29 Nov 2012

Sholeh Anakku

Anak itu bernama Sholeh, nama yang sangat bagus. Orangtunya memberi nama itu berharap sifatnya sesuai dengan namanya.

Sholeh tumbuh menjadi anak yang baik. Sejak duduk di sekolah dasar sampai sekolah menengah dia selalu menjadi kebanggaan orangtunya. Orangtuanya yang hanya bekerja disebuah pabrik, membuat sholeh merasakan pengorbanan orangtua begitu besar untuknya.

Sholeh hidup hanya dengan Ayahnya, beberapa tahun yang lalu ibunda tercintanya sudah dipanggil-NYA. Untuk membantu meringankan beban orangtuanya, sepulang sekolah Sholeh menyambung bekerja disebuah toko fotocopy dekat rumahnya.

***

Hari itu kelulusan dibuka. Dengan disertai doa dari orangtua, Sholeh melangkah ke sekolah untuk melihat hasil jerih payahnya belajar selama ini. Setelah dengan teliti melihat satu persatu nomor peserta di papan pengumuman, akhirnya dengan wajah berbinar Sholeh dinyatakan lulus dengan nilai yang sangat memuaskan.


Sholeh buru-buru memberikan kabar gembira ini pada Ayahnya di rumah. Dengan air mata bahagia sang Ayah memberi selamat dan berucap syukur atas semua yang terjadi. Sholeh berencana untuk meneruskan sekolah ke Universitas negeri di kota itu. Ayahnya memang jauh-jauh hari sudah mempersiapkan segalanya. Walaupun dengan seadanya.

***

Terkisah Sholeh masuk ke Universitas yang dia inginkan, sekolah yang lumayan elite. Berbeda dengan suasana sekolah menengahnya dulu. Mayoritas disana orang-orang  “bermobil” yang mungkin mereka menggunakan fasilitas orangtuanya. Terkadang situasi itu membuat batin sholeh menjerit.

Sholeh yang hanya manusia biasa pasti merasa iri dengan kehidupan mereka. Rasa malu bahkan minder juga pasti ada dibenaknya. Rasa syukur yang selalu ada di hatinya dulu, kini mulai pudar berganti dengan penyesalan kenapa dia dilahirkan di keluarga yang biasa bahkan pas-pasan.

Semakin berjalannya waktu, dari tahun ke tahun, bukan fokus belajar yang dia jalani. Tapi selalu mendesak hatinya untuk bisa seperti orang lain. Bahkan sekarang dia tak mau mengakui orangtuanya yang sudah memberikan apapun untuknya. Sholeh bergaul dengan anak-anak dari kalangan tinggi dan dia mengaku diapun hidup dari kalangan seperti mereka.
Itulah sholeh saat ini…

Tak henti-hentinya sang Ayah berdoa supaya anaknya bisa kembali seperti dulu. Tapi mungkin ini cobaan yang harus dilewati. Pernah suatu hari Sholeh ingin dibelikan handphone terbaru dengan harga yang selangit. Mungkin dengan gaji Ayahnya selama beberapa bulan baru bisa membeli handphone tersebut. Ayahnya merasakan tidak mungkin membelikan barang semewah itu. Tapi dengan kasar Sholeh mendorong sang Ayah dan melontarkan kata-kata yang tak pantas dikeluarkan seorang anak.

Kemana sholeh yang dulu??? Apakah perhiasan dunia sudah menghilangkan akal sehatnya??? Entahlah…

***

Suatu siang, panas mentari nyaris membakar kulit sang Ayah ketika pulang dari tempat kerjanya. Beliau ijin pulang cepat karena merasa tak enak badan. Diperjalanan terlihat Sholeh sedang berjalan dengan teman-temannya. Sang Ayah juga sedang berjalan dari arah berlawanan. Karena asyik mengobrol, Sholeh tak menghiraukan siapa yang ada didepannya. Tanpa disadari sang Ayah dan sang anak berpapasan. Alangkah senangnya sang Ayah melihat anaknya saat itu dan bermaksud untuk meminta tolong mengantarkannya ke Puskesmas.

Tapi apa yang terjadi, Sholeh mengaku tidak mengenali sang Ayah. Dia malah mengatakan bahwa orangtua ini salah orang. Betapa sakit perasaan ayahnya saat itu. Lebih sakit dari kelaparan yang pernah dia rasakan, lebih sakit dari apapun rasa sakit yang pernah dia rasakan.

Sesampai di rumah, Sholeh langsung mengamuk dan meminta Ayahnya untuk tidak menyapanya ketika berada dijalan jika dia sedang dengan teman-temannya.

***

Sore itu, langit kelam seperti akan turun hujan. Suara gemuruh dari langit membuat suasana tambah mencekam. Hari itu hari minggu, sang Ayah dan anakpun sedang libur dari aktivitas. Sang Ayah sudah melakukan pekerjaan rumah yang seharusnya dilakukan seorang ibu rumah tangga. Beberapa tahun yang lalu tugas ini tidak berat bagi sang Ayah karena buah hatinya selalu membantu dengan ikhlas. Pekerjaan yang beratpun terasa sangat ringan. Tapi sekarang semua harus dilakukan sendiri.

Waktu itu, setelah bangun tidur, perut Sholeh terasa lapar. Dia pergi ke dapur tapi tak ada makanan yang bisa dimakan, karena memang waktu itu Ayahnya merasa kelelahan dengan pekerjaan di rumahnya. Beliau tak sempat memasak. Sholeh merajuk pada Ayahnya untuk meminta dibuatkan mie instan, tapi lagi-lagi stock mie sedang habis. Dengan sabar Ayahnya bermaksud untuk membeli mie di warung depan tak jauh dari rumahnya.

***

Hanya beberapa menit saja dan kejadiannya memang sangat begitu cepat. Ketika sedang menyebrang jalan, tiba-tiba sepeda motor melaju kencang dan menabrak tubuh setengah baya itu. Sang Ayah terkapar. Saat itu juga banyak penduduk langsung melihat ketempat kejadian. Termasuk Sholeh sang anak.

Sholeh terlihat sangat kaget dan langsung memeluk tubuh Ayahnya yang bergelimang darah. Tak sempat dibawa ke rumah sakit. Tak sempat sang Ayah mengatakan apapun. Yang Maha Kuasa sudah memanggilnya.

Mungkin hanya satu kata yang bisa mewakili suasana hati Sholeh saat itu…Penyesalan…

***


Entah siapa yang salah…apa sang Ayah yang tak mampu mendidik anaknya, ataukah sang anak yang memang tak punya akal sehat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar