4 Jan 2012

Teman Kecilku


Setiap orang pasti mempunyai teman diwaktu kecil. Teman bermain atau sekolah. Begitupun aku. Betapa aku sangat merindukan teman kecilku itu.

Tak lama sebenarnya aku mengenal sosok dia. Kurang dari 24 jam. Waktu itu usiaku sekitar tujuh tahun. Aku diajak orangtuaku ke tempat pamanku diwilayah pelosok Bandung. Dia tetangga sebelah pamanku. Tak sengaja aku melihat dia sedang duduk didepan rumahnya. Karena aku tak punya teman dan bosan di rumah dengan situasi para orangtua sedang mengobrol, akhirnya aku putuskan untuk menghampiri dia dan berkenalan dengannya. Arif namanya.

Awalnya ketika aku mengajak berkenalan, dia memperlihatkan wajah yang tidak senang. Namun setelah aku ceritakan kejenuhanku akhirnya dia mengajakku berkeliling daerah sekitarnya. Tak jauh sebenarnya kita bermain dari rumah Paman. Aku diajak bersepeda disekitar kebun-kebun. Dia bercerita tentang suasana pedesaan ditempat itu. Berbeda memang dengan suasana tempat tinggalku di Kota Malang. Disini aku lihat anak-anak bisa bermain dengan lepas, menyatu dengan alam. Bersosialisasi satu dengan yang lainnya. Berbeda dengan ditempatku, suasana perumahan yang terkesan sangat individulistik. Aku sangat senang berada disini.

Kamipun melanjutkan jalan-jalan, berkeliling dari satu daerah ke daerah yang lain, menyusuri pesawahan yang terhampar hijau. Dia menunjukkan tempat-tempat bermain yang biasa dia singgahi dengan teman-temannya. Tempat yang sangat menarik. Disaat perutku lapar, teman kecilku itu membelikan aku roti untuk ganjal perut. Teman yang sangat baik. Dia pun mengajarkan aku membuat mainan mobil-mobilan dari kaleng bekas. Aku memang perempuan, tapi aku suka mobil-mobilan. Banyak hal yang dia perlihatkan padaku.

Tak terasa hari sudah mau gelap, dia mengajakku untuk pulang. Sebenernya aku masih ingin berlama-lama bersamanya. Namun tampaknya itu tak mungkin. Besok aku harus kembali ke Malang. Sesampainya di rumah Paman, orangtuaku tampak agak marah karena aku lupa berpamitan, mereka juga tampak sedikit menyalahkan temanku itu. Namun setelah aku jelaskan kalau ini kemauanku, akhirnya mereka mengerti.

***

Keesokan harinya, aku dan keluargaku akan kembali ke Malang. Aku ingin sekali bertemu dengan teman kecilku itu. Namun kulihat ke depan rumahnya, dia tak muncul dan rumahnya tampak sepi. Paman bilang Arif suka membantu Ibunya berjualan di pasar. Mungkin saat ini dia memang sedang tak ada di rumah.

Akhirnya aku dan keluarga meluncur kembali ke kota tempat tinggalku. Ada yang tertinggal disana. Memang pertemanan Kami hanya hitungan jam, tapi dia benar-benar teman yang baik. Aku berharap suatu saat nanti aku bisa bertemu lagi dengannya.

Sekarang, aku sudah bekerja, kisah ini terjadi sekitar dua puluh tahun yang lalu, namun hari ini aku ingin mengulang kisah itu walaupun aku tak tahu apa masih memungkinkan atau tidak. Sosok teman kecilku itu masih selalu ada diingatan. Entah dengan dia…mungkin diapun begitu ataukah dia menganggap pertemanan kita bagaikan angin yang hilang begitu saja.

Hari ini…aku memutuskan untuk kembali ke dunia kecilku. Aku akan kembali ke kota itu. Dan ku harap aku bisa menemukan sosok dia disana. Tak ada yang kukenal disana karena beberapa tahun lalu pamanku sudah pindah dari Bandung. Mau tak mau aku harus menyewa penginapan.

***

Hari pertama di Bandung, aku langsung berkunjung ke rumah Arif. Aku memperkenalkan diri sebagai teman Arif sekaligus keponakan tetangga sebelahnya dulu. Ibunya begitu ramah menyambutku walalupun aku tahu dalam hatinya pasti merasa keheranan. Namun menurut penuturan Ibunya, Arief sekarang bekerja di Kota Malang dan biasa pulang ke Bandung satu atau dua bulan sekali.

Arif…teman kecilku yang aku harap bertemu dari dulu ternyata sekarang tinggal di kota tempat tinggalku. Bertahun-tahun aku merindukannya, bertahun-tahun aku memimpikan bertemu dengannya namun aku belum diberi kesempatan untuk melihatnya. Setelah aku diberi alamatnya di Malang, aku putuskan hari itu juga aku kembali ke Malang.  Dalam perjalanan aku berfikir seperti apa sekarang teman kecilku itu. Mungkinkah dia akan mengenaliku. Entahlah…mungkin aku juga tidak akan mengenalinya.


Lewat secarik kertas berisikan alamat Arif aku berharap mudah-mudahan aku bisa menemuinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar