16 Nov 2012

Hitamku

Allah SWT Maha Luas ampunan-NYA. Aku yakin, Allah pasti mendengar setiap desah pengakuan dosaku.  Walaupun aku sadar dosaku setinggi gunung.

Sejak aku duduk di bangku SMU, aku dikenal sebagai anak yang nakal. Beberapa kali aku mendapat teguran tapi aku tak pernah menghiraukan semua itu. Hidupku adalah kebebasanku. Orangtua memanjakanku karena aku anak satu-satunya. Semua tercukupi, semua yang aku mau pasti mereka penuhi.

Orangtuaku super sibuk, kadang sebagai anak pun aku tak pernah mengenal siapa orangtuaku karena aku selalu merasa sendiri tanpa bimbingan mereka. Sejak aku kecil sampai beranjak dewasa.
Memasuki bangku kuliah, tak ada yang berubah. Kebebasan masih selalu aku pegang. Sampai suatu saat aku bertemu dengan seorang wanita. Teman sekelasku. Kami sering jalan bareng, bersama-sama menikmati hari. Aku merasa cocok dengannya, mungkin karena hobby Kami sama. Senang berhura-hura.


Waktu berjalan dan kami semakin dekat. Sampai suatu hari dia mengajakku untuk ‘jadian’. Aku langsung menerimanya walau aku tak yakin apa yang aku rasakan ini. Cinta atau sekedar merasa nyaman dengannya.

Tak perlu dia tahu apa sebenarnya yang aku rasa saat itu. Yang pasti sejak itu Kami resmi menjadi sepasang kekasih.

Hari demi hari dilewati. Aku rasa dia gadis yang baik. Namun karena pergaulan yang salah akhirnya membuat dia lebih senang hidup di dunia malam, seperti aku. Atau mungkin juga dia mempunyai latar belakang keluarga yang sama denganku.

Setiap hari kita bersama. Dimana ada dia disana pasti ada aku. Rutinitas sehari-hari yang kami lewati adalah berhura-hura, dugem, clubbing, mabuk, begitulah dan hampir setiap malam. Dan yang paling menyedihkan ketika Kami berdua harus di DO dari tempat kuliah Kami. Namun tak ada yang menyesali semua itu. Termasuk orangtua Kami.

Hidupku tanpa aturan. Aku hampir tak tahu arah hidupku seperti apa. Begitupun dengan dia. Sampai suatu hari, aku mendapat kabar kalau dia mengandung dan meminta pertanggungjawaban dariku. Aku sempat bingung dan kalut. Aku tak tahu apa yang terjadi. Rasanya aku ingin pergi meninggalkan dia. Aku tak ingin menanggung beban dia. Aku tak ingin menjadi Ayah. Kebebasanku pasti terenggut. Akhirnya aku sarankan agar dia melakukan aborsi. Namun dia menolaknya.

Tak henti-hentinya aku berfikir. Aku bukan berfikir bagaimana aku harus bertanggungjawab atas semua perbuatanku, namun berfikir bagaimana cara agar aku bisa pergi meninggalkan dia.

Akhirnya pada suatu hari, aku memutuskan untuk pergi dari kota itu. Tak seorangpun tahu kemana aku pergi termasuk orangtuaku sendiri.

***

Aku putuskan untuk tinggal di desa ini…desa terpencil. Jauh dari hiruk pikuk kota besar yang dulu jadi tempat tinggalku. Aku hidup sendiri disini, inilah resikonya. Tidak ada lagi hura-hura, mabuk-mabukkan atau apalah seperti yang kulakukan dulu. Untuk makanpun aku harus bekerja serabutan. Dan baru ku sadari susahnya hidup. Tapi untuk kembali ke kehidupan aku sebelumnya rasanya tak mungkin.

Aku tak mendengar orangtua atau gadis itu mencariku. Mungkin sangat sulit untuk mereka mencariku disini. Aku benar-benar menjadi orang yang terasing.

Sudah sekitar satu tahun aku berada ditempat ini. Seperti orang yang sembunyi. Seperti narapidana yang kabur dari penjara. Atau seperti para koruptor yang sedang dicari polisi. Atau mungkin lebih dari itu.

***

Suatu hari, ketika aku sedang bekerja di kebun teh milik orang yang katanya orang paling kaya di desa itu. Aku melihat ada gadis cantik sedang memetik teh. Gadis yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Padahal aku bekerja di kebun itu sudah lumayan lama. Entah kenapa setiap aku melihatnya, terasa ada perasaan aneh. Aku tak tahu perasaan apa.

Semakin sering melihatnya semakin aku merasa suka padanya. Perasaan yang entah dari mana datangnya. Kadang, aku merasa ingat dengan sosok gadis dulu. Sejak aku tinggalkan tak pernah aku tahu kabar beritanya. Sudah sekitar satu tahun yang lalu aku meninggalkannya, mungkin sekarang dia sudah melahirkan. Dengannya aku tak pernah merasakan perasaan seperti ini.

Siang itu, aku putuskan untuk berkenalan dengannya. Aku sangat senang karena dia mau menerima perkenalanku. Siti namanya. Sejak itu kita jadi sering ngobrol bareng. Berbeda dengan gadis yang aku kenal dulu. Siti selalu membahas tentang agama. Aturan-aturan yang harus kita ikuti. Hidup bukan kebebasan tapi penuh aturan. Aturan bukan untuk membelenggu. Tapi untuk membuat hidup kita terkontrol. Hidup di dunia bukan untuk selamanya. Ada kehidupan lain yang harus kita jalani nanti.

Aku semakin tertarik dengan gadis ini. Dia banyak membawa perubahan dalam hidupku. Sekarang aku bisa sholat, sedikit-sedikit aku juga bisa mengaji. Siti yang menyaranku untuk belajar semua itu pada guru agamanya.

***

Pada suatu hari, aku bermaksud untuk menyatakan perasaanku padanya, walaupun sulit, berbeda dengan dulu. Dulu aku yang diminta cinta oleh seseorang. Sekarang aku harus mencoba untuk mendapatkan cinta dari seseorang yang aku inginkan. Namun, ketika aku menyatakan hal itu pada dia. Dia malah bilang, kalau dia tidak pernah mengenal pacaran dan yang dia inginkan langsung menuju ke jenjang pernikahan.

Berjuta-juta pikiran mengisi otakku saat itu. Apa aku pantas melamar dia. Dia gadis yang sangat baik. Bukankah Allah SWT akan memasangkan laki-laki baik dengan seorang perempuan baik. Sementara  aku??? Hidupku dimasa lalu sangat kelam. Jika Siti tahu bahwa aku pernah menodai gadis lain. Pasti dia marah dan tak akan pernah mau menerimaku. Namun, aku juga tak pernah bisa menolak perasaan ini. Aku ingin menjadikan dia istri dan ibu dari anak-anakku. Akhirnya aku putuskan untuk menemui orangtua Siti.

***

Hari itu, aku bermaksud untuk melamarnya. Tanpa ada orangtuaku dan sanak saudaraku. Keluarga Siti juga merasa keheranan. Namun ketika mereka tanya tentang keluarga, aku hanya bisa menjawab, orangtuaku sudah lama meninggal dan aku tak punya sanak keluarga. Alasan yang sebenarnya patut untuk ditolak. Namun aku melihat keluarga gadis itu sangat kooperatif dan bijaksana. Mereka memberikan keputusan  sepenuhnya pada anaknya. Akupun tak menduga jika pada akhirnya Siti menerima lamaranku.

Memang sulit diduga, apa yang membuat Siti berkenan menerima lamaranku. Dia tahu betul aku orang yang buta agama. Apalagi kalau dia tahu masa laluku sekelam apa. Namun ku yakin gadis ini seseorang yang Allah SWT kirimkan untukku untuk menjemput Hidayah-NYA.

***

Singkat cerita, Kamipun menikah. Pekerjaanku hanya sebagai buruh di kebun teh itu dan Siti sebagai pemetik teh. Namun Kami bahagia. Walaupun hidup Kami sangatlah pas-pasan. Siti sering memberikan aku ilmu agama. Aku semakin merasa hidupku jauh lebih baik dari sebelumnya. Siti mengajariku cara mengenal-NYA dan mencintai-NYA. Kurasa itulah hal paling indah. Aku tak pernah mengenal Robbku selama ini.

Sudah tiga tahun Kami menikah,tapi musibah yang sama selalu datang. Istriku selalu keguguran. Sudah dua kali istriku mengandung tapi selalu keguguran. Mungkin Yang Maha Kuasa belum mempercayakan aku untuk menjadi seorang Ayah. Padahal aku sangat mendambakannya.

Pernah suatu hari, Istriku mengabariku bahwa dia sudah mengandung lagi. Ini yang ketiga kalinya dan aku berharap tak akan terjadi peristiwa itu lagi. Namun, setelah usia kehamilan menginjak dua bulan, lagi-lagi peristiwa itu datang. Terkadang aku merasa apa aku tak pantas menjadi seorang Ayah. Pertanyaan yang bodoh sebenarnya bila aku mengingat peristiwa dulu.

***

Menerawang kekejadian dulu. Saat aku tahu bahwa gadis dimasa lalu mengandung benihku. Dan aku menyuruh menggugurkannya. Aku malah menyia-nyiakannya. Aku malah pergi. Aku malah hilang. Dan sekarang aku malah berharap aku menjadi seorang Ayah. “Robb…apakah ini tebusan dari dosa-dosaku itu?” bisikku dalam hati.

Sejak pernikahan aku dengan istriku, aku tak pernah jujur dengan keadaanku. Aku memang mencintainya dan aku tak pernah ingin mempermainkannya. Hanya ketakutan saja yang membuat aku tak bisa jujur. Namun hari itu, aku akan berusaha untuk mengatakan apa yang tersimpan rapi selama ini.

***

Suatu malam, ketika keadaan rumah sangat hening, aku mencoba mengajak berbicara istriku. Aku sempat bingung harus memulai dari mana. Istriku orang yang sabar, dia seolah mengetahui apa yang ada dalam pikiranku saat itu.

“Kalau belum siap berbicara, mendingan jangan…” begitu katanya.

Namun, aku tak sanggup menahan beban ini lagi sendiri. Akhirnya aku ceritakan semua tentang masa laluku.

Setelah kuceritakan, istriku sempat terlihat marah, wajar kufikir. Satu hal, aku tak berniat untuk membohonginya. Sudah kujelaskan kalau ini hanya sebuah ketakutan.

***

Beruntung aku mempunyai istri yang sangat bijaksana. Siti menyarankanku untuk menemui gadis itu dan meminta maaf pada orangtuaku. Cukup sulit bagiku. Namun harus aku lakukan. Berat sekali hidupku saat itu. Tapi lebih berat lagi jika aku memikirkan murka-MU Ya Robb..

Akhirnya hari itu aku pergi ke kota tempat tinggalku dulu. Kota yang bertahun-tahun tak pernah aku singgahi. Aku bawa istriku ke kota ini. Tempat pertama yang aku datangi adalah orangtuaku. Ketika kuinjakan kaki di rumah. Ada rasa yang sulit dijabarkan. Hanya aku yang tahu.

Masih…masih seperti dulu, tapi ada satu hal yang berubah. Orangtuaku. Perubahan yang cukup luar biasa. Mereka tampak lebih religius. Ibuku…dia sekarang sudah memakai jilbab, tampak cantik, sangat cantik. Ayahku…tampak jauh lebih bijaksana. Entah apa yang merubah mereka. Yang jelas Hidayah-MU sungguh luar biasa Robb…

Tak henti-hentinya air mata ini mengalir saat meminta maaf pada mereka. Aku bukan anak yang baik. Bukan anak harapan orangtua. Namun aku akan berubah. Benar kata orang, orangtua adalah gudangnya maaf.

***

Permasalahan satu sudah terselesaikan. Tapi ada masalah lain yang lebih sulit untuk aku lakukan. Menemui gadis itu. Gadis yang sudah aku sakiti.

Hari itu, aku berniat untuk menemuinya. Mudah-mudahan dia masih tinggal dialamat rumah yang sama. Karena memang sudah beberapa tahun yang lalu aku meninggalkannya.

Aku pergi dengan orangtua dan istriku. Kamipun tiba dirumah itu. Terlihat dari luar sangat sepi. Kufikir mereka sudah tak tinggal disana lagi. Namun aku coba untuk mencari tahu.

Kuketuk pintu dan yang muncul pembantunya. Setelah aku tanyakan apakah gadis itu masih tinggal disini. Dia tak menjawab. Sempat aku bingung, namun aku tanya lagi apakah orangtua gadis itu masih tinggal disana atau tidak. Ternyata masih, tapi saat itu orangtunya sedang di luar kota dan akan kembali sekitar tiga hari lagi.

***

Selama waktu tiga hari itu, pikiranku benar-benar kalut, namun istriku selalu memberikan dukungan agar aku pasrah dan sabar. Mudah-mudahan Allah SWT mencatat niat baik aku.

Tiga hari berlalu, saatnya aku menemui keluarga gadis itu lagi. Tiba di rumahnya. Kuketuk pintu dan sekarang yang muncul Ayah gadis itu. Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatanganku kesana, beliau sempat naik pitam, memarahi, menyumpahiku, segala yang terburuk yang ada adalah aku.

Aku hanya bisa terdiam, mungkin di matanya aku memanglah seperti itu. Namun, orangtuaku bisa meredakan emosinya hingga akhirnya beliaupun menceritakan kisah anaknya setelah aku pergi meninggalkannya.

***

Gadis itu berusaha melahirkan anakku. Namun sayang anak yang dia lahirkan harus meninggal sebelum dia tahu isi dunia. Sementara nasib sang Ibu, dia mengalami depresi berat dan harus masuk rumah sakit jiwa. Namun tak lama di rumah sakit, sang Ibu yang tak lain adalah gadis itu juga harus menyusul anaknya karena dia bunuh diri.

Perih rasanya hati ini…jika aku bisa menebus semua dengan nyawaku pasti akan aku lakukan. Jika dia masih hidup, aku tak tahu apa masih ada ruang kosong dihatinya untuk memaafkanku.

Aku memohon pada orangtuanya untuk bisa melihat pusaranya. Syukurlah mereka mengijinkan aku melihat pusaranya. Setelah diberi tahu aku langsung pergi ke tempat peristirahatan terakhirnya.

***

Diatas pusara itu masih terlihat bunga. Mungkin baru saja ada orang yang menaburkannya. Aku meminta ijin kepada istri dan orangtuaku untuk sendiri saja ke pusara itu.

Masih diatas pusara gadis itu, gadis yang aku sakiti, gadis yang aku sia-siakan, gadis yang aku tak tahu lagi harus menyebutnya apa. Tak banyak kata yang bisa aku lontarkan. Hanya ada air mata dan penyesalan, hanya ada niat yang tulus untuk aku bisa merubah hidupku. Hanya kata maaf dan doa yang bisa aku sampaikan. Semoga dia tenang disana dan selalu berada dalam pelukan-NYA. Semoga Sang Maha Pemberi Maaf mengampuni dosa-dosaku.

“Maafkan aku…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar