20 Nov 2012

Keikhlasan Surti

Ikhlas adalah satu kata yang tidak setiap orang bisa melakukannya. Bahkan sebagian orang mungkin berkata “sulit” walaupun mereka yakin kalau hidup dengan penuh ikhlas akan berbuah manis.

Begitupun dengan cerita ini. Cerita yang menggambarkan bentuk keikhlasan seorang istri kepada suaminya yang dia lakukan semata-mata mengharap ridho Allah SWT.

Wanita ini bernama Surti, sudah sekitar 10 tahun dia tinggal di Jakarta ikut suami yang dulunya berprofesi sebagai supir disalah satu perusahaan. Tapi itu dulu…karena sejak lima tahun terakhir ini perusahaan tempat suaminya Surti bekerja mengalami kebangkrutan dan terpaksa harus memberhentikan sebagian karyawannya termasuk suami Surti.

Perubahan emosional yang dialami suaminya membuatnya harus banyak berlapang dada. Sejak suaminya tak punya pekerjaan memang dia yang menjadi tulang punggung keluarga. Suamipun bukan tak berusaha untuk mencari lapangan pekerjaan baru, namun peluang pekerjaan saat ini memang sangat sulit didapat dan selalu gagal.


Setiap pagi sampai siang, Surti bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan majikan yang cukup “rewel”, tapi semua itu surti lakukan demi menyambung hidupnya. Ikhlas…itu yang selalu dia tanamkan dipikiran dan hatinya. Lebih ringan jika kita ikhlas. Siang sampai malam, dia bekerja membantu memasak disalah satu rumah makan di kota itu. Hampir Surti tak ada waktu untuk bernafas santai.

Begitupun hari itu, seperti biasa Surti pergi bekerja dipagi buta, dia melihat suaminya masih asyik dialam mimpinya. Dia berusaha membangunkan suaminya untuk berpamitan, namun tak ada jawaban. Akhirnya Surtipun pergi. Dia bekerja sampai jam satu siang dan disambung pergi ke rumah makan sampai jam sepuluh malam. Terlihat sangat lelah, namun senyum itu masih tersungging di bibir Surti. Waktu pulang kerja, tak ada jemputan dari suaminya. Dia menyusuri kota itu sendirian, tanpa menggunakan jasa angkot karena dia fikir jalan kaki akan lebih menghemat pengeluaran.

Setibanya di rumah tampak suaminya sedang bermain kartu dengan teman-temannya. Rutinitas yang hampir dilakukan setiap hari. Menghabiskan uang istri untuk berjudi. Berkali-kali surti mengingatkan namun berkali-kali juga tamparan demi tamparan mampir ke wajah surti. Seperti halnya malam itu, ketika Surti mengingatkan bahwa judi itu haram, lagi-lagi suaminya melakukan kekerasan. Surti hanya bisa menangis. Apa masih ada keihklasan itu di hati Surti??? Surti selalu berdoa…semoga semua ini menjadi ladang pahala untuknya. Tak ada yang bisa dia lakukan selain berdoa.

***

Waktu semakin lama terlewati, perubahan sikap suami tak pernah terlihat. Selalu saja seperti itu. Salah sedikit main pukul. Sungguh kejadian yang membuat miris hati setiap orang.

Hari itu seperti biasa, Surti melakukan rutinitas dipagi hari sampai malam. Namun hari itu dia mendapatkan potongan jam kerja jadi bisa pulang satu jam lebih awal dari biasanya. Ketika keluar dari tempat kerja, dia melihat ada tukang sate didepan rumah makan tempat dia bekerja. Baru pertama kali dia melihat tukang sate itu, mungkin tukang sate baru. Dia berniat untuk membeli sate untuk suaminya. Dia tahu betul kalau suaminya sangat senang dengan sate kambing. Setelah membeli sate, diapun bergegas pulang ke rumah.

Sesampai di rumah, dia tak mendapatkan suaminya. Salam pun tak ada jawaban. Begitu sunyi keadaan rumah. Dia mencari suaminya ke dapur, tapi suaminya tak ada. Tapi dia mendengar dari arah kamar seperti ada suara seorang wanita. Pikirannya mulai kacau dan ketika dia membuka pintu kamar, dia melihat suaminya tengah tidur dengan wanita lain.

Surti marah, Surti menangis, namun apa yang dikatakan suaminya. Dia berdalih melakukan itu karena Surti selama ini tak bisa memberikannya anak. Surti hanya diam. Tangisan demi tangisan saja yang menemaninya setiap hari.

Tidak berhenti sampai disitu, suaminya pun hampir setiap malam membawa wanita itu ke rumah. Apa yang bisa Surti lakukan, berbicarapun tidak pernah digubrisnya. Tak ada yang bisa Surti perbuat.

***

Bulan berganti bulan, mungkin sebagian orang jika ada diposisi Surti saat itu akan menganggap hidup ini seperti di neraka. Perceraian mungkin akan menjadi jalan keluar yang terbaik. Tapi tidak dengan Surti, entah apa yang membuatnya masih bertahan. Dia tetap ikhlas mendampingi suaminya. Menyiapkan keperluan suaminya. Mencoba selalu tersenyum. Tapi tetap kelembutan itu tak membuat suaminya berubah.

Apa mata hati suaminya sudah tertutup???

***

Siang itu, setelah bekerja di rumah majikannya, dia bergegas menuju rumah makan. Hampir terlambat memang. Ditengah jalan dia lupa membawa tas kecil yang biasa surti bawa. Tak ada isinya, hanya memang setiap pulang kerja di tempat makan itu, Surti selalu diberi sedikit makanan dan Surti suka simpan di tas kecil itu. Karena lupa, dia menelpon tetangga dekat rumahnya untuk menyampaikan kepada suaminya agar dia membawakan tas kecil itu. Sementara Surti akan menunggunya di tepi jalan.

Sekitar 10 menit dia menunggu, akhirnya diseberang jalan sudah terlihat suaminya membawa tas pesanan dia. Surti berniat menyebrang untuk mengambil tas kecil itu. Ketika dia melangkahkan kakinya, ditengah jalan  terlihat ada mobil melaju dengan kecepatan kencang dan menabrak tubuh surti.

Suaminya kaget dan langsung menghampiri Surti, untuk pertama kalinya terlihat kepanikan di wajah suaminya. Darah masih membasahi baju sang suami ketika surti dilarikan ke rumah sakit. Namun terlambat, Surti kehabisan banyak darah dan akhirnya meninggal.

***

Masih….diatas tanah merah pusara Surti, terlihat ada air mata menetes. Air mata dari sang suami, entah air mata penyesalan, atau air mata kekesalan karena kedepannya dia harus meneruskan hidup sendiri, bekerja sendiri untuk menyambung hidupnya.


Yang pasti…Keikhlasan surti sebagai seorang istri semata-mata hanya mencari Ridho-NYA. Sekarang Surti sudah beristirahat dengan tenang dari lelahnya hidup. Semoga dia selalu berada dalam pelukan kasih sayang-NYA. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar