Anak itu bernama
Sholeh, nama yang sangat bagus. Orangtunya memberi nama itu berharap sifatnya
sesuai dengan namanya.
Sholeh tumbuh
menjadi anak yang baik. Sejak duduk di sekolah dasar sampai sekolah menengah
dia selalu menjadi kebanggaan orangtunya. Orangtuanya yang hanya bekerja disebuah
pabrik,
membuat sholeh merasakan pengorbanan orangtua begitu besar untuknya.
Sholeh hidup
hanya dengan Ayahnya, beberapa tahun yang lalu ibunda tercintanya sudah dipanggil-NYA.
Untuk membantu meringankan beban orangtuanya, sepulang sekolah Sholeh
menyambung bekerja disebuah toko fotocopy dekat rumahnya.
***
Hari itu
kelulusan dibuka. Dengan disertai doa dari orangtua, Sholeh melangkah ke
sekolah untuk melihat hasil jerih payahnya belajar selama ini. Setelah dengan
teliti melihat satu persatu nomor peserta di papan pengumuman,
akhirnya dengan wajah berbinar Sholeh dinyatakan lulus dengan nilai yang sangat
memuaskan.
Sholeh buru-buru
memberikan kabar gembira ini pada Ayahnya di rumah. Dengan air mata bahagia sang Ayah memberi selamat dan berucap syukur atas semua
yang terjadi. Sholeh berencana untuk meneruskan sekolah ke Universitas negeri di kota itu.
Ayahnya memang jauh-jauh hari sudah mempersiapkan segalanya. Walaupun dengan seadanya.
***
Terkisah Sholeh
masuk ke Universitas
yang dia inginkan, sekolah yang lumayan elite. Berbeda dengan suasana sekolah
menengahnya dulu. Mayoritas disana orang-orang “bermobil” yang mungkin mereka menggunakan
fasilitas orangtuanya. Terkadang situasi itu membuat batin sholeh menjerit.
Sholeh yang
hanya manusia biasa pasti merasa iri dengan kehidupan mereka. Rasa malu bahkan
minder juga pasti ada dibenaknya. Rasa syukur yang selalu ada di hatinya dulu, kini mulai pudar
berganti dengan penyesalan kenapa dia dilahirkan di keluarga yang biasa bahkan pas-pasan.
Semakin berjalannya waktu, dari tahun ke
tahun, bukan fokus belajar yang dia jalani. Tapi selalu mendesak hatinya untuk
bisa seperti orang lain. Bahkan sekarang dia tak mau mengakui orangtuanya yang sudah memberikan apapun untuknya.
Sholeh bergaul dengan anak-anak dari kalangan tinggi dan dia mengaku diapun
hidup dari kalangan seperti mereka.
Itulah sholeh
saat ini…
Tak
henti-hentinya sang Ayah berdoa supaya anaknya bisa kembali seperti dulu. Tapi
mungkin ini cobaan yang harus dilewati. Pernah suatu hari Sholeh ingin
dibelikan handphone terbaru dengan
harga yang selangit. Mungkin dengan gaji Ayahnya selama beberapa bulan baru bisa membeli handphone tersebut. Ayahnya merasakan
tidak mungkin membelikan barang semewah itu. Tapi dengan kasar Sholeh mendorong
sang Ayah dan melontarkan kata-kata yang tak pantas dikeluarkan seorang anak.
Kemana sholeh
yang dulu??? Apakah perhiasan dunia sudah menghilangkan akal sehatnya??? Entahlah…
***
Suatu siang,
panas mentari nyaris membakar kulit sang Ayah ketika pulang dari tempat kerjanya. Beliau
ijin pulang cepat karena merasa tak enak badan. Diperjalanan terlihat Sholeh
sedang berjalan dengan teman-temannya. Sang Ayah juga sedang berjalan dari arah
berlawanan. Karena asyik mengobrol, Sholeh tak menghiraukan siapa yang ada didepannya. Tanpa disadari
sang Ayah dan sang anak berpapasan. Alangkah senangnya
sang Ayah
melihat anaknya saat itu dan bermaksud untuk meminta tolong mengantarkannya ke Puskesmas.
Tapi apa yang
terjadi, Sholeh mengaku tidak mengenali sang Ayah. Dia malah mengatakan bahwa orangtua ini salah
orang. Betapa sakit perasaan ayahnya saat itu. Lebih sakit dari kelaparan yang
pernah dia rasakan, lebih sakit dari apapun rasa sakit yang pernah dia rasakan.
Sesampai di rumah, Sholeh
langsung mengamuk dan meminta Ayahnya untuk tidak menyapanya ketika berada dijalan jika dia sedang
dengan teman-temannya.
***
Sore itu, langit
kelam seperti akan turun hujan. Suara gemuruh dari langit membuat suasana
tambah mencekam. Hari itu hari minggu, sang Ayah dan anakpun sedang libur dari aktivitas. Sang Ayah sudah melakukan
pekerjaan rumah yang seharusnya dilakukan seorang ibu rumah tangga. Beberapa
tahun yang lalu tugas ini tidak berat bagi sang Ayah karena buah hatinya selalu membantu dengan ikhlas.
Pekerjaan yang beratpun terasa sangat ringan. Tapi sekarang semua harus
dilakukan sendiri.
Waktu itu,
setelah bangun tidur, perut Sholeh terasa lapar. Dia pergi ke dapur tapi tak ada makanan yang
bisa dimakan, karena memang waktu itu Ayahnya merasa kelelahan dengan pekerjaan di rumahnya. Beliau tak sempat memasak. Sholeh
merajuk pada Ayahnya untuk meminta
dibuatkan mie instan, tapi lagi-lagi stock mie sedang habis. Dengan sabar Ayahnya bermaksud untuk
membeli mie di warung depan tak jauh dari rumahnya.
***
Hanya beberapa
menit saja dan kejadiannya memang sangat begitu cepat. Ketika sedang menyebrang
jalan, tiba-tiba sepeda motor melaju kencang dan menabrak tubuh setengah baya
itu. Sang Ayah terkapar. Saat itu juga banyak penduduk langsung melihat ketempat kejadian. Termasuk Sholeh sang
anak.
Sholeh terlihat sangat kaget dan langsung memeluk
tubuh Ayahnya
yang bergelimang darah. Tak sempat dibawa ke rumah sakit. Tak sempat sang Ayah mengatakan apapun.
Yang Maha Kuasa sudah memanggilnya.
Mungkin hanya
satu kata yang bisa mewakili suasana hati Sholeh saat itu…Penyesalan…
***
Entah siapa yang
salah…apa sang Ayah yang tak mampu mendidik anaknya, ataukah sang anak yang memang tak punya akal
sehat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar