Kalau sudah
rejeki memang tak akan kemana. Itulah kalimat yang pas yang sedang aku alami.
Rejeki itu tak kan pernah tertukar. Ketika
rejeki itu datang untuk kita maka akan menjadi milik
kita.
Aku mengenal
laki-laki ini sekitar tiga tahun yang lalu ketika itu seorang sahabat karib
mengenalkannya padaku. Hanya cukup waktu tiga bulan saja aku merasa dia
laki-laki yang selama ini aku cari. Laki-laki yang sangat baik menurutku.
Namun sayang,
ketika aku mengajak dia melangkah ke jenjang yang serius. Dia memilih untuk
fokus ke pekerjaannya. Dia belum berniat untuk berumah tangga.
***
Empat bulan
kemudian, aku berkenalan dengan seorang laki-laki lagi, dia anaknya teman Ibuku. Dia seorang
pengusaha batik di daerahku. Menurut keterangan Ibu, dia sudah siap menikah. Dia memang mempunyai
rencana ke arah sana karena memang usianya 10 tahun diatas aku. Walaupun aku
belum bisa melupakan laki-laki yang
dikenalkan sahabatku dulu, namun aku pun tak mungkin
mengecewakan Ibu. Hidupku harus terus
berjalan.
Akhirnya kedua
belah pihak keluarga sepakat menentukan hari pernikahan. Semua sudah
dipersiapkan dari mulai A sampai Z. Acara pernikahan akan digelar secara
sederhana saja. Namun apa yang terjadi, dua bulan menjelang pernikahan, calon
suamiku mengalami kecelakaan. Satu kakinya harus diamputasi. Sejujurnya aku
mengalami kebimbangan yang amat sangat. Namun aku berusaha untuk menguatkan
hatiku. Tapi dia memilih untuk memutuskan hubungan dan membatalkan pernikahan
Kami. Aku dan keluarga sangat kecewa dengan keputusannya. Apalagi disaat
kondisinya seperti itu, dia pasti mengalami depresi dan butuh seseorang
disampingnya. Namun inilah pilihan dia.
***
Enam bulan
kemudian, aku bertemu dengan teman lamaku sewaktu kuliah dulu. Sekilas tak ada
yang berubah dari dirinya. Masih tetap seperti dulu. Dulu kami pernah dekat,
sebagai sahabat karib. Selama aku mengenalnya, aku merasa dia laki-laki yang
cukup baik. Dulu dia aktifis masjid, dia juga pernah menjadi pengurus pesantren juga dan
ku rasa pengetahuan agamanya pun cukup baik.
Beberapa waktu
kita berkomunikasi, temanku itu mengajakku untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Memang
belum lama aku mengalami kegagalan pernikahan. Tapi jika jodoh sudah didepanku,
akupun tak bisa menolaknya. Apalagi aku sudah mengenal laki-laki ini cukup
lama.
Aku dikenalkan
kepada orangtuanya dan sebaliknya dia juga aku kenalkan ke pihak keluargaku. Pihak keluarga sama-sama setuju dan
mengharapkan aku dan dia segera menentukan hari baik.
Awalnya aku merasa yakin dengan keputusanku untuk menikah dengan dia.
Namun setelah aku jalani semuanya, terbersit perasaan lama kepada laki-laki
dulu. Laki-laki yang dikenalkan
sahabat karibku. Kami memang tak pernah berkomunikasi lagi. Aku juga tak tahu
keadaan dia sekarang seperti apa. Namun entah kenapa aku masih memikirkannya
sampai sekarang.
Semakin hari berjalan, semakin aku tak bisa meneruskan rencana ini. Memang laki-laki itu bukan
satu-satunya
penyebab, namun aku merasa seolah ada rasa yang mendesakku
untuk segera menghentikan langkahku. Akhirnya dengan berat
hati, akupun harus memutuskan hubungan dengannya. Awalnya dia tak terima, namun
dia seseorang yang cukup berbesar hati ketika aku menjelaskan semuanya.
***
Setahun kemudian, ada tetangga baru didepan rumah. Beliau pindahan
dari Bogor. Seorang guru. Orangnya
cukup santun, ramah, sopan dan baik. Itulah penilaian pertama aku untuknya. Dia pernah menikah,
namun pernikahannya harus berakhir karena si istri berselingkuh dengan rekan
kerjanya. Pernikahan meraka hanya bertahan sekitar 1 tahun dan tidak
mempunyai anak.
Sudah sekitar tujuh bulan
kami saling mengenal. Dia sering bertamu ke rumah dengan alasan ingin bertemu Ayahku. Namun ujung-ujungnya Ayahku selalu menyuruhku
menemaninya.
Kamipun sering berkomunikasi dan bertukar
pendapat, tentang banyak hal. Pengetahuannya cukup luas karena mungkin dia seorang guru. Hingga membuat aku
mempunyai kesan tersendiri padanya. Namun aku melihat tak ada perasaan berlebih darinya untukku. Padahal aku sudah mulai mengagumi dia.
Beberapa waktu kedepan, aku tak menyangka sama sekali, ketika dia
datang ke rumahku dengan membawa sebuah undangan. Undangan pernikahan dia.
Sejujurnya ada perasaan kecewa di hati. Walaupun aku sadar, belum saatnya aku
merasakan itu. Kaget karena selama ini tak pernah ada obrolan dia akan menikah
lagi. Namun ya sudahlah, dia bukan rejeki aku.
Ada rasa lelah, cape, hampir putus asa dan pesimis saat itu. Berkali-kali aku mencoba sudah berusaha namun
Allah belum mempercayai aku untuk mendapatkan pendamping hidup. Ada perasaan di hati untuk menyerah saja. Tapi
aku juga tersadar, aku harus terus berusaha. Disaat hati hampa dan
penuh kegelisahan aku hanya bisa berdoa. Semoga Tuhan segera mempertemukan aku dengan yang terbaik.
***
Malam itu, Kami sekeluarga tengah berkumpul di ruang keluarga. Sekitar pukul 10
malam, aku kembali ke kamar untuk melepas lelah dan ngantuk. Ku cek handphoneku, ada 5 panggilan tak
terjawab. Kulihat dari siapa dan aku agak tak percaya juga. Panggilan itu dari laki-laki dimasa laluku. Laki-laki yang selama ini aku harapkan. Dia
menghubungiku lagi.
Apakah akan ada undangan pernikahan kembali untuk yang kedua
kalinya. Ataukah ada hal lain. Cepat-cepat aku hubungi balik. Ternyata dia memintaku
untuk bertemu dengannya besok disuatu tempat.
Keesokan harinya, akupun menemuinya,
aku mengajak temanku untuk bertemu dengan dia dengan maksud agar aku tidak
terlalu nervous. Ada perasaan tak percaya karena sekian lama aku tak jumpa dengannya. Sekian lama juga aku tak pernah ada
kontak dengannya. Walaupun sekian lama itu juga tak pernah ada yang berubah dengan rasa ini.
Perasaan ini semakin tak karuan, ketika dia sudah ada didepanku.
Obrolan pun dimulai. Dia berkata padaku kalau dia berubah fikiran. Dia ingin
menikah.
Sempat ada perasaan aneh di hatiku. Dia ingin menikah dengan siapa? Aku mencoba menjaga
perasaan ini supaya tak keluar dari jalur yang tak seharusnya aku rasakan. Namun
keterusterangan dia membuatku harus merasa jadi orang yang paling bahagia saat
itu.
***
Entah apa yang menyebabkan dia berubah fikiran, setelah sekian lama
kita berpisah. Tapi aku yakin, Allah yang membolak balikkan hati setiap insan.
Begitupun dengan laki-laki itu. Mungkin dialah jawaban dari doa-doaku selama ini.
Perasaan itu tak bisa dibentuk, perasaan itu tak perlu ada logika.
Jika harus terjadi, semua akan terjadi dengan mudah atas ijin-NYA.
Laki-laki itu yang tak lain adalah suamiku sekarang dan ayah dari
jagoan kecilku adalah sosok terindah dalam hidupku. Aku sangat bahagia bersamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar