Istri kedua. Sebutan yang mungkin sangat peka dalam
ingatan. Yang terbayang pasti cibiran orang terhadap pelaku peran didalamnya. Siapa yang mau kisah hidup
yang harus dijalaninya harus menjadi seorang istri kedua. Begitupun Ibuku.
Setelah Ayah
meninggal karena sakitnya, Ibu harus membiayai ketiga anak-anaknya termasuk
aku. Saat itu aku adalah anak tertua, usiaku baru berumur tujuh tahun. Adikku
masih kecil-kecil. Untuk menghidupi Kami, Ibu mencoba bekerja serabutan. Ibu
pernah bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Namun beliau hanya bertahan enam
bulan saja. Majikan yang tak tahu sopan santun dan mencoba berbuat tidak baik
pada Ibu yang membuat Ibu tidak betah bekerja disana. Dan akhirnya ibu keluar.
Setelah itu Ibu
mencoba melamar pekerjaan di toko kue. Ibupun diterima dengan masa percobaan satu bulan.
Namun pekerjaan itu tak mengenal waktu. Ibu harus jaga toko sampai larut malam
dan meninggalkan Kami yang masih kecil-kecil. Akhirnya Ibupun memutuskan untuk
berhenti dari pekerjaan menjadi penjaga toko.
Hari demi hari,
kesulitan demi kesulitan Ibu jalani dengan ikhlas. Tak pernah Ibu mengeluh
dengan keadaan Kami. Untuk menyambung hidup, Ibu mencoba berjualan gorengan
didepan rumah, namun dengan keuntungan yang tak seberapa, pastinya tak akan
mencukupi kebutuhan Kami.
Pernah suatu
hari ada tetangga Kami yang menawarkan pekerjaan menjadi cleaning service disebuah kantor dengan gaji yang memadai dan jam kerja yang teratur
membuat ibu menerima pekerjaan itu. Masuk jam delapan pagi dan keluar jam empat
sore. Memang dari sekian banyak pekerjaan yang pernah Ibu lakukan, mungkin hanya ini yang sreg di hati Ibu.
Namun belum
sampai pada titik stabil, lagi-lagi Ibu harus keluar dengan terpaksa. Fitnah
itu yang membuat Ibu dikeluarkan dari tempat kerja. Ibu disangka mencuri uang
salah satu karyawan disana. Entah kenapa harus Ibu yang disangka mencuri.
Mungkin karena saat itu di ruangan hanya ada Ibu. padahal sebegitu sulitnya
hidup, tak pernah terbersit sedikitpun untuk Ibu menjadi seorang pencuri. Tapi
jalan hidup Ibu mungkin harus seperti itu. Masih untung semua bisa diselesaikan dengan
musyawarah tanpa harus berhubungan dengan polisi. Tapi semua itu tak membuat
predikat sebagai pencuri hilang dari sosok Ibu.
Entah harus
pekerjaan apalagi yang harus Ibu jalani. Lapangan pekerjaan sangat sulit
apalagi untuk seorang wanita yang tak punya keahlian khusus seperti Ibu. Tapi
disisi lain perut Kami pun tak bisa menunggu.
***
Rumah Kami dekat
dengan sebuah Mesjid. Setiap pagi dan sore Ibu diminta pengurus Mesjid disana
untuk membersikan Mesjid itu. Bukan semata-mata karena upah, namun Ibu lebih
mengejar pahala dari Allah SWT.
Suatu hari, ba’da
ashar Ibu seperti biasa membersihkan mesjid. Beberapa orang ada yang hilir
mudik untuk sholat dan terakhir Ibu melihat ada seorang laki-laki yang kira-kira
berumur 40 tahunan hendak menunaikan sholat ashar. Sepertinya agak telat karena
waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima. Namun setelah Menunaikan sholat,
laki-laki itu sepertinya langsung berdiskusi dengan Pak Ustadz dan cukup lama.
***
Keesokan
harinya, dipagi
hari Ibu sudah mengerjakan tugasnya lagi. Karena saat ini Ibu sudah tak punya
pekerjaan lagi, jadi hidup Kami tergantung pada pekerjaan Ibu sebagai pembersih mesjid. Pagi itu, sudah ada Pak Ustadz disana dan tak lama
Ibu melihat laki-laki itu datang lagi kesana. Tak punya pikiran lain dibenak
Ibu. Tugas Ibu hanya sebagai pembersih saja.
Sudah seminggu
lamanya Ibu melihat laki-laki itu datang kesana dan lagi-lagi untuk berdiskusi
dengan Pak Ustadz, entah apa yang didiskusikannya.
***
Sore itu,
seperti biasa Ibu pergi ke Mesjid sekitar pukul tiga sore. Biasanya Ibu
melakukan sholat ashar di mesjid setelah bersih-bersih. Namun hari itu Ibu tak melihat ada
sosok laki-laki yang biasanya datang menemui Pak Ustadz disana. Setelah bersih-bersih dan sholat
ashar, Ibu berpamitan pulang pada Pak Ustadz yang masih duduk di mesjid. Namun tiba-tiba Pak Ustadz memanggil Ibu dan
mengajak Ibu berbicara. Sepertinya hal yang serius.
Tak pernah
terbayangkan mungkin difikiran Ibu mengenai apa yang akan dibicarakan Pak Ustadz. Beliau Merekomendasikan laki-laki
itu untuk menjadi pendamping Ibu. Laki-laki yang memiliki harta yang cukup dan kepribadian yang
baik. Namun dia mempunyai istri.
Ibu sempat heran
kenapa Pak Ustadz menawarkan seorang
laki-laki beristri padanya. Beliau berkata bahwa istrinya sering sakit-sakitan dan
tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Lagipula istri
laki-laki itu yang menginginkan beliau untuk menikah lagi.
Lalu kenapa
harus Ibu??? Mungkin karena Ibu seorang janda yang patut untuk ditolong.
Tak semudah
membalikan telapak tangan untuk mengambil keputusan besar itu. Apalagi Ibu harus menjadi istri
kedua, mungkin dibenak orang-orang seorang istri kedua adalah sebagai pembawa bencana
walaupun istri pertama yang meminta. Tapi apa orang lain peduli dengan semua
itu.
Kami masih kecil
saat itu. Tak ada yang bisa diajak diskusi. Orangtua Ibu sudah lama meninggal.
Saudara-saudara Ibupun sudah hidup individulis yang tak peduli nasib keluarganya
seperti apa. Akhirnya Ibu harus berjuang keras untuk mengambil keputusan sendiri.
Sekitar sebulan lamanya Ibu berfikir dan
akhirnya Ibu
mengambil keputusan. Ibu menerima lamaran laki-laki itu dan mulai saat itu Kami menganggapnya sebagai Ayah. Aku tahu…demi
Kami, Ibu harus melakukan itu.
***
Sejak menikah
dengan ayah tiri Kami, kehidupan aku dan adik-adiku membaik. Bukan hanya
kebutuhan hidup yang terpenuhi, namun Kami juga mendapatkan pendidikan yang layak. Namun lagi-lagi
omongan orang yang membuat Kami sedikit terusik.
Tak ada hal
positif yang didapat ketika posisi menjadi seorang istri kedua. Apalagi istri
pertama Ayah
sakit-sakitan. Mereka menganggap Ibu tak punya hati. Mereka menyangka Ibu
berbahagia diatas penderitaan orang lain. Dan banyak lagi cemoohan lainnya.
Sering kali
kulihat Ibu menangis. Mungkin Ibu berfikir seandainya ada jalan lain yang bisa
Ibu lakukan selain menjadi istri kedua, mungkin akan Ibu lakukan. Tapi Ibu
tersadar kalau ini sudah jalan-NYA.
***
Saat itu usiaku berumur
duapuluh tahun, istri pertama Ayah meninggal. Ibulah mengurus segala sesuatunya, mulai dari memandikan sampai ke pemakaman. Sepulang dari
pemakaman, ada salah satu kerabat dari istri pertamanya yang mengajak Ibu
berbicara. Sepertinya sangat serius. Merekapun berbincang-bincang. Tapi setelah itu, Ibu terlihat
menangis. Ibu disangka penyebab meninggalnya istri pertama Ayah. Entah cobaan apalagi
ini. Namun Ibu selalu mencoba ikhlas dengan apapun yang terjadi padanya. Apalagi Ayah seorang yang baik
walaupun beliau seorang Ayah tiri.
Ayah sudah menganggap
Kami sebagai anaknya sendiri, karena memang dari istri pertamanya beliau tak
dikaruniai anak. Sampai aku lulus kuliahpun kulihat Ibu masih menyimpan
perasaan tak enak dengan posisinya sebagai istri kedua.
Cemoohan diluar
sana mengenai Ibu memang sangat menyakitkan aku. Pandangan mata orang-orang
memang sangat menusuk di hatiku. Namun apapun itu aku tetap bangga pada Ibu. Menjadi pelaku
peran sebagai istri kedua itu sangat sulit. Tak pernah ada orang yang
menginginkan posisi itu. Mungkin…orang diluar sana menganggap Ibu tak
berperasaan, tapi bagiku…Ibu seperti mutiara yang berkilau indah walaupun berada didalam
lumpur sekalipun.
Terimakasih Bu…atas semua
pengorbananmu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar