4 Jan 2012

Maafkan Aku Ayah...Aku Menyesal...


Ayahku idolaku…begitulah yang selalu aku tanamkan dalam benakku. Ayah adalah seorang pelindung keluarga, seorang penyayang, seorang yang sabar, seorang yang luar biasa bagiku. Tak cukup hanya dengan kata-kata itu yang bisa aku lukiskan untuk seorang Ayah.

Ayah memang bukan pejabat tinggi, Ayah juga bukan seorang direktur sebuah perusahaan, Ayah memang hanya seorang karyawan biasa dengan gaji yang tidak begitu besar, tapi Kami bahagia karena Kami selalu berusaha untuk merasa cukup atas karunia Allah SWT yang diberikan kepada Kami.

Sampai aku beranjak dewasa hampir tak pernah aku melihat Ayah dan Ibuku bertengkar, entah mereka sembunyikan  dari aku atau memang tak pernah terjadi pertengkaran itu. Ayah memang suami yang baik. Itu fikirku.

Tapi kenapa…dua bulan terakhir ini Ayahku yang super hebat itu berubah. Sering marah, pulang ke rumah selalu larut malam, bahkan diwaktu liburpun Ayah habiskan untuk pergi keluar sendirian tanpa Kami. Ada apa sebenarnya dengan Ayah???


Seperti hari itu, untuk pertama kalinya aku melihat Ayah memarahi Ibu hanya karena salah membuat sarapan. Nasi goreng memang kesukaan ayah, Ibu sudah terampil membuat makanan itu untuk Ayah setiap pagi. Tapi tak biasanya hari itu Ayah ingin dibuatkan sandwich. Padahal setauku, itu bukan makanan yang biasa Ayah makan pagi-pagi. Bahkan Kamipun tak mengenal jenis makanan apakah itu.

Ibu menangis saat itu. Aku melihat itu bukan karakter Ayah. Ayah kok berubah menjadi seorang yang kasar, hanya karena masalah kecil saja sampai-sampai bisa membuat Ibu menangis. Padahal bertahun-tahun mereka menikah, masalah besarpun bisa dilewati tanpa kata-kata kasar.

Berhari-hari bahkan berbulan-bulan, Ayah semakin berubah, bahkan Ibu bilang, Ayah sudah dua bulan tidak pernah memberi uang belanja. Setiap Ibu tanya, bukan jawaban yang Ibu dapat apalagi uang, tapi kemarahan Ayah. Hingga untuk menutupi kebutuhan keluargapun, Ibu terpaksa menjadi tukang cuci baju tetangga dengan upah yang seadanya. Untuk makanpun kadang tidak cukup apalagi untuk biaya sekolahku.

Melihat Ibu bekerja kasar seperti itu, aku berinisiatif untuk mencari kerja saja, tanpa meninggalkan kewajibanku sebagai seorang pelajar tentunya. Ku cari-cari lowongan kerja, dan Alhamdulilah ada tetanggaku yang biasa menggunakan tenaga Ibu untuk mencuci baju-bajunya menawarkan pekerjaan diluar jam sekolah. Mungkin tetanggaku tahu keadaan Kami seperti apa.

Akupun meminta izin kepada Ibu untuk bekerja. Saat itu Ibu hanya berkata….”Alhamdulilah Nak, ini pertolongan Allah SWT”, dan sejak saat itu selain menjadi seorang pelajar, akupun berubah menjadi seorang penjaga toko kue tak jauh dari tempat tinggalku.

Aku senang bisa membantu kebutuhan keluarga walaupun tidak maksimal, aku senang melihat Ibu tidak terlalu gusar dengan keadaan ini. Lalu kemana Ayah?

Ayah setiap hari pergi, namun entah pergi kemana. Apa ke kantor seperti biasa, ataukah ke tempat lain? Entahlah…akupun sudah tak peduli.

***

Siang itu, langit tampak begitu cerah. Kulangkahkan kaki dengan cepat menuju rumah. Memang siang itu bukan jadwal aku untuk menjaga toko, hari itu hari liburku, aku berniat sepulang sekolah akan bantu Ibu cuci baju.

“Assalamualaikum….” sapaku begitu aku sampai depan rumah. Tak ada jawaban, sepi…”Lha...kemana ibu?” tanyaku dalam hati.

Kulihat ditempat mengais rejeki Ibu yaitu tempat cuci baju, tak ada. Kulihat lagi di dapur, tak ada bunyi Ibu sedang bertarung dengan bumbu-bumbu dapur. Akhirnya kujumpai Ibu sedang menangis di kamar.

Aku kaget, kenapa Ibu menangi. Setelah tangisan itu reda dan Ibu mulai terlihat tenang, aku tanya alasan Ibu menangis dan akhirnya Ibupun menceritakan kejadian itu.

Pertengkaran lagi…ya…sudah kuduga, pagi itu seperti biasa Ayah pergi. Seharusnya pergi ke kantor, tapi satu jam kemudian, Ayah datang lagi dan meminta uang pada Ibu. Ketika Ibu tanya untuk apa, Ayah malah pergi tanpa ada jawaban sambil membawa uang Ibu padahal Ibu sangat membutuhkan uang itu.

Mendengar pertengkaran Ibu dan Ayah kali ini membuatku merasakan hal yang sangat berberda, sangat kesal bahkan mungkin bisa jadi aku mulai membenci Ayah. Hatiku bergumam…”Kalau Ayah pulang nanti, lihat saja…” itu yang bergejolak di hatiku.

***

Waktu menunjukkan pukul empat sore, semua kerjaan Ibu sudah beres, cucian tetangga sudah Kami cuci, tinggal menunggu upahnya saja yang habisnyapun begitu cepat. Maklum  kebutuhan rumah tangga sangatlah mahal. Harga-harga naik terus tanpa ada penurunan.

Kulihat dari jauh sosok berbadan tegap itu mulai muncul, sosok yang dulu aku rindukan kehadirannya, sosok yang dulu selalu menenangkan hati Kami, sosok yang dulu selalu menjadi tempat bermanja, tempat mengeluh, tempat mencurahkan segala yang kurasakan. Namun sekarang sosok itu menjadi sosok yang tak kuharapkan kehadirannya…sosok Ayahku.

Sampai didepan pintu, tanpa ucapan salam, Ayahpun masuk dan langsung memberikan muka yang tidak bersahabat. Aku tak peduli dengan keadaan Ayah saat ini, aku hanya ingin menanyakan soal uang tadi. Akhirnya aku langsung “menyerang” Ayah dengan kata-kata yang tak wajar diucapkan seorang anak kepada Ayahnya. Akupun tak mengerti kenapa muncul kata-kata “aku benci Ayah dan aku tak berharap punya bapak seperti Ayah...”.

Ayah terdiam mendengar hal itu, bahkan aku lihat Ayah meneteskan air matanya mendengar kata-kata yang kuucapkan tadi. Tapi aku tak peduli. Aku berfikir, Ayah harus merasakan apa yang Kami rasakan selama ini. Penderitaan menjadi tukang cuci baju dan akupun harus mengatur waktu untuk menjadi seorang pelajar dan sekaligus penjaga toko kue. Mungkin keadaan itu tak pernah Ayah pedulikan.

Sejak saat itu, akupun berubah menjadi sosok yang kasar dan menakutkan bagi Ayah. Apalagi sejak Ayah mulai sakit-sakitan, kepedulian pun tak pernah aku rasakan. Ayah menderita penyakit asma yang hebat. Hati kecilku pilu mendengar itu, tapi entah kenapa egoku seolah menyuruhku untuk tidak merasakan itu.

***
Siang itu, mungkin akan menjadi siang penyesalan bagiku. Asma Ayah tiba-tiba kambuh, hampir tak bisa bernafas. Ibu menangis dan sangat panik. Dan akupun merasakan itu. Dengan nada suara yang terbata-bata , Ayah memanggilku dari dalam kamar. Aku ragu untuk masuk karena di hatiku masih tersimpan kebencian terhadap Ayah. Namun Ibu berkata…”Kalau kamu masih menganggap orang didalam kamar yang tak berdaya itu Ayahmu, masuklah dan temui dia Nak…” bisik Ibu.

Akhirnya akupun masuk ke kamar, lalu Ayah memanggilku, “Sini nak…sini dekat Ayah…” pinta Ayah dari dalam kamar.

Kata-kata itu yang aku rindukan selama ini. Mendengar itu, hilang seketika kebencian aku terhadap Ayah. Aku pun masuk ke kamar itu dan duduk disamping Ayah. Wajah Ayah pucat, tangan Ayah bergetar. Getarannya terasa di tanganku. Jantungnya berdetak keras seolah menggoncangkan hatiku. Ya Robb.pertanda apakah ini…?

“Ayah akan menceritakan keadaan Ayah selama ini…”bisik ayah.

Aku bilang sama Ayah, ”Jangan yah…Ayah istirahat saja…” jawabku.

Tapi Ayah tetap berusaha untuk menceritakannya. Ceritanya membuatku kaget, ternyata selama ini Ayah berbuat kasar karena Ayah diliputi rasa yang tak tahu harus berbuat apa. Ayah dipecat dari pekerjaannya karena dituduh melakukan sesuatu yang tak pernah Ayah lakukan. Ayah dituduh mencuri barang atasannya yang Ayah sendiri tak menceritakan barang apakah itu. Ayah tak bisa membela diri, apalagi menjelaskan. Predikat pencuri yang Ayah sandang membuatnya berubah.

“Maafkan Ayah Nak…Ayah sudah mengecewakan kalian, mungkin waktu Ayah gak akan lama lagi...Ayah hanya minta kamu dan Ibumu memaafkan Ayah…” bisik Ayah.

Tak kuasa aku menahan tangis. Semakin aku rasakan predikat “anak durhaka” dalam diriku. Apalagi sering aku lontarkan kata-kata kasar untuk Ayah tanpa tahu keadaan Ayah sebenarnya.

“Nak…” panggil Ayah. Aku menoleh dengan mata yang tak sanggup melihat sosok yang sedang terbaring lemas.

“Ya Ayah…”jawabku.

“Maukah kamu membisikan kalimat syahadat  di telinga Ayah…?” pinta Ayah. Akupun melakukannya. Dan Ayahpun tidur selamanya dengan tenang.

Kupeluk Ayah yang sudah terbaring kaku. Kenapa kurasakan kehangatan memeluk Ayah lagi malah disaat Ayah sudah tak bernyawa. Ketika Ayah sudah tak mampu lagi membalas pelukanku. Seandainya Ayah bisa sedikit terbuka kepada Kami tentang apa yang terjadi, mungkin keadaannya tak akan seperti ini. Seandainya saja aku bisa lebih menyelami keadaan Ayah, mungkin saat ini aku masih bisa merasakan tatapan Ayah. Seandainya aku bisa menahan egoku dan tak pernah mengeluarkan kata-kata kasar untuk Ayah, mungkin aku tak akan merasakan penyesalan sehebat ini. Namun keyakinan masih melekat di hatiku, Ayah pergi karena takdir-NYA. Bahkan sampai Ayah menutup matanya pun, aku belum sempat mengucapkan kata maaf.

Didepan pusara Ayah, aku masih terdiam, hampir tak percaya. Disebelahku Ibu tampak lebih tegar dan selalu menenangkan hatiku. “Sudah nak, Ayah sudah tenang…ayo kita pulang, jangan ditangisi, kasian Ayah…”kata Ibu.

“Duluan saja Bu…aku masih ingin disini bersama Ayah…”jawabku.

Ibupun duluan pulang ke rumah ditemani tetangga-tetangga yang ikut mengantarkan pemakanan Ayah. Sementara aku masih bersama Ayah disana walaupun Ayah sudah tak terlihat.

Doaku untuk Ayah…“Robb, lindungi Ayahku, lindungi orang yang baik ini, lindungi orang yang selama ini melindungiku. Sayangi dia Robb, tempatkan dia didalam kasih sayang-MU, ampuni dosa-dosanya, terimalah segala amal ibadahnya selama di dunia, dan berikanlah surga untuknya.  Aamiin”
Aku tak akan pernah berhenti berdoa untuk Ayah sampai nanti kita bertemu kembali di surga.


Masih didepan tanah merah itu, ingin aku katakan kepada Ayah...”Maafkan aku Ayah…aku menyesal…”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar