Allah SWT tidak
akan membebani permasalahan diluar batas kemampuan manusia. Setiap orang pasti
pernah merasakan sakit, kecewa, atau bahkan kehilangan orang-orang yang
terkasih. Ketika permasalahan itu terjadi kita pasti berfikir hidup ini tak
adil, namun semua yang terjadi pasti ada hikmah yang tersimpan.
Seorang gadis
muslimah dengan kerudung putih itu masih asyik membaca buku tentang kesehatan. Sesuai
dengan cita-citanya, dia ingin menjadi seorang dokter. Masuk disalah satu Universitas ternama di
kota itu pada
Fakultas Kedokteran yang sesuai keinginannya adalah suatu kebanggaan tersendiri
buat dia. Berharap cita-cita itu akan segera menjadi kenyataan.
Masih di ruang
perpustakaan, memang ruangan itu adalah
salah satu tempat favoritnya. Membaca adalah
kegemarannya sejak kecil. Bahkan ada temannya yang memberi julukan si kutu
buku. Tapi biarlah…baginya, yang penting hidup tak menyusahkan dan merugikan
orang lain…jalani saja.
Aktif
berorganisasi remaja muslim juga salah satu kegiatan di kampusnya. Gadis yang
cerdas, pintar bersosialisasi, ramah, bahkan religius. Secara fisik dia gadis
yang sangat cantik dan menarik, maka sangatlah wajar banyak kaum adam yang
berharap mendapatkan perhatian darinya. Namun gadis itu tak pernah menghiraukannya.
Pacaran tak pernah ada dalam benaknya.
***
Suatu hari,
Kampus tempatnya menuntut ilmu itu akan menyelenggarakan acara seminar. Dia
dipercaya menjadi moderator dalam acara seminar tersebut dan pembicaranya
adalah seorang dokter muda dari salah satu rumah sakit swasta di kota itu. Acara direncanakan akan
berlangsung sekitar dua jam.
Dua jam berlalu,
didalam waktu 120 menit itu bukan hanya menghasilkan ilmu yang bermanfaat. Tapi
juga memperoleh teman baru. Perkenalan antara si moderator dan seorang dokter
muda.
Dua tahun
berlalu, tak terasa gadis kutu buku yang cantik itu selangkah lagi akan
menyelesaikan tugas akhir kuliahnya. Dia hendak melakukan kerja praktek disalah
satu rumah sakit. Berharap keinginannya menjadi seorang dokter akan segera
terwujud.
Hari itu adalah
hari pertama dia kerja praktek. Pagi-pagi sekali dia sudah berangkat,
berpamitan pada Ibu tercinta dan meminta doa restu supaya aktivitasnya bisa berjalan
sesuai harapan. Berdoa, berusaha, dan tawakal itu menjadi motto hidupnya.
Tibalah dia di
rumah sakit tempat dia kerja praktek. Pukul 08.00 WIB akan diadakan pengarahan
dari pihak rumah sakit. Namun, seperti biasa kebiasaan “jam karet” pun ternyata
berlaku disana. Jam 09.00 WIB baru datang orang yang akan memberikan pengarahan.
Gadis itu merasa tidak asing lagi dengan orang yang akan memberikan
pengarahan padanya, “Rasa kenal…tapi dimana ya?” gumamnya dalam
hati. Lama berfikir, akhirnya dia
ingat dimana dia mengenal dokter itu. Betul sekali, dokter itu adalah dokter dalam seminar yang beberapa tahun kebelakang dia ikuti.
Ingin sekali dia menyapanya, namun dia berfikir, takut kalau dia salah
orang, mungkin hanya mirip. Karena kejadian perkenalan itu terjadi beberapa
tahun yang lalu. Pertemanan tanpa ada komunikasi lagi. Namun tanpa disadari,
dulu waktu 120 menit itu terasa begitu berarti baginya. Mungkin ada kekaguman
yang tersimpan di hati gadis itu. Dan kini, takdir yang mempertemukan mereka kembali.
Setelah memberi
pengarahan, dokter itu pun mempersilakan para calon dokter untuk bekerja sesuai
tugasnya masing-masing. Begitupun dengan
sang gadis, dia melakukan tugasnya dengan baik. Bekerja tanpa beban akan
menghasilkan kenyamanan, fikirnya. Tak terasa waktu istirahat pun tiba. Dia diajak salah satu
temannya untuk mengisi perutnya di kantin sebelah rumah sakit.
Disebuah kantin
itu dia melihat kembali sosok yang beberapa tahun dia kagumi. Dokter muda yang
sangat ramah di matanya. Matanya mengarah ke dokter itu, dan tanpa disengaja dokter
muda itupun melihatnya. Seulas senyum terpancar dari bibir sang dokter. Deegg…jantungnya
seolah berhenti berdegup. Kekaguman itu mungkin bukan hanya sebatas kekaguman
biasa.
Gadis itupun
hendak menyantap makanan yang sudah dia pesan dengan temannya. Tiba-tiba dari
arah belakang ada seseorang yang menyapanya.
“Maaf, boleh
gabung?” lontaran kata yang sederhana dari seorang dokter itu. Si gadis pun
menoleh ke belakang, dengan sedikit kaget dia pun menjawab “Boleh dok,
silakan…” jawabnya. Akhirnya
merekapun berbincang dari mulai seputar kedokteran sampai masalah
keluarga. Hari pertama yang memberi
kesan tersendiri buat si calon dokter.
***
Waktu
berlalu…akhirnya kerja praktek itupun sudah berakhir, namun tidak berakhir
dengan pertemanan mereka. Pertemanan
kali ini tidak dilewatkan begitu saja seperti halnya
dua tahun yang lalu setelah peristiwa 120 menit itu. Setelah saling mengenal
yang tidak begitu lama itu, dokter berniat untuk melamar sang gadis karena
dianggap gadis itu layak untuk menjadi istrinya dan ibu dari anak-anaknya.
Menikahlah gadis
itu dengan dokter yang menjadi kekagumannya selama ini. Dokter yang sangat
beruntung, begitu fikir para laki-laki yang selama ini mendambakan sang gadis.
Kini, gadis itupun telah
menjadi seorang dokter dan seorang istri dokter. Pernikahan yang bahagia,
pernikahan yang sempurna apalagi tak perlu menunggu waktu lama, Allah SWT telah
menitipkan calon pemimpin didalam rahimnya.
Walaupun dia
seorang dokter, tapi dia juga tak pernah melupakan tugas utamanya menjadi
seorang istri. Dia selalu berusaha
menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya.
Begitupun dengan sang suami, dia paham betul
mengenai hak dan kewajibannya.
Tanpa terasa, wanita itu telah menjadi
wanita yang benar-benar sempurna, anak dalam kandungannya telah lahir ke dunia.
Seorang anak laki-laki, yang diharapkan akan menjadi seorang pemimpin, menjadi
kebanggaan dan menjadi harapan.
***
Sang anakpun
tumbuh menjadi dewasa, menjadi anak yang cerdas dan berbakti kepada kedua orangtua. Anak yang
benar-benar
menjadi harapan keluarga.
Suatu hari, di pagi yang
indah, si anak meminta ijin untuk pergi ke suatu daerah untuk acara
kemanusiaan, dipelosok kota ada daerah yang terkena musibah banjir. Tentu saja
orangtua mereka mengijinkan. Si anak mengatakan sore hari juga dia sudah pulang
kerumah.
Sore hari dengan
cemas sang Ibu
telah bersiap menyambut anaknya. Namun entah kenapa hatinya merasa tidak enak.
Apalagi sore sudah berganti dengan malam, anaknya tak kunjung datang. Tiba-tiba ada telepon
berbunyi.
Alangkah kagetnya sang Ibu ketika telepon itu ternyata dari rumah sakit, mengabarkan bahwa anaknya mengalami kecelakaan. Sang Ibu dan suaminya
cepat-cepat bergegas pergi untuk
segera melihat kondisi anaknya.
***
Berita buruk,
anaknya mengalami kehilangan banyak darah dan membutuhkan donor darah dengan
segera. Akhirnya sang Ibu dan Ayahnya pun yang sama-sama dokter diperiksa golongan darah, darah
siapa yang cocok buat anaknya. Sungguh
sedih sekali hati sang Ibu, apalagi yang tergolek lemas itu adalah anak satu-satunya, setelah anaknya berumur dewasa, pasangan itu
belum dikaruniai anak lagi.
Setelah diperiksa, ternyata darah sang Ibu yang cocok untuk
anaknya. Transfusi darahpun dilakukan. Dan si anak selamat dari kecelakaan itu.
Setelah
melakukan transfusi darah, pada beberapa hari kemudian sang Ibu mengalami penurunan kondisi badan, padahal di
dunia kedokteran hal itu sangatlah tidak wajar, karena pada waktu mendonorkan
darah kondisinya sangatlah baik. Dia paham betul karena dia seorang dokter. Namun,
apa yang terjadi sekarang, dia sering mengalami demam, berkeringat pada malam hari dan merasa
lemah.
Akhirnya sang Ibu yang berprofesi dokter
itupun berniat untuk cek darah di rumah sakit tempat dia bekerja. Akhirnya tes darah
dilakukan dan
hasilnya baru bisa dilihat keesokan harinya.
***
Keesokan harinya dengan ditemani suami
tercinta, dia mengambil hasil tesnya di rumah sakit. Entah ini ujian dari Allah
SWT atas keimanannya, ataukah ini kesalahan medist, ataukah mereka yang salah
baca. Didalam kertas hasil tes darah, sang Ibu itu divonis positif terkena virus HIV, virus
jahat yang sampai sekarang dunia kedokteran pun belum mendapatkan cara penyembuhannya.
Menangis,
kecewa, kesal, bahkan marah yang
dirasakan pasangan dokter itu. Seorang dokter muslimah, ibu yang baik, istri
yang solehah terkena virus HIV. Cobaan yang luar biasa. Entah dari mana
datangnya virus jahat itu. Mungkinkah karena donor darah? Menebak tak akan
mengembalikan keadaan seperti semula. Dibenaknya terfikir akan terjadi cibiran dari
orang-orang sekitar, cacian dari masyarakat. Betapa pedihnya.
Permasalahan
yang dianggap berat, sangat berat…beban yang dianggapnya tak akan pernah bisa
dipikul. Hanya pasrah yang bisa dia lakukan.
Kondisi sang Ibu semakin menurun,
dengan kondisi seperti itu pihak rumah sakitpun tempat dia bekerja tak mau lagi
menerimanya. Akhirnya sang Ibu hanya bisa terkapar lemas dengan badan tak berdaya. Semakin hari
kondisinya semakin menurun. Namun suami dan anaknya masih setia merawat dia
dengan penuh cinta. Tak ada tanda sedikitpun sang suami melepas kesetiaannya
kepada sang istri.
***
Pada suatu hari,
sang istri memanggil suaminya. Dengan penuh kasih sayang, suaminya menghampiri
dia. Kemudian istrinya meminta satu permintaan.
“Yah…aku punya
satu permintaan, mungkin dengan permintaan ini aku bisa tenang meninggalkan Ayah dan anak kita”.
Suaminya
sempat heran mendengar permintaan istrinya, namun dia menjawab, ”Apa bu…?”.
“Carilah istri
sholehah sebagai penggantiku…”, begitu kata sang istri.
Sedih…hancur hati
suaminya saat itu. Tak terasa air matanya menetes. Keinginan istrinya sangatlah
berat. Dia adalah seorang istri yang sempurna di matanya, seorang Ibu dari anaknya yang
sangat dia banggakan. Seorang bidadari.
“Aku tak bisa Bu…sungguh aku tak
bisa…”jelas suaminya.
Namun sang istri
terus mendesak. Dan akhirnya sang suamipun mengiyakan permintaan istrinya
dengan maksud untuk menyenangkan hatinya.
“Sudahlah…sekarang
Ibu tidur saja…istirahat, ada aku disini yang selalu menjagamu dan ada Allah SWT yang
selalu melindungimu”, kata suaminya.
Masih dalam
keadaan memeluk istrinya yang semakin tak berdaya, masih dengan satu harap,
penyakit istrinya akan sembuh, masih dengan keyakinan yang kuat kepada Sang
Maha Kuat, sang suami berkata dalam hati…”Mana
mungkin aku bisa mencari penggantimu, engkau adalah bidadari terakhir untukku…”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar