27 Nov 2012

Itu Ayahku

Ayah…semua orang pasti mendambakan kehadiran seorang Ayah. Begitupun aku saat ini, walaupun kurasa itu tak mungkin. Tapi harapan itu selalu ada seiring doaku dan doa Ibu.

Aku masih ingat, ketika itu usiaku tujuh tahun. Ayah pergi meninggalkan Kami untuk bekerja sebagai TKI. Ibu terpaksa melepas Ayah karena faktor ekonomi. Selama dua tahun kehidupan Kami normal seperti biasanya. Ayah selalu mengirimkan uang setiap bulannya. Cukup untuk hidup aku dan Ibu. Komunikasipun terjalin dengan baik. Ayah memeberikan kabar lewat surat atau telepon walaupun numpang tetangga.

Tapi sejak tiga tahun terakhir ini, Kami kehilangan kontak dengan Ayah. Kami tak tahu Ayah dimana dan bagaimana keadaannya. Biaya hiduppun sudah tak pernah Ayah kirim. Hingga hidup Kami semakin sulit.

Untuk membiayai hidup dan sekolahku, terpaksa harus aku dan Ibu yang menanggungnya. Ibu membuat susu kedelai setiap pagi dan aku yang menjualnya keliling kampung dengan sepedaku. Untungnya jam sekolahku siang jadi setiap pagi aku masih bisa membantu Ibu menjualkan susu kedelainya.


Hasil dari penjualan susu hanya cukup untuk makan sehari-hari. Biaya sekolah akupun harus mengandalkan beasiswa tidak mampu. Bahkan penyakit batuk yang bertahun-tahun bersarang ditubuhku pun tak pernah kupedulikan.

Terkadang aku merasa iri dengan kehidupan teman-teman disekelilingku. Mereka hidup dengan serba berkecukupan. Tak perlu berlelah-lelah dipagi hari untuk bekerja. Tak perlu berfikir untuk makan esok hari. Umurku belum cukup rasanya untuk memikirkan kondisi hidup seperti ini. Namun, inilah hidupku.

Aku masih berharap Ayah pulang. Berkumpul lagi dengan Kami. Namun harapan hanya sebatas harapan. Bertahun-tahun aku bermimpi namun tak pernah jadi kenyataan. Aku dan Ibu tak pernah tahu Ayah dimana.

***

Suatu hari, aku sedang berjualan susu kedelai buatan Ibu. Berkeliling kampung seperti biasa. Namun hari itu aku mencoba peruntungan berjualan ke tempat lain yang agak jauh dari tempatku biasa berkeliling. Dari jauh aku melihat ada sosok yang sepertinya aku kenal. Aku mencoba mendekati orang itu, tapi sayang orang itu sudah pergi dengan mobil mewahnya.

Sepanjang jalan aku masih berfikir, mungkinkah itu sosok yang aku rindukan selama ini. Tapi kurasa tak mungkin Ayah mempunyai kendaraan semewah itu. Mungkin itu hanya halusinasiku semata. Tapi naluriku seolah berkata kalau itu Ayah. Tapi aku belum berani mengatakan ini semua pada Ibu.

***

Keesokan harinya, aku mencoba mendatangi tempat yang sama. Walaupun tempat itu cukup jauh dari tempat tinggalku. Kami memang tak pernah melintasi tempat itu karena tempat itu termasuk kawasan para elite. Kutunggu kembali munculnya sosok itu, tapi sayang hari itu tak kujumpai.

Hampir seminggu, aku mendatangi tempat itu. Namun lagi-lagi tak kulihat sosok mirip Ayah itu. Rasa penasaran ini selalu datang tiap waktu. Aku tak peduli dengan jarak yang jauh itu, walau badanku sangat lelah. Yang pasti saat ini aku ingin melihatnya.

Lagi-lagi hari itu, aku mencoba kesana dan aku beruntung saat itu karena aku bisa melihat sosok mirip Ayah. Namun dia pergi dengan seorang wanita. Wanita yang sudah berumur. Kalau aku lihat umurnya beberapa tahun diatas Ibu. Mereka pergi dengan mobil mewahnya lagi. Ingin aku kejar tapi apa daya. Mobil mewah itu bukan tandingan sepeda yang hampir bobrok ini.

Hampir setiap hari aku mendatangi tempat itu, kuperhatikan dari jarak beberapa meter. Aku  semakin yakin kalau itu sosok Ayah. Tapi kenapa Ayah berbuat seperti itu. Kenapa Ayah meninggalkan Kami, kenapa Ayah malah bersenang-senang dengan kemewahan. Tapi apa benar itu ayah???

Semakin hari aku semakin berfikir. Semakin aku tak bisa menahan ini. Lalu aku ceritakan hal ini pada Ibu. Ibu sempat kaget mendengar penuturanku, namun aku coba untuk menenangkan hati Ibu, kalau itu hanya pradugaku saja. Tapi Ibu bersikeras ingin melihat sosok itu yang aku duga sosok Ayah.

Esok hari, Ibu sengaja tak membuat susu kedelai seperti biasanya. Kami pagi-pagi sekali pergi ke tempat itu dengan menggunakan angkot. Kami tunggu...satu jam, dua jam, sampai empat jam Kami menunggu. Namun sosok itu tak muncul-muncul. Akhirnya Kami putuskan untuk pulang karena waktunya aku harus berangkat sekolah.

***

Hari kedua seperti biasanya Kami berangkat pagi-pagi. Dan tak perlu menunggu waktu lama, akhirnya Kami berdua pun melihat sosok itu. Ibu yang berada disebelahku langsung berlari mengejar orang itu, mendatangi tepat didepan orang tersebut. Aku lihat dengan jelas itu memang Ayah. Walaupun kita berpisah sudah cukup lama namun aku tahu itu Ayah. Banyak orang yang mirip tapi naluri hati tak pernah ada yang salah. Itu Ayah.

Ibu melihat Ayah dengan wajah sendu. Ibu menangis didepan Ayah dan mencoba meminta penjelasan apa yang terjadi sebenarnya. Namun apa yang terjadi, sosok itu malah mencoba menyingkirkan tubuh Ibu dari pandangannya. Dia bahkan mengeluarkan kata-kata yang tak pantas untuk didengar. Dia mengatakan bahwa Ibu sudah gila.

Ibu menangis...Ibu tak bisa berbuat apa-apa begitupun aku. Aku hanya berusaha menenangkan Ibu dan membawa Ibu pulang. Kami tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kejadian ini terlalu rumit bagiku.

***

Sejak saat itu, aku tak pernah melihat sosok itu lagi di tempat itu. Entah kemana...mungkin mereka sudah pindah keluar kota, keluar negeri atau entah kemana. Aku dan Ibu masih tetap dengan kondisi seperti biasa. Masih dengan harapan-harapan yang sama. Masih dengan mimpi-mimpi indah Kami, berharap Ayah pulang.


Semua orang mungkin berfikiran, aku dan Ibu salah orang. Atau mungkin semua orang beranggapan mata Kami telah buta. Tapi aku yakin itu Ayah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar