Aku mengkisahkan
ini dari apa yang aku alami sekitar tiga tahun yang lalu. Ketika aku belum
menikah dengan suami yang sudah memberikanku seorang anak. Tujuh hari yang
memberi kesan. Tujuh hari yang memberiku sesuatu yang tak pernah ku alami sebelumnya.
Bukan maksud untuk mengungkit, ini hanyalah sebuah kisah dimasa lalu.
Sebelum aku
menikah, aku bekerja disebuah perusahaan cukup ternama di kota ini. Dari puluhan bahkan
ratusan pelamar kerja, aku salah satu orang yang beruntung bisa bekerja di perusahaan ini
walaupun bukan jabatan yang tinggi, tapi aku bersyukur.
Aku sering
ditugaskan kantor untuk mengikuti seminar-seminar yang berhubungan dengan
pekerjaan yang sedang dilakukan ke berbagai daerah. Ku fikir, aku masih
lajang…tak apalah aku menjajal dunia luar, sebelum ada tugas lain yang lebih
penting dari tugas ini. Tugas mengurus suami, karena aku punya keinginan
setelah aku mempunyai keluarga, aku akan berhenti bekerja dan fokus untuk
menjadi ibu rumah tangga saja. Menjadi guru untuk anak-anakku. Karena
pendidikan pertama yang didapat seorang anak adalah dari ibunya. Dan aku ingin
menjadi pendidik yang pertama untuk anakku nanti.
Satu tahun lagi,
aku akan menikah dengan calon suami yang dikenalkan oleh orangtua. Beliau
adalah anak dari teman dekat orangtuaku. Ya sudah…aku jalani sesuai keinginan
orangtua. Pertemuan, perkenalan, kesepakatan lalu ditentukanlah tanggal pernikahan. Bahkan
akupun tak pernah tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Yang aku tahu, aku
kuliah, lulus, bekerja, dan akan menikah setahun lagi.
***
Hari itu, aku
lupa tanggalnya, aku ditugaskan kantor untuk mengikuti seminar di kota Jogja. Tak
ada yang istimewa karena memang ini tugasku. Aku berangkat dengan temanku, berdua,
seorang perempuan. Acara seminar akan dilaksanakan sekitar enam hari.
Tibalah aku di
kota Jogja. Kota yang cukup panas, mungkin karena aku tinggal di kota dataran
tinggi, jadi ketika aku nikmati cuaca seperti ini, rasanya tak betah.
Hari Pertama, ku
bangunkan temanku yang masih tertidur lelap di kasurnya. AC hotel
membuatku sedikit flu, sedikit tak enak badan. Namun ini seminar hari pertama,
aku harus tetap berangkat. Setelah siap-siap, kita pun berangkat ke tempat
seminar yang tak jauh dari hotel. Acara akan dilaksanakan dari jam delapan
sampai jam tiga sore setiap harinya. Setelah tiba ditempat, dengan agak telat
kita dipersilakan masuk dan menempati kursi duduk dengan nomor yang sudah
ditentukan. Aku kira hanya aku dan temanku yang datang telat, ternyata ada
sebelahku yang kursinya masih kosong. Tak lama datanglah penghuninya. Seulas
senyum darinya dan berkenalanlah Kami dengan penghuni kursi itu. Seorang laki-laki.
Hari kedua,
masih dengan kursi duduk yang sama. Aku dan temanku datang tepat waktu. Namun
laki-laki sebelahku tetap saja masih terlambat, entah dari mana datangnya.
Setelah dia datang dengan tergesa-gesa. Kutanya dia kenapa hari kedua masih
saja terlambat datang. Dia hanya menjawab, semalam begadang jadi bangun
kesiangan. Singkat, padat, jelas, dan sangat menyebalkan. Aku biarkan saja, aku
lebih tertarik pada pembicara yang sedang menyampaikan materi demi materi yang
akan segera kusimpan dalam memory otakku.
Hari Ketiga, tumben…dia hadir lebih
awal dariku. Dengan senyuman khasnya dia menyapaku, ”Selamat Pagi…aku duluan
yah sekarang.”
Aku hanya
membalas senyumnya sewajarnya saja. Nyindir atau apa maksudnya. Ketika sesi tanya
jawab berlangsung, dia termasuk orang yang aktif. Aku lihat dia orangnya cerdas,
supel, hanya saja memang sedikit “nyeleneh”, namun sifat itu tertutupi dengan
kecerdasan dia.
Selesai seminar
aku dan temanku berniat untuk berdiskusi dengannya, ada beberapa materi yang
belum aku mengerti. Ku utarakan maksduku. Dan dia hanya menjawab, “Besok saja
yah, hari ini aku cape banget...”.
Benar-benar orang yang sangat menyebalkan.
Hari keempat di kota Jogja, sayangnya aku belum sempat
aku jalan-jalan. Selesai seminar aku dan temanku biasanya langsung pulang ke
hotel untuk membuat laporan. Aku selalu coba untuk “menyicil” tugas-tugas yang
harus aku kerjakan.
Hari itu, seperti biasa kita
melakukan rutinitas. Materi demi materi terkadang membuatku jenuh. Apalagi
ketika ada materi yang tak ku mengerti. Waktu menunjukkan pukul tiga sore,
seminar berakhir. Ketika aku akan melangkahkan kakiku keluar ruangan, tiba-tiba
laki-laki itu memanggilku dan menanyakan jadi apa tidak acara diskusi kita.
Namun, saat itu temanku mendadak tak enak badan. Aku bilang ke dia kalau temanku
sakit. Tapi temanku buru-buru bilang kalau aku saja yang berdiskusi dengannya.
Hah…berdua??? fikirku. Tapi mau bagaimana lagi, aku memang benar-benar tak
mengerti dengan materi itu.
Akhirnya kita
memilih tempat makan yang tak jauh dari tempat seminar tersebut. Sambil makan, kitapun berdiskusi.
Panjang lebar dia menjelaskan tentang materi itu dan semakin kuyakini dia benar-benar
laki-laki yang cerdas. Diskusipun berlanjut ke pembicaraan mengenai kehidupan pribadi. Kita cerita mengenai keluarga,
teman, bahkan pribadi masing-masing.
Dia ternyata orang
Jogja, dia juga sudah punya calon istri, dan akan segera menikah, entah kapan
dia tak mengatakan. Yang dia katakan hanyalah calonnya sedang meneruskan kuliah
di negeri orang. Setelah membereskan kuliahnya, pernikahanpun akan
dilaksanakan. Dan akupun begitu. Aku akan menikah dalam waktu kurang dari setahun ini.
Cerita kita hampir sama, namun perbedaannya, mungkin dia pernah atau sedang merasakan jatuh
cinta. Sementara aku…aku tak tahu apa yang aku rasakan.
Hari kelima,
temanku sudah baikan dan bisa mengikuti seminar seperti biasa. Hari itu, cuaca
agak bersahabat. Setelah acara seminar, laki-laki itu mengajakku dan temanku
jalan-jalan keliling jogja. Dia pasti tahu seluk beluk kota Jogja, awalnya aku
menolak, tapi setelah kufikir-fikir kapan lagi aku bisa jalan-jalan dengan guide gratisan. Akhirnya hari itu kami
bertiga berkeliling kota Jogja. Malioboro menjadi objek pertamaku menjajal kota
Jogja.
Ada kenyamanan
ketika aku bersamanya. Perlakuannya
pada Kami membuatku terkesan. Entah apa yang membuatku
merasakan itu. Ketika bersamanya kurasakan waktu tak ingin berputar. Apa ini
yang dinamakan cinta???
Perlakuan dia
padaku berbeda dengan perlakuan dia pada temanku. Perhatiannyapun membuatku
semakin terpesona. Setelah selesai
jalan-jalan dia
mengantarkan Kami sampai kedepan pintu hotel.
Setibanya di hotel setelah
berkeliling, temanku menggodaku, ”Hati-hati dengan perasaan, sangat peka…ingat sama yang di kampung
halaman.”
Godaan yang
membuatku tersadar. Aku sudah punya calon suami dan diapun begitu. Tak boleh
aku merasakan perasaan indah ini. Namun bunyi sms membuat lamunanku membuyar. Pesan
singkat dari laki-laki itu. Hanya berisi ucapan selamat beristirahat. Namun kalimat itu
seolah mengantarkanku pada dunia mimpi yang indah.
Hari Keenam,
hari terakhir acara seminar digelar. Apakah ini hari terakhir aku bertemu
dengannya??? Pertama
kurasakan indahnya perasaan di hati, apakah untuk pertama kalinya juga aku harus merasakan rasa
kecewa???
***
Sore itu,
temanku mengajak dia dan aku untuk menikmati suasana sore di pantai. Diapun
menyetejuinya. Tak terlambat ternyata untuk menikati sunset. Indahnya karunia Allah. Sore itu kumanjakan mataku dengan
keindahan ciptaan-NYA.
Temanku meminta
ijin untuk membeli sesuatu didekat pantai dan tak akan lama akan segera kembali.
Akhirnya tinggal aku dan dia disana. Aku cukup gugup, tidak ada suara lain selain suara ombak. Dia akhirnya memulai pembicaraan.
Pembicaraan yang cukup mengagetkan aku, sekaligus membuatku terlena sejenak.
Dia bertanya,
“Kamu percaya, cinta itu ada?”. Aku hanya terdiam beberapa saat. Dan kujawab
hanya dengan anggukan. Setelah itu dia berkata lagi. “Aku tak tahu apa yang
kurasakan saat ini, yang pasti aku merasa nyaman bila didekatmu.”
Entah apa yang
bergejolak di hatiku. Aku tak pernah merasakan semelayang ini. Aku tak pernah
merasakan jantungku berdetak kencang. Aku tak pernah merasakan tanganku
menggigil dingin seperti ini. Namun tak ada kata yang keluar dari mulutku. Kita
berduapun hanya terdiam. Tiba-tiba temanku datang melumerkan suasana sore itu. Setelah itu, kuputuskan
untuk segera pulang ke hotel untuk bersiap-siap berkemas. Besok kita akan
meninggalkan Jogja.
Malam itu,
hampir aku tak bisa tidur. Bukan karena ingat kata-katanya tadi sore. Bukan
karena aku belum sempat membeli oleh-oleh untuk Ibu dan adikku di rumah, bukan karena ada
tugas yang menumpuk akibat jalan-jalan yang cukup menghabiskan waktu, bukan
karena itu. Aku berfikir, inikah rasanya jatuh cinta. Kenapa hadir disaat waktu
yang tidak tepat. Disaat kita sudah saling memiliki seseorang dalam hidup.
Hari Ketujuh, setelah
semua siap, akupun melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar hotel. Setelah
turun kebawah dengan menggunakan lift, terlihat laki-laki itu sudah berada di
lobby hotel. Senyuman khasnya mencairkan hatiku. Dia bermaksud untuk
mengantarkan aku dan temanku ke bandara. Akhirnya kami bertiga meluncur ke
bandara untuk kembali ke kampung halaman.
Sebelum aku dan
temanku akan pergi, dia sempat meminta ijin kepada temanku untuk berbicara
berdua denganku. Temanku mengerti dan langsung memberikan isyarat kepadaku
untuk segera berbicara dengannya. Dia
meminta maaf atas ucapannya kemarin sore.
Aku hanya
berkata padanya, ”Perasaan ini tak pernah nyata, kita hanya bertemu dalam waktu tujuh
hari, tak mungkin ada cinta, aku sudah mempunyai calon suami yang akan menjadi
imam dalam hidupku, aku akan meneruskan hidupku disana, tempatku bukan disini. Lupakan
semua hal yang pernah terjadi. Dan lanjutkan kehidupanmu seperti adanya.”
Tak keluar sepatah
katapun dari mulutnya. Diamnya bagiku adalah pertanda setuju atas ucapanku
tadi. Dan pergilah aku meninggalkannya.
***
Sekarang, aku
sudah menikah, sudah punya jagoan kecil pelengkap rumah tangga kami. Mungkin
laki-laki itupun begitu. Sejak dibandara itu, tak pernah ada komunikasi sama
sekali antara aku dan dia. Dan memang komunikasi itu tak penting adanya. Aku
sudah bahagia dengan suamiku, dan kutemukan berjuta-juta cinta bahkan tak
pernah terhitung nilainya. Mungkin cinta yang kurasakan dulu kepada laki-laki
itu bukan cinta yang sebenarnya. Mungkin seperti apa yang kuucapkan. Hanya cinta
yang tidak nyata.
Namun jika cinta
itu tidak nyata, kenapa sampai saat ini aku masih mengingatnya walaupun dengan
ingatan yang sangat wajar. Ini hanya sepenggal kisah dimasa lalu. Tujuh hari bersamanya...Tujuh hari dikehidupan
masa silamku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar