Muhammad Hafidz
Azizi, nama keponakanku. Kami semua memanggilnya dengan nama Hafidz. Anak
tunggal dari kakakku. Namun aku memanggilnya dengan sebutan Ade, panggilan
kesayangan buatnya, karena aku memang teramat sayang pada anak itu.
Aku dan ibunya
Hafidz yang tak lain adalah kakakku dalam keluarga hanya dua bersaudara.
Orangtua Kami sudah lama meninggal. Jadi saudara terdekat yang aku punya hanya
kakakku. Awalnya Kami tinggal satu daerah di kawasan Bogor, namun setelah aku
menikah, suami membawaku tinggal bersamanya didaerah Bandung.
Walaupun
berjauhan, komunikasi Kami tak pernah putus. Telepon, SMS, atau Chatt selalu
kita lakukan hampir setiap hari. Kami memang dua bersaudara yang cukup kompak,
memang itu yang ditanamkan orangtua Kami sejak dulu. Sayangilah saudara kita
masing-masing.
***
Suatu hari
kakakku menelponku dan mengabari bahwa suaminya diterima bekerja di luar
negeri, di NewYork. Luar biasa pikirku. Sempat aku bertanya, kenapa harus
diluar negeri, di negeri sendiri saja gaji beliau sudah besar dan bisa
mencukupi keluarga, namun memang keinginan manusia tidak pernah puas. Alasan
pengalamanlah, jadi alasan utama untuk bekerja disana.
Kakakku
kelihatan masih bingung, suaminya meminta agar dia ikut ke sana, namun disisi
lain Hafidz yang sekarang berusia 15 tahun tidak ingin ikut bersamanya. Dia
memintaku untuk menjaga Hafidz selama mereka diluar negeri dan entah sampai
kapan mereka disana.
Aku yang juga
mempunyai seorang putri berusia enam tahun. Aku belum bisa menyanggupi keinginan kakakku.
Aku harus berdiskusi dengan suamiku
dulu. Tapi beruntunglah suamiku orang yang bijaksana,
dia setuju saja jika ini untuk kebaikan semua pihak. Anakku juga mungkin senang
ada teman main di rumah dengan sepupunya.
Akhirnya merekapun pergi ke
luar negeri tanpa Hafidz. Setuju atau tidaknya Hafidz mungkin tak berpengaruh
apapun pada kepergian mereka. Sejak itu Hafidz tinggal bersamaku di Bandung.
***
Hafidz anak yang
baik, namun sedikit pendiam. Jika ada suatu masalah dia lebih cenderung diam
dan menyelesaikan masalahnya dengan cara dia sendiri. Sejak orangtuanya tinggal
diluar negeri sifat pendiam Hafidz tambah menjadi-jadi. Pernah aku ceritakan
pada kakakku, namun dia hanya bilang,
“Mungkin dia kangen
orangtuanya, nanti juga terbiasa”. Hanya itu tanggapannya.
Tahun pertama, kurasakan
masih baik-baik saja. Hafidz masih melakukan rutinitas harian seperti biasa.
Nilai rapotnya juga masih lumayan, namun sikap pendiamnya memang tidak berubah.
Di rumah , dia lebih senang menyendiri di kamar. Bisa dihitung jari
dia keluar kamar. Hanya untuk makan, mandi, dan berangkat sekolah. Selepas itu
dia lebih senang di kamarnya. Akupun tak tahu dia mengerjakan apa. Namun selama tidak ada sikap
yang mencurigakan, aku biarkan saja. Aku percaya dia anak yang baik.
Menginjak tahun
kedua di rumahku, sikap Hafidz agak berubah, dia mengusulkan untuk ditambah
uang sakunya tiap hari. Aku bicarakan ini dengan kakakku dan kakakku setuju,
dia berkata, “Berikan saja sesuai yang dia minta”. Aku sebenarnya kurang setuju dengan pendapat
kakakku, namun aku juga tak bisa menolak keinginannya.
Suatu hari,
Hafidz bicara padaku kalau dia cape pergi ke sekolah dengan naik
angkot, dia ingin dibelikan motor. Menurutku
itu permintaan yang wajar, banyak anak-anak seusia
Hafidz yang mungkin juga meminta hal yang sama. Ketika aku katakan pada kakakku, lagi-lagi beliau
menyanggupi. Uang untuk membeli motor mungkin hal yang kecil buatnya. Segala kebutuhan Hafidz
terpenuhi. Tak pernah ada satu hal pun yang tidak pernah disanggupi.
***
Akhir-akhir ini,
Hafidz berubah sikap. Dia sering pulang larut malam, setiap aku Tanya, dia
hanya menjawab pergi kerja kelompok. Pernah aku marahi, tapi dia
seolah tak peduli. Bahkan pernah suatu hari aku mencium bau alkohol di kamarnya.
Suamiku juga pernah mengingatkan, namun Hafidz tak pernah sekalipun
menggubrisnya.
Bulan berganti,
kelakuan Hafidz makin menjadi, teguran dari sekolah karena sering tak masuk
membuatku tambah geram. Belum lagi permintaan budget yang sudah tidak terkontrol. Jika aku membatasi, dia sendiri
yang meminta langsung kepada orangtuanya. Dia semakin tak terkendali dan aku merasa tak
sanggup lagi untuk mengurusnya.
Suatu hari
suamiku menyarankanku untuk memberikan les tambahan pada Hafidz untuk menekan waktu
bermain Hafidz diluar jam sekolah. Aku coba mendaftarkan dia les pada sebuah
lembaga belajar tak jauh dari rumah. Dengan sedikit memaksa akhirnya Hafidz
setuju. Ketika ada jadwal les dia pergi
untuk belajar dan pulang setelah waktu les berakhir. Tak ada masalah dan aku
berharap Hafidz ada perubahan. Namun tak disangka, suatu hari ada telepon dari
lembaga belajar tempat Hafidz les bahwa Hafidz hanya masuk dua kali. Lalu selebihnya Hafidz
kemana??? Entahlah…
Hari itu, aku
berencana akan berbelanja ke swalayan dekat rumah. Aku ajak putriku, karena dia
memang senang sekali kalau Ibunya pergi belanja. Di swalayan aku bertemu dengan tetanggaku yang
sama-sama lagi belanja. Kebiasaan ibu-ibu pasti ngobrol dulu sebelum pulang. Waktu itu
tetanggaku memberikan kabar kalau Hafidz setiap sore selalu ikutan genk motor
anak-anak remaja seusianya, ugal-ugalan, kebut-kebutan. Ya ampun…desahku dalam
hati.
***
Sampai di rumah, hari sudah sore, ku lihat
suamiku sudah pulang dari kantor dan sedang beristirahat didepan TV. Dia
melihatku dengan tatapan aneh, mungkin dia tahu kalau aku sedang kesal dengan
sifat Hafidz yang semakin keterlaluan.
Suamiku tanya, ”Kenapa Bu, denger
kabar yah tentang Hafidz?”. Aku hanya mengangguk.
Setelah sedikit
tenang kuceritakan semuanya. Suamiku menyarankan untuk berkata apa yang terjadi
pada kakakku. Selama ini aku memang sedikit meredam kelakuan anaknya ke
kakakku, karena ku fikir, mereka disana banyak pekerjaan dan aku takut aku
malah membebani pikiran mereka. Namun setelah aku fikir-fikir, benar juga pendapat suamiku.
Seharusnya, seorang anak itu adalah tanggungjawab orangtuanya, bukan orang
lain, walapun orang itu masih kerabatnya.
***
Suatu hari aku
ceritakan hal ini pada kakakku, semuanya, dari mulai Hafidz bolos sekolah,
bau-bau alkohol, tidak pernah pergi les, geng-geng motor yang tak karuan, dan
banyak lagi hal lainnya. Aku sudah tak sanggup lagi merawat dia. Sekarang aku
lebih mendiamkan Hafidz, apapun yang dia lakukan terserahlah, toh dia bukan
anakku. Begitu fikirku.
Setelah aku
ceritakan hal itu, kakakku dan suaminya berniat untuk mengambil cuti bekerja
dan pulang dulu ke tanah air beberapa waktu untuk membereskan masalah hafidz.
Siang itu aku jemput kakakku di Bandara Jakarta. Bertemulah aku dengan Kakakku, setelah mengobrol sekedarnya Kamipun
bermaksud untuk segera ke Bandung. Setelah perjalanan
sekitar 3 jam Jakarta-Bandung, akhirnya kita sampai di rumah. Kulihat Hafidz
sedang duduk didepan TV. Setelah mereka saling berpelukan melepas rindu, Hafidz
langsung masuk ke kamarnya. Aneh, tak kulihat wajah kerinduan di hati anak itu.
Padahal beberapa tahun mereka tidak bertemu, mungkin hanya melalui telepon mereka berkomunikasi
itupun hanya seminggu sekali paling sering.
***
Keesokan
harinya, waktu sudah sore hari menjelang malam, Kamipun berkumpul di ruang tengah sambil
menikmati teh hangat. Kota Bandung sangat dingin sore itu, mungkin karena
seringnya diguyur hujan. Kami berniat untuk menyelesaikan masalah Hafidz yang
sudah tidak karuan. Dipanggillah Hafidz dari dalam kamar. Dia datang dan ikut
berkumpul.
Ayah Hafidz
seolah tak sabar untuk meluapkan emosi selama ini. Dia langsung mengintograsi
Hafidz, namun dengan wajah tenang Hafidz menjawab, “Aku tak butuh uang
melimpah, aku tak butuh kekayaan Ayah dan Ibu, aku hanya ingin Ayah dan Ibu ada
disini...”. Itulah yang dikatakan Hafidz. Kami semuapun diam sejenak.
Kemudian Hafidzpun
melanjutkan perkataannya, ”Aku mencari kesenangan diluar, karena tak pernah aku dapatkan
kesenangan disini, aku ingin seperti teman-teman lain, ketika pulang sekolah
ada orangtua yang menyambut, ketika ada masalah, ada Ibu yang mendengarkan, aku ingin seperti mereka…Namun, apa yang ku punya,
orangtuaku hanyalah selembar uang...”
Kami semua diam
tak ada yang bicara sepatah katapun. Untuk pertama kalinya anak yang kurasa
pendiam itu mengungkapkan isi hatinya didepan orangtuanya.
***
Semua dapat
diambil hikmahnya, apalagi untuk aku yang memang sudah punya seorang anak. Harus kusadari kasih
sayang orangtua memang tak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Awalnya aku
mengira Hafidz berubah karena pegaulan, namun ternyata aku salah, seharusnya
aku bisa lebih mengenal dia lebih dekat dan merasakan apa yang ada dihatinya. Apa yang
menjadi keinginanannya, dan apa yang menjadi kegalauannya selama ini. Mungkin
masih banyak diluar sana kasus anak-anak yang lebih “parah” dari kasus Hafidz,
karena mungkin saja para orangtua tidak melakukan pendekatan mengenai apa
yang diinginkan dan apa yang diharapan anaknya. Untuk itu, kenalilah anak kita lebih
dekat, jadilah sahabat untuknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar