5 Jan 2012

Suatu Sore


Masih kupandangi suasana sore hari ini, lembayung merah di langit Batam. Tak pernah terbayang sedikitpun aku akan menetap di pulau ini. Entah sampai kapan, mungkin untuk selamanya. Sebenanya bukan karena pekerjaanku sebagai perawat yang menugaskanku disini, namun karena ada sesuatu hal yang cukup membebani hidupku.

Aku…anak kedua dari tiga bersaudara. Kakakku laki-laki dan adikku perempuan. Kita kakak beradik yang sangat kompak, mungkin karena umur kita terpaut tak terlalu jauh. Aku dengan kakakku terpaut umur tiga tahun, sedangkan dengan adikku hanya beda umur dua tahun. Mungkin itu sebabnya yang membuat kita bertiga jadi terkesan kompak.

Ibuku sudah lama tiada, dipanggil Sang Maha Pemilik Segala karena penyakit leukemia yang dideritanya. Kini tinggal Ayah yang selalu ada untuk Kami bertiga. Kami sekeluarga tinggal di kota Bogor. Kota yang sejak kecil kami tempati, jadi wajar kalau aku sangat mencintai kota ini.

Namun, lagi-lagi penyakit itu yang selalu menjadi ketakutan keluarga Kami, setelah Ibu meninggal, kini adikku yang mengidap penyakit itu. Sejak adik divonis mengidap leukemia dua tahun lalu, Kami selalu dihinggapi rasa khawatir. Walau Kami yakin tak ada yang tahu umur manusia. Tapi setidaknya Kami selalu berusaha dan menyakini suatu saat penyakit itu akan hilang di tubuh adikku.

Kakakku sudah bekerja disalah satu perusahaan swasta, masih di kota Bogor. Sedangkan aku sedang menempuh pendidikan keperawatan. Cita-citaku waktu kecil sebenarnya ingin menjadi dokter, namun biaya masuk kedokteran saat ini diatas langit. Mungkin jalan hiduku hanya bisa sebatas jadi seorang perawat. Tak apalah. Sementara adikku baru masuk bangku kuliah. Kondisi kesehatannya memang semakin hari semakin tak karuan, namun semangatnya tak pernah mati. Aku salut padanya.

***

Malam itu, aku bersama ayah dan adikku sedang duduk didepan rumah. Suasana malam itu memang sangat gerah, tak biasanya. Sedang asik bercengkrama tiba-tiba kakakku datang dengan seorang laki-laki yang katanya teman kantornya. Dia mengenalkan temannya itu pada Kami. Kakak bilang ada tugas kantor yang belum terselesaikan dan akan dibereskan di rumah dengan temannya itu.

Sejak saat itu, laki-laki teman kakakku itu jadi sering berkunjung ke rumah. Alasan ingin bertemu kakak menjadi alasan utama. Namun aku sendiri tak yakin. Dia laki-laki yang aku anggap baik, cukup sopan dan ramah. Aku belum menemukan ada tanda-tanda negatif dengan prilakunya dan semoga tidak akan pernah ada.

Kunjungan laki-laki itu selalu disambut baik oleh adikku, aku tak pernah melihat adikku sebahagia itu. Dan aku harus ikut senang. Tapi entah dari mana datangnya perasaan itu kenapa terkadang aku merasakan perasaan cemburu jika laki-laki itu sedang bersama adikku. Tapi bagiku kebahagiaan adikku adalah kebahagiaan kita semua.

Kunjungan demi kunjungan, dan tanpa disadari akupun jadi sering melihat laki-laki itu, tapi tak pernah sekalipun aku berbincang dengannya. Aku hanya bisa melihatnya, menyapanya, dan memperhatikannya dari jauh. Kakakku dan adikku saja yang sering menemaninya ketika dia datang ke rumah. Aku semakin yakin, kalau adikku memang menyukai laki-laki itu. Tapi akupun merasakan hal yang sama.

***

Suatu sore, adikku tiba-tiba membuyarkan lamunanku kala itu. Dengan sifatnya yang ceria, tapi sedikit manja dia memelukku, dia mengutarakan perasaannya, perasaan kepada laki-laki itu. Ternyata benar dugaanku selama ini, adikku benar-benar menyukai teman kakakku. Adikku bertanya padaku sesuatu hal yang tak pernah aku kira sebelumnya.

“Kak…kalau aku nikah duluan, boleh gak?”, aku langsung terdiam, aku tak tahu harus menjawab apa. Tapi aku juga tak ingin mengecewakannya.

“Tentu saja boleh, jodoh kan bukan manusia yang mengatur...” jawabku. Jawaban yang cukup berat. Adikku hanya tersenyum, senyuman yang mungkin agak menyakitkan hatiku. Aku yakin dia ingin menikah dengan laki-laki itu.

Aku berniat untuk menyampaikan kabar ini kepada kakakku. Mengatakan bahwa adik menyukai temannya, jika memang temannya merasakan hal yang sama, segeralah melamar adik, tapi beritahukan dulu kondisi adik saat ini. Belum juga aku mengutarakan maksud hati, kakakku sepertinya ingin mengatakan sesuatu juga padaku.

“ Cik…kakak punya kabar untuk kamu.” kata Kakakku.

“Aku juga punya kabar, tapi kakak duluan deh” jawabku.

“ Teman Kakak yang sering datang ke rumah itu, dia bermaksud untuk melamar kamu.” ungkap Kakakku.

Aku sedikit terdiam, perasaanku sangat tak karuan saat itu. Aku bingung sekaligus senang. Karena jujur, aku merasakan kekaguman pada laki-laki itu. Aku yakin laki-laki itu baik karena tidak mungkin kakakku merekomendasikan orang yang tidak baik untuk adiknya sendiri. Tapi aku bingung dengan perasaan adikku. Hatinya pasti hancur bila mendengar hal ini. Tapi jika aku tak menerimanya, berarti akupun menyakiti hatiku sendiri. Untuk itu, aku harus jelaskan tentang apa yang terjadi selama ini pada kakakku.

Setelah aku ungkap semua permasalahan yang terjadi, aku lihat kakak juga tak punya solusi untuk itu. Akhirnya kita melibatkan Ayah sebagai kepala keluarga. Ayah sempat bertanya padaku, tentang perasaanku. Aku tak bisa berbohong padanya dan kujawab sesuai kata hatiku. Akhirnya Ayah memutuskan untuk tidak memberitahukan hal ini pada adik, karena kondisi yang tidak memungkinkan. Lalu bagaimana dengan aku??? Ayah bilang, kenalilah dia dulu sambil menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan pada adikku.

***

Waktu berlalu, hari-hariku kini terisi dengan semangat baru. Mungkin karena ada hadirnya orang baru dalam hidupku. Walau terkadang pertemuan kami harus kami jalani diluar rumah, bersamanya, bersama kakakku juga dan tanpa adikku tentunya. Diapun tahu mengenai perasaan adikku, dan untuk menghindarinya, dia jarang berkunjung ke rumah. Ya…mungkin inilah yang dirasa terbaik saat ini.

Semakin hari, semakin kurasa tak ada kewajaran disini, diluar rumah aku merasa bahagia bersamanya, tapi ketika aku masuk ke dalam rumah, aku merasakan aku telah membohongi seseorang yang notabene adalah adikku sendiri, adik yang selama ini aku cintai, adik yang selama ini aku sangat pentingkan kebahagiaannya, tapi tanpa dia sadari kenapa aku malah mengecewakannya.

***

Setahun berlalu, akhirnya aku lulus sekolah keperawatanku dan sekarang sudah bekerja disalah satu rumah sakit di daerah bogor juga. Masih tetap dengan kondisi sebelumnya. Terkadang aku sangat lelah. Semakin aku jalani semakin aku merasa bersalah. Karena sampai hari ini, adikku tak pernah tahu apa yang terjadi dan ku fikir tak harus tahu apa yang terjadi.

Kondisi adik semakin hari semakin menurun. Obat-obat yang dia konsumsi dari dokter tak bisa melawan penyakit itu. Melihat kondisinya seperti ini, aku semakin menjadi orang yang sangat tak punya perasaan. Apalagi bila adikku mengeluhkan tentang laki-laki itu, laki-laki yang mungkin akan menjadi suamiku nanti. Ataukah menjadi suami adikku. Hanya Sang Maha Kuasa tahu.

***

Suatu hati, setelah berfikir keras, setelah aku mencoba menghilangkan semua ego di hatiku, setelah aku mencoba berfikir jernih, akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan laki-laki itu. Aku tak tahu apa ini jalan yang terbaik untuk aku. Aku berniat menyampaikan ini semua dihadapan keluargaku dan laki-laki itu.

Malam itu, menjadi malam terberat buat aku. Aku harus menyampaikan maksudku didepan mereka. Akhirnya dengan berat hati aku utarakan maksudku. Aku memutuskan untuk tidak pernah menikah dengan laki-laki itu. Aku tak ingin berbahagia, tetapi adikku sendiri merasakan sakit. Akupun meminta laki-laki itu untuk menikahi adikku secepatnya.

Semua terlihat kaget dengan keputusanku, apalagi laki-laki itu. Awalnya dia tidak bisa menerima, namun setelah aku jelaskan berkali-kali akhirnya dia mencoba untuk mengerti. Ada rasa sakit yang teramat dalam, karena aku hanya manusia biasa yang punya rasa kecewa. Tapi aku yakin ini keputusan yang terbaik.

***

Sebulan berlalu, waktu yang cukup lama untuk membuat laki-laki itu berfikir untuk bisa menerima adikku. Namun dengan sedikit desakkan dan permohonan dariku, akhirnya dia menerimanya. Dia menerima adikku untuk menjadi istrinya. Entah apa yang kurasakan saat itu.

Pernikahan akan dilaksanakan satu bulan kemudian, kulihat ada kegembiraan yang teramat dalam dari wajah adikku, kondisi kesehatannya pun semakin membaik. Aku sangat mensyukuri itu. Walau dia tak pernah tahu apa yang terjadi didalam hatiku. Sesekali aku tak bisa menahan air mata ini jatuh. Namun, aku selalu mencoba untuk ikhlas.

Tanpa sepengetahuan keluargaku, aku mengajukan permohonan pindah tugas keluar Jawa pada rumah sakit tempat aku bekerja sekarang. Hanya ada peluang di Batam. Tak apalah, asal aku keluar dari kota Bogor, aku akan jalani. Akhirnya pengajuanku disetujui pihak rumah sakit dan aku akan pindah ke Batam dua bulan lagi.

Satu bulan berlalu, besok adalah hari pernikahan adikku. Pernikahan dengan laki-laki yang akan menjadi calon suamiku dulu. Siap tak siap, aku harus siap melihatnya. Malam menjelang pernikahannya tiba-tiba handphoneku berbunyi. Laki-laki itu menelponku. Awalnya tak aku angkat, namun setelah aku berfikir takut ada hal penting akhirnya aku angkat.

“Assalamualaikum cik….” sapanya. Ku balas salam juga. Lalu dia berkata.

“Aku masih ragu dengan apa yang akan aku jalani besok…masih ada waktu untuk membatalkannya” ungkapnya. Aku sedikit marah, namun akupun tak bisa menyalahkan dia.

Aku hanya berkata, “Lupakanlah apa yang pernah aku katakan selama ini…lupakanlah apa yang pernah kita rasakan...menikahlah dengan adikku dan berbahagialah…” kututup handphoneku dan tak terasa air mataku jatuh.

***

Sore itu, suatu sore yang indah…suatu sore yang sangat berbeda. Perasaanku campur aduk. Pernikahan itu akhirnya terjadi juga. Aku harus mencoba tersenyum walaupun sangat sulit. Biarlah mereka berbahagia karena ini jalan mereka.

Satu bulan berlalu, aku beritahukan kepada keluargaku bahwa aku harus pindah tugas ke Batam. Awalnya keluargaku terutama Ayah melarangku, namun setelah aku beri penjelasan akhirnya mereka mengijinkan aku pergi.


Kini…aku disini jauh dari keluarga, perasaan yang menjadi beban itu masih ada sampai saat ini. Namun aku yakin dengan pertolongan-MU ROBB, aku pasti bisa melaluinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar