Sore ini, Bandung 2 Januari 2007, hari selasa
tepatnya. Aku masih memandangi langit-langit kamar kostanku yang tak terlalu
besar. Jendela tua yang hampir lapuk dimakan rayap. Tembok yang sudah berganti
warna karena sudah pudar dimakan usia menemaniku saat ini. Masih berjuta
pertanyaan di benak yang aku sendiri tak tahu apa jawabannya.
“Kenapa harus aku...???” bisikku.
***
Bulan depan usiaku genap 34 tahun. Usia yang cukup matang untuk
berumah tangga. Bahkan teman-teman seusiaku hampir semua sudah mempunyai
keturunan. Ada yang sudah punya dua anak bahkan tiga anak. Sementara aku masih disini menunggunya. Entah
siapa “nya” yang aku maksud.
Aku masih percaya, Tuhan menciptakan manusia
berpasang-pasangan dan aku sangat yakin wanita baik akan dipasangkan dengan
seorang laki-laki yang baik. Itu yang selalu menjadi harapanku.
Doa tanpa usaha akan sia-sia dan begitupun
sebaliknya. Keegoisan diri merasuki pikiranku saat ini, aku merasa doa dan
usahaku sudah maksimal, namun kenapa aku selalu dipertemukan dengan orang yang
salah yang akhirnya harus pergi meninggalkan aku.
***
Ada beberapa laki-laki yang sempat dekat denganku. Aku mencoba berikhtiar siapa tahu
memang ada jodohnya.
Kebanyakan dari mereka aku mengenalnya dari seorang teman. Namun ada beberapa
juga yang aku kenal dari kerabatku sendiri.
Ada satu laki-laki yang aku kenal dengan
sendiri. Perkenalan yang mungkin orang bilang suatu perkenalan yang biasa saja.
Aku mengenalnya ketika aku sedang membeli sesuatu di swalayan. Sedang asyik memilih
barang yang aku butuhkan, tiba-tiba aku menemukan sebuah dompet yang tergeletak
begitu saja. Aku mencoba mengambilnya dan berniat untuk memberikan
dompet itu ke bagian
informasi. Namun baru saja aku raih dompet itu, tiba-tiba dibelakangku ada
seorang laki-laki yang mengaku bahwa dompet itu adalah punya dia. Tanpa berfikir panjang aku berikan
saja dompetnya.
Ketika aku akan melangkah, tiba-tiba laki-laki
itu mengajakku berkenalan. Aku sempat tak suka dengan sikapnya seperti itu. Aku
biarkan saja dia malah
aku tinggalkan dia begitu saja.
Ketika aku naik angkot yang akan membawaku pulang, masih saja
tersirat rasa kesal di hatiku pada laki-laki itu. Namun buru-buru aku
tepis rasa itu. Hingga tak
terasa aku sampai di kostanku.
Kubaringkan badanku ditempat tidur ini dan
pikiranku masih melayang pada sosok tadi. Sosok yang sangat menyebalkan.
***
Aku adalah seorang karyawan disalah satu perusahaan
di kota Bandung. Kota yang terkadang kurasa
sudah tak sejuk lagi. Banyak
polusi, macet, dan kadang penat. Namun ku coba menikmati semua nikmat dari sang Maha Kuasa. Aku
tetap mencintai kota ini, karena sudah hampir 10 tahun aku tinggal disini.
Siang itu, ada rapat dadakan di kantor, semua karyawan kumpul disatu
ruangan. Tak biasanya ada rapat tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Ternyata
atasanku akan memperkenalkan seorang karyawan baru yang akan menggarap salah
satu proyek baru di kantorku. Proyek yang melibatkan aku juga
didalamnya.
Tak lama Kami menunggu, tiba-tiba muncul sosok karyawan
baru itu. Kaget campur kesal aku dibuatnya, ternyata karyawan baru itu adalah
sosok menyebalkan yang aku lihat disebuah swalayan itu. Tak ada yang kebetulan
memang, semua sudah diatur-NYA, namun kenapa harus dia.
Dia memperkenalkan diri pada semua tim yang
akan menggarap pekerjaan baru itu. Gayanya yang tak ku sukai membuatku gerah. Kamipun memperkenalkan diri satu
persatu. Setelah itu, atasanku menyuruh Kami kembali ke tempat kerja masing-masing
termasuk karyawan baru itu. Sambil keluar ruangan, dia berbisik kepadaku dan
mengatakan., ”Akhirnya
aku bisa tahu namamu...” menyebalkan sekali fikirku. Untung saja hanya enam bulan aku bekerja sama
dengannya. Setelah itu dia akan meninggalkan kantor ini. Dia memang bekerja freelance, jadi ketika kontrak habis dia akan out dari kantor.
***
Awal bekerja sama dengannya memang ada sedikit
keraguan dalam hati. Apa aku bisa bekerja sama dengan orang yang baru pertama
saja aku mengenalnya sudah tersirat rasa tidak nyaman. Namun aku akan bersikap
professional dan mengenyampingkan perasaan ini.
Waktu berjalan, aku merasa aku harus membuang
perasaan burukku tentangnya. Ternyata dia laki-laki yang baik, cerdas, supel dan
ramah. Tapi jangan
sampai aku jatuh hati padanya. Namun entah kenapa ketika aku didekatnya aku
merasakan perasaanya yang tak biasa. Bertolak 180 derajat dengan perasaanku
dulu.
Hari semakin berganti, tak terasa proyek yang
aku tangani sudah hampir final. Dan itu tandanya aku akan kehilangan dia. Melihat
sikapku seperti itu, seolah dia tahu kegelisahan yang aku rasakan.
Akhirnya waktu yang aku takutkanpun terjadi.
Proyek sudah final dan dia pun meninggalkanku. Namun tak kuduga, dia memberikan
sebuah kalimat yang mengisyaratkan bahwa kita tak akan berpisah.
Kerjasama dengannya memang sudah berakhir,
namun kita masih sering bertemu dan berkomunikasi. Dia mengatakan kalau saat itu dia bekerja disebuah
perusahaan dengan menjadi seorang karyawan tetap dan masih di kota ini.
Waktu semakin berjalan, dan Kamipun semakin dekat. Dia laki-laki
yang sangat baik. Bukan hanya itu, keluarga Kamipun sudah mengenal satu sama lain. Namun ada
satu hal yang masih mengganjal dalam ingatan. Dia bekerja di perusahaan
apa, dimana tempatnya, dan bidang apa. Itu yang tak pernah dia jelaskan padaku.
Bukan aku tak percaya, bukan aku mementingkan sebuah materi, aku hanya ingin
tahu apakah uang yang dia hasilkan memang layak untuk menghidupi keluarga kita
nanti jika aku menikah
dengannya. Namun hal itu tak terlalu aku fikirkan, mungkin karena hatiku sudah
mantap memilihnya.
***
Suatu hari, aku berniat untuk menanyakan sesuatu pada dia. Aku ingin menikah dengannya. Ketika
aku utarakan padanya, dia sempat termenung. Aku fikir dia merenung karena dia
ragu padaku. Mungkin
dia sudah memiliki pilihan lain. Ternyata bukan karena itu. Bukan karena ada cinta lain di hatinya.
Dia menjelaskan suatu hal yang aku sendiri hampir tak percaya. Kenapa? Kenapa semua harus terjadi seperti
ini. Kenapa dia tak jujur tentang pekerjaannya selama ini.
Begitu menyesak didalam dada ketika dia
mengatakan bahwa dia seorang lintah darat yang mengambil keuntungan dari
orang-orang yang meminjam uang padanya. Pekerjaan yang sangat tidak baik. Aku tak bisa membayangkan seumur
hidup aku akan memakan uang riba. Uang yang bukan hak aku. Bukan hanya aku,
tapi juga anak-anakku. Sebuah alasan kenapa dia tak memberikan penjelasan dari
awal, karena dia tak ingin kehilangan aku. Namun, apakah dia sadar, sekarangpun dia akan
kehilangan aku.
Hatiku semakin pedih ketika dia menyatakan tak
akan pernah melepaskan pekerjaannya ini karena ini sudah menjadi pilihan
hidupnya. Pekerjaan yang membuatnya akan menjadi orang kaya, namun miskin di akhirat
kelak.
Aku memutuskan untuk melupakan dia. Dan diapun
menerima keputusanku. Aku memang mencintainya, namun aku jauh
mencintai-MU...aku tak ingin hidupku sia-sia. Aku mencoba mengabaikan
perasaanku.
Dari beberapa laki-laki yang pernah aku kenal,
tak bisa dipungkiri, dia memang laki-laki yang mempunyai kesan tersendiri dalam
hidupku. Namun aku harus melepaskan impian hidup bersamanya.
Tapi aku masih yakin, Tuhan pasti memberiku yang terbaik disaat yang tepat. Saat ini aku masih
menunggu hari indah itu akan tiba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar