Hidupku, aku anggap kehidupan
yang sempurna. Aku selalu bersyukur atas semua yang terjadi dalam hidupku.
Teman dan sahabat selalu berada didekatku. Begitupun keluargaku, Ayah, Ibu dan Adikku
selalu ada disaat aku membutuhkannya. Calon suamiku yang aku anggap laki-laki
yang pantas kujadikan pemimpinku kelak selalu ada disaat aku sedih maupun senang.
Aku bekerja di perusahaan
ternama dikota ini dengan jabatan yang lumayan bagus. Aku juga lulusan Universitas dari luar
negeri. Hidupku terasa sempurna. Tapi
itu dulu sampai akhirnya kejadian itu membuat semua
kesempurnaan itu hilang.
***
Sudah sekitar
dua tahun aku bersahabat dengan kursi rodaku. Kecelakaan lalu lintas saat aku
mengendarai sepeda motorku membuat dua kakiku harus diamputasi. Miris memang. Seumur
hidup aku harus menjadi orang yang cacat.
Pertama aku
mendengar bahwa kakiku harus diamputasi aku tak tahu harus berbuat apa. Mencoba
ikhlas tapi sangat sulit, mencoba pasrah tetap tak bisa. Aku sempat marah, aku
sempat protes pada takdir yang harus aku jalani. Namun orang-orang
disekelilingku selalu memperingatkan aku bahwa Allah SWT selalu memberikan yang
terbaik untuk hamba-NYA.
Sebagai manusia
biasa, aku merasakan kesedihan yang teramat dalam, aku tak menyadari bahwa
semua yang aku miliki sebenarnya hanya titipan. Jika Sang Pemilik harus mengambilnya, seharusnya
aku bisa ikhlas. Tapi tidak saat itu.
Setelah aku
kehilangan kakiku, aku juga kehilangan pekerjaanku. Cukup logis, karena
perusahaan mana yang mau mempunyai karyawan cacat seperti aku. Seberapa
pintarnya, seberapa cerdasnya, tetap mereka menginginkan karyawan dengan
“kesempurnaan”. Sejak aku dikeluarkan dari perusahaan itu, aku tak tahu harus
melakukan apa. Aku merasa sudah tak ada gunanya lagi aku hidup. Hanya jadi benalu untuk keluargaku
dan orang-orang terdekatku.
Tak cukup sampai
disitu, yang membuat aku tambah sakit ketika calon suamiku yang hanya hitungan
bulan akan mempersuntingku, dia malah memutuskan hubungan denganku. Tak perlu
alasan bagiku. Karena tanpa diucapkanpun aku tahu mengapa dia meninggalkanku. Hanya hitungan bulanpun
setelah dia memutuskan aku, dia menikah dengan gadis lain.
Hanya sahabat
dan keluargaku yang masih tertinggal disini. Mereka selalu mensupport aku. Mendoakanku walaupun entah
sampai kapan aku bisa bertahan.
***
Asri…sahabatku
sejak kecil. Aku panggil dia Aci. Sahabat terbaikku, sahabat yang selalu
menemaniku. Hari demi hari aku jalani
hidup di kursi roda ini. Terasa sepi, namun ketika ada dia semua kesepian
itu hilang. Dia selalu memberiku semangat yang aku butuhkan.
Ketika aku genap
tiga bulan dengan status orang cacat, aku masih merasa gamang harus berbuat
apa. hanya saat itu perasaanku sudah sedikit bisa dikendalikan. Aci yang sejak
kecil menemaniku yang sudah aku anggap sebagai saudara sendiri menyarankan aku
untuk menyalurkan hobiku. Melukis.
Aku memang
senang melukis, aku sangat senang melukis pemandangan. Dulu, waktu aku masih
duduk di bangku sekolah dasar, aku pernah mengikuti lomba melukis antar
sekolah. Dan aku menjadi juara pertama. Jadi wajar jika Aci menyarankan aku
untuk menyalurkan hobiku itu. Sejak aku hidup diluar negeri sampai akhirnya aku
kembali ke tanah air dan bekerja di perusahaan yang sudah memberhentikanku itu hampir
aku tak punya waktu untuk melukis.
Aku tak tahu apa
tanganku masih bisa melukis saat itu, namun dengan semangat dari temanku, aku mencoba
untuk melakukannya.
Aci selalu
mengajakku ketempat-tempat dengan pemandangan yang indah untuk dijadikan objek lukis dan hasilnya cukup
memuaskan. Sejak saat itu, semangatku kembali bangkit. Walaupun aku cacat tapi
aku masih punya kemampuan untuk berkarya.
Semangatku
semakin bertambah ketika ada salah satu rekan kerja Aci tertarik dengan
lukisanku. Beliau berani membeli lukisanku dengan harga yang cukup mahal.
Kebahagiaan yang tiada tara, bukan karena aku mendapat uang, tapi ternyata
masih ada orang yang menghargai hasil karyaku. Hasil karya orang cacat.
***
Kini, hobiku
menjadi mata pencaharianku. Lukisanku aku simpan di galeri. Aku mempercayai Aci yang
mengelola galeri itu. Lukisanku banyak disenangi orang. Dari hasil lukisan yang
aku buat, aku bisa menyekolahkan adik-adikku dan membantu perekonomian
keluarga. Meskipun aku cacat, tapi aku bukan benalu untuk keluargaku.
Dulu aku
mengganggap hidupku sangat sempurna. Dan aku menangis ketika semua yang
dititipkan padaku harus hilang. Namun sekarang aku sadar, Allah SWT bukan mengambil
apa yang kita miliki, tapi Dia mengganti dengan sesuatu yang jauh lebih besar.
Ketika cobaan
itu datang, yang kupunya hanya ini…semangat, keihlasan, kepasrahan dan keyakinan. Aku berharap semua itu tidak akan pernah hilang dalam hatiku. Saat
ini aku
memang tak mempunyai fisik yang sempurna namun aku mempunyai kehidupan yang
sangat sempurna.
Terima kasih
Robb…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar