14 Nov 2012

Hanya Sebuah Ilusi

Aku sangat memimpikan dilahirkan dan hidup disebuah keluarga yang utuh dan harmonis. Walaupun tidak melimpah dengan harta. Namun penuh kelembutan. Tapi tidak dengan keluargaku.

Kadang…aku merasa hidup ini tidak adil ketika aku melihat kehidupan orang-orang disekelilingku. Mereka hidup dilingkungan keluarga yang sangat menyenangkan. Tapi aku selalu berfikir kalau semua ini bagian dari hidup yang harus aku jalani. Entah sampai kapan.

Ibu adalah sosok yang sangat aku banggakan, beliau adalah wanita terkuat, aku rasa akupun tak yakin kalau aku bisa seperti beliau. Berpuluh-puluh tahun Ibu hidup dengan Ayah yang mempunyai sifat temperamental. Namun beliau tetap setia mendampinginya.

Sementara Ayah adalah sosok yang sangat menakutkan. Sejak aku kecil sampai aku beranjak dewasa, aku tak pernah melihat sosok Ayah dengan versi yang sering teman-teman ceritakan tentang Ayah mereka. Ayah yang penuh kasih sayang dan cinta. Berbeda dengan Ayahku yang identik dengan main tangan, berkata-kata tak layak untuk didengar, itulah yang Ayah lakukan pada Ibu kalau dia sedang marah. Sangat menakutkan.

Suatu hari, aku tak akan pernah melupakan peristiwa itu. Kejadiannya pagi hari ketika semua aktivitas akan mulai dilakukan. Ibu sedang menyiapkan sarapan untuk aku, ayah dan kedua kakakku. Dari kamar Ayah memanggil Ibu, namun karena Ibu sedang asyik memasak dan mungkin tidak kedengeran dengan bunyi masakan, Ibu diam saja. Ayah terus memanggil dan kudengar nada panggilannya sudah semakin keras. Aku langsung menemui Ibu dan memberitahu kalau Ayah sedang memanggil beliau. Ibu langsung menghampiri Ayah. Ternyata Ayah kehilangan kacamatanya. Ibu bilang tidak tahu tentang kacamata tersebut.

Saat itu lagi-lagi Ayah marah, namun waktu itu Ibu mencoba untuk mengelak kalau beliau benar-benar tidak tahu dimana kacamata Ayah. Aku melihat Ayah menyeret Ibu kedalam kamar, kulihat Ayah memukul Ibu. Peristiwa ini memang sering aku lihat. Aku tak bisa berbuat apa-apa begitupun dengan Kakakku. Ayah kemudian membawa nasi goreng yang tadi Ibu buat untuk sarapan, bukan untuk dimakan tapi ditumpahkan ke muka Ibu. Setelah itu Ayah pergi.

Aku melihat Ibu hanya menangis. Aku dan kedua kakakku hanya berusaha untuk menghibur beliau. Di dalam suasana seperti itu kulihat Ibu masih memberikan senyuman buat Kami dan menyuruh Kami sarapan dan berangkat sekolah, padahal aku melihat muka Ibu memar. Inilah bagian cerita dari kehidupan keluargaku. Masih banyak peristiwa lain yang kadang aku juga sudah muak dengan semua ini.

***

Sedih rasanya ketika ada temanku yang lain menceritakan kasus yang sama. Namun, aku menganggap ternyata bukan hanya aku yang mengalami ini semua. Yang Diatas memberikan ujian pasti karena aku mampu melaluinya.

Aku dan kedua kakakku, pernah berbicara pada Ibu, agar mereka bercerai saja. Aku sendiri kadang tak kuat jika melihat Ibu terus-terusan menjadi sasaran amarah Ayah. Jika ada masalah di kantor, Ayah melampiaskan pada Ibu di rumah. Namun, Ibu hanya tersenyum dan mengelus kepala Kami. Ibu hanya bilang, “Tak punya Ayah itu tak enak”. Selalu begitu. Padahal jika aku boleh memilih, mendingan aku tak punya Ayah sekalian.

***

Suatu hari, aku disuruh Ibu untuk mengantarkan makanan ke tetangga sebelah. Ibu membuat kue dan seperti biasa kalau Ibu membuat makanan dengan jumlah agak banyak, Ibu selalu membagikannya pada tetangga.

Akupun mengantarkan kue itu. Niatku setelah mengantarkan kue, aku langsung pulang. Namun tetanggaku malah mengajakku mengobrol. Tak enak rasanya jika aku menolak. Akhirnya akupun mengobrol dulu dengannya.

Tetanggaku mungkin tahu situasi keluargaku, sifat Ayah yang pemarah dan ringan tangan. Dia menanyakan hal itu dan aku tak bisa menjawab apa-apa. Aku hanya bilang itu masalah intern Kami. Setelah mengobrol, akupun segera berpamitan takut masalahnya berkepanjangan. Namun aku sempat kaget ketika tetanggaku berkata, ”Hati-hati kalau punya Ayah seperti itu, suamimu juga akan melakukan hal yang sama…” begitu kata tetanggaku.

Entah bercanda atau apa yang pasti omongan itu selalu tersimpan di memori otakku. Apa benar omongan tetanggaku tentang semua itu. Pernah aku mencoba menghilangkan anggapan itu, namun tetap tak bisa.

***

Bertahun-tahun hal itu menancap dipikiranku. Ketakutan mempunyai seorang suami seperti Ayah. Mungkin itu pikiran yang sangat bodoh, namun itulah yang aku rasakan.

Kedua kakakku sudah menikah, mereka hidup dalam keluarga yang bahagia. Dan akupun sudah beranjak dewasa dan telah cukup umur untuk berumah tangga. Ayah dan Ibu juga sudah menuju hari tua. Ayah juga tak seberingas dulu. Mungkin karena faktor usia. Namun, tak pernah hilang di pikiran aku tentang sosok Ayah yang menakutkan.

Ada beberapa laki-laki yang datang ke rumah untuk melamar, namun tak pernah aku terima. Ketakutan selalu ada ketika aku akan membuka hati. Pernah juga aku dekat dengan seorang laki-laki, dia adalah teman kuliahku dulu. Ketika Kami sudah lulus, dia pun mencoba mengungkapkan perasaannya dan ingin melamarku. Namun lagi-lagi pikiran itu datang dan aku menolaknya. Padahal saat itu akupun menyukainya.

Pernah Ibu bertanya, kenapa aku selalu menolak lamaran setiap laki-laki. Tapi aku selalu bilang belum ada yang cocok saja.

Trauma…mungkin itu yang aku rasakan saat itu. Ketakukan apa yang diomongkan tetanggaku akan menjadi kenyataan.

Ibu merasa cemas, ketika satu persatu temanku sudah mengirimkan undangan pernikahan. Namun entah kenapa, tak ada sedikitpun keinginan dalam hidupku untuk membina rumah tangga. Aku fikir, aku akan tersiksa jika menikah.

***

Sampai pada suatu hari, ada sepupuku yang usianya sama denganku. Dia berkunjung ke rumah sambil mengantarkan undangan pernikahan. Dua minggu lagi dia akan menikah. Lagi-lagi aku melihat kekhawatiran di wajah Ibu. Aku hanya bisa tersenyum dan memberikan ucapan selamat. Sepupuku adalah aktifis remaja mesjid didaerahnya. Rumahnya memang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Namun karena kita sama-sama sibuk jadi kita jarang sekali bertemu.

Sepupuku mengajakku ikut acara tausiyah di mesjid dekat tempat tinggalnya. Acaranya setiap hari minggu diawal bulan. Aku memang jarang mengikuti acara-acara seperti itu. Aku mengiyakan ajakan sepupuku itu.

***

Minggu pagi, aku sudah siap-siap untuk pergi ke mesjid di daerah tempat tinggal sepupuku. Agak terlambat aku datang tapi Alhamdulilah belum ketinggalan materi. Tausiyah kali ini membahas tentang pernikahan. Banyak sekali ilmu yang aku dapat.

Malam itu, untuk pertama kalinya aku berfikir mengenai pernikahan, tak seburuk yang aku fikirkan ternyata. Malah menikah itu hukumnya wajib untuk seseorang yang sudah mampu. Malam itu juga aku hubungi sepupuku, aku ingin berdiskusi dengan ustadzah yang memberikan tausiyah tadi siang. Menurut sepupuku, aku bisa menemuinya pada sore hari ba’da ashar.

***

Keesokkan hari, sekitar pukul empat sore aku langsung meluncur menggunakan sepeda motorku untuk menemui ustadzah itu. Setelah janjian sebelumnya. Kemudian Kamipun berdiskusi, aku ceritakan tentang ketakutanku selama ini. Omongan tetanggaku tentang kehidupan pernikahan itu. Ustadzah bilang bahwa kehidupan setiap orang berbeda-beda. Ibuku diperlakukan seperti itu karena mungkin itu bisa menjadi ladang amal buat Ibu. Dan belum tentu kehidupan aku bisa sama dengan Ibu. Aku sama saja mendahului takdir jika aku berfikir seperti itu.

Mendahului takdir? Apa selama ini apa yang aku fikirkan malah suatu perbuatan dosa.

***

Beberapa kali aku mengikuti acara tausiyah itu. Hingga pada suatu hari ustadzah ingin memperkenalkan aku dengan saudaranya. Saat itu aku coba untuk menerimanya.

Seminggu kemudian, aku diminta untuk datang ke mesjid tempat aku mengikuti tausiyah. Kulihat ada sesosok laki-laki bersama ustadzah. Dia saudara ustadazah yang akan dikenalkan padaku. Aku tak tahu, ketika aku melihat laki-laki itu, aku merasa ketakutan yang selama ini aku tanam di otak hilang begitu saja. Entah ada apa. Mungkin Allah sudah menggerakkan hatiku untuk dia.

Sekitar dua bulan Kami melakukan proses taaruf. Setelah itu dia langsung melamar dan Kamipun menikah. Satu hal yang aku yakini, Allah SWT memberikan sesuatu pada saat dan waktu yang tepat, begitupun dengan jodoh.

***


Sekarang, pernikahanku sudah berjalan 10 tahun, alhamdulilah suamiku seorang yang sangat baik. Tak pernah ada kekerasan sama sekali. Kami didik anak-anakpun dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Doaku terkabul, aku menginginkan keluarga yang harmonis. Dan aku miliki itu semua sekarang. Semua omongan orang waktu itu tentang pernikahan hanyalah sebuah ilusi yang berlebihan. Tak pernah terjadi dan aku harap tak akan pernah terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar