4 Jan 2012

Mencintai Secara Wajar


Aku hanya seorang manusia biasa yang sama seperti manusia lain, pernah mencintai, pernah dicintai, pernah merasakan bahagia, merasakan sakit, merasakan kecewa dan merasakan segala yang pernah orang-orang rasakan ketika jatuh cinta. Walaupun aku tak tahu cinta yang aku rasakan entah atas dasar apa.

Aku mengenalnya ketika aku menginjak bangku kuliah semester tiga. Biasa saja prosesnya, berkenalan, berteman, dan akhirnya jatuh cinta. Tidak ada yang istimewa. Cerita cinta yang sewajarnya. Karena faktor satu dan yang lainnya, akhirnya ketika Kami menjelang kelulusan, Kamipun berpisah secara baik-baik dan tidak ada yang tersakiti karena itu atas dasar kesadaran kita masing-masing. Begitulah cerita Kami. Standard dan tak ada kesan.

***

Empat tahun Kami berpisah, tak ada kabar berita, aku tak tahu dia dimana begitupun dia seolah tak pernah peduli dengan keberadaanku. Jika ditanya, apakah selama waktu empat tahun, rasa itu masih ada atau sudah hilang? Aku mungkin bisa menjawab masih ada dan belum hilang. Aku selalu berharap aku bisa bertemu dengannya lagi walaupun dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Apakah doaku salah??? Mungkin iya…mungkin juga tidak.

Tanggal 24 Desember 2004, pagi yang cerah. Bis yang mengantarku ke kantorpun mendadak mogok ditengah perjalanan padahal waktu itu ada rapat dengan klien baruku. Aku bersama tim marketing lainnya sudah mengagendakan rapat tersebut satu bulan sebelumnya. Tak enak rasanya bila aku datang terlambat. Tanpa fikir panjang, akupun menunggu lewatnya taksi. Sekian lama aku menunggu akhirnya ada juga taksi yang lewat di jalan itu. Lalu bergegas aku panggil dan meluncurlah.

Pukul 09.15 aku sampai di kantor, tim marketing dan klienku pasti sudah menungguku di ruang rapat. saat itu aku dipercaya untuk memimpin rapat itu. Telat 15 menit tak apalah. Bukannya Negara kita sudah biasa dengan adat “budaya ngaret”nya.

Di ruangan rapat itu, kursi yang tersedia sudah terisi penuh, terkecuali ada satu kursi yang masih kosong. Kursi untukku. Dengan sangat terburu-buru, aku masuki ruangan itu.

“Pagi semua, maaf saya terlambat...” dengan wajah tanpa bersalah ku sapa mereka.

“Silakan Bu, semua sudah menunggu, kita segera mulai saja...” jawab salah satu temanku yang satu tim denganku.

Kuhiraukan saja omongannya, ku tahu dia sudah mulai kesal denganku yang datang telat. Bukan salahku, salahkan saja bis itu, desisku dalam hati untuk membela diri.

Kuperhatikan klienku satu persatu, ada empat orang dan satu orang klien itu terus saja memandangiku. Begitupun aku, rasanya aku mengenalnya, sangat mengenalnya. Seulas senyuman terpancar dari bibirnya. Akupun membalasnya. Namun aku tak ingin semua itu menghambat keprofesionalanku.

Tiga jam berlalu, rapat berakhir dan Kami pun keluar dari ruangan itu. Ketika aku akan memasuki ruanganku dan melanjutkan pekerjaanku tiba-tiba ada sapaan mengejutkan, klien itu. Benar dia orangnya, orang yang aku kenal empat tahun yang lalu. Orang yang kuanggap istimewa saat itu. Ya Allah, aku harus bekerja sama dengannya. Apa ini takdir, apa ini doaku yang Engkau kabulkan??? bisikku. Saat itu aku dan dia hanya berbicara seperlunya, sapaan biasa, seputar kabar, tak lebih dari itu.

***

Proyek yang aku garap bersamanya akan habis dalam waktu satu tahun, waktu yang cukup lama. Setiap hari aku akan bertemu dengannya. Tak pernah terbayangkan apa yang akan terjadi denganku, mengingat rasa itu masih ada.

Seringnya bertemu, hampir setiap hari kami berbincang, terkadang waktu weekend pun kita habiskan di kantor untuk membahas pekerjaan. Awalnya memang hanya masalah pekerjaan, namun seterusnya yang dibahas bukan hanya itu, tapi berlanjut ke masalah pribadi.  Sudah aku katakan, aku hanya manusia biasa yang tak pernah lepas dari godaan setan, bisikan-bisikan yang sangat halus merajuk di kalbuku, rasa kagum itu, rasa suka itu terus memaksaku untuk merasakannya. Sampai akhirnya habis sudah pertahanan hatiku untuk laki-laki itu.

***

Satu tahunpun berlalu, proyek yang kita garap sudah selesai dan berhasil sesuai harapan. Namun hubungan kita tak berakhir sampai disitu. Aku dan laki-laki itu tetap menjalin hubungan, mungkin bisa dibilang hubungan yang lebih dari sebagai teman. Aku mencintainya.

Dari tingkah lakunya, aku rasa diapun merasakan hal yang sama, walaupun tak pernah ada kata tapi dari perhatiannya ku rasa itu lebih dari sekedar ungkapan kata. Dua kali aku mencintai orang yang sama dalam waktu yang berbeda.

Semakin dalam, semakin takut aku kehilangan, semakin aku ingin memilikinya, semakin aku tak sanggup untuk kehilangannya.

***

Suatu hari, aku berniat untuk menanyakan kelanjutan hubungan Kami. Aku sudah sms dia, kita janjian untuk bertemu disuatu tempat. Diapun menyetujuinya dan dia tak pernah menolak ajakanku selama ini.

Kitapun bertemu, aku langsung menanyakan kelanjutan rasa yang kita jalani. Dia sedikit merenung, kulihat dia kebingungan, setelah beberapa menit terdiam akhirnya dia berkata.

“Aku juga mencintaimu, aku juga ingin menikahimu, seperti halnya keinginanku waktu dulu namun karena beberapa hal akhirnya aku harus meninggalkanmu, namun…aku tak yakin dengan kondisi aku saat ini kamu bisa menerimaku...” ungkapnya.

Aku sedikit bingung juga, kondisi saat ini? Maksudnya? pikirku dalam hati.

“Aku bisa menerimamu apa adanya, apa yang buat kamu ragu?” tanyaku.

Laki-laki yang selalu ada didalam hatiku itu terdiam untuk sejenak lagi. Dan akhirnya ungkapan tak terduga itu keluar dari mulutnya.

“Aku percaya, kamu bisa menerima aku apa adanya, aku cukup mengenalmu, namun bukan itu masalahnya...” jawabnya.

“Lalu apa?” tanyaku.

“Aku sudah punya istri dan anak, maaf…aku tak cerita dari awal, itu karena aku tak ingin kamu menjauh dariku, jika kamu bersedia menjadi istri keduaku, aku akan fikirkan lagi mengenai rasa itu selanjutnya.”ungkapnya.

Terkejut, sangat terkejut, dua kali aku mencintai, dua kali kurasakan kekecewaan dan dua kalipun aku harus kehilangan. Apa ini yang dinamakan aku sedang terjatuh ke lubang yang sama. Sangat bodoh.

“Maaf…aku tidak bisa. Aku tak ingin menjadi istri kedua, ketiga atau seterusnya. Bukan aku menolak keras poligami, tapi aku tak ingin menyakiti sesama wanita, mungkin aku bisa mencintai suami orang tapi aku tak bisa merebut suami orang, pulanglah…kembalilah ke rumah…istri dan anakmu pasti sudah menunggu...” ungkapan spontan dari mulutku.

***

Kamipun berpisah, kemudian akupun pulang ke rumah dengan langkah kaki yang  berat. Tapi tak seberat beban hatiku saat itu. Memang, cinta kepada sesama makhluk selalu diakhiri perpisahan, pernikahan bisa berakhir karena perceraian, kesetiaan cintapun bisa berakhir dengan kematian. Hanya cinta pada-NYA yang akan kekal dan tak akan berakhir kecewa.


Aku pasrah Robb, namun…seandainya suatu saat nanti Engkau berikan rasa itu lagi padaku untuk seorang laki-laki, berikanlah kepada laki-laki yang tepat. Tautkan dalam hatiku Robb…cintaku kepada-MU jauh lebih besar dari cintaku kepada siapapun dan apapun.  Ajari aku ya Robb, untuk mencintai orang sewajarnya saja.  Dan tak akan pernah merasakan kecewa yang teramat dalam ketika aku berpisah dengannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar