Seorang gadis
masih duduk termenung menatap senja dari balik jendela kamarnya. Berfikir dan
terus berfikir apa keputusannya tepat untuk memilih seorang pria pilihan
orangtuanya yang notabene seorang yang mapan dan dari keluarga terhormat. Hari
ini adalah hari terakhir dia menjadi gadis lajang, karena besok adalah hari
pernikahannya, hari yang seharusnya ditunggu-tunggu semua gadis pada umumnya. Lalu
apa yang difikirkan gadis itu, mengapa seolah hatinya menolak kehadiran pria
itu dalam kehidupannya???
***
Beberapa bulan
yang lalu dia dikenalkan teman karibnya dengan seorang pria. Pria yang dia
anggap sangat menyenangkan. Merekapun saling tukar nomor handphone dan alamat email. Sampai akhirnya penjajakan pun
dimulai. Jarak tidak menghambat
perjalanan mereka karena dengan kemajuan teknologi semua bisa dilakukan dengan
mudah.
Dengan seringnya
berkomunikasi, berbagi cerita, berbagi suka maupun duka akhirnya hubungan
mereka pun bertambah dekat. Rasa saling mengagumi tumbuh diantara mereka. Sampai
suatu saat pria tersebut bermaksud untuk melamar gadis itu. Alangkah bahagianya
sang gadis dengan maksud baik pria itu. Merekapun berniat untuk menyampaikan hal ini pada orangtua
masing-masing.
Pagi yang cerah, awan putih bergelayut dibirunya
langit seolah ikut merasakan kebahagiaan sang gadis. Keceriaan tampak pada
wajah gadis itu karena hari ini pria idaman hatinya bermaksud melamar langsung
pada kedua orangtuanya.
Saat yang
dinantipun tiba. Sang pujaan hati mengutarakan langsung niat baiknya dihadapan
orangtua. Gadis cantik itupun berharap orangtuanya menerima maksud baik sang pria pilihan hatinya.
Namun apa yang
terjadi…Bagai disambar petir disiang hari ternyata apa yang diimpikan selama
ini hancur seketika. Orangtua sang gadis menolak lamaran kekasihnya dengan alasan anaknya
telah dijodohkan dengan seseorang
pilihan mereka. Seseorang yang dianggap lebih pantas mendampingi anaknya.
Hancur hati
kedua insan itu, tak ada lagi harapan untuk mereka bisa bersatu karena ridho orangtua
adalah ridho Yang Maha Kuasa, dan mereka yakini itu. Akhirnya pria itu pun
bermaksud untuk menghilang dari kehidupan sang gadis.
Hari-hari
dilewati sang gadis dengan kemurungan, tak ada lagi yang membuat hari-harinya
tertawa. Tak ada lagi keceriaan dan harapan. Semua telah pergi. Hanya satu yang
masih tertinggal, rasa cinta pada sang pria yang masih dia simpan. Namun…dia
tak ingin mengecewakan orangtuanya hanya gara-gara perasaan yang entah benar atau salah apa yang
menjadi pilihannya. Dia percaya orangtua pasti memberikan yang terbaik untuk
anaknya. Dan apa yang terbaik buat dia belum tentu yang terbaik menurut Allah
SWT.
Akhirnya sang
gadis menerima keputusan orangtuanya untuk menikah dengan pria lain, pria pilihan orangtuanya walaupun sangat berat. Tapi dia percaya semua akan berjalan baik jika
ada niat baik di hati.
***
Hari
pernikahanpun terjadi. Kebahagiaan tampak pada wajah kedua orangtua
masing-masing. Keceriaan tampak pada kerabat mereka. Semua keluarga, sahabat,
teman, rekan kerja, tetangga hadir menyaksikan hari bersejarah itu. Hanya satu
orang yang tak tampak, ya…sang pria yang mengisi hati gadis itu. Entah dimana
dia sekarang. Dia menghilang sejak peristiwa menyakitkan itu.
Hari ini adalah
hari dimulainya kehidupan baru sang gadis dengan suaminya. Hatinya
berbisik…”Aku akan mencintai suamiku karena Robbku”.
Hari berganti
hari…bulan berganti bulan, pernikahan mereka pun berjalan baik. Kebahagiaanpun
terangkai disana. Terasa lengkap keindahan berumah tangga mereka setelah suami tahu bahwa istrinya telah
mengandung. Harapan baru untuk mereka menjadi keluarga bahagia yang utuh karena
sebentar lagi suara tangisan bayi akan meramaikan suasana rumahnya. Cinta bisa
tumbuh karena dipelajari. Cinta bisa tumbuh dengan sendirinya.
Lalu kemanakah
cinta dulu yang pernah dia rasakan begitu dalam??? Apa sudah hilang???
Cinta pada seorang pria dimasa lalu itu masih
terukir indah dan tersimpan rapi diruang kosong hatinya. Dan berharap semua
akan hilang seiring berjalannya waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar