4 Jan 2012

Cinta yang Dipelajari

Seorang gadis masih duduk termenung menatap senja dari balik jendela kamarnya. Berfikir dan terus berfikir apa keputusannya tepat untuk memilih seorang pria pilihan orangtuanya yang notabene seorang yang mapan dan dari keluarga terhormat. Hari ini adalah hari terakhir dia menjadi gadis lajang, karena besok adalah hari pernikahannya, hari yang seharusnya ditunggu-tunggu semua gadis pada umumnya. Lalu apa yang difikirkan gadis itu, mengapa seolah hatinya menolak kehadiran pria itu dalam kehidupannya???

***

Beberapa bulan yang lalu dia dikenalkan teman karibnya dengan seorang pria. Pria yang dia anggap sangat menyenangkan. Merekapun saling tukar nomor handphone dan alamat email. Sampai akhirnya penjajakan pun dimulai.  Jarak tidak menghambat perjalanan mereka karena dengan kemajuan teknologi semua bisa dilakukan dengan mudah.

Dengan seringnya berkomunikasi, berbagi cerita, berbagi suka maupun duka akhirnya hubungan mereka pun bertambah dekat. Rasa saling mengagumi tumbuh diantara mereka. Sampai suatu saat pria tersebut bermaksud untuk melamar gadis itu. Alangkah bahagianya sang gadis dengan maksud baik pria itu.  Merekapun berniat untuk menyampaikan hal ini pada orangtua masing-masing.

Pagi yang cerah, awan putih bergelayut dibirunya langit seolah ikut merasakan kebahagiaan sang gadis. Keceriaan tampak pada wajah gadis itu karena hari ini pria idaman hatinya bermaksud melamar langsung pada kedua orangtuanya.

Saat yang dinantipun tiba. Sang pujaan hati mengutarakan langsung niat baiknya dihadapan orangtua. Gadis cantik itupun berharap orangtuanya menerima maksud baik sang pria pilihan hatinya.

Namun apa yang terjadi…Bagai disambar petir disiang hari ternyata apa yang diimpikan selama ini hancur seketika. Orangtua sang gadis menolak lamaran kekasihnya dengan alasan anaknya  telah dijodohkan dengan seseorang pilihan mereka. Seseorang yang dianggap lebih pantas mendampingi anaknya.

Hancur hati kedua insan itu, tak ada lagi harapan untuk mereka bisa bersatu karena ridho orangtua adalah ridho Yang Maha Kuasa, dan mereka yakini itu. Akhirnya pria itu pun bermaksud untuk menghilang dari kehidupan sang gadis.

Hari-hari dilewati sang gadis dengan kemurungan, tak ada lagi yang membuat hari-harinya tertawa. Tak ada lagi keceriaan dan harapan. Semua telah pergi. Hanya satu yang masih tertinggal, rasa cinta pada sang pria yang masih dia simpan. Namun…dia tak ingin mengecewakan orangtuanya hanya gara-gara perasaan yang entah benar atau salah apa yang menjadi pilihannya. Dia percaya orangtua pasti memberikan yang terbaik untuk anaknya. Dan apa yang terbaik buat dia belum tentu yang terbaik menurut Allah SWT.

Akhirnya sang gadis menerima keputusan orangtuanya untuk menikah dengan pria lain, pria pilihan orangtuanya walaupun sangat berat. Tapi dia percaya semua akan berjalan baik jika ada niat baik di hati.

***

Hari pernikahanpun terjadi. Kebahagiaan tampak pada wajah kedua orangtua masing-masing. Keceriaan tampak pada kerabat mereka. Semua keluarga, sahabat, teman, rekan kerja, tetangga hadir menyaksikan hari bersejarah itu. Hanya satu orang yang tak tampak, ya…sang pria yang mengisi hati gadis itu. Entah dimana dia sekarang. Dia menghilang sejak peristiwa menyakitkan itu.

Hari ini adalah hari dimulainya kehidupan baru sang gadis dengan suaminya. Hatinya berbisik…”Aku akan mencintai suamiku karena Robbku”.

Hari berganti hari…bulan berganti bulan, pernikahan mereka pun berjalan baik. Kebahagiaanpun terangkai disana. Terasa lengkap keindahan berumah tangga mereka setelah suami tahu bahwa istrinya telah mengandung. Harapan baru untuk mereka menjadi keluarga bahagia yang utuh karena sebentar lagi suara tangisan bayi akan meramaikan suasana rumahnya. Cinta bisa tumbuh karena dipelajari. Cinta bisa tumbuh dengan sendirinya.

Lalu kemanakah cinta dulu yang pernah dia rasakan begitu dalam??? Apa sudah hilang???


Cinta pada seorang pria dimasa lalu itu masih terukir indah dan tersimpan rapi diruang kosong hatinya. Dan berharap semua akan hilang seiring berjalannya waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar