perasaanku saat itu, tak bisa kubayangkan, sudah tak bisa kurasakan, betapa
hancur semua rasa ini.
Aku sedih, aku sakit, tapi aku bertambah sakit
ketika aku melihat Ryan. Dia masih membutuhkan belaian Ibu, dia masih
membutuhkan kehangatan Ibu, masih membutuhkan dekapan, sentuhan, pendidikan,
kasih sayang dan cinta seorang Ibu. Namun apa yang Ryan dapat, mungkin karena
keegoisan orangtua, dia harus jadi korban.
Berkali-kali aku meminta maaf, berkali-kali aku
memohon dia untuk kembali, tapi tak pernah dia gubris. Dia malah tetap meminta aku untuk menceraikannya.
Sebegitu bencikah dia padaku sampai kata maafpun tak bisa dia berikan untukku.
Aku tak ingin berpisah darinya, karena dia
adalah satu-satunya
wanita yang aku cintai. Walaupun aku punya masa lalu yang suram, namun aku
berjanji, aku tak akan mengulanginya. Walaupun dia tahu aku memang tak bisa
membuatnya bahagia. Namun aku akan berusaha memenuhi setiap keinginnannya agar
dia merasa bahagia.
***
Hari demi hari aku jalani bersama Ryan anakku,
kalau aku tak bisa membesarkan Ryan
bersama istriku, aku akan berusaha membesarkan Ryan sendiri dengan segala apa
yang aku punya. Ryan harus bahagia.
Sekitar enam bulan sudah istriku pergi dari
rumah. Aku hanya berharap dia kembali, karena aku tak akan pernah
menceraikannya. Dalam hitungan hari aku selalu berdoa dia akan terbuka hati dan
pikirannya untuk kembali.
***
Perlahan Ryan tumbuh menjadi besar dan bertambah pintar, hanya dia yang
bisa mengobati luka hatiku saat ini.
Menginjak bulan ketujuh ditahun ini. Semua
masih seperti dulu, hanya yang berbeda adalah doa yang kupanjatkan dari hari ke
hari. Aku ingin dia kembali.
Siang itu, langit cerah, aku bermaksud membawa
Ryan jalan-jalan disekitar komplek, tapi entah kenapa tiba-tiba Ryan seolah tak ingin diajak pergi.
Kuraba badannya, tapi
tak panas. Tadinya aku
kira Ryan sakit. Jadi aku putuskan untuk tinggal di rumah saja untuk mengisi weekend kali ini.
Ryan sudah aku mandikan, sudah aku beri makan
dan sekarang dia terlihat mengantuk. Aku coba menidurkannya. Sekarang aku melihat wajah lucunya sudah terlelap
menggapai mimpi.
“Mimpi yang indah Nak...temui Ibumu dalam mimpimu dan bawa dia
kembali...”bisikku.
Aku langsung mengambil remote tv dan mengganti-ganti chanel TV sambil bersantai di ruang
tengah. Kurang lebih satu jam, aku rebahan disana, tiba-tiba bel berbunyi. Aku
langsung menuju depan pintu dan kubuka pintu rumah. Mataku hampir tak berkedip.
Aku hampir tak percaya dengan apa yang aku lihat. AMANDA istriku.
Dia berdiri tepat didepanku dengan jilbab putih
yang dia kenakan, koper yang mungkin berisi pakaiannya masih dia pegang
ditangannya.
“Ayah...” dia tak mampu meneruskan kata-katanyanya, air matanya mengalir deras membasahi wajah
cantiknya. Dia meminta maaf sambil menangis.
Aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Doaku terkabul setelah
berbulan-bulan aku
selalu memohon, agar dia
kembali. Aku tak akan
mempermasalahkan apa yang terjadi dibelakang, yang terpenting sekarang dia
sudah kembali. Walaupun dia sering mempermainkan perasaanku, tapi aku yakin dia
pasti berubah seiring berjalannya waktu.
Ryan kini menjadi anak yang lengkap. Dia mendapatkan
kasih sayang yang utuh dari orangtuanya. Ada aku dan Ibunya. Kini, aku bisa melihat senyuman
istriku setiap hari dan aku tak ingin kehilangan semuanya.
Semua permasalahan yang aku alami memang
terkadang membuatku terjatuh. Namun aku tak ingin terus terjatuh dalam
keterpurukan. Masih ada orang lain yang membutuhkanku. Aku harus bangkit, dan
sudah terbukti jika kita terus berjalan, jalan sempitpun akan terasa lebar, jalan
yang dianggap sudah buntu pun pasti akan terbuka dan setiap masalah pasti akan ada
jalan keluar.
Aku berharap setiap keterjatuhanku akan membawa
pelajaran berharga dalam hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar