Setiap orang
pasti mempunyai teman diwaktu kecil. Teman bermain atau sekolah. Begitupun aku.
Betapa aku sangat merindukan teman kecilku itu.
Tak lama
sebenarnya aku mengenal sosok dia. Kurang dari 24 jam. Waktu itu usiaku sekitar
tujuh tahun. Aku diajak orangtuaku ke tempat pamanku diwilayah pelosok Bandung.
Dia tetangga sebelah pamanku. Tak sengaja aku melihat dia sedang duduk didepan
rumahnya. Karena aku tak punya teman dan bosan di rumah dengan situasi para
orangtua sedang mengobrol, akhirnya aku putuskan untuk menghampiri dia dan
berkenalan dengannya. Arif namanya.
Awalnya ketika
aku mengajak berkenalan, dia memperlihatkan wajah yang tidak senang. Namun
setelah aku ceritakan kejenuhanku akhirnya dia mengajakku berkeliling daerah
sekitarnya. Tak jauh sebenarnya kita bermain dari rumah Paman. Aku diajak
bersepeda disekitar kebun-kebun. Dia bercerita tentang suasana pedesaan
ditempat itu. Berbeda memang dengan suasana tempat tinggalku di Kota Malang. Disini
aku lihat anak-anak bisa bermain dengan lepas, menyatu dengan alam.
Bersosialisasi satu dengan yang lainnya. Berbeda dengan ditempatku, suasana
perumahan yang terkesan sangat individulistik. Aku sangat senang berada disini.
Kamipun
melanjutkan jalan-jalan, berkeliling dari satu daerah ke daerah yang lain,
menyusuri pesawahan yang terhampar hijau. Dia menunjukkan tempat-tempat bermain
yang biasa dia singgahi dengan teman-temannya. Tempat yang sangat menarik. Disaat
perutku lapar, teman kecilku itu membelikan aku roti untuk ganjal perut. Teman yang sangat baik.
Dia pun mengajarkan aku membuat mainan mobil-mobilan dari kaleng bekas. Aku
memang perempuan, tapi aku suka mobil-mobilan. Banyak hal yang dia perlihatkan
padaku.
Tak terasa hari
sudah mau gelap, dia mengajakku untuk pulang. Sebenernya aku masih ingin
berlama-lama bersamanya. Namun tampaknya itu tak mungkin. Besok aku harus
kembali ke Malang. Sesampainya di rumah Paman, orangtuaku tampak agak marah
karena aku lupa berpamitan, mereka juga tampak sedikit menyalahkan temanku itu.
Namun setelah aku jelaskan kalau ini kemauanku, akhirnya mereka mengerti.
***
Keesokan
harinya, aku dan keluargaku akan kembali ke Malang. Aku ingin sekali bertemu
dengan teman kecilku itu. Namun kulihat ke depan rumahnya, dia tak muncul dan
rumahnya tampak sepi. Paman bilang Arif suka membantu Ibunya berjualan di pasar.
Mungkin saat ini dia memang sedang tak ada di rumah.
Akhirnya aku dan
keluarga meluncur kembali ke kota tempat tinggalku. Ada yang tertinggal disana.
Memang pertemanan Kami hanya hitungan jam, tapi dia benar-benar teman yang
baik. Aku berharap suatu saat nanti aku bisa bertemu lagi dengannya.
Sekarang, aku
sudah bekerja, kisah ini terjadi sekitar dua puluh tahun yang lalu, namun hari
ini aku ingin mengulang kisah itu walaupun aku tak tahu apa masih memungkinkan
atau tidak. Sosok teman kecilku itu masih selalu ada diingatan. Entah dengan
dia…mungkin diapun begitu ataukah dia menganggap pertemanan kita bagaikan angin
yang hilang begitu saja.
Hari ini…aku
memutuskan untuk kembali ke dunia kecilku. Aku akan kembali ke kota itu. Dan ku
harap aku bisa menemukan sosok dia disana. Tak ada yang kukenal disana karena
beberapa tahun lalu pamanku sudah pindah dari Bandung. Mau tak mau aku harus
menyewa penginapan.
***
Hari pertama di
Bandung, aku langsung berkunjung ke rumah Arif. Aku memperkenalkan diri sebagai
teman Arif sekaligus keponakan tetangga sebelahnya dulu. Ibunya begitu ramah
menyambutku walalupun aku tahu dalam hatinya pasti merasa keheranan. Namun
menurut penuturan Ibunya, Arief sekarang bekerja di Kota Malang dan biasa
pulang ke Bandung satu atau dua bulan sekali.
Arif…teman
kecilku yang aku harap bertemu dari dulu ternyata sekarang tinggal di kota
tempat tinggalku. Bertahun-tahun aku merindukannya, bertahun-tahun aku
memimpikan bertemu dengannya namun aku belum diberi kesempatan untuk melihatnya.
Setelah aku diberi alamatnya di Malang, aku putuskan hari itu juga aku kembali
ke Malang. Dalam perjalanan aku berfikir
seperti apa sekarang teman kecilku itu. Mungkinkah dia akan mengenaliku. Entahlah…mungkin aku juga tidak akan mengenalinya.
Lewat secarik
kertas berisikan alamat Arif aku
berharap mudah-mudahan aku bisa menemuinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar