19 Nov 2012

Mutiara Itu Adalah Ibu

Istri kedua. Sebutan yang mungkin sangat peka dalam ingatan. Yang terbayang pasti cibiran orang terhadap pelaku peran didalamnya. Siapa yang mau kisah hidup yang harus dijalaninya harus menjadi seorang istri kedua. Begitupun Ibuku.

Setelah Ayah meninggal karena sakitnya, Ibu harus membiayai ketiga anak-anaknya termasuk aku. Saat itu aku adalah anak tertua, usiaku baru berumur tujuh tahun. Adikku masih kecil-kecil. Untuk menghidupi Kami, Ibu mencoba bekerja serabutan. Ibu pernah bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Namun beliau hanya bertahan enam bulan saja. Majikan yang tak tahu sopan santun dan mencoba berbuat tidak baik pada Ibu yang membuat Ibu tidak betah bekerja disana. Dan akhirnya ibu keluar.

Setelah itu Ibu mencoba melamar pekerjaan di toko kue. Ibupun diterima dengan masa percobaan satu bulan. Namun pekerjaan itu tak mengenal waktu. Ibu harus jaga toko sampai larut malam dan meninggalkan Kami yang masih kecil-kecil. Akhirnya Ibupun memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan menjadi penjaga toko.

Hari demi hari, kesulitan demi kesulitan Ibu jalani dengan ikhlas. Tak pernah Ibu mengeluh dengan keadaan Kami. Untuk menyambung hidup, Ibu mencoba berjualan gorengan didepan rumah, namun dengan keuntungan yang tak seberapa, pastinya tak akan mencukupi kebutuhan Kami.


Pernah suatu hari ada tetangga Kami yang menawarkan pekerjaan menjadi cleaning service disebuah kantor dengan gaji yang memadai dan jam kerja yang teratur membuat ibu menerima pekerjaan itu. Masuk jam delapan pagi dan keluar jam empat sore. Memang dari sekian banyak pekerjaan yang pernah Ibu lakukan, mungkin hanya ini yang sreg di hati Ibu.

Namun belum sampai pada titik stabil, lagi-lagi Ibu harus keluar dengan terpaksa. Fitnah itu yang membuat Ibu dikeluarkan dari tempat kerja. Ibu disangka mencuri uang salah satu karyawan disana. Entah kenapa harus Ibu yang disangka mencuri. Mungkin karena saat itu di ruangan hanya ada Ibu. padahal sebegitu sulitnya hidup, tak pernah terbersit sedikitpun untuk Ibu menjadi seorang pencuri. Tapi jalan hidup Ibu mungkin harus seperti itu.  Masih untung semua bisa diselesaikan dengan musyawarah tanpa harus berhubungan dengan polisi. Tapi semua itu tak membuat predikat sebagai pencuri hilang dari sosok Ibu.

Entah harus pekerjaan apalagi yang harus Ibu jalani. Lapangan pekerjaan sangat sulit apalagi untuk seorang wanita yang tak punya keahlian khusus seperti Ibu. Tapi disisi lain perut Kami pun tak bisa menunggu.

***

Rumah Kami dekat dengan sebuah Mesjid. Setiap pagi dan sore Ibu diminta pengurus Mesjid disana untuk membersikan Mesjid itu. Bukan semata-mata karena upah, namun Ibu lebih mengejar pahala dari Allah SWT.

Suatu hari, ba’da ashar Ibu seperti biasa membersihkan mesjid. Beberapa orang ada yang hilir mudik untuk sholat dan terakhir Ibu melihat ada seorang laki-laki yang kira-kira berumur 40 tahunan hendak menunaikan sholat ashar. Sepertinya agak telat karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima. Namun setelah Menunaikan sholat, laki-laki itu sepertinya langsung berdiskusi dengan Pak Ustadz dan cukup lama.

***

Keesokan harinya, dipagi hari Ibu sudah mengerjakan tugasnya lagi. Karena saat ini Ibu sudah tak punya pekerjaan lagi, jadi hidup Kami tergantung pada pekerjaan Ibu sebagai pembersih mesjid. Pagi itu, sudah ada Pak Ustadz disana dan tak lama Ibu melihat laki-laki itu datang lagi kesana. Tak punya pikiran lain dibenak Ibu. Tugas Ibu hanya sebagai pembersih saja.

Sudah seminggu lamanya Ibu melihat laki-laki itu datang kesana dan lagi-lagi untuk berdiskusi dengan Pak Ustadz, entah apa yang didiskusikannya.

***

Sore itu, seperti biasa Ibu pergi ke Mesjid sekitar pukul tiga sore. Biasanya Ibu melakukan sholat ashar di mesjid setelah bersih-bersih. Namun hari itu Ibu tak melihat ada sosok laki-laki yang biasanya datang menemui Pak Ustadz disana. Setelah bersih-bersih dan sholat ashar, Ibu berpamitan pulang pada Pak Ustadz yang masih duduk di mesjid. Namun tiba-tiba Pak Ustadz memanggil Ibu dan mengajak Ibu berbicara. Sepertinya hal yang serius.

Tak pernah terbayangkan mungkin difikiran Ibu mengenai apa yang akan dibicarakan Pak Ustadz. Beliau Merekomendasikan laki-laki itu untuk menjadi pendamping Ibu. Laki-laki yang memiliki harta yang cukup dan kepribadian yang baik. Namun dia mempunyai istri.

Ibu sempat heran kenapa Pak Ustadz menawarkan seorang laki-laki beristri padanya. Beliau berkata bahwa istrinya sering sakit-sakitan dan tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Lagipula istri laki-laki itu yang menginginkan beliau untuk menikah lagi.

Lalu kenapa harus Ibu??? Mungkin karena Ibu seorang janda yang patut untuk ditolong.

Tak semudah membalikan telapak tangan untuk mengambil keputusan besar itu. Apalagi Ibu harus menjadi istri kedua, mungkin dibenak orang-orang seorang istri kedua adalah sebagai pembawa bencana walaupun istri pertama yang meminta. Tapi apa orang lain peduli dengan semua itu.

Kami masih kecil saat itu. Tak ada yang bisa diajak diskusi. Orangtua Ibu sudah lama meninggal. Saudara-saudara Ibupun sudah hidup individulis yang tak peduli nasib keluarganya seperti apa. Akhirnya Ibu harus berjuang keras untuk mengambil keputusan sendiri.

Sekitar sebulan lamanya Ibu berfikir dan akhirnya Ibu mengambil keputusan. Ibu menerima lamaran laki-laki itu dan mulai saat itu Kami menganggapnya sebagai Ayah. Aku tahu…demi Kami, Ibu harus melakukan itu.

***

Sejak menikah dengan ayah tiri Kami, kehidupan aku dan adik-adiku membaik. Bukan hanya kebutuhan hidup yang terpenuhi, namun Kami juga mendapatkan pendidikan yang layak. Namun lagi-lagi omongan orang yang membuat Kami sedikit terusik.

Tak ada hal positif yang didapat ketika posisi menjadi seorang istri kedua. Apalagi istri pertama Ayah sakit-sakitan. Mereka menganggap Ibu tak punya hati. Mereka menyangka Ibu berbahagia diatas penderitaan orang lain. Dan banyak lagi cemoohan lainnya.

Sering kali kulihat Ibu menangis. Mungkin Ibu berfikir seandainya ada jalan lain yang bisa Ibu lakukan selain menjadi istri kedua, mungkin akan Ibu lakukan. Tapi Ibu tersadar kalau ini sudah jalan-NYA.

***

Saat itu usiaku berumur duapuluh tahun, istri pertama Ayah meninggal. Ibulah mengurus segala sesuatunya, mulai dari memandikan sampai ke pemakaman. Sepulang dari pemakaman, ada salah satu kerabat dari istri pertamanya yang mengajak Ibu berbicara. Sepertinya sangat serius. Merekapun berbincang-bincang. Tapi setelah itu, Ibu terlihat menangis. Ibu disangka penyebab meninggalnya istri pertama Ayah. Entah cobaan apalagi ini. Namun Ibu selalu mencoba ikhlas dengan apapun yang terjadi padanya. Apalagi Ayah seorang yang baik walaupun beliau seorang Ayah tiri.

Ayah sudah menganggap Kami sebagai anaknya sendiri, karena memang dari istri pertamanya beliau tak dikaruniai anak. Sampai aku lulus kuliahpun kulihat Ibu masih menyimpan perasaan tak enak dengan posisinya sebagai istri kedua.

Cemoohan diluar sana mengenai Ibu memang sangat menyakitkan aku. Pandangan mata orang-orang memang sangat menusuk di hatiku. Namun apapun itu aku tetap bangga pada Ibu. Menjadi pelaku peran sebagai istri kedua itu sangat sulit. Tak pernah ada orang yang menginginkan posisi itu. Mungkin…orang diluar sana menganggap Ibu tak berperasaan, tapi bagiku…Ibu seperti mutiara yang berkilau indah walaupun berada didalam lumpur sekalipun.


Terimakasih Bu…atas semua pengorbananmu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar