Adakah anak yang
pernah menyia-nyiakan seorang Ibu seperti aku??? Ataukah ada seorang anak yang merasa mengakui Ibunya sendiri seperti
aku???
Mungkin hanya
aku…
Kecelakaan itu
yang membuat Ibu seperti sekarang ini. Perjalanan yang tadinya kurasa akan
sangat menyenangkan. Tapi malah berakibat seperti ini. Perjalanan untuk
berlibur kesuatu tempat malah mengantarkan Ayah dan Adikku kehari terakhir
hidupnya. Hanya aku dan Ibu yang selamat dari kecelakaan maut itu. Ibu depresi
ketika mendengar Ayah dan Adikku meninggal. Aku tak ingin menyebut Ibu gila walaupun mungkin
kenyataannya
seperti itu. Kini sudah hampir dua tahun Ibu
tinggal di Rumah Sakit Jiwa.
Ayah adalah
tulang punggung keluargaku, tapi beruntung aku masih mempunyai seorang tante
yang masih peduli dengan kondisi Kami. Biaya sekolah aku sampai
meneruskan ke perguruan tinggi semua ditanggung beliau. Hingga biaya pengobatan
Ibupun beliau yang menanggungnya.
Tanteku yang tak
lain adik dari almarhum Ayah adalah seorang yang cukup terpandang. Sudah 10
tahun menikah tapi beliau belum dikaruniai seorang anak.
***
Setiap hari aku
menjenguk Ibu, walaupun selalu tak ada perubahan. Ibu hanya diam. Namun
sesekali ada air mata bergelinang di sudut matanya. Bercerita apapun pada Ibu serasa percuma karena Ibu
tetap diam.
Namun sejak aku
diterima bekerja, aku jarang sekali menengok Ibu. Waktuku hampir habis di kantor. Jabatan
kian tinggi, kian membuat aku lupa diri. Keegoisan, kesombongan, keangkuhan dan
sebagainya mungkin tengah aku rasakan saat itu. Cobaan berupa kenikmatan dunia
mungkin sedang aku jalani tapi aku tetap tak sadar diri. Setiap orang yang Tanya
keberadaa Ibu, aku selalu jawab Ibu sudah tak ada. Aku
malu punya Ibu yang sekarang ada di rumah sakit jiwa. Apa kata orang.
***
Suatu hari, anak
dari direktur di perusahaanku datang ke kantor. Dia baru pulang dari luar
negeri, menyelesaikan studynya dan rencananya dia akan bekerja di kantor tempat
aku bekerja. Seorang perempuan yang menarik dan cerdas. Namun sedikit angkuh.
Dia ditugaskan
satu tim denganku. Tak kebayang rasanya akan bekerja sama dengan seorang
perempuan cantik tapi angkuh seperti itu. Namun, apa boleh buat. Ini
konsekuensi pekerjaan.
Hanya beberapa
saat saja aku mengenalnya. Memang benar apa yang ku duga. Perempuan yang cukup keras. Mungkin
karena sudah lama hidup mandiri di negeri orang. Namun, semakin lama aku merasakan sifat
dia semakin aneh. Dia semakin perhatian dan semakin menunjukkan kalau dia mempunyai perasaan yang lebih padaku.
Entahlah…apa mungkin ini perasaanku saja.
Tapi ternyata
tidak…aku begitu kaget ketika atasanku memanggilku dan memintaku untuk melamar
anaknya. Pernah terbersit dipikiranku...apa kelebihanku…namun inilah mungkin cinta.
Sejak aku
diminta untuk melamar anaknya. Aku tak pernah berhenti berfikir karena aku sendiri tak pernah
mempunyai perasaan itu. Sama sekali tidak. Tapi disisi lain, apa jadinya aku
nanti kalau aku sampai menolaknya. Lalu bagaimana dengan Ibu, aku tak mungkin
mengatakan kalau Ibu sedang dirawat di rumah sakit jiwa, apalagi satu kantor sudah tahu kalau Ibuku
sudah meninggal.
Akhirnya aku
putuskan untuk menerima tawaran atasanku untuk melamar anaknya. Atasanku
menanyakan tentang keluargaku dan aku jawab dengan berjuta kebohongan.
Tante sempat tak
setuju dengan keputusanku, apalagi menyuruhnya berbohong mengatakan bahwa Ibu
sudah meninggal. Namun aku terus mendesaknya. Dan akhirnya tak ada pilihan
lain.
Akupun menikah
dengan perempuan itu. Tanpa rasa sedikitpun. Entah ini pernikahan seperti apa.
Kekayaan mungkin aku dapatkan, namun kebahagiaan sama sekali tak pernah aku
rasakan. Setiap hari penuh tekanan. Sampai aku tak yakin kalau aku sudah benar-benar mempunyai istri.
Dia sangat berbeda dengan Ibu…sejenak aku mengingat Ibu.
Betapa durhakanya aku.
Sekitar satu
tahun aku menikah dan sejak menikah aku tak tahu kondisi Ibu seperti apa. Hanya
mendengar cerita dari Tante kalau Ibu sekarang sering sakit-sakitan. Selama satu
tahun itupun aku tak pernah mengatakan keberadaan Ibu pada istriku. Bukan
karena aku takut kehilangannya, tapi aku takut semua yang aku miliki akan
hilang. Aku tak ingin miskin.
Semakin berjalannya waktu, semakin aku
merasakan kehidupan rumah tanggaku penuh dengan kekacauan. Istriku tiap malam pergi ke dunia hiburan, pulang ke rumah dengan
bau alkohol. Sementara keberadaanku sebagai suami mungkin baginya hanya sebagai status. Berbeda
dengan Ibu, dia adalah seorang istri yang patuh pada Ayah. Kenapa Ya Robb…aku tak
mendapatkan istri seperti Ibu.
***
Minggu siang…Kami
sedang duduk diteras depan. Ku lihat ada tetangga depan rumah yang baru
pindahan. Tetangga baruku itu datang menghampiri rumahku, mungkin maksudnya
untuk memperkenalkan diri. Tapi setelah aku lihat, sepertinya aku mengenalnya.
Dia temanku waktu kuliah. Alangkah kagetnya aku ketika dia bertanya tentang Ibu yang sedang dirawat di rumah sakit
jiwa. Istriku langsung meledak saat itu. Dia tak peduli dengan temanku yang
masih berada disana. Akupun langsung menyusulnya ke dalam rumah dan membiarkan temanku
disana sendiri.
Istriku seperti orang kesetanan, marah tak karuan,
namun disisi lain aku juga merasakan perasaan dia. Mungkin dia kecewa.
Penjelasan akupun sudah tak digubrisnya. Penghinaan dan sumpah serapahpun
keluar dari mulutnya. Tanpa berfikir panjang dia langsung menyatakan kalau dia
ingin bercerai.
Aku berfikir sejenak. Kenapa jalan hidupku harus seperti ini. Tapi
mungkin inilah balasan dari apa yang aku perbuat selama ini. Selama ini aku
jauh dari yang namanya agama. Bahkan mengaku sosok Ibupun aku malu. Sudah mau
dua tahun aku tak melihat wajah Ibu. Ingin rasanya saat ini aku memeluk Ibu dan
menumpahkan apa yang aku rasakan saat ini.
***
Akhirnya akupun bercerai dengan istriku. Pernikahan
yang hanya berusia dua tahun saja. Dan akupun memutuskan untuk mengundurkan
diri dari perusahaan tempat aku bekerja.
Sekitar enam
bulan aku menjadi pengangguran, melamar kesana kemari pun aku tak diterima.
Hidup hanya bergantung pada orang. Sampai detik itupun, aku
belum berani menengok Ibu. Aku malu…tapi sekarang, bukan malu mengakui Ibu
sebagai orangtuaku, tapi malu karena aku menjadi anak yang tak tahu diri.
Siang itu,
sepulang dari sholat duhur di mesjid aku langsung pulang ke rumah Tanteku,
karena sejak aku tak punya kerjaan, aku memutuskan untuk tinggal bersama tante.
Hidup sendiri takut membuatku berfikir yang tidak logis. Kunyalakan televisi
sambil melihat berita TV siang itu. Lagi-lagi perampokan, lagi-lagi kejahatan dan kekerasan. Beritanya kebanyakan begitu.
Tukang pos
membuyarkan lamunanku. Kulihat ternyata ada surat panggilan bekerja untukku. Kuterima dan kulihat surat
itu. Alhamdulillah, akhirnya aku diterima bekerja setelah melakukan beberapa tes. Ini memang penantian yang panjang. Aku rasa inilah mungkin
saatnya.
***
Kini aku sudah bekerja di perusahaan
yang tidak terlalu besar, bukan jabatan yang aku kejar, tapi keberkahan. Gajiku
memang tak seberapa tapi aku bahagia. Sekarang aku putuskan untuk merawat Ibu
sendiri di rumah. Rumah kecil yang aku beli dari sisa tabungan terdahulu dan
bantuan dari Tante yang selama ini aku anggap orangtuaku sendiri.
Ibu…tetap diam.
Namun aku yakin dalam diam Ibu, Ibu menyimpan banyak doa untukku. Bila aku
mengingat kejadian dulu, betapa aku sangat ingin mengutuk diriku sendiri.
Apakah masih ada pintu ampunan-MU Ya Robb…dan apakah masih ada pintu maaf Ibu
untukku.
Dalam diam Ibu,
aku merasa berjuta kasih sayang tersimpan untukku, walaupun aku sudah menyia-nyiakannya bertahun-tahun. Menganggapnya
sudah tiada, tapi aku mohon Bu…jangan tiadakan kasih sayang itu untukku.
Dalam diam
Ibu…walau selalu terdiam, tapi aku melihat tatapan Ibu penuh cinta. Aku anaknya
yang memang tak pantas merasakan cintanya tetap berharap agar Ibu bisa sembuh
dan bisa memelukku lagi seperti dulu.
Aku berharap
jika kelak Yang Diatas memberikan aku jodoh kembali. Aku berharap siapapun dia,
dia bisa menerima Ibuku dan mencintainya.
Dalam doaku tak
henti-hentinya
aku memohon…sembuhkan Ibuku Robb…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar