Aku sangat
memimpikan dilahirkan dan hidup disebuah keluarga yang utuh dan harmonis. Walaupun tidak melimpah
dengan harta. Namun penuh kelembutan. Tapi tidak dengan keluargaku.
Kadang…aku
merasa hidup ini tidak adil ketika aku melihat kehidupan orang-orang
disekelilingku. Mereka hidup dilingkungan keluarga yang sangat menyenangkan. Tapi aku selalu berfikir
kalau semua ini bagian dari hidup yang harus aku jalani. Entah sampai kapan.
Ibu adalah sosok
yang sangat aku banggakan, beliau
adalah wanita terkuat, aku rasa akupun tak yakin kalau aku bisa seperti
beliau. Berpuluh-puluh tahun Ibu hidup dengan Ayah yang mempunyai sifat
temperamental. Namun beliau tetap setia mendampinginya.
Sementara Ayah adalah sosok
yang sangat menakutkan. Sejak aku kecil sampai aku beranjak dewasa, aku tak
pernah melihat sosok Ayah dengan versi yang sering teman-teman ceritakan
tentang Ayah mereka. Ayah yang penuh kasih sayang dan cinta. Berbeda dengan Ayahku
yang identik dengan main tangan, berkata-kata tak layak
untuk didengar, itulah yang Ayah lakukan pada Ibu kalau dia sedang marah.
Sangat menakutkan.
Suatu hari, aku
tak akan pernah melupakan peristiwa itu. Kejadiannya pagi hari ketika semua
aktivitas akan mulai dilakukan. Ibu sedang menyiapkan sarapan untuk aku, ayah dan kedua
kakakku. Dari kamar Ayah memanggil Ibu, namun karena Ibu sedang asyik memasak dan mungkin tidak
kedengeran dengan bunyi masakan, Ibu diam saja. Ayah terus memanggil dan
kudengar nada panggilannya sudah semakin keras. Aku langsung menemui Ibu dan memberitahu kalau
Ayah sedang memanggil beliau. Ibu langsung menghampiri Ayah. Ternyata Ayah
kehilangan kacamatanya. Ibu bilang tidak tahu tentang kacamata tersebut.
Saat itu
lagi-lagi Ayah marah, namun waktu itu Ibu mencoba untuk mengelak kalau beliau
benar-benar tidak tahu dimana kacamata Ayah. Aku melihat Ayah menyeret Ibu kedalam
kamar, kulihat Ayah memukul Ibu. Peristiwa ini memang sering aku lihat. Aku tak bisa berbuat
apa-apa begitupun dengan Kakakku. Ayah kemudian membawa nasi goreng yang tadi Ibu buat untuk sarapan,
bukan untuk dimakan tapi ditumpahkan ke muka Ibu. Setelah itu Ayah pergi.
Aku melihat Ibu hanya menangis. Aku
dan kedua kakakku hanya berusaha untuk menghibur beliau. Di dalam suasana
seperti itu kulihat Ibu masih memberikan senyuman buat Kami dan menyuruh Kami
sarapan dan berangkat sekolah, padahal aku melihat muka Ibu memar. Inilah
bagian cerita dari kehidupan keluargaku. Masih banyak peristiwa lain yang
kadang aku juga sudah muak dengan semua ini.
***
Sedih rasanya ketika ada
temanku yang lain menceritakan kasus yang sama. Namun, aku menganggap ternyata
bukan hanya aku yang mengalami ini semua. Yang Diatas memberikan ujian pasti karena aku mampu
melaluinya.
Aku dan kedua
kakakku, pernah berbicara pada Ibu, agar mereka bercerai saja. Aku sendiri
kadang tak kuat jika melihat Ibu terus-terusan menjadi sasaran amarah Ayah.
Jika ada masalah di kantor, Ayah melampiaskan pada Ibu di rumah. Namun, Ibu hanya
tersenyum dan mengelus kepala Kami. Ibu hanya bilang, “Tak punya Ayah itu tak enak”. Selalu begitu. Padahal jika aku boleh memilih,
mendingan aku tak punya Ayah sekalian.
***
Suatu hari, aku
disuruh Ibu untuk mengantarkan makanan ke tetangga sebelah. Ibu membuat kue dan
seperti biasa kalau Ibu membuat makanan dengan jumlah agak banyak, Ibu selalu
membagikannya pada tetangga.
Akupun mengantarkan kue itu. Niatku setelah
mengantarkan kue, aku langsung pulang. Namun tetanggaku malah mengajakku
mengobrol. Tak enak rasanya jika aku menolak. Akhirnya akupun mengobrol dulu
dengannya.
Tetanggaku
mungkin tahu situasi keluargaku, sifat Ayah yang pemarah dan ringan tangan. Dia
menanyakan hal itu dan aku tak bisa menjawab apa-apa. Aku hanya bilang itu
masalah intern Kami. Setelah
mengobrol, akupun segera berpamitan takut masalahnya
berkepanjangan. Namun aku sempat kaget ketika tetanggaku berkata, ”Hati-hati kalau punya
Ayah seperti itu, suamimu juga akan melakukan hal yang sama…” begitu kata tetanggaku.
Entah bercanda
atau apa yang pasti omongan itu selalu tersimpan di memori otakku. Apa benar
omongan tetanggaku tentang semua itu. Pernah aku mencoba menghilangkan anggapan
itu, namun tetap tak bisa.
***
Bertahun-tahun
hal itu menancap dipikiranku. Ketakutan mempunyai seorang suami seperti Ayah.
Mungkin itu pikiran yang sangat bodoh, namun itulah yang aku rasakan.
Kedua kakakku
sudah menikah, mereka hidup dalam keluarga yang bahagia. Dan akupun sudah
beranjak dewasa dan telah cukup umur untuk berumah tangga. Ayah dan Ibu juga
sudah menuju hari tua. Ayah juga tak seberingas dulu. Mungkin karena faktor
usia. Namun, tak pernah hilang di pikiran aku tentang sosok Ayah yang
menakutkan.
Ada beberapa
laki-laki yang datang ke rumah untuk melamar, namun tak pernah aku terima.
Ketakutan selalu ada ketika aku akan membuka hati. Pernah juga aku dekat dengan
seorang laki-laki, dia adalah teman kuliahku dulu. Ketika Kami sudah lulus, dia
pun mencoba mengungkapkan perasaannya dan ingin melamarku. Namun lagi-lagi
pikiran itu datang dan aku menolaknya. Padahal saat itu akupun menyukainya.
Pernah Ibu
bertanya, kenapa aku selalu menolak lamaran setiap laki-laki. Tapi aku selalu
bilang belum ada yang cocok saja.
Trauma…mungkin
itu yang aku rasakan saat itu. Ketakukan apa yang diomongkan tetanggaku akan
menjadi kenyataan.
Ibu merasa
cemas, ketika satu persatu temanku sudah mengirimkan undangan pernikahan. Namun
entah kenapa,
tak ada sedikitpun keinginan dalam hidupku untuk membina rumah tangga. Aku
fikir, aku akan tersiksa jika menikah.
***
Sampai pada
suatu hari, ada sepupuku yang usianya sama denganku. Dia berkunjung ke rumah
sambil mengantarkan undangan pernikahan. Dua minggu lagi dia akan menikah.
Lagi-lagi aku melihat kekhawatiran di wajah Ibu. Aku hanya bisa tersenyum dan
memberikan ucapan selamat. Sepupuku adalah aktifis remaja mesjid didaerahnya.
Rumahnya memang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Namun karena kita
sama-sama sibuk jadi kita jarang sekali bertemu.
Sepupuku
mengajakku ikut acara tausiyah di mesjid dekat tempat tinggalnya. Acaranya setiap hari minggu diawal
bulan. Aku memang jarang mengikuti acara-acara seperti itu. Aku mengiyakan
ajakan sepupuku itu.
***
Minggu pagi, aku
sudah siap-siap untuk pergi ke mesjid di daerah tempat tinggal sepupuku. Agak
terlambat aku datang tapi Alhamdulilah belum ketinggalan materi. Tausiyah kali ini membahas
tentang pernikahan. Banyak sekali ilmu yang aku dapat.
Malam itu, untuk
pertama kalinya aku berfikir mengenai pernikahan, tak seburuk yang aku fikirkan
ternyata. Malah menikah itu hukumnya
wajib untuk seseorang yang sudah mampu. Malam itu juga
aku hubungi sepupuku, aku ingin berdiskusi dengan ustadzah yang memberikan
tausiyah tadi siang. Menurut sepupuku, aku bisa menemuinya pada sore hari ba’da ashar.
***
Keesokkan hari,
sekitar pukul empat sore aku langsung meluncur menggunakan sepeda motorku untuk
menemui ustadzah itu. Setelah janjian sebelumnya. Kemudian Kamipun berdiskusi,
aku ceritakan tentang ketakutanku selama ini. Omongan tetanggaku tentang
kehidupan pernikahan itu. Ustadzah bilang bahwa kehidupan setiap orang
berbeda-beda. Ibuku diperlakukan seperti itu karena mungkin itu bisa menjadi
ladang amal buat Ibu. Dan belum tentu kehidupan aku bisa sama dengan Ibu. Aku sama saja mendahului
takdir jika aku berfikir seperti itu.
Mendahului
takdir? Apa
selama ini apa yang aku fikirkan malah suatu perbuatan dosa.
***
Beberapa kali aku
mengikuti acara tausiyah itu. Hingga pada suatu hari
ustadzah ingin memperkenalkan aku dengan saudaranya. Saat itu aku coba untuk
menerimanya.
Seminggu
kemudian, aku diminta untuk datang ke mesjid tempat aku mengikuti tausiyah.
Kulihat ada sesosok laki-laki bersama ustadzah. Dia saudara ustadazah yang akan
dikenalkan padaku. Aku tak tahu, ketika aku melihat laki-laki itu, aku merasa
ketakutan yang selama ini aku tanam di otak hilang begitu saja. Entah ada apa.
Mungkin Allah sudah menggerakkan hatiku untuk dia.
Sekitar dua bulan
Kami melakukan proses taaruf. Setelah
itu dia langsung melamar dan Kamipun menikah. Satu hal
yang aku yakini, Allah SWT memberikan sesuatu pada saat dan waktu yang tepat, begitupun
dengan jodoh.
***
Sekarang,
pernikahanku sudah berjalan 10 tahun, alhamdulilah suamiku seorang yang sangat
baik. Tak pernah ada kekerasan sama sekali. Kami didik anak-anakpun dengan
lemah lembut dan penuh kasih sayang. Doaku terkabul, aku menginginkan keluarga
yang harmonis. Dan aku miliki itu semua sekarang. Semua omongan orang waktu itu
tentang pernikahan hanyalah sebuah ilusi yang berlebihan. Tak pernah terjadi
dan aku harap tak akan pernah terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar