Karier, harta, dunia adalah suatu
rangkaian yang saling berkaitan. Seseorang yang berkarier hanya untuk mengejar
harta maka dia akan fokus untuk mencari kebahagiaan di dunia saja. Mereka tidak
peduli berapa banyak investasi untuk kehidupan di akhirat nanti.
Bisa jadi hanya nol besar.
Lalu
bagaimana jika kebahagiaan di dunia itu tidak pernah
terwujud karena manusia tidak pernah merasa puas. Sementara
kehidupan kekal nantipun tidak pernah ia hiraukan karena terlalu sibuk mencari
kepuasan dunia…Akankah ada penyesalan???
***
Terkisah
sepasang suami istri hidup dengan sederhana, tinggal disebuah rumah yang kecil
bahkan tidak punya kendaraan. Sang suami hanya pegawai kantor biasa dengan gaji
UMR itupun gaji kotor, belum dipotong ongkos, atau potongan lainnya. Sang istri
hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Namun mereka
selalu mensyukuri hidup, walaupun kehidupannya jauh dari kemewahan,
jauh dari harapan, jauh dari keinginan hati. Namun mereka selalu mempunyai
mimpi suatu
saat nanti kehidupan mereka akan berubah.
Mereka
pasangan yang rajin beribadah, mereka yakin Allah SWT mendengar doa-doanya.
Termasuk doa ingin harta yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Seorang anak. Karena
sudah dua tahun menikah belum ada tanda-tanda si istri hamil.
***
Pada
suatu hari sang suami mendapat panggilan dari atasannya, dia naik jabatan di
kantornya karena prestasi dan kerja kerasnya dalam bekerja selama ini. Hingga kehidupan perekonomianpun sedikit demi sedikit mengalami kemajuan. Dengan
penghasilan yang berlebih sang suami berinisiatif untuk berbisnis kecil-kecilan
yang nantinya akan dikelola oleh istrinya.
Tiga
tahun kemudian, kehidupan merekapun semakin membaik. Dengan
ketekunan sang istri dan dukungan dari suami, bisnis yang dulu hanya bermodal
kecil kini sudah menjadi bisnis yang luar biasa hebatnya. Bisnis yang hanya
dikelola oleh sang istri, kini harus ada campur tangan suami. Karena bisnis
yang dijalani semakin berkembang maka akhirnya suami itupun memutuskan untuk
berhenti bekerja dan menekuni bisnis tersebut.
Penghasilan melimpah,
cabang usahapun diberbagai tempat, membuat
kehidupan mereka berubah 180 derajat. Mereka sibuk mengurusi harta yang melimpah
itu, dan hampir tak ada waktu sedikit saja absen untuk bertemu Allah SWT dalam
sujud-sujud 5 waktu. Begitulah ketika kesibukan sudah menyita waktu,
kerugianlah yang mereka dapat.
***
Tahun
berganti, tak biasanya hari itu sang istri kelihatan sangat lemas, badannya
rapuh seperti tak berdaya, mual-mual, muntah dan terkadang agak sedikit
sensitive. Suami menyarankan untuk periksa ke dokter. Keesokan harinya mereka
berdua pergi ke dokter untuk memeriksa kesehatan sang istri. Dan ternyata sang
istri di nyatakan positif hamil.
Tak
ada raut kesenangan di wajah mereka berdua, tak
ada ucapan syukur terlontar dari mulut mereka, lalu kemanakah harapan dulu
ketika mereka berdua menginginkan harta yang tak ternilai harganya??? Harta
yang tak akan bisa ditukar dengan dunia sekalipun. Seorang buah hati…Kenapa
malah kekecewaan yang terpancar disana, kenapa malah kesedihan yang mereka
rasakan?
Dengan
langkah yang lesu sambil meninggalkan ruangan dokter, hati sang istri
berbisik…”Kenapa harus sekarang Allah SWT mengirimkan keturunan, kenapa disaat
aku sedang sibuk mengurus bisnis... Bagaimana jika bisnisku
terbengkalai gara-gara aku sibuk mengurus anak?” itulah bisikan hatinya.
Begitupun
sang suami, dia takut istrinya tidak fokus lagi mengurusi bisnis yang sedang
dirintisnya karena kehadiran seorang anak. Dia takut keuntungan bisnis menurun,
dia takut kembali miskin, dia takut hartanya berkurang. Dan dia merasakan
ketakutan-ketakutan lain karena hadirnya seorang anak.
***
Waktu
berjalan….seorang bayi mungil pun telah lahir ke dunia. Seorang
anak perempuan cantik yang mengharapkan kasih sayang orangtuanya. Namun tidak
pernah terpenuhi keinginan itu. Untuk menyusuinyapun sang ibu mempercayakan
pada susu formula dengan alasan buang-buang waktu menyusui
anaknya. Begitupun sang ayah, untuk sekedar mendekapnya saja hampir tak pernah
bisa. Dan akhirnya sang anak tumbuh menjadi anak seorang pembantu. Dididik oleh
pembantu, dididik oleh seseorang yang pendidikannya saja kurang.
Sampai
anak tumbuh menjadi anak dewasapun tak pernah ada kasih sayang untuknya. Tak
pernah ada manja, tak pernah ada berbagi cerita, tak pernah ada canda tawa, tak
pernah ada belaian kasih sayang, yang ada hanya uang. Rumah besar, dengan
segala perlengkapan didalamnya tak ubahnya hanya seperti sebuah hotel tempat
persinggahan ketika mereka merasa lelah.
***
Sang
anak cantikpun hidup dalam kesendirian, orangtuanya entah kemana, setiap hari
sibuk, setiap hari banyak urusan. Untuk mengeluh pun dia tak
sanggup. Setiap keluhan hanya mendapat
jawaban “Ibu dan bapak kerja kan untuk kebahagiaan kamu…” Selalu
itu yang mereka ucapkan. Kebahagiaan macam apa bisik sang anak.
Akhirnya,
sang anakpun berontak, mengambil jalan hidup yang salah, mengambil jalan hidup
yang dia yakin orangtua tak akan pernah rela
jika dia seperti itu. Narkoba dan pergaulan bebas. Dia merasa nyaman dengan
kehidupannya. Sang anak cantik hidup jauh dari agama. Bahkan mengenalnyapun
tidak pernah.
Semakin
dalam, semakin terjerat, semakin susah melepaskan. Hingga kehormatan
anak cantik itupun terenggut karena pergaulan bebas. Ketakutan semakin
dirasakan ketika laki-laki yang menodainyapun pergi entah kemana. Dia sangat depresi. Tak ada solusi lain dibenaknya selain harus
menggugurkan kandungannya.
***
Akhirnya dia melakukan aborsi
ditempat orang yang biasa melakukan aborsi. Orang yang akan membunuh
janin di rahim sang anak itu berkata…”Saya sudah
biasa melakukan pekerjaan ini, tenang saja…zaman sekarang kan hal kaya gini gak aneh
lagi…”.
Namun
apa yang terjadi, dia kehilangan banyak sekali darah. Akhirnya sang
anakpun dilarikan ke rumah sakit, namun dokterpun tak bisa menolongnya. Sang anak
meninggal dunia.
Pihak
rumah sakitpun memberi kabar duka pada orang tua sang
anak, sontak saja mereka heran, mereka berfikir kemarin-kemarin masih baik-baik
saja. Entah kemarin yang mereka maksud itu berapa bulan yang lalu.
***
Kesedihan
akhirnya terpancar dari kedua orangtua itu, didepan tanah merah pusara anaknya,
air mata orang pemuja harta itupun jatuh. Entahlah, apa air
mata kesedihan, kekecewaan, ataukah penyesalan…yang pasti harta-harta yang
mereka miliki tak akan pernah membuat anaknya hidup kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar