Ayahku idolaku…begitulah yang
selalu aku tanamkan dalam benakku. Ayah adalah seorang pelindung keluarga, seorang
penyayang, seorang yang sabar, seorang yang luar biasa bagiku. Tak cukup hanya
dengan kata-kata itu yang bisa aku lukiskan untuk seorang Ayah.
Ayah memang
bukan pejabat tinggi, Ayah juga bukan seorang direktur sebuah perusahaan, Ayah memang hanya seorang
karyawan biasa dengan gaji yang tidak begitu besar, tapi Kami bahagia karena Kami selalu berusaha untuk
merasa cukup atas karunia Allah SWT yang diberikan kepada Kami.
Sampai aku
beranjak dewasa hampir tak pernah aku melihat Ayah dan Ibuku bertengkar, entah mereka sembunyikan dari aku atau memang tak pernah terjadi
pertengkaran itu. Ayah memang suami yang baik. Itu fikirku.
Tapi kenapa…dua
bulan terakhir ini Ayahku yang super hebat itu berubah. Sering marah, pulang ke rumah
selalu larut malam, bahkan diwaktu liburpun Ayah habiskan untuk pergi keluar sendirian tanpa Kami. Ada apa sebenarnya dengan Ayah???
Seperti hari
itu, untuk pertama kalinya aku melihat Ayah memarahi Ibu hanya karena salah membuat sarapan. Nasi goreng
memang kesukaan ayah, Ibu sudah terampil membuat makanan itu untuk Ayah setiap pagi. Tapi tak
biasanya hari itu Ayah ingin dibuatkan sandwich. Padahal setauku, itu bukan makanan yang biasa Ayah makan pagi-pagi. Bahkan Kamipun tak mengenal jenis makanan apakah itu.
Ibu menangis saat itu. Aku melihat itu bukan karakter Ayah. Ayah kok berubah menjadi
seorang yang kasar, hanya karena masalah kecil saja sampai-sampai bisa membuat Ibu menangis. Padahal
bertahun-tahun mereka menikah, masalah besarpun bisa dilewati tanpa kata-kata kasar.
Berhari-hari
bahkan berbulan-bulan, Ayah semakin berubah, bahkan Ibu bilang, Ayah
sudah dua
bulan tidak pernah memberi uang belanja. Setiap Ibu tanya, bukan jawaban yang Ibu dapat apalagi uang, tapi kemarahan Ayah. Hingga untuk menutupi kebutuhan keluargapun, Ibu terpaksa menjadi tukang cuci baju tetangga dengan upah yang seadanya. Untuk makanpun kadang
tidak cukup apalagi untuk biaya sekolahku.
Melihat Ibu bekerja kasar seperti
itu, aku berinisiatif untuk mencari kerja saja, tanpa meninggalkan kewajibanku
sebagai seorang pelajar tentunya. Ku cari-cari lowongan kerja, dan Alhamdulilah
ada tetanggaku yang biasa menggunakan tenaga Ibu untuk mencuci baju-bajunya menawarkan pekerjaan
diluar jam sekolah. Mungkin tetanggaku tahu keadaan Kami seperti apa.
Akupun meminta
izin kepada Ibu untuk bekerja. Saat itu Ibu
hanya berkata….”Alhamdulilah Nak, ini pertolongan Allah SWT”, dan sejak saat
itu selain menjadi seorang pelajar, akupun berubah menjadi seorang penjaga toko kue
tak jauh dari tempat tinggalku.
Aku senang bisa
membantu kebutuhan keluarga walaupun tidak maksimal, aku senang melihat Ibu tidak terlalu gusar
dengan keadaan ini. Lalu kemana Ayah?
Ayah setiap hari pergi, namun entah pergi kemana.
Apa ke kantor seperti biasa, ataukah ke tempat lain? Entahlah…akupun sudah tak
peduli.
***
Siang itu,
langit tampak begitu cerah. Kulangkahkan kaki dengan cepat menuju rumah. Memang
siang itu bukan jadwal aku untuk
menjaga toko, hari
itu hari liburku, aku berniat sepulang sekolah akan bantu Ibu cuci baju.
“Assalamualaikum….”
sapaku begitu aku sampai depan rumah. Tak ada jawaban, sepi…”Lha...kemana ibu?” tanyaku dalam
hati.
Kulihat ditempat
mengais rejeki Ibu yaitu tempat cuci baju, tak ada. Kulihat lagi di dapur, tak ada
bunyi Ibu
sedang bertarung dengan bumbu-bumbu dapur. Akhirnya kujumpai Ibu sedang menangis di kamar.
Aku kaget,
kenapa Ibu
menangi. Setelah tangisan itu reda
dan Ibu mulai
terlihat tenang, aku tanya alasan Ibu menangis dan akhirnya Ibupun menceritakan kejadian itu.
Pertengkaran
lagi…ya…sudah kuduga, pagi itu seperti biasa Ayah pergi. Seharusnya pergi ke kantor, tapi satu jam
kemudian, Ayah
datang lagi dan meminta uang pada Ibu. Ketika Ibu tanya untuk apa, Ayah malah pergi tanpa ada
jawaban sambil membawa uang Ibu padahal Ibu sangat membutuhkan uang itu.
Mendengar pertengkaran Ibu dan Ayah kali ini membuatku merasakan
hal yang sangat berberda, sangat kesal bahkan mungkin bisa jadi aku mulai
membenci Ayah.
Hatiku bergumam…”Kalau Ayah pulang nanti, lihat saja…” itu yang bergejolak di hatiku.
***
Waktu
menunjukkan pukul empat sore, semua kerjaan Ibu sudah beres, cucian tetangga sudah Kami cuci, tinggal
menunggu upahnya saja yang habisnyapun begitu cepat. Maklum kebutuhan rumah tangga sangatlah mahal. Harga-harga
naik terus tanpa ada penurunan.
Kulihat dari
jauh sosok berbadan tegap itu mulai muncul, sosok yang dulu aku rindukan
kehadirannya, sosok yang dulu selalu menenangkan hati Kami, sosok yang dulu
selalu menjadi tempat bermanja, tempat mengeluh, tempat mencurahkan segala yang
kurasakan. Namun sekarang sosok itu menjadi sosok yang tak kuharapkan kehadirannya…sosok Ayahku.
Sampai didepan
pintu, tanpa ucapan salam, Ayahpun masuk dan langsung memberikan muka yang tidak bersahabat. Aku
tak peduli dengan keadaan Ayah saat ini, aku hanya ingin menanyakan soal uang tadi. Akhirnya
aku langsung “menyerang” Ayah dengan kata-kata yang tak wajar diucapkan seorang anak kepada Ayahnya. Akupun tak
mengerti kenapa muncul kata-kata “aku benci Ayah dan aku tak berharap punya bapak seperti Ayah...”.
Ayah terdiam
mendengar hal
itu, bahkan aku lihat Ayah meneteskan air matanya mendengar kata-kata yang kuucapkan tadi. Tapi
aku tak peduli. Aku berfikir, Ayah harus merasakan apa yang Kami rasakan selama ini. Penderitaan menjadi tukang
cuci baju dan akupun harus mengatur waktu untuk menjadi seorang pelajar dan
sekaligus penjaga toko kue. Mungkin keadaan itu tak pernah Ayah pedulikan.
Sejak saat itu,
akupun berubah menjadi sosok yang kasar dan menakutkan bagi Ayah. Apalagi sejak Ayah mulai sakit-sakitan,
kepedulian pun tak pernah aku rasakan. Ayah menderita penyakit asma yang hebat.
Hati kecilku pilu mendengar itu, tapi entah kenapa egoku seolah menyuruhku
untuk tidak merasakan itu.
***
Siang itu,
mungkin akan menjadi siang penyesalan bagiku. Asma Ayah tiba-tiba kambuh,
hampir tak bisa bernafas. Ibu menangis dan sangat panik. Dan akupun merasakan
itu. Dengan nada suara yang terbata-bata , Ayah memanggilku dari dalam kamar. Aku ragu untuk
masuk karena di hatiku masih tersimpan kebencian terhadap Ayah. Namun Ibu berkata…”Kalau kamu masih
menganggap orang didalam kamar yang tak berdaya itu Ayahmu, masuklah dan temui dia Nak…”
bisik Ibu.
Akhirnya akupun masuk ke kamar, lalu Ayah memanggilku, “Sini nak…sini dekat Ayah…” pinta Ayah dari dalam kamar.
Kata-kata itu yang aku rindukan
selama ini. Mendengar itu, hilang seketika kebencian aku terhadap Ayah. Aku pun masuk ke kamar itu dan duduk
disamping Ayah. Wajah Ayah pucat, tangan Ayah bergetar. Getarannya terasa di tanganku. Jantungnya
berdetak keras seolah menggoncangkan hatiku. Ya Robb.pertanda apakah ini…?
“Ayah akan
menceritakan keadaan Ayah selama ini…”bisik ayah.
Aku bilang sama Ayah, ”Jangan yah…Ayah istirahat saja…” jawabku.
Tapi Ayah tetap berusaha untuk
menceritakannya. Ceritanya membuatku kaget, ternyata selama ini Ayah berbuat kasar karena Ayah diliputi rasa yang tak tahu harus berbuat apa. Ayah dipecat dari
pekerjaannya
karena dituduh melakukan sesuatu yang tak pernah Ayah lakukan. Ayah dituduh mencuri barang atasannya
yang Ayah
sendiri tak menceritakan barang apakah itu. Ayah tak bisa membela diri, apalagi
menjelaskan. Predikat pencuri yang Ayah sandang membuatnya berubah.
“Maafkan Ayah Nak…Ayah sudah mengecewakan
kalian, mungkin waktu Ayah gak akan lama lagi...Ayah hanya minta kamu dan Ibumu memaafkan Ayah…” bisik Ayah.
Tak kuasa aku
menahan tangis. Semakin aku rasakan predikat “anak durhaka” dalam diriku.
Apalagi sering aku lontarkan kata-kata kasar untuk Ayah tanpa tahu keadaan Ayah sebenarnya.
“Nak…” panggil Ayah. Aku menoleh dengan mata
yang tak sanggup melihat sosok yang sedang terbaring lemas.
“Ya Ayah…”jawabku.
“Maukah kamu
membisikan kalimat syahadat di telinga Ayah…?” pinta Ayah. Akupun melakukannya.
Dan Ayahpun
tidur selamanya dengan tenang.
Kupeluk Ayah yang sudah terbaring
kaku. Kenapa kurasakan kehangatan memeluk Ayah lagi malah disaat Ayah sudah tak bernyawa.
Ketika Ayah
sudah tak mampu lagi membalas pelukanku. Seandainya Ayah bisa sedikit terbuka
kepada Kami
tentang apa yang terjadi, mungkin keadaannya tak akan seperti ini. Seandainya saja aku bisa lebih menyelami
keadaan Ayah, mungkin saat ini aku
masih bisa merasakan tatapan Ayah. Seandainya aku bisa menahan egoku dan tak pernah mengeluarkan
kata-kata kasar untuk Ayah, mungkin aku tak akan merasakan penyesalan sehebat ini. Namun
keyakinan masih melekat di hatiku, Ayah pergi karena takdir-NYA. Bahkan sampai Ayah menutup matanya pun,
aku belum sempat mengucapkan kata maaf.
Didepan pusara Ayah, aku masih terdiam, hampir
tak percaya. Disebelahku Ibu tampak lebih tegar dan selalu menenangkan hatiku. “Sudah nak, Ayah sudah tenang…ayo kita
pulang, jangan ditangisi, kasian Ayah…”kata Ibu.
“Duluan saja Bu…aku masih ingin disini
bersama Ayah…”jawabku.
Ibupun duluan
pulang ke rumah ditemani tetangga-tetangga yang ikut mengantarkan pemakanan Ayah. Sementara aku masih
bersama Ayah
disana walaupun Ayah sudah tak terlihat.
Doaku untuk Ayah…“Robb, lindungi Ayahku, lindungi orang
yang baik ini, lindungi orang yang selama ini melindungiku. Sayangi dia Robb, tempatkan dia didalam
kasih sayang-MU, ampuni dosa-dosanya, terimalah segala amal ibadahnya selama di dunia, dan berikanlah
surga untuknya. Aamiin”
Aku tak akan pernah berhenti berdoa untuk Ayah sampai nanti kita
bertemu kembali di surga.
Masih didepan
tanah merah itu, ingin aku katakan kepada Ayah...”Maafkan aku Ayah…aku menyesal…”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar