Masih dengan
mukena yang lusuh, Ibu sholat sangat khusuk sekali walaupun di rumah
kontrakan Kami yang sangat sempit. Kami tinggal berdua setelah musibah longsor
di daerah Kami yang menewaskan Ayah dan Kakak Kami. Dulu…Kami hidup
cukup sederhana, Ayah yang hanya seorang kuli bangunan namun Kami selalu
mencoba merasa cukup atas rejeki yang Allah SWT berikan. Dengan penghasilan
Ayah yang sangat pas-pasan untuk makan, tapi orangtua Kami selalu berusaha
menabung untuk sekolah Aku dan Kakakku. Ibu hanya seorang penjual gorengan
didepan rumah, lumayan, untuk membantu perekonomian keluarga.
Aku seorang anak
laki-laki, usiaku 18 tahun, aku duduk dibangku SMU, satu tahun lagi lulus.
Untuk membiayai sekolahku, aku bekerja sepulang sekolah menjadi pekerja di
rumah Pak Achmad, seorang yang cukup terpandang didaerah Kami sekaligus pemilik
kontrakan tempat aku dan Ibu tinggal sekarang. Alasan beliau memperkerjakan aku
mungkin karena melihat perekonomian aku dan Ibu yang sangat mengkhawatirkan. Didaerah itu beliau terkenal dengan sifat kedermawanannya.
Gajiku tak
seberapa, untuk biaya sekolah dan makan sudah terpenuhipun, aku sudah mengucap kata syukur tak terhingga. Ini pertolongan
Allah SWT melalui tangan Pak Achmad. Aku tulang punggung keluarga saat ini, Ibu
tidak mungkin bekerja karena kondisi fisiknya yang sudah tidak memungkinkan.
Ibu sudah sakit-sakitan, setelah Ayah meninggal, penyakit Ibu jadi tambah
parah.
***
Ba’da Magrib,
hari minggu…seperti biasa aku pulang ke rumah setelah bekerja
seharian menjadi ‘kuli’ di rumah Pak Achmad. Jika waktu libur, aku seharian
bekerja, berbeda dengan hari sekolah, aku cuman bisa melakukan pekerjaan itu
setengah hari saja sepulang sekolah. Merapikan kebun, cuci mobil atau motor,
bersih-bersih rumah, apapunlah…Pak Achmad cukup senang dengan pekerjaanku
selama ini.
Sesampainya di
rumah. Kuucapkan salam dan Ibu hanya menjawab seperlunya, mungkin Ibu sedang berdzikir di
kamar. Itu yang selalu Ibu lakukan setiap ba’da magrib sambil menunggu waktu
isya. Aku tak pernah mengganggunya. Namun malam itu tak biasanya Ibu
menghampiriku.
“Sudah sholat
magrib Nak?” tanya Ibu.
“Sudah Bu, tadi sebelum pulang,
aku sholat dulu. Ibu kenapa gak dzikir?” tanyaku.
“Sudah...Ibu boleh minta sesuatu
Nak?” tanya Ibu.
Tumben fikirku,
selama aku menjadi anaknya dan akan selalu menjadi anak Ibu, tak pernah Ibu meminta sesuatu
padaku. Pasti permintaan Ibu itu sangat penting sampai Ibu bilang seperti itu.
“Tentu saja boleh Bu, selama aku bisa melakukannya,
Ibu minta apa?” tanyaku.
Ibu sedikit
ragu-ragu, namun setelah berkali-kali aku tanya akhirnya beliau bicara juga apa
yang menjadi keinginannya.
“Mukena Ibu
sudah lusuh Nak, masa menghadap-NYA harus dengan penampilan seperti ini...”ungkapnya sambil memperlihatkan mukena yang sudah sangat
lusuh.
“Oooh, Ibu ingin
mukena…baiklah Bu, doakan saja supaya aku dapat rejeki buat beli mukena yah...” jawabku.
Permintaan yang
sederhana sebenarnya. Mungkin harga mukena tak seberapa buat orang lain. Tapi buatku
permintaan Ibu itu cukup membuatku berfikir. Aku harus menabung untuk
sekolahku, untuk pengobatan Ibu, buat bayar kontrakan rumah, belum lagi untuk
makan sehari-hari. Hampir tak ada uang yang tersisa setiap bulannya. Tapi untuk
permintaan Ibu itu, pasti akan aku usahakan.
Sekarang, setiap
hari aku berusaha menekan pengeluaranku seminimal mungkin, terkadang di
sekolahpun aku tak pernah jajan, kalau teman-teman tanya, cukup dengan jawaban
sudah kenyang. Uang jajanku aku kumpulkan untuk membelikan Ibu mukena baru.
Lima bulan
berlalu, mungkin uang yang sudah kukumpulkan untuk beli mukena sudah cukup,
butuh waktu lima bulan untuk sekedar membeli mukena, padahal diluar sana,
anak-anak muda bisa menghabiskan uang orangtuanya jutaan rupiah untuk berpoya-poya,
tapi tak apalah, perjuangan yang berat akan menghasilkan sesuatu yang
bermanfaat, Insya Allah.
***
Pagi itu, aku pamit
pergi sekolah, setelah pulang sekolah aku langsung berganti profesi menjadi
‘kuli’ di rumah Pak Achmad. Namun, hari itu aku bilang pada Ibu kalau aku akan
pulang telat, aku mau beli mukena untuk Ibu. Terlihat wajah Ibu sangat gembira,
setelah keadaan kita seperti ini, tak pernah aku melihat Ibu segembira ini. Namun
entah kenapa perasaanku tak enak meninggalkan Ibu sendirian di rumah saat itu.
Tak biasanya aku seperti ini. Apa karena semalam batuk Ibu kambuh lagi.
Sampai di pintu rumah,
ketika aku akan melanjutkan langkahku. Berkali-kali aku melihat Ibu yang masih
berada didalam rumah. Entah ada apa denganku saat itu. Ibu dengan senyumnya berkata
padaku “Sudah pergi sana, Ibu tak apa-apa.”. Tanpa menjawabnya akupun langsung pergi.
Setelah pulang
sekolah, aku langsung ke rumah Pak Achmad. Aku biasanya kerja di rumah beliau
sampai pukul tujuh malam, namun hari itu, aku meminta izin untuk keluar
dulu sekitar pukul tiga sore,
mudah-mudahan toko mukena masih buka. Untungnya Pak Achmad seorang yang
bijaksana, dia mengijinkan aku untuk pergi dulu.
Setelah sampai
di toko mukena, aku langsung memilih-milih mukena. Ibu suka warna hijau muda, kupilih mukena yang warna hijau
muda. Alhamdulilah uang yang aku kumpulkan ternyata cukup untuk mukena itu.
Setelah dibungkus dan dibayar, aku langsung pergi ke rumah Pak Achmad untuk
melanjutkan pekerjaanku.
Sekitar pukul
lima sore, ada tetangga dekat rumahku datang dengan tergesa-gesa mengabarkan
kalau kondisi Ibu di rumah sangat mengkahawtirkan. Batuk Ibu memang semalam tampak parah
sekali. Pengobatan selama ini mungkin hanya bisa mengurangi rasa sakit Ibu,
bukan untuk mengobati. Mungkin harus melakukan pengobatan ke rumah sakit besar
untuk mengobati Ibu, tapi uang dari mana???
Setelah mendengar
kabar dari tetanggaku itu, aku langsung meminta ijin pulang. Karena jarak antara rumahku dan Pak Achmad cukup
jauh, beliau menawarkan untuk mengantarkan aku dengan mobilnya sambil beliau
ingin melihat keadaan Ibu. Akhirnya
aku menerima tawaran Pak Achmad.
Mobil melaju
kencang dan
sampailah aku di rumah. Kulihat Ibu memang kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan.
Tak bisa ku tahan tangisku melihat keadaan Ibu. Aku mendekatinya, aku
memeluknya, ku lihat Pak Achmad masih berdiri didepan pintu kamar.
“Ibu…Ibu tak apa-apa?” tanyaku. Ibu
cuman bisa menggelengkan kepalanya.
“Apa yang harus
aku lakukan untuk Ibu?” tanyaku lagi. Ibu terdiam.
“Bu…ini mukena
untuk Ibu,maaf aku baru bisa membelikannya sekarang. Ibu sangat suka kan warna
hijau muda, makanya warna ini ku pilih untuk Ibu.” ungkapku.
Kuberikan mukena
itu ke tangan Ibu, Ibu tersenyum. Kulihat ada tetesan air mata jatuh dari
matanya. Pak Achmad yang dari tadi berdiri didepan pintu kamar, berinisiatif
membawa Ibu ke rumah sakit dan biaya akan ditanggung beliau. Namun Ibu seolah
tak setuju. Ibu malah berbisik.
“Nak…tuntun Ibu
mengucap dua kalimat syahadat sekarang juga”.
Aku sempat
kaget, ada apa dengan Ibu. Tapi mata Ibu seolah menginsyaratkan untuk aku
segera melakukannya. Akhirnya akupun melakukan apa yang diminta Ibu. Setelah
itu, Ibu pergi untuk selamanya.
Mukena
itu…mukena untuk Ibu, mukena yang belum sempat Ibu kenakan untuk menghadap-MU
Ya Robb. Pilu hatiku, ada rasa kekecewaan di hatiku, kenapa aku membiarkan Ibu
menunggu terlalu lama untuk dapat mukena baru. Ibu hanya ingin mukena. Ibu tak
minta rumah besar, Ibu tak minta mobil mewah, Ibu tak minta jalan-jalan keluar
negeri. Ibu hanya meminta mukena untuk beribadah kepada-MU Ya Robb…namun tak
ada yang bisa aku perbuat saat itu. Keadaan perekonomian memang memaksaku untuk menunda
keinginan Ibu. Tapi ini takdir-MU Robb. Penyesalan tak ada gunanya.
***
Setelah Ibu
pergi menyusul Ayah dan Kakakku, akupun hidup sebatang kara. Dengan
kesendirianku ini, Pak Achmad menawarkan aku untuk tinggal saja di rumahnya. Dan
akupun menyetujuinya.
Tak terasa waktu
kelulusanpun tiba. Aku lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Setelah aku
berziarah ke makam Ibu, Ayah dan Kakakku, aku langsung memberikan nilai
kelulusanku pada Pak Achmad. Beliau sangat senang dengan hasil kelulusanku itu.
Malam itu, baru
saja aku akan beristirahat melepas lelah, tiba-tiba Pak Achmad memanggilku. Aku
langsung menghampirinya. Pak Achmad menanyakan tentang rencanaku setelah lulus,
kalau boleh jujur, aku belum ada rencana apa-apa. Lalu beliau menawarkan
beasiswa untuk aku kuliah asal di Universitas negeri. Alangkah senangnya aku, aku sangat bersyukur
pada-MU Robb. Jika saat ini Ayah, Ibu, dan Kakakku masih ada, pasti mereka akan
senang. Tapi ku yakin mereka pasti melihat kegembiraanku ini di sana.
Akupun mengikuti
tes ujian masuk perguruan tinggi negeri dan hasilnya akan diumumkan satu bulan kemudian.
Waktu satu bulan itu akan menjadi waktu yang sangat mendebarkan buat aku, aku
tak boleh mengecewakan Pak Achmad yang sudah menganggapku anak sendiri.
Satu bulan
berlalu, pengumuman kelulusan bisa dilihat di Koran pagi. Pagi-pagi sekali aku sudah
membeli Koran untuk melihat apa aku lulus atau tidak. Alhamdulillah aku lulus
masuk perguruan tinggi negeri yang cukup ternama di kota itu dengan jurusan sesuai harapanku. Bersyukur, sangat-sangat bersyukur…betapa
Allah SWT sangat memanjakanku.
***
Sekarang….saat
ini….aku sudah bekerja disalah satu perusahaan besar di kota ini.
Perekonomianku sudah sangat berbeda jauh dengan dulu. Aku sudah berkeluarga, mudah-mudahan akan menjadi
keluarga bahagia sampai akhir dunia.
Mukena untuk Ibu
selalu aku bawa kemanapun aku pergi. Mukena untuk Ibu…Mukena itu akan menjadi
kenangan tersendiri untuk aku dan Ibu. Mudah-mudahan Ayah, Ibu dan Kakakku mendapatkan tempat yang layak di
sisi-MU, dipelukan kasih sayang-MU Robb. Doaku akan terus mengalir untuk
kalian… aku bersama keluargaku yang masih bisa bernafas sampai detik ini,
semoga selalu berada dalam lindungan-MU.
Subhanallah,,, menyentuh sekali isinya,,
BalasHapusmkasih y uhkt..:)