Dua puluh lima tahun yang lalu bayi kecil itu
menangis didepan pintu rumah Pak Bagus. Entah kenapa harus didepan rumah beliau
padahal beliau sudah dikaruniai satu orang putra. Mungkin karena Pak Bagus
adalah salah satu orang terpandang di desa itu.
Seorang bayi perempuan cantik. Lalu kenapa ada orangtuanya tega membuangnya didepan rumah orang
yang belum tahu apa orang itu baik atau tidak. Mungkin orangtuanya mempunyai
sejuta alasan kenapa harus membuang anaknya yang sudah dia kandung dan
lahirkan.
Bayi itu sudah tumbuh menjadi remaja. Saat itu
usianya menginjak 19 tahun. Semua keluarga masih menutupi statusnya termasuk
anak Pak Bagus. Ketika gadis itu disimpan didepan rumah Pak Bagus, putra Pak
Bagus berumur 15 tahunan. Dengan usia remaja pasti anaknya Pak Bagus mengetahui
kalau gadis itu bukan anak orangtuanya. Tapi Pak Bagus melarang keras anaknya
untuk membocorkan semua rahasia itu. Jadi gadis itu selalu berfikir kalau dia adalah
anak dari keluarga itu. Dan tak pernah terfikir dibenaknya kalau dia hanyalah
anak yang tak diharapkan kelahirannya.
Gadis itu diperlakukan dengan kurang baik di
rumah itu. Dia seperti seorang pembantu di rumahnya sendiri. Berbeda
dengan anaknya Pak Bagus.
***
Pak Bagus memang keluarga yang kaya raya, namun
sifat kikirnya membuatnya dijauhi oleh para tetangga. Rumahnya sangat besar dan
semua pekerjaan rumah harus dikerjakan oleh gadis itu. Pernah terfikir
dibenaknya, apakah dia benar-benar anak Pak Bagus ataukah bukan. Namun dia sama sekali tak berani
menanyakan ini semua.
Istri Pak bagus yang seorang wanita karier itu
tidak bisa membantu pekerjaan
gadis itu. Sementara
Pak Bagus sengaja tidak menggaji seorang pembantu karena menghemat pengeluaran
katanya. Anak semata wayang Pak Bagus sekarang sudah menjadi pengusaha sukses.
Namun entah mengapa walaupun sudah cukup umur, dia belum memutuskan
untuk menikah. Padahal
hartanya sudah banyak.
***
Hari-hari selalu dijalani dengan rutinitas
seperti itu. Tak ada kasih sayang, tak ada perhatian, tak ada cinta di rumah
itu. Dia seperti penunggu rumah kosong.
Sudah banyak air mata mengalir, hidupnya terasa
hampa dengan keadaan seperti ini padahal dia masih muda. Pernah dia meminta
kepada Pak Bagus, untuk melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi, tapi Pak
Bagus menolaknya dengan alasan yang tidak jelas.
***
Usianya kini menginjak 25 tahun. Namun belum ada perubahan apa-apa
dalam hidupnya. Malah dirasa
keluarganya semakin menjauhi dia. Kakaknya semakin sibuk dengan bisnisnya dan
terus mengejar keuntungan. Pak Bagus semakin tua dan sakit-sakitan namun dia tetap berusaha
menjalankan usahanya hingga kekayaannya menumpuk. Sementara istrinya tetap menjadi seorang wanita karier dengan jenjang karier
yang sudah tinggi. Lalu gadis
itu? Dia tetap menjadi
seorang penunggu rumah besar itu.
Mungkin memang sudah tak ada lagi yang harus
dia lakukan. Hanya bersabar dan terus bersabar menghadapi semua hal yang harus
dia hadapi sampai suatu saat dia bertemu dengan seorang pemuda disebuah pusat
pembelanjaan.
Pemuda itu bekerja sebagai cleaning service di sebuah mall. Merekapun berkenalan, dekat dan pemuda itu
berniat melamar si gadis. Karena kehidupan yang tak menentu akhirnya gadis itu
menerima pinangan sang pemuda.
Pak Bagus marah besar ketika beliau tahu gadis
itu akan dipinang oleh seorang pemuda yang bekerja sebagai cleaning service. Pak Bagus merasa bahwa pemuda itu tak pantas melamar si gadis
walaupun jelas-jelas selama ini Pak Bagus yang kaya raya itu tak menganggap
gadis itu sebagai anaknya. Namun karena keinginan yang kuat dari pemuda
dan gadis itu untuk menikah, akhirnya si gadis melakukan sedikit pemaksaan.
Akhirnya terjadilah pertengkaran yang membuat Pak Bagus
tak bisa menahan lagi emosinya dan tanpa sadar beliau mengatakan bahwa gadis
itu bukan anaknya.
***
Terasa pedih hati si gadis, dia berfikir selama
ini dia dijadikan sebagai pembantu karena memang dia bukanlah anak kandungnya.
Lalu harus kemana dia mencari orangtua aslinya yang dengan tega membuangnya didepan
rumah orang. Entahlah...
Kini gadis itu sudah menjadi seorang Ibu, menikah dengan laki-laki yang
baik. Walaupun hidup sederhana dan seadanya, namun gadis itu merasa bahagia
karena kini hidupnya semakin berarti. Lalu bagaimana dengan keluarga Pak
Bagus??? Mereka tetap
mengejar dunia dan melupakan apa yang harus mereka kerjakan sebagai seorang
hamba-NYA. Mereka mengumpulkan harta tanpa peduli dengan kebahagiaannya. Mereka
mengeruk harta yang sebenarnya tak pernah mereka nikmati.
Dengan kesabaran akhirnya gadis itu menemukan
kebahagiaannya. Allah selalu bersama orang yang sabar...bukan dengan orang yang kaya. Dan...gadis
itu adalah aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar