4 Jan 2012

Bidadari Terakhir

Allah SWT tidak akan membebani permasalahan diluar batas kemampuan manusia. Setiap orang pasti pernah merasakan sakit, kecewa, atau bahkan kehilangan orang-orang yang terkasih. Ketika permasalahan itu terjadi kita pasti berfikir hidup ini tak adil, namun semua yang terjadi pasti ada hikmah yang tersimpan.

Seorang gadis muslimah dengan kerudung putih itu masih asyik membaca buku tentang kesehatan. Sesuai dengan cita-citanya, dia ingin menjadi seorang dokter. Masuk disalah satu Universitas ternama di kota itu pada Fakultas Kedokteran yang sesuai keinginannya adalah suatu kebanggaan tersendiri buat dia. Berharap cita-cita itu akan segera menjadi kenyataan.

Masih di ruang perpustakaan, memang ruangan itu adalah salah satu tempat favoritnya. Membaca adalah kegemarannya sejak kecil. Bahkan ada temannya yang memberi julukan si kutu buku. Tapi biarlah…baginya, yang penting hidup tak menyusahkan dan merugikan orang lain…jalani saja.

Aktif berorganisasi remaja muslim juga salah satu kegiatan di kampusnya. Gadis yang cerdas, pintar bersosialisasi, ramah, bahkan religius. Secara fisik dia gadis yang sangat cantik dan menarik, maka sangatlah wajar banyak kaum adam yang berharap mendapatkan perhatian darinya. Namun gadis itu tak pernah menghiraukannya. Pacaran tak pernah ada dalam benaknya.


***
Suatu hari, Kampus tempatnya menuntut ilmu itu akan menyelenggarakan acara seminar. Dia dipercaya menjadi moderator dalam acara seminar tersebut dan pembicaranya adalah seorang dokter muda dari salah satu rumah sakit swasta di kota itu. Acara direncanakan akan berlangsung sekitar dua jam.

Dua jam berlalu, didalam waktu 120 menit itu bukan hanya menghasilkan ilmu yang bermanfaat. Tapi juga memperoleh teman baru. Perkenalan antara si moderator dan seorang dokter muda.

Dua tahun berlalu, tak terasa gadis kutu buku yang cantik itu selangkah lagi akan menyelesaikan tugas akhir kuliahnya. Dia hendak melakukan kerja praktek disalah satu rumah sakit. Berharap keinginannya menjadi seorang dokter akan segera terwujud.

Hari itu adalah hari pertama dia kerja praktek. Pagi-pagi sekali dia sudah berangkat, berpamitan pada Ibu tercinta dan meminta doa restu supaya aktivitasnya bisa berjalan sesuai harapan. Berdoa, berusaha, dan tawakal itu menjadi motto hidupnya.

Tibalah dia di rumah sakit tempat dia kerja praktek. Pukul 08.00 WIB akan diadakan pengarahan dari pihak rumah sakit. Namun, seperti biasa kebiasaan “jam karet” pun ternyata berlaku disana. Jam 09.00 WIB baru datang orang yang akan memberikan pengarahan.

Gadis itu merasa tidak asing lagi dengan orang yang akan memberikan pengarahan padanya, “Rasa kenal…tapi dimana ya?” gumamnya dalam hati. Lama berfikir, akhirnya dia ingat dimana dia mengenal dokter itu. Betul sekali, dokter itu adalah dokter dalam seminar yang beberapa tahun kebelakang dia ikuti.

Ingin sekali dia menyapanya, namun dia berfikir, takut kalau dia salah orang, mungkin hanya mirip. Karena kejadian perkenalan itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Pertemanan tanpa ada komunikasi lagi. Namun tanpa disadari, dulu waktu 120 menit itu terasa begitu berarti baginya. Mungkin ada kekaguman yang tersimpan di hati gadis itu. Dan kini, takdir yang mempertemukan mereka kembali.

Setelah memberi pengarahan, dokter itu pun mempersilakan para calon dokter untuk bekerja sesuai tugasnya masing-masing.  Begitupun dengan sang gadis, dia melakukan tugasnya dengan baik. Bekerja tanpa beban akan menghasilkan kenyamanan, fikirnya. Tak terasa waktu istirahat pun tiba. Dia diajak salah satu temannya untuk mengisi perutnya di kantin sebelah rumah sakit.

Disebuah kantin itu dia melihat kembali sosok yang beberapa tahun dia kagumi. Dokter muda yang sangat ramah di matanya. Matanya mengarah ke dokter itu, dan tanpa disengaja dokter muda itupun melihatnya. Seulas senyum terpancar dari bibir sang dokter. Deegg…jantungnya seolah berhenti berdegup. Kekaguman itu mungkin bukan hanya sebatas kekaguman biasa.

Gadis itupun hendak menyantap makanan yang sudah dia pesan dengan temannya. Tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang menyapanya.

“Maaf, boleh gabung?” lontaran kata yang sederhana dari seorang dokter itu. Si gadis pun menoleh ke belakang, dengan sedikit kaget dia pun menjawab “Boleh dok, silakan…” jawabnya. Akhirnya merekapun berbincang dari mulai seputar kedokteran sampai masalah keluarga.  Hari pertama yang memberi kesan tersendiri buat si calon dokter.

***

Waktu berlalu…akhirnya kerja praktek itupun sudah berakhir, namun tidak berakhir dengan pertemanan mereka. Pertemanan kali ini tidak dilewatkan begitu saja seperti halnya dua tahun yang lalu setelah peristiwa 120 menit itu. Setelah saling mengenal yang tidak begitu lama itu, dokter berniat untuk melamar sang gadis karena dianggap gadis itu layak untuk menjadi istrinya dan ibu dari anak-anaknya.

Menikahlah gadis itu dengan dokter yang menjadi kekagumannya selama ini. Dokter yang sangat beruntung, begitu fikir para laki-laki yang selama ini mendambakan sang gadis.

Kini, gadis itupun telah menjadi seorang dokter dan seorang istri dokter. Pernikahan yang bahagia, pernikahan yang sempurna apalagi tak perlu menunggu waktu lama, Allah SWT telah menitipkan calon pemimpin didalam rahimnya.

Walaupun dia seorang dokter, tapi dia juga tak pernah melupakan tugas utamanya menjadi seorang istri. Dia selalu berusaha menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Begitupun dengan sang suami, dia paham betul  mengenai hak dan kewajibannya.

Tanpa terasa, wanita itu telah menjadi wanita yang benar-benar sempurna, anak dalam kandungannya telah lahir ke dunia. Seorang anak laki-laki, yang diharapkan akan menjadi seorang pemimpin, menjadi kebanggaan dan menjadi harapan.

***

Sang anakpun tumbuh menjadi dewasa, menjadi anak yang cerdas dan berbakti kepada kedua orangtua. Anak yang benar-benar menjadi harapan keluarga.

Suatu hari, di pagi yang indah, si anak meminta ijin untuk pergi ke suatu daerah untuk acara kemanusiaan, dipelosok kota ada daerah yang terkena musibah banjir. Tentu saja orangtua mereka mengijinkan. Si anak mengatakan sore hari juga dia sudah pulang kerumah.

Sore hari dengan cemas sang Ibu telah bersiap menyambut anaknya. Namun entah kenapa hatinya merasa tidak enak. Apalagi sore sudah berganti dengan malam, anaknya tak kunjung datang. Tiba-tiba ada telepon berbunyi.

Alangkah kagetnya sang Ibu ketika telepon itu ternyata dari rumah sakit, mengabarkan bahwa anaknya mengalami kecelakaan. Sang Ibu dan suaminya cepat-cepat bergegas pergi untuk segera melihat kondisi anaknya.

***

Berita buruk, anaknya mengalami kehilangan banyak darah dan membutuhkan donor darah dengan segera. Akhirnya sang Ibu dan Ayahnya pun yang sama-sama dokter diperiksa golongan darah, darah siapa yang cocok buat anaknya. Sungguh sedih sekali hati sang Ibu, apalagi yang tergolek lemas itu adalah anak satu-satunya, setelah anaknya berumur dewasa, pasangan itu belum dikaruniai anak lagi.
Setelah diperiksa, ternyata darah sang Ibu yang cocok untuk anaknya. Transfusi darahpun dilakukan. Dan si anak selamat dari kecelakaan itu.

Setelah melakukan transfusi darah, pada beberapa hari kemudian  sang Ibu mengalami penurunan kondisi badan, padahal di dunia kedokteran hal itu sangatlah tidak wajar, karena pada waktu mendonorkan darah kondisinya sangatlah baik. Dia paham betul karena dia seorang dokter. Namun, apa yang terjadi sekarang, dia sering mengalami demam, berkeringat pada malam hari dan merasa lemah.

Akhirnya sang Ibu yang berprofesi dokter itupun berniat untuk cek darah di rumah sakit tempat dia bekerja. Akhirnya tes darah dilakukan dan hasilnya baru bisa dilihat keesokan harinya.

***

Keesokan harinya dengan ditemani suami tercinta, dia mengambil hasil tesnya di rumah sakit. Entah ini ujian dari Allah SWT atas keimanannya, ataukah ini kesalahan medist, ataukah mereka yang salah baca. Didalam kertas hasil tes darah, sang Ibu itu divonis positif terkena virus HIV, virus jahat yang sampai sekarang dunia kedokteran pun belum mendapatkan cara penyembuhannya.

Menangis, kecewa, kesal, bahkan marah  yang dirasakan pasangan dokter itu. Seorang dokter muslimah, ibu yang baik, istri yang solehah terkena virus HIV. Cobaan yang luar biasa. Entah dari mana datangnya virus jahat itu. Mungkinkah karena donor darah? Menebak tak akan mengembalikan keadaan seperti semula. Dibenaknya terfikir akan terjadi cibiran dari orang-orang sekitar, cacian dari masyarakat. Betapa pedihnya.

Permasalahan yang dianggap berat, sangat berat…beban yang dianggapnya tak akan pernah bisa dipikul. Hanya pasrah yang bisa dia lakukan.

Kondisi sang Ibu semakin menurun, dengan kondisi seperti itu pihak rumah sakitpun tempat dia bekerja tak mau lagi menerimanya. Akhirnya sang Ibu hanya bisa terkapar lemas dengan badan tak berdaya. Semakin hari kondisinya semakin menurun. Namun suami dan anaknya masih setia merawat dia dengan penuh cinta. Tak ada tanda sedikitpun sang suami melepas kesetiaannya kepada sang istri.

***

Pada suatu hari, sang istri memanggil suaminya. Dengan penuh kasih sayang, suaminya menghampiri dia. Kemudian istrinya meminta satu permintaan.

“Yah…aku punya satu permintaan, mungkin dengan permintaan ini aku bisa tenang meninggalkan Ayah dan anak kita”.

Suaminya sempat heran mendengar permintaan istrinya, namun dia menjawab, ”Apa bu…?”.

“Carilah istri sholehah sebagai penggantiku…”, begitu kata sang istri.

Sedih…hancur hati suaminya saat itu. Tak terasa air matanya menetes. Keinginan istrinya sangatlah berat. Dia adalah seorang istri yang sempurna di matanya, seorang Ibu dari anaknya yang sangat dia banggakan. Seorang bidadari.

“Aku tak bisa Bu…sungguh aku tak bisa…”jelas suaminya.

Namun sang istri terus mendesak. Dan akhirnya sang suamipun mengiyakan permintaan istrinya dengan maksud untuk menyenangkan hatinya.

“Sudahlah…sekarang Ibu tidur saja…istirahat, ada aku disini yang selalu menjagamu dan ada Allah SWT yang selalu melindungimu”, kata suaminya.


Masih dalam keadaan memeluk istrinya yang semakin tak berdaya, masih dengan satu harap, penyakit istrinya akan sembuh, masih dengan keyakinan yang kuat kepada Sang Maha Kuat,  sang suami berkata dalam hati…”Mana mungkin aku bisa mencari penggantimu, engkau adalah bidadari terakhir untukku…”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar