Ikhlas adalah satu kata yang
tidak setiap orang bisa melakukannya. Bahkan sebagian orang mungkin berkata
“sulit” walaupun mereka yakin kalau hidup dengan penuh ikhlas akan berbuah manis.
Begitupun dengan cerita ini. Cerita yang menggambarkan bentuk keikhlasan seorang istri kepada suaminya yang dia lakukan
semata-mata mengharap ridho Allah SWT.
Wanita ini bernama Surti, sudah sekitar 10
tahun dia tinggal di Jakarta ikut suami yang dulunya berprofesi sebagai supir
disalah satu perusahaan. Tapi itu dulu…karena sejak lima tahun terakhir ini perusahaan tempat suaminya Surti
bekerja mengalami
kebangkrutan dan terpaksa harus memberhentikan sebagian karyawannya termasuk
suami Surti.
Perubahan emosional yang dialami suaminya membuatnya
harus banyak berlapang dada. Sejak suaminya
tak punya pekerjaan memang dia yang menjadi tulang punggung keluarga. Suamipun
bukan tak berusaha untuk mencari lapangan pekerjaan baru, namun peluang
pekerjaan saat ini memang sangat sulit didapat dan
selalu gagal.
Setiap pagi sampai siang, Surti bekerja
sebagai pembantu rumah tangga dengan majikan yang cukup “rewel”, tapi semua itu
surti lakukan demi menyambung hidupnya. Ikhlas…itu yang selalu dia tanamkan
dipikiran dan hatinya. Lebih
ringan jika kita ikhlas. Siang sampai malam, dia bekerja membantu memasak
disalah satu rumah makan di kota itu. Hampir Surti tak ada waktu untuk bernafas santai.
Begitupun hari itu, seperti biasa Surti
pergi
bekerja dipagi buta,
dia melihat suaminya masih asyik
dialam mimpinya. Dia berusaha
membangunkan suaminya untuk berpamitan, namun tak ada jawaban. Akhirnya
Surtipun pergi. Dia bekerja
sampai jam satu siang dan disambung
pergi ke rumah makan sampai jam sepuluh malam. Terlihat sangat lelah, namun
senyum itu masih tersungging di bibir Surti. Waktu pulang kerja, tak ada
jemputan dari suaminya. Dia menyusuri kota itu sendirian, tanpa menggunakan
jasa angkot karena dia fikir jalan kaki akan lebih menghemat pengeluaran.
Setibanya di rumah tampak
suaminya sedang bermain kartu dengan teman-temannya. Rutinitas yang hampir
dilakukan setiap hari. Menghabiskan uang istri untuk berjudi. Berkali-kali
surti mengingatkan namun berkali-kali juga tamparan demi tamparan mampir ke
wajah surti. Seperti halnya malam itu, ketika Surti mengingatkan bahwa judi itu haram, lagi-lagi suaminya melakukan
kekerasan. Surti hanya bisa menangis. Apa masih ada keihklasan itu di hati Surti??? Surti selalu berdoa…semoga
semua ini menjadi ladang pahala untuknya. Tak ada yang bisa dia lakukan selain
berdoa.
***
Waktu semakin lama terlewati, perubahan
sikap suami tak pernah terlihat. Selalu saja seperti itu. Salah sedikit main
pukul. Sungguh kejadian yang membuat miris hati setiap orang.
Hari itu seperti biasa, Surti melakukan
rutinitas dipagi hari sampai malam. Namun hari itu dia mendapatkan potongan jam
kerja jadi bisa pulang satu jam lebih awal dari biasanya. Ketika keluar dari
tempat kerja, dia melihat ada tukang sate didepan rumah makan tempat dia
bekerja. Baru pertama kali dia melihat tukang sate itu, mungkin tukang sate
baru. Dia berniat untuk membeli sate untuk suaminya. Dia tahu betul kalau
suaminya sangat senang dengan sate kambing. Setelah membeli sate, diapun
bergegas pulang ke rumah.
Sesampai di rumah, dia tak mendapatkan
suaminya. Salam pun tak ada jawaban. Begitu sunyi keadaan rumah. Dia mencari suaminya ke dapur, tapi suaminya
tak ada. Tapi dia mendengar dari arah kamar seperti ada suara seorang wanita.
Pikirannya mulai kacau dan ketika dia membuka pintu
kamar, dia melihat suaminya tengah tidur dengan
wanita lain.
Surti marah, Surti menangis, namun apa yang dikatakan suaminya. Dia berdalih melakukan
itu karena Surti selama ini
tak bisa memberikannya anak. Surti hanya diam. Tangisan demi tangisan saja yang
menemaninya setiap hari.
Tidak berhenti sampai disitu, suaminya pun
hampir setiap malam membawa wanita itu ke rumah. Apa yang bisa Surti lakukan,
berbicarapun tidak pernah digubrisnya. Tak ada yang bisa Surti perbuat.
***
Bulan berganti bulan, mungkin sebagian orang
jika ada diposisi Surti saat itu akan menganggap hidup ini seperti di neraka. Perceraian mungkin akan
menjadi jalan keluar yang terbaik. Tapi tidak dengan Surti, entah apa yang membuatnya masih bertahan. Dia tetap ikhlas
mendampingi suaminya. Menyiapkan keperluan suaminya. Mencoba selalu tersenyum.
Tapi tetap kelembutan itu tak membuat suaminya berubah.
Apa mata hati suaminya sudah tertutup???
***
Siang itu, setelah bekerja di rumah majikannya, dia bergegas
menuju rumah makan. Hampir terlambat memang. Ditengah jalan dia lupa membawa tas
kecil yang biasa surti bawa. Tak ada isinya, hanya memang setiap pulang kerja
di tempat makan
itu, Surti selalu diberi sedikit
makanan dan Surti suka
simpan di tas kecil itu.
Karena lupa, dia menelpon tetangga dekat rumahnya untuk menyampaikan kepada
suaminya agar dia membawakan tas kecil itu. Sementara Surti akan menunggunya di tepi jalan.
Sekitar 10 menit dia menunggu, akhirnya
diseberang jalan sudah terlihat suaminya membawa tas pesanan dia. Surti berniat
menyebrang untuk mengambil tas kecil itu. Ketika dia melangkahkan kakinya,
ditengah jalan terlihat ada mobil melaju
dengan kecepatan kencang dan menabrak tubuh surti.
Suaminya kaget dan langsung menghampiri
Surti, untuk pertama kalinya terlihat kepanikan di wajah suaminya. Darah masih
membasahi baju sang suami ketika surti dilarikan ke rumah sakit. Namun
terlambat, Surti kehabisan banyak darah dan akhirnya meninggal.
***
Masih….diatas tanah merah pusara Surti,
terlihat ada air mata menetes. Air mata dari sang suami, entah air mata penyesalan, atau air mata
kekesalan karena kedepannya dia harus meneruskan hidup sendiri, bekerja sendiri
untuk menyambung hidupnya.
Yang pasti…Keikhlasan surti sebagai seorang
istri semata-mata hanya mencari Ridho-NYA. Sekarang Surti sudah beristirahat dengan tenang dari lelahnya hidup. Semoga dia selalu berada dalam
pelukan kasih sayang-NYA. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar