5 Jan 2012

Hadiah Yang Terindah


Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi setahun, sebulan, sehari, semenit, bahkan sedetik kemudian. Setiap orang yang berharap pasti ingin mewujudkan setiap harapannya. Begitupun dengan aku, sudah hampir hitungan satu tahun aku mengharapkannya. Seorang wanita yang menurut aku wanita yang terbaik. Tapi saat itu aku tak pernah berfikir kalau yang terbaik menurutku belum tentu yang terbaik menurut-NYA. Namun dengan alasan “terlanjur sayang” aku tetap bisa bertahan dengan rasa ini.

Tak penting aku ceritakan kapan kita bertemu, yang aku tahu, dia tak pernah mempunyai perasaan seperti apa yang kurasa saat itu. Namun aku selalu berharap suatu hari nanti aku akan memiliki perasaannya. Berbagai cara aku lakukan untuk mendapat perhatiannya. Tapi tak pernah dia menyambutnya.

Terkadang aku lelah dengan apa yang aku rasa, namun setiap aku ingin melupakan dia, semakin aku tak pernah bisa. Entah karena perasaan aku yang terlanjur yakin atau kebodohan sedang menyelimuti hatiku. Namun aku yakin mungkin diluar sana banyak orang-orang yang sedang merasakan perasaan seperti apa yang aku rasa.


***

Hari itu, seperti biasa aku menunggu bis di halte. Kantorku memang berjarak agak jauh dari tempat tinggalku. Setiap pagi aku harus menunggu bis yang kadang berdesakkan, tapi tak apalah…nikmati saja. Jika ikhlas semua akan terasa lebih ringan. Dari kejauhan aku sudah melihat bis itu, aku buru-buru berdiri dan kulangkahkan kakiku untuk memasukinya.

Ada satu kursi kosong dideretan kedua, Alhamdulillah aku masih bisa duduk. Perjalanan sekitar satu jam lumayan kalau berdiri. Disebelahku ada satu sosok gadis manis sedang asyik dengan handphonenya. Mungkin sedang sms-an atau browsing internet, aku tak terlalu memperdulikannya. Sesekali dia melihatku dan memberikan senyumannya. Ku balas sewajarnya.

Tak kuduga dia mengajak berkenalan, sempat heran juga, tapi tak ada salahnya menurutku untuk berkenalan dengannya. Rena namanya. Kamipun mulai mengobrol. Dia sosok yang enak diajak ngobrol menurutku. Ternyata dia bekerja di sebuah perusahaan yang tak jauh dari tempatku bekerja. Waktu satu jam pun tak terasa berlalu dan saatnya aku harus turun karena sudah sampai didepan kantorku. Namun sebelum aku turun, kita sempat bertukar nomor handphone.

***

Sejak saat itu, wanita yang aku kenal di bis itu sering menghubungiku, bahkan kadang-kadang kita menyempatkan waktu untuk makan siang bersama karena memang tempat kerja kita tak terlalu jauh. Rena seorang yang baik, perhatian, santun dan ramah.

Tiga bulan aku mengenalnya, jujur aku bisa sedikit melupakan sosok wanita yang aku harapkan dulu. Namun aku belum bisa menggantikan dia dengan siapapun. Tapi aku sadar, kita bukan hidup di dunia mimpi. Wanita itu mungkin hanya bagian dari mimpi panjangku dan saat ini aku harus mulai terbangun dan melihat sosok wanita lain untuk menjadi bagian dalam hidupku.

***

Waktu tiga bulan sudah cukup untuk aku mengenal Rena, wanita dalam bis itu. Aku tak mau berlarut, karena proses yang terlalu lama biasanya akan melahirkan kekecewaan. Aku berniat untuk mengajaknya melangkah ke jenjang yang lebih dari sebatas teman. Tak perlu berfikir panjang rupanya, untuk Rena menerima aku. Dan kitapun memutuskan untuk melangkah ke pelaminan sekitar dua bulan lagi.

Setelah proses lamaran, akhirnya tanggal pernikahanpun ditetapkan. Yakin tak yakin aku harus yakin karena inilah pilihanku. Walaupun dalam hati masih ada sosok lain dimasa lalu, namun aku akan mencoba komit dengan apa yang telah aku putuskan.

***

Siang itu, menjelang makan siang handphoneku berbunyi, kulihat ada message dari nomor yang tak aku kenal. Aku buka dan kubaca pesan itu ternyata sebuah pesan dari wanita itu, wanita impianku. Wanita yang hidup dalam hatiku sejak dulu. Dia ingin bertemu denganku di suatu tempat. Entah ada angin apa. Aku tak tahu apa yang aku rasa saat itu. Disisi lain aku tak ingin menempatkan dia kembali di hatiku karena aku sudah mempunyai calon istri. Tapi disisi lain aku hanya manusia biasa yang punya perasaan yang tak bisa aku sembunyikan. Sungguh perasaan ini masih sangat kuat padanya.

Akhirnya aku menemuinya disuatu tempat makan pada siang itu. Ketika aku melihatnya, tak pernah ada yang berubah dengan hati ini. Tanpa aku beri tahu, ternyata dia sudah mendapat kabar tentang pernikahanku yang akan dilangsungkan tak lama lagi. Kenapa saat itu seolah aku melihat rasa kekecewaan di raut mukanya. Apa mungkin dia merasakan penyesalan. Tapi kufikir tak ada alasan untuk dia merasakan itu. Bertahun-tahun aku menunggunya dan diapun tahu. Namun seolah perasaanku tak pernah ada arti sama sekali.

Sejak aku bertemu dengannya saat itu. Dia berubah sikap, dia menjadi sosok wanita yang super perhatian padaku. Bahkan aku merasa perhatian Rena sebagai calon istrikupun tak seperti itu. Aku heran, dia wanita yang mempunyai pengetahuan agama cukup baik. Diapun mungkin tahu tak baik memperhatikan calon suami orang dengan berlebihan. Tapi kenapa aku senang diperhatikan olehnya.

Satu bulan menjelang pernikahan aku dengan Rena, malah aku semakin dekat dengan wanita impianku itu. Hatiku semakin tak karuan ketika wanita itu memintaku untuk memutuskan hubunganku dengan Rena. Saat itu sempat aku berfikir, sempat aku akan menyetujui tawarannya. Namun, ketika aku membayangkan Rena seketika itu juga perasaan itu menghilang. Aku sadar Rena adalah wanita yang Allah SWT kirim untuk aku. Wanita yang terbaik untukku.

Sore itu sepulang kerja, aku hubungi wanita impianku itu untuk bertemu disuatu tempat. Setelah kita bertemu, aku langsung mengatakan apa yang ada dalam hatiku. Walaupun sinar mata itu masih tetap menusuk jantungku namun aku mencoba bertahan dengan apa yang menjadi kominten hidupku.

Dia menanyakan keputusanku dan tak harus berfikir panjang ku katakan padanya, ”Kamu memang seseorang yang pernah mengisi hatiku…dalam, mungkin sangat dalam, tapi kamu hanya masa lalu dan impian semata yang tak akan pernah aku wujudkan. Aku akan tetap memilih Rena sebagai istriku, Insya Allah akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Bukan karena dia sosok yang aku temui disaat aku membutuhkan seseorang…Namun bagiku dia adalah hadiah yang terindah yang Allah SWT beri untukku…”

***


Ku lihat ada air mata dan kesedihan yang sangat dalam disana. Akupun merasakan ada luka dihatiku. Namun ku yakin ini keputusan yang terbaik. Dan semua akan indah pada waktunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar