4 Jan 2012

Harapku


Siang ini cuaca tak bersahabat denganku. Matahari seolah enggan menampakkan diri hari ini. Aku selalu mencoba untuk menjalani hidup ini dengan apa adanya, aku hanya mempunyai sebuah harapan, harapan untuk meraih mimpi-mimpiku, meraih kehidupan lebih baik dari sekarang, walaupun aku hanya seorang anak jalanan.

Hari-hari hanya ditemani dengan sebuah gitar. Mengamen menjajakan nyanyian dari bis ke bis, bukan untuk menghibur orang lain, tapi untuk mencari kepingan uang logam, berharap hari ini aku dan ibuku bisa mengisi perut.

Aku mempunyai seorang Ibu. Beliau adalah harta satu-satunya di dunia ini yang aku punya. Satu-satunya orang yang selalu menemani aku dikala aku sedang sedih. Satu-satunya orang yang selalu membuat aku tersenyum walaupun aku tahu hatinya teriris perih.  Seorang wanita yang entah kapan aku bisa membuatnya bahagia.

Terkadang, pikiranku melayang. Membayangkan kehidupan masa lalu yang penuh kebahagiaan. Namun, semua hilang ketika Ayah pergi meninggalkan Kami. Entah kemana perginya Ayahku karena sampai sekarangpun aku dan Ibu tak tahu keberadaannya dimana. Dan akupun tak ingin tahu dia dimana.


***

Hari minggu siang ini…tercatat di kalender hari libur buat semua orang, terkecuali orang-orang yang terenggut kebebasannya. Para pengusaha yang hampir tak punya waktu untuk sedikit beristirahat hanya karena takut keuntungannya berkurang. Seorang pejabat yang mengurusi ini itu yang hampir tak punya waktu untuk keluarganya. Para pekerja yang sengaja lembur untuk mendapatkan honor tambahan. Ya seperti itulah kemungkinan orang-orang yang tak bisa menikmati libur. Tak terkecuali dengan aku, seorang pengamen yang tak pernah tahu arti kata liburan.

Bis satu sudah aku jajaki, lumayan…masih ada orang yang baik hati yang menyisihkan uang recehnya untukku. Setiap aku mendapatkan kepingan uang, selalu yang terbayang wajah Ibu. “Masih ada bis-bis lain yang menantiku” fikirku. Mudah-mudahan ada rejeki aku disana.

Bis kedua aku jajaki, hanya sedikit yang aku dapat disini. Mungkin orang-orang tak punya uang receh atau mungkin orang-orang tak tersentuh hatinya. Entahlah...berapapun yang aku dapat harus aku syukuri. Itulah rejeki aku.

Bis ketiga disiang itu ku naiki. Kupersiapkan gitar yang sudah lusuh ini. Namun suasana disana berbeda dengan bis-bis sebelumnya. Disana aku temukan seorang pengemis tua sedang meminta-minta pada penumpang bis. Ada yang iba dan memberi uang, ada yang hanya mengangkat tangan dan mengucapkan “maaf…”, ada yang hanya memalingkan muka sambil menggerutu. Seorang pengemis perempuan itu, sebaya Ibuku. Pikiranku melayang lagi…Teringat Ibu dirumah, rumah kontrakan disudut kota, rumah yang hanya berlantai tanah beratap kayu yang sudah hampir habis dengan rayap. Itulah tempat tinggalku saat ini. Berkhayal seandainya Ibuku yang mengemis itu. Tidak. Tidak akan pernah hal itu terjadi.

Sambil menatap perempuan itu, pikiranku melayang lagi. Terkadang aku iri dengan kehidupan orang lain. Berbahagia dengan harta kekayaan yang melimpah namun tetap tak pernah bersyukur atas karunia-NYA. Aku ingin seperti mereka, tidur di kasur yang empuk, naik turun mobil mewah dengan AC yang bisa mendinginkan panasnya terik matahari, jalan-jalan di mall dengan teman-teman, belajar disekolah untuk mendapatkan ilmu yang layak. Aku ingin seperti mereka. Namun, seketika khayalanku terhenti ketika melihat pengemis perempuan itu turun dari bis yang sedang aku naiki.

Entah ada perasaan apa yang mendorong aku ingin mengikutinya. Kuurungkan niatku untuk mengamen di bis itu, dan aku berniat untuk mengikuti pengemis itu. Kuikuti dia, hingga sampai pada persimpangan jalan. Dia duduk disebuah kursi kayu, raut mukanya tampak sedih. Akhirnya kuberanikan diri bertanya. Perempuan itu akhirnya bercerita kalau anaknya tengah sakit keras. Pihak rumah sakit tak mampu menanganinya kalau tak ada uang. Ya lagi-lagi masalah uang. Apakah memang hanya uang yang bisa menyelesaikan masalah??? Mungkin iya…seolah orang-orang tak pernah memikirkan adanya kekuasaan-NYA.

Hatiku iba melihat perempuan pengemis itu, berfikir ingin membantunya walaupun aku tak layak untuk membantu. Namun amal ibadah bukan hanya milik orang yang punya uang banyak kan???? Berfikir dan terus berfikir, jika uang yang aku dapat dari hasil mengamen aku berikan ke pengemis itu, lalu Ibu makan apa??? Tapi ketika aku teringat lagi pesan Ibu….kebaikan sekecil apapun, Allah SWT pasti akan membalasnya, asalkan kita ikhlas. Ya sudah…aku putuskan untuk memberikan uang hasil mengamenku ke pengemis itu. Walaupun tak seberapa.

Awalnya pengemis itu menolaknya, mungkin karena diapun iba melihat keadaanku. Namun setelah aku desak akhirnya dia mau menerimanya. “Ini rejeki Ibu yang Allah titip kepadaku…” kataku. Wajah pengemis itu terlihat lebih ceria dari sebelumnya. Setelah uang itu ada ditangan pengemis itu, akupun berpamitan untuk pergi.

***

Matahari tak terasa sudah bergeser ke arah barat. Sore itu langit terlihat indah sekali. Suasana sore seperti ini yang aku suka. Hidup seharian dengan beratap langit, ber AC angin sepoi-sepoi, berkursi jok-jok bis dan itupun jika masih kebagian, berdasikan sebuah gitar. Hidup memang keras.

Suasana indah, namun tak seindah penghasilanku saat ini. Tak ada uang sedikitpun yang aku hasilkan. Dari tadi siang perutku belum terisi apapun. Namun hatiku tambah galau ketika membayangkan, cacing-cacing diperut Ibu pasti berontak malam ini. Andai mereka bisa bicara, mungkin mereka akan memaki aku.

Tibalah aku di rumah, rumah yang sebenarnya tak pantas disebut tempat tinggal. Namun disanalah tempat bercanda tawa dengan Ibu. Kusampaikan salam, Ibu menyambut hangat. Senyum yang membuat hati ini tenang, senyum yang membuat aku lupa dengan penderitaan hidup. Ibu...cahayaku…bahagiakan dia Robb, itu yang selalu aku bisikan di hati ketika ada Ibu didepanku.

Aku tahu, Ibu sudah menantiku dari tadi. Menanti dengan penuh harap. Menanti bukan hanya karena penghasilanku, tapi Ibu selalu menanti cerita-cerita yang aku alami hari ini. Aku berniat untuk menceritakan kejadian tadi siang, namun Ibu buru-buru menyuruhku untuk sholat maghrib dulu. Akhirnya setelah aku membersihkan badan, akupun sholat dan kembali menatap wajah penuh harap itu.

“Bu…aku ingin cerita…” kata ku.

“Apa nak…?” jawab Ibu. Akhirnya ku ceritakan semua pengalaman yang aku alami tadi.

“Ibu gak marah???” tanyaku. Ibu menatapku, lalu memelukku. Ibu berkata “Ibu bangga padamu Nak…”

Lega rasanya, rasa lapar di perut yang aku rasakan hilang begitu saja. Malam itu memang tak ada makanan untuk perutku dan Ibu. Tapi aku bahagia, hari ini aku bisa bermanfaat untuk orang lain. Bisa menabung untuk kehidupan aku dimasa kelak, dimana dunia tidak akan pernah ada fungsinya lagi. Tabungan yang mudah-mudahan untuk kebahagian Ibu juga.

***


Malam semakit pekat, aku lihat Ibu sudah tertidur nyenyak dengan perut kosongnya. Namun ku yakin hati Ibu sudah penuh dengan keikhlasan. Sambil memandang wajah teduh itu, aku berharap…semoga Engkau selalu melindungi-NYA Robb dan aku tak pernah berhenti memohon, agar kehidupan aku dan Ibu bisa lebih baik dihari esok. Harapku, hanya satu...Aku bisa selalu membahagiakan Ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar