4 Jan 2012

Cinta dan Persahabatan


Tiga orang sahabat sedang asyik bercengkrama didepan kelas sambil menunggu dosen untuk bimbingan tugas akhir mereka. Pembicaraan masih seputar masa depan setelah kelulusan. Salsa dan Hanif ingin bekerja di tanah air sesuai jurusan yang mereka ambil, ilmu komunikasi. Mereka ingin menjadi jurnalis yang handal. Sedangkan Ilyas memilih meneruskan sekolah S2 nya di negeri orang, negeri kangguru yang dia pilih.

Selama penyusunan tugas akhir, Salsa sering dibantu banyak oleh Ilyas, dari mulai mencari data untuk skripsinya sampai menjadi supir pribadi mengantar Salsa kemanapun dia pergi. Berbeda dengan Hanif yang memilih lebih fokus mengerjakan sendiri tugas akhirnya.

***

Suatu hari Ilyas berniat untuk menemui Hanif di rumahnya. Sambil mengendarai mobil Avanza silvernya, tibalah dia di rumah Hanif. Setelah ngobrol panjang lebar seputar tugas akhirnya, Ilyaspun mengalihkan pembicaraan ke hal pokok, pembicaraan yang membawanya melaju ke rumah Hanif. Tentang perasaan. Perasaannya kepada sahabat perempuannya, Salsa.

Waktu yang telah membuat Ilyas menaruh hati pada Salsa. Mungkin karena seringnya bertemu, atau karena hal lain yang membuat dia mempunyai perasaan lain. Ilyas berniat untuk mengungkapkan perasaannya dan melamar Salsa setelah mereka lulus kuliah nanti. Ilyas berharap setelah dia menyelesaikan S2 nya, dia akan langsung menikahi Salsa.

Hanif sempat kaget mendengar penuturan karibnya, karena selama ini yang dia tahu, Ilyas memperlakukan Salsa biasa saja, layaknya seorang sahabat. Hanif sempat bertanya apa yang membuat Ilyas menaruh hati kepada sahabatnya itu. Ilyas hanya menjawab “Cinta itu tak butuh alasan, cinta bisa datang kapan saja, tak perlu memandang orang itu siapa, cinta bukan dirasakan dengan ego, tapi dirasakan dengan hati, cinta yang dianggap masih berada dalam aturan-NYA” begitu penuturan Ilyas.

Hanif pun terdiam, dihatinya bergejolak, karena sesungguhnya diapun merasakan apa yang dirasakan sahabatnya. Salsa adalah gadis yang sederhana, lahir dari keluarga yang biasa saja, kecerdasannyapun standar, namun secara fisik memang Salsa gadis yang manis.   Namun Hanifpun tak mengerti kenapa diapun merasakan perasaan yang sama seperti apa yang Ilyas rasakan kepada Salsa. Tapi Hanif tak ingin mengecewakan sahabatnya, dia memilih memendam perasaan itu. Jodoh sudah diatur, begitu fikirnya.

***

Hari kelulusan itupun tiba. Suka cita, bahagia, keceriaan, bersyukur yang tiada tara kepada Allah SWT, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu itu pun datang juga. Kelelahan, perjuangan, pengorbanan selama ini terbayar lunas pada hari itu. Hari kelulusan. Berharap ilmu yang mereka dapat bisa berguna untuk kepentingan orang banyak.

Seminggu berlalu, Ilyas berniat mengadakan acara syukuran dirumahnya, tentunya dia mengundang dua sahabatnya Hanif dan Salsa. Bukan hanya acara syukuran kelulusan, tapi juga acara perpisahan karena seminggu kemudian Ilyas harus terbang ke negeri kangguru untuk melanjutkan S2 nya. Di hari itupun Ilyas berniat untuk mengungkapkan perasaannya kepada sahabat perempuannya. Ilyas berharap akan mendapatkan jawaban sesuai dengan harapannya. Jawaban yang indah, yang akan dia kemas dan dibawanya pergi ke negeri orang.

Sore itu, acara syukuran pun dilaksanakan. Hanif duduk dibarisan paling depan. Namun tak terlihat gadis manis itu. Tiba-tiba ada bunyi sms. Sebuah kabar yang sangat tidak mengenakkan hati bagi Ilyas. Gadis itu tak bisa hadir karena dia harus keluar kota dan baru kembali dua minggu kemudian. Berita inipun dia sampaikan kepada Hanif sahabatnya.  Ilyas berkata, “Seandainya aku tak sempat bertemu Salsa dan mengungkapkan perasaanku, tolong jaga dia baik-baik” itu pesan Ilyas. Hanif hanya mengangguk. Anggukan yang tak tahu apa arti dibalik semua itu.

Tujuh hari berlalu, waktu dimana Ilyas harus meninggalkan tanah air dalam waktu yang lumayan lama. Dua tahun, mungkin bisa lebih. Sebelum pergi dia berharap bisa menghubungi Salsa, namun handphonenya tidak aktif terus. Entah dimana gadis itu berada.

Mobil melaju kencang menuju bandara, masih ada beban di hati, masih ada rasa yang tak harus dia bawa dengan kecemasan. Rasa dengan penuh pengharapan, namun dia yakin Sang Maha Kuasa pasti menunjukkan jalan terbaik itu. Jika gadis itu bukan jodohnya, pasti ada jodoh lain yang sudah dipersiapkan untuknya. Namun entah kenapa langkah Ilyas begitu berat. Pintu masuk bandarapun terbuka, setelah berpamitan kepada kedua orangtua dan sahabatnya Hanif yang ikut mengantar saat itu, untuk terakhir kalinya Ilyas menoleh ke belakang, berharap ada sosok yang dia harapkan datang kesana. Namun mustahil fikirnya.

***

Kehidupan di Australia berbeda dengan kehidupan di tanah air. Jauh dari orangtua, sahabat, dan orang-orang terkasih. Satu tahun di negeri orang membuatnya tambah dewasa, membuatnya jauh berubah dari Ilyas sebelumnya, hanya satu yang tak berubah, pengharapan pada sang gadis. Setelah satu tahun berpisah, Ilyas pun sangat kesulitan menghubungi dua sahabatnya itu. Telepon gak pernah nyambung, suratpun tak pernah ada balasan. Entah kemana mereka. Mudah-mudahan masih ada cinta dan persahabatan di hati karibnya untuk dia.

Dua tahun berlalu, jangka waktu yang cukup lama. Semua bisa berubah, semua bisa terjadi, semua serba mungkin. Semua sudah diatur. Apapun yang terjadi hadapilah.
Hari yang ditunggu-tunggu, saatnya Ilyas pulang dengan membawa kabar baik untuk keluarga, orangtua dan berharap untuk sahabatnya. Berjuta rindu, berjuta cerita, ingin dia ungkapkan nanti. Buah tangan khas negeri kangguru telah dia siapkan untuk orang-orang terkasih dan tentunya perasaan yang selama ini dia pendam. Masih….masih dia rasakan, tak pernah ada yang berubah sedikitpun.

Suasana bandara sangat berbeda dengan yang dirasakan dua tahun yang lalu. Saat ini bandara diselimuti dengan canda tawa, keceriaan, dan suka cita. Ilyas pun disambut hangat oleh keluarga tercinta. Namun tak tampak dua sahabatnya itu, mungkin mereka tak tahu kapan dia kembali karena selama dua tahun tak ada komunikasi sama sekali.

***

Suasana rumah dan kamar di tanah air tak pernah berubah sejak dia di Australia. Masih sejuk, masih nyaman, tak ada duanya. Ilyaspun merebahkan tubuh di kasurnya, menerawang ke kejadian dua tahun yang lalu, kapan terakhir kali dia bertemu Salsa, diapun hampir lupa. Dimana keberadaan  Salsa pun, dia tidak tahu, orang rumahpun tak pernah mendapat kabar apapun tentang sahabatnya itu.

Tiba-tiba telepon di rumahnya berbunyi, ada panggilan untuk Ilyas, ketika diangkat ternyata dari Hanif sahabatnya. Alangkah bahagianya dia. Ilyaspun langsung menanyakan keberadaan Salsa dan hanif hanya bilang “Nanti pasti akan ketemu” hanya itu. Tak banyak kata yang mereka ucapkan, Hanif pun mengajak Ilyas untuk bertemu disuatu tempat minggu depan, untuk melepas rindu, berbagi cerita. Tentu Ilyaspun menyambutnya dengan gembira.

Hari itu, hari mereka akan bertemu, hari yang Ilyas tunggu, sesuatu telah dipersiapkan untuk sahabatnya. Hari itu suasana sudah sore menjelang malam. Ilyas sudah berada ditempat berkumpul mereka dulu ketika masih bersama-sama. Tempat kenangan tiga sahabat. Sebuah café dengan nuansa pemandangan yang indah.

Ilyas sudah datang, tepat sesuai waktu yang telah dijanjikan, tak lama kemudian Hanif pun datang. Sendiri tanpa ada pendamping. Ilyas berbisik dalam hati “Mungkin sahabatku itu belum menikah”. Saling peluk, saling canda, tapi ada keharuan disana. Tak ada yang membuat Ilyas lebih bahagia saat itu selain melihat senyum kawannya itu.  Namun entah kenapa, ada yang berbeda dari Hanif, dia selalu menatap Ilyas dengan tatapan haru. Tatapan yang tak biasa. Entah artinya apa. Berkali-kali Hanif memohon maaf, sampai-sampai Ilyas bingung, Hanif mempunyai salah apa sama dia. Hanif sahabat terbaik, dia tak pernah menyakitinya. Tak pernah sedikitpun. Rasa anehpun bertambah, setiap Ilyas bertanya tentang Salsa, dia selalu menjawab…”Salsa baik-baik saja dan sebentar lagi kamu akan bertemu dengannya”.

Satu jam pun berlalu, Hanif menatap Ilyas lagi, lagi-lagi tatapan aneh. Dan kali ini bukan hanya sekedar tatapan tapi juga pemaparan tentang sesuatu hal.

 “Yas…ada yang ingin aku bicarakan” kata Hanif. Ilyas menanggapi dengan candanya yang khas. 

“Bukannya dari tadi kita udah bicara…” jawabnya.

“Ini tentang istriku” kata Hanif.

“Apa??? Kamu sudah menikah?” tanya Ilyas heran.

“Iya…enam bulan setelah kamu pergi” jawabnya.

“Mana istrimu, aku ingin berkenalan…” kata Ilyas.

“Sebentar lagi dia akan kesini ”jawab Hanif.

Tak lama kemudian, Hanifpun menunjuk seorang perempuan yang datang menghampiri mereka.
Terlihat dari sudut café itu sesosok makhluk cantik dengan kerudung merah, bergaun hitam, sangat anggun, wanita yang Ilyas kenal. Salsa. Wanita yang dia harapkan. Wanita yang dia bawa bayangannya ke negeri orang, bayangan yang menemaninya setiap hari. Lalu apa maksud Hanif menunjuk wanita itu.

“Salsa adalah istriku, Yas…” bisik Hanif.

Tak ada kata lagi setelah itu, semua diam dalam waktu beberapa menit. Sempat hancur hati Ilyas, tapi apa mau dikata. Hanif berjodoh dengan Salsa. Ini bukan pengkhianatan. Ini takdir. Takdir yang harus dia jalani. Takdir yang harus dilalui dengan keilkhasan.

“Maafkan aku…” bisik Hanif sambil memeluk Ilyas.

Dengan mencoba berbesar hati Ilyas berkata…”Sebelum aku pergi, aku pernah memintamu untuk menjaga Salsa baik-baik dan kamu sudah tepati itu kawan, berbahagialah…jagalah dia seumur hidupmu” kata Ilyas.  Setelah berjabat tangan, Ilyaspun pamit untuk pulang.


Sambil melangkah pergi meninggalkan dua sahabatnya itu, Ilyas berbisik dalam hati…”Ini hanya bagian kecil dalam hidup yang harus aku lewati…semoga aku kuat...”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar