2 Nov 2012

Aku yang Selalu Terjatuh

Aku masih tak percaya dengan apa yang aku lihat disebelahku. Senyum manis mengembang dari seorang wanita pujaan hati yang tak lain adalah istriku sendiri. Kupandangi wajah indah yang sudah lama tak pernah aku lihat.

“Ayah kenapa? Kok memandangiku seperti itu?” tanya istriku. Aku hanya terdiam sambil tersenyum dan terus memandangi wajahnya. Sejujurnya, aku sangat takut kehilangan dia lagi.

Amanda, istriku...aku mengenalnya sejak duduk di bangku SMU. Aku jatuh cinta ketika pertama kali bertemu. Dia seorang gadis yang sangat cantik. Tak sia-sia aku mengejarnya karena ternyata hatiku tak bertepuk sebelah tangan ketika dia menerima cintaku.

“Yakin kamu mau menerima aku?” tanyaku waktu itu. Anggukan disertai senyuman membuatku melayang diatas awan.

Sekitar enam bulan Kami menjalani hubungan, tak ada permasalahan yang berarti. Kelebihan dan kekurangan pasangan, aku anggap hal yang wajar dan harus disikapi dengan bijaksana.

Aku memang orang yang sedikit keras dan aku melihat diapun begitu. Tapi semua kujalani karena perasaanku hanya tertuju padanya, tak ada yang lain. Sampai pada suatu hari dia meneleponku...

“Halo Arif...Aku ingin bertemu kamu ditempat biasa, bisa ya?” tanya dia.

“Ada apa Manda, sepertinya penting banget yah?” tanyaku.

“Ya...nanti saja kita bicaranya...” dia tutup teleponnya tanpa pamit sedikitpun.

Akhirnya aku pergi ke tempat biasa kita bertemu. Aku membayangkan ada kejadian indah disana. Namun ternyata sebaliknya, dia memintaku untuk mengakhiri hubungan ini. Dia pergi dengan seseorang yang dia anggap jauh lebih baik dariku.

Aku sempat terjatuh, aku sempat merasa tak percaya dengan semua yang terjadi padaku. Namun memang inilah kenyataan yang terjadi. Amanda pergi tanpa aku tahu apa yang salah dalam diriku.

***

Satu tahun berlalu, setelah Amanda pergi, aku tak berani mencintai wanita lain dalam hidupku. Bayangan dia selalu menggangguku setiap waktu. Namun pada suatu saat aku bertemu dengan Rosa, gadis cantik yang bekerja disuatu toko kue.

Awalnya Kami hanya berkenalan biasa, ketika aku bermaksud membeli kue ulang tahun untuk Ibuku di toko itu. Gadis itu dengan sangat ramah menawariku satu persatu kue yang berjejer di tokonya. Saat itu aku kebingungan karena begitu banyak kue yang terpajang disana dan dia dengan sabar memberikan beberapa pilihan kepadaku.

Aku tertarik dengan keramahannya, aku memang baru pertama bertemu dengan dia, tapi aku suka dengan pesona yang ada dalam dirinya.

Sejak itu aku jadi sering berkunjung ke toko kue itu, bukan hanya ingin membeli kue tapi juga ingin bertemu Rosa. Gadis cantik itu semakin dekat denganku. Sampai suatu hari, aku bermaksud untuk menyatakan perasaanku padanya.

Aku memang bukan orang yang romantis, tapi aku ingin memberikan sesuatu yang bisa dia kenang sepanjang hidupnya. Sesuatu yang berkesan tidak selalu harus mahal.

***

Malam itu, aku akan mengundang Rosa ke rumahku. Aku tinggal di rumah bersama adikku, orangtuaku sedang berada di Balikpapan. Aku sudah meminta adikku untuk membantuku menghias rumah sewajarnya dan menciptakan suasana makan malam yang indah. Setelah semua beres, aku menghubungi Rosa dan aku beruntung dia mau datang ke rumahku.

Aku sangat yakin, Rosa pasti menerima cintaku karena aku melihat diapun menyimpan perasaan suka padaku.

Malam itu, Rosa terlihat kaget dengan suasana rumahku, suasana yang sangat romantis berkat sulapan adikku yang mau membantuku mendekor ruangan itu. Tak menunggu lama, aku langsung menyatakan cinta padanya.

“Ros, aku tahu...kita belum lama berkenalan dan aku juga tak bisa berbasa basi” perkataanku terpotong karena aku melihat Rosa begitu tertegun.

“Kenapa Ros...?”aku malah balik tanya.

“Enggak...lanjutkan aja...”kata Rosa.

Aku sempat bingung, namun aku berusaha tidak menunjukan kebingunanku padanya.

“Ya...intinya aku suka sama kamu...aku berharap kamupun punya rasa itu padaku, aku buat suasana ini hanya untuk kamu Ros...” kataku.

Kami sempet terdiam, Rosa tertunduk seperti menyimpan perasaan ragu. Aku tunggu beberapa menit dan akhirnya Rosa berkata...

“Sejujurnya aku pernah merasakan jatuh cinta pada seseorang, namun orang itu pergi dan menikah dengan wanita lain, sejak itu aku takut untuk mencintai lagi namun ketika bersamamu, perasaan itu muncul lagi...aku gak tahu perasaan apa ini? kata Rosa.

Aku langsung tersenyum, tak ku sangka aku bisa merasakan kebahagiaan seperti ini lagi setelah aku ditinggal pergi Amanda, wanita yang aku anggap terindah dalam hidupku.

***

Sekitar dua tahun aku menjalani hubungan dengan Rosa. Gadis yang sangat lembut, baik hati dan sangat perhatian. Permasalahan kecil memang sering terjadi tapi masih bisa Kami atasi. Bagiku dia wanita yang sempurna, dia mampu menerima segala kekuranganku. Aku yakin kalau dia adalah gadis yang tepat untukku.

Malam itu, suasana sangat dingin sekali. Hujan yang datang dari tadi siang tak berhenti membasahi bumi hari itu. Akupun berniat membuat minuman untuk sekedar menghangatkan tubuhku. Aku melangkahkan kaki ke dapur untuk membuat secangkir kopi. Tapi, gulanya habis.

Aku mengambil payung untuk membeli gula di warung depan dan segera kembali ke rumah, karena tak tahan dengan dinginnya udara. Badanku semakin menggigil dan ku ambil jaket tebal ku.

Aku cek handphoneku, ada 5 panggilan tak terjawab. Ku lihat...AMANDA...
Sempat aku terpana, salah lihatkah aku? Sudah tiga tahun dia pergi dari hidupku, tiba-tiba dia datang.

“Aaah...mungkin iseng...” bisikku.

“Tapi kalau iseng kenapa dia meneleponku sampai sebanyak itu?” tanyaku dalam hati.

Aku tak mencoba menghubunginya lagi. Aku malah mematikan hpku dan pergi tidur untuk menghilangkan semua perasaan kacau yang terjadi pada hatiku.

***

Siang itu, aku menjemput Rosa dan mengantarkannya pulang ke rumahnya. Perasaanku masih tak karuan dengan apa yang terjadi semalam. Wanita terindah yang aku cintai kembali lagi. Tapi didepanku ada seorang bidadari penyembuh luka hati yang selalu setia menemaniku. Siapa yang harus aku pilih.

Tak lama aku di rumah Rosa, aku langsung permisi untuk pulang. Ku kendarai sepeda motor kesayanganku. Aku ingin cepat sampai rumah, ingin aku jatuhkan badanku secepatnya di kasur.

Tiba didepan rumah, aku melihat ada sosok yang pernah aku kenal sedang ngobrol dengan adikku di teras depan. Aku tak melihat begitu jelas, karena dia duduk dengan posisi membelakangiku. Namun aku hafal betul sosok itu.

“Hai Arif, baru pulang?” tanya dia.

Aku hampir tak percaya dengan orang yang menyapaku barusan. Senyuman yang khas, senyuman yang jujur sangat aku rindukan.

“Mas Arif, ini lho Mba Manda udah nunggu dari tadi, aku tinggal dulu yah...” kata Adikku.

“Maaf yah Rif, aku tak memberitahumu mau datang kesini, aku telepon gak diangkat-diangkat semalam...” kata dia.

“Oh iya maaf aku ketiduran semalam...” aku coba berbohong dan menutupi rasa bahagiaku saat itu.

Sekitar dua jam aku ngobrol dengan Amanda, aku lupa kalau aku sudah punya Rosa, gadis cantik yang mencintaiku dan akupun mencintainya. Namun gadis yang berada didepanku ini adalah gadis yang sangat aku rindukan.

Setelah mengobrol dan berbagi cerita, Amanda pamit pulang. Aku menawarkan untuk mengantarkan dia, namun dia menolak. Akhirnya dia pulang sendiri sore itu.

Hatiku tak karuan, hatiku tak bisa berkata apa-apa lagi. Aku hanya menikmati keindahan hari itu, dengan Amanda bukan Rosa.

***

Waktu berjalan, aku semakin dekat lagi dengan Amanda, aku memang orang yang jahat untuk Rosa. Namun, aku tak bisa menahan perasaanku. Aku mencintai Amanda dari dulu, walaupun dia pernah menyakitiku dan pergi meninggalkanku, namun aku masih berharap padanya. Dan sekarang dia kembali.

Aku sangat bahagia, ketika Amanda memintaku untuk kembali padanya dan menjalin hubungan seperti dulu. Namun aku juga sedih ketika aku harus melepas Rosa, orang yang sangat menyayangiku.

Rosa mungkin menganggapku jahat, setelah dia tahu aku kembali pada mantan pacarku dulu. Dia sempat menangis dan aku tak bisa menghapus air matanya. Aku yakin, Rosa akan mendapatkan cinta sejatinya yang akan menjadi suaminya kelak. Mungkin laki-laki itu bukan aku.

Kini, aku menjalani hubungan dengan Amanda, gadis terindah itu. Aku memang sangat mencintainya dari dulu dan aku berharap dia tak pernah meninggalkanku lagi.

***

Tak terasa, perkuliahanku masuk ke semester akhir. Aku harus menjalani praktek lapangan sekitar dua bulan. Aku kebagian praktek didaerah Garut. Aku harus meninggalkan Amanda, namun dua minggu sekali aku pasti pulang, karena adikku juga pasti menungguku.

Hubungan Kami baik-baik saja, sejak Kami kembali menjalin hubungan, Amanda memang banyak berubah, dia menjadi sosok yang sangat pengertian. Walaupun sekarang Kami jauh, namun komunikasi selalu terjalin.

Dua minggu sudah aku menjalani praktek lapangan, aku tinggal di rumah salah satu penduduk. Pak Maman namanya. Beliau mempunyai anak gadis bernama Desi. Dia berusia hampir sama denganku. Namun dia sudah lulus kuliah tapi sekarang belum bekerja.

Kami sering ngobrol dan berbagi cerita. Dia gadis yang enak diajak ngobrol. Hampir setiap hari kita bersama. Terkadang kalau dia tak ada acara, dia selalu membantuku menyelesaikan tugas-tugasku.

Waktu satu bulan disana cukup membuatku dekat dengan Desi. Aku tertarik karena dia seorang gadis yang pintar, ramah dan cantik. Pak Maman sepertinya sudah mengetahui kedekatan Kami. Namun beliau tidak pernah ikut campur dengan masalah pribadi anaknya.

Aku hampir lupa, kalau aku sudah mempunyai Amanda, gadis terindah yang setia menungguku disana. Namun aku juga tak bisa menolak pesona Desi.

Sampai pada suatu malam, aku berniat untuk menyatakan perasaanku pada Desi. Sama seperti halnya pada Rosa, aku ingin membuat malam special untuk Desi.

“Rif, kok tiba-tiba mengajakku kesini?” tanya Desi.

“Aku ingin kamu tahu tentang perasaanku saat ini...” jawabku.

“Perasaan? Perasaan apa?” tanya Desi terlihat bingung.

Di malam yang penuh bintang ini, aku memang berniat menyatakan cinta pada Desi. Terbersit didalam dada, jika Amanda tahu, pasti dia merasakan sakit. Namun, bisikan itu seolah lenyap ketika aku melihat mata indah yang terpancar dari gadis itu.

“Kamu mau gak menerima aku lebih dari seorang teman...?” tanyaku.

Seperti halnya Amanda, jawaban Desi cukup dengan anggukan dan itu sudah membuatku senang. Lalu bagaimana dengan Amanda? Akupun tak tahu apa yang harus aku lakukan.

Tak terasa waktu dua bulan sudah dijalani. Sekarang waktunya aku harus pulang dan menyelesaikan tugas akhir kuliahku. Aku harus pergi meninggalkan Desi dan kembali kekehidupanku sebelumnya. Aku berpamitan dan berjanji akan kembali menemui Desi.

***

Sesampainya di Bandung, kota yang selama dua bulan aku tinggalkan, kuhirup udara yang aku rindukan, walaupun dua minggu sekali aku pulang kesini, tapi rasanya berbeda dengan hari ini.
Ku buka jendela kamarku, matahari terbit dengan sinarnya yang memancar keseluruh permukaan bumi. Cerah sekali hari ini dan pasti secerah hatiku karena hari ini rencananya aku akan mengunjungi wanita terindahku Amanda.

Kukendarai sepeda motorku langsung menuju rumah Amanda. Sampai didepan pintu gerbang, Amanda sudah menyambutku dengan senyumannya.

“Apa kabar?” sapanya.

“Baik...”jawabku.

“Masuk yuk...aku sudah menyiapkan makan siang untukmu, makan bareng sama Ibu yah...”ajaknya.
Akupun masuk dan mengobrol dengan keluarganya. Aku memang sudah dekat dengan keluarga Amanda, karena memang aku sudah mengenalnya dari dulu.

***

Sepulang dari rumah Amanda, aku langsung pulang ke rumah dan bermaksud istirahat di kamar. Baru saja ku pejamkan mataku, hpku berbunyi dan kulihat Desi meneleponku.

Sejujurnya aku tak sanggup seperti ini, hatiku hanya ada satu dan kemampuan ku sangat terbatas untuk membagi perhatian ini. Aku tak bisa meninggalkan Amanda, namun aku juga tak bisa memutuskan Desi seperti halnya aku putuskan Rosa. Aku tak ingin menyakiti wanita lagi untuk yang kedua kalinya.

Namun, kenyataan itu memang harus aku lakukan, ketika aku tersadar hatiku hanya milik Amanda. Aku memang salah, aku memang bodoh tapi apa yang harus aku lakukan ketika persoalan ini seperti menghimpitku lagi.

***

Hari itu, aku bermaksud mendatangi Desi di Garut. Aku akan membicarakan sesuatu hal yang aku anggap dia harus tahu.

Perjalanan Bandung-Garut memakan waktu sekitar tiga jam. Siang itu aku sengaja tak memberitahukan Desi kalau aku akan datang ke tempat dia.

Sesampainya di rumah Desi, Pak Maman menyambutku dengan hangat. Namun tak seperti biasanya, beliau tampak gugup. Ternyata Desi sedang keluar rumah. Aku tunggu dan akhirnya dia pulang setelah sekitar tiga jam aku menunggu.

Tapi apa yang kulihat, Desi diantarkan seorang laki-laki. Aku melihat laki-laki itu bukan sekedar teman biasa. Hatiku sempat panas menahan emosi, namun aku coba meredamnya.

“Eh...ada Arif, sudah lama? Kenalkan ini Deni...” kata Desi.

Aku memperkenalkan diriku pada laki-laki itu. Desi sempat bersikap gugup. Namun aku coba memancingnya untuk mengatakan siapa laki-laki itu.

Ternyata laki-laki itu adalah teman dekatnya sejak SMU, mereka dekat dan hampir bertunangan. Namun karena sesuatu hal akhirnya hubungan mereka putus dan sekarang bermaksud untuk menjalin hubungan kembali.

Niatku pergi menemui Desi memang untuk mengakhiri hubungan dan menjelaskan sosok Amanda dalam hidupku. Namun belum aku bicara, ternyata Desi jauh menyimpan sejuta cerita dengan laki-laki lain. Hatiku remuk, hatiku sakit, namun sejujurnya aku tak pantas merasakan itu. Orang yang tak mampu menjaga kesetiaan seperti aku memang tak pantas merasakan perasaan kecewa.

***

Waktu berjalan, hari demi hari aku lalui, akhirnya perjuangan mendapatkan gelar sarjana telah aku rampungkan. Kini aku sudah bekerja disebuah perusahaan masih di Kota Bandung. Hidupku akan terasa lebih sempurna jika aku mampunyai sebuah keluarga baru. Aku ingin menikah. Niatku sudah bulat untuk melamar Amanda dan menjadikan dia istriku dan Ibu dari anak-anakku.

Hari itu aku membicarakan hal ini, dan dia menyambut dengan bahagia. Kami pun mempersiapkan segalanya.  Dua keluargapun sudah bertemu dan menyepakati hari pernikahan Kami. Dua bulan dari proses lamaran, Kamipun akan menikah.

***

Aku bahagia...aku bisa menikah dengan wanita yang sangat aku cintai. Aku berharap keluarga kecil ini akan menjadi keluarga yang bahagia. Kebahagiaanku bertambah ketika jagoan kecil yang aku beri nama Ryan mengisi hari-hari Kami. Ryan adalah anugerah terindah dalam hidupku. Ryan adalah pelengkap kebahagiaan Kami dan Kami sangat menaruh harapan besar kelak Ryan akan menjadi anak yang soleh, berbakti kepada orangtua dan menjadi anak yang berguna untuk orang lain.

Benar kata orangtua, menjalani kehidupan rumah tangga tak segampang membalikkan telapak tangan. Pertengkaran demi pertengkaran kerap Kami lakukan. Sikap dia yang keras muncul lagi. Terkadang sifatnya itu membuatku bingung, apa sebenarnya yang merasuk dalam hati istriku.

Sampai suatu hari, pertengkaran itu membuatnya pergi dari rumah. Dia pergi meninggalkan aku dan Ryan. Jika ada yang bertanya apa perasaanku saat itu, tak bisa kubayangkan, sudah tak bisa kurasakan, betapa hancur semua rasa ini.

Aku sedih, aku sakit, tapi aku bertambah sakit ketika aku melihat Ryan. Dia masih membutuhkan belaian Ibu, dia masih membutuhkan kehangatan Ibu, masih membutuhkan dekapan, sentuhan, pendidikan, kasih sayang dan cinta seorang Ibu. Namun apa yang Ryan dapat, mungkin karena keegoisan orangtua, dia harus jadi korban.

Berkali-kali aku meminta maaf, berkali-kali aku memohon dia untuk kembali, tapi tak pernah dia gubris. Dia malah tetap meminta aku untuk menceraikannya. Sebegitu bencikah dia padaku sampai kata maafpun tak bisa dia berikan untukku.

Aku tak ingin berpisah darinya, karena dia adalah satu-satunya wanita yang aku cintai. Walaupun aku punya masa lalu yang suram, namun aku berjanji, aku tak akan mengulanginya. Walaupun dia tahu aku memang tak bisa membuatnya bahagia. Namun aku akan berusaha memenuhi setiap keinginnannya agar dia merasa bahagia.

***

Hari demi hari aku jalani bersama Ryan anakku, kalau aku tak bisa membesarkan  Ryan bersama istriku, aku akan berusaha membesarkan Ryan sendiri dengan segala apa yang aku punya. Ryan harus bahagia.

Sekitar enam bulan sudah istriku pergi dari rumah. Aku hanya berharap dia kembali, karena aku tak akan pernah menceraikannya. Dalam hitungan hari aku selalu berdoa dia akan terbuka hati dan pikirannya untuk kembali.

***

Perlahan Ryan tumbuh menjadi besar dan bertambah pintar, hanya dia yang bisa mengobati luka hatiku saat ini.

Menginjak bulan ketujuh ditahun ini. Semua masih seperti dulu, hanya yang berbeda adalah doa yang kupanjatkan dari hari ke hari. Aku ingin dia kembali.

Siang itu, langit cerah, aku bermaksud membawa Ryan jalan-jalan disekitar komplek, tapi entah kenapa tiba-tiba Ryan seolah tak ingin diajak pergi. Kuraba badannya, tapi tak panas. Tadinya aku kira Ryan sakit. Jadi aku putuskan untuk tinggal di rumah saja untuk mengisi weekend kali ini.

Ryan sudah aku mandikan, sudah aku beri makan dan sekarang dia terlihat mengantuk. Aku coba menidurkannya. Sekarang aku melihat wajah lucunya sudah terlelap menggapai mimpi.

“Mimpi yang indah Nak...temui Ibumu dalam mimpimu dan bawa dia kembali...”bisikku.

Aku langsung mengambil remote tv dan mengganti-ganti chanel TV sambil bersantai di ruang tengah. Kurang lebih satu jam, aku rebahan disana, tiba-tiba bel berbunyi. Aku langsung menuju depan pintu dan kubuka pintu rumah. Mataku hampir tak berkedip. Aku hampir tak percaya dengan apa yang aku lihat. AMANDA istriku.

Dia berdiri tepat didepanku dengan jilbab putih yang dia kenakan, koper yang mungkin berisi pakaiannya masih dia pegang ditangannya.

“Ayah...” dia tak mampu meneruskan kata-katanyanya, air matanya mengalir deras membasahi wajah cantiknya. Dia meminta maaf sambil menangis.

Aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Doaku terkabul setelah berbulan-bulan aku selalu memohon, agar dia kembali. Aku tak akan mempermasalahkan apa yang terjadi dibelakang, yang terpenting sekarang dia sudah kembali. Walaupun dia sering mempermainkan perasaanku, tapi aku yakin dia pasti berubah seiring berjalannya waktu.

Ryan kini menjadi anak yang lengkap. Dia mendapatkan kasih sayang yang utuh dari orangtuanya. Ada aku dan Ibunya. Kini, aku bisa melihat senyuman istriku setiap hari dan aku tak ingin kehilangan semuanya.

Semua permasalahan yang aku alami memang terkadang membuatku terjatuh. Namun aku tak ingin terus terjatuh dalam keterpurukan. Masih ada orang lain yang membutuhkanku. Aku harus bangkit, dan sudah terbukti jika kita terus berjalan, jalan sempitpun akan terasa lebar, jalan yang dianggap sudah buntu pun pasti akan terbuka dan setiap masalah pasti akan ada jalan keluar.


Aku berharap setiap keterjatuhanku akan membawa pelajaran berharga dalam hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar