4 Jan 2012

Kenali Lebih Dekat


Muhammad Hafidz Azizi, nama keponakanku. Kami semua memanggilnya dengan nama Hafidz. Anak tunggal dari kakakku. Namun aku memanggilnya dengan sebutan Ade, panggilan kesayangan buatnya, karena aku memang teramat sayang pada anak itu.

Aku dan ibunya Hafidz yang tak lain adalah kakakku dalam keluarga hanya dua bersaudara. Orangtua Kami sudah lama meninggal. Jadi saudara terdekat yang aku punya hanya kakakku. Awalnya Kami tinggal satu daerah di kawasan Bogor, namun setelah aku menikah, suami membawaku tinggal bersamanya didaerah Bandung.

Walaupun berjauhan, komunikasi Kami tak pernah putus. Telepon, SMS, atau Chatt selalu kita lakukan hampir setiap hari. Kami memang dua bersaudara yang cukup kompak, memang itu yang ditanamkan orangtua Kami sejak dulu. Sayangilah saudara kita masing-masing.

***

Suatu hari kakakku menelponku dan mengabari bahwa suaminya diterima bekerja di luar negeri, di NewYork. Luar biasa pikirku. Sempat aku bertanya, kenapa harus diluar negeri, di negeri sendiri saja gaji beliau sudah besar dan bisa mencukupi keluarga, namun memang keinginan manusia tidak pernah puas. Alasan pengalamanlah, jadi alasan utama untuk bekerja disana.


Kakakku kelihatan masih bingung, suaminya meminta agar dia ikut ke sana, namun disisi lain Hafidz yang sekarang berusia 15 tahun tidak ingin ikut bersamanya. Dia memintaku untuk menjaga Hafidz selama mereka diluar negeri dan entah sampai kapan mereka disana.

Aku yang juga mempunyai seorang putri berusia enam tahun. Aku belum bisa menyanggupi keinginan kakakku. Aku harus berdiskusi dengan suamiku dulu. Tapi beruntunglah suamiku orang yang bijaksana, dia setuju saja jika ini untuk kebaikan semua pihak. Anakku juga mungkin senang ada teman main di rumah dengan sepupunya.

Akhirnya merekapun pergi ke luar negeri tanpa Hafidz. Setuju atau tidaknya Hafidz mungkin tak berpengaruh apapun pada kepergian mereka. Sejak itu Hafidz tinggal bersamaku di Bandung.

***

Hafidz anak yang baik, namun sedikit pendiam. Jika ada suatu masalah dia lebih cenderung diam dan menyelesaikan masalahnya dengan cara dia sendiri. Sejak orangtuanya tinggal diluar negeri sifat pendiam Hafidz tambah menjadi-jadi. Pernah aku ceritakan pada kakakku, namun dia hanya bilang, “Mungkin dia kangen orangtuanya, nanti juga terbiasa”. Hanya itu tanggapannya.

Tahun pertama, kurasakan masih baik-baik saja. Hafidz masih melakukan rutinitas harian seperti biasa. Nilai rapotnya juga masih lumayan, namun sikap pendiamnya memang tidak berubah. Di rumah , dia lebih senang menyendiri di kamar. Bisa dihitung jari dia keluar kamar. Hanya untuk makan, mandi, dan berangkat sekolah. Selepas itu dia lebih senang di kamarnya. Akupun tak tahu dia mengerjakan apa. Namun selama tidak ada sikap yang mencurigakan, aku biarkan saja. Aku percaya dia anak yang baik.

Menginjak tahun kedua di rumahku, sikap Hafidz agak berubah, dia mengusulkan untuk ditambah uang sakunya tiap hari. Aku bicarakan ini dengan kakakku dan kakakku setuju, dia berkata, “Berikan saja sesuai yang dia minta”. Aku sebenarnya kurang setuju dengan pendapat kakakku, namun aku juga tak bisa menolak keinginannya.

Suatu hari, Hafidz bicara padaku kalau dia cape pergi ke sekolah dengan naik angkot, dia ingin dibelikan motor. Menurutku itu permintaan yang wajar, banyak anak-anak seusia Hafidz yang mungkin juga meminta hal yang sama. Ketika aku katakan pada kakakku, lagi-lagi beliau menyanggupi. Uang untuk membeli motor mungkin hal yang kecil buatnya. Segala kebutuhan Hafidz terpenuhi. Tak pernah ada satu hal pun yang tidak pernah disanggupi.

***

Akhir-akhir ini, Hafidz berubah sikap. Dia sering pulang larut malam, setiap aku Tanya, dia hanya menjawab pergi kerja kelompok. Pernah aku marahi, tapi dia seolah tak peduli. Bahkan pernah suatu hari aku mencium bau alkohol di kamarnya. Suamiku juga pernah mengingatkan, namun Hafidz tak pernah sekalipun menggubrisnya.

Bulan berganti, kelakuan Hafidz makin menjadi, teguran dari sekolah karena sering tak masuk membuatku tambah geram. Belum lagi permintaan budget yang sudah tidak terkontrol. Jika aku membatasi, dia sendiri yang meminta langsung kepada orangtuanya. Dia semakin tak terkendali dan aku merasa tak sanggup lagi untuk mengurusnya.

Suatu hari suamiku menyarankanku untuk memberikan les tambahan pada Hafidz untuk menekan waktu bermain Hafidz diluar jam sekolah. Aku coba mendaftarkan dia les pada sebuah lembaga belajar tak jauh dari rumah. Dengan sedikit memaksa akhirnya Hafidz setuju. Ketika ada jadwal les dia pergi untuk belajar dan pulang setelah waktu les berakhir. Tak ada masalah dan aku berharap Hafidz ada perubahan. Namun tak disangka, suatu hari ada telepon dari lembaga belajar tempat Hafidz les bahwa Hafidz hanya masuk dua kali. Lalu selebihnya Hafidz kemana??? Entahlah…

Hari itu, aku berencana akan berbelanja ke swalayan dekat rumah. Aku ajak putriku, karena dia memang senang sekali kalau Ibunya pergi belanja. Di swalayan aku bertemu dengan tetanggaku yang sama-sama lagi belanja. Kebiasaan ibu-ibu pasti ngobrol dulu sebelum pulang. Waktu itu tetanggaku memberikan kabar kalau Hafidz setiap sore selalu ikutan genk motor anak-anak remaja seusianya, ugal-ugalan, kebut-kebutan. Ya ampun…desahku dalam hati.

***

Sampai di rumah, hari sudah sore, ku lihat suamiku sudah pulang dari kantor dan sedang beristirahat didepan TV. Dia melihatku dengan tatapan aneh, mungkin dia tahu kalau aku sedang kesal dengan sifat Hafidz yang semakin keterlaluan.

Suamiku tanya, ”Kenapa Bu, denger kabar yah tentang Hafidz?”. Aku hanya mengangguk.

Setelah sedikit tenang kuceritakan semuanya. Suamiku menyarankan untuk berkata apa yang terjadi pada kakakku. Selama ini aku memang sedikit meredam kelakuan anaknya ke kakakku, karena ku fikir, mereka disana banyak pekerjaan dan aku takut aku malah membebani pikiran mereka. Namun setelah aku fikir-fikir, benar juga pendapat suamiku. Seharusnya, seorang anak itu adalah tanggungjawab orangtuanya, bukan orang lain, walapun orang itu masih kerabatnya.

***

Suatu hari aku ceritakan hal ini pada kakakku, semuanya, dari mulai Hafidz bolos sekolah, bau-bau alkohol, tidak pernah pergi les, geng-geng motor yang tak karuan, dan banyak lagi hal lainnya. Aku sudah tak sanggup lagi merawat dia. Sekarang aku lebih mendiamkan Hafidz, apapun yang dia lakukan terserahlah, toh dia bukan anakku. Begitu fikirku.

Setelah aku ceritakan hal itu, kakakku dan suaminya berniat untuk mengambil cuti bekerja dan pulang dulu ke tanah air beberapa waktu untuk membereskan masalah hafidz. Siang itu aku jemput kakakku di Bandara Jakarta. Bertemulah aku dengan Kakakku, setelah mengobrol sekedarnya Kamipun bermaksud untuk segera ke Bandung. Setelah perjalanan sekitar 3 jam Jakarta-Bandung, akhirnya kita sampai di rumah. Kulihat Hafidz sedang duduk didepan TV. Setelah mereka saling berpelukan melepas rindu, Hafidz langsung masuk ke kamarnya. Aneh, tak kulihat wajah kerinduan di hati anak itu. Padahal beberapa tahun mereka tidak bertemu, mungkin hanya melalui telepon mereka berkomunikasi itupun hanya seminggu sekali paling sering.

***

Keesokan harinya, waktu sudah sore hari menjelang malam, Kamipun berkumpul di ruang tengah sambil menikmati teh hangat. Kota Bandung sangat dingin sore itu, mungkin karena seringnya diguyur hujan. Kami berniat untuk menyelesaikan masalah Hafidz yang sudah tidak karuan. Dipanggillah Hafidz dari dalam kamar. Dia datang dan ikut berkumpul.

Ayah Hafidz seolah tak sabar untuk meluapkan emosi selama ini. Dia langsung mengintograsi Hafidz, namun dengan wajah tenang Hafidz menjawab, “Aku tak butuh uang melimpah, aku tak butuh kekayaan Ayah dan Ibu, aku hanya ingin Ayah dan Ibu ada disini...”. Itulah yang dikatakan Hafidz. Kami semuapun diam sejenak.

Kemudian Hafidzpun melanjutkan perkataannya, ”Aku mencari kesenangan diluar, karena tak pernah aku dapatkan kesenangan disini, aku ingin seperti teman-teman lain, ketika pulang sekolah ada orangtua yang menyambut, ketika ada masalah, ada Ibu yang mendengarkan, aku ingin seperti mereka…Namun, apa yang ku punya, orangtuaku hanyalah selembar uang...”

Kami semua diam tak ada yang bicara sepatah katapun. Untuk pertama kalinya anak yang kurasa pendiam itu mengungkapkan isi hatinya didepan orangtuanya.

***


Semua dapat diambil hikmahnya, apalagi untuk aku yang memang sudah punya seorang anak. Harus kusadari kasih sayang orangtua memang tak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Awalnya aku mengira Hafidz berubah karena pegaulan, namun ternyata aku salah, seharusnya aku bisa lebih mengenal dia lebih dekat dan merasakan apa yang ada dihatinya. Apa yang menjadi keinginanannya, dan apa yang menjadi kegalauannya selama ini. Mungkin masih banyak diluar sana kasus anak-anak yang lebih “parah” dari kasus Hafidz, karena mungkin saja para orangtua tidak melakukan pendekatan mengenai apa yang diinginkan dan apa yang diharapan anaknya. Untuk itu, kenalilah anak kita lebih dekat, jadilah sahabat untuknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar