Masih kupandangi
suasana sore hari ini, lembayung merah di langit Batam. Tak pernah
terbayang sedikitpun aku akan menetap di pulau ini. Entah sampai
kapan,
mungkin untuk selamanya. Sebenanya bukan karena pekerjaanku sebagai perawat
yang menugaskanku disini, namun karena ada sesuatu hal yang cukup membebani
hidupku.
Aku…anak kedua
dari tiga bersaudara. Kakakku laki-laki dan adikku perempuan. Kita kakak
beradik yang sangat kompak, mungkin karena umur kita terpaut tak terlalu jauh.
Aku dengan kakakku terpaut umur tiga tahun, sedangkan dengan adikku hanya beda
umur dua tahun. Mungkin itu sebabnya yang membuat kita bertiga jadi terkesan
kompak.
Ibuku sudah lama
tiada, dipanggil Sang Maha Pemilik Segala karena penyakit leukemia yang
dideritanya. Kini tinggal Ayah yang selalu ada untuk Kami bertiga. Kami
sekeluarga tinggal di kota Bogor. Kota yang sejak kecil kami tempati, jadi
wajar kalau aku sangat mencintai kota ini.
Namun, lagi-lagi
penyakit itu yang selalu menjadi ketakutan keluarga Kami, setelah Ibu
meninggal, kini adikku yang mengidap penyakit itu. Sejak adik divonis mengidap
leukemia dua tahun lalu, Kami selalu dihinggapi rasa khawatir. Walau Kami yakin
tak ada yang tahu umur manusia. Tapi setidaknya Kami selalu berusaha dan
menyakini suatu saat penyakit itu akan hilang di tubuh adikku.
Kakakku sudah
bekerja disalah satu perusahaan swasta, masih di kota Bogor. Sedangkan aku sedang
menempuh pendidikan keperawatan. Cita-citaku waktu kecil sebenarnya ingin
menjadi dokter, namun biaya masuk kedokteran saat ini diatas langit. Mungkin
jalan hiduku hanya bisa sebatas jadi seorang perawat. Tak apalah. Sementara adikku baru
masuk bangku kuliah. Kondisi kesehatannya memang semakin hari semakin tak karuan, namun semangatnya tak pernah mati.
Aku salut padanya.
***
Malam itu, aku bersama ayah dan
adikku sedang duduk didepan rumah. Suasana malam itu memang sangat gerah, tak
biasanya. Sedang asik bercengkrama tiba-tiba kakakku datang dengan seorang
laki-laki yang katanya teman kantornya. Dia mengenalkan temannya itu pada Kami.
Kakak bilang ada tugas kantor yang belum terselesaikan dan akan dibereskan di rumah dengan
temannya itu.
Sejak saat itu,
laki-laki teman kakakku itu jadi sering berkunjung ke rumah. Alasan ingin bertemu kakak menjadi
alasan utama. Namun aku sendiri tak yakin. Dia laki-laki yang aku anggap baik, cukup sopan dan ramah. Aku belum menemukan ada tanda-tanda negatif dengan prilakunya dan
semoga tidak akan pernah ada.
Kunjungan
laki-laki itu selalu disambut baik oleh adikku, aku tak pernah melihat adikku sebahagia
itu. Dan aku harus ikut senang. Tapi entah dari mana datangnya perasaan itu
kenapa terkadang aku merasakan perasaan cemburu jika laki-laki itu sedang
bersama adikku. Tapi bagiku kebahagiaan adikku adalah kebahagiaan kita semua.
Kunjungan demi
kunjungan, dan tanpa disadari akupun jadi sering melihat laki-laki itu, tapi
tak pernah sekalipun aku berbincang dengannya. Aku hanya bisa melihatnya,
menyapanya, dan memperhatikannya dari jauh. Kakakku dan adikku saja yang sering
menemaninya ketika dia datang ke rumah. Aku semakin yakin, kalau adikku memang menyukai
laki-laki itu. Tapi akupun merasakan
hal yang sama.
***
Suatu sore,
adikku tiba-tiba membuyarkan lamunanku kala itu. Dengan sifatnya yang ceria,
tapi sedikit manja dia memelukku, dia mengutarakan perasaannya, perasaan kepada
laki-laki itu. Ternyata benar dugaanku selama ini, adikku benar-benar menyukai
teman kakakku. Adikku bertanya padaku sesuatu hal yang tak pernah aku kira
sebelumnya.
“Kak…kalau aku
nikah duluan, boleh gak?”, aku langsung terdiam, aku tak tahu harus menjawab apa. Tapi aku
juga tak ingin mengecewakannya.
“Tentu saja
boleh, jodoh kan bukan manusia yang mengatur...” jawabku. Jawaban yang cukup berat. Adikku hanya tersenyum,
senyuman yang
mungkin agak menyakitkan hatiku. Aku yakin dia ingin menikah dengan laki-laki itu.
Aku berniat
untuk menyampaikan kabar ini kepada kakakku. Mengatakan bahwa adik menyukai
temannya, jika memang temannya merasakan hal yang sama, segeralah melamar adik,
tapi beritahukan dulu kondisi adik saat ini. Belum juga aku mengutarakan maksud
hati, kakakku sepertinya ingin mengatakan sesuatu juga padaku.
“ Cik…kakak
punya kabar untuk kamu.” kata Kakakku.
“Aku juga punya
kabar, tapi kakak duluan deh” jawabku.
“ Teman Kakak
yang sering datang ke rumah itu, dia bermaksud untuk melamar kamu.” ungkap Kakakku.
Aku sedikit
terdiam, perasaanku sangat tak karuan saat itu. Aku bingung sekaligus senang. Karena jujur, aku
merasakan kekaguman pada laki-laki itu. Aku yakin laki-laki itu baik karena
tidak mungkin kakakku merekomendasikan orang yang tidak baik untuk adiknya
sendiri. Tapi aku bingung dengan perasaan adikku. Hatinya pasti hancur bila mendengar hal ini. Tapi jika aku tak menerimanya, berarti akupun menyakiti
hatiku sendiri. Untuk itu, aku harus jelaskan tentang apa yang terjadi selama ini pada kakakku.
Setelah aku
ungkap semua permasalahan yang terjadi, aku lihat kakak juga tak punya solusi
untuk itu. Akhirnya kita melibatkan Ayah sebagai kepala keluarga. Ayah sempat bertanya
padaku, tentang perasaanku. Aku tak bisa berbohong padanya dan kujawab sesuai
kata hatiku. Akhirnya Ayah memutuskan untuk tidak memberitahukan hal ini pada
adik, karena kondisi yang tidak memungkinkan. Lalu bagaimana dengan aku??? Ayah
bilang, kenalilah dia dulu sambil menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan
pada adikku.
***
Waktu berlalu, hari-hariku
kini terisi dengan semangat baru. Mungkin karena ada hadirnya orang baru dalam
hidupku. Walau terkadang pertemuan kami harus kami jalani diluar rumah,
bersamanya, bersama kakakku juga dan tanpa adikku tentunya. Diapun tahu
mengenai perasaan adikku, dan untuk menghindarinya, dia jarang berkunjung ke
rumah. Ya…mungkin inilah yang dirasa terbaik saat ini.
Semakin hari,
semakin kurasa tak ada kewajaran disini, diluar rumah aku merasa bahagia
bersamanya, tapi ketika aku masuk ke dalam rumah, aku merasakan aku telah
membohongi seseorang yang notabene adalah adikku sendiri, adik yang selama ini
aku cintai, adik yang selama ini aku sangat pentingkan kebahagiaannya, tapi
tanpa dia sadari kenapa aku malah mengecewakannya.
***
Setahun berlalu,
akhirnya aku lulus sekolah keperawatanku dan sekarang sudah bekerja disalah
satu rumah sakit di daerah bogor juga. Masih tetap dengan kondisi sebelumnya. Terkadang aku sangat lelah. Semakin aku
jalani semakin aku merasa bersalah. Karena sampai hari ini, adikku tak pernah
tahu apa yang terjadi dan ku fikir tak harus tahu apa yang terjadi.
Kondisi adik
semakin hari semakin menurun. Obat-obat yang dia konsumsi dari dokter tak bisa
melawan penyakit itu. Melihat kondisinya seperti ini, aku semakin menjadi orang
yang sangat tak punya perasaan. Apalagi bila adikku mengeluhkan tentang
laki-laki itu, laki-laki yang mungkin akan menjadi suamiku nanti. Ataukah menjadi
suami adikku. Hanya Sang Maha Kuasa tahu.
***
Suatu hati,
setelah berfikir keras, setelah aku mencoba menghilangkan semua ego di hatiku,
setelah aku mencoba berfikir jernih, akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan
laki-laki itu. Aku tak tahu apa ini jalan yang terbaik untuk aku. Aku berniat
menyampaikan ini semua dihadapan keluargaku dan laki-laki itu.
Malam itu,
menjadi malam terberat buat aku. Aku harus menyampaikan maksudku didepan
mereka. Akhirnya dengan berat hati aku utarakan maksudku. Aku memutuskan untuk tidak
pernah menikah dengan laki-laki itu. Aku tak ingin berbahagia, tetapi adikku
sendiri merasakan sakit. Akupun meminta laki-laki itu untuk menikahi adikku secepatnya.
Semua terlihat
kaget dengan keputusanku, apalagi laki-laki itu. Awalnya dia tidak bisa menerima,
namun setelah aku jelaskan berkali-kali akhirnya dia mencoba untuk mengerti. Ada
rasa sakit yang teramat dalam, karena aku hanya manusia biasa yang punya rasa
kecewa. Tapi aku yakin ini keputusan yang terbaik.
***
Sebulan berlalu,
waktu yang cukup lama untuk membuat laki-laki itu berfikir untuk bisa menerima
adikku. Namun dengan sedikit desakkan dan permohonan dariku, akhirnya dia
menerimanya. Dia menerima adikku untuk menjadi istrinya. Entah apa yang
kurasakan saat itu.
Pernikahan akan
dilaksanakan satu bulan kemudian, kulihat ada kegembiraan yang teramat dalam
dari wajah adikku, kondisi kesehatannya pun semakin membaik. Aku sangat mensyukuri itu.
Walau dia tak pernah tahu apa yang terjadi didalam hatiku. Sesekali aku tak
bisa menahan air mata ini jatuh. Namun, aku selalu mencoba untuk ikhlas.
Tanpa
sepengetahuan keluargaku, aku mengajukan permohonan pindah tugas keluar Jawa pada rumah sakit
tempat aku bekerja sekarang. Hanya ada peluang di Batam. Tak apalah, asal aku
keluar dari kota Bogor, aku akan jalani. Akhirnya pengajuanku disetujui pihak rumah sakit dan aku
akan pindah ke Batam dua bulan lagi.
Satu bulan
berlalu, besok adalah hari pernikahan
adikku. Pernikahan dengan laki-laki yang akan menjadi calon suamiku
dulu. Siap tak siap, aku harus siap melihatnya. Malam menjelang pernikahannya
tiba-tiba handphoneku berbunyi. Laki-laki itu menelponku. Awalnya tak aku
angkat, namun setelah aku berfikir takut ada hal penting akhirnya aku angkat.
“Assalamualaikum
cik….” sapanya. Ku balas salam juga. Lalu dia berkata.
“Aku masih ragu
dengan apa yang akan aku jalani besok…masih ada waktu untuk membatalkannya” ungkapnya. Aku
sedikit marah, namun akupun tak bisa menyalahkan dia.
Aku hanya
berkata, “Lupakanlah
apa yang pernah aku katakan selama ini…lupakanlah apa yang pernah kita rasakan...menikahlah dengan adikku
dan berbahagialah…” kututup handphoneku dan tak terasa air mataku jatuh.
***
Sore itu, suatu
sore yang indah…suatu sore yang sangat berbeda. Perasaanku campur aduk. Pernikahan itu akhirnya terjadi juga. Aku harus mencoba tersenyum walaupun
sangat sulit. Biarlah mereka berbahagia karena ini jalan mereka.
Satu bulan
berlalu, aku beritahukan kepada keluargaku bahwa aku harus pindah tugas ke
Batam. Awalnya keluargaku terutama Ayah melarangku, namun setelah aku beri
penjelasan akhirnya mereka mengijinkan aku pergi.
Kini…aku disini jauh dari keluarga, perasaan yang
menjadi beban itu masih ada sampai saat ini. Namun aku yakin dengan
pertolongan-MU ROBB, aku pasti bisa melaluinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar