Allah SWT Maha
Luas ampunan-NYA. Aku yakin, Allah pasti mendengar setiap desah pengakuan dosaku. Walaupun aku sadar dosaku setinggi gunung.
Sejak aku duduk
di bangku SMU, aku dikenal sebagai anak yang nakal. Beberapa kali aku
mendapat teguran tapi aku tak pernah menghiraukan semua itu. Hidupku adalah
kebebasanku. Orangtua memanjakanku karena aku anak satu-satunya. Semua
tercukupi, semua yang aku mau pasti mereka penuhi.
Orangtuaku super
sibuk, kadang sebagai anak pun aku tak pernah mengenal siapa orangtuaku karena aku
selalu merasa sendiri tanpa bimbingan mereka. Sejak aku kecil sampai beranjak dewasa.
Memasuki bangku
kuliah, tak ada yang berubah. Kebebasan masih selalu aku pegang. Sampai suatu
saat aku bertemu dengan seorang wanita. Teman sekelasku. Kami sering jalan
bareng, bersama-sama menikmati hari. Aku merasa cocok dengannya, mungkin karena
hobby Kami
sama. Senang berhura-hura.
Waktu berjalan
dan kami semakin dekat. Sampai suatu hari dia mengajakku untuk ‘jadian’. Aku
langsung menerimanya walau aku tak yakin apa yang aku rasakan ini. Cinta atau
sekedar merasa nyaman dengannya.
Tak perlu dia
tahu apa sebenarnya yang aku rasa saat itu. Yang pasti sejak itu Kami resmi menjadi
sepasang kekasih.
Hari demi hari
dilewati. Aku rasa dia gadis yang baik. Namun karena pergaulan yang salah akhirnya membuat dia lebih
senang hidup di dunia malam, seperti aku. Atau mungkin
juga dia mempunyai latar belakang keluarga yang sama denganku.
Setiap hari kita bersama. Dimana ada
dia disana pasti ada aku. Rutinitas sehari-hari yang kami lewati adalah
berhura-hura, dugem, clubbing, mabuk,
begitulah dan hampir setiap malam. Dan yang paling menyedihkan ketika Kami berdua harus di DO dari tempat kuliah Kami. Namun tak ada yang
menyesali semua itu. Termasuk orangtua Kami.
Hidupku tanpa aturan. Aku hampir tak tahu arah
hidupku seperti apa. Begitupun dengan dia. Sampai suatu hari, aku mendapat
kabar kalau dia mengandung dan meminta pertanggungjawaban dariku. Aku sempat bingung dan kalut. Aku tak tahu apa yang
terjadi. Rasanya aku ingin pergi meninggalkan dia. Aku tak ingin menanggung beban dia.
Aku tak ingin menjadi Ayah. Kebebasanku pasti terenggut. Akhirnya aku sarankan agar dia melakukan aborsi.
Namun dia menolaknya.
Tak henti-hentinya aku berfikir. Aku bukan berfikir bagaimana aku harus
bertanggungjawab atas semua perbuatanku, namun berfikir
bagaimana cara agar aku bisa pergi meninggalkan dia.
Akhirnya pada
suatu hari, aku memutuskan untuk pergi dari kota itu. Tak seorangpun tahu kemana
aku pergi termasuk orangtuaku sendiri.
***
Aku putuskan untuk tinggal di desa ini…desa
terpencil. Jauh dari hiruk pikuk kota besar yang dulu jadi tempat tinggalku.
Aku hidup sendiri disini, inilah resikonya. Tidak ada lagi hura-hura, mabuk-mabukkan atau apalah seperti yang kulakukan dulu. Untuk makanpun aku harus
bekerja serabutan. Dan baru ku sadari susahnya hidup. Tapi untuk kembali ke
kehidupan aku sebelumnya rasanya tak mungkin.
Aku tak
mendengar orangtua atau gadis itu mencariku. Mungkin sangat sulit untuk mereka
mencariku disini. Aku benar-benar menjadi orang yang terasing.
Sudah sekitar
satu tahun aku berada ditempat ini. Seperti orang yang sembunyi. Seperti
narapidana yang kabur dari penjara. Atau seperti para koruptor yang sedang
dicari polisi. Atau mungkin lebih dari itu.
***
Suatu hari,
ketika aku sedang bekerja di kebun teh milik orang yang katanya orang paling
kaya di desa itu. Aku melihat ada gadis cantik sedang memetik teh. Gadis yang
belum pernah aku lihat sebelumnya. Padahal aku bekerja di kebun itu sudah
lumayan lama. Entah kenapa setiap aku melihatnya, terasa ada perasaan aneh. Aku tak
tahu perasaan apa.
Semakin sering
melihatnya semakin aku merasa suka
padanya. Perasaan yang entah dari mana datangnya.
Kadang, aku merasa ingat dengan sosok gadis dulu. Sejak aku tinggalkan tak
pernah aku tahu kabar beritanya. Sudah
sekitar satu tahun yang lalu aku meninggalkannya,
mungkin sekarang dia sudah melahirkan. Dengannya aku tak pernah merasakan perasaan
seperti ini.
Siang itu, aku putuskan
untuk berkenalan dengannya. Aku sangat senang karena dia mau menerima perkenalanku.
Siti namanya. Sejak itu kita jadi sering ngobrol bareng. Berbeda dengan gadis yang
aku kenal dulu. Siti selalu membahas tentang agama. Aturan-aturan yang harus kita ikuti. Hidup
bukan kebebasan tapi penuh aturan. Aturan bukan untuk membelenggu. Tapi untuk
membuat hidup kita terkontrol. Hidup di dunia bukan untuk
selamanya. Ada kehidupan lain yang harus kita jalani nanti.
Aku semakin
tertarik dengan gadis ini. Dia banyak membawa perubahan dalam hidupku. Sekarang
aku bisa sholat, sedikit-sedikit aku juga bisa mengaji. Siti yang menyaranku untuk belajar semua itu
pada guru agamanya.
***
Pada suatu hari,
aku bermaksud untuk menyatakan perasaanku padanya, walaupun
sulit, berbeda dengan dulu. Dulu aku yang diminta cinta oleh
seseorang. Sekarang aku harus mencoba untuk mendapatkan
cinta dari seseorang yang aku inginkan. Namun, ketika aku menyatakan hal itu
pada dia. Dia malah bilang, kalau dia tidak pernah mengenal pacaran dan yang
dia inginkan langsung menuju ke jenjang pernikahan.
Berjuta-juta
pikiran mengisi otakku saat itu. Apa aku pantas melamar dia. Dia gadis yang sangat
baik. Bukankah Allah SWT akan memasangkan laki-laki baik dengan seorang
perempuan baik. Sementara aku??? Hidupku dimasa lalu
sangat kelam. Jika Siti tahu bahwa aku pernah menodai gadis lain. Pasti dia marah
dan tak akan pernah mau menerimaku. Namun, aku juga tak pernah bisa menolak perasaan
ini. Aku ingin menjadikan dia istri dan ibu dari anak-anakku. Akhirnya aku
putuskan untuk menemui orangtua Siti.
***
Hari itu, aku
bermaksud untuk melamarnya. Tanpa ada orangtuaku dan sanak saudaraku. Keluarga Siti juga merasa keheranan. Namun ketika mereka tanya
tentang keluarga, aku hanya bisa menjawab, orangtuaku sudah lama meninggal dan
aku tak punya sanak keluarga. Alasan yang sebenarnya patut untuk ditolak. Namun
aku melihat keluarga gadis itu sangat kooperatif dan bijaksana. Mereka
memberikan keputusan sepenuhnya pada
anaknya. Akupun tak menduga jika pada akhirnya Siti menerima lamaranku.
Memang sulit diduga,
apa yang membuat Siti berkenan menerima lamaranku. Dia tahu betul aku orang yang buta agama.
Apalagi kalau dia tahu masa laluku sekelam apa. Namun ku yakin gadis ini seseorang
yang Allah SWT kirimkan untukku untuk menjemput Hidayah-NYA.
***
Singkat cerita,
Kamipun menikah. Pekerjaanku hanya sebagai buruh di kebun teh itu dan Siti sebagai pemetik
teh. Namun Kami
bahagia. Walaupun hidup Kami sangatlah pas-pasan. Siti sering memberikan aku ilmu agama. Aku semakin merasa hidupku
jauh lebih baik dari sebelumnya. Siti mengajariku cara mengenal-NYA dan mencintai-NYA. Kurasa itulah hal paling
indah. Aku tak pernah mengenal Robbku selama ini.
Sudah tiga tahun Kami menikah,tapi musibah yang sama selalu datang. Istriku
selalu keguguran. Sudah dua kali istriku mengandung tapi selalu keguguran.
Mungkin Yang Maha Kuasa belum mempercayakan aku untuk menjadi seorang Ayah.
Padahal aku sangat mendambakannya.
Pernah suatu
hari, Istriku mengabariku bahwa dia sudah mengandung lagi. Ini yang ketiga
kalinya dan aku berharap tak akan terjadi peristiwa itu lagi. Namun, setelah
usia kehamilan menginjak dua bulan, lagi-lagi peristiwa itu datang. Terkadang
aku merasa apa aku tak pantas menjadi seorang Ayah. Pertanyaan yang bodoh
sebenarnya bila aku mengingat peristiwa dulu.
***
Menerawang kekejadian
dulu. Saat aku tahu bahwa gadis dimasa lalu mengandung benihku. Dan aku
menyuruh menggugurkannya. Aku malah menyia-nyiakannya. Aku malah pergi. Aku malah hilang. Dan
sekarang aku malah berharap aku menjadi seorang Ayah. “Robb…apakah ini tebusan
dari dosa-dosaku itu?” bisikku dalam hati.
Sejak pernikahan
aku dengan istriku, aku tak pernah jujur dengan keadaanku. Aku memang
mencintainya dan aku tak pernah ingin mempermainkannya. Hanya ketakutan saja
yang membuat aku tak bisa jujur. Namun hari itu, aku akan berusaha untuk
mengatakan apa yang tersimpan rapi selama ini.
***
Suatu malam,
ketika keadaan rumah sangat hening, aku mencoba mengajak berbicara istriku. Aku
sempat bingung harus memulai dari mana. Istriku orang yang sabar, dia seolah
mengetahui apa yang ada dalam pikiranku saat itu.
“Kalau belum
siap berbicara, mendingan jangan…” begitu katanya.
Namun, aku tak
sanggup menahan beban ini lagi sendiri. Akhirnya aku ceritakan semua tentang masa laluku.
Setelah
kuceritakan, istriku sempat terlihat marah, wajar kufikir. Satu hal, aku tak
berniat untuk membohonginya. Sudah kujelaskan kalau ini hanya sebuah ketakutan.
***
Beruntung aku
mempunyai istri yang sangat bijaksana. Siti menyarankanku untuk menemui gadis
itu dan
meminta maaf pada orangtuaku. Cukup sulit bagiku. Namun harus aku lakukan.
Berat sekali hidupku saat itu. Tapi lebih berat lagi jika aku memikirkan
murka-MU Ya Robb..
Akhirnya hari
itu aku pergi ke kota tempat tinggalku dulu. Kota yang bertahun-tahun tak
pernah aku singgahi. Aku bawa istriku ke kota ini. Tempat pertama yang aku
datangi adalah orangtuaku. Ketika kuinjakan kaki di rumah. Ada rasa yang
sulit dijabarkan. Hanya aku yang tahu.
Masih…masih
seperti dulu, tapi ada satu hal yang berubah. Orangtuaku. Perubahan yang cukup luar
biasa. Mereka tampak lebih religius. Ibuku…dia sekarang sudah memakai jilbab,
tampak cantik, sangat cantik. Ayahku…tampak jauh lebih bijaksana. Entah apa
yang merubah mereka. Yang jelas Hidayah-MU sungguh luar biasa Robb…
Tak henti-hentinya air mata ini
mengalir saat meminta maaf pada mereka. Aku bukan anak yang baik. Bukan anak
harapan orangtua. Namun aku akan berubah. Benar kata orang, orangtua adalah gudangnya maaf.
***
Permasalahan
satu sudah terselesaikan. Tapi ada masalah lain yang lebih sulit untuk aku lakukan. Menemui gadis
itu. Gadis yang sudah aku sakiti.
Hari itu, aku berniat
untuk menemuinya. Mudah-mudahan dia masih tinggal dialamat rumah yang sama. Karena memang sudah beberapa tahun yang lalu
aku meninggalkannya.
Aku pergi dengan
orangtua dan istriku. Kamipun tiba dirumah itu. Terlihat dari luar sangat sepi. Kufikir mereka sudah tak tinggal disana lagi.
Namun aku coba untuk mencari tahu.
Kuketuk pintu
dan yang muncul pembantunya. Setelah aku tanyakan apakah gadis itu masih
tinggal disini. Dia tak menjawab. Sempat aku bingung, namun aku tanya lagi apakah orangtua gadis itu
masih tinggal disana atau tidak. Ternyata masih, tapi saat itu orangtunya
sedang di luar kota dan akan kembali sekitar tiga hari lagi.
***
Selama waktu tiga hari itu, pikiranku
benar-benar kalut, namun istriku selalu memberikan dukungan agar aku pasrah dan
sabar. Mudah-mudahan Allah SWT mencatat niat baik aku.
Tiga hari
berlalu, saatnya
aku menemui keluarga gadis itu lagi. Tiba di rumahnya. Kuketuk pintu
dan sekarang yang muncul Ayah gadis itu. Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatanganku kesana, beliau sempat naik pitam, memarahi, menyumpahiku, segala yang
terburuk yang ada adalah aku.
Aku hanya bisa
terdiam, mungkin di matanya aku memanglah seperti itu. Namun, orangtuaku bisa meredakan
emosinya hingga akhirnya beliaupun menceritakan kisah anaknya setelah aku pergi meninggalkannya.
***
Gadis itu
berusaha melahirkan anakku. Namun sayang anak yang dia lahirkan harus meninggal
sebelum dia tahu isi dunia. Sementara
nasib sang Ibu, dia mengalami depresi berat dan harus masuk rumah sakit jiwa. Namun
tak lama di rumah sakit, sang Ibu yang tak lain adalah gadis itu juga harus
menyusul anaknya karena dia bunuh diri.
Perih rasanya
hati ini…jika aku bisa menebus semua dengan nyawaku pasti akan aku lakukan.
Jika dia masih hidup, aku tak tahu apa masih ada ruang kosong dihatinya untuk
memaafkanku.
Aku memohon pada
orangtuanya untuk bisa melihat pusaranya. Syukurlah mereka mengijinkan aku melihat pusaranya. Setelah
diberi tahu aku langsung pergi ke tempat peristirahatan terakhirnya.
***
Diatas pusara
itu masih terlihat bunga. Mungkin baru saja ada orang yang menaburkannya. Aku
meminta ijin kepada istri dan orangtuaku untuk sendiri saja ke pusara itu.
Masih diatas
pusara gadis itu, gadis yang aku sakiti, gadis yang aku sia-siakan, gadis yang aku
tak tahu lagi harus menyebutnya apa.
Tak banyak kata yang bisa aku lontarkan. Hanya ada air
mata dan penyesalan, hanya ada niat yang tulus untuk aku bisa merubah hidupku.
Hanya kata maaf dan doa yang bisa aku sampaikan. Semoga dia tenang disana dan selalu
berada dalam pelukan-NYA. Semoga Sang Maha Pemberi Maaf mengampuni dosa-dosaku.
“Maafkan aku…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar