4 Jan 2012

Tujuh Hari


Aku mengkisahkan ini dari apa yang aku alami sekitar tiga tahun yang lalu. Ketika aku belum menikah dengan suami yang sudah memberikanku seorang anak. Tujuh hari yang memberi kesan. Tujuh hari yang memberiku sesuatu yang tak pernah ku alami sebelumnya. Bukan maksud untuk mengungkit, ini hanyalah sebuah kisah dimasa lalu.

Sebelum aku menikah, aku bekerja disebuah perusahaan cukup ternama di kota ini. Dari puluhan bahkan ratusan pelamar kerja, aku salah satu orang yang beruntung bisa bekerja di perusahaan ini walaupun bukan jabatan yang tinggi, tapi aku bersyukur.

Aku sering ditugaskan kantor untuk mengikuti seminar-seminar yang berhubungan dengan pekerjaan yang sedang dilakukan ke berbagai daerah. Ku fikir, aku masih lajang…tak apalah aku menjajal dunia luar, sebelum ada tugas lain yang lebih penting dari tugas ini. Tugas mengurus suami, karena aku punya keinginan setelah aku mempunyai keluarga, aku akan berhenti bekerja dan fokus untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Menjadi guru untuk anak-anakku. Karena pendidikan pertama yang didapat seorang anak adalah dari ibunya. Dan aku ingin menjadi pendidik yang pertama untuk anakku nanti.

Satu tahun lagi, aku akan menikah dengan calon suami yang dikenalkan oleh orangtua. Beliau adalah anak dari teman dekat orangtuaku. Ya sudah…aku jalani sesuai keinginan orangtua. Pertemuan, perkenalan, kesepakatan lalu ditentukanlah tanggal pernikahan. Bahkan akupun tak pernah tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Yang aku tahu, aku kuliah, lulus, bekerja, dan akan menikah setahun lagi.

***

Hari itu, aku lupa tanggalnya, aku ditugaskan kantor untuk mengikuti seminar di kota Jogja. Tak ada yang istimewa karena memang ini tugasku. Aku berangkat dengan temanku, berdua, seorang perempuan. Acara seminar akan dilaksanakan sekitar enam hari.

Tibalah aku di kota Jogja. Kota yang cukup panas, mungkin karena aku tinggal di kota dataran tinggi, jadi ketika aku nikmati cuaca seperti ini, rasanya tak betah.

Hari Pertama, ku bangunkan temanku yang masih tertidur lelap di kasurnya. AC hotel membuatku sedikit flu, sedikit tak enak badan. Namun ini seminar hari pertama, aku harus tetap berangkat. Setelah siap-siap, kita pun berangkat ke tempat seminar yang tak jauh dari hotel. Acara akan dilaksanakan dari jam delapan sampai jam tiga sore setiap harinya. Setelah tiba ditempat, dengan agak telat kita dipersilakan masuk dan menempati kursi duduk dengan nomor yang sudah ditentukan. Aku kira hanya aku dan temanku yang datang telat, ternyata ada sebelahku yang kursinya masih kosong. Tak lama datanglah penghuninya. Seulas senyum darinya dan berkenalanlah Kami dengan penghuni kursi itu. Seorang laki-laki.

Hari kedua, masih dengan kursi duduk yang sama. Aku dan temanku datang tepat waktu. Namun laki-laki sebelahku tetap saja masih terlambat, entah dari mana datangnya. Setelah dia datang dengan tergesa-gesa. Kutanya dia kenapa hari kedua masih saja terlambat datang. Dia hanya menjawab, semalam begadang jadi bangun kesiangan. Singkat, padat, jelas, dan sangat menyebalkan. Aku biarkan saja, aku lebih tertarik pada pembicara yang sedang menyampaikan materi demi materi yang akan segera kusimpan dalam memory otakku.

Hari Ketiga, tumben…dia hadir lebih awal dariku. Dengan senyuman khasnya dia menyapaku, ”Selamat Pagi…aku duluan yah sekarang.”

Aku hanya membalas senyumnya sewajarnya saja. Nyindir atau apa maksudnya. Ketika sesi tanya jawab berlangsung, dia termasuk orang yang aktif. Aku lihat dia orangnya cerdas, supel, hanya saja memang sedikit “nyeleneh”, namun sifat itu tertutupi dengan kecerdasan dia.

Selesai seminar aku dan temanku berniat untuk berdiskusi dengannya, ada beberapa materi yang belum aku mengerti. Ku utarakan maksduku. Dan dia hanya menjawab, “Besok saja yah, hari ini aku cape banget...”. Benar-benar orang yang sangat menyebalkan.

Hari keempat di kota Jogja, sayangnya aku belum sempat aku jalan-jalan. Selesai seminar aku dan temanku biasanya langsung pulang ke hotel untuk membuat laporan. Aku selalu coba untuk “menyicil” tugas-tugas yang harus aku kerjakan.

Hari itu, seperti biasa kita melakukan rutinitas. Materi demi materi terkadang membuatku jenuh. Apalagi ketika ada materi yang tak ku mengerti. Waktu menunjukkan pukul tiga sore, seminar berakhir. Ketika aku akan melangkahkan kakiku keluar ruangan, tiba-tiba laki-laki itu memanggilku dan menanyakan jadi apa tidak acara diskusi kita. Namun, saat itu temanku mendadak tak enak badan. Aku bilang ke dia kalau temanku sakit. Tapi temanku buru-buru bilang kalau aku saja yang berdiskusi dengannya. Hah…berdua??? fikirku. Tapi mau bagaimana lagi, aku memang benar-benar tak mengerti dengan materi itu.

Akhirnya kita memilih tempat makan yang tak jauh dari tempat seminar tersebut. Sambil makan, kitapun berdiskusi. Panjang lebar dia menjelaskan tentang materi itu dan semakin kuyakini dia benar-benar laki-laki yang cerdas. Diskusipun berlanjut ke pembicaraan mengenai kehidupan pribadi. Kita cerita mengenai keluarga, teman, bahkan pribadi masing-masing.

Dia ternyata orang Jogja, dia juga sudah punya calon istri, dan akan segera menikah, entah kapan dia tak mengatakan. Yang dia katakan hanyalah calonnya sedang meneruskan kuliah di negeri orang. Setelah membereskan kuliahnya, pernikahanpun akan dilaksanakan. Dan akupun begitu. Aku akan menikah dalam waktu kurang dari setahun ini. Cerita kita hampir sama, namun perbedaannya, mungkin dia pernah atau sedang merasakan jatuh cinta. Sementara aku…aku tak tahu apa yang aku rasakan.

Hari kelima, temanku sudah baikan dan bisa mengikuti seminar seperti biasa. Hari itu, cuaca agak bersahabat. Setelah acara seminar, laki-laki itu mengajakku dan temanku jalan-jalan keliling jogja. Dia pasti tahu seluk beluk kota Jogja, awalnya aku menolak, tapi setelah kufikir-fikir kapan lagi aku bisa jalan-jalan dengan guide gratisan. Akhirnya hari itu kami bertiga berkeliling kota Jogja. Malioboro menjadi objek pertamaku menjajal kota Jogja.

Ada kenyamanan ketika aku bersamanya. Perlakuannya pada Kami membuatku terkesan. Entah apa yang membuatku merasakan itu. Ketika bersamanya kurasakan waktu tak ingin berputar. Apa ini yang dinamakan cinta???

Perlakuan dia padaku berbeda dengan perlakuan dia pada temanku. Perhatiannyapun membuatku semakin terpesona. Setelah selesai jalan-jalan dia mengantarkan Kami sampai kedepan pintu hotel.

Setibanya di hotel setelah berkeliling, temanku menggodaku, ”Hati-hati dengan perasaan, sangat peka…ingat sama yang di kampung halaman.”

Godaan yang membuatku tersadar. Aku sudah punya calon suami dan diapun begitu. Tak boleh aku merasakan perasaan indah ini. Namun bunyi sms membuat lamunanku membuyar. Pesan singkat dari laki-laki itu. Hanya berisi ucapan selamat beristirahat. Namun kalimat itu seolah mengantarkanku pada dunia mimpi yang indah.

Hari Keenam, hari terakhir acara seminar digelar. Apakah ini hari terakhir aku bertemu dengannya??? Pertama kurasakan indahnya perasaan di hati, apakah untuk pertama kalinya juga aku harus merasakan rasa kecewa???

***

Sore itu, temanku mengajak dia dan aku untuk menikmati suasana sore di pantai. Diapun menyetejuinya. Tak terlambat ternyata untuk menikati sunset. Indahnya karunia Allah. Sore itu kumanjakan mataku dengan keindahan ciptaan-NYA.

Temanku meminta ijin untuk membeli sesuatu didekat pantai dan tak akan lama akan segera kembali. Akhirnya tinggal aku dan dia disana. Aku cukup gugup, tidak ada suara lain selain suara  ombak. Dia akhirnya memulai pembicaraan. Pembicaraan yang cukup mengagetkan aku, sekaligus membuatku terlena sejenak.

Dia bertanya, “Kamu percaya, cinta itu ada?”. Aku hanya terdiam beberapa saat. Dan kujawab hanya dengan anggukan. Setelah itu dia berkata lagi. “Aku tak tahu apa yang kurasakan saat ini, yang pasti aku merasa nyaman bila didekatmu.”

Entah apa yang bergejolak di hatiku. Aku tak pernah merasakan semelayang ini. Aku tak pernah merasakan jantungku berdetak kencang. Aku tak pernah merasakan tanganku menggigil dingin seperti ini. Namun tak ada kata yang keluar dari mulutku. Kita berduapun hanya terdiam. Tiba-tiba temanku datang melumerkan suasana sore itu. Setelah itu, kuputuskan untuk segera pulang ke hotel untuk bersiap-siap berkemas. Besok kita akan meninggalkan Jogja.

Malam itu, hampir aku tak bisa tidur. Bukan karena ingat kata-katanya tadi sore. Bukan karena aku belum sempat membeli oleh-oleh untuk Ibu dan adikku di rumah, bukan karena ada tugas yang menumpuk akibat jalan-jalan yang cukup menghabiskan waktu, bukan karena itu. Aku berfikir, inikah rasanya jatuh cinta. Kenapa hadir disaat waktu yang tidak tepat. Disaat kita sudah saling memiliki seseorang dalam hidup.

Hari Ketujuh, setelah semua siap, akupun melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar hotel. Setelah turun kebawah dengan menggunakan lift, terlihat laki-laki itu sudah berada di lobby hotel. Senyuman khasnya mencairkan hatiku. Dia bermaksud untuk mengantarkan aku dan temanku ke bandara. Akhirnya kami bertiga meluncur ke bandara untuk kembali ke kampung halaman.

Sebelum aku dan temanku akan pergi, dia sempat meminta ijin kepada temanku untuk berbicara berdua denganku. Temanku mengerti dan langsung memberikan isyarat kepadaku untuk segera berbicara dengannya. Dia meminta maaf atas ucapannya kemarin sore.

Aku hanya berkata padanya, ”Perasaan ini tak pernah nyata, kita hanya bertemu dalam waktu tujuh hari, tak mungkin ada cinta, aku sudah mempunyai calon suami yang akan menjadi imam dalam hidupku, aku akan meneruskan hidupku disana, tempatku bukan disini. Lupakan semua hal yang pernah terjadi. Dan lanjutkan kehidupanmu seperti adanya.”

Tak keluar sepatah katapun dari mulutnya. Diamnya bagiku adalah pertanda setuju atas ucapanku tadi. Dan pergilah aku meninggalkannya.

***

Sekarang, aku sudah menikah, sudah punya jagoan kecil pelengkap rumah tangga kami. Mungkin laki-laki itupun begitu. Sejak dibandara itu, tak pernah ada komunikasi sama sekali antara aku dan dia. Dan memang komunikasi itu tak penting adanya. Aku sudah bahagia dengan suamiku, dan kutemukan berjuta-juta cinta bahkan tak pernah terhitung nilainya. Mungkin cinta yang kurasakan dulu kepada laki-laki itu bukan cinta yang sebenarnya. Mungkin seperti apa yang kuucapkan. Hanya cinta yang tidak nyata.


Namun jika cinta itu tidak nyata, kenapa sampai saat ini aku masih mengingatnya walaupun dengan ingatan yang sangat wajar. Ini hanya sepenggal kisah dimasa lalu. Tujuh hari bersamanya...Tujuh hari dikehidupan masa silamku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar