30 Nov 2012

Menunggu Hari Indah

Sore ini, Bandung 2 Januari 2007, hari selasa tepatnya. Aku masih memandangi langit-langit kamar kostanku yang tak terlalu besar. Jendela tua yang hampir lapuk dimakan rayap. Tembok yang sudah berganti warna karena sudah pudar dimakan usia menemaniku saat ini. Masih berjuta pertanyaan di benak yang aku sendiri tak tahu apa jawabannya.

“Kenapa harus aku...???” bisikku.

***

Bulan depan usiaku genap 34 tahun. Usia yang cukup matang untuk berumah tangga. Bahkan teman-teman seusiaku hampir semua sudah mempunyai keturunan. Ada yang sudah punya dua anak bahkan tiga anak. Sementara aku masih disini menunggunya. Entah siapa “nya” yang aku maksud.

Aku masih percaya, Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan dan aku sangat yakin wanita baik akan dipasangkan dengan seorang laki-laki yang baik. Itu yang selalu menjadi harapanku.

Doa tanpa usaha akan sia-sia dan begitupun sebaliknya. Keegoisan diri merasuki pikiranku saat ini, aku merasa doa dan usahaku sudah maksimal, namun kenapa aku selalu dipertemukan dengan orang yang salah yang akhirnya harus pergi meninggalkan aku.


***

Ada beberapa laki-laki yang sempat dekat denganku. Aku mencoba berikhtiar siapa tahu memang ada jodohnya. Kebanyakan dari mereka aku mengenalnya dari seorang teman. Namun ada beberapa juga yang aku kenal dari kerabatku sendiri.

Ada satu laki-laki yang aku kenal dengan sendiri. Perkenalan yang mungkin orang bilang suatu perkenalan yang biasa saja. Aku mengenalnya ketika aku sedang membeli sesuatu di swalayan. Sedang asyik memilih barang yang aku butuhkan, tiba-tiba aku menemukan sebuah dompet yang tergeletak begitu saja. Aku mencoba mengambilnya dan berniat untuk memberikan dompet itu ke bagian informasi. Namun baru saja aku raih dompet itu, tiba-tiba dibelakangku ada seorang laki-laki yang mengaku bahwa dompet itu adalah punya dia. Tanpa berfikir panjang aku berikan saja dompetnya.

Ketika aku akan melangkah, tiba-tiba laki-laki itu mengajakku berkenalan. Aku sempat tak suka dengan sikapnya seperti itu. Aku biarkan saja dia malah aku tinggalkan dia begitu saja.

Ketika aku naik angkot yang akan membawaku pulang, masih saja tersirat rasa kesal di hatiku pada laki-laki itu. Namun buru-buru aku tepis rasa itu. Hingga tak terasa aku sampai di kostanku.

Kubaringkan badanku ditempat tidur ini dan pikiranku masih melayang pada sosok tadi. Sosok yang sangat menyebalkan.

***

Aku adalah seorang karyawan disalah satu perusahaan di kota Bandung. Kota yang terkadang kurasa sudah tak sejuk lagi. Banyak polusi, macet, dan kadang penat. Namun ku coba menikmati semua nikmat dari sang Maha Kuasa. Aku tetap mencintai kota ini, karena sudah hampir 10 tahun aku tinggal disini.

Siang itu, ada rapat dadakan di kantor, semua karyawan kumpul disatu ruangan. Tak biasanya ada rapat tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Ternyata atasanku akan memperkenalkan seorang karyawan baru yang akan menggarap salah satu proyek baru di kantorku. Proyek yang melibatkan aku juga didalamnya.

Tak lama Kami menunggu, tiba-tiba muncul sosok karyawan baru itu. Kaget campur kesal aku dibuatnya, ternyata karyawan baru itu adalah sosok menyebalkan yang aku lihat disebuah swalayan itu. Tak ada yang kebetulan memang, semua sudah diatur-NYA, namun kenapa harus dia.

Dia memperkenalkan diri pada semua tim yang akan menggarap pekerjaan baru itu. Gayanya yang tak ku sukai membuatku gerah. Kamipun memperkenalkan diri satu persatu. Setelah itu, atasanku menyuruh Kami kembali ke tempat kerja masing-masing termasuk karyawan baru itu. Sambil keluar ruangan, dia berbisik kepadaku dan mengatakan., ”Akhirnya aku bisa tahu namamu...” menyebalkan sekali fikirku. Untung saja hanya enam bulan aku bekerja sama dengannya. Setelah itu dia akan meninggalkan kantor ini. Dia memang bekerja freelance, jadi ketika kontrak habis dia akan out dari kantor.

***

Awal bekerja sama dengannya memang ada sedikit keraguan dalam hati. Apa aku bisa bekerja sama dengan orang yang baru pertama saja aku mengenalnya sudah tersirat rasa tidak nyaman. Namun aku akan bersikap professional dan mengenyampingkan perasaan ini.

Waktu berjalan, aku merasa aku harus membuang perasaan burukku tentangnya. Ternyata dia laki-laki yang baik, cerdas, supel dan ramah. Tapi jangan sampai aku jatuh hati padanya. Namun entah kenapa ketika aku didekatnya aku merasakan perasaanya yang tak biasa. Bertolak 180 derajat dengan perasaanku dulu.

Hari semakin berganti, tak terasa proyek yang aku tangani sudah hampir final. Dan itu tandanya aku akan kehilangan dia. Melihat sikapku seperti itu, seolah dia tahu kegelisahan yang aku rasakan.

Akhirnya waktu yang aku takutkanpun terjadi. Proyek sudah final dan dia pun meninggalkanku. Namun tak kuduga, dia memberikan sebuah kalimat yang mengisyaratkan bahwa kita tak akan berpisah.

Kerjasama dengannya memang sudah berakhir, namun kita masih sering bertemu dan berkomunikasi. Dia mengatakan kalau saat itu dia bekerja disebuah perusahaan dengan menjadi seorang karyawan tetap dan masih di kota ini.

Waktu semakin berjalan, dan Kamipun semakin dekat. Dia laki-laki yang sangat baik. Bukan hanya itu, keluarga Kamipun sudah mengenal satu sama lain. Namun ada satu hal yang masih mengganjal dalam ingatan. Dia bekerja di perusahaan apa, dimana tempatnya, dan bidang apa. Itu yang tak pernah dia jelaskan padaku. Bukan aku tak percaya, bukan aku mementingkan sebuah materi, aku hanya ingin tahu apakah uang yang dia hasilkan memang layak untuk menghidupi keluarga kita nanti jika aku menikah dengannya. Namun hal itu tak terlalu aku fikirkan, mungkin karena hatiku sudah mantap memilihnya.

***

Suatu hari, aku berniat untuk menanyakan sesuatu pada dia. Aku ingin menikah dengannya. Ketika aku utarakan padanya, dia sempat termenung. Aku fikir dia merenung karena dia ragu padaku. Mungkin dia sudah memiliki pilihan lain. Ternyata bukan karena itu. Bukan karena ada cinta lain di hatinya. Dia menjelaskan suatu hal yang aku sendiri hampir tak percaya. Kenapa? Kenapa semua harus terjadi seperti ini. Kenapa dia tak jujur tentang pekerjaannya selama ini.

Begitu menyesak didalam dada ketika dia mengatakan bahwa dia seorang lintah darat yang mengambil keuntungan dari orang-orang yang meminjam uang padanya. Pekerjaan yang sangat tidak baik. Aku tak bisa membayangkan seumur hidup aku akan memakan uang riba. Uang yang bukan hak aku. Bukan hanya aku, tapi juga anak-anakku. Sebuah alasan kenapa dia tak memberikan penjelasan dari awal, karena dia tak ingin kehilangan aku. Namun, apakah dia sadar, sekarangpun dia akan kehilangan aku.

Hatiku semakin pedih ketika dia menyatakan tak akan pernah melepaskan pekerjaannya ini karena ini sudah menjadi pilihan hidupnya. Pekerjaan yang membuatnya akan menjadi orang kaya, namun miskin di akhirat kelak.

Aku memutuskan untuk melupakan dia. Dan diapun menerima keputusanku. Aku memang mencintainya, namun aku jauh mencintai-MU...aku tak ingin hidupku sia-sia. Aku mencoba mengabaikan perasaanku.


Dari beberapa laki-laki yang pernah aku kenal, tak bisa dipungkiri, dia memang laki-laki yang mempunyai kesan tersendiri dalam hidupku. Namun aku harus melepaskan impian hidup bersamanya. Tapi aku masih yakin, Tuhan pasti memberiku yang terbaik disaat yang tepat. Saat ini aku masih menunggu hari indah itu akan tiba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar