Ayah…semua orang
pasti mendambakan kehadiran seorang Ayah. Begitupun aku saat ini, walaupun kurasa itu tak mungkin. Tapi
harapan itu selalu ada seiring doaku dan doa Ibu.
Aku masih ingat,
ketika itu usiaku tujuh tahun. Ayah pergi meninggalkan Kami untuk bekerja
sebagai TKI. Ibu terpaksa melepas Ayah karena faktor ekonomi. Selama dua tahun
kehidupan Kami normal seperti biasanya. Ayah selalu mengirimkan uang setiap
bulannya. Cukup untuk hidup aku dan Ibu. Komunikasipun terjalin dengan baik. Ayah memeberikan kabar lewat
surat atau telepon walaupun numpang tetangga.
Tapi sejak tiga
tahun terakhir ini, Kami kehilangan kontak dengan Ayah. Kami tak tahu Ayah
dimana dan bagaimana keadaannya. Biaya hiduppun sudah tak pernah Ayah kirim. Hingga hidup Kami semakin
sulit.
Untuk membiayai
hidup dan sekolahku, terpaksa harus aku dan Ibu yang menanggungnya. Ibu membuat
susu kedelai setiap pagi dan aku yang menjualnya keliling kampung dengan
sepedaku. Untungnya jam sekolahku siang jadi setiap pagi aku masih bisa
membantu Ibu menjualkan susu kedelainya.
Hasil dari
penjualan susu hanya cukup untuk makan sehari-hari. Biaya sekolah akupun harus
mengandalkan beasiswa tidak mampu. Bahkan penyakit batuk yang bertahun-tahun
bersarang ditubuhku pun tak pernah kupedulikan.
Terkadang aku
merasa iri dengan kehidupan teman-teman disekelilingku. Mereka hidup dengan
serba berkecukupan. Tak perlu berlelah-lelah dipagi hari untuk bekerja. Tak
perlu berfikir untuk makan esok hari. Umurku belum cukup rasanya untuk memikirkan
kondisi hidup seperti ini. Namun, inilah hidupku.
Aku masih
berharap Ayah pulang. Berkumpul lagi dengan Kami. Namun harapan hanya sebatas
harapan. Bertahun-tahun aku bermimpi namun tak pernah jadi kenyataan. Aku dan
Ibu tak pernah tahu Ayah dimana.
***
Suatu hari, aku
sedang berjualan susu kedelai buatan Ibu. Berkeliling kampung seperti biasa.
Namun hari itu aku mencoba peruntungan berjualan ke tempat lain yang agak jauh dari
tempatku biasa berkeliling. Dari jauh aku melihat ada sosok yang sepertinya aku
kenal. Aku mencoba mendekati orang itu, tapi sayang orang itu sudah pergi
dengan mobil mewahnya.
Sepanjang jalan
aku masih berfikir, mungkinkah itu sosok yang aku rindukan selama ini. Tapi
kurasa tak mungkin Ayah mempunyai kendaraan semewah itu. Mungkin itu hanya
halusinasiku semata. Tapi naluriku seolah berkata kalau itu Ayah. Tapi aku belum
berani mengatakan ini semua pada Ibu.
***
Keesokan
harinya, aku mencoba mendatangi tempat yang sama. Walaupun tempat itu cukup
jauh dari tempat tinggalku. Kami
memang tak pernah melintasi tempat itu karena tempat
itu termasuk kawasan para elite. Kutunggu kembali munculnya sosok itu, tapi
sayang hari itu tak kujumpai.
Hampir seminggu,
aku mendatangi tempat itu. Namun lagi-lagi tak kulihat sosok mirip Ayah itu. Rasa
penasaran ini selalu datang tiap waktu. Aku tak peduli dengan jarak yang jauh
itu, walau badanku sangat lelah. Yang pasti saat ini aku ingin melihatnya.
Lagi-lagi hari
itu, aku mencoba kesana dan aku
beruntung saat itu karena aku bisa melihat sosok mirip Ayah. Namun dia
pergi dengan seorang wanita. Wanita yang sudah berumur. Kalau aku lihat umurnya
beberapa tahun diatas Ibu. Mereka pergi dengan mobil mewahnya lagi. Ingin aku
kejar tapi apa
daya. Mobil mewah itu bukan tandingan sepeda yang hampir bobrok ini.
Hampir setiap
hari aku mendatangi tempat itu, kuperhatikan dari jarak beberapa meter. Aku semakin yakin kalau itu sosok Ayah. Tapi kenapa Ayah
berbuat seperti itu. Kenapa Ayah meninggalkan Kami, kenapa Ayah malah
bersenang-senang dengan kemewahan. Tapi apa benar itu ayah???
Semakin hari aku
semakin berfikir. Semakin aku tak bisa menahan ini. Lalu aku ceritakan hal ini
pada Ibu. Ibu sempat kaget mendengar penuturanku, namun aku coba untuk
menenangkan hati Ibu, kalau itu hanya pradugaku saja. Tapi Ibu bersikeras ingin
melihat sosok itu yang aku duga sosok Ayah.
Esok hari, Ibu
sengaja tak membuat susu kedelai seperti biasanya. Kami pagi-pagi sekali pergi
ke tempat itu dengan menggunakan angkot. Kami tunggu...satu jam, dua jam,
sampai empat jam Kami menunggu. Namun sosok itu tak muncul-muncul. Akhirnya Kami
putuskan untuk pulang karena waktunya aku harus berangkat sekolah.
***
Hari kedua
seperti biasanya Kami berangkat pagi-pagi. Dan tak perlu menunggu waktu lama,
akhirnya Kami berdua pun melihat sosok itu. Ibu yang berada disebelahku
langsung berlari mengejar orang itu, mendatangi tepat didepan orang tersebut. Aku lihat dengan
jelas itu memang Ayah. Walaupun kita berpisah sudah cukup lama namun aku tahu itu Ayah. Banyak orang
yang mirip tapi naluri hati tak pernah ada yang salah. Itu Ayah.
Ibu melihat Ayah
dengan wajah sendu. Ibu menangis didepan Ayah dan mencoba meminta penjelasan
apa yang terjadi sebenarnya. Namun apa yang terjadi, sosok itu malah mencoba
menyingkirkan tubuh Ibu dari pandangannya. Dia bahkan mengeluarkan kata-kata yang tak
pantas untuk didengar. Dia mengatakan bahwa Ibu sudah gila.
Ibu menangis...Ibu tak bisa berbuat
apa-apa
begitupun aku. Aku hanya berusaha menenangkan Ibu dan membawa Ibu pulang. Kami
tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kejadian ini terlalu rumit bagiku.
***
Sejak saat itu,
aku tak pernah melihat sosok itu lagi di tempat itu. Entah kemana...mungkin mereka sudah pindah keluar kota,
keluar negeri atau entah kemana. Aku dan Ibu masih tetap dengan kondisi seperti
biasa. Masih dengan harapan-harapan yang sama. Masih dengan mimpi-mimpi indah Kami, berharap Ayah
pulang.
Semua orang
mungkin berfikiran, aku dan Ibu salah orang. Atau mungkin semua orang beranggapan mata Kami telah
buta. Tapi aku yakin itu Ayah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar