4 Jan 2012

Yang Kupunya Hanya Ini


Hidupku, aku anggap kehidupan yang sempurna. Aku selalu bersyukur atas semua yang terjadi dalam hidupku. Teman dan sahabat selalu berada didekatku. Begitupun keluargaku, Ayah, Ibu dan Adikku selalu ada disaat aku membutuhkannya. Calon suamiku yang aku anggap laki-laki yang pantas kujadikan pemimpinku kelak selalu ada disaat aku sedih maupun senang.

Aku bekerja di perusahaan ternama dikota ini dengan jabatan yang lumayan bagus. Aku juga lulusan Universitas dari luar negeri. Hidupku terasa sempurna. Tapi itu dulu sampai akhirnya kejadian itu membuat semua kesempurnaan itu hilang.

***

Sudah sekitar dua tahun aku bersahabat dengan kursi rodaku. Kecelakaan lalu lintas saat aku mengendarai sepeda motorku membuat dua kakiku harus diamputasi. Miris memang. Seumur hidup aku harus menjadi orang yang cacat.

Pertama aku mendengar bahwa kakiku harus diamputasi aku tak tahu harus berbuat apa. Mencoba ikhlas tapi sangat sulit, mencoba pasrah tetap tak bisa. Aku sempat marah, aku sempat protes pada takdir yang harus aku jalani. Namun orang-orang disekelilingku selalu memperingatkan aku bahwa Allah SWT selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-NYA.

Sebagai manusia biasa, aku merasakan kesedihan yang teramat dalam, aku tak menyadari bahwa semua yang aku miliki sebenarnya hanya titipan. Jika Sang Pemilik harus mengambilnya, seharusnya aku bisa ikhlas. Tapi tidak saat itu.

Setelah aku kehilangan kakiku, aku juga kehilangan pekerjaanku. Cukup logis, karena perusahaan mana yang mau mempunyai karyawan cacat seperti aku. Seberapa pintarnya, seberapa cerdasnya, tetap mereka menginginkan karyawan dengan “kesempurnaan”. Sejak aku dikeluarkan dari perusahaan itu, aku tak tahu harus melakukan apa. Aku merasa sudah tak ada gunanya lagi aku hidup. Hanya jadi benalu untuk keluargaku dan orang-orang terdekatku.

Tak cukup sampai disitu, yang membuat aku tambah sakit ketika calon suamiku yang hanya hitungan bulan akan mempersuntingku, dia malah memutuskan hubungan denganku. Tak perlu alasan bagiku. Karena tanpa diucapkanpun aku tahu mengapa dia meninggalkanku. Hanya hitungan bulanpun setelah dia memutuskan aku, dia menikah dengan gadis lain.

Hanya sahabat dan keluargaku yang masih tertinggal disini. Mereka selalu mensupport aku. Mendoakanku walaupun entah sampai kapan aku bisa bertahan.

***
Asri…sahabatku sejak kecil. Aku panggil dia Aci. Sahabat terbaikku, sahabat yang selalu menemaniku. Hari demi hari aku jalani hidup di kursi roda ini. Terasa sepi, namun ketika ada dia semua kesepian itu hilang. Dia selalu memberiku semangat yang aku butuhkan.

Ketika aku genap tiga bulan dengan status orang cacat, aku masih merasa gamang harus berbuat apa. hanya saat itu perasaanku sudah sedikit bisa dikendalikan. Aci yang sejak kecil menemaniku yang sudah aku anggap sebagai saudara sendiri menyarankan aku untuk menyalurkan hobiku. Melukis.

Aku memang senang melukis, aku sangat senang melukis pemandangan. Dulu, waktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku pernah mengikuti lomba melukis antar sekolah. Dan aku menjadi juara pertama. Jadi wajar jika Aci menyarankan aku untuk menyalurkan hobiku itu. Sejak aku hidup diluar negeri sampai akhirnya aku kembali ke tanah air dan bekerja di perusahaan yang sudah memberhentikanku itu hampir aku tak punya waktu untuk melukis.

Aku tak tahu apa tanganku masih bisa melukis saat itu, namun dengan semangat dari temanku, aku mencoba untuk melakukannya.

Aci selalu mengajakku ketempat-tempat dengan pemandangan yang indah untuk dijadikan objek lukis dan hasilnya cukup memuaskan. Sejak saat itu, semangatku kembali bangkit. Walaupun aku cacat tapi aku masih punya kemampuan untuk berkarya.

Semangatku semakin bertambah ketika ada salah satu rekan kerja Aci tertarik dengan lukisanku. Beliau berani membeli lukisanku dengan harga yang cukup mahal. Kebahagiaan yang tiada tara, bukan karena aku mendapat uang, tapi ternyata masih ada orang yang menghargai hasil karyaku. Hasil karya orang cacat.

***

Kini, hobiku menjadi mata pencaharianku. Lukisanku aku simpan di galeri. Aku mempercayai Aci yang mengelola galeri itu. Lukisanku banyak disenangi orang. Dari hasil lukisan yang aku buat, aku bisa menyekolahkan adik-adikku dan membantu perekonomian keluarga. Meskipun aku cacat, tapi aku bukan benalu untuk keluargaku.

Dulu aku mengganggap hidupku sangat sempurna. Dan aku menangis ketika semua yang dititipkan padaku harus hilang. Namun sekarang aku sadar, Allah SWT bukan mengambil apa yang kita miliki, tapi Dia mengganti dengan sesuatu yang jauh lebih besar.

Ketika cobaan itu datang, yang kupunya hanya ini…semangat, keihlasan, kepasrahan dan keyakinan.  Aku berharap semua itu tidak akan pernah hilang dalam hatiku. Saat ini aku memang tak mempunyai fisik yang sempurna namun aku mempunyai kehidupan yang sangat sempurna.

Terima kasih Robb…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar