Kita tidak
pernah tahu apa yang akan terjadi setahun, sebulan, sehari, semenit, bahkan
sedetik kemudian. Setiap orang yang berharap pasti ingin mewujudkan setiap
harapannya. Begitupun dengan aku, sudah hampir hitungan satu tahun aku mengharapkannya.
Seorang wanita yang menurut aku wanita yang terbaik. Tapi saat itu aku tak
pernah berfikir kalau yang terbaik menurutku belum tentu yang terbaik
menurut-NYA. Namun dengan alasan “terlanjur sayang” aku tetap bisa bertahan
dengan rasa ini.
Tak penting aku
ceritakan kapan kita bertemu, yang aku tahu, dia tak pernah mempunyai perasaan
seperti apa yang kurasa saat itu. Namun aku selalu berharap suatu hari nanti
aku akan memiliki perasaannya. Berbagai cara aku lakukan untuk mendapat
perhatiannya. Tapi tak pernah dia menyambutnya.
Terkadang aku
lelah dengan apa yang aku rasa, namun setiap aku ingin melupakan dia, semakin
aku tak pernah bisa. Entah karena perasaan aku yang terlanjur yakin atau kebodohan sedang menyelimuti
hatiku. Namun aku yakin mungkin diluar sana banyak orang-orang yang sedang
merasakan perasaan seperti apa yang aku rasa.
***
Hari itu,
seperti biasa aku menunggu bis di halte. Kantorku memang berjarak agak jauh
dari tempat tinggalku. Setiap pagi aku harus menunggu bis yang kadang berdesakkan,
tapi tak apalah…nikmati saja. Jika ikhlas semua akan terasa lebih ringan. Dari
kejauhan aku sudah melihat bis itu, aku buru-buru berdiri dan kulangkahkan
kakiku untuk memasukinya.
Ada satu kursi
kosong dideretan kedua, Alhamdulillah aku masih bisa duduk. Perjalanan sekitar
satu jam lumayan kalau berdiri. Disebelahku ada satu sosok gadis manis sedang
asyik dengan handphonenya. Mungkin sedang sms-an atau browsing
internet, aku tak terlalu memperdulikannya. Sesekali dia melihatku dan
memberikan senyumannya. Ku balas sewajarnya.
Tak kuduga dia
mengajak berkenalan, sempat heran juga, tapi tak ada salahnya menurutku untuk
berkenalan dengannya. Rena namanya. Kamipun mulai mengobrol. Dia sosok yang enak diajak
ngobrol menurutku. Ternyata dia bekerja di sebuah perusahaan yang tak jauh dari
tempatku bekerja. Waktu satu jam pun tak terasa berlalu dan saatnya aku harus
turun karena sudah sampai didepan kantorku. Namun sebelum aku turun, kita
sempat bertukar nomor handphone.
***
Sejak saat itu,
wanita yang aku kenal di bis itu sering menghubungiku, bahkan kadang-kadang
kita menyempatkan waktu untuk makan siang bersama karena memang tempat kerja
kita tak terlalu jauh. Rena seorang yang baik, perhatian, santun dan ramah.
Tiga bulan aku
mengenalnya, jujur aku bisa sedikit melupakan sosok wanita yang aku harapkan
dulu. Namun aku belum bisa menggantikan dia dengan siapapun. Tapi aku sadar,
kita bukan hidup di dunia mimpi. Wanita itu mungkin hanya bagian dari mimpi
panjangku dan saat ini aku harus mulai terbangun dan melihat sosok wanita lain
untuk menjadi bagian dalam hidupku.
***
Waktu tiga bulan sudah cukup
untuk aku mengenal Rena, wanita dalam bis itu. Aku tak mau berlarut, karena proses yang terlalu lama
biasanya akan melahirkan kekecewaan. Aku berniat untuk mengajaknya melangkah ke jenjang yang
lebih dari sebatas teman. Tak perlu berfikir panjang rupanya, untuk Rena menerima
aku. Dan kitapun memutuskan untuk melangkah ke pelaminan sekitar dua bulan
lagi.
Setelah proses
lamaran, akhirnya tanggal pernikahanpun ditetapkan. Yakin tak yakin aku harus
yakin karena inilah pilihanku. Walaupun dalam hati masih ada sosok lain dimasa
lalu, namun aku akan mencoba komit dengan apa yang telah aku putuskan.
***
Siang itu,
menjelang makan siang handphoneku
berbunyi, kulihat ada message dari nomor yang tak aku kenal. Aku
buka dan kubaca pesan itu ternyata sebuah pesan dari wanita itu,
wanita impianku. Wanita yang hidup dalam hatiku sejak dulu. Dia ingin bertemu
denganku di suatu tempat. Entah ada angin apa. Aku tak tahu apa yang aku rasa
saat itu. Disisi lain aku tak ingin menempatkan dia kembali di hatiku karena
aku sudah mempunyai calon istri. Tapi disisi lain aku hanya manusia biasa yang
punya perasaan yang tak bisa aku sembunyikan. Sungguh perasaan ini masih sangat
kuat padanya.
Akhirnya aku
menemuinya disuatu tempat makan pada siang itu. Ketika aku melihatnya, tak
pernah ada yang berubah dengan hati ini. Tanpa aku beri tahu, ternyata dia
sudah mendapat kabar tentang pernikahanku yang akan dilangsungkan tak lama
lagi. Kenapa saat itu seolah aku melihat rasa kekecewaan di raut mukanya. Apa
mungkin dia merasakan penyesalan. Tapi kufikir tak ada alasan untuk dia merasakan itu. Bertahun-tahun
aku menunggunya dan diapun tahu. Namun seolah perasaanku tak pernah ada arti sama
sekali.
Sejak aku
bertemu dengannya saat itu. Dia berubah sikap, dia menjadi sosok wanita yang
super perhatian padaku. Bahkan aku merasa perhatian Rena sebagai calon
istrikupun tak seperti itu. Aku heran, dia wanita yang mempunyai pengetahuan
agama cukup baik. Diapun mungkin tahu tak baik memperhatikan calon suami orang
dengan berlebihan. Tapi kenapa aku senang diperhatikan olehnya.
Satu bulan
menjelang pernikahan aku dengan Rena, malah aku semakin dekat dengan wanita
impianku itu. Hatiku semakin tak karuan ketika wanita itu memintaku untuk
memutuskan hubunganku dengan Rena. Saat itu sempat aku berfikir, sempat aku
akan menyetujui tawarannya. Namun, ketika aku membayangkan Rena seketika itu
juga perasaan itu menghilang. Aku sadar Rena adalah wanita yang Allah SWT kirim untuk aku.
Wanita yang terbaik untukku.
Sore itu sepulang kerja, aku
hubungi wanita impianku itu untuk bertemu disuatu tempat. Setelah kita bertemu,
aku langsung mengatakan apa yang ada dalam hatiku. Walaupun sinar mata itu
masih tetap menusuk
jantungku namun aku mencoba bertahan dengan apa yang menjadi kominten hidupku.
Dia menanyakan
keputusanku dan tak harus berfikir panjang ku katakan padanya, ”Kamu memang seseorang
yang pernah mengisi hatiku…dalam, mungkin sangat dalam, tapi kamu hanya masa lalu dan impian semata yang
tak akan pernah aku wujudkan. Aku akan tetap memilih Rena sebagai istriku,
Insya Allah akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Bukan karena dia sosok
yang aku temui disaat aku membutuhkan seseorang…Namun bagiku dia adalah hadiah
yang terindah yang Allah SWT beri untukku…”
***
Ku lihat ada air
mata dan kesedihan yang sangat dalam
disana. Akupun merasakan ada luka dihatiku. Namun ku yakin ini keputusan yang terbaik. Dan
semua akan indah pada waktunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar