Tiga orang
sahabat sedang asyik bercengkrama didepan kelas sambil menunggu dosen untuk
bimbingan tugas akhir mereka. Pembicaraan masih seputar masa depan setelah
kelulusan. Salsa dan Hanif ingin bekerja di tanah air sesuai jurusan yang
mereka ambil, ilmu komunikasi. Mereka ingin menjadi jurnalis yang handal.
Sedangkan Ilyas memilih meneruskan sekolah S2 nya di negeri orang, negeri
kangguru yang dia pilih.
Selama
penyusunan tugas akhir, Salsa sering dibantu banyak oleh Ilyas, dari mulai
mencari data untuk skripsinya sampai menjadi supir pribadi mengantar Salsa
kemanapun dia pergi. Berbeda dengan Hanif yang memilih lebih fokus mengerjakan
sendiri tugas akhirnya.
***
Suatu hari Ilyas
berniat untuk menemui Hanif di rumahnya. Sambil mengendarai mobil Avanza silvernya, tibalah
dia di rumah Hanif. Setelah ngobrol panjang lebar seputar tugas akhirnya,
Ilyaspun mengalihkan pembicaraan ke hal pokok, pembicaraan yang membawanya
melaju ke rumah Hanif. Tentang perasaan. Perasaannya kepada sahabat
perempuannya, Salsa.
Waktu yang telah membuat Ilyas
menaruh hati pada Salsa. Mungkin karena seringnya bertemu, atau karena hal lain
yang membuat dia mempunyai perasaan lain. Ilyas berniat untuk mengungkapkan
perasaannya dan melamar Salsa setelah mereka lulus kuliah nanti. Ilyas berharap
setelah dia menyelesaikan S2 nya, dia akan langsung menikahi Salsa.
Hanif sempat
kaget mendengar penuturan karibnya, karena selama ini yang dia tahu, Ilyas
memperlakukan Salsa biasa saja, layaknya seorang sahabat. Hanif sempat bertanya
apa yang membuat Ilyas menaruh hati kepada sahabatnya itu. Ilyas hanya menjawab
“Cinta itu tak butuh alasan, cinta bisa datang kapan saja, tak perlu memandang
orang itu siapa, cinta bukan dirasakan dengan ego, tapi dirasakan dengan hati, cinta
yang dianggap masih berada dalam aturan-NYA” begitu penuturan Ilyas.
Hanif pun
terdiam, dihatinya bergejolak, karena sesungguhnya diapun merasakan apa yang
dirasakan sahabatnya. Salsa adalah gadis yang sederhana, lahir dari keluarga
yang biasa saja, kecerdasannyapun standar, namun secara fisik memang Salsa
gadis yang manis. Namun Hanifpun tak mengerti kenapa diapun
merasakan perasaan yang sama seperti apa yang Ilyas rasakan kepada Salsa. Tapi
Hanif tak ingin mengecewakan sahabatnya, dia memilih memendam perasaan itu.
Jodoh sudah diatur, begitu fikirnya.
***
Hari kelulusan
itupun tiba. Suka cita, bahagia, keceriaan, bersyukur yang tiada tara kepada
Allah SWT, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu itu pun datang juga. Kelelahan,
perjuangan, pengorbanan selama ini terbayar lunas pada hari itu. Hari
kelulusan. Berharap ilmu yang mereka dapat bisa berguna untuk kepentingan orang
banyak.
Seminggu
berlalu, Ilyas berniat mengadakan acara syukuran dirumahnya, tentunya dia mengundang
dua sahabatnya Hanif dan Salsa. Bukan hanya acara syukuran kelulusan, tapi juga
acara perpisahan karena seminggu kemudian Ilyas harus terbang ke negeri
kangguru untuk melanjutkan S2 nya. Di hari itupun Ilyas berniat untuk
mengungkapkan perasaannya kepada sahabat perempuannya. Ilyas berharap akan
mendapatkan jawaban sesuai dengan harapannya. Jawaban yang indah, yang akan dia kemas dan dibawanya pergi ke negeri orang.
Sore itu, acara
syukuran pun dilaksanakan. Hanif duduk dibarisan paling depan. Namun tak
terlihat gadis manis itu. Tiba-tiba ada bunyi sms. Sebuah kabar yang sangat
tidak mengenakkan hati bagi Ilyas. Gadis itu tak bisa hadir karena dia harus
keluar kota dan baru kembali dua minggu kemudian. Berita inipun dia sampaikan
kepada Hanif sahabatnya. Ilyas berkata,
“Seandainya aku tak sempat bertemu Salsa dan mengungkapkan perasaanku, tolong
jaga dia baik-baik” itu pesan Ilyas. Hanif hanya mengangguk. Anggukan yang tak
tahu apa arti dibalik semua itu.
Tujuh hari
berlalu, waktu dimana Ilyas harus meninggalkan tanah air dalam waktu yang
lumayan lama. Dua tahun, mungkin bisa lebih. Sebelum pergi dia berharap bisa
menghubungi Salsa, namun handphonenya tidak aktif terus. Entah dimana gadis itu berada.
Mobil melaju
kencang menuju bandara, masih ada beban di hati, masih ada rasa yang
tak harus dia bawa dengan kecemasan. Rasa dengan penuh pengharapan, namun dia
yakin Sang Maha Kuasa pasti menunjukkan jalan terbaik itu. Jika gadis itu bukan
jodohnya, pasti ada jodoh lain yang sudah dipersiapkan untuknya. Namun entah
kenapa langkah Ilyas begitu berat. Pintu masuk bandarapun terbuka, setelah berpamitan
kepada kedua orangtua dan sahabatnya Hanif yang ikut mengantar saat itu, untuk
terakhir kalinya Ilyas menoleh ke belakang, berharap ada sosok yang dia
harapkan datang kesana. Namun mustahil fikirnya.
***
Kehidupan di
Australia berbeda dengan kehidupan di tanah air. Jauh dari orangtua, sahabat,
dan orang-orang terkasih. Satu tahun di negeri orang membuatnya tambah dewasa,
membuatnya jauh berubah dari Ilyas sebelumnya, hanya satu yang tak berubah,
pengharapan pada sang gadis. Setelah satu tahun berpisah, Ilyas pun sangat
kesulitan menghubungi dua sahabatnya itu. Telepon gak pernah nyambung,
suratpun tak pernah ada balasan. Entah kemana mereka. Mudah-mudahan masih ada cinta
dan persahabatan di hati karibnya untuk dia.
Dua tahun
berlalu, jangka waktu yang cukup lama. Semua bisa berubah, semua bisa terjadi,
semua serba mungkin. Semua sudah diatur. Apapun yang terjadi hadapilah.
Hari yang
ditunggu-tunggu, saatnya Ilyas pulang dengan membawa kabar baik untuk keluarga,
orangtua dan berharap untuk sahabatnya. Berjuta rindu, berjuta cerita, ingin
dia ungkapkan nanti. Buah tangan khas negeri kangguru telah dia siapkan untuk
orang-orang terkasih dan tentunya perasaan yang selama ini dia pendam. Masih….masih
dia rasakan, tak pernah ada yang berubah sedikitpun.
Suasana bandara
sangat berbeda dengan yang dirasakan dua tahun yang lalu. Saat ini bandara
diselimuti dengan canda tawa, keceriaan, dan suka cita. Ilyas pun disambut
hangat oleh keluarga tercinta. Namun tak tampak dua sahabatnya itu, mungkin
mereka tak tahu kapan dia kembali karena selama dua tahun tak ada komunikasi
sama sekali.
***
Suasana rumah dan kamar di tanah air tak pernah
berubah sejak dia di Australia. Masih sejuk, masih nyaman, tak ada duanya.
Ilyaspun merebahkan tubuh di kasurnya, menerawang ke kejadian dua tahun yang
lalu, kapan terakhir kali dia bertemu Salsa, diapun hampir lupa. Dimana keberadaan Salsa pun, dia tidak tahu, orang rumahpun tak
pernah mendapat kabar apapun tentang sahabatnya itu.
Tiba-tiba
telepon di rumahnya berbunyi, ada panggilan untuk Ilyas, ketika diangkat
ternyata dari Hanif sahabatnya. Alangkah bahagianya dia. Ilyaspun langsung
menanyakan keberadaan Salsa dan hanif hanya bilang “Nanti pasti akan ketemu”
hanya itu. Tak banyak kata yang mereka ucapkan, Hanif pun mengajak Ilyas untuk
bertemu disuatu tempat minggu depan, untuk melepas rindu, berbagi cerita. Tentu
Ilyaspun menyambutnya dengan gembira.
Hari itu, hari
mereka akan bertemu, hari yang Ilyas tunggu, sesuatu telah dipersiapkan untuk
sahabatnya. Hari itu suasana sudah sore menjelang malam. Ilyas
sudah berada ditempat berkumpul mereka dulu ketika
masih bersama-sama. Tempat kenangan tiga sahabat. Sebuah café dengan nuansa
pemandangan yang indah.
Ilyas sudah datang,
tepat sesuai waktu yang telah dijanjikan, tak lama kemudian Hanif pun datang.
Sendiri tanpa ada pendamping. Ilyas berbisik dalam hati “Mungkin sahabatku itu
belum menikah”. Saling peluk, saling canda, tapi ada keharuan disana. Tak ada
yang membuat Ilyas lebih bahagia saat itu selain melihat senyum kawannya itu. Namun entah kenapa, ada yang berbeda dari
Hanif, dia selalu menatap Ilyas dengan tatapan haru. Tatapan yang tak biasa.
Entah artinya apa. Berkali-kali Hanif memohon maaf, sampai-sampai Ilyas bingung,
Hanif mempunyai salah apa sama dia. Hanif sahabat terbaik, dia tak pernah
menyakitinya. Tak pernah sedikitpun. Rasa anehpun bertambah, setiap Ilyas
bertanya tentang Salsa, dia selalu menjawab…”Salsa baik-baik saja dan sebentar
lagi kamu akan bertemu dengannya”.
Satu jam pun
berlalu, Hanif menatap Ilyas lagi, lagi-lagi
tatapan aneh. Dan kali ini bukan hanya sekedar tatapan
tapi juga pemaparan tentang sesuatu hal.
“Yas…ada yang ingin aku
bicarakan” kata Hanif. Ilyas menanggapi dengan candanya yang khas.
“Bukannya
dari tadi kita udah bicara…” jawabnya.
“Ini tentang istriku” kata Hanif.
“Apa??? Kamu sudah menikah?” tanya Ilyas heran.
“Iya…enam bulan setelah kamu pergi” jawabnya.
“Mana istrimu, aku ingin berkenalan…” kata Ilyas.
“Sebentar lagi dia akan kesini ”jawab Hanif.
Tak lama kemudian, Hanifpun menunjuk seorang perempuan yang datang
menghampiri mereka.
Terlihat dari sudut café itu sesosok makhluk cantik dengan kerudung
merah, bergaun hitam, sangat anggun, wanita yang Ilyas kenal. Salsa. Wanita yang
dia harapkan. Wanita yang dia bawa bayangannya ke negeri orang, bayangan yang
menemaninya setiap hari. Lalu apa maksud Hanif menunjuk wanita itu.
“Salsa adalah
istriku, Yas…” bisik Hanif.
Tak ada kata
lagi setelah itu, semua diam dalam waktu beberapa menit. Sempat hancur hati
Ilyas, tapi apa mau dikata. Hanif berjodoh dengan Salsa. Ini bukan
pengkhianatan. Ini takdir. Takdir yang harus dia jalani. Takdir yang harus
dilalui dengan keilkhasan.
“Maafkan aku…” bisik Hanif
sambil memeluk Ilyas.
Dengan mencoba
berbesar hati Ilyas berkata…”Sebelum aku pergi, aku pernah memintamu untuk
menjaga Salsa baik-baik dan kamu sudah tepati itu kawan, berbahagialah…jagalah dia seumur hidupmu”
kata Ilyas. Setelah berjabat tangan,
Ilyaspun pamit untuk pulang.
Sambil melangkah
pergi meninggalkan dua sahabatnya itu, Ilyas berbisik dalam hati…”Ini hanya
bagian kecil dalam hidup yang harus aku lewati…semoga aku kuat...”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar