4 Jan 2012

Dalam Diam Ibu

Adakah anak yang pernah menyia-nyiakan seorang Ibu seperti aku??? Ataukah ada seorang anak yang merasa mengakui Ibunya sendiri seperti aku???

Mungkin hanya aku…

Kecelakaan itu yang membuat Ibu seperti sekarang ini. Perjalanan yang tadinya kurasa akan sangat menyenangkan. Tapi malah berakibat seperti ini. Perjalanan untuk berlibur kesuatu tempat malah mengantarkan Ayah dan Adikku kehari terakhir hidupnya. Hanya aku dan Ibu yang selamat dari kecelakaan maut itu. Ibu depresi ketika mendengar Ayah dan Adikku meninggal. Aku tak ingin menyebut Ibu gila walaupun mungkin kenyataannya seperti itu. Kini sudah hampir dua tahun Ibu tinggal di Rumah Sakit Jiwa.

Ayah adalah tulang punggung keluargaku, tapi beruntung aku masih mempunyai seorang tante yang masih peduli dengan kondisi Kami. Biaya sekolah aku sampai meneruskan ke perguruan tinggi semua  ditanggung beliau. Hingga biaya pengobatan Ibupun beliau yang menanggungnya.

Tanteku yang tak lain adik dari almarhum Ayah adalah seorang yang cukup terpandang. Sudah 10 tahun menikah tapi beliau belum dikaruniai seorang anak.

***

Setiap hari aku menjenguk Ibu, walaupun selalu tak ada perubahan. Ibu hanya diam. Namun sesekali ada air mata bergelinang di sudut matanya. Bercerita apapun pada Ibu serasa percuma karena Ibu tetap diam.

Namun sejak aku diterima bekerja, aku jarang sekali menengok Ibu. Waktuku hampir habis di kantor. Jabatan kian tinggi, kian membuat aku lupa diri. Keegoisan, kesombongan, keangkuhan dan sebagainya mungkin tengah aku rasakan saat itu. Cobaan berupa kenikmatan dunia mungkin sedang aku jalani tapi aku tetap tak sadar diri. Setiap orang yang Tanya keberadaa Ibu, aku selalu jawab Ibu sudah tak ada. Aku malu punya Ibu yang sekarang ada di rumah sakit jiwa. Apa kata orang.

***

Suatu hari, anak dari direktur di perusahaanku datang ke kantor. Dia baru pulang dari luar negeri, menyelesaikan studynya dan rencananya dia akan bekerja di kantor tempat aku bekerja. Seorang perempuan yang menarik dan cerdas. Namun sedikit angkuh.

Dia ditugaskan satu tim denganku. Tak kebayang rasanya akan bekerja sama dengan seorang perempuan cantik tapi angkuh seperti itu. Namun, apa boleh buat. Ini konsekuensi pekerjaan.

Hanya beberapa saat saja aku mengenalnya. Memang benar apa yang ku duga. Perempuan yang cukup keras. Mungkin karena sudah lama hidup mandiri di negeri orang. Namun, semakin lama aku merasakan sifat dia semakin aneh. Dia semakin perhatian dan semakin menunjukkan kalau dia mempunyai perasaan yang lebih padaku. Entahlah…apa mungkin ini perasaanku saja.

Tapi ternyata tidak…aku begitu kaget ketika atasanku memanggilku dan memintaku untuk melamar anaknya. Pernah terbersit dipikiranku...apa kelebihanku…namun inilah mungkin cinta.

Sejak aku diminta untuk melamar anaknya. Aku tak pernah berhenti berfikir karena aku sendiri tak pernah mempunyai perasaan itu. Sama sekali tidak. Tapi disisi lain, apa jadinya aku nanti kalau aku sampai menolaknya. Lalu bagaimana dengan Ibu, aku tak mungkin mengatakan kalau Ibu sedang dirawat di rumah sakit jiwa, apalagi satu kantor sudah tahu kalau Ibuku sudah meninggal.

Akhirnya aku putuskan untuk menerima tawaran atasanku untuk melamar anaknya. Atasanku menanyakan tentang keluargaku dan aku jawab dengan berjuta kebohongan.

Tante sempat tak setuju dengan keputusanku, apalagi menyuruhnya berbohong mengatakan bahwa Ibu sudah meninggal. Namun aku terus mendesaknya. Dan akhirnya tak ada pilihan lain.

Akupun menikah dengan perempuan itu. Tanpa rasa sedikitpun. Entah ini pernikahan seperti apa. Kekayaan mungkin aku dapatkan, namun kebahagiaan sama sekali tak pernah aku rasakan. Setiap hari penuh tekanan. Sampai aku tak yakin kalau aku sudah benar-benar mempunyai istri. Dia sangat  berbeda dengan Ibu…sejenak aku mengingat Ibu. Betapa durhakanya aku.

Sekitar satu tahun aku menikah dan sejak menikah aku tak tahu kondisi Ibu seperti apa. Hanya mendengar cerita dari Tante kalau Ibu sekarang sering sakit-sakitan. Selama satu tahun itupun aku tak pernah mengatakan keberadaan Ibu pada istriku. Bukan karena aku takut kehilangannya, tapi aku takut semua yang aku miliki akan hilang. Aku tak ingin miskin.

Semakin berjalannya waktu, semakin aku merasakan kehidupan rumah tanggaku penuh dengan kekacauan. Istriku tiap malam pergi ke dunia hiburan, pulang ke rumah dengan bau alkohol. Sementara keberadaanku sebagai suami mungkin baginya hanya sebagai status. Berbeda dengan Ibu, dia adalah seorang istri yang patuh pada Ayah. Kenapa Ya Robb…aku tak mendapatkan istri seperti Ibu.

***

Minggu siang…Kami sedang duduk diteras depan. Ku lihat ada tetangga depan rumah yang baru pindahan. Tetangga baruku itu datang menghampiri rumahku, mungkin maksudnya untuk memperkenalkan diri. Tapi setelah aku lihat, sepertinya aku mengenalnya. Dia temanku waktu kuliah. Alangkah kagetnya aku ketika dia bertanya tentang Ibu yang sedang dirawat di rumah sakit jiwa. Istriku langsung meledak saat itu. Dia tak peduli dengan temanku yang masih berada disana. Akupun langsung menyusulnya ke dalam rumah dan membiarkan temanku disana sendiri.

Istriku seperti orang kesetanan, marah tak karuan, namun disisi lain aku juga merasakan perasaan dia. Mungkin dia kecewa. Penjelasan akupun sudah tak digubrisnya. Penghinaan dan sumpah serapahpun keluar dari mulutnya. Tanpa berfikir panjang dia langsung menyatakan kalau dia ingin bercerai.

Aku berfikir sejenak. Kenapa jalan hidupku harus seperti ini. Tapi mungkin inilah balasan dari apa yang aku perbuat selama ini. Selama ini aku jauh dari yang namanya agama. Bahkan mengaku sosok Ibupun aku malu. Sudah mau dua tahun aku tak melihat wajah Ibu. Ingin rasanya saat ini aku memeluk Ibu dan menumpahkan apa yang aku rasakan saat ini.

***

Akhirnya akupun bercerai dengan istriku. Pernikahan yang hanya berusia dua tahun saja. Dan akupun memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempat aku bekerja.

Sekitar enam bulan aku menjadi pengangguran, melamar kesana kemari pun aku tak diterima. Hidup hanya bergantung pada orang.  Sampai detik itupun, aku belum berani menengok Ibu. Aku malu…tapi sekarang, bukan malu mengakui Ibu sebagai orangtuaku, tapi malu karena aku menjadi anak yang tak tahu diri.

Siang itu, sepulang dari sholat duhur di mesjid aku langsung pulang ke rumah Tanteku, karena sejak aku tak punya kerjaan, aku memutuskan untuk tinggal bersama tante. Hidup sendiri takut membuatku berfikir yang tidak logis. Kunyalakan televisi sambil melihat berita TV siang itu. Lagi-lagi perampokan, lagi-lagi kejahatan dan kekerasan. Beritanya kebanyakan begitu.

Tukang pos membuyarkan lamunanku. Kulihat ternyata ada surat panggilan bekerja untukku. Kuterima dan kulihat surat itu. Alhamdulillah, akhirnya aku diterima bekerja setelah melakukan beberapa tes. Ini memang penantian yang panjang. Aku rasa inilah mungkin saatnya.

***

Kini aku sudah bekerja di perusahaan yang tidak terlalu besar, bukan jabatan yang aku kejar, tapi keberkahan. Gajiku memang tak seberapa tapi aku bahagia. Sekarang aku putuskan untuk merawat Ibu sendiri di rumah. Rumah kecil yang aku beli dari sisa tabungan terdahulu dan bantuan dari Tante yang selama ini aku anggap orangtuaku sendiri.

Ibu…tetap diam. Namun aku yakin dalam diam Ibu, Ibu menyimpan banyak doa untukku. Bila aku mengingat kejadian dulu, betapa aku sangat ingin mengutuk diriku sendiri. Apakah masih ada pintu ampunan-MU Ya Robb…dan apakah masih ada pintu maaf Ibu untukku.

Dalam diam Ibu, aku merasa berjuta kasih sayang tersimpan untukku, walaupun aku sudah menyia-nyiakannya bertahun-tahun. Menganggapnya sudah tiada, tapi aku mohon Bu…jangan tiadakan kasih sayang itu untukku.

Dalam diam Ibu…walau selalu terdiam, tapi aku melihat tatapan Ibu penuh cinta. Aku anaknya yang memang tak pantas merasakan cintanya tetap berharap agar Ibu bisa sembuh dan bisa memelukku lagi seperti dulu.

Aku berharap jika kelak Yang Diatas memberikan aku jodoh kembali. Aku berharap siapapun dia, dia bisa menerima Ibuku dan mencintainya.


Dalam doaku tak henti-hentinya aku memohon…sembuhkan Ibuku Robb…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar