Aku hanya
seorang manusia biasa yang sama seperti manusia lain, pernah mencintai, pernah
dicintai, pernah merasakan bahagia, merasakan sakit, merasakan kecewa dan
merasakan segala yang pernah orang-orang rasakan ketika jatuh cinta. Walaupun
aku tak tahu cinta yang aku rasakan entah atas dasar apa.
Aku mengenalnya
ketika aku menginjak bangku kuliah semester tiga. Biasa saja prosesnya, berkenalan, berteman, dan
akhirnya jatuh cinta. Tidak ada yang istimewa. Cerita cinta yang sewajarnya.
Karena faktor satu dan yang lainnya, akhirnya ketika Kami menjelang kelulusan, Kamipun berpisah secara
baik-baik dan tidak ada yang tersakiti karena itu atas dasar kesadaran kita
masing-masing. Begitulah cerita Kami. Standard dan tak ada kesan.
***
Empat tahun Kami
berpisah, tak ada kabar berita, aku tak tahu dia dimana begitupun dia seolah
tak pernah peduli dengan keberadaanku. Jika ditanya, apakah selama waktu empat
tahun, rasa itu masih ada atau sudah hilang? Aku mungkin bisa menjawab masih
ada dan belum hilang. Aku selalu berharap aku bisa bertemu dengannya lagi walaupun
dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Apakah doaku salah??? Mungkin iya…mungkin juga
tidak.
Tanggal 24
Desember 2004, pagi yang cerah. Bis yang mengantarku ke kantorpun mendadak mogok
ditengah perjalanan padahal waktu itu ada rapat dengan klien baruku. Aku
bersama tim marketing lainnya sudah mengagendakan rapat tersebut satu bulan
sebelumnya. Tak enak rasanya bila aku datang terlambat. Tanpa fikir panjang,
akupun menunggu lewatnya taksi. Sekian
lama aku menunggu akhirnya ada juga taksi yang lewat di jalan itu. Lalu bergegas aku panggil
dan meluncurlah.
Pukul 09.15 aku
sampai di kantor, tim marketing dan klienku pasti sudah menungguku di ruang rapat.
saat itu aku dipercaya untuk memimpin rapat itu. Telat 15 menit tak apalah.
Bukannya Negara kita sudah biasa dengan adat “budaya ngaret”nya.
Di ruangan rapat
itu, kursi yang tersedia sudah terisi penuh, terkecuali ada satu kursi yang masih
kosong. Kursi untukku. Dengan sangat terburu-buru, aku masuki ruangan itu.
“Pagi semua,
maaf saya terlambat...” dengan wajah tanpa bersalah ku sapa mereka.
“Silakan Bu, semua sudah menunggu,
kita segera mulai saja...” jawab salah satu temanku yang satu tim denganku.
Kuhiraukan saja
omongannya, ku tahu dia sudah mulai kesal denganku yang datang telat. Bukan
salahku, salahkan saja bis itu, desisku dalam hati untuk membela diri.
Kuperhatikan
klienku satu persatu, ada empat orang dan satu orang klien itu terus saja
memandangiku. Begitupun aku, rasanya aku mengenalnya, sangat mengenalnya. Seulas
senyuman terpancar dari bibirnya. Akupun membalasnya. Namun aku tak ingin semua
itu menghambat keprofesionalanku.
Tiga jam
berlalu, rapat berakhir dan Kami pun keluar dari ruangan itu. Ketika aku akan
memasuki ruanganku dan melanjutkan pekerjaanku tiba-tiba ada sapaan
mengejutkan, klien itu. Benar dia orangnya, orang yang aku kenal empat tahun
yang lalu. Orang yang kuanggap istimewa saat itu. Ya Allah, aku harus bekerja
sama dengannya. Apa ini takdir, apa ini doaku yang Engkau kabulkan??? bisikku. Saat
itu aku dan dia hanya berbicara seperlunya, sapaan biasa, seputar kabar, tak
lebih dari itu.
***
Proyek yang aku
garap bersamanya akan habis dalam waktu satu tahun, waktu yang cukup lama.
Setiap hari aku akan bertemu dengannya. Tak pernah terbayangkan apa yang akan
terjadi denganku, mengingat rasa itu masih ada.
Seringnya
bertemu, hampir setiap hari kami berbincang, terkadang waktu weekend pun kita habiskan di kantor untuk
membahas pekerjaan. Awalnya memang hanya masalah pekerjaan, namun seterusnya
yang dibahas bukan hanya itu, tapi berlanjut ke masalah pribadi. Sudah aku katakan, aku hanya manusia biasa
yang tak pernah lepas dari godaan setan, bisikan-bisikan yang sangat halus merajuk di kalbuku, rasa
kagum itu, rasa suka itu terus memaksaku untuk merasakannya. Sampai akhirnya
habis sudah pertahanan hatiku untuk laki-laki itu.
***
Satu tahunpun
berlalu, proyek yang kita garap sudah selesai dan berhasil sesuai harapan.
Namun hubungan kita tak berakhir sampai disitu. Aku dan laki-laki itu tetap
menjalin hubungan, mungkin bisa dibilang hubungan yang lebih dari sebagai
teman. Aku mencintainya.
Dari tingkah
lakunya, aku rasa diapun merasakan hal yang sama, walaupun tak pernah ada kata
tapi dari perhatiannya ku rasa itu lebih dari sekedar ungkapan kata. Dua kali
aku mencintai orang yang sama dalam waktu yang berbeda.
Semakin dalam,
semakin takut aku kehilangan, semakin aku ingin memilikinya, semakin aku tak
sanggup untuk kehilangannya.
***
Suatu hari, aku
berniat untuk menanyakan kelanjutan hubungan Kami. Aku sudah sms dia, kita janjian untuk
bertemu disuatu tempat. Diapun menyetujuinya dan dia tak pernah menolak ajakanku
selama ini.
Kitapun bertemu,
aku langsung menanyakan kelanjutan rasa yang kita jalani. Dia sedikit merenung,
kulihat dia kebingungan, setelah beberapa menit terdiam akhirnya dia berkata.
“Aku juga
mencintaimu, aku juga ingin menikahimu, seperti halnya keinginanku waktu dulu
namun karena beberapa hal akhirnya aku harus meninggalkanmu, namun…aku tak
yakin dengan kondisi aku saat ini kamu bisa menerimaku...” ungkapnya.
Aku sedikit
bingung juga, kondisi saat ini? Maksudnya? pikirku dalam hati.
“Aku bisa
menerimamu apa adanya, apa yang buat kamu ragu?” tanyaku.
Laki-laki yang
selalu ada didalam hatiku itu terdiam untuk sejenak lagi. Dan akhirnya ungkapan
tak terduga itu keluar dari mulutnya.
“Aku percaya,
kamu bisa menerima aku apa adanya, aku cukup mengenalmu, namun bukan itu
masalahnya...” jawabnya.
“Lalu apa?”
tanyaku.
“Aku sudah punya
istri dan anak, maaf…aku tak cerita dari awal, itu karena aku tak ingin kamu
menjauh dariku, jika kamu bersedia menjadi istri keduaku, aku akan fikirkan lagi mengenai rasa
itu selanjutnya.”ungkapnya.
Terkejut, sangat
terkejut, dua kali aku mencintai, dua kali kurasakan kekecewaan dan dua kalipun
aku harus kehilangan. Apa ini yang dinamakan aku sedang terjatuh ke lubang yang
sama. Sangat bodoh.
“Maaf…aku tidak
bisa. Aku tak ingin menjadi istri kedua, ketiga atau seterusnya. Bukan aku
menolak keras poligami, tapi aku tak ingin menyakiti sesama wanita, mungkin aku bisa
mencintai suami orang tapi aku tak bisa merebut suami orang, pulanglah…kembalilah
ke rumah…istri dan anakmu pasti sudah menunggu...” ungkapan spontan dari
mulutku.
***
Kamipun
berpisah, kemudian akupun pulang ke rumah dengan langkah kaki yang berat. Tapi tak seberat beban hatiku saat itu.
Memang, cinta kepada sesama makhluk selalu diakhiri perpisahan, pernikahan bisa
berakhir karena perceraian, kesetiaan cintapun bisa berakhir dengan kematian.
Hanya cinta pada-NYA yang akan kekal dan tak akan berakhir kecewa.
Aku pasrah Robb,
namun…seandainya suatu saat nanti Engkau berikan rasa itu lagi padaku untuk
seorang laki-laki, berikanlah kepada laki-laki yang tepat. Tautkan dalam hatiku
Robb…cintaku kepada-MU jauh lebih besar dari cintaku kepada siapapun dan apapun.
Ajari aku ya Robb, untuk mencintai orang
sewajarnya saja. Dan tak akan pernah merasakan
kecewa yang teramat dalam ketika aku berpisah dengannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar