Menyesal…hanya
itu yang aku rasakan saat ini. Aku tak bisa mengubah waktu, tak bisa juga
mengulang waktu yang sudah terjadi. Mungkin yang bisa dilakukan saat ini hanya
berusaha memperbaiki diri dan meminta yang terbaik jika masih mungkin.
Kejadian yang
membuat aku seperti ini terjadi sekitar 3 tahun yang lalu dan aku merasa sangat
terpukul sekali. Aku sudah cukup dewasa dan memahami apa yang terjadi saat itu.
Pertengkaran orangtua dengan topik yang sebenarnya tak ingin aku tahu karena sangat memalukan sekali. Perselingkuhan Ibu
dengan rekan kerjanya membuatku sangat membenci Ibu. Walaupun sisi lain batinku
berbisik Ibu tetap seorang Ibu yang sudah melahirkan dan merawatku. Sungguh
sulit menyelami hatiku saat itu.
Sejak perceraian
orangtuaku karena perselingkuhan Ibu, aku ikut dengan Ayah dan aku tak tahu
keberadaan Ibu sampai detik ini. Ibu pergi begitu saja meninggalkan aku tanpa
ada pelukan sayang atau sekedar ucapan perpisahan.
***
Peristiwa itu
yang membuat aku benci pada setiap perempuan. Bagiku mereka hanya membuat
penderitaan. Bohong jika ada yang bilang kalau perempuan itu makhluk lemah.
Buktinya, sejak perceraian itu Ayah jadi sering sakit-sakitan.
Aku mulai menjelajahi perempuan satu ke perempuan
lain. Entah sudah berapa banyak perempuan yang pernah aku sakiti. Memang sudah
niatku, aku akan membuat mereka tersakiti seperti halnya Ibu menyakiti Ayah. Aku bisa memanfaatkan
fasilitas Ayahku yang cukup berada dan menurut orang-orang aku mempunyai wajah
yang bisa memikat perempuan, aku yakin niatku bisa berjalan lancar.
***
Anna…perempuan
pertama yang aku kenal. Dia temanku sejak Kami masih
duduk di bangku sekolah menengah sampai bangku kuliah. Anna
sebenarnya gadis yang sangat baik. Hanya dia terlalu baik untukku. Aku menjalin
hubungan dengan dia hanya untuk memanfaatkan kecerdasan dia. Setiap ada tugas
kuliah, dia mengerjakannya untukku. Setelah aku bosan dengan kebaikannya, kutinggalkan saja dia.
Gina…dia
pindahan dari kota lain. Dia memang tak secerdas Anna, tapi dia bisa jadi
sasaran aku berikutnya. Aku coba dekati dia, dengan bermodal rayuan ternyata
tidak sesulit yang aku kira. Namun lagi-lagi setelah dia jatuh hati padaku, aku
memutuskannya dengan alasan yang sangat tidak jelas.
Ully…perempuan
yang dikenalkan temanku disebuah acara pameran waktu itu. Aku tak berniat untuk
mendekatinya. Namun dia terus mencoba mendekatiku. Akhirnya aku terima dia. Hanya
waktu dua minggu saja kita bersama, setelah itu kuucapkan selamat tinggal.
Nina…perempuan
yang sangat lugu. Mungkin diantara perempuan-perempuan yang pernah aku sakiti,
dia yang paling menderita. Dia harus melakukan aborsi karena perbuatanku.
Diapun aku ancam untuk tidak menceritakan tentang semua yang pernah terjadi.
Karena keluguan dia, dia pun menuruti apa mauku.
Giska…perempuan
yang aku kenal hanya dalam waktu satu hari. Hanya bermodal mengantarkan dia
pulang dari tempat les, akhirnya bisa membuatku menjadi teman dekatnya. Hanya
bertahan satu bulan, setelah itu seperti biasa aku menghilang dari
kehidupannya.
Tak cukup sampai
Giska, entah
berapa banyak perempuan yang aku permainkan. Akupun kadang berfikir kenapa aku
seperti ini. Apa yang aku dapat dari semua ini. Hanya dosa. Kadang Aku lelah
dengan semua yang aku lakukan. Setiap aku ingin menghentikan, setiap kali
bayangan Ibu datang dan itu membuatku marah.
***
Sampai aku
bertemu Aisya…dia anak pembantuku di rumah. Dia datang dari desa untuk mencari
pekerjaan. Namun mencari pekerjaan saat ini memang seperti mencari jarum dalam
jerami. Akhirnya dia bekerja bantu-bantu
Ibunya di rumahku. Baru
sekitar seminggu dia tinggal di rumahku. Entah kenapa aku sering memperhatikan
dia. Dia gadis
yang sangat lugu. Satu hal yang aku fikir saat itu, aku tak pernah ingin mempermainkan dia
seperti halnya perempuan-perempuan sebelumnya. Aku hanya sebatas ingin memperhatikan dia
saja.
Hari itu, aku
tak ada jadwal kuliah, biasanya kalau aku libur, aku sering keluar jalan dengan teman-temanku. Namun hari itu aku
putuskan untuk diam di rumah.
Lagi-lagi aku
memperhatikan dia, sikapnya yang santun dan ramah membuatku tertarik ingin
mengenalnya lebih jauh. Ibadahnya rajin, hampir tak pernah ada waktu sholat yang terlewatkan. Dia
memang seorang gadis yang sangat baik.
Waktu pun
berlalu, aku banyak belajar dari dia. Tentang apapun, khususnya masalah agama
yang lama kutinggalkan. Bukan terbatas pada itu saja, akupun cerita tentang
perempuan-perempuan yang aku jadikan pelampiasan kekesalan akibat perbuatan
Ibu. Dan dia pun memberikan tanggapan yang membuatku tersadar.
Aisya memang
sudah membuat hidupku jauh lebih baik. Semakin kita banyak bersama semakin aku
yakin, kalau aku membutuhkan dia. Mungkin dia orang yang tepat untuk aku. Ingin
kusampaikan niat baik ini pada Ayah, namun aku masih ragu karena bisa saja Ayah
menolak keinginanku karena dia anak seorang pembantu.
Aku putuskan
untuk membicarakan ini pada Ibunya Aisya, Bi surti. Dia sudah tinggal bersama Kami sejak
aku masih kecil. Bi surti tahu betul watakku seperti apa. Jadi ketika aku
sampaikan maksud baikku untuk anaknya, dia sedikit kebingungan. Mungkin karena
aku dirasa tak layak mendapatkan anaknya karena kelakuanku selama ini. Namun aku mencoba meyakinkan
Bi Surti bahwa aku akan berubah.
Bi surti masih
kebingungan, aku melihat ketidakyakinan di wajahnya. Namun setelah
merenung beberapa saat akhirnya dia mengutarakan keadaan anaknya yang
sebenarnya. Tadinya aku fikir Bi Surti merenung karena dia segan menerima aku.
Tapi ternyata ada alasan lain dibalik semua itu. Aisya sudah dilamar orang beberapa bulan yang
lalu dan dia akan segera menikah sekitar satu bulan lagi. Aisya juga akan segera pulang ke
kampungnya dan menetap dengan suaminya.
Sangat terpukul
aku mendengarnya. Kurasakan sakit di hatiku. Mungkin ini balasan kecil dari apa yang
pernah aku lakukan pada perempuan-perempuan itu selama ini. Ini hanya penolakan
biasa, tapi rasa sakit yang aku rasakan tidak biasa. Apalagi
perempuan-perempuan itu. Mereka aku jadikan pelampiasan dari kekecewaanku pada Ibu selama ini. Padahal
apa salah mereka padaku. Begini rasanya ditinggalkan, sungguh menyakitkan.
***
Sebulan berlalu,
pernikahan Aisya pun dilaksanakan. Aku pun hadir diacara itu bersama Ayah. Dia
tampak cantik dengan gaun pernikahannya. Kuucapkan selamat padanya. Ada rasa
tak menentu didalam hatiku. Hanya aku berusaha menahan perasaan itu.
Seusai acara
pernikahan itu, aku berniat dalam hati. Aku tak akan pernah mempermainkan
perempuan lagi. Satu hal yang selalu aku ingat apa yang pernah Aisya katakan
padaku. Aku harus meminta maaf pada semua perempuan yang pernah aku sakiti. Aku
akan lakukan, bukan karena permintaannya tapi karena memang itu yang seharusnya
aku lakukan. Walaupun aku tak tahu seberapa banyak perempuan yang harus aku
temui. Tapi aku akan berusaha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar