15 Nov 2012

Pemuja Harta


Karier, harta, dunia adalah suatu rangkaian yang saling berkaitan. Seseorang yang berkarier hanya untuk mengejar harta maka dia akan fokus untuk mencari kebahagiaan di dunia saja. Mereka tidak peduli berapa banyak investasi untuk kehidupan di akhirat nanti. Bisa jadi hanya nol besar.

Lalu bagaimana jika kebahagiaan di dunia itu tidak pernah terwujud karena manusia tidak pernah merasa puas. Sementara kehidupan kekal nantipun tidak pernah ia hiraukan karena terlalu sibuk mencari kepuasan dunia…Akankah ada penyesalan???

***

Terkisah sepasang suami istri hidup dengan sederhana, tinggal disebuah rumah yang kecil bahkan tidak punya kendaraan. Sang suami hanya pegawai kantor biasa dengan gaji UMR itupun gaji kotor, belum dipotong ongkos, atau potongan lainnya. Sang istri hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Namun mereka selalu mensyukuri hidup, walaupun kehidupannya jauh dari kemewahan, jauh dari harapan, jauh dari keinginan hati. Namun mereka selalu mempunyai mimpi suatu saat nanti kehidupan mereka akan berubah.

Mereka pasangan yang rajin beribadah, mereka yakin Allah SWT mendengar doa-doanya. Termasuk doa ingin harta yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Seorang anak. Karena sudah dua tahun menikah belum ada tanda-tanda si istri hamil.


***

Pada suatu hari sang suami mendapat panggilan dari atasannya, dia naik jabatan di kantornya karena prestasi dan kerja kerasnya dalam bekerja selama ini. Hingga kehidupan perekonomianpun sedikit demi sedikit mengalami kemajuan. Dengan penghasilan yang berlebih sang suami berinisiatif untuk berbisnis kecil-kecilan yang nantinya akan dikelola oleh istrinya.

Tiga tahun kemudian, kehidupan merekapun semakin membaik. Dengan ketekunan sang istri dan dukungan dari suami, bisnis yang dulu hanya bermodal kecil kini sudah menjadi bisnis yang luar biasa hebatnya. Bisnis yang hanya dikelola oleh sang istri, kini harus ada campur tangan suami. Karena bisnis yang dijalani semakin berkembang maka akhirnya suami itupun memutuskan untuk berhenti bekerja dan menekuni bisnis tersebut.

Penghasilan melimpah, cabang usahapun diberbagai tempat,  membuat kehidupan mereka berubah 180 derajat.  Mereka sibuk mengurusi harta yang melimpah itu, dan hampir tak ada waktu sedikit saja absen untuk bertemu Allah SWT dalam sujud-sujud 5 waktu. Begitulah ketika kesibukan sudah menyita waktu, kerugianlah yang mereka dapat.

***

Tahun berganti, tak biasanya hari itu sang istri kelihatan sangat lemas, badannya rapuh seperti tak berdaya, mual-mual, muntah dan terkadang agak sedikit sensitive. Suami menyarankan untuk periksa ke dokter. Keesokan harinya mereka berdua pergi ke dokter untuk memeriksa kesehatan sang istri. Dan ternyata sang istri di nyatakan positif hamil.

Tak ada raut kesenangan di wajah mereka berdua, tak ada ucapan syukur terlontar dari mulut mereka, lalu kemanakah harapan dulu ketika mereka berdua menginginkan harta yang tak ternilai harganya??? Harta yang tak akan bisa ditukar dengan dunia sekalipun. Seorang buah hati…Kenapa malah kekecewaan yang terpancar disana, kenapa malah kesedihan yang mereka rasakan?

Dengan langkah yang lesu sambil meninggalkan ruangan dokter, hati sang istri berbisik…”Kenapa harus sekarang Allah SWT mengirimkan keturunan, kenapa disaat aku sedang sibuk mengurus bisnis... Bagaimana jika bisnisku terbengkalai gara-gara aku sibuk mengurus anak?” itulah bisikan hatinya.

Begitupun sang suami, dia takut istrinya tidak fokus lagi mengurusi bisnis yang sedang dirintisnya karena kehadiran seorang anak. Dia takut keuntungan bisnis menurun, dia takut kembali miskin, dia takut hartanya berkurang. Dan dia merasakan ketakutan-ketakutan lain karena hadirnya seorang anak.

***

Waktu berjalan….seorang bayi mungil pun telah lahir ke dunia. Seorang anak perempuan cantik yang mengharapkan kasih sayang orangtuanya. Namun tidak pernah terpenuhi keinginan itu. Untuk menyusuinyapun sang ibu mempercayakan pada susu formula dengan alasan buang-buang waktu menyusui anaknya. Begitupun sang ayah, untuk sekedar mendekapnya saja hampir tak pernah bisa. Dan akhirnya sang anak tumbuh menjadi anak seorang pembantu. Dididik oleh pembantu, dididik oleh seseorang yang pendidikannya saja kurang.

Sampai anak tumbuh menjadi anak dewasapun tak pernah ada kasih sayang untuknya. Tak pernah ada manja, tak pernah ada berbagi cerita, tak pernah ada canda tawa, tak pernah ada belaian kasih sayang, yang ada hanya uang. Rumah besar, dengan segala perlengkapan didalamnya tak ubahnya hanya seperti sebuah hotel tempat persinggahan ketika mereka merasa lelah.

***

Sang anak cantikpun hidup dalam kesendirian, orangtuanya entah kemana, setiap hari sibuk, setiap hari banyak urusan. Untuk mengeluh pun dia tak sanggup. Setiap keluhan  hanya mendapat jawaban “Ibu dan bapak kerja kan untuk kebahagiaan kamu…” Selalu itu yang mereka ucapkan. Kebahagiaan macam apa bisik sang anak.

Akhirnya, sang anakpun berontak, mengambil jalan hidup yang salah, mengambil jalan hidup yang dia yakin orangtua tak akan  pernah rela jika dia seperti itu. Narkoba dan pergaulan bebas. Dia merasa nyaman dengan kehidupannya. Sang anak cantik hidup jauh dari agama. Bahkan mengenalnyapun tidak pernah.

Semakin dalam, semakin terjerat, semakin susah melepaskan. Hingga kehormatan anak cantik itupun terenggut karena pergaulan bebas. Ketakutan semakin dirasakan ketika laki-laki yang menodainyapun pergi entah kemana. Dia sangat depresi. Tak ada solusi lain dibenaknya selain harus menggugurkan kandungannya.

***

Akhirnya dia melakukan aborsi ditempat orang yang biasa melakukan aborsi. Orang yang akan membunuh janin di rahim sang anak itu berkata…”Saya sudah biasa melakukan pekerjaan ini, tenang saja…zaman sekarang kan hal kaya gini gak aneh lagi…”.

Namun apa yang terjadi, dia kehilangan banyak sekali darah. Akhirnya sang anakpun dilarikan ke rumah sakit, namun dokterpun tak bisa menolongnya. Sang anak meninggal dunia.

Pihak rumah sakitpun memberi kabar duka pada orang tua sang anak, sontak saja mereka heran, mereka berfikir kemarin-kemarin masih baik-baik saja. Entah kemarin yang mereka maksud itu berapa bulan yang lalu.

***


Kesedihan akhirnya terpancar dari kedua orangtua itu, didepan tanah merah pusara anaknya, air mata orang pemuja harta itupun jatuh. Entahlah, apa air mata kesedihan, kekecewaan, ataukah penyesalan…yang pasti harta-harta yang mereka miliki tak akan pernah membuat anaknya hidup kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar