5 Jan 2012

Sosok Terindah


Kalau sudah rejeki memang tak akan kemana. Itulah kalimat yang pas yang sedang aku alami. Rejeki itu tak kan pernah tertukar. Ketika rejeki itu datang untuk kita maka akan menjadi milik kita.

Aku mengenal laki-laki ini sekitar tiga tahun yang lalu ketika itu seorang sahabat karib mengenalkannya padaku. Hanya cukup waktu tiga bulan saja aku merasa dia laki-laki yang selama ini aku cari. Laki-laki yang sangat baik menurutku.

Namun sayang, ketika aku mengajak dia melangkah ke jenjang yang serius. Dia memilih untuk fokus ke pekerjaannya. Dia belum berniat untuk berumah tangga.

***

Empat bulan kemudian, aku berkenalan dengan seorang laki-laki lagi, dia anaknya teman Ibuku. Dia seorang pengusaha batik di daerahku. Menurut keterangan Ibu, dia sudah siap menikah. Dia memang mempunyai rencana ke arah sana karena memang usianya 10 tahun diatas aku. Walaupun aku belum bisa melupakan laki-laki yang dikenalkan sahabatku dulu, namun aku pun tak mungkin mengecewakan Ibu. Hidupku harus terus berjalan.

Akhirnya kedua belah pihak keluarga sepakat menentukan hari pernikahan. Semua sudah dipersiapkan dari mulai A sampai Z. Acara pernikahan akan digelar secara sederhana saja. Namun apa yang terjadi, dua bulan menjelang pernikahan, calon suamiku mengalami kecelakaan. Satu kakinya harus diamputasi. Sejujurnya aku mengalami kebimbangan yang amat sangat. Namun aku berusaha untuk menguatkan hatiku. Tapi dia memilih untuk memutuskan hubungan dan membatalkan pernikahan Kami. Aku dan keluarga sangat kecewa dengan keputusannya. Apalagi disaat kondisinya seperti itu, dia pasti mengalami depresi dan butuh seseorang disampingnya. Namun inilah pilihan dia.

***

Enam bulan kemudian, aku bertemu dengan teman lamaku sewaktu kuliah dulu. Sekilas tak ada yang berubah dari dirinya. Masih tetap seperti dulu. Dulu kami pernah dekat, sebagai sahabat karib. Selama aku mengenalnya, aku merasa dia laki-laki yang cukup baik. Dulu dia aktifis masjid, dia juga pernah menjadi pengurus pesantren juga dan ku rasa pengetahuan agamanya pun cukup baik.

Beberapa waktu kita berkomunikasi, temanku itu mengajakku untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Memang belum lama aku mengalami kegagalan pernikahan. Tapi jika jodoh sudah didepanku, akupun tak bisa menolaknya. Apalagi aku sudah mengenal laki-laki ini cukup lama.

Aku dikenalkan kepada orangtuanya dan sebaliknya dia juga aku kenalkan ke pihak keluargaku. Pihak keluarga sama-sama setuju dan mengharapkan aku dan dia segera menentukan hari baik.

Awalnya aku merasa yakin dengan keputusanku untuk menikah dengan dia. Namun setelah aku jalani semuanya, terbersit perasaan lama kepada laki-laki dulu. Laki-laki yang dikenalkan sahabat karibku. Kami memang tak pernah berkomunikasi lagi. Aku juga tak tahu keadaan dia sekarang seperti apa. Namun entah kenapa aku masih memikirkannya sampai sekarang.

Semakin hari berjalan, semakin aku tak bisa meneruskan rencana ini. Memang laki-laki itu bukan satu-satunya penyebab, namun aku merasa seolah ada rasa yang mendesakku untuk segera menghentikan langkahku. Akhirnya dengan berat hati, akupun harus memutuskan hubungan dengannya. Awalnya dia tak terima, namun dia seseorang yang cukup berbesar hati ketika aku menjelaskan semuanya.

***

Setahun kemudian, ada tetangga baru didepan rumah. Beliau pindahan dari Bogor. Seorang guru. Orangnya cukup santun, ramah, sopan dan baik. Itulah penilaian pertama aku untuknya. Dia pernah menikah, namun pernikahannya harus berakhir karena si istri berselingkuh dengan rekan kerjanya. Pernikahan meraka hanya bertahan sekitar 1 tahun dan tidak mempunyai anak.

Sudah sekitar tujuh bulan kami saling mengenal. Dia sering bertamu ke rumah dengan alasan ingin bertemu Ayahku. Namun ujung-ujungnya Ayahku selalu menyuruhku menemaninya.

Kamipun sering berkomunikasi dan bertukar pendapat, tentang banyak hal. Pengetahuannya cukup luas karena mungkin dia seorang guru. Hingga membuat aku mempunyai kesan tersendiri padanya. Namun aku melihat tak ada perasaan berlebih darinya untukku. Padahal aku sudah mulai mengagumi dia.

Beberapa waktu kedepan, aku tak menyangka sama sekali, ketika dia datang ke rumahku dengan membawa sebuah undangan. Undangan pernikahan dia. Sejujurnya ada perasaan kecewa di hati. Walaupun aku sadar, belum saatnya aku merasakan itu. Kaget karena selama ini tak pernah ada obrolan dia akan menikah lagi. Namun ya sudahlah, dia bukan rejeki aku.

Ada rasa lelah, cape, hampir putus asa dan pesimis saat itu. Berkali-kali aku mencoba sudah berusaha namun Allah belum mempercayai aku untuk mendapatkan pendamping hidup. Ada perasaan di hati untuk menyerah saja. Tapi aku juga tersadar, aku harus terus berusaha. Disaat hati hampa dan penuh kegelisahan aku hanya bisa berdoa. Semoga Tuhan segera mempertemukan aku dengan yang terbaik.

***

Malam itu, Kami sekeluarga tengah berkumpul di ruang keluarga. Sekitar pukul 10 malam, aku kembali ke kamar untuk melepas lelah dan ngantuk. Ku cek handphoneku, ada 5 panggilan tak terjawab. Kulihat dari siapa dan aku agak tak percaya juga. Panggilan itu dari laki-laki dimasa laluku. Laki-laki yang selama ini aku harapkan. Dia menghubungiku lagi.

Apakah akan ada undangan pernikahan kembali untuk yang kedua kalinya. Ataukah ada hal lain. Cepat-cepat aku hubungi balik. Ternyata dia memintaku untuk bertemu dengannya besok disuatu tempat.

Keesokan harinya, akupun menemuinya, aku mengajak temanku untuk bertemu dengan dia dengan maksud agar aku tidak terlalu nervous. Ada perasaan tak percaya karena sekian lama aku tak jumpa dengannya. Sekian lama juga aku tak pernah ada kontak dengannya. Walaupun sekian lama itu juga tak pernah ada yang berubah dengan rasa ini.

Perasaan ini semakin tak karuan, ketika dia sudah ada didepanku. Obrolan pun dimulai. Dia berkata padaku kalau dia berubah fikiran. Dia ingin menikah.

Sempat ada perasaan aneh di hatiku. Dia ingin menikah dengan siapa? Aku mencoba menjaga perasaan ini supaya tak keluar dari jalur yang tak seharusnya aku rasakan. Namun keterusterangan dia membuatku harus merasa jadi orang yang paling bahagia saat itu.

***

Entah apa yang menyebabkan dia berubah fikiran, setelah sekian lama kita berpisah. Tapi aku yakin, Allah yang membolak balikkan hati setiap insan. Begitupun dengan laki-laki itu. Mungkin dialah jawaban dari doa-doaku selama ini.

Perasaan itu tak bisa dibentuk, perasaan itu tak perlu ada logika. Jika harus terjadi, semua akan terjadi dengan mudah atas ijin-NYA.


Laki-laki itu yang tak lain adalah suamiku sekarang dan ayah dari jagoan kecilku adalah sosok terindah dalam hidupku. Aku sangat bahagia bersamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar